"Nee, Sasuke Nii-chan, kalau sudah besar nanti, aku ingin seperti ibu di foto ini," ucap gadis kecil berumur 5 tahun yang sedang bersama kakaknya membuka album foto.

"Tidak boleh! Kalau yang akan menjadi pasanganmu orang lain, aku tidak akan mengizinkannya!"

"Kalau begitu, yang menjadi pasanganku nanti Sasuke Nii-chan saja."

"Itu sudah pasti, walaupun nanti ayah, ibu dan Itachi-Nii akan marah, aku akan membawamu kabur, kita hidup berdua saja yah, Sakura."

My Ego

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M-MA

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD

"S-Sasuke-Nii…"

"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang adik, jadi berhenti memanggilku seperti itu!"

Bagaikan tombak yang menusuk jantung Sakura ketika dia mendengar pengakuan itu dari kakaknya, bagaimana bisa Sasuke tidak menganggapnya sebagai seorang adik? Apa yang telah dilakukannya sehingga Sasuke tidak mau menganggpnya adik, apa Sakura telah melakukan sesuatu yang memalukan? Itulah pikiran Sakura.

"Kenapa?... apa aku melakukan sesuatu yang salah? Sesuatu yang Sasuke-Nii benci?" tanya Sakura dengan hisakan tangisnya.

"Sudah kubilang jangan panggil aku Sasuke-Nii! Apa kau tuli!" bentak Sasuke sambil menghantam bantal sebelah kepala adiknya yang sedang terlentang di bawahnya itu.

"Lalu… hiks… aku harus memanggilmu apa?~"

Sasuke terdiam, sekilas teringat saat Sakura mengigau sebuah nama yang dia sangat benci.

"Neji-Kun~"

"Cih!" Sasuke mendecih kemudian bangkit meninggalkan Sakura yang masih terbaring dengan ekspresi bingung.

BRAAK!

Sakura terdiam.

Perlahan air mata kembali jatuh dari kedua emerald nya, hari masih sore, bagaimana dia harus menatap kakaknya itu saat makan malam nanti? Setelah apa yang Sasuke lakukan padanya tadi… menciumnya, bahkan berusaha melepas seragamnya, dan juga… kenapa Sakura merasa berdebar-debar saat ini.

Gadis itu sedikit frustasi, dia memakai kedua lengannya untuk menutupi wajahnya, bingung apa yang harus dia lakukan nanti malam, karena merasa canggung, Sakura mengurung diri di kamarnya, melewati makan malam, yang ternyata Sasuke sudah menunggunya di bawah dengan makanan yang sudah sengaja Sasuke siapkan.

Karena tahu alasan kenapa Sakura tidak turun kebawah, maka Sasuke membereskan makanan itu dan membuangnya ke tong sampah, sambil menatap barang-barang di tong sampah, Sasuke bergumam, "Tidak ada bedanya aku dan sampah."

.

.

.

Keesokan paginya, Sakura sengaja berangkat lebih dini dari Sasuke, sebenarnya Sasuke menyadari sosok Sakura yang sudah sibuk di pagi hari, namun dia tidak mau membuat adiknya menjadi lebih canggung lagi padanya, maka dari itu Sasuke memberikan tempat untuk sendiri bagi Sakura.

"Pagi Sakura," sapa Hinata dan Ino yang baru tiba di kelas mereka, Sakura sudah datang dari pagi sekali dan kini hanya melamun di sisi jendela.

"Ada apa? Tumben melamun?" tanya Ino dengan lembut.

"Hhhh, rumit," jawab Sakura pelan, namun cukup terdengar oleh kedua sahabatnya itu.

"Apanya?" tanya Hinata.

Sakura menoleh kearah mereka dengan tatapan sendu, "Janji tidak akan cerita ke siapa-siapa?" dan mereka mengangguk, menandakan jawaban iya.

"Kemarin, sepulang sekolah, aku dan Sasuke-Nii belajar di ruang makan, setelah itu, aku ingin istirahat, aku memintanya membacakan dongeng untukku, sampai aku benar-benar tidur pulas," Sakura memulai cerita ketika Ino dan hinata menarik kursi mereka masing-masing agar jadi lebih dekat dengan Sakura.

"Lalu?" tanya Ino.

"Lalu…" Sakura sedikit ragu, setelah menutup metanya dan mengambil nafas, Sakura melanjutkan kalimatnya, "Aku terbangun… karena… Sasuke-Nii… dia…"

Ada jeda beberapa detik sebelum Sakura melanjutkan ucapannya, dan jeda itu dibuat oleh Sakura untuk menatap kedua sahabatnya, "Menciumku di bibir."

Dan jeda pun kembali tercipta, namun tidak lama.

"APAAAA!" teriakan yang sangat kompak dari Hinata dan Ino.

"Kenapa? Kok bisa? Apa dia mabuk?" ucap Ino yang mulai mengecilkan suaranya, dan Sakura menggelengkan kepalanya.

"Atau… Sasuke-Nii… menyukai Sakura?" tebak Hinata.

"Hinata, kami ini saudara kandung, mana mungkin," sangkal Sakura, "Lagi pula aku menyukai Neji-Kun."

"Dia hanya menciummu, atau melakukan tindakan hal lain?" tanya Ino.

"Sasuke-Nii… dia hampir membuka seragamku," jawab Sakura sendu.

"Yang benar? Sakura! Kau harus pindah dari rumah itu!" sewot Ino.

"Ino…" Sakura menggenggam tangan sahabatnya itu, "Tolong jangan beri tahu Itachi-Nii, aku mohon, aku… tidak bisa meninggalkan Sasuke-Nii sendirian."

"Sakura, kau gila yah, dia sudah mencoba untuk memperkosamu! Kalian ini saudara kandung dan itu tidak sehat!" bentak Ino namun dalam volume kecil.

"Aku tahu… tapi aku tetap tidak bisa meninggalkannya, aku…"

"Sakura… juga menyukai Sasuke-Nii?" tebak Hinata.

Hinata memang paling hebat kalau urusan menebak perasaan seseorang.

"Tidak Hinata, bukan begitu, kau tidak mengerti, aku…"

"Bagaimana kalau kamu pacaran saja dengan Neji-Nii?" usul Hinata.

"Benar, Neji juga suka padamu loh, Sakura," ucap Ino.

"Dari mana kau tahu?" Sakura bertanya heran pada Ino, namun yang ditanya tidak menjawab, Ino hanya menyengir lebar dan Sakura tahu apa maksud cengirannya itu, "Oh tidak… kau tidak bertanya langsung pada orangnya kan?"

"Bingo!" jawab Ino.

"Ino~ kau membuatku malu~"

"Tenang saja Sakura, kami mendukung apapun keputusanmu kok, walaupun aku ingin kamu jadi dengan Neji-Nii," ujar Hinata.

"Ng… terima kasih ya kalian, aku sayang kalian," ucap Sakura sambil merangkul kedua sahabatnya itu.

"Iya, kami lebih menyayangimu, jidat."

.

.

.

Sepulang sekolah, Sakura pulang lebih awal, dia bertekad untuk menghadapi kakaknya nanti dengan sikap normal dan biasa saja, sambil menunggu Sasuke pulang dari kegiatan klubnya, Sakura menyiapkan beberapa cemilan untuk nanti dia nikmati bersama. Namun kegiatannya terhenti ketika Sakura mendengar suara tawa seorang wanita di depan pintu.

"Hihihi, ini pertama kalinya aku kerumah mu, Uchiha~"

Sakura melangkahkan kakinya menuju depan pintu, dan matanya sedikit terkejut ketika melihat kakaknya, Sasuke, membawa seorang wanita untuk pertama kalinya kerumah mereka, wanita yang sama saat di sekolah Sakura memperkenalkan dirinya.

"Loh? Ada orang dirumahmu, Uchiha?" ucap wanita berambut merah dan berkaca mata itu.

Sasuke menatap mata Sakura dengan intens kemudian mengabaikan kehadiran adiknya itu, "Hn, dia hanya seorang adik, biarkan saja."

"Aih~ kau jahat sekali pada adikmu sendiri, tapi itulah yang membuatmu semakin sexy~"

Sakura hanya terdiam membatu di tempat, seumur hidup belum pernah Sakura dicampakkan oleh Sasuke begini, apalagi demi wanita yang bertingkah murahan begitu, Sakura menoleh kebelakang dan sosok kakaknya sudah tidak ada, terdengar bunyi pintu kamar Sasuke ditutup.

Ada perasaan nyeri di dalam dada Sakura, seolah di iris pisau, saat Sakura akan menyentuh dadanya yang nyeri itu, handphonenya berbunyi keras di kamarnya, dengan cekatan Sakura berlari menaiki tangga untuk mengambil handphonenya.

"Halo?"

"Hai, sedang apa kamu di sana?"

"Hah? Siapa ini?"

"Ya Tuhan, kejam sekali kau melupakan suaraku."

"Ah! Neji-Kun! Hehehee, kenapa tidak tercantum namanya di sini?"

"Aku memakai telepon rumah, di save yah, oh iya, hari ini ada waktu?"

"Hmm, ada, kenapa?"

"Aku jemput yah, aku bosan, temani aku jalan-jalan, mau?"

"M-Mau! Mau! Okay, aku siap-siap dulu."

"Baiklah, aku akan sampai 15 menit lagi."

Setelah percakapan mereka tertutup, Sakura bergegas membuka seragamnya, menggantinya dengan rok mini yang lucu berwarna biru tua,kaos tank top putih dan blazer santai berwarna hitam, Sakura mengambil salah satu tas favoritnya dan sepatu hak tinggi.

Saat Sakura keluar kamar, akses untuk menuju tangga dia harus melewati kamar Sasuke, karena kamar mereka berdampingan, saat melewati kamar Sasuke, langkah Sakura terhenti karena mendengar suara.

"Ahhh! U-Uchiha! P-pelan-pelaan~ Yeaah~ lebih dalam! Aaahnnnn!"

Sakura yang terkejut terpaku di depan pintu itu, ini baru pertama kalinya dia mendengar desahan yang begitu hebat, apa kakaknya sehebat itu? Tapi… ini pertama kalinya Sakura merasakan Sasuke bercinta dirumahnya sendiri, dan itu membuat Sakura terpuruk.

Tidak mau ambil pusing, Sakura meneruskan langkahnya, dan menunggu Neji di luar gerbang rumah, dari pada harus di dalam rumah dan mendengarkan desahan demi desahan itu.

Jendela kamar Sasuke sangat pas sekali menghadap keluar jendela, saat ini dia sedang duduk dikursi belajarnya, dan seorang wanita yang dibawanya tadi sedang menggenjot dirinya, terlihat ekspresi wanita itu sangat gembira, sedangkan Sasuke? Datar!

Bahkan saat ini Sasuke tengah mendengarkan i-podnya karena tidak ingin mendengar desahan wanita itu. Saat Sasuke menoleh kearah jendela, dia melihat sosok adik yang dia cintai itu berdiri di depan gerbang dengan pakaian rapih, reflek Sasuke mendorong Karin, nama wanita itu yang sedang menggenjot dirinya sehingga dia jatuh kebawah.

"Aw! U-Uchiha! Apa-apaan kau!" protesnya saat hampir mendekati klimaksnya, namun Sasuke malah mendorongnya tanpa alasan.

Sasuke tidak menjawab, laki-laki itu memantau terus sosok Sakura dari dalam kamarnya.

Perlahan wanita itu merangkak dan menggenggam kejantanan Sasuke, lalu mulai mengulumnya sambil tangannya yang bebas memainkan sendiri kewanitaannya, tapi Sasuke tidak bereaksi sama sekali, matanya melebar ketika melihat sosok Neji datang dengan motornya dan memberi Sakura helm, tangannya mengepal ketika dia melihat adiknya duduk di belakang Neji sambil memeluk pinggang Neji.

"BRENGSEK!" teriak Sasuke sambil menggebrak meja dan mendorong Karin.

Sasuke membetulkan celananya dan mengambil handphonenya.

"U-Uchiha… sudah selesai? Tapi kau belum klimaks satu kali pun."

"Keluar!" ujar Sasuke.

"Hah?"

"KELUAR! Aku hitung sampai 5! Kalau kau tidak keluar akan kupastikan polisi tidak menemukan mayatmu!"

"1!" Sasuke mulai menghitung.

"T-Tunggu dulu! Aku bahkan masih telanjang!"

"2!"

Dengan cekatan Karin memungut seragamnya dan memakai seragamnya cepat-cepat.

"3!"

Karena takut, Karin memutuskan untuk keluar dalam keadaan setengah telanjang sebelum hitungan ke empat diucapkan.

Sasuke menekan nomor dan menempelkan handphone ditelinganya.

"Adikku baru saja pergi, cari sosoknya dan laporkan padaku apa yang dia lakukan bersama pria yang membawanya pergi itu, cari kemana pun dia pergi, kalau perlu mengancurkan satu Konoha untuk menemukannya, hancurkan saja! Ingat! Aku tidak menerima kegagalan seperti 2 tahun yang lalu, mengerti?" dengan nada penekanan Sasuke menutup teleponnya, dan berjalan keluar, meinggalkan kamarnya yang berantakan dan kondom baru yang belum terpakai dimana-mana, namun cairan dari wanita itu terdapat di karpetnya, sedangkan kasurnya masih sangat rapi tak tersentuh.

.

.

.

"Sedaaaaap~"

"Hahaha, sudah kuduga kau akan suka, pasta di sini sangat enak."

"Neji-Kun sangat tahu yah tentang restoran enak."

Sambil menyantap pasta nya, Sakura bergumam dengan makanan yang menempel di pinggir-pinggir bibirnya.

"Pelan-pelan saja, kita masih punya banyak waktu, atau kamu mau tambah?"

"Tambaaah!" jawab Sakura riang.

Sakura merasa sangat nyaman berada di sisi Neji, begitu pula Neji yang diam-diam juga menyayangi Sakura, Neji menyeka sisa makanan di bibir Sakura memakai tissue, atmosphere mereka sudah seperti sepasang kekasih, namun mereka tidak menyadari kalau sedang ada yang mengawasi dan memotret semua kegiatan mereka.

Setelah selesai makan, Neji memberi waktu untuk Sakura menurunkan makanannya, dan waktu itu dipakai kesempatan oleh Neji.

"Sakura," panggil Neji dengan lembut.

"Ng?" Sakura menjawab sambil tersenyum.

"Aku ingin kita bisa begini setiap hari, sepulang sekolah, juga aku tidak mau ada alasan yang menghalangiku untuk menggenggam tanganmu, membelai rambutmu…"

"Neji-Kun…"

"Aku ingin kau menjadi pacarku, apa kau mau?"

Sakura terkejut, entah dia harus senang atau khawatir, di satu sisi Sakura sangat bahagia akhirnya Neji melihatnya, memintanya untuk menjadi seorang pacar, di sisi lain, Sakura takut kalau ketahuan oleh Sasuke.

"Aku mau," jawab Sakura malu-malu, "Mungkin Sasuke-Nii akan mengerti kalau aku jelaskan, toh dia juga sudah mempunyai pacar yang cantik."

Namun Sakura tidak sadar, tindakannya itu membuat dirinya terjun kedalam masalah yang sangat besar.

Neji mengantar Sakura pulang, karena sudah malam, maka Neji tidak sempat untuk mampir kedalam, sebelum mereka berpisah, Neji memberanikan diri untuk mengecup bibir Sakura, dan itu sukses membuat Sakura blushing.

Di samping itu, Sasuke yang sedang beradadi sebuah club, memandangi hpnya dengan wajah marah, suara musik menggema dan orang-orang yang sedang menari.

"Teme, ada apa dengan wajahmu?"

Sasuke tidak menjawab, dia hanya menggenggam hpnya dengan keras, karena penasaran, Naruto sahabat Sasuke yang memanggilnya dengan sebutan Teme itu mengintip apa yang dilihat oleh sahabatnya itu, itu adalah foto Neji menyeka bibir Sakura, dan saat neji mengecup bibir Sakura.

"M-Mereka pacaran?" tanya Naruto reflek dan diberikan death glare oleh Sasuke, "Whoa, santai aku Cuma bertanya!"

"Aku duluan," ucap Sasuke meninggalkan Naruto sendiri.

Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap ketika sampai di rumah, adiknya itu belum tidur.

.

.

.

"Iya, aku juga mau tidur kok, sampai besok, bye."

Sakura menutup teleponnya sambil tersenyum sipu, tadi adalah telepon dari Neji yang kini resmi menjadi kekasihnya, saat Sakura menaiki tempat tidurnya.

BRAAAK!

Sasuke membuka kamar Sakura dengan kencang.

"Sasuke-Nii pelan-pelan kenapa sih kalau buka pintu!" protes Sakura.

"Apa ini maksudnya?" tanya Sasuke melempar hpnya ke Sakura, saat Sakura melihat hp itu…

"Sasuke-Nii! kau menyuruh anak buahmu lagi untuk mengintaiku? Aku sudah besar! Aku berhak mempunyai privasi!"

"apa kau menyukai dia? Si ketua klub karate itu?"

"Neji-Kun?" tanya Sakura yang malah memperjelas namanya, padahal Sasuke sengaja tidak mau menyebut nama laki-laki yang dia benci itu "Ya, aku menyukainya."

Sasuke terdiam, kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya, dia tidak mau Sakura direbut oleh laki-laki lain, akhirnya Sasuke memutuskan sesuatu… sesuatu yang akan merusak hubungan persaudaraannya dengan Sakura yang dia jaga selama 17 tahun ini.

"Heh, sayang sekali, aku tidak akan mengizinkanmu menyukai orang lain," gumam Sasuke tersenyum sinis.

"Hah?" Sakura masih bingung, saat Sasuke menghampirinya dan mendorongnya ke kasur.

Bruuk.

"S-Sasuke-Nii-"

Sasuke menyegel bibir Sakura dengan bibirnya, Sakura yang akan berontak kedua tangannya dikunci oleh Sasuke, kini Sasuke tidak ragu-ragu lagi, apapun konsekuensinya dia akan terima, meskipun Sakura akan membencinya nanti, dengan cara apapun, Sakura harus menjadi miliknya, bukan Neji, atau yang lain.

"Mmpphh!"

Sasuke membuka paksa piyama adiknya yang berwarna pink itu sehingga kancing-kancing nya terlepas dan terekspos payudara yang selalu jadi bahan tontonan cowok-cowok di sekolah.

Dengan lancang Sasuke langsung menghisap dada kanan Sakura.

"Mmphh! Nnnggg!" Sakura berusaha berontak namun tahanan tangan Sasuke yang sekarang membungkam mulut Sakura begitu kuat, siapa yang bisa melawan seorang Sasuke? Pemimpin dari genk berandalan yang terkenal di Konoha.

Melihat adiknya berontak dan menangis, Sasuke tidak menghentikan kegiatannya, dia malah jauh lebih nekat dengan membuka celana Sakura. Sasuke sendiri sebenarnya tidak terlalu terangsang oleh Sakura… setidaknya untuk saat ini, karena saat ini rasa amarah lebih besar dari apapun.

Sasuke membuka bekapannya, dan bibirnya menciumi perut Sakura.

"T-Tidaaakk! J-Jangaaan! Sasuke-Nii! Aku mohoon~ hentikaaaan…." Pinta Sakura, nada yang begitu pilu di telinga Sasuke.

"Kita saudara kandung~ Sasuke-Nii tidak boleh melakukan ini padaku! Ini salaah~"

Sasuke menghentikan gerakannya, kemudian menatap emerald Sakura, "Apa mencintai adik kandungku sendiri itu juga salah?" tanya Sasuke dengan ekspresi yang sangat pilu, "Maafkan aku." kalimat terakhir Sasuke membuat Sakura membatu, karena sekarang Sakura bisa merasakan sesuatu menusuk kewanitaannya.

"A-AAKKHH! S-Sasuke-Nii! Saakiittt! Hentikaan!"

Sasuke tidak menghentikannya, dia terus menerus memaju mundurkan pinggulnya sampai darah keluar dari selaput Sakura,.

"Aaakhh! Sasuke-Nii hentikaan~… aku… mohoon~"

Memperkosa adik kandung sendiri.

Sinting bukan?

.

.

.

Pagi hari.

Tuuuut Tuuuut.

"Cih, Teme kemana sih, sudah satu pelajaran dia lewati tapi belum kelihatan juga batang hidungnya," dumel Naruto yang berjalan di koridor sambil menempelkan hpnya ditelinga kanannya, "Aku tanya Sakura-Chan saja."

Naruto menghampiri kelas Sakura yang terletak beberapa kelas dari kelasnya sendiri, karena saat ini Naruto sudah berada di koridor, maka dengan mudah Naruto menemukan kelas adik sahabatnya itu dan juga wanita yang dulu pernah ditaksirnya.

"Permisii, apa Sakura Uchiha ada?" sapa Naruto.

"Ah! Narutooo!" Ino berteriak dan berlari kearahnya bersama Hinata, "Apa Sasuke masuk?"

"Hah? Teme tidak masuk hari ini, justru aku kesini mau tanya pada Sakura-Chan, apa dia masuk?"

"T-Tidak, Sakura juga tidak masuk, kami meneleponnya berkali-kali tapi tidak di jawab," jawab Hinata dengan nada khawatir.

"Teme juga tidak menjawab teleponnya," Naruto bergumam sambil menempelkan jari-jarinya di dagu, berfikir kenapa kedua saudara kandung itu bisa kompak, "Kenapa aku punya firasat buruk yah?"

"Aku coba telepon kerumahnya melalui telepon sekolah, mungkin saja diangkat kalau yang menlepon pihak sekolah," ucap Ino yang langsung berlari, meninggalkan Hinata dan Naruto.

Hinata dan Naruto terdiam berdua, saling tatap seolah saling bertanya ada apa ini sbenarnya.

"Aku… punya firasat buruk," ujar Hinata dengan nada lembut.

"Yah, aku juga…"

"Sasuke-Nii," Hinata kembalu berucap, dengan ragu Hinata bertanya pada Naruto, "Dia suka pada Sakura kan?"

Mata Naruto terbelalak mendengar pernyataan Hinata, siapa yang memberi tahu pada gadis di depannya ini, kalau Sasuke tahu, bisa-bisa gadis ini dibunuh, apalagi nanti Sasuke mengira Naruto lah yang menyebarkannya.

"Tenang saja, aku tidak aka membocorkannya," sambung Hinata yang melihat reaksi Naruto.

"Kau… tahu dari mana?" tanya Naruto.

"Feeling seorang sahabat," jawab Hinata tersenyum.

"Hahaha… yaah, si Teme itu menyukai adik kandungnya sendiri, aku juga tidak mengerti kenapa, yang jelas, dulu saat aku mengaku aku menyukai Sakura-Chan, dia menghajarku."

"Naruto… menyukai Sakura?" ada perasaan sakit di dalam dada Hinata ketika mendengar pengakuan laki-laki yang diam-diam dia suka ini.

"Kalau aku sih mendukung Teme, Hinata-Chan sendiri? Apa mendukung Sakura-Chan?" lanjut Naruto.

"Ng.. a-aku sudah pasti mendukung yang t-terbaik untuk Sakura," jawab Hinata malu-malu ketika mendengar Naruto memanggilnya dengan embel-embel Chan.

.

.

.

Sepasang mata emerald itu perlahan terbuka, sinar mentari pagi… tidak bisa dibilang pagi juga, karena saat ini sudah jam 11, dan gadis berambut pink itu masih terbaring ditempat tidurnya, namun keberadaannya tidak sendiri. Tubuh gadis itu sedang di lingkari oleh sepasang lengan yang mendekapnya erat, menyadari keadaan tubuhnya sekarang yang telanjang, Sakura nama gadis itu menangis kembali karena mengingat apa yang telah laki-laki di belakangnya itu lakukan tadi malam.

Mendengar gadis itu menangis, kedua mata onyx terbuka, dibelai rambut pink adiknya itu dengan sangat lembut kemudian dikecupnya pucuk kepala Sakura.

"Kau milikku."

Sakura hanya terdiam takut mendengar peng klaim an dari bibir kakak kandungnya sendiri, apa yang harus dia katakana pada Neji? Apakah Neji mencarinya? Apakah Neji masih akan menerimanya? Apakah Neji akan meninggalkannya kalau dia tahu keperawanannya direnggut oleh kakak kandungnya sendiri?

.

.

.

Hari pun berganti, sudah 3 hari Sasuke dan Sakura tidak menginjak lantai sekolahan, Sasuke memberi info pada sekolah bahwa mereka berdua terserang penyakit flu bersamaan, namun teman-temannya tidak bodoh, karena setiap Ino dan Hinata ingin menjenguk, Sakura selalu menolak kehadiran mereka.

Tapi tidak untuk hari ini, dimana sosok Hinata dan Naruto sedang berjalan menuju kediaman Uchiha itu.

"Sayang sekali Ino tidak ikut," ucap Naruto.

"Yah, dia ada janji dengan Itachi-Nii, aku akan memberi tahunya tentang kondisi Sakura nanti," jawab Hinata.

Ketika sampai di depan pintu gerbang, Naruto menekan bel, namun tidak ada yang membukanya, dengan santai Naruto membuka gerbang yang memang tidak dikunci itu, lalu begitu sampai did epan pintu, giliran Hinata yang membuka kenop pintu, dan…

Ceklek.

Tidak dikunci?

Akhirnya mereka memasuki rumah sahabat mereka itu diam-diam.

"Kenapa kita seperti pencuri yah?" komen Naruto sambil sedikit terkekeh.

"Mau apa kalian datang kesini?"

Terdengar suara berat dari belakang mereka, dan mereka pun menoleh pelan-pelan.

"S-Sasuke-Nii, maaf aku ingin menjenguk Sakura," ucap Hinata yang sedikit takut pada pandangan mata Sasuke.

"Aku ingin menjengukmu Teme, kau sudah 3 hari tidak sekolah, dan sepertinya kau sehat-sehat saja," ucap Naruto.

"Sakura… tidak sakit kan?" ucap Hinata memberanikan diri, "Dia… tidak sakit kan? Kau mengurungnya?"

Sasuke terdiam, menatap sinis Hinata yang sedikit gemetar itu, "Heh, kalau iya… kenapa?"

Naruto dan Hinata tersentak mendengar pengakuan Sasuke.

"Teme, kau gila!" Naruto berlari menuju kamar Sakura, cemas akan terjadi kenapa-kenapa pada adik sahabatnya itu, Naruto ingin memastikan bahwa Sasuke tidak melakukan hal yang gila, karena Naruto tidak mau Sasuke menjadi seorang criminal.

"Kau tahu, Sasuke-Nii," ucap Hinata pelas, "Kalau dengan beginilah caramu memberi kasih sayang pada Sakura, maka kau salah besar, kau hanya memberi penderitaan pada Sakura."

"…"

"Aku tahu kau menyukainya, diluar sebagai sosok adik," tepat pada sasaran, Sasuke menatap Hinata dengan tatapan kaget, "Aku bisa merasakannya, tidak ada yang memberi tahuku, pikirkanlah, apa kau mau Sakura melihatmu sebagai laki-laki dengan terpaksa? Apa itu membuatmu senang?"

"…" Sasuke terdiam, kemudian tersenyum sinis, "Orang luar diam saja!"

Sasuke meninggalkan Hinata sendiri ditempat, kemudian Sasuke menyusul Naruto yang kini sedang berada di kamar adiknya.

"Sakura-Chan?" panggil Naruto pelan pada sosok Sakura yang sedang termenung di atas kasurnya, ketika Sakura menoleh.

"Naruto-Nii…"

"Kau kenapa? 3 hari tidak masuk sekolah, teman-temanmu mencemaskanmu," ucap Naruto mendekatkan dirinya dan duduk dikasur Sakura.

"Naruto-Nii…" Sakura hanya bisa menatap Naruto dengan tatapan lesu.

"Dia… tidak melakukan hal buruk padamu… kan?"

Sakura terdiam, memeluk dirinya sendiri, Naruto berfikir mungkin Sasuke sudah mengungkapkan perasaannya, atau buruknya Sasuke mencium adiknya.

"Sejak malam itu…" Sakura mulai berucap, "aku tidak bisa berhenti dan menghapus bayangan Sasuke-Nii dari dalam pikiranku."

Naruto tersenyum, salah paham, dipikirnya Sasuke sudah menyatakan cintanya pada Sakura, "Itulah yang dinamakan cinta, Sakura-Chan."

"Tapi… aku kan adik kandungnya…"

"Yah, mau bagaimana lagi, memangnya Teme sendiri mau seperti ini? Itu semua terserah dirimu, mau lanjut melakukan hal yang terlarang ini, atau mau berhenti?"

Sakura tidak menjawab, dia kembali menempelkan dagunya dengan kedua lututnya.

Sasuke dari tadi berdiri di depan pintu kamar Sakura, mencuri dengar apa yang Naruto bicarakan pada adiknya itu. Kemdian dia berjalan ke kamarnya sendiri, menelepon seseorang.

"Kesini, sekarang!"

Setelah Hinata menjenguk Sakura, dan gadis itu bilang pada sahabatnya kalau besok dia akan masuk sekolah, Hinata merasa lega. Dan begitu berbincang-bincang lumayan lama, Hinata dan Naruto pamit pulang, Sakura mengantar mereka sampai depan pintu, namun kehadiran mereka bertambah satu orang, seorang wanita berambut merah yang sangat familiar.

"Loh? Naruto?"

"Karin? Kenapa ada di sini?" tanya Naruto pada wanita yang baru saja tiba itu.

"Sasuke memanggilku, katanya dia sedang membutuhkanku," jawab Karin tersipu-sipu.

Deg.

Hinata dan Naruto saling pandang dan melirik sedikit kearah Sakura yang tiba-tiba menjadi murung.

"S-Sasuke-Nii ada dikamarnya," ucap Sakura pelan.

"Aku sudah tahu, aku duluan yah," ucap Karin berlalu begitu saja.

"Apa-apaan sih si Teme itu!" geram Naruto.

"Begitulah Sasuke-Nii, kalian tenang saja, aku baik-baik saja kok, besok kita ketemu di sekolah yah," ujar Sakura dengan nada yang dipaksa agar terdengar ceria.

"Ng, kami pamit yah, Sakura," ucap Hinata.

Setelah melambaikan tangan dan melihat kedua temannya itu sudah pergi, Sakura menutup pintu dan kembali ke kamarnya.

.

.

BRUUK!

"S-Sasuke.. pelan-pelan~"

Sasuke membalikkan tubuh Karin dan mencoba untuk memasuki kejantanannya pada lubang kewanitaannya, tapi gerakannya terhenti karena tiba-tiba bayangan Sakura melintas di otaknya.

"Ck! Sialan!" geram Sasuke mendorong tubuh Karin.

"Sasu-"

"Jangan panggil namaku!"

Keadaan hening.

Tapi hormon Sasuke tidak bisa di jinakkan, dirinya terus menerus meminta tubuh Sakura untuk menenangkannya, kejantanannya pun kembali berdiri.

"Karin," panggil Sasuke dengan nada dingin, "Buat aku klimaks dengan mulutmu."

Karin terdiam sebentar, namun tubuhnya ditarik dan dipaksa Sasuke untuk memuaskan hasratnya, Karin senang-senang saja disuruh seperti ini, selama Sasuke yang memintanya, sambil mengulum kejantanan Sasuke, Karin memainkan dirinya sendiri.

selama Karin mengulum kejantanan Sasuke, laki-laki dingin itu membayangkan bahwa adiknya lah yang melakukan kegiatan itu.

"Aahh~ Sakura… Sakura… Sakura!"

.

.

Malam pun datang, Sakura termenung di kamarnya, mengingat apa yang Naruto katakan, maka Sakura mengambil keputusan yang menurutnya sangat salah, Sakura juga tidak bisa membohongi dirinya, sejak malam itu, perasaannya pada kakak kandungnya sendiri begitu kompleks, seolah tubuhnya menginginkan lagi pelukan dari kakaknya itu.

Akhirnya Sakura membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar Sasuke, setelah beberapa jam Sakura termenung, akhirnya dia bisa mengambil keputusan.

Tok tok tok.

Tidak ada yang menjawab.

Sakura tidak berani mengambil resiko untuk membuka pintu tersebut, karena dia tidak meu melihat adegan saat wanita itu sedang menikmati tubuh kakaknya, akhirnya Sakura mengambil hpnya dan menelepon Sasuke.

Nada tersambung, menunggu Sasuke mengangkatnya, Sakura merasa gugup, sampai Sasuke mengangkat telepon itu.

"Hn?"

"Ah, S-Sasuke-Nii… ada di mana?"

"Dirumah Dobe, aku menginap."

"O-Oh begitu…"

"Ada apa?"

"…" Sakura ragu bagaimana harus memulainya.

"Kalau tidak ada keperluan aku-"

"Sasuke-Nii, maafkan aku."

"… untuk?"

"aku… akan mencoba menganggapmu sebagai laki-laki, bukan sebagai kakak, karena itu-"

"Tidak perlu."

"Eh?"

"Lagi pula aku tidak mau kau terpaksa gara-gara perlakuanku saat itu, aku akan mencoba melupakanmu."

Kemudian ditutuplah telepon itu oleh Sasuke.

Sakura hanya bisa terdiam sambil merasakan ada air mata yang mengalir melewati pipinya, dia menghapus air mata itu perlahan, kemudian ada perasaan Sakura harus membuka pintu kamar Sasuke, dan sangat kebetulan pintu kamar itu tidak dikunci.

"Berantakan sekali," gumam Sakura.

Sakura mulai membereskan satu-satu barang-barang Sasuke yang tergeletak di mana-mana, dari mulai buku, bantal, kertas, majalan, sampai…

"Ini apa?" Sakura mengambil suatu benda yang tergeletak di samping tempat sampah kering milik Sasuke. Sakura merasa tangannya lengket ketika memegang benda yang seperti karet balon berbentuk lonjong itu.

Sakura langsung sadar.

"Kondom…" gumam Sakura.

Dan itu artinya dalam pikiran Sakura, Sasuke telah bercinta dengan wanita lain setelah dia memperkosa dirinya, adik kandungnya.

Perasaan kesal muncul dalam hati Sakura.

.

.

.

Suasana pagi yang sangat mendung, matahari bersembunyi dibalik awan hitam, menyembunyikan sinarnya, kebalikan dengan Sakura yang menyembunyikan kesedihannya dibalik keceriaannya.

"Selamat pagiiii!" sapa Sakura pada Ino dan Hinata yang sangat tumben datang duluan dari pada Sakura.

"Sakuraaa! Kau kemana saja! Aku kangeeen~" peluk Ino.

"Maaf, aku sakit flu, aku tidak mau kalian tertular," jawab Sakura sambil menepuk pundak Ino.

"Ya, Hinata bilang padaku kemarin saat dia menjengukmu, kondisimu sudah lebih baik."

Sakura menatap Hinata dan Hinata mengedipkan sebelah matanya, bukan maksud mereka untuk menyembunyikan masalah ini pada Ino, namun mereka tidak mau sampai suatu saat nanti Ino keceplosan mengadu pada Itachi, semua bisa kacau kalau sampai Itachi tahu.

Kemudian, Sakura menceritakan tentang kejadian tadi malam.

"Saat aku membuka kamar Sasuke-Nii, aku melihat ada kondom yang sepertinya meleset dibuang pada tempatnya," ucap Sakura dengan nada dibuat-buat seolah dia bercerita tentang cerita dongeng.

"Kau membersihkan sisa-sisa dia bercinta semalam? Kau gila Sakura?" ucap Ino tajam.

"Aku tidak sengaja, awalnya aku penasaran, karena Sasuke-Nii sedang menginap dirumah Naruto-Nii."

"Cih! Kelakuan kakakmu itu lama-lama menyedihkan!" ketus Ino.

Sakura tersenyum pada sahabatnya yang selalu berbicara ketus itu, beruntung ada Hinata yang selalu bersikap dewasa, jadi mereka saling menyeimbangi satu sama lain.

"Sakura," panggil seseorang dari luar kelas, melihat siapa orang itu yang datang, Hinata dan Ino langsung meledek Sakura.

"Ciieeee, sang pangeran datang."

"Aku harus bersikap seperti biasa, anggap saja kejadian saat itu adalah mimpi buruk… ya, mimpi buruk!"

"Ada apa, Neji-Kun?" sapa Sakura yang menghampiri sosok kekasihnya itu.

"Kau tidak apa-apa? Wajahmu sangat lesu," ucap Neji sambil membelai pipi Sakura.

"Ng, tidak apa-apa, aku baik-baik saja."

Neji terdiam, menganalisa raut wajah Sakura, senyum Sakura bukan senyum seperti biasanya.

"Nanti siang ada pertandingan karate, apa kau mau menemaniku? Sepulangnya kita bisa mampir di café es krim."

"Mauuu, mauu!" jawab Sakura antusias.

"Hahaha, baiklah, sepulang sekolah aku tunggu di depan gerbang yah," Neji terkekeh melihat sikap Sakura yang lincah kembali lagi.

"Okay."

Neji pergi meninggalkan Sakura, tanpa mereka sadari, dari tadi ada seseorang yang mencuri dengar dan mengetikan sesuatu pada hpnya.

Bos, mereka akan ke pertandingan karate nanti siang, kemudian mereka akan berencana kencan berdua.

Sasuke, si penerima pesan tersebut juga yang di panggil bos ini menggenggam hpnya sekeras mungkin.

"Kau kenapa, Teme?"

"Sial… ternyata," Sasuke memijit keningnya, "aku benar-benar tidak bisa melupakannya."


A/N : maaf yah bagi yang bilang ngga mau ngeliat scene sasuke lemonan sama cewek lain, tapi itu harus saya buat, walaupun cewek itu cuma sebagai alat, hehehe, terima masih juga review-reviewnya, jujur saya ngga nyangka bakal diterima fict pure incest begini, ini kan melanggar moral, tapi saya juga nekat mem publish, hehehee, okaay kita lanjut ke cuplikan berikutnya.

next chap :

"Karena dirumah ada Sasuke dan Sakura... bagaimana kalau kita istirahat di Hotel-ku?"

"I-Itachi-Kun..."

.

.

"Sudah kubilang aku tidak akan mengizinkanmu menyukai orang lain"

"Cukup, aku tidak mau lagi dikendalikan olehmu!"

"Jangan tinggalkan aku, Sakura... aku mohon..."

.

.

"N-Neji? T-Tunggu dulu..."

"Aku akan bersabar sampai kau siap, aku tidak akan memaksamu, karena aku sangat mencintaimu."

.

.

"Maaf Sasuke-Nii... aku tidak bisa mengkhianati Neji-Kun."

"Aku tidak bisa lagi menganggapmu sebagi adik, aku sudah benar-benar tenggelam pada perasaan cinatku padamu."

"Sasuke... Nii..."

"Aku... benar-benar jatuh cinta padamu."

.

.

"Nee Hinata-Chan, temani aku makan ramen, mau?"

"kau tahu, dulu aku begitu mengagumimu, sampai rasa kagum itu berubah jadi... cinta."

.

.

"Putuskan Neji, kita pergi dari kota ini, kita jalani hidup berdua."

"Sasuke-Nii..."

"Tidak, aku bukan lagi kakakmu, mulai sekarang... aku kekasihmu."

.

.

"Sakura-Chan, wajahmu pucat, ada apa?"

"Hanya kurang tidur, Naruto-Nii."

.

.

"Aku lelah sekali..."

"Memangnya ngapain saja kau seharian disekolah sampai lelah begini?"

"Tidak melakukan apa-apa kok, mungkin hanya demam."

"Aku tidak akan membiarkanmu demam sendirian."

.

.

"Aagh~ S-Sasuke-Nii..."

"Panggil aku... Sasuke-Kun."

"S-Sasuke-Kun... aahh~"

i'm the only one who can make you happy, because i'm deeply in love with you