Chapter 4

Park Behind the School

"Ino" panggil seorang pemuda berkulit pucat kepada Ino yang tengah menatap kosong taman di depannya.

Ino tidak memberikan reaksi saat ia di panggil oleh Sai. Tetap berdiri dengan tatapannya yang hampa. Bukan,bukan sengaja ia menulikan pendengaran nya,tapi ia tidak tahu mengapa telinganya memaksa untuk tuli.

Sai terus memanggil Ino,tapi Ino tetap tak bereaksi. Merasa ada suatu keanehan pada diri Ino,ia mempercepat langkahnya dan…

"Ino!" ucap Sai dengan sedikit membentak.

"Eh Sai,ada apa?" tanya Ino yang sedikit terkejut dengan suara juga kehadiran Sai yang kini berdiri di hadapan nya.

Sikap Sai sukses membuat Ino tersadar dari dunia lamunan.

"Ada apa? Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang terjadi pada mu Ino?" tanya Sai dengan nada khawatir. Ino bisa melihat jelas wajah kekhawatiran yang terlukis diwajah pucat Sai. Kemudian Ia menundukkan kepalanya. Menghindari kontak mata dengan Sai untuk berpikir sejenak.

"Aku tidak boleh membuat nya khawatir" ucap Ino dalam hati. Tapi, seperti yang kita tahu fisik dengan pikiran tidak akan pernah sejalan dalam hal tertentu. Sama seperti yang kini Ino rasakan. Ia tidak ingin Sai khawatir dengan diri nya,walau Sai itu hanya seorang teman.

Dada Ino semakin sesak saat menahan masalah ini terlalu dalam. Ia butuh teman,butuh seseorang yang bisa di jadikan tempat untuk berbagi masalah. Berbagi rasa sakit dan bisa ia jadikan tempat untuk menyalurkan keinginan nya untuk menangis.

Sai bisa melihat bibir ranum Ino bergetar menahan sesuatu. Tanpa sebuah perintah,ia memperdekat,menghapuskan jarak di antara diri nya dengan Ino dan

Grep

Memeluk sang aquamarine..

"S-Sai! Ap-apa yan-.." ucap Ino dengan penuh keterkejutan dan semburat merah mewarnai wajah cantik nya yang kemudian di potong oleh Sai

"Apa yang terjadi Ino?" Sai mengulang perkataannya seperti yang tadi. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah pada kemeja putihnya.

"Kau menangis.." ucap Sai dalam hati.

"Sai,aku…" Ino tidak dapat melanjutkan ucapannya. Lidah nya terasa kaku untuk melanjutkan sebuah kalimat yang ingin ia jelaskan. Di tambah Sai tengah memeluk diri nya yang memberikan sebuah kehangatan pada tubuh juga hati nya. Mata nya makin mengeluarkan kristal cair begitu pula dengan hati yang terus memberontak untuk berbagi masalah yang ia rasakan pada Sai

"Menangislah…" Ino yang mendengar ucapan Sai,memperdalam wajahnya untuk membasahi kemeja Sai dengan air matanya yang semakin deras.

Sai mempererat pelukannya pada Ino. Ia taruh dagunya di atas kepala Ino. Meresapi isakan tangis Ino.

"Menangislah dan keluarkan beban mu,sayang"

.

.

.

.

.

.

School Roof

Angin bertiup dengan sejuk di puncak tertinggi gedung sekolah. Menerbangkan dan mendaratkan setiap partikel-partikel kecil di dalamnya. Termasuk membuat rambut kuning Naruto menari-nari. 'Tenang' satu kata yang Naruto gambarkan untuk keadaan tempat yang ia datangi. Sampai sebuah suara membuat penggambaran itu lenyap.

"Kau sudah berbicara dengan Uchiha brengsek itu?" tanya laki-laki berambut cokelat dengan suara dingin nya.

"Sudah Neji"

Neji berjalan ke arah Naruto dengan tatatapan yang terfokus pada deretan bangunan gedung bertingkat yang dibatasi oleh pagar besi.

"Lalu,apa yang ia jawab"

"Ia bertanya balik pada ku" ucap Naruto sambil menyilangkan kedua tangan nya.

Neji menatap Naruto dengan pandangan ingin tahu. Naruto yang merasa di tatap Nej,kemudian membalas menatap Neji.

"Ia bertanya mengapa kita terus membela Sakura,tentunya dengan tambahan 'Menjijikkan'" jelas Naruto

"Sebaiknya tidak perlu kukatakan Menjijikkan" Ucap Naruto saat ia merasakan Neji mengeluarkan aura pembunuh nya. Ia juga bisa melihat Neji mengepalkan tangan nya. Ayolah ia hanya menyampaikan apa yang Sasuke katakan.

"Uchiha Sialan!"

Neji tidak terima Sasuke menghina Sakura,gadis yang ia cinta. Kemudian ia teringat saat ia sedang menunggui Sakura yang tengah tertidur karena pingsan. Betapa rapuh diri Sakura setelah insiden di lorong sekolah. Mata yang bengkak bahkan masih mengeluarkan sedikit air mata. Bibir yang terus memanggil nama 'Sasuke'.

"Neji,sebaiknya kau menanyakan hal ini kepada Hinata" kata Naruto sambil mendaratkan tangan kiri nya pada bahu kanan Neji

"Tentang alasan mengapa Sasuke sangat membenci Sakura. Karena kau,aku dan yang lain sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Dan jangan bertindak sebelum kita tahu alasan nya" Naruto memperlihatkan senyuman nya kepada Neji. Karena ia tahu,amarah Neji sedang meningkat.

"Hn.. Merci Naruto" balas Neji yang kemudian membalikkan tubuhnya berjalan menuju pintu atap.

"De rien Neji. Eh tunggu Neji" Naruto menarik lengan Neji,yang otomatis membuat Neji berhenti dan menatap laki-laki durian itu.

"hn" ucapnya datar

"Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Naruto khawatir

"Dia sudah membaik. Hanya butuh ketenangan"

Naruto sedikit merasa tenang saat ia dengar Sakura,sahabat nya sudah membaik. Lalu,ia melepaskan genggamannya pada lengan baju Neji. Membiarkan Neji melewati pintu atap.

"Sakura,aku berjanji akan membuat mu tersenyum." Ucap Naruto sambil menatap langit biru yang senada dengan warna matanya.

.

.

.

.

.

.

Park Behind the School

Sepasang remaja berbeda jenis kelamin tengan duduk di sebuah bangku model tua di taman belakang sekolah. Terlihat sang gadis masih menghapus sisa air matanya deng saputangan milik si laki-laki yang tengah tersenyum menatap sang gadis

"Jadi,apa yang sudah terjadi dengan mu Ino?"

Ino menatap mata onyx Sai. Mungkin ini saat untuk menceritakan masalah yang ia hadapi.

"Ini tentang " jawab Ino dengan lirih

Sakura?

"Apa yang terjadi dengannya" Tanya Sai sambil membalikkan tubuh INo untuk menghadap ke arah nya.

"Kau tahu insiden tadi pagi di lorong sekolah?" tanya Ino balik

"Tidak. Tadi pagi aku sedang di ruang seni. Memang nya kenapa?"

"Sasuke menghina Sakura" Ino menutupi wajahnya dengan saputangan merasakan bahwa ia akan menangis lagi.

"Tapi,kenapa?" Sai terkejut dengan ucapan Ino.

"Sasuke marah karena Sakura menabraknya. Sakura sudah mencba untuk menolong Sasuke untuk berdiri. Tapi ia malah.. malah mebentak Sakura. Mengatakan jika Sakura adalah gadis yang menjijikkan" tangan yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya kini berpindah mencengkram roknya

"Aku tidak habis pikir mengapa Sasuke bisa melakukan hal seperti pada Sakura. Padahal Sakura begitu mencintai Sasuke. Mencoba selalu tegar dan tersenyum saat Sasuke mebentaknya walau pada akhirnya ia akan menangis"

Sai memeluk Ino lagi. sekarang ia tahu apa yang telah terjadi pada INo. Sasuke,ia tak pernah menyangka sepupu nya itu bisa berbuat sejahat itu kepada gadis yang benar-benar mencintanya.

"Kenapa Sai? Kenapa ia sangat membenci Sakuar?" ino kembali menangis di dalam pelukan Sai. Tidak peduli walau matanya semakin membengkak.

"Aku tidak tahu Ino. Tapi aku janji akan mencari tahu tentang ini semua" Sai melonggarkan pelukannya dan menatap INo

"janji?"

"iya" jawab Sai dengan tersenyum dan dibalas lagi dengan senyuman Ino

Demi diri mu,Ino

TBC

Akhirnya selesai juga chapter 4.. Masih terlalu pendek ya? Maaf juga kalau typo masih ada. Juga gak bisa update cepet. Lagi banyak masalah yang harus Kira hadapi..…

Maslah kenapa Sasuke benci Sakura belum bisa aku tampilkan di chapter ini.:)

Aku mau ngucapin makasih untuk :

cherrysakusasu, Minamori Sayaka-chan, Allan Embeziel, Icha yukina clyne, UzUchiHaru Michiyo dan readers lain (maaf jika tidak disebutkan)

Sekali lagi makasih ya atas review kalian semua … malam ini coba liat di langit dah,ada rasi bintang…

Dah

Salam Hangat

Kira ^_^