Minnaaaaaa~ this will be the last chapter of Lovely Nightmares!
I really hope you all could enjoy this as much as I am during time when I wrote this with a lot of writer-blocks, the almost hiatus(when my lappie was almost stolen), the pending idea, and so on.
but I'm kinda proud to end this, since I had know this is my first fic with 12 chapters, while even the star trilogy only manages until the 8th chapter for each installment.
and last but not least, I also would like to announce, though I've done it in the community page, that there will be the sequel for this story, I've already work on it.
'Till we meet again!
Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei
Genre: Romance, Friendship, Family, Crime (skip this if you didn't see any), Hurt/Comfort. Angst, Fluff, etc. [name it yourself]
Rated: T, well, I do assume it could be read by younger children, since there's no hentai, ecchi, harem or anything, especially in this chapter.
Pairing(s): Kuropika, and because I hate Yaoi quite damn much, you couldn't expect to see any BL, or if you really wish, go imagine it yourself
Warning: typos, perhaps, OOC-ness, canon, female Kurapika (I already mention that I definitely won't ever wrote any kind of Yaoi stuff), OCs, etc.
No silent reader please, you read, you review!
Lovely Nightmares
Chapter 12: Happiness or Well - Being, You Choose..
Suara derap langkah kaki seseorang yang sedang berlari terdengar di koridor rumah sakit itu,
"Hei! Jangan lari-lari di rumah sakit!", seru salah seorang perawat yang melihat gadis itu berlari, ya, dia adalah Kurapika, yang baru saja mendengar kalau mamanya sudah siuman setelah sekian lama, iapun lalu, tanpa menunggu lebih lama, langsung menuju rumah sakit tersebut secepatnya, secepat yang ia bisa meski untuk itu ia harus mendengar dan sedikitnya mengabaikan segala urusan tata krama yang selama ini selalu menjadi prioritas aspek sikap hidupnya.
Seragam sekolah yang dikenakannya saat itu sudah agak berantakan karena keantusiasannya, rambut pirangnya yang agak panjangpun sudah tidak karuan bentuknya meski masih menggantung seperti ekor kuda dibelakang kepalanya, ia tetap saja berlari di lorong rumah sakit itu meski para perawat sudah meneriakinya sejak koridor pertama tadi, dan segala perjuangannya pun akan berakhir sebentar lagi,
"Mama!", pekiknya dengan nada senang, ia membuka pintu kamar VIP itu dengan agak kasar dan berdiri disana dengan nafas yang tersengal-sengal. Sang mama yang baru saja siuman itu agak kaget melihat putrinya berdiri dipintu dengan gaya semacam itu, sementara Kuroro yang kebetulan dapat giliran jaga hari ini hanya menahan tawa melihat kelakuan saudara tiri sekaligus kekasihnya itu.
"Kurapika, apa kau baik-baik saja?", ujar sang ibu dengan nada yang terdengar khawatir,
"Ya..aku..baik..baik..saja, bagaimana denganmu?", ia balik bertanya dengan sedikit terbata-bata karena masih mengatur nafas,
"Oh, syukurlah", jawab sang ibu sambil memperhatikan putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki,
"Ya, apa yang bisa diharapkan dari gadis tomboy bodoh yang sedang antusias", komentar Kuroro tiba-tiba dengan nada datar, sang ibu terkekeh geli mendengarnya sedang Kurapika melemparkan death glare-nya kearah Kuroro,
"Gadis tomboy? Bodoh katamu?", katanya geram, ia tidak habis pikir mengapa Kuroro bisa mengatainya setega itu, dan Kuroro bukannya minta maaf malah membalas death glare itu dengan senyum boyish jahil favoritnya, sorot mata onyx-nya seakan mau berkata, 'iya', dengan nada terdatar yang ia bisa, Kurapika pun langsung cemberut, tapi lalu ia mengalihkan pandangannya kearah sang mama yang tertawa kecil dan geli,
"Ahaha kalian ini", ujarnya ditengah-tengah tawanya yang renyah, Kurapika tentu malah jadi salah tingkah dan bingung mau bilang apa, sementara Kuroro terus menatapnya dengan penuh kejahilan di mata onyx-nya.
"Mama, ada yang ingin kubicarakan denganmu, boleh?", ujar gadis itu beberapa waktu setelah kedatangannya yang sangat heboh itu, Kuroro sedang ke kafetaria sementara ia menunggui sang mama dikamar,
"Hm, ada apa sayang? Sepertinya serius sekali", balas wanita itu lembut, ia melihat sorot mata anak gadisnya itu melembut sekali, tapi terlihat agak nanar,
"Ya, ini sangat serius", kata Kurapika lagi, gadis itu memposisikan diri untuk duduk disamping sang ibu dan menggenggam tangannya, wanita itu agak terkejut melihat kelakuan putri semata wayangnya itu yang tidak biasa,
"Kurapika, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, sayang?", sahut sang mama lagi, tapi gadis berambut pirang itu masih terdiam, sepertinya ia juga masih mencari apa yang harus dikatakannya,
"M-mama…i-itu…".
Kuroro berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu dengan gestur tenang dan datar, ia membawa sebuah kotak makanan dari kafetaria tadi di tangan kanan dan sebuah botol minuman di tangannya yang lain, derap langkahnya terdengar teratur dan begitu pasti, seakan ia sudah tahu akan melangkah kemana, dan memang begitulah adanya, tentu karena keadaannya berbeda dengan Kurapika tadi yang begitu antusias, dan memang tipikalnya begitu, sesekali ia menyahut sapaan dari beberapa pasien lainnya yang merupakan rekan kerja ibunya dan pernah beberapa kali bertemu dengannya saat ia sedang menjaga sang ibu.
Ia lalu menghentikan langkah kakinya didepan sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar tempat sang ibu dirawat, dahinya sedikit berkerut ketika melihat ibunya juga mengerutkan keningnya dan menunduk, sementara Kurapika yang duduk disamping sang ibu juga terlihat menunduk dan agak gelisah, namun ia menepis pikiran itu dan membuka pintunya, kedua wanita yang sejak tadi terlihat menunduk itu langsung mengangkat wajah mereka begitu menyadari kedatangannya, sebenarnya ia kurang menyukai suasana semacam ini, seolah-olah Kurapika baru saja menyampaikan sesuatu yang buruk tentang dirinya dan ia akan segera diinterogasi saat ini juga, tapi, melihat air muka gadis dan wanita itu ia tahu tidak bisa berharap banyak.
"Kuroro…", sang ibu memulai pembicaraannya, pemuda itu tetap tak bergeming dan menatap lurus pada keduanya,
"Ada apa Ibu?", katanya lembut, iapun mendekat kearah wanita itu sambil menyerahkan kotak makanan dan botol minuman itu ketangan Kurapika, gadis itu agak terkejut, tapi ia menerimanya dengan baik dan beranjak dari tempat duduknya, lalu seakan mengisyaratkan pada Kuroro untuk duduk disamping sang ibu sementara ia beralih ke sofa yang terletak agak jauh dari ibunya.
"Tadi Kurapika mengatakan padaku kalau….kau telah membantai sukunya, benar?", tanya sang ibu lembut, ia membelai wajah pemuda dihadapannya itu penuh kasih, pandangannya seakan ingin meragukan kisah itu,
"Iya, itu benar", sahut Kuroro tegas, ia tidak berniat menutupi apapun dari wanita ini, wanita yang telah membebaskannya dari sang ayah yang memperlakukan dirinya begitu kejam dan dingin, serta terus memandangnya sebagai seorang penerus Laba-laba, bukan putranya.
"J-jadi karena itu kau kembali dengan darah membasahi seluruh pakaianmu?", tanyanya lagi, ia merasa airmata mulai menghiasi bola matanya, dan hampir menggelincir ke pipinya,
"Ya", sahut Kuroro singkat, nada suaranya terkesan begitu sedih, dan itu besar kemungkinannya disebabkan oleh kehadiran Kurapika disudut lain sana, yang tentu mendengar hal tersebut, sang ibu menghapus airmata disudut matanya dengan punggung tangannya,
"Maaf", katanya lagi, entah tertuju pada siapa diantara kedua wanita berambut pirang itu, ia menghela nafas berat setelahnya.
"Lalu kalian berdua juga berpacaran?", sang ibu memecah keheningan yang terjadi selepas percakapan tentang pembantaian Kuruta itu, Kurapika lalu menggeser sofa kecil yang didudukinya ke dekat tempat sang ibu berbaring, ia memegang tangan sang ibu yang satu lagi lalu menghela nafas pendek,
"Iya", katanya, ditatapnya wajah sang ibu nanar, sedikitnya ia berharap sang ibu mau memberikan restu atas kisah kasih yang telah terjalin selama beberapa bulan terakhir ini, lalu pandangan mata birunya teralih pada sosok diseberangnya, Kuroro, pemuda itu masih diam, dan ia bisa merasakan denyut kesedihan terpancar dari rona wajahnya, ia menatap pemuda itu sendu, lalu melepaskan tangannya yang menggenggam tangan sang mama dan beranjak dari sofanya menuju kearah pemuda itu, dan menaruh tangan kanannya dibahu pemuda itu.
Kuroro yang merasakan sentuhan dibahunya pun menoleh dan matanya tertuju pada sorot mata Kurapika yang terlihat asing buatnya, tapi ia tak mengucapkan satu patah katapun, hanya diam saja, dan kemudian menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Kurapika dibahunya, hening, sekejap saja kamar VIP di rumah sakit itu terasa hening.
A/N: I'm so sorry minna,
when I wrote this on my word, I didn't know that it would be this short, but you see, I'm just a kind of too enthusiastic about the sequel, hehehe~
though it short, I really hope you won't leave this page without a review~
'Till we meet again then~
P.S. critic and suggestion would be nice *sip a cup of plain milk*
