waah, terima kasih banyak yah para readers, saya ngga nyangka bakal banyak yang suka, karena saya mendapat lebih dari 10 review maka saya mendahulukan my ego ini, baru saya bikin epilog dari always, maaf yah...
oh iya, saya pingin banget ngebales satu-satu review para readers, tapi kebanyakan T_T saya langsung ke intrinya aja yah...
pairing ini udah pasti sasusaku, kalau ada yang merasa males ngiktuin fict ini , saya juga ngga maksa kalian untuk membaca dan mengikuti fic ini kok, saya hanya menyalurkan imajinsi saya, berhubung banyak yang suka, makanya saya lanjutkan, toh kalau lebih banyak yang ngga suka akan saya tetep lanjutkan sih, soalnya dari beberapa yang ngga suka itu kan pasti akan ada yang suka, kasihan kalau saya berhenti tiba-tiba (habis dapat pencerahan) hahahaaa
untuk pertanyaan itachi suka ino? ya! itachi itu suka sama ino :)
untuk happy atau sad ending? well, kita masing-masing punya pendapat yah gimana happy ending itu dan bagaimana saad ending itu, contoh : kalau aku sendiri happy ending itu dimana kedua pasangan akhirnya bersama, dalam keadaan hidup ataupun mati, kalau sad ending itu dimana pasangan itu dipisahkan oleh kematian, ataupun yang lain, pokoknya hal yang menyebabkan mereka ngga bisa bersama walaupun mereka hidup.
untuk lemon? saya bilang akan ada di chapter mendatang, chapter mendatang itu bukan berarti chapter 2 loh XD, saya mau membuat hubungan sasuke dan sakura terjadi pelan-pelan, pokoknya baca aja yah...
untuk saingan? saya ngga bikin naruto jadi saingan, karena nanti naruto malah membalik mendukung sasuke dan sakura walaupun naruto tahu itu adalah dosa) tapi karena naruto sayang sama sahabatnya, makanya naruto ngedukung mereka, yang akan jadi saingan sasuke disini adalah Neji.
sudah cukup yah saya komat-kamit, hehehehee, sekarang lanjut ke cerita aja, okay
My Ego
Disclamer : Masashi Kishimoto
Rated : M-MA
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst
Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD
Suasana berkabung tercipta di sebuah rumah mewah bertulisan marga Uchiha, banyak orang yang datang memakai pakaian hitam, ada juga yang datang memakai seragam sekolah. Suara tangis pelan bergema di ruang utama, wajar banyak sekali orang yang sedih, karena pasangan suami-istri Uchiha ini terkenal dengan baik, ramah dan sopan.
"Huuhuhuuu… huaaahaaa~"
Sakura… sudah hampir sejam lebih dia berlutut di hadapan bingkai dan dupa kedua orang tuanya, sambil memeluk baju ibu dan ayahnya, Sakura menangis sambil bersujud, kedua kakaknya hanya duduk bersila di samping kedua sisi Sakura. Sasuke membelai rambut Sakura sedangkan Itachi mengelus punggung Sakura.
Seorang gadis berambut pirang datang menghampiri ketiga sosok tersebut, "Sakura," panggil Ino, nama gadis yang memeiliki mata aquamarine indah itu dengan lembut, namun Sakura tidak menoleh melainkan Itachi lah yang menoleh.
Itachi bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Ino duduk di tempatnya, sebelum Itachi pergi untuk menyapa tamu-tamu yang lain, anak sulung Uchiha itu berpesan pada Ino, "Temani dia sebentar." Dan dijawab oleh anggukan kecil dari Ino.
Ino datang memakai seragamnya, saat gadis dari sahabat Sakura itu menduduki tempat Itachi, "Sakura…" Ino memanggil, Sakura menoleh, dia berusaha menahan tangisnya, namun Ino berkata, "Aku turut berduka, Hinata sebentar lagi datang, kamu menangislah sepuasmu."
Mendengar kalimat Ino, Sakura langsung memeluk sahabatnya itu dan menangis dipelukan Ino, ada tatapan tidak suka yang terpancar dari mata Sasuke pada Ino, dia berfikir kalau mau memeluk, kenapa tidak dari tadi saja dia memeluk Sasuke, kenapa harus memeluk Ino?
Cemburu?
Pada wanita?
Itulah Sasuke, tidak perduli wanita atau pria, siapapun yang dekat dengan Sakura, dia pasti cemburu.
Tidak lama kemudian, Hinata tiba dengan nafas yang tidak teratur, melihat Hinata yang berdiri di belakang Sakura, anak kedua Uchiha, Sasuke, beranjak dari duduknya, mungkin hanya untuk saat ini dia mengalah untuk orang lain, karena Sakura sedang terpuruk.
Saat Sasuke beranjak, Hinata duduk di tempat tadi Sasuke duduki dan langsung memeluk Sakura, "Ada kami Sakura~ cepat pulih yah… kami a-akan selalu ada di sampingmu~"
Kedua putra Uchiha menatap sosok adik mereka yang sedang dirangkul oleh kedua sahabatnya, dari kejauhan, Itachi berucap,"Tolong jaga Sakura selagi aku tidak ada."
"Tidak usah kau pinta, sudah pasti akan kujaga."
Itachi menoleh kearah Sasuke sambil menyimpulkan senyum kecil, "Kau memang kakak yang baik."
"Hn," Sasuke menjawab singkat dengan nada datar.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, dengan adanya Itachi di rumah itu, dan Ino serta Hinata yang sering menginap, kondisi Sakura makin lama makin membaik, dia tidak lagi murung dan mogok makan, Sakura sudah mulai memancarkan senyumannya lagi, walaupun tidak seceria dulu, tapi setidaknya keceriannya sekarang cukup membuat orang-orang diseitarnya merasa lega. Tapi hari ini… Sakura mendapatkan berita yang membuat hatinya kembali sedih.
"APAAAA!"
"Sakura, pelankan suaramu!" tegur Sasuke saat Sakura menjerit sambil menggebrak meja makan, sedangkan Itachi, sang pemberi kabar itu hanya tersenyum canggung melihat adik perempuannya mengamuk.
"Aku tidak mau Itachi-Nii pergi! Aku mau Itachi-Nii tetap tinggal di sini!"
"Tapi aku harus menyelesaikan pendidikanku dulu, Sakura, walaupun aku yang memegang perusahaan ayah sekarang, tapi pendidikanku harus diselesaikan dulu, sementara perusahaan paman Madara yang mengendali."
"Aku tidak mau tahu! Aku tidak mau Itchi-Nii pergi!" setelah melontarkan kalimat terakhir, Sakura berlari meninggalkan kakak-kakaknya di ruang makan menuju kamarnya.
BRAAK!
"Apa sih yang kau lakukan sampai Sakura bisa sebegitunya padamu!" sinis… Itachi merasakan kecemburuan pada Sasuke.
"Jangan cemburu begitu, aku yakin Sakura akan bereaksi sama kalau posisi kita dibalik," ucap Itachi meranjakan dirinya.
"Mau kemana kau?" tanya Sasuke.
"Membujuk baginda Ratu," jawab Itachi sambil berjalan menuju kamar Sakura sedangkan Sasuke hanya mendengus.
Tok tok tok.
"Tidak boleh masuk! Sakura sedang tidak terima tamu!" jawab Sakura dari dalam, namun hal itu membuat Itachi terkekeh kecil, itu adalah kebiasaan Sakura saat kecil, kalau gadis itu lagi marah atau kesal, dia pasti mengurung diri di kamarnya, dan ketika ada yang mengetuk, itulah jawabannya.
Cekleek.
Dan pintu pun terbuka.
"Kalau tidak menerima tamu, kenapa pintunya bisa dibuka?" ledek Itachi yang berjalan kekasur dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Sakura yang sedang terbaring.
"Katakan apa maumu? Ratu-ku," ucap Itachi smabil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Sakura.
"Aku tidak mau Itachi-Nii pergi," jawab Sakura masih di posisinya yang terbaring miring sambil memeluk boneka panda.
"Tapi aku harus, aku janji kalau sudah selesai, aku akan kembali ke sini."
Sakura bangkit dan menatap kakak sulungnya itu, " Itachi-Nii… aku ingin ikut Itachi-Nii."
"Sakura… sayang, Sasuke membutuhkanmu di sini, aku janji akan mengunjungi kalian seminggu sekali, okay?" jawab Itachi sambil merengkuh wajah adik perempuannya.
"Huhuuu, aku sayang Itachi-Nii.~"
"Aku lebih sayang padamu," sambil memeluk Sakura, mereka saling memberikan kasih sayang melalui pelukan itu.
.
.
.
2 tahun kemudian.
"eehhmm, apa lagi yaaah," gumam Sakura di depan rak sayur-sayuran, saat ini dia sudah beranjak kelas 1 SMA, rambutnya yang sudah sepinggang, dadanya berbentuk sempurna, tubuhnya yang berbentuk membuat Sakura menjadi salah satu idola di sekolahnya, tentu daja Ino dan Hinata salah satunya.
"Cepat! Aku tidak punya banyak waktu!"
Ucapan ketus itu terlontar dari mulut laki-laki yang sedang menemani gadis berambut pink itu belanja untuk makan malam.
Ketus?
Ya, kini Sasuke Uchiha berubah drastis pada Sakura, dia bukan lagi kakak yang lembut bagi Sakura, sejak Sakura beranjak 3 SMP dulu, Sasuke berubah total, dia tidak pernah lagi mengelus kepala Sakura, merangkulnya, memeluknya, bahkan Sasuke sering tidak pulang untuk makan malam, Sasuke juga jadi lebih sering ganti-ganti pacar tapi pacarnya tidak pernah ada satupun yang dibawa kerumah.
Hari ini, Sakura memaksa Sasuke agar menemaninya belanja, karena malam ini Itachi akan datang mengunjungi mereka, Sakura juga mengundang Hinata dan Ino ikut serta makan malam bersama.
"Ish! Sebentar dong, aku kan ingin memasak makanan enak untuk Itachi-Nii," jawab Sakura kesal.
Sasuke sedikit kesal dengan jawaban Sakura, pertama dia selalu perhatian pada Itachi kalau kakak sulung mereka itu datang, kedua, Sakura sudah mulai menjawab ketus padanya, sejak kapan Sakura berani bicara begitu? Pasti ketularan Ino.
"Oh iya, undang Naruto-Nii juga yah, supaya ramai," ucap Sakura sambil memilih tomat yang segar.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
Sesampainya dirumah, seperti biasa kebiasaan Sakura adalah meletakkan tas nya di ruang tamu dan langsung berjalan kearah dapur, dan sudah menjadi kebiasaan juga Sasuke mengambil tas adiknya itu dan meletakannya di kamar Sakura.
Saat Sasuke memasuki kamar Sakura, dia terdiam, dirasakan aura dan wangi khas strawberry yang tercipta diruangan itu, Sasuke menatap ranjang Sakura yang tidak bisa dibilang kecil, namun tidak juga dibilang besar.
Sasuke meletakkan tas adiknya itu di kursi tempat meja belajar yang berada di samping kasur Sakura, tirai berwarna pink dan lampu yang kini masih gelap, namun ada sedikit cahaya yang terpancar dari ventilasi.
Deg.
Sasuke reflek memegang dadanya sendiri.
Tidak sehat.
Dia menganggap dirinya tidak sehat, setiap kali dia memasuki kamar Sakura, perasaan itulah yang muncul, perasaan yang dia alami ketika para fans nya sedang menggodanya diatas ranjang, namun perasaan ini lebih dari itu, bahkan Sasuke sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Langsung saja Sasuke pergi meninggalkan kamar itu.
"Aku pulaaang."
Telinga Sakura langsung beraksi mendengar suara berat yang terdengar dari arah pintu masuk, "Itachi-Nii!"
Sakura yang sudah menyiapkan makan malam diatas meja langsung lari kearah Itachi dan memeluknya.
"Whoaa whooaaaa, Sakura pelan-pelan, kau ini sudah berat," ledek Itachi dan itu membuat Sakura mengembungkan pipinya.
"Hahahaa, aku bercanda, mana Sasuke?"
"Di atas, ah aku mengundang Hinata, Naruto-Nii dan…" sebelum menyebutkan satu nama itu, Sakura melirik kakaknya sambil menyenggol lengannya, "Ino."
Blush.
Walau hanya sedikit, Sakura bisa melihat wajah Itachi sedikit memerah.
"Aha! Itachi-Nii ketahuan, ternyata benar yah, Itachi-Nii sering telepon-teleponan dengan Ino."
"Hanya telepon biasa, lagi pula kami sudah hampir setengah tahun tidak bertemu, Sakura."
"Ino belum punya pacar kok, tapi yang naksir banyak," ucap Sakura, sengaja untuk membuat kakaknya panic.
"Yang naksir? Apa Ino menerima salah satu di anatara mereka?" tanya Itachi gugup.
"Tenang sajaaa, kan aku sudah bilang, Ino tidak punya pacar, tapi yang naksir banyak." Cengir Sakura.
"Dasar kau ini, kalau Ratu-ku sendiri? Gimana? Sudah ada laki-laki yang kau sukai?" tanya Itachi, percakapan mereka berlanjut sambil berjalan menuju ruang makan. Dan kebetulan di situ sudah ada Sasuke yang sedang membuka kulkas.
"Ada," jawab Sakura riang dan itu membuat Sasuke sedikit melirik kearah adiknya, "Tapi aku tidak mau kasih tahu."
"Hooo, mau merahasiakan dariku rupanya."
Sakura hanya menyengir pada kakak sulungnya, sedangkan Sasuke masih terdiam di depan kulkas, kenapa Sakura tidak memberi tahunya? Padahal posisi mereka sama-sama kakak, kenapa Sakura lebih terbuka pada Itachi? Sasuke tidak suka hal itu.
Ting noooong.
"Ah, itu mereka," ujar Sakura, saat dia akan membukakan pintu, Itachi mengambil alih.
"Aku saja," potong Itachi.
Saat Itachi pergi, Sasuke menutup kulkas dan berjalan kearah Sakura.
"Kamu…"
Sakura mendongak kearah Sasuke yang berdiri di depannya, namun Sasuke tidak mengatakan apa-apa, matanya malah menjurus ke bibir mungil adiknya itu.
"Sakuraaaa," sapa Hinata yang baru tiba, saat mendengar suara Hinata, Sasuke cepat-cepat membalikkan tubuhnya, menjauh dari Sakura.
"Hinataaa, mana Ino?"
"Ehm, hehehee, kau pasti tahu."
Itachi berdiri di depan Ino, gadis yang berhasil mengunci hati Uchiha sulung ini sangat salting ditatap begitu lembut oleh kakak dari sahabatnya ini.
"S-Selamat malam, Itachi-Nii."
"Hai, sudah lama tidak bertemu yah, Ino."
"Yah, Itachi-Nii apa kabar?"
"Panggil aku Itachi saja, aku sangat baik, terima kasih yah sudah menjaga Sakura selama ini."
"Ng," Ino menggelengkan kepalanya, "Dia sudah seperti adikku sendiri."
"Oh yah? Kalau begitu…" Itachi mendekatkan wajahnya kesamping wajah Ino, dan itu sukses membuat Ino memerah, "bisa lebih mudah yah."
"Eh?"
"TEMEEEEE!"
Suara teriakan yang sangat nyaring itu berhasil membuat Itachi dan Ino tersentak kaget, suara yang berasal dari belakang Ino, terlihat sosok pria berambut pirang sedang menyengir lebar.
"Wah, selamat malam Itachi!" sapa Naruto, "Ada Sasuke?"
"Di dalam," jawab Itachi mengarahkan jempolnya kedalam ruangan, Naruto menyelak masuk sebelum Ino, Itachi hanya menghela nafas melihat sahabat adiknya itu yang sangat bersemangat, Itachi kembali menatap Ino, "Masuk?"
Ino mengangguk.
Acara makan malam yang begitu ramai, suasana seperti ini lah yang Sakura suka, canda ria tercipta karena lawakan Naruto yang sukses membuat Sakura terbahak-bahak. Dan sekali lagi, Sasuke tidak suka reaksi Sakura yang timpal baliknya pada Naruto begitu mulus.
.
.
.
Pagi hari di sekolah.
"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Itachi-Nii?" tanya Sakura sambil mengunyah pocky, cemilan favoritnya yang mempunyai rasa flavor strawberry.
"Apanya yang gimana?"
"Kemarin malam, Itachi-Nii selalu memandangi Ino," ucap Hinata menopang dagu dikedua telapak tangannya.
"Itachi-Kun hanya meledekku, tidak lebih."
"Kyaaa, sudah memanggil Itachi-Kun rupanyaaa," jerit Sakura menggenggam tangan Hinata.
"Nah, Hinata, gimana kalau kau dengan Sasuke-Nii saja?" usul Sakura.
"Eh? A-aku?"
"Iya, sepertinya akan seru kalau kita bertiga menjadi saudara ipar."
"Hooo, bilang saja agar kau juga bisa menikah dengan Neji nanti, iya kan?" ledek Ino mencolek pipi Sakura.
"Ehehee, I-Ino…" Sakura kini malu-malu, bukan berarti Sakura berpacaran dengan Neji, mereka hanya dekat dan sering email-emailan.
"Tapi aku tidak menyukai Sasuke-Nii, Sakura," ujar Hinata.
"Jadi? Siapa yang kau sukai?" tanya Sakura.
"Temee! Tunggu aku!"
Suara nyaring yang sangat khas itu terdengar saat Sasuke dan sahabatnya melewati kelas mereka, kelas 2 memang harus melewati kelas Sakura dulu untuk menuju kelas mereka, ketika mendengar suara Naruto, wajah Hinata memerah.
"Aaaahh! Naruto-Nii!" tebak Sakura sambil menunjuk Hinata, dan Hinata mengangguk malu.
Mendengar namanya seperti di panggil, Naruto menghentikan langkahnya.
"Dobe! Cepat!" geram Sasuke.
"Ah, maaf," Naruto melanjutkan jalannya dan mengikuti langkah sahabatnya, "Teme, boleh jujur?"
Sasuke tidak mengeluarkan suara, tapi ekor matanya bergerak menuju sosok sahabatnya itu, dan Naruto melanjutkan ucapannya, "aku menyukai adikmu, Teme."
Langkah Sasuke terhenti, dan dengan reflek Sasuke memukul wajah Naruto.
Bug!
"Aw! Teme! Apa-apaan kau!"
"Berani sekali kau melontarkan kata 'suka' padanya dihadapanku."
"Yang kusukai adikmu! Bukan kamu! Geez, pukulanmu keras sekali," gerutu Naruto.
"Naruto," panggil Sasuke dengan nada serius, saking seriusnya, Sasuke memanggil namanya, bukan nick namenya, "Aku serius, jangan berani-beraninya kau menyentuh Sakura, atau kubunuh kau, aku tidak perduli kau sahabatku, karena kau sahabatku, aku mohon, hapus rasa sukamu itu."
"Teme… kau… kenapa overprotective sekali pada Sakura-Chan?"
"…" Sasuke terdiam, dia tidak mau rahasianya terbongkar, mungkin suatu hari dia akan memberi tahu Naruto.
"Sasukeeeee~" seorang gadis berambut merah merangkul Sasuke dari belakang, "Hari ini ada acara?"
"Apa maumu?" tanya Sasuke ketus.
"Aih~ ketus sekali, tapi itulah yang membuatku jatuh cinta padamu, gimana kalau hari ini di hotel berbintang lima? Aku yang traktir."
"Sasuke-Nii!" kini suara yang paling Sasuke suka terdengar dari belakang, ketika Sasuke menoleh, Sasuke mendorong tubuh wanita yang memeluknya itu.
"Ah, pacarnya Sasuke-Nii?" tanya Sakura pada wanita itu.
"Iya, salam kenal yah, Sa-ku-ra-chan… namaku Karin."
Namun sifat polos alami Sakura membuat Karin kesal, karena Sakura seolah tidak memperdulikan perkenalan antara Karin dan dirinya.
"Sasuke-Nii, nanti pulang temani aku belajar mau? Besok ada ujian matematika, aku takut gagaal~" rengek Sakura.
"Ah, kakakmu ini nanti-"
"Bisa, nanti kita pulang bareng," Sasuke memotong kalimat Karin.
"Okay, terima kasih, Sasuke-Nii, aku sayang Sasuke-Nii," Sakura melambaikan tangannya dan berlari kembali menuju kelasnya.
"Sasuke! Kenapa kau-"
"Diam!" kini Sasuke memotong ucapan Karin dengan geraman yang datar namun terkesan sinis, dan itu membuat Karin ciut.
Naruto dan Sasuke pun melanjutkan langkah mereka dan meninggalkan Karin, "Teme… jangan-jangan kau…"
"Dobe, kau sahabatku bukan?"
"Tentu saja."
"Apapun yang terjadi padaku, apa kau akan tetap mau menjadi sahabatku?"
"Kau… seperti bukan Sasuke Uchiha saja, ada apa sih?"
"Aku bingung… kedua orang tuaku meninggal, seharusnya aku sedih, tapi kenapa ada perasaan lega dalam diriku?"
"…" selain terkejut, Naruto menganga mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Teme… dia adik kandungmu loh," ujar Naruto yang sepertinya paham perasaan Sasuke.
"Aku tahu, makanya aku berusaha menghilangkan perasaan ini."
"Itu alasannya kenapa kau ganti-ganti pasangan?"
Sasuke terdiam, tidak mengelak atas pernyataan Naruto.
.
.
.
"Nah, kalau sudah ketemu variable x itu sudah mudah, tinggal kau kalikan dengan variable y."
"Aaahhh~~ Sasuke-Nii, kita sudah dua jam belajar, dan aku sama sekali tidak mengerti apa yang Sasuke-Nii ajarkan," gumam Sakura menempelkan kening dimeja makan.
"Itu karena kau terlalu bodoh."
Sakura terdiam, "huh, ajaran Neji-Kun lebih mudah di mengerti."
"Apa katamu?"
"Ah tidak, bukan apa-apa. Aku mengantuk, temani aku tidur yah, sudah lama Sasuke-Nii tidak membacakan dongeng untukku."
"Apa-apaan sih kau ini, sudah SMA masih saja kelakuan seperti bocah!"
"Ayolaaaah, yaah," rengek Sakura.
Sasuke mana bisa menolak rengekan Sakura, dia senang… sangat senang.
Mereka berjalan ke kamar Sakura, Sakura membaringkan tubuhnya sambil memeluk boneka panda, Sasuke membacakan cerita, salah satu cerita favorit Sakura yang berjudul forbidden love.
Mendengar Sasuke membacakan cerita, Sakura tertidur pulas. Sasuke menoleh kearah adiknya, "akhirnya tidur pulas."
Sambil memandangi wajah adiknya yang polos, Sasuke menyeka rambut pinknya dengan lembut dan berbisik, "aku akan menjagamu, Sakura," Sasuke mencium pipi adiknya dengan lembut dan melanjutkan ucapannya, "apapun yang terjadi, bahkan kalau aku harus menjadi iblis sekalipun, aku tidak akan membiarkanmu direbut orang lain."
Masih dengan mengusap pucuk kepala Sakura, Sasuke mendekatkan bibirnya pada bibir Sakura, namun gerakannya terhenti ketika Sakura bergumam.
"Engh~ Neji-Kun~"
Gerakan Sasuke terhenti, rahangnya mengeras, mendengar adiknya mengigau nama laki-laki lain, tangannya mengepal keras, bahkan pandangannya menggelap, Sasuke kini tidak bisa berfikir jernih. Amarah dan cemburu menyelimuti hatinya, perasaan gelisah membelenggu. Sampai akhirnya Sasuke meraih wajah Sakura dengan kasar dan mencium bibir adiknya.
Karena gerakan Sasuke yang kasar, Sakura yang baru saja tertidur lelap membuka matanya, dan mendapatkan kakak kandungnya sendiri sedang mencium bibirnya.
"S-Sasuke-Nii?"
"DIAM! BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN ITU! HAL ITU MMEBUATKU MUAK!"
Bentakkan Sasuke membuat Sakura takut, seumur hidupnya Sakura belum pernah melihat Sasuke yang begini marah, bahkan sampai mencium bibirnya.
"A-Apa salahku? S-Sasuke-Nii…"
"Kubilang diam!" Sasuke menutup mulut Sakura dengan bibirnya, dan Sakura mulai mengeluarkan air matanya, "Aku sudah cukup bersabar selama hidupku!"
Pikiran Sakura menjadi blank akibat perlakuan Sasuke saat ini, karena tangan Sasuke hendak membuka semua seragam Sakura.
A/N yaa, inilah chapter 2 yang saya suguhkan untuk kalian... terima kasih banyak yaah sudah mau membaca, mereview dan mem fav fict ini...
next chapter :
"S-Sasuke-Nii..."
"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang adik, jadi berhenti memanggilku seperti itu!"
"Kenapa?... apa aku melakukan hal yang Sasuke-Nii benci?"
"Sudah kubilang jangan panggil aku Sasuke-Nii!"
"Lalu aku harus memanggilmu apa?"
.
.
"Yang benaar? Sakura, kau harus pindah dari rumah itu."
"Tolong jangan beri tahu Itachi-Nii, Ino... aku tidak bisa meninggalkan Sasuke-Nii sendirian."
.
.
"Loh? ada orang dirumahmu, uchiha?"
"Hn, dia cuma seorang adik, biarkan saja."
.
.
"Apa kau menyukai Neji? ketua kllub karate itu?"
"Ya, aku menyukainya."
"Sayang sekali, aku tidak akan mengizinkanmu menyukai orang lain."
.
.
"kalau aku sih mendukung Teme, Hinata-Chan sendiri? apa mendukung Sakura-Chan?"
"Ng... a-aku sudah pasti mendukung yang t-terbaik untuk Sakura."
.
.
"Sejak malam itu, aku tidak bisa berhenti dan menghapus bayangan Sasuke-Nii dari dalam pikiranku."
"Itulah yang dinamakan cinta, Sakura-Chan."
"Tapi... aku kan adik kandungnya."
"Yah, mau bagaimana lagi? itu terserah dirimu, mau lanjut melakukan hal yang terlarang ini, atau berhenti?"
.
.
"Aku akan coba menganggapmu sebagai laki-laki, bukan sebagai kakak."
"Tidak perlu, lagipula aku tidak mau kau terpaksa gara-gara perlakuanku, aku akan mencoba untuk melupakanmu."
.
.
"Kau membersihkan sisa-sisa dia bercinta semalam? kau gila Sakura?"
"Aku tidak sengaja, awalnya aku hanya ingin membersihkan rumah karena Sasuke-Nii sedang menginap dirumah Naruto-Nii."
and now i know, every step i take, it's always wrong in your eyes
