My Ego

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M-MA

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD

Saat sepulang sekolah, Itachi berjanji akan menjemput Ino yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya, kini sosok pemuda sulung Uchiha itu sedang berdiri di depan gerbang, dan itu membuat para wanita melirik tubuhnya yang tinggi dan gagah itu.

"Maaf menunggu lama," ucap suara wanita yang muncul dari belakangnya.

"Tidak, aku baru saja datang."

"Maaf yah, kamu jadi harus menjemputku."

"Hei," Itachi mengangkat dagu Ino dengan lembut, "Sudah kubilang tidak apa-apa, sebaiknya kita pergi sekarang, sepertinya akan hujan."

"Un," Ino mengangguk sambil menggandeng lengan Itachi.

Mereka berdua memasuki mobil sedan Itachi, laki-laki itu mengajak Ino ke sebuah gedung yang setengah jadi dengan banyak petugas yang sedang membangunnya.

"Ini yang ingin kau perlihatkan padaku?" tanya Ino, posisi mereka kini masih berada di dalam mobil.

"Ya, ini akan menjadi rumah sakit tempat dimana aku akan bekerja nanti," jawab Itachi.

"Waah, besar sekali, kamu benar-benar sukses membuat kedua orang tuamu bangga, Itachi-Kun."

"Ini semua berkat dukunganmu, aku akan berusaha agar kuliahku selesai dengan cepat, setelah itu…" Itachi terdiam, sementara Ino melihat kekasihnya dengan kepala yang sedikit memiring.

"Sampai saatnya tiba…" dengan menahan wajahnya agar tidak memerah, Itachi memberanikan diri, "Tolong jangan terima lamaran dari siapapun."

"I-Itachi-Kun…?"

Ino sangat terkejut mendengar permintaan Itachi, bukankah secara tidak langsung Itachi memintanya menunggu untuk dilamar oleh dia? Terlukis senyuman kecil dibibir Ino, kemudian gadis berambut pirang itu meraih wajah Itachi dan menciumnya, "Aku akan selalu menunggu untuk kamu yang memintanya."

Itachi tersenyum dan membalas ciuman kekasihnya itu.

Ciuman itu berubah menjadi ciuman panas, mereka bahkan lupa kalau saat ini sedang berada di dalam mobil, saat Itachi merasa hasratnya mulai menaik, dan Ino pun merasa gelisah, mereka berdua melepaskan ciuman mereka dan saling menatap satu sama lain, seolah saling tahu apa yang mereka inginkan, Itachi berucap. "Karena dirumah ada Sasuke dan Sakura... bagaimana kalau kita istirahat di Hotel-ku?" sambil menempelkan keningnya pada kening Ino.

"Itachi… Kun, Sakura sedang kencan dengan Neji, aku yakin Sasuke saat ini sedang di rumah Naruto," jawab Ino sambil membelai rambut Itachi yang panjang itu.

"Kalau begitu… kau lebih memilih first time mu di rumahku?" tanya Itachi dengan nada usil.

Dengan wajah yang langsung merona, Ino mengangguk malu.

"Baiklah, kita pulang sekarang, nanti aku telepon orang tuamu supaya kamu diizinkan menginap."

"Hah? Kenapa harus menginap?"

"Karena nanti malam aku tidak akan membiarkanmu tidur."

"I-Itachi Kun!"

.

.

Kini mata seorang wanita berambut pink sedang tertuju pada sosok pemuda yang sedang bertanding di hadapannya, sambil menopang dagu dengan beralaskan pahanya sendiri, Sakura nama wanita itu tersenyum lembut.

"Neji-Kun sangat hebat," gumamnya pelan.

Selesai Neji bertanding, laki-laki itu berjalan kearah kekasihnya, kemudian dengan inisiatif Sakura mengambil handuk dan melingkarkannya pada leher Neji.

"Pertandingan yang sangat bagus," ucap Sakura sambil menyeka keringat kekasihnya itu.

"Terima kasih, aku ganti baju dulu yah, setelah itu kita pergi makan es krim," ujar Neji sambil mengacak-acak rambut Sakura pelan.

"Okaay," jawab Sakura dengan riang.

Setelah Neji mengurus dan menyelesaikan keperluannya di tempat pertandingan karate itu, dia menggandeng Sakura ke tempat café kecil yang terdekorasi sangat indah, seperti ada gerbang fairy dan bunga-bunga terhias di gerbang itu.

"Waah, tempat ini sangat lucuuu~" ujar Sakura riang.

Sakura memesan es krim dengan rasa strawberry sedangkan Neji memesan kopi caramel, setelah pesanan mereka datang, Sakura memasang wajah seperti anak kecil yang baru saja dapat hadiah, dan itu membuat Neji menatap lembut kekasihnya.

"Sakura, kamu bisa pulang agak malam?"

"Hmm? Kenapa?" tanya Sakura dengan sendok yang berada di dalam mulutnya.

"Mau mampir kerumahku? Orang tuaku sedang pergi dinas keluar kota," ajak Neji dengan wajah tersipu.

Melihat Neji yang tersipu, Sakura ikut-ikutan memerah dan gugup, "i-iya, aku mau," jawab Sakura malu-malu.

Satu hal yang Sakura lupa.

Hinata dan Neji itu tinggal satu rumah.

Hinata menyukai Naruto.

Dan saat ini Hinata sering berkomunikasi dengan Naruto, apa jadinya kalau Hinata melihat Sakura datang kerumah Neji dan bilang pada Naruto, sudah pasti Naruto akan bilang pada Sasuke bukan?

.

.

"Teme."

"…"

"Teme!"

"…"

"Aku sumpahin kau tuli beneran!"

"Apaa!"

"Kau kesini hanya untuk main game dan mencampakkanku? Tidak sopan!"

Naruto menolak pinggang di hadapan Sasuke yang sedang berbaring di kasur laki-laki berambut pirang itu sambil memainkan game consolenya.

"Diam Doba, aku sedang tidak mood hari ini."

"Kalau tidak mood pulang sana, biasanya kau selalu pulang… ah, Sakura-chan tidak ada di rumah yaaa~" ledek Naruto sambil menyenggol lengan laki-laki dingin itu, "Heran, kau ini kenapa bisa suka pada adikmu sendiri sih."

Sasuke terdiam, dan melirik sahabatnya itu, karena Naruto pikir Sasuke akan menghajarnya, maka Naruto sedikit memundur dan melindungi wajahnya, tapi Sasuke justru malah menunduk.

"Aku… bingung, Dobe."

"Heh?"

"Aku juga tidak mau menyakitinya… aku tidak mau menekannya… tapi, entah kenapa aku tidak bisa menahan amarahku kalau aku melihat atau mendengar dia bersama laki-laki lain…"

"Itu mungkin hanya obsesimu sayangmu terhadap Sakura-Chan, yaahh, karena orang tuamu kan sudah tidak ada, Itachi juga kan jauh…"

"Itu pikiran awalku… tapi… sejak malam itu… perasaanku padanya makin dalam, aku ingin dia menjadi milikku, hanya milikku," gumam Sasuke sambil sedikit menundukkan wajahnya sambil menjambak pelan rambutnya.

"Teme… malam itu… memangnya apa yang kau lakukan sih? Sakura-Chan juga bilang hal yang sama denganmu."

"Dia mengatakannya padamu?" Tanya Sasuke panic.

"Bukan cerita sih, lebih tepatnya dia juga bilang 'malam itu' juga, memang apa yang terjadi sih?" tanya Naruto penasaran.

Sasuke terdiam sebentar kemudian melirik Naruto lagi, "Apa yang dia katakan?"

"Dia bilang katanya sejak kejadian malam itu, pikirannya tentang dirimu tidak bisa dihapus, dia selalu terbayang oleh sosokmu," jawab Naruto sambil berfikir.

Ok, jawaban Naruto barusan membuat wajah tuan muda itu sedikit berseri, kemudian dengan antusias, Sasuke mengguncang tubuh Naruto, "Apa kau yakin dia mengucapkan hal itu?"

"A-aw! Iya, dia hanya bingung, karena kalian itu kan saudara kandung, makanya hal ini tidak pernah terlintas di pikirannya, hei kau belum jawab, apa yang terjadi malam itu!"

Sasuke melepaskan pegangannya pada lengan Naruto, "Aku…"

"Hmm?" Naruto menatap wajah Sasuke yang kini menoleh entah kemana, sambil menatap langit-langit kemudia menutup kedua matanya, Sasuke melanjutkan, "aku memperkosanya."

Jawaban Sasuke membuat Naruto tersentak.

"TEME KAU GILA!"

"Aku tahu! Aku tahu aku gila! Aku mengakuinya, aku tidak bisa menahannya, aku cemburu pada laki-laki yang kini disukainya, aku kesal karena dia tidak memikirkanku, aku memang gila, Naruto."

"…" Naruto terdiam karena dia saat ini sedang mendengar pengakuan Sasuke Uchiha yang diluar dugaan yang ternyata bisa terlihat sedikit rapuh.

"Teme, dengan membunuh saja kau sudah termasuk criminal, apalagi memperkosa adik kandungmu sendiri," ujar Naruto pelan sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

"Ah, kejadian 2 tahun yang lalu? Aku tidak sadar melakukannya," ucap Sasuke santai.

"Tidak sadar? Apa kau tahu berapa orang yang menghentikanmu agar orang itu tidak mati? Walaupun ujung-ujungnya anak itu mati karena kehabisan darah," geram Naruto.

"Siapa suruh dia berani merangkul pinggang Sakura," jawab Sasuke.

"Yah, kalau seperti itu kan kau tinggal menyuruh anak buahmu melakukannya, jangan mengotori tanganmu," ujar Naruto sambil menyender dikasurnya sendiri.

"Justru yang seperti itu harus kulakukan sendiri, lagi pula orang suruhanku yang kuperintah mengintai Sakura, dia juga kuhajar sampai sekarat, dia kehilangan jejak Sakura sehingga Sakura disentuh oleh anak itu."

"Anak itu saat itu adalah calon pacar Sakura, Teme, kau ini menyeramkan, untung aku sahabatmu, rugi menjadi musuhmu," ledek Naruto.

"Aku tidak suka melihatnya bersama laki-laki lain," jawab Sasuke sambil berjalan ke sisi jendela, duduk dan menyalakan rokoknya.

"Jadi, mau kau apakan laki-laki kali ini?" tanya Naruto sambil mendekap gulingnya.

Sambil menghisap kemudian membuang asap rokoknya, Sasuke menyeringai, "Kali ini Sakura didekati serangga yang lumayan kuat, aku harus hati-hati."

"Dia juara karate nasional, kalau kau ikut karate juga, pasti kekuatanmu setara dengannya kok," ujar Naruto.

"Tidak, selain kuat, serangga itu juga pintar, sepertinya… dia tahu perasaanku pada Sakura," jawab Sasuke kembali sambil menatap luar rumah dari sisi jendela itu.

"Apa? Kau serius?"

"Ya, karena setiap kali dia berpapasan denganku, sorot matanya seolah menantangku," geram Sasuke saat mengingat ketika Neji berpapasan dengannya, dan Neji menatap langsung mata Sasuke, mengingat hal itu, Sasuke menggenggam rokok yang masih menyala itu dengan kencang, "Jangan main-main denganku!"

.

.

Ruangan yang lumayan besar, lampu kamar yang terang, dua insan sedang berciuman di atas ranjang dengan penuh nafsu, walaupun yang terlihat sangat antusias adalah sang laki-laki, sang wanita menerima perlakuan kekasihnya itu.

Saat sang wanita merasa tangan sang laki-laki itu meraba dadanya dan membaringkan tubuh wanita itu, sang wanita menahan dada bidang laki-laki itu.

"N-Neji-Kun… T-Tunggu dulu…"

"Ada apa?" tanya Neji lembut.

"A-aku… aku…"

Neji tersenyum lembut dan mengecup kening Sakura, "Aku akan bersabar sampai kau siap, aku tidak akan memaksamu, karena aku sangat mencintaimu."

Sakura menatap Neji dengan tatapan sendu, Sakura bukannya tidak siap, namun saat Neji membaringkannya, entah kenapa malah wajah Sasuke yang terlintas di pikirannya, dia tidak mau bercinta dengan Neji sedangkan pikirannya malah menuju laki-laki lain yang merupakan kakak kandungnya itu sendiri.

"Kita ngobrol-ngobrol saja sambil seperti ini yah," ucap Neji sambil memeluk tubuh Sakura.

"Ng," Sakura mengangguk dan memeluk balik tubuh Neji.

.

.

"Ngghh~"

Kali ini terlihat dua sosok manusia yang sedang menikmati kegiatannya di atas ranjang, keringat yang peluh menetes dari tubuh sang laki-laki yang berada di atas tubuh wanita itu.

"Ino~" bisik sang laki-laki sambil menjilat leher wanita itu.

"Aahh~ I-Itachi… Kun… l-lebih cepaat~" pinta Ino sambil menjambak rambut Itachi yang sudah tergerai.

Itachi mempercepat gerakannya dan menusuk kekasihnya itu lebih dalam lagi.

"Aahh! Aaahh! Itachiii! Itachiii~"

Sambil mencengkram punggung Itachi, Ino mendesah nikmat atas perlakuan kekasihnya itu.

"I-Ino~ a-akuu…"

"Nggghhh! Y-yaahhh~, a-aku… aahhnnnn!"

Merasa ada dua dinding yang mengapit kejantanannya, Itachi makin mempercepat gerakannya.

"Aaaahhhnnn! Hyaaa~ aaahhnnn~"

"Ino~ a-akuu~ aahh! Akan~"

"Ngghhh~" Ino mengangguk dan makin mempererat pelukannya pada Itachi, dengan sekali hentakan yang kencang dan dalam, Ino melepaskan klimaksnya bersamaan dengan Itachi.

Keduanya mengatur nafas yang tidak beraturan itu, Itachi ambruk diatas tubuh Ino kemudian berbisik, "Ingat, malam masih panjang."

"Itachi-Kun~ aku.. lelaah~"

Itachi bangkit dan mengecup bibir Ino, "Aku akan memberimu waktu untuk pemulihan, tenang saja."

Ino tersenyum dan merengkuh wajah Itachi, "Aku mencintaimu."

"Aku lebih mencintaimu," jawab Itachi lembut.

.

.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamarnya, niatnya untuk menginap dirumah Naruto hilang ketika dia mendengar pengakuan Sakura dari mulut Naruto, ingin sekali Sasuke mengajak bicara adiknya itu dari hati ke hati. Saat Sasuke melihat jam, itu sudah menunjukkan jarum jam kearah angka 10, dan Sasuke memeriksa kamar adiknya.

"…"

Belum pulang.

Itulah yang dipikirkan oleh Sasuke.

Pikirannya terganggu oleh suara yang tidak asing dari luar rumahnya, telinganya focus mendengar percakapan orang itu.

"Terima kasih, Neji-Kun sampai besok."

Ah, orang itu lagi.

Sasuke lupa kalau hari ini Sakura kencan bersama serangga itu.

Sengaja kali ini dia tidak memberi perintah pada anak buahnya Karena dia tahu, Neji itu bukan laki-laki bodoh. bisa-bisa nanti benar-benar ketahuan kalau Sasuke memendam rasa pada adik kandungnya itu.

Saat Sasuke melihat sosok Sakura yang datang dengan wajah tersipu, Sasuke menegurnya.

"Dari mana! Kau pikir jam berapa sekarang?"

"Kencan dengan Neji-Kun, sekarang jam 10 dan aku pulang diantar Neji-Kun, jadi tidak masalah," jawab Sakura dengan ketus.

"Apa-apaan nada itu!" tegur Sasuke saat Sakura berjalan mendekatinya yang berdiri di depan pintu kamar Sakura.

"Sasuke-Nii juga membentakku tanpa alasan," jawab Sakura makin ketus.

Sasuke mencengkram lengan Sakura dan menggeram, "Sudah kubilang aku tidak akan mengizinkanmu menyukai orang lain."

"Cukup! Sasuke-Nii, aku tidak mau dikendalikan olehmu, kau bercinta dengan orang lain, lalu kau… melakukan hal itu padaku, mencapku sebagai milikmu, kemudian kau kembali mencampakanku, maaf saja, aku bukan wanita murahan, Sasuke-Nii mungkin bisa mengambil kehormatanku, tapi aku tidak mau dipermainkan."

Ucapan Sakura sangat menusuk hati Sasuke, cengkraman Sasuke makin mengencang dan itu membuat Sakura meringis.

"lepaskan aku, aku memaafkan Sasuke-Nii, aku juga menganggap kalau kejadian malam itu adalah hanya mimpi buruk belaka, jadi kita bisa kembali menjadi adik kakak yang akur seperti dulu," ucap Sakura tegas.

"Aku tidak mau," tolak Sasuke.

"…" Sakura terdiam, dia sangat bingung apa yang dipikirkan kakaknya itu, sebentar tidak mau kehilangan, sebentar ingin melupakannya, sangat labil.

"Aku sudah memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan Neji-Kun," ucap Sakura pelan dan itu membuat mata Sasuke terbelalak, "Tolong, bebaskan aku."

Tiba-tiba Sasuke memeluk tubuh Sakura, bisa Sakura rasakan tubuh Sasuke gemetar hebat, "Jangan tinggalkan aku, Sakura... aku mohon..."

Sakura terdiam, sekeras apapun keinginan Sakura untuk sinis pada Sasuke, dia tidak bisa kalau kakaknya sudah merapuh seperti ini, "Maaf Sasuke-Nii... aku tidak bisa mengkhianati Neji-Kun."

Sasuke menarik Sakura kedalam kamarnya, dengan tatapan yang sangat lembut, bahkan Sakura sendiri terkejut melihat Sasuke yang menatapnya dengan penuh kasih sayang begitu juga kepiluan, "Aku tidak bisa lagi menganggapmu sebagi adik, aku sudah benar-benar tenggelam pada perasaan cintaku padamu."

"Sasuke… Nii?"

"…" Sasuke terdiam, memejamkan matanya,menarik nafas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan "Aku... benar-benar jatuh cinta padamu."

Sasuke perlahan mendekati wajah Sakura dan mencoba untuk mencium bibir adiknya itu, Sakura hanya bisa diam, tidak merespon ciuman itu tapi juga tidak menolak ciuman kakaknya itu, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah berdiri terdiam dan memejamkan matanya, dengan air mata yang jatuh tanpa dia sadari.

.

.

Pagi hari telah tiba, cuaca mendung kemarin berubah menjadi sangat cerah, sosok pemuda berambut kuning kini sedang terlihat menyetir mobilnya sambil bergumam sebuah nyanyian, matanya terpaku pada satu sosok yang dilihatnya sedang berjalan dipinggir trotoar.

Tiinn Tiin.

Sosok itu menoleh ketika Naruto membuka kaca jendelanya.

"N-Naruto-Kun?"

"Pagi Hinata-Chan, mau kemana?"

"Mau ketempat Sakura, katanya Ino menginap disana."

Naruto melihat Hinata yang kini memakai rok mini berwarna biru donker, kaos putih yang terdapat pita ikatan kecil di bagian dadanya, sungguh manis.

"Nee, Hinata-Chan, temani aku makan ramen dulu, mau? Nanti kita bareng kerumah si teme, gimana?"

"Eehh! B-Boleh," jawab Hinata gugup.

"Masuklah kedalam," perintah Naruto sambil menyengir.

Hinata mengangguk dan bergegas memasuki mobil Naruto.

Disepanjang perjalanan, Naruto terus menerus bercerita tentang Sasuke dan dirinya waktu kecil.

"Dan kau tahu, Hinata-Chan, dulu aku sempat menyukai Sakura-Chan loh," akui Naruto.

Mendengar pengakuan Naruto, nafas Hinata terasa sedikit sesak, kemudian Naruto melanjutkan, "Tapi karena aku lebih memilih persahabatnku dengan Teme, jadi aku menyerah deh, dan sekarang aku malah lebih menganggap Sakura-Chan itu seperti adikku sendiri."

Hinata tersenyum, "Kau, begitu berani mengungkapkan perasaanmu terang-terangan yah, Naruto-Kun."

"Yaah, karena buat apa disembunyikan, lebih baik kuungkapkan, waktu itu aku ungkapkan pada Teme dulu, walaupun hasilnya aku mendapatkan pukulan yang keras dari dia, hahaha."

Hinata tersenyum kembali, dengan nada lembut, wanita itu berucap, "kau tahu, dulu aku begitu mengagumimu, sampai rasa kagum itu berubah jadi... cinta."

Naruto terdiam, sedikit berfikir dari ucapan Hinata barusan, kemudian ketika laki-laki itu menangkap arti ucapan Hinata, "HEEE?"

Hinata tersenyum ramah, "Kau bilang lebih baik diungkapkan kan?"

"T-Tapi… a-aku tidak menyangka… ehm… anu…. Itu…"

"N-Naruto-Kuunnn! Fokuuss! Fokuusss!" tegur Hinata pada Naruto yang kini grogi sehingga menyetirnya acak-acakan.

"Maaf membuatmu tidak nyaman, aku hanya ingin mengungkapkan kok," ucap Hinata.

Naruto terdiam dengan wajahnya yang memerah, "M-Mungkin tidak sekarang tapi… aku ingin kau bersabar sampai aku mendapat kepastian dari diriku tentang dirimu, mau kan?"

Hinata mengangguk malu sambil menunduk, suasana diantara mereka kini menghangat, tidak ada yang saling bicara, hanya ada saling lirikan satu sama lain.

.

.

"TEMEEEEE!" panggil Naruto… teriak lebih tepatnya saat Naruto masuk kedalam kediaman Uchiha bersama Hinata.

"Ah, Naruto? Hinata? Kenapa bisa berdua kesini?" tanya Itachi yang muncul dari dapur dengan hanya memakai piyama berbentuk yukata sambil membawa 2 cangkir.

"Tadi kami ketemu di jalan, itu untukku yah?" tanya Naruto sambil akan menyambar cangkir yang dipegang Itachi.

"Jangan sentuh! Ini untuk Ino," cegah Itachi.

"Hah? Dimana dia? Cih, lagaknya seperti tuan putri sekali, sampai dibawakan minuman di pagi hari segala," ledek Naruto.

"Dia di kamarku, sudah yah," jawab Itachi singkat.

Hinata dan Naruto saling tatap setelah mendengar jawaban Itachi, saat Itachi sudah memasuki kamarnya.

"EEEEHHHH!" keduanya teriak kaget. Sangat telat~

"Kalian berisik sekali sih, pagi-pagi begini~" gumam suara wanita yang membuka pintunya sambil mengucek matanya.

"Sakura, selamat pagi," sapa Hinata.

"Hei, Hinata… kenapa bisa bareng Naruto-Nii?" tanya Sakura dengan mata yang kini sudah sadar.

"Kami bertemu di jalan," jawab Naruto, "Mana Teme?"

"… dikamarnya?" jawab Sakura namun terdapat pertanyaan juga dikalimat jawab itu.

"Baiklah, aku kesana, ah… Sakura-Chan, wajahmu pucat, ada apa?" Naruto menghentikan langkahnya ketika akan melewati sosok Sakura.

"Hanya kurang tidur, Naruto-Nii," jawab Sakura lesu.

"Oohh, baiklah, jaga kesehatan loh," kata Naruto sambil mengacak-acak rambut pink-nya.

"Ng, terima kasih."

.

.

"Jadiiiii~"

Sepasang mata emerald menatap penuh harapan pada seorang wanita yang kini sedang duduk tepat dihadapannya, bersama dengan wanita yang lain berambut indigo. Mereka bertiga selalu dengan formasi seperti ini di kelas kalau guru tidak ada, duduk melingkari satu meja dan menarik kursi agar saling berdekatan.

"Jadi apa, Sakura?"

"Aahh! Tentu saja kau dan Itachi-Nii! Kapan kalian memberikanku keponakan yang lucu?" ledek Sakura.

"Sakura! Jangan bicara terlalu forntal begitu!" tegur Ino yang kini wajahnya sangat memerah.

"Hahaha, jadi Ino, kau dan Itachi-Nii sudah melakukan itu?" tanya Hinata sambil menopang dagunya.

"I-Iya," jawab Ino malu-malu.

"Gimana rasanya?" tanya Sakura dengan antusias.

"Cih, kau ini, kalau mau tahu rasanya, lakukan sana dengan Neji!" usul Ino dengan nada kesal, karena dari tadi Sakura terus menerus mendesaknya agar cerita tentang pengalaman pertama yang kakaknya lakukan kemarin.

Namun ucapan Ino membuat Sakura terdiam, "Ah, Sakura maaf, omonganku ada yang salah yah?" kata Ino.

"Tidak, bukan kok, santai saja Ino, aku…"

Teng Neng Neng Neng.

Terdengar suara bel pulang sekolah, Sakura mengangkat tubuhnya beranjak dari tempatnya dan mengambil tas, "aku duluan yah, harus menyiapkan makan malam."

"Iya, salam untuk kakakmu yang sakit jiwa itu yah," celetuk Ino.

"Ino, jangan begitu," tegur Hinata pelan.

"Biar saja, siapa suruh kasar pada Sakura."

"Hahaha, iya iyaa, aku duluan yaah, sampai besok," Sakura melambaikan tangan pada teman-temannya, hari ini Neji tidak pulang bareng dengannya karena harus mengurusi kegiatan klubnya, makanya Sakura pulang berjalan kaki sendiri.

Sesampainya di rumah, entah kenapa dirinya merasa sangat lelah, tidak biasanya dia lemas seperti ini, apalagi dia harus menyiapkan makan malam untuk Sasuke yang selalu pulang telat. Sakura memaksakan dirinya melangkah ke dapur, tapi saat sampai didapur, Sakura melihat sosok laki-laki sedang membuka kulkas.

"Sasuke-Nii?"

Laki-laki yang dipanggil Sasuke menoleh, "Ah, Sudah pulang?"

"Tumben pulang cepat?" tanya Sakura sambil mendekati kakaknya.

"Hn, sedang ingin dirumah saja," jawab Sasuke singkat, kemudian saat melihat wajah Sakura, "wajahmu pucat, kau sakit?"

"Ng," Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku hanya lelah."

"Memangnya ngapain saja kau seharian disekolah sampai lelah begini?" tanya Sasuke sambil memegang kening adiknya.

"Tidak melakukan apa-apa kok, mungkin hanya demam," ucap Sakura sambil menutup matanya, merasakan sentuhan dan perhatian yang diberikan oleh Sasuke.

"Kalau begitu Aku tidak akan membiarkanmu demam sendirian," ujar Sasuke sambil tersenyum.

Sakura sudah sangat lama tidak melihat Sasuke tersenyum, ada perasaan lega dan damai saat dia melihat senyum lembut kakak kandungnya itu. Melihat Sasuke tersenyum lembut, Sakura juga ikut-ikutan tersenyum tanpa sadar, dan itu membuat Sasuke kembali mengecup bibir adiknya sendiri.

"S-Sasuke-Nii…" Sasuke melepaskan ciuman yang hanya sekedar temple itu dan menatap adiknya, "A-aku sudah menjalin hubungan dengan Neji-Kun, kalau aku lakukan ini, berarti aku mengkhianatinya."

Sasuke menatap Sakura dengan ekspresi datar, dia tahu, ah tidak, Sasuke bisa merasakan, kalau sekarang Sakura juga perlahan menginginkannya, pasti Sakura terhalang oleh status mereka sebagai saudara.

"Sakura…" Sasuke memanggil namanya dengan sangat lembut, dan itu membuat hati Sakura merasa hangat, "Putuskan Neji, kita pergi dari kota ini, kita jalani hidup berdua."

Mata Sakura terbelalak mendengar usul yang terlontar dari mulut Sasuke.

"Sasuke-Nii…?"

"Tidak, aku bukan lagi kakakmu, mulai sekarang... aku kekasihmu," dengan ciuman kilat, Sasuke tidak membiarkan Sakura berucap satu katapun.

Sakura sendiri tidak memberontak, mungkin karena demam yang kini membuat Sakura membuka lebar lengannya, dan memeluk leher Sasuke, menerima ciuman Sasuke begitu dalam. Tanpa ragu, Sasuke menggendong Sakura masih dengan posisi sambil berciuman menuju kamar Sasuke.

Begitu Sasuke menutup pintu kamar dengan kakinya, dia meletakkan tubuh Sakura diatas ranjangnya, masih sambil berciuman, Sasuke membuka seragam Sakura satu persatu, hingga atasan Sakura sudah berhasil terbuka, Sasuke menghentikan ciumannya.

"aku tidak mau menyakitimu lagi seperti saat itu," ucap Sasuke sambil memijat pelan leher Sakura dan mengelus pipi Sakura memakai ibu jarinya, "Apa kau yakin?"

Sakura menatap onyx Sasuke dengan lembut, kemudian Sakura mengangguk dan mencium Sasuke. Entah apa yang terjadi pada Sakura hari ini, Sasuke merasa adiknya ini sangat manja.

"Aku tidak akan berhenti, walaupun kau memintanya," bisik Sasuke.

Sasuke langsung membuka bra Sakura dan memijat lembut buah dada Sakura, sambil mencium adiknya, dan lebih mengagetkan lagi, Sasuke merasa wanita yang kini sudah berada di bawahnya ini sedang membuka kancing-kancing seragam Sasuke. Sasuke tersenyum lembut diam-diam, membiarkan adiknya melakukan kegiatan itu. Setelah selesai, Sasuke mencium kening Sakura, seolah memberi hadiah atas usahanya.

Dengan tidak sabaran, Sasuke memasukkan tangannya kedalam rok Sakura, dan memijat klitoris Sakura yang masih kering itu.

"Nghh~"

Desahan Sakura membuat Sasuke makin menyeringai, apalagi saat Sasuke menggesekkan jari-jarinya pada klitoris Sakura.

"Aangghh! S-Sasuke-Nii!"

"Panggil aku... Sasuke-Kun," bisik Sasuke menggoda sambil memutar jari telunjuknya pada klirotis Sakura.

"Aahhh~ S-Sasuke-Kun~"

Sasuke menghentikan aksinya dan tubuhnya terdiam, Sasuke... dia tidak menyangka ternyata efek dari panggilan itu sangat berarti baginya, Sakura yang merasakan kegiatan kakaknya itu terhenti memanggil nama itu sekali lagi, "S-Sasuke-Kun? Ada apa?"

Sasuke memeluk Sakura, pelukannya mengerat, Sakura sedikit kesakitan namun dia membiarkan Sasuke memeluknya seperti itu, "Maafkan aku." gumam Sasuke.

"Hmm? Untuk?" tanya Sakura polos sambil memeluk balik tubuh kekar Sasuke.

"Maaf… maafkan aku karena telah mengajakmu tenggelam di neraka, maafkan aku~" gumam Sasuke.

Sakura terdiam namun tatapannya melembut, entah apa yang telah merubah pikiran wanita itu sehingga dia memutuskan untuk menerima perasaan kakak kandungnya sendiri, saat Sakura akan berucap, Sasuke melanjutkan kalimatnya, "Tapi aku tidak akan membiarkanmu terjun ke neraka, biar aku yang menanggung semuanya."

Sakura mendorong pelan tubuh Sasuke dan merengkuh wajah laki-laki itu, "Aku akan ikut terjun bersamamu, kita hadapi ini berdua, kamu tidak sendirian, mulai sekarang aku akan selalu ada di sisimu, Sasuke-Kun."

Mendengar kalimat Sakura membuat pertahanan Sasuke runtuh, kini laki-laki itu duduk dihadapan adiknya, menutupi kedua wajahnya dengan salah satu lengan yang dia tumpu memakai lututnya.

"Sasuke-Kun?"

"Aku tidak tahu harus bahagia…. Sedih… atau merasa bersalah…. Aku tidak tahu…"

Mendengar suara Sasuke yang begitu rapuh, Sakura bangkit dan memeluk laki-laki, kakak kandungnya itu.

"Saat ini kita jangan pikirkan apa-apa dulu, biar waktu yang menjawab."

Sasuke tersenyum, bibirnya terbuka namun tidak mengeluarkan suara,"Hasratku menurun, sial!"

"Eh?"

"Aku jadi tidak ingin melakukannya, aku… ingin menikmati moment ini," gumam Sasuke sambil memeluk pinggang Sakura yang kini berada tepat di depan wajahnya.

"Tapi… aku punya satu permintaan," ucap Sakura.

"apa itu?"

Sakura mendongak keatas dan Sakura menjajarkan posisi wajahnya dengan Sasuke, "Aku ingin kau mengizinkanku untuk terus menjalin hubungan dengan Neji-Kun"

"APA? Tidak! Tidak akan pernah!" tolak Sasuke tegas, ekspresinya kini berubah menjadi marah.

"Tunggu, dengarkan aku dulu, kalau untuk ketahuan oleh Itachi-Nii, aku masih belum siap, jadi aku akan memutuskan Neji disaat yang tepat agar tidak ketahuan."

"Dengan beberapa kondisi," ucap Sasuke dan Sakura tersenyum menandakan ingin mendengar larangan apa yang akan Sasuke lontarkan, "Tidak boleh ciuman! jangan sampai dia merabamu! danTidak boleh melakukan sex dengannya!"

"Hihihi, okay!," jawab Sakura dengan senyum yang manis.

"Kau harus berjanji padaku, jangan biarkan dia menyentuhmu, aku mohon," ucap Sasuke dengan wajah serius.

"Ya, aku janji," jawab Sakura.

Sasuke mengecup Sakura dan mereka tiduran sambil berpelukan, menikmati moment-moment bersama yang bisa dinikmati kalau hanya berada di rumah.

"Sakura, satu hal yang ingin kutanyakan," ucap Sasuke sambil membelai rambut adik kandung yang kini resmi menjadi kekasihnya.

Sakura mendongak untuk melihat wajah Sasuke, "Apa yang membuatmu berubah pikiran?"

"…" Sakura terdiam, dan tangannya menyentuh dada bidang Sasuke, "Tidak tahu… hanya saja, pikiranku selalu menuju tentangmu, tubuhku merindukan sentuhanmu, aku sendiri bingung, apa bisa nanti aku memainkan sandiwara dengan baik."

"Kau jahat, kenapa aku jadi kasihan pada serangga itu yah?" ujar Sasuke.

"Lagi-lagi menyebut serangga," Sakura mengembungkan pipinya, "Kamu jangan begitu, dia mempunyai nama, lagipula, kalau memang harus terjun ke neraka, kita harus jahat bukan?"

Sasuke membatu mendengar kalimat Sakura yang dilontarkannya entah secara sengaja atau tidak sengaja, Sasuke tidak menjawabnya, entah dia harus bagaimana menggambarkan perasaannya, haruskan dia senang karena akhirnya Sakura menerimanya dan memiliki perasaan yang sama padanya? Haruskan dia merasa sedih karena Sakura meminta izin untuk tetap berhubungan dengan Neji? Ataukah dia harus merasa bersalah karena telah merubah adiknya dari wanita baik dan lugu menjadi wanita yang jahat? Sasuke tidak bisa menjawabnya, kini dia hanya memejamkan mata, menikmati sore hari yang dia lewati bersama adik kandungnya tercinta.


A/N : raffa kembali muncul disini, maaf yah kalau chap ini kurang panjang, dan maaf saya ngga bisa bales review satu-satu, saya hanya bisa membuka laptop malam hari, jadi mata saya sedikit ngantuk ini, maaf yah, soalnya saya sudah kerja sekarang, jadi mungkin akan lama updatenya, sekali lagi maaf yah...