untuk chapter ini, saya sengaja bikin full SasuSaku, maaf yah yang nungguin naruHina, ItaIno atau nejiSaku, mungkin di chapter depan, okay, btw... saya belum bisa edit-edit lagi ini, soalnya saya masih di kantor, takut ketauan boss, hehehehee...

My Ego

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M-MA

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD

Sinar mentari pagi yang cerah menembus ruangan dan menyorot langsung melalui sela-sela jendela, sepasang mata onyx perlahan terbuka dan membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk itu, dengan bantuan tangan kanannya, sosok laki-laki itu mengucek pelan kedua matanya dan sedikit bangkit dari posisi tidurnya, saat dia merasakan ada sesuatu yang menahan lengan kirinya, laki-laki itu menatap sosok wanita yang kini sedang tertidur lelap beralaskan lengannya, dengan datar namun penuh kasih sayang.

Disingkirkannya rambut berwarna pink dari wajah yang terlihat mulus itu, Sasuke mendekatkan wajahnya sendiri pada wajah adiknya dan mencium pipi Sakura dengan sangat lembut, kemudian ciuman itu pindah pada keningnya, masih bibirnya menempel pada kening, kini Sasuke membelai pipi Sakura memakai tangannya yang bebas, belaiannya cukup untuk membuat mata emerald itu terbuka.

"Engh~"

Desahan Sakura membuat Sasuke melepaskan ciumannya dan menatap mata yang baru bangun itu dengan lembut, "Selamat pagi, Sakura."

"Eng~ Pagi, Sasuke-N… Kun."

Posisi mereka tetap seperti itu, Sasuke memainkan rambut Sakura dan Sakura sendiri membelai beberapa helai rambut Sasuke, saat Sakura menoleh kearah jam dinding, matanya langsung melotot.

"KYAAAAA! Sudah jam 9! Kita telaaaaaaaaat!" dengan kencang Sakura mendorong tubuh Sasuke.

Benar-benar merusak suasana romantis yang susah payah Sasuke ciptakan.

"Hari ini kita tidak usah masuk saja," usul Sasuke masih santai di atas kasur.

"Tidak masalah untukmu, tapi masalah untukku, astaga! Hari ini ulangan Bahasa Inggris! Gawaaat, gawaaatt!" sambil mondar-mandir, Sakura membuka seluruh pakaiannya, tidak peduli bahwa Sasuke melihat tubuhnya yang sangat menggoda itu, saat ini Sakura benar-benar sedang panik.

"Bahasa Inggris itu gampang, Sakura, santai saja," ujar Sasuke sambil bangkit dan memungut pakaian adiknya itu yang tergeletak di lantai.

"Itu karena kamu pintar, aku kan di bawah standar!" teriak Sakura dari dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar Sasuke.

"Hhhh, aku siapkan sarapan yah," sambil meletakkan pakaian adiknya di keranjang, Sasuke melangkahkan kakinya keluar, membuatkan Sakura dan dirinya sarapan, setelah itu Sasuke pergi ke kamar mandi yang berada di luar untuk siap-siap.

.

.

"UCHIHA SAKURA! KAU PIKIR SEKARANG JAM BERAPA HAH!"

Bentakan yang sangat keras terlontar dari seorang guru cantik berambut panjang berwarna hitam sambil memegang buku, tentu saja bentakan itu dilontarkan untuk anak perempuan yang baru saja datang di tengah-tengah ujian. Satu kelas memandang Sakura dengan tatapan prihatin karena guru yang dipanggil dengan Kurenai itu kalau sudah marah sangat menyeramkan.

Tapi ada satu hal yang membuat tatapan sangar dari guru itu berubah menjadi sedikit melembut dan wajahnya memerah, begitu juga anak-anak wanita di kelas itu, karena saat ini…

"Maaf, Kurenai-Sensei, ini semua salahku yang menyebabkan adikku terlambat, kalau mau hukum, hukumlah aku," Sasuke datang menarik tubuh Sakura kebelakangnya dan bersikap sopan pada sensei nya itu.

"U-Uchiha…ehem! Yaah, kali ini kau kumaafkan," ucap Kurenai dengan wajahnya yang sedikit memerah.

"Kyaaaaa! Uchiha-Senpaaaaaiii!" dengan sangat kompak, wanita satu kelas semua teriak bersamaan.

"Aku beruntung sekali hari ini masuk, bisa melihat wajahnya yang tampan masuk ke kelas kita!"

"Sssttt! Kalian diam! Ini waktunya ujian!" tegur Kurenai yang masih salting.

"ugh, inilah alasan aku tidak mengizinkanmu datang ke kelasku," gumam Sakura pelan pada Sasuke.

Sasuke mengabaikan teriakan-teriakan itu.

"Pulang nanti tunggu aku selesai klub," ujar Sasuke.

"Eh? Tapi aku-"

"Ini perintah!"

Sakura tersentak mendengar Sasuke menegaskan kalimatnya, seharusnya hari ini dia janji akan menemani Neji untuk latihan, dia tidak mau mengingkar janji, tapi lebih tidak mau lagi kalau melihat kakaknya itu marah. Akhirnya Sakura mengangguk dan Sasuke kembali ke kelasnya.

Kurenai mempersilahkan Sakura duduk di tempatnya, langsungs saja Ino melempar secarcik kertas.

Sepertinya hubunganmu dan kakakmu yang sakit jiwa itu sudah membaik.

Sakura menghela nafas, dia tahu bahwa Ino sangat sebal pada Sasuke, makanya dia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya, akhirnya Sakura membalas.

Ya, kau tahu kan Sasuke-Nii tidak bisa lama-lama bermusuhan denganku.

"Uchiha Sakura, kalau kau tidak mau dikeluarkan dari kelas, berhenti melempar kertas!"

"B-Baik sensei," jawab Sakura gugup.

Saat istirahat, Naruto terus menerus memandangi wajah Sasuke yang kini sedang menatap langit dari sisi jendela sambil mendengarkan iPod nya.

"Hhhmmmmm."

Sasuke melirik kearah sahabatnya dan dengan ketus, "Apa?"

"Wajahmu berubah," ujar Naruto sembari seolah menganalisa wajah laki-laki dingin itu.

"…" Sasuke hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyedihkan, "Lebih baik kau kencani saja gadis Hyuuga itu sana! Dari pada mengurusi hal yang bukan urusanmu."

"Dan sejak kapan kau peduli pada urusanku? Teme, kau benar-benar berubah… Sakura-Chan hebat, bisa mengubahmua hanya dalam jangka waktu satu hari," ucap Naruto seolah terkagum pada perubahan Sasuke yang bisa dibilang hanya sedikit itu.

"Nee, Teme… apa yang kau lakukan dengan Sakura-Chan tadi malam?"

Sebelum Naruto bertanya kebih lanjut, Sasuke sudah memberi jawaban melalui tatapan mata yang seolah akan membunuhnya apabila Naruto mengucapkan satu kata lagi.

"O-Okay, maafkan aku…"

.

.

"Sakura, kenapa hanya minum susu?" tanya Hinata pada Sakura.

"Aku tidak nafsu makan," jawab Sakura lesu.

"Kau kesiangan makanya tidak sempat yah membuat bekal, ini kita makan berdua bekalku," tawar Ino.

"Tidak Ino, terima kasih… aku tidak lapar," secara halus Sakura menolak.

"Oh iya, aku cari Neji-Kun dulu yah," Sakura pamit bangkit dari duduknya, Hinata dan Ino menatap sosok Sakura yang terlihat sedikit lesu.

"Kenapa akhir-akhir ini dia lesu yah?" tanya Ino pada Hinata, sambil melahap bekalnya Hinata menjawab, "Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa diceritakan pada kita."

Sakura berjalan menuju kelas Neji, begitu sampai di sana, Sakura mencari sosok Neji yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan beberapa temannya, saat Sakura hendak memanggilnya, salah satu suara dari kelas itu berucap, "Hyuuga! Pacarmu datang mencarimu."

Terima kasih untuk laki-laki tadi karena membuat seluruh kelas saat ini menatap Sakura. Dia melihat Neji datang sambil tersenyum, namun yang Sakura berikan adalah tatapan seolah ingin mengatakan perasaan bersalahnya.

"Neji-Kun… maaf nanti sepulang sekolah aku-"

"Aku tahu, Sasuke melarangmu pergi kan?" potong Neji sambil menyentuh dagu Sakura.

Dengan ragu Sakura menjawab, "Ng, akhir-akhir ini dia sangat protektif."

"Hahaha, wajar, aku juga kadang begitu terhadap Hinata."

"Maaf yah, lain waktu aku usahakan," ucap Sakura sekali lagi.

"Iya, santai saja."

"Aku kembali ke kelas dulu," pamit Sakura, saat Sakura membalikan badannya, Neji menarik lengan Sakura dan mencium kening wanita itu di seluruh hadapan para murid.

"Nanti aku telepon," ucap Neji.

Wajah Sakura memerah, jantungnya berdegup kencang, "I-Iya."

Sakura berjalan kembali menuju kelasnya, entah kenapa saat ini dia jadi merasakan hal yang sangat dilemma, baru saja tadi malam dia memutuskan untuk perlahan meninggalkan Neji dan berada di sisi kakaknya, tapi dengan sekejap Neji berhasil kembali mengambil hatinya.

Itu karena Neji adalah satu-satunya laki-laki yang tidak takut mengajaknya pacaran walau Sasuke sudah sangat sinis padanya, Neji juga satu-satunya laki-laki selain Naruto yang berani berbicara pada Sakura didepan Sasuke, dan satu lagi…

Sakura pernah menyukai Neji, perasaan suka yang tulus.

Namun sekarang… perasaan itu tercampur oleh perbuatan kakaknya yang telah membuat hati Sakura terbelah dua.

Sakura terus berjalan sambil memikirkan bagaimana caranya agar putus dari Neji dengan cara agar Neji tidak sakit hati dan tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka putus, dan bagaimana nanti caranya mempertahankan hubungan dengan Sasuke agar Itachi tidak tahu, bagaimana kedepannya nanti? Apakah ini keputusan yang tepat? Apakah kalau Sakura menerima Sasuke itu keputusan yang baik untuk semuanya?

Kita rasa itu keputusan yang salah bukan?

Kini Sakura merasa langkahnya sedikit berat, kepalanya sedikit pusing, jalannya pun sudah tidak stabil, entah kenapa pandangannya mulai rabun.

Sasuke yang kini masih mendengarkan iPodnya secara tidak sengaja melihat sosok Sakura yang sedang berjalan melewati kelasnya, namun Sasuke langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan adik kandungnya itu.

Begitu Sakura akan tumbang, Sasuke bangkit dari kursinya, melepaskan earphone dan melempar iPodnya kesembarang arah, dan berlari menuju Sakura yang kini sudah pingsan di koridor.

"Kyaaaaaaaa!"

Naruto yang melihat aksi sahabatnya langsung mengikuti dari belakang, Sasuke menghampiri tubuh Sakura, begitu dia menyentuh leher adiknya, "Panas sekali."

"Naruto, titip tas Sakura, aku akan membawanya pulang," perintah Sasuke pada sahabatnya.

"Eh? Kenapa tidak dibawa ke ruang kesehatan?"

"Suhu tubuhnya sangat panas, lebih baik dibawa pulang," jawab Sasuke sambil menggendong tubuh Sakura, aksi Sasuke dilihat banyak orang dan itu membuat para siswi sangat iri.

Dalam sepanjang perjalanan pulang kerumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah, Sasuke berfikir, kalau memang Sakura demam, seharusnya Sasuke tertular karena mereka kemarin sempat berciuman.

Sesampainya dirumah, Sasuke membaringkan Sakura dikamarnya dan berlari kembali kearah dapur untuk mengambil baskom, handuk dan es batu. Setelah dapat semua, Sasuke berlari lagi ke kamar Sakura dan mencelupkan handuk itu kemudian di kompresnya kening Sakura.

"Kenapa kau bisa demam?" tanya Sasuke pelan.

Dia melihat wajah Sakura lumayan pucat dan nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.

Sasuke kembali kedapur untuk mengambil obat penurun panas, setelah ditemukan, anak kedua Uchiha itu mengambil air minum hangat dan kembali ke kamar, melihat Sakura yang masih belum sadar, Sasuke mengambil jalan pintas, dia masukan pil itu kedalam mulutnya sendiri, lalu meminum air hangat itu dan dimasukkan ke dalam mulut Sakura.

Secara otomatis Sakura menelan semua cairan itu, dan hal itu membuat mata Sakura terbuka.

"Sasuke… Nii?" gumam Sakura sangat pelan dan lemah, saat ini Sasuke tidak mementingkan dengan embel-embel apa Sakura memanggilnya, saat ini yang di khawatirkannya hanyalah kondisi Sakura.

"Sstt, tidurlah, aku akan menjagamu," ujar Sasuke sambil membelai pipi adiknya.

Sakura kembali memejamkan matanya sambil menggenggam jemari Sasuke yang tadi memegang pipinya.

Sasuke tersenyum dan mengecup bibir Sakura, sambil menyeringai, Sasuke berbisik, "Kalau kau sehat nanti, aku akan menghukummu karena tidak bisa menjaga kesehatan, untuk saat ini… istirahatlah… tuan putriku."

.

.

Dua jam Sasuke menunggu Sakura yang kini sudah tertidur lelap, padahal tadi pagi begitu bersemangat, tapi kenapa dipertengahan sekolah dia bisa tumbang? Sasuke berkali-kali memeriksa kening adiknya dan terasa panasnya sudah menurun, walaupun tidak sepenuhnya tapi setidaknya sudah membaik. Tangan kiri Sasuke menggenggam jemari Sakura sedangkan tangan kanannya memegang handphone, mengirim pesan pada Naruto agar mencegah teman-teman Sakura datang kerumah dan mengantar Sakura pada malam hari saja.

"Sasuke-Nii~…?" suara lemah memanggil namanya, dan itu membuat Sasuke menoleh pada adiknya yang kini tengah membuka matanya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke yang sedikit membangkitkan tubuhnya dan menempelkan keningnya pada Sakura.

"Ng~ sudah mendingan, tadi aku pusing sekali," jawab Sakura.

"Kita ke dokter yah? Kamu aneh, demam tapi tidak flu," tawar Sasuke.

"Tidak mau… aku sudah lumayan membaik kok," jawab Sakura.

"Tapi janji, kalau besok pagi keadaanmu masih lemas sedikit saja, kita ke dokter," ujar Sasuke sambil mengelus pucuk kepala Sakura.

"Ng," Sakura mengangguk sambil tersenyum, "Hhmm, Sasuke… Kun."

"Hn?" sambil sedikit tersenyum, Sasuke menatap mata Sakura, dan itu sangat membuat Sakura salting bukan main.

"Ng… Aku… lapar…"

"…"

"…"

"Mau pasta?" tawar Sasuke.

"Buatanmu?" tanya Sakura dengan ragu namun penuh dengan tatapan berharap, Sasuke yang sangat tidak bisa menolak tatapan itu akhirnya menghele nafas, "Hhh, baiklah."

"Yeaaayy! Terima kasih oniichaaaaaan," ucap Sakura girang sambil memeluk Sasuke.

Jujur sudah lama Sasuke tidak merasakan pelukan Sakura sambil memanggilnya dengan nada manja seperti ini, tanpa dilihat oleh Sakura, Sasuke kini tersenyum lembut sambil memeluk balik tubuh adiknya.

Keadaan peluk memeluk itu berlanjut, tidak ada yang saling melepaskan satu sama lain, tadi Sakura bilang dia lapar, Sasuke bilang dia akan membuatkan pasta… tapi kenapa mereka tidak ada yang bergerak sama sekali?

"Sakura," panggil Sasuke pelan, namun nadanya terdengar begitu sexy ditelinga Sakura.

Sasuke melepaskan pelukannya dan memandang wajah Sakura, untunglah wajah adiknya tidak sepucat tadi, Sasuke tersenyum dan tiba-tiba mencium bibir Sakura.

Sakura hanya terdiam bingung kenapa Sasuke tiba-tiba menciumnya, tapi Sakura tidak terkejut, karena sedikit demi sedikit dia sudah mulai terbiasa dengan kelakuan kakaknya ini yang suka main cium saja. Tapi entah kenapa Sakura merasa atmosfir mereka berubah, jadi lebih hangat dan nyaman.

Sakura memejamkan matanya dan melingkarkan lengan dibelakang leher Sasuke, kedua bibir mereka sekarang saling bertaut, dan lagi Sasuke mulai menjilat bibir Sakura dan meminta adik dan juga kekasihnya itu membuka mulutnya. Saat Sakura membuka mulutnya, Sasuke langsung memasukkan lidahnya, Sakura tidak terbiasa dengan permainan lidah, jadi gerakannya masih sangat kaku, namun Sasuke menikmatinya, itu artinya dialah yang pertama kali buat Sakura.

Seperti tidak ada yang mau berhenti , Sasuke mulai meraba leher Sakura dan membelainya dengan lembut, tindakannya membuat Sakura sedikit menaikkan bahunya karena merasa geli.

Sasuke melepaskan ciuman mereka, nafas mereka sudah sama-sama panas, mata Sakura pun seperti terhipnotis oleh mata Sasuke, laki-laki bermata onyx ini kemudian mulai mengecup leher Sakura dan mencium serta menjilat daun telinga adiknya, membuat Sakura sedikit mengeluarkan desahannya.

"Eng!" desah Sakura tertahan, Sasuke tidak suka mendengar Sakura menahan desahannya, karena itu Sasuke mulai melakukan hal yang lebih nekat, dibaringkannya tubuh Sakura kemudia dicium lagi bibir mungilnya, tangan Sasuke kini menjalar kearah dada Sakura, masih beralaskan seragam, Sasuke memijat pelan dada kanan Sakura.

"Nghh~."

"Keluarkan… Sakura… aku ingin mendengarnya," bisik Sasuke dengan nada menggoda.

Sasuke memasukkan tangannya kedalam seragam Sakura, saat ini Sakura bingung harus menolak atau tidak, dia ingin menolak, tapi tubuhnya meminta untuk lebih, akhirnya yang Sakura lakukan sekarang hanyalah terus menerus mendesah akibat perlakuan kakaknya yang makin nekat itu.

Sasuke melepaskan jilatan yang dari tadi dia lakukan di leher Sakura, dia tidak mau membuat tanda di leher Sakura karena pasti nanti teman-temannya akan bertanya macam-macam, Sasuke membuka seragam Sakura, terlihat buah dada Sakura yang sangat menggoda. Saat ini Sasuke sangat lapar akan tubuh adiknya sendiri, dicium dada sebelah kanan dan dihisap sekencang-kencangnya, sehingga menimbulkan tanda merah disana.

"S-Sasuke-Kun! Besok aku pelajaran renang!" tegur Sakura mencoba mendorong kepala Sasuke.

"Izin saja, hari ini kau kan sakit," jawab Sasuke tanpa melepaskan pandangannya terhadap dua benda kenyal itu.

"Kakak yang mesum," gumam Sakura malu.

"Adik yang menggoda," balas Sasuke sambil menyeringai.

Sasuke membuka kait bra Sakura, begitu terlepas, Sasuke menatap Sakura dengan serius, "Apa kau yakin?"

Sakura mengangguk, kedua tangannya menutupi buah dada yang indah itu, dengan pelan Sasuke melepaskan tangan Sakura yang menghalangi pemandangannya, "Aku tidak akan berhenti di tengah jalan," bisik Sasuke.

Sebelum Sakura menjawab, Sasuke sudah kembali menciumnya, kini dengan tangan yang meraba dada Sakura. Sasuke sangat tidak sabaran, sudah belasan tahun dia menunggu untuk sampai moment ini tiba. Sasuke menurunkan ciumannya menjadi kearah bukit Sakura, pertama Sasuke mulai menjilat putting Sakura dan itu sukses membuat Sakura menggeram kecil.

"Eengh~"

Kemudian Sasuke menghisap pelan putting adik-, kekasihnya itu. Sambil meraba dada satunya lagi, seperti bayi yang kehausan Sasuke menghisap dan sedikit mengigit putting yang sudah mengeras akibat perlakuannya itu, Sasuke terus memutar-mutarkan lidahnya disekitar area putting Sakura, tangannya kini beralih kebawa, Sasuke memasukkan tangannya kedalam celana dalam Sakura.

"Aahhn!" Sakura tersentak karena kaget.

Sedangkan Sasuke terdiam sambil menyeringai, karena Sakura sudah basah, dan jari tengah Sasuke merasakan bahwa kewanitaan Sakura kini tengah berdenyut.

"Kau menantikannya yah?" tanya Sasuke lembut namun menggoda.

"J-Jangan bertanya seperti itu," ucap Sakura memalingkan wajahnya.
"Tidak! Jangn palingkan wajahmu, lihat aku! Tatap aku," ujar Sasuke, dan Sakura menurutinya, "Ya, seperti itu, aku ingin kita bercinta dengan kamu yang menatapku seperti ini."

Sasuke mulai memainkan klitoris Sakura, menggesekkan jarinya pada klitoris yang sudah basah itu.

"Aaannhh! Eengghh~~"

Digoyangkannya jari tengah Sasuke, memainkan klitoris adiknya sendiri, sehingga membuat Sakura mendesah hebat.

"Aaahhh~ aaaaahhh~"

Merasa ada sesuatu yang akan keluar, Sakura memeluk erat punggung Sasuke.
"S-Sasuke! B-berhentii~"

"Sshhh, tenang… keluarkan saja."

Sasuke mempercepat goyangan pada klitoris Sakura, "Aaahhnn! Aah~ aahh~ Hyaaaaa!"

Sasuke merasakan cairan yang keluar dari kewanitaan Sakura dan mencoleknya memakai jari-jarinya.

"Aahhn~" dan itu membuat Sakura kembali mendesah.

Sasuke menjilat cairan itu, Sakura melihat kakaknya yang menjilat cairannya sendiri, entah kenapa Sakura merasa sakit melihatnya, karena saat ini dia membayangkan sebelumnya Sasuke sudah pernah melakukan hal ini dengan wanita lain, menyadari Sakura memasang wajah sendu, Sasuke mulai khawatir.

"Kenapa? Ada apa? Kau tidak suka yah?" tanya Sasuke.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu… kamu… ini yang pertama kali buatku, tapi Sasuke-Kun… kau sudah berkali-kali melakukannya dengan wanita lain… apalagi dengan yang kemarin itu…"

"Stop!" Sasuke menutup mulut Sakura memakai telapak tangannya, "Sekedar informasi, Tuan Putri! mereka memang pernah menghisap kejantanannku, tapi tidak satupun dari mereka yang kuizinkan untuk meminumnya, aku juga tidak pernah mencicipi cairan mereka."

"Huaaaa! Sasuke-Nii! Jangan terlalu blak-blakan untuk pengucapannya."

"Asal kau tahu, kau lah wanita pertama yang pernah kurasakan, kau wanita pertama yang kucium, kau wanita pertama yang benar-benar kusentuh, kumohon percayalah," ucap Sasuke menempelkan keningnya pada kening Sakura.

"B-Benarkah?"
"Benar."

"Tidak bohong?"

"Tidak bohong."

"Lalu kenapa kau sepertinya ahli sekali?"

"…"

Sasuke memejamkan matanya, terlihat tanda empat siku muncul di dahi laki-laki itu, "Sakura… bisa tidak, kau tidak menurunkan suasana seperti ini?"

"Haaaaa… aku kan Cuma bertanya," Sakura mengembungkan pipinya, seolah ngambek karena pertanyaannya tidak di jawab.

"Baiklah! Aku terlihat ahli? Mungkin itu karena aku sering menemani si Dobe itu menonton hentai!"

"…" mulut Sakura ternganga.

"Sasuke-Nii nonton hentai! Kau? Sosok laki-laki yang pendiam dan dingin ternyata suka nonton hen-"

Sasuke memotong ucapan Sakura dengan cara menciumnya, kini tangan Sasuke membuka rok Sakura dan celana dalamnya.

"Enggh! Mmppffff!"

Merasa Sakura ingin mengatakan sesuatu, Sasuke melepaskan ciumannya.

"Curang! Kau masih berpakaian lengkap!" ucap Sakura smabil menunjuk wajah Sasuke.

Benar-benar, wanita ini, belum pernah ada yang berani menunjuk langsung wajah Sasuke seperti ini sebelumnya, apalagi dengan nada sedikit membentak.

"Kau tahu, Sakura," bisik Sasuke sambil menjilat daun telinga Sakura, "Aku lebih suka mempraktekannya denganmu, dari pada melakukannya dengan wanita lain tapi membayangkanmu."

Mereka kini saling tatap, bisa Sasuke lihat sekarang wajah Sakura sangat memerah, kemudian Sasuke memundurkan tubuhnya dan berucap, "Kau yang lepas."

Sakura kini sudah dalam keadaan telanjang, perlahan Sakura mendekati tubuh Sasuke, dan melepas blezer yang Sasuke kenakan, setelah itu Sakura membuka kancing kemeja satu persatu, setelah selesai, Sakura makin malu ketika melihat tubuh atletis Sasuke yang sangat berbentuk itu, tanpa disadari, Sakura meletakkan telapak tangannya di dada bidang Sasuke.

"Detak jantungmu, terasa cepat," gumam Sakura pelan.

Sasuke tersenyum, "Itu karena kamu."

Sakura juga ikut tersenyum, kemudian arah mata Sakura menuju bawah, yaitu kejantanan Sasuke yang sudah menegak dari tadi.

"Sepertinya terlihat sesak," tanya Sakura pelan pada dirinya sendiri, namun Sasuke dapat mendengarnya.

"Apa…" Sasuke dengan malu mencoba mengatakannya, "Kau ingin mencobanya?"

"Eh?"

Mereka berdua terdiam, Sakura paham apa arti dari 'mencoba' nya itu, walaupun polos, percayalah, Sakura tidak polos-polos banget untuk mencerna arti itu. Sakura tersenyum dan membuka resleting celana Sasuke.

"S-Sakura?"

Dan terlihatlah kejantanan Sasuke yang besar dan panjang.

Mata Sakura terbelalak, dia tidak menyangka kalau kejantanan Sasuke akan sebesar ini. Perlahan Sakura mencium ujungnya dan menjilatnya.

"Aahh~ S-Sakura~"

Dan entah mengapa, Sakura sangat senang mendengar Sasuke mendesahkan namanya, dia ingin mendengarnya lagi dan lagi, maka dari itu, Sakura memasukan seluruh kejantanan Sasuke kedalam mulutnya.

Slep.

"A-Aaaaahhh~ Sakuraa~ yeeaah~" Sasuke memejamkan matanya, menikmati apa yang dilakukan oleh adiknya saat ini.

Sakura memaju mundurkan kepalanya sambil mengemut kejantanan Sasuke, dia juga memijat kedua bola Sasuke.

"S-Sakuraa~ b-berhentii! a-akuu akaan~ aaaahhh~"

Telat.

Sasuke menyemburkan cairan spermanya di dalam mulut Sakura, dan Sakura sendiri langsung menelannya, setelah menelan cairan kakaknya sendiri, Sakura terdiam, sedangkan Sasuke mengatur nafasnya.

"Hah… hah…. Sakura… kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke sembari membelai pipi Sakura.

"Rasanya… aneh…sedikit pahit…" ucap Sakura dengan tampang polos.

"…" Sasuke terdiam menatap lembut wajah Sakura, kemudian ditarik wajah adiknya dan Sasuke menjilat sisa spermanya sendiri, seolah tidak membiarkan Sakura mencicipinya sendiri, "Jauh lebih baik setelah menempel dibibirmu."

Sakura kembali memerah wajahnya, kemudian Sasuke membuat tubuh Sakura menjadi terlentang, dan wajah laki-laki itu menghadap pada kewanitaan Sakura.

"S-Sasuke-Kun! Apa yang kau- aaahhnn!"

Sasuke langsung menjilat kewanitaan Sakura dengan cepat, lidahnya naik turun dan sedikit menggesek lidahnya dengan klitoris Sakura.

"Hyaa~~ aaahhnn! Aahh~ ah~ aaahhh~ aassshhh~"

Sakura mendesah kencang sambil menjambak pelan rambut Sasuke, menandakan dia menyukai perlakuan Sasuke. Untung Itachi tidak ada, jadi mereka bisa bernyanyi sepuas mereka tanpa harus ketakutan akan ada yang mendengarnya.

Sasuke mulai memasukkan lidahnya didalam lorong Sakura.

"Aahnnn! S-Sasukeeee! Aaahhh~"

Sasuke mengganti lidahnya memakai jari-jarinya, perlahan dimasukkan langsung dua jari dan itu membuat pinggu Sakura bergoyang, menandakan dia menikmatinya, Sasuke tersenyum, dan dia menambahkan tiga jari.

"Akh!" Sakura mulai kesakitan, namun Sasuke berusaha untuk membuatnya rilex, sampai tiga jari sudah lancar keluar masuk, Sasuke melepaskan semua jari-jarinya, kemudian Sasuke mensejajarkan tubuhnya dengan Sakura.

Wajah Sakura sangat cantik saat ini, dipenuhi dengan keringat juga ekspresinya yang sangat menggoda.
"Kau milikku," gumam Sasuke bersamaan dengan dia memasukkan kejantanannya kepada kewanitaan Sakura.

Sakura mendongak keatas ketika merasakan kewanitaannya ditusuk oleh benda tumpul, memang ini bukan yang pertama bagi Sakura, saat Sasuke memperkosanya dulu, Sakura tidak begitu memperhatikan seberapa besar kejantanan Sasuke, tapi sekarang, Sakura sudah melihatnya, apalagi Sakura ikut merasakannya.

"Aakkhh!"

Sasuke menghentikan gerakannya, menanam kejantanannya didalam tubuh Sakura, "Bisa kau rasakan, Sakura? Tubuhku, berada didalam tubuhmu," ucap Sasuke tersenyum lembut.

Sakura sangat menyukai moment ini, dimana Sasuke menunjukan sisi lembutnya, tersenyum lembut padanya.

Sakura mengangguk kemudian melingkarkan kedua kakinya di pinggang Sasuke, menandakan Sakura sudah siap untuk kelanjutannya.

Sasuke memaju mundurkan tubuhnya dengan pelan, ingin Sakura merasakan sensasi yang juga dia rasakan.

"Aah~ ah~ Annhh~"

"Ukh… kau sempit sekali," ujar Sasuke sedikit terkekeh.

"S-Sasuke-Kun aaannhh~"

Mulut Sakura terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu namun tidak dapat keluar karena kegiatan yang mereka lakukan saat ini membuatnya melayang.

"Kau ingin aku mempercepatnya?" tanya Sasuke pelan, dan Sakura mengangguk.

Tanpa aba-aba, Sasuke mempercepat gerakan maju mundurnya dan menusuknya lebih dalam.

"Aaaaaahhnnn! Hyaaa~ aahh~ aaahh~~ S-Sasu~ keee~"

"Ugh~ hah… hah… aahh~"

"Aahhnn~ c-ceepaaathh~ aaahhhnn~"

Sasuke makin mempercepat genjotannya sambil melumat bibir Sakura, dengan satu hentakan keras, Sasuke merasa dinding kewanitaan Sakura mengencang, menjepit kejantanan Sasuke.

"Ah~ S-Sakuraa~ a-aku akan…"

"Hyaa~ aaahhn~ S-Sasukeeeee!" Sakura mencapai klimaksnya, dan Sasuke juga akan mencapai klimaksnya, laki-laki berambut raven itu langsung mencabut kejantanannya dan menyemprotkan spermanya di atas tubuh Sakura.

"hah… hah… hah…" Sasuke mengatur nafasnya pelan-pelan kemudian ambruk diatas tubuh Sakura.

"Apa Sasuke-Kun senang?" tanya Sakura dengan nada lembut.

Sasuke menatap Sakura dengan wajah yang sulit untuk di artikan ekspresinya, Lebih dari itu, aku bahagia."

"Hihihi, syukurlah, aku juga bahagia kalau Sasuke-Kun bahagia," jawab Sakura.

Kedua kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum, lalu Sasuke berucap, "Mandi?"

"Ng," Sakura mengangguk, "Tapi pakai air hangat yah."

"Iya iya," Sasuke bangkit dan menyelimuti tubuh adiknya memakai seprai sampai kelehernya, kemudian menggendongnya ke kamar mandi.

"Sasuke-Kun," panggil Sakura, "Mungkin akan memakan waktu, tapi tunggulah sebentar lagi, aku ingin mencari waktu yang pas untuk mengakhiri hubunganku dengan Neji-Kun"

"Hhh, yaah demi hubungan kita, aku akan bersabar," jawab Sasuke malas-malasan.

"Sasuke-Kun, aku serius, apapun yang terjadi, jangan lukai Neji-Kun," pinta Sakura.

Setelah memasuki kamar mandi, Sasuke menurunkan Sakura dan menepuk kepalanya, "Kau tahu, apapun akan kulakukan untuk dapat bersamamu seperti ini, aku sudah menunggu belasan tahun sebelumnya, jadi menunggu untuk beberapa saat seperti yang kau minta, itu tidak masalah bagiku, asal kau pegang satu janji padaku."

Sakura memiringkan kepalanya, dan Sasuke melanjutkan kalimatnya, "Ako mohon dengan sangat… jangan melakukan hubungan sex dengannya."

Sakura menatap wajah Sasuke yang kini berekspresi pilu, dengan tangan yang terbungkus kain, Sakura berjalan mendekat dan mengecup bibir Sasuke pelan. "Aku janji."

Sasuke tersenyum dan memeluk tubuh mungil adiknya, "Siapapun yang menghalangi hubungan kita, siapapun yang akan mencoba melukaimu, aku akan membunuhnya, pegang kata-kataku."

Mendengar ucapan Sasuke, tubuh Sakura sedikit merinding, dia tidak mengira kalau Sasuke akan sampai mengucapkan kalimat 'membunuh' itu dengan santai dan seolah tidak ada keraguan untuk melakukannya.

Dalam pelukan kakaknya sendiri, Sakura memejamkan matanya, merasakan pelukan yang entah kapan lagi bisa dia rasakan, tidak ada yang tahu bukan apa yang akan terjadi nanti? Kini Sakura merasa kembali pusing, tubuhnya kembali lemas, namun wanita itu berusaha keras untuk tetap berdiri di dalam pelukan sang kakak juga kekasihnya.

Untuk Neji? Sakura memang berjanji untuk tidak melakukan hubungan sex dengannya, tapi bagaimana dengan Neji? Neji bukanlah tipe laki-laki yang akan menyerahkan wanita yang dicintainya begitu saja, apa yang akan Neji lakukan apabila dia tahu kalau Sakura dan Sasuke sudah melakukan hubungan terlarang yang penuh dosa ini? Dan bagaiman dengan Itachi kalau dia sampai tahu?

Semua hal itu ditepis habis-habisan oleh kedua insan yang sedang saling membersihkan tubuhnya di dalam bathtub dengan riang. Melihat ekspresi wajah Sasuke yang sangat bahagia, ekspresi yang tidak pernah Naruto lihat sama sekali, juga Sakura.

Tuhan, mereka berdua benar-benar saling jatuh cinta.

Sasuke bersyukur bertemu dengan Sakura, Sasuke bersyukur mencintai Sakura, Sasuke bersyukur bisa bersama dengan Sakura, mereka sama-sama bersyukur akan hal itu. Bahkan mereka bingung haruskan bersyukur atau menyesali… bahwa mereka adalah saudara kandung?


A/N : jujur kemampuan saya berfantasy tentang lemon jadi berkurang T_T *ubek2 dvd hentai*

mungkin chapter depan bakalan lebih ekstrim, oh iya, bakal ada abuse dari Sasuek ke Sakura nanti, heheheheheee, ditunggu saja yah.

next chap :

"Sakura, kamu yakin tidak apa-apa? wajamu itu pucat loh."

"Iya Neji-Kun, aku tidak apa-apa, ayo kita pergi, nanti filmnya keburu dimulai."

"Sakura, Apa kau mencintaiku?"

.

.

"Mau menjadi pacarku? aku janji akan menyayangimu."

"Naruto... Kun..."

.

.

"Akhir-akhir ini, Sasuke dan Sakura terlihat aneh, apa di sekolah dia juga begitu?"

"Kamu terlalu banyak pikiran Itachi-Kun, sebaiknya kamu istirahat."

"Terima kasih, Ino."

.

.

"Aku tahu semuanya."

"N-Neji-Kun!"

"Sakura! sadarlah, yang kalian lakukan itu adalah sebuah dosa besar! apa kau ingin Itachi mengetahuinya? orang tuamu sudah tidak ada, bagaimana perasaan Itachi kalau mengetahui bahwa kedua adik kandungnya menjalani hubungan terlarang!"

"Neji-Kun, aku mohon jangan beri tahu siapa-siapa, aku... tidak mau sampai Itachi-Nii baku hantam dengan Sasuke-Kun."

"Kenapa harus baku hantam? Sasuke harusnya mengerti!"

"Tidak... kau tidak mengerti... Sasuke-Kun... dia berbeda, pemikirannya berbeda dari orang-orang normal, karena itu... aku harus ada di sisinya."

.

.

"Aku tidak akan melepaskanmu, kau dengar itu!"

"Ahn~ S-Sasuke-Kuun~"

"Aku akan membunuh siapa saja yang berani menghalangi kita!"

"J-Jangaan! Sasuke-Kun aku mohoon~"

.

.

"kau sudah tahu semua ini, Hinata?"

"Maaf Ino, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu."

"Aku harus beri tahu Itachi-Kun."

"Tunggu Ino! bukan porsi kita untuk memberi tahunya."

"Tidak untukmu, Naruto, tapi aku kekasihnya dan sahabat Sakura, aku tidak menyangka kalian mendukung hal terlarang seperti ini."

.

.

"Bagaimana hasilnya?"

"Adik anda, terkena Leukimia."

no matter how hard we try, they never understand our feelings