Lovely Nightmares
Eleventh: Mommy, please...stay with us, I love you mom...
Chapter 11: Mother
"Pagi…", seorang gadis muda berambut keemasan membuka pintu kamarnya, namun tidak seorangpun nampak dimeja makan pagi itu, ia tersenyum senang, karena sejak pindah kesini, ia masih sering mengalami jetlag, sehingga ia selalu jadi yang terakhir bangun, kecuali pagi hari ulangtahunnya, ya, kecuali pagi itu.
Kurapika segera menuju dapur bernuansa modern penuh warna metalik itu, ia mengenakan apron berwarna biru pastel, rambut pirangnya ia ikat ponytail, iapun segera membuka lemari-lemari makanan didekatnya, menimbang-nimbang sarapan apa yang akan ia sajikan hari ini, salad? Tidak, ia sedang tidak bernafsu makan sayur-sayuran bergaya barat itu, lalu ia melihat kearah lemari pendingin mereka, mata aquamarinenya tertuju pada beberapa butir telur, susu cair, sirup maple, selai-selai, keju, coklat, dan beberapa teman roti lainnya, iapun beranjak dengan dua butir telur, susu cair dan tentu teman-teman roti yang ia butuhkan, menuju ke lemari tempat penyimpanan bahan-bahan pembuatan kue, mengambil tiga buah kotak, satu berisi tepung, satu lagi berisi gula, dan yang satunya lagi margarine tawar.
Gadis itu lalu mengumpulkan bahan-bahan itu diatas bar, dengan teman-teman roti itu ia letakkan diatas meja makan. Kurapika mengambil pan dari tempat penyimpanan alat-alat masak, iapun mulai memasak makanan untuk sarapan pagi itu, pancake dan waffle, keduanya dibuat dari satu adonan dengan cetakan yang berbeda.
Pertama-tama ia memasukkan adonan yang telah dibuatnya ke cetakan waffle, lalu ia tutup, selanjutnya ia berkutat dengan pancake-pancakenya, lalu ia kembali pada wafflenya setelah pancake terakhir selesai, dan gadis muda itu menaruh hasil karyanya diatas piring-piring putih datar, lalu menyiapkan tiga piring kecil beserta garpu dan pisaunya untuk makan nanti, ia tersenyum puas melihat hasil karyanya tertata rapi diatas meja makan, kemudian gadis itu melepaskan apronnya dan bersiap-siap untuk berganti pakaian.
Saat ia tengah menuju ke kamarnya, ia dikagetkan oleh suara pintu depan yang terbuka, gadis itu menoleh, hendak mengucapkan selamat datang pada ibunya yang mungkin baru saja pulang bekerja dan sangat kelelahan, namun sayangnya tertahan ketika ia melihat sosok yang baru saja datang itu bukanlah ibunya, melainkan seorang pria, dengan rambut hitam yang jatuh menutupi dahinya dan sedikit berantakan, kemeja yang ia tidak tahu mau disebut rapi atau berantakan, pipi gadis itu bersemu merah muda, ia buru-buru menundukkan pandangannya karena malu, tapi sejenak kemudian ia kembali mengangkat pandangannya dan mengerutkan alisnya, ia menghela nafas dalam-dalam, sampai ada aroma tajam yang menyapa indera penciumannya, membuatnya semakin jengkel,
"Kuroro!", bentaknya, pria itu itu terkesiap, segera menajamkan penglihatannya,
"Kurapika?", tanyanya dengan nada polos, seakan-akan ia mahluk tak berdosa yang baru saja pulang, Kurapika semakin kesal saja, iapun menutup pintu kamarnya perlahan, dengan maksud agar tidak rusak oleh kejadian yang akan terjadi di detik berikutnya, dan lagi-lagi ia menghirup udara dingin AC apartemennya, di tangan kanannya nampak rantai nen-nya lalu ia mengeluarkan judgment chain-nya yang yang berada di jari kelingkingnya, dan diarahkan tepat ke jantung pria itu, mata aquamarine-nya berubah merah,
"Jawab dengan jujur, kau habis darimana?", ujarnya dengan nada kesal, tapi tidak tinggi,
"Hn, aku belum bilang padamu ya?", sahut Kuroro dengan nada biasanya, ia sebenarnya terlihat sadar sekali, tidak cocok dengan aroma yang tercium darinya beberapa saat yang lalu,
"Memangnya apa yang belum kau katakan padaku?", tanya Kurapika, tetap dengan rantainya yang teracung pada jantung pria itu, matanya sudah berkedap-kedip merah-biru, wajahnya masih mengencang dan sorot matanya masih sangat tajam,
"Kurapika, turunkan dulu rantaimu, aku akan menjelaskannya baik-baik, oke?", kata Kuroro mencoba menenangkan gadis itu, hari ini hari sabtu, sebenarnya itu suatu kebetulan yang baik, karena mereka tidak harus berurusan dengan Leorion, Neon, dan Haruki tentunya, suatu waktu yang seharusnya berjalan dengan tenang dan damai, tapi tampaknya pagi dan hari ini tidak akan sama dengan pagi-pagi yang lain,
"Baiklah", Kurapika menurunkan rantainya dan menariknya kembali, wajahnya masih penuh dengan kekesalan, Kuroro yang baru masuk segera menyadari alasan kemarahan Kurapika, dengan pancake dan waffle diatas meja makan, dan gadis itu yang duduk di tempatnya, masih dengan wajah cemberutnya, iapun menghela nafas,
"Jadi, semalaman kau dimana?", tanya Kurapika tanpa peduli keadaan,
"Ryodan mengundangku untuk minum-minum, tadinya aku mau mengajakmu, tapi karena waktu itu kau bilang kau mudah mabuk, aku tidak jadi mengajakmu, maaf", kata Kuroro pelan,
"Lalu?", Kurapika bangkit dan mengambil dua buah piring lalu ia meletakkan pancake dan waffle di kedua piring tersebut, ia juga mengambil kopi yang ada di coffee maker, menuangkannya ke sebuah cangkir, dan coklat di cangkir lainnya, ia mengambil nampan dan menaruh kedua cangkir itu diatasnya, begitupun dengan dua piring makanan tersebut, lalu gadis itu menaruh nampannya diatas meja,
"Lalu?", sahut Kuroro sambil membantu Kurapika merapikan piring-piring itu diatas meja, serta mengambil bagiannya,
"Iya lalu, aku tidak yakin kau hanya minum-minum bersama teman-teman laba-labamu disana, pasti ada yang mau kau tutupi dariku, iya kan?", keluh gadis itu, masih dengan nada tidak bersahabat,
"Hmm..apa ya..?", goda Kuroro pada gadisnya itu, wajah cemberutnya memang terlihat sangat kekanakan, tapi ia lebih ingin menggodanya ketimbang meminta maaf,
"Akh! Sudahlah, pergi saja lagi ke sana! Toh kamu juga kelihatan senang!",bentak Kurapika penuh emosi, wajah gadis cantik itu sudah memerah karena marah, begitu pula dengan matanya, ia segera bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kamarnya, tapi tangannya ditahan oleh Kuroro,
"Hei, tunggu", katanya sedikit datar,
"LEPASKAN!", bentak Kurapika keras, kekesalannya sudah memuncak saat ini,
"Kurapika..", Kuroro berujar lembut sambil bangkit dari tempat duduknya, ia memeluk tubuh perempuan berambut pirang panjang itu, erat, sangat erat,
"Maafkan aku, seharusnya semalam aku mengatakannya padamu, maaf ya", katanya sambil membenamkan kepalanya dibahu Kurapika yang tertutup rambut pirangnya,
"Tidak mau", sahut Kurapika sebal, ia mendorong Kuroro pelan, menjauhkan pria itu darinya,
"Nanti kau akan mengulangnya, kalau aku memaafkanmu", ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, tapi gadis itu berusaha untuk kuat,
"Ternyata dunia dan hidup kita memang tidak sama", sambungnya, Kuroro segera menyentuh tangan Kurapika dan menariknya mendekat, tapi Kurapika masih berusaha menampiknya, meski kekuatannya kurang kuat,
"Putri, kumohon maafkan aku, aku akan melakukan apapun untuk itu", kata Kuroro pelan, masih dipegangnya tangan Kurapika,
"Kuroro…", Kurapika berujar pelan, masih berusaha menjauh dari pria itu, tapi karena kuatnya genggaman Kuroro, ia malah jadi menarik pria itu bersamanya, gadis itu menundukkan kepalanya, lalu ia meraih sesuatu diatas meja, dan….menuangkan sesuatu itu ke kepala pria berambut hitam itu,
"Aktingku bagus kan?", katanya sambil tersenyum bangga, Kuroro gantian menatapnya sebal, rambut dan kemejanya basah oleh kopi panas yang tadi dituang Kurapika tepat padanya,
"Kurapika..", pria bermata onyx itu sebal, ia sudah dikerjai oleh gadis itu, dengan berpura-pura marah dan kemudian menuangkan kopi padanya,
"Eits, jangan salah, aku masih marah padamu tahu", kata Kurapika lagi, tapi kali ini Kuroro tidak langsung mempercayainya, ia langsung berjalan kearah Kurapika dan memeluk gadis itu, lalu menciumnya, lembut, Kurapika sedikit berjinjit dibuatnya, tapi Kuroro terus memeluknya, bahkan saat mereka sudah menghentikan ciuman itu,
"Kuroro, jangan menciumku kalau kau habis minum alkohol", kata, bukan, bisik Kurapika ditelinga kekasihnya itu ketika pria itu mendekapnya, iapun lalu membalas dekapan pria itu, sebentar, lalu melepaskan dirinya dari dekapan sang kekasih,
"Sudah, mandi sana, lalu sarapan", ujarnya dengan nada bicara yang sudah kembali normal, didorongnya pria itu menuju kamarnya sendiri,
"Hu-uh, dasar!", gerutunya sambil sedikit membereskan apartemen itu, bekas tumpahan kopi yang dituangnya tadi, dan beberapa bantalan sofa yang tidak pada tempatnya. Kurapika pun menghela nafas sambil berberes, mungkin saja dimasa depan nanti yang seperti ini akan terulang lagi, Kuroro pulang habis minum-minum dengan Ryodan-nya dan Kurapika akan membereskan semuanya,
menyebalkan, pikirnya.
Kurapika selesai berbenah dan hendak mengistirahatkan dirinya di sebuah sofa dalam ruangan itu,
si Kuroro lama sekali, apa dia langsung tidur ya?, ia membatin penasaran, sempat terbersit dibenaknya untuk masuk ke kamar tidur kekasihnya itu dan melihat apa yang sedang dilakukannya saat ini, tapi gadis itu buru-buru menepisnya, wanita macam apa yang masuk ke kamar milik seorang laki-laki yang hanya berstatus pacarnya, alhasil Kurapika pun kembali menghela nafas singkat, sedikit berelaksasi mengingat ia baru saja mem-vakum seluruh karpet di apartemen ini, yang membentang hampir di seluruh ruangan.
Gadis berambut pirang itu nyaris terlelap dengan damai di sofa tersebut ketika ia dikejutkan oleh bunyi telepon, usai menyadarkan inderanya, ia buru-buru meraih telepon yang berada didekatnya, dan menempelkan gagang telepon itu ketelinganya,
"Hallo?", sapa gadis itu,
"Ini dari rumah sakit St. Mira, apa anda mengenal wanita bernama Jill Morelli?", kata suara diseberang sana,
rumah sakit? Ada apa ini, pikir gadis itu,
"Ya, beliau adalah ibu saya, ada apa ya?", tanya Kurapika bingung, batinnya merasa sedikit cemas,
"Oh, begini mbak, ibu anda baru saja mengalami kecelakaan, maaf", kata suara yang ia pikir wanita itu,
"O-oh, begitu, baiklah, saya segera kesana", jawab Kurapika dengan nada shock, ia lantas segera menutup telepon itu dan menghela nafas berat, ia mengelus dadanya untuk meredakan keterkejutannya, mata birunya berkedap-kedip lagi, dan masih membulat kaget.
Butuh waktu beberapa menit bagi Kurapika untuk mengatasi shock-nya, dan ketika ia sadar, tanpa pikir panjang lagi gadis itu langsung menghambur ke kamar Kuroro dan membuka pintunya tanpa mengetuk, ketika matanya mendapati Kuroro tengah tertidur pulas ia menjadi semakin panik, langsung saja gadis pirang itu berlari dan membangunkan Kuroro dengan sedikit kasar,
"Kuroro! Hei! Kuroro!", katanya sambil menguncang-guncangkan tubuh pria itu, Kuroro pun terbangun karena guncangan yang agak kasar dari Kurapika itu,
"Ada apa? Kau baik-baik saja?", tanyanya bingung, wajahnya terlihat masih mengantuk,
"I-mama, mama masuk rumah sakit!", pekik gadis itu, Kuroro jadi terkesiap dan segera bangkit,
"Yang benar?", ia bertanya dengan nada heran,
"IYA! Buat apa aku mengarang-ngarang?", Kurapika berujar sangat panik dan cemas, melihat keadaan Kurapika yang seperti itu, Kuroro memegang bahunya pelan,
"Sudah, tenang dulu, panik seperti itu tidak akan membantu", katanya lembut pada Kurapika sambil perlahan-lahan memeluk gadis itu, Kurapika yang awalnya tidak bereaksi mulai terisak-isak dalam pelukan pria itu,
"Nah, kau sudah tenang sekarang, kau siap-siaplah, aku akan mengambil mobil kita bertemu di lobi, oke?", katanya lembut sambil mengusap-usap rambut pirang Kurapika, deru nafas yang sempat memburu itu berangsur-angsur normal kembali,
"I-iya", sahut Kurapika sambil membalas pelukan Kuroro, setelah ia merasa tenang, iapun melepaskan pelukannya,
"Ganti dulu bajumu", kata Kurapika sambil mengusap bekas airmata dengan punggung tangannya, Kuroro tersenyum lega melihat keadaan gadis itu,
"Iya, kau siapkan barang-barang ibu, ia pasti membutuhkannya", Kuroro berujar tenang pada Kurapika, gadis itu lalu keluar dari kamarnya dan menutupnya pelan, meninggalkan pria itu seorang diri di dalam kamarnya.
Kuroro dan Kurapika sampai di rumah sakit tersebut beberapa menit kemudian, keduanya lalu turun usai memarkir mobil mereka dan segera menuju meja resepsionis rumah sakit,
"Permisi, saya mencari pasien bernama Jill Morelli", kata Kurapika,
"Oh, kecelakaan tempat kerja itu ya?", sahut wanita yang nametag-nya bertuliskan A. Kelly itu,
"Ya, dia ibu saya", jawab Kurapika lagi,
"Jill, Jill, ah! Ini dia, dia masih di ICU", jawab perawat tersebut,
"Terima kasih", sahut Kurapika lagi, ia dan Kuroro langsung saja berjalan menuju elevator,
"Anaknya cantik sekali ya, suaminya juga tampan", kata perawat lainnya yang juga berada di meja resepsionis,
"Hm, begitulah, wanita itu sungguh beruntung", kata perawat Kelly.
Next: Will the mother survive? you tell me...
End Words, Review Please
Love,
Kaoru
