My Ego

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M-MA

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD

Waktu berganti begitu cepat, hubungan terlarang kedua adik-kakak ini terbungkus rapi oleh scenario yang diciptakan oleh mereka, bulan demi bulan pun berganti. Setiap Itachi berkunjung kerumah, Sakura maupun Sasuke selalu bisa bersikap biasa, dan Itachi pun tidak menemukan tanda-tanda yang aneh dari mereka.

Hari ini waktu Itachi berkunjung, dan musim dingin pun telah tiba. Ino yang merupakan kekasih Itachi, anak sulung keluarga Uchiha itu selalu menginap saat Itachi berkunjung. Matahari pai di musim dingin tidak terlalu menyilaukan, namun pemilik mata aquamarine ini terbuka pelan bukan karena cahaya yang masuk dari jendela, melainkan dari aktivitas seseorang yang membuatnya terbangun.

"Ngh~ Itachi-Kun… tadi malam kan sudah~"

Itachi yang kini sedang meraba dada Ino hanya menyeringai, diangkatnya tubuh kekasihnya itu dan dibaringkan di atas dadanya, "Aku ingin morning sex."

"Haah? Tapi aku masih mengantuuk~"

"Kalau begitu aku buat kau tidak mengantuk," ucap Itachi yang langsung membaringkan tubuh Ino menjadi dibawahnya.

Itachi langsung melebarkan paha Ino dan mencium daerah sensitive Ino, kemudian perlahan menjilatnya pelan. Karena tadi malam mereka habis bercinta, jadi saat ini Ino tidak mengenakan pakaian dalamnya.

"Ahn~ I-Itachi-Kun~"

Cepat sekali Ino menjadi basah, dan itu membuat Itachi makin menyeringai. Itachi menghentikan jilatannya dan menggantikannya memakai jarinya, dua jari langsung dimasuki dan menggoyangkan didalam kewanitaan Ino, sembari ibu jari Itachi menggoyangkan klitoris Ino.

"Aahhnn! Hyaaa~ I-Ita… chiii~ aaaahhhnnn~~" Ino mendesah hebat saat dia merasakan klimaksnya.

"Hehehe, cepat sekali," ucap Itachi sambil menjilat cairan Ino.

Laki-laki yang kini sudah sukses menjadi dokter di rumh sakit yang baru saja dibangun itu kini memposisikan kejantanannya pada kewanitaan Ino, dengan sekali hentakan, Itachi memaju mundurkan pinggulnya.

"Aaahnn~ ngghh`" desahan Ino membuat Itachi makin tersangsang, Itachi merengkuh wajah Ino dan mencium bibir wanitanya itu.

"Aku mencintaimu," ucap Itachi lembut.

"Ngghh~ aku.. juga mencintaimu~"

.

.

Sakura kini sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Sasuke yang melihat sosok adik kandungnya itu dari belakang jadi ingin sedikit menjahilinya, akhirnya Sasuke mendekati Sakura dan memeluknya dari belakang.

"Selamat pagi" bisik Sasuke.

"Ah.. Sasuke-Nii? jangan memelukku begini, nanti dilihat Itachi-Nii," tegur Sakura dengan suara yang sama berbisiknya.

"Tidak… dia sedang melakukan ritual pagi dengan Yamanaka," jawab Sasuke sambil menciumi leher Sakura.

"Enh~ S-Sasuke-Nii~, aku sedang sibuk…"

"Memangnya aku memintamu untuk berhenti? Kamu lakukan saja kegiatanmu, sedangkan aku melakukan kegiatanku," ujar Sasuke yang kini tangannya membelai kewanitaan Sakura dari luar.

"Ahn! S-Sasuke-Nii! j-jangan~"

"Ssshhh, kamu nikmati saja, ini salam pagi dariku," Sasuke melingkarkan lengan kirinya untuk menahan tubuh Sakura dari belakang, sedangkan tangan kanannya sudah memasuki celana dalam Sakura.

"Ungh~ nnggghhh~ aaahhh~" desah Sakura yang tertahan membuat Sasuke jadi menginginkannya, bisa dibilang ini boomerang bagi Sasuke, yang tadinya ingin menjahili Sakura, sekarang malah dia yang ber ereksi.

Sasuke menempelkan kejantanannya yang sudah menegang pada bokong Sakura, dan itu membuat Sakura tersentak, "S-Sauske-Nii! tidak… aku mohon jangan disini… aaaahhhhh~"

Saat Sakura mendesah kencang karena tusukan jari Sasuke, laki-laki itu menutup mulut Sakura dengan menciumnya, gerakan tangan Sasuke makin cepat.

"Hhhmmm~ nngggg~ ngghhhh~" dalam ciuman pagi yang panas itu, Sakura mengeluarkan cairannya, akhirnya Sasuke melepaskan ciuman dan memberi Sakura oksigen.

Sambil menyeringai dan menjilat cairan adiknya sendiri, Sasuke melepaskan Sakura, "Sarapan yang sangat lezat."

Sakura hanya berusaha berdiri normal sambil kembali memotong bawang yang sempat tertunda itu, "Sasuke-Nii… jahil!"

.

.

Ketika sarapan siap, Itachi dan Ino baru turun dari kamarnya, Sakura melihat perubahan Ino yang sangat drastis, Ino terlihat sangat cantik dan sangat dewasa berjalan di samping kakak sulungnya itu. Saat mereka ber empat berkumpul di meja makan, Sakura membuka pembicaraan.

"Perasaanku saja, atau memang Ino makin cantik yah?"

"Perasaanmu saja," jawab Sasuke datar sambil memakan sarapan keduanya itu.

"Hahaha, iya, hanya perasaanmu saja, Sakura," jawab Ino sambil membetulkan rambutnya yang tergerai kebelakang itu.

"Tidak… Ino memang makin cantk kok," ujar Itachi sambil memainkan rambut Ino.

Terlihat Sasuke membuang mukanya, dia tidak terlalu suka melihat Itachi bermesaan dengan Ino didepannya, itu hanya membuat dirinya makin iri karena tidak bisa melakukan hal itu dengan Sakura kalau ada mereka disini.

"Oh iya, Itachi-Nii selamat yaah, sudah menjadi dokter padahal kuliahmu belum selesai," ucap Sakura.

"Iya, kok bisa sih? Kamu nyogok yah?" tanya Ino.

'Tidak, kebetulan rumah sakit yang kudirikan itu kekuranagn dokter ahli, berhubung aku ahli dalam kanker, makanya aku membantu mereka sampai mereka menemukan dokter yang baru," jawab Itachi.

"Bekerja di tempat yang kita bangun sendiri? Siapa yang menggajimu?" tanya Sasuke.

"Paman Madara, dia banyak membantu dalam pembangunan rumah sakit," Itachi kembali menjawab.

"Waah, apa kabar paman Madara?" kini Sakura yang membuka suara dengan riang.

"Baik, sepertinya tahun depan dia ingin mengunjungi kita," kata Itachi sambil menyeruput kopi yang dituangkan oleh Ino.

"Waah, aku tidak sabar, aku kangen sekali padanya," ucap Sakura riang, saat Sakura mengucapkan kata 'kangen' Sasuke meliriknya dengan sinis, dan hal itu tidak ada yang menydarinya.

Kangen? Itu berarti perasaan ingin bertemu bukan? Dan Sasuke berfikir Sakura ingin bertemu dengan paman mereka? Dan paman mereka itu berjenis kelamin laki-laki… sampai-sampai paman sendiri pun dicemburui oleh Sasuke.

.

.

Selama Itachi berada dirumah, Ino selalu menginap, tapi hari ini adalah hari senin, dan Itachi sudah kembali ke tempatnya, tinggal beberapa bulan lagi kuliah Itachi selesai, dan itu membuat Sasuke bingung, kalau Itachi selesai, sudah pasti Itachi tinggal dirumah, kalau Itachi tinggal dirumah, dia dan Sakura tidak bisa lagi bermesraan maupun melakukan sex.

"Selamat pagiiii."

"Hai, selamat pagiii."

"Aku lihat PR mu doong."

"Aku juga lupa mengerjakannya."

"Kita lihat dia saja yuk."

Itulah percakapan yang terjadi di kelas Sakura yang kini sedang melamun, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa kedua sahabatnya tengah berdiri dihadapannya.

"Sakura?" tegur Hinata.

Hinata dan Ino saling tatap dan kembali menatap Sakura, Ino melambaikan tangannya didepan wajah Sakura, namun Sakura tidak kunjung sadar.

"SAKURA!" kini Ino membentak dan menggoyangkan pundak Sakura.

"Aahh! Ino, a-ada apa?"

"Kamu kenapa? Seperti mayat hidup saja," protes Ino kesal karena sapaannya diabaikan.

"Tidak apa-apa… hanya lemas saja," jawab Sakura lesu.

"Akhir-akhir ini wajahmu pucat, Sakura," ujar Hinata.

"Yaah, mungkin aku kelelahan," Sakura menjawab sambil memijat keningnya, bagaimana tidak lelah, malam hari Sasuke selalu datang menyelinap ke kamarnya dan berakhir dengan mereka yang melakukan sex tengah malam. Bukannya Sakura tidak bisa menolak, hanya saja perlakuan Sasuke pun membuat Sakura bergairah.

"Oh iya, nanti temani aku belanja mau?" tanya Ino.

"Maaf, aku ada janji dengan Neji-Kun, kami mau nonton bioskop," tolak Sakura tersenyum.

"Waah, hubungan kalian sudah lumayan lama yah… ehm, sudah ngapain saja sma Neji, heh, Sakura?" ledek Ino.

"T-Tidak pernah melakukan apa-apa!" jawab Sakura malu-malu.

"Kalau sudah juga tidak apa-apa," kini Hinata yang meledeknya.

"Aahh! Sudahlah kalian, Ino kau urusin saja Itachi-Nii! awas, bisa-bisa kau hamil nanti, dan Hinata, carilah pacar, bisa-bisa kau menjdi perawan tua," ejek Sakura.

Saat Ino dan Hinata akan membalas ucapan Sakura, bel masuk kelas berbunyi, sebelum berangkat sekolah, Sakura sudah memberi tahu Sasuke kalau hari ini dia akan kencan dengan Neji, tentu saja terjadi pertengkaran karena Sasuke tidak mengizinkannya, tapi Sakura merasa dia harus menerima ajakan kencan Neji.

Saat pulang sekolah, Neji dan Sakura berjalan bergandengan tangan menuju bioskop, Neji membelikan tiket untuk mereka, sembari menunggu film dimulai, Sakura mengajak Neji untuk foto box. Terlihat wajah Sakura yang sangat senang, sebenarnya inilah yang Sakura impikan. Berjalan bersama sang kekasih, berpegangan tangan, dan seluruh mata melirik padanya, berfikir betapa mesaranya hubungan mereka.

Jangankan mengajak kencan, bergandengan tangan diluar rumah saja tidak pernah dengan Sasuke. Laki-laki itu benar-benar menjaga citra Sakura, walaupun dia sangat egois, tapi Sasuke tidak mau citra Sakura buruk didepan masyarakat umum. Walaupun bukan rahasia umum lagi bahwa Sasuke sangat overprotektif pada adiknya.

"Sakura," panggil Neji dengan lembut, "Kamu yakin tidak apa-apa? Wajahmu itu pucat loh."

Hal yang sama dipertanyakan oleh Neji berulang-ulang kali, memang hari ini Sakura sedikit berbeda, wajahnya makin pucat dibanding sebelumnya.

"Iya Neji-Kun, aku tidak apa-apa, ayo kita kembali, nanti filmnya keburu dimulai," Sakura menarik lengan Neji dan sedikit berlari.

Saat mereka memasuki gedung bioskop, ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka, sepasang mata yang menatap mereka dengan sangat sinis.

.

.

Naruto berjalan di lorong sekolahnya, dimana semua orang sudah pulang, dia masih harus menetap di sekolah karena harus mengurus klub basketnya, saat dia melewati ruang musik, terdengar dentingan piano yang indah, maka Naruto memutuskan untuk mengintip, siapa yang memainkan piano begitu indah.

"Hinata…?"

Melihat sosok Hinata, Naruto pun langsung menggeser pintu tersebut, dan merasa ada yang masuk, Hinata menghentikan permainannya.

"Kenapa berhenti? Teruskan saja," ucap Naruto sambil menarik bangku dan duduk disamping piano.

"N-Naruto-Kun, belum pulang?" tanya Hinata sambil memijat salah satu tuts piano.

"Belum, tadi aku menyelesaikan urusan di klub, tapi sekarang sudah selesai, kau sendiri?"

"Belum, aku memang suka berada disini kalau pulang sekolah, memainkan piano sendiri."

"Kau berbakat sekali yah, permainanmu sangat indah."

"T-Terima kasih," ucap Hinata menundukkan kepalanya.

Naruto memandangi wajah Hinata, entah sejak kapan laki-laki itu mengagumi sosok dihadapannya ini, begitu cantik dan anggun.

"Hinata," panggil Naruto lembut, Hinata menoleh dan menjawab sekedarnya sambil tersenyum, "Hm?"

Dengan gugup, Naruto memegang tangan gadis itu, "mau menjadi pacarku?"

Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali, entah lambat mencerna kalimat Naruto, atau dia terlalu shock?

"Eeehhh?"

"Telat," dengus Naruto pelan.

"N-Naruto-Kun… k-kenapa tiba-tiba?"

"Aku janji akan menyayangimu," ucap Naruto sambil memainkan rambut panjang gadis itu.

"N-Naruto… kun… "

.

.

Selesainya kencan Sakura dan Neji, saat perjalanan pulang, tiba-tiba langkah mereka terhenti, mata Sakura terbelalak lebar ketika melihat siapa yang menghadang perjalanannya, sedangkan Neji masih santai dengan lengan yang melingkar di pinggang Sakura.

"S-Sasuke-Nii…"

Sasuke, orang yang menghadang mereka kini berjalan menghampiri Sakura, saat jarak mereka sudah sangat dekat, Sasuke menepis lengan Neji dari pinggang Sakura da menarik Sakura. Melihat Sakura sedang memegang sebuat kertas foto, Sasuke mengambilnya. Dilihatnya foto box Sakura dan Neji barusan, mata Sasuke melotot.

Sasuke meremas foto yang ternyata Sakura sedang dicium Neji tepat dimulutnya itu, setelah foto itu rusak, Sasuke melemparkannya kearah wajah Neji.

"Jauhi Sakura," ucap ketus Sasuke.

"S-Sasuke-"

"Aku pacarnya, maaf kalau tidak sopan, tapi disini posisinya, kau duluan yang mencari gara-gara denganku," ucap Neji berusaha menarik lengan Sakura.

Namun tangan Neji langsung ditepis kembali oleh Sasuke, karena Neji ahli dalam karate begitu pula Sasuke, kini mereka saling menepis satu sama lain, sampai Sakura memisahkan mereka.

"H-Hentikan… a-aku akan pulang, Sasuke-Nii… Neji-Kun, kita bertemu disekolah besok, yah?" ucap Sakura dengan tatapan penuh memohon pada Neji.

Sakura tahu, kalau ini dibiarkan, bisa-bisa Neji dibunuh oleh kakaknya itu.

Neji terdiam, sebenarnya ingin sekali Neji membawa Sakura kabur dari tempat ini, tapi melihat Sasuke yang adalah kakak kandungnya, sudah jelas posisi Neji kalah telak disini, "Baiklah, sampai besok."

Sasuke menarik Sakura dengan kasar, Neji melihat perlakuan Sasuke tidak wajar, kenapa dia bisa semarah itu? Neji tahu betul kalau Sasuke overprotektif, tapi saat Neji melihat ekspresi Sasuke tadi saat melihat foto box itu, Neji merasa ada yang tidak wajar.

Apakah Sasuke tidak punya urusan pribadi? Sampai-sampai urusan Sakura diikut campur olehnya? Kenapa Sasuke bisa berada disini? Kenapa ekspresi Sasuke tidak terkejut melihat Sakura dan dirinya sedang kencan? Kalau tidak Sasuke sudah menguntit mereka dari awal.

Neji mengambil satu kesimpulan… kesimpulan gila yang dirinya juga sebenarnya tidak mau mempunyai pikiran seperti itu, "Tidak mungkin… hal itu sangat terlarang… tidak mungkin Sakura membiarkannya."

Sasuke menyeret Sakura dan mendudukinya diatas motornya, dalam perjalanan pulang Sasuke sangat ngebut, sehingga Sakura mengencangkan pegangannya pada pinggang Sasuke. Sesampianya dirumah, Sakura yang masih diatas motor langsung diangkut oleh Sasuke.

"Kyaaa! S-Sasuke-Nii!"

Sesampainya dikamar Sasuke, Sakura dihempaskan ke kasur dan Sasuke mengunci tubuh adiknya itu dengan kedua lengan yang menghalangi tubuh Sakura.

"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu saat kita sedang berdua," ucapan Sasuke yang terdengar kini begitu dingin, ekspresi Sasuke pun sangat dingin sehingga membuat Sakura sedikit takut.

"Apa perlu… dia kusingkirkan agar-"

"Sasuke-Kun!" Sakura memotong, "Maafkan aku… maafkan aku, jangan bertindak yang aneh-aneh, aku mohon."

"Kau…" Sasuke memandang Sakura dengan tatapan kesal, "mengkhawatirkanku atau dirinya?"

Melihat ekspresi Sasuke yang makin gelap, Sakura menelan ludahnya sendiri, tidak pernah dia melihat sosok Sasuke yang begitu dingin seperti saat ini.

"S-Sasuke-Kun… aku…" dengan ragu, Sakura ingin menyentuh wajah kakaknya itu. Tapi Sasuke menggenggam tangan Sakura dan dicengkram kencang lalu dibanting kembali menempel pada kasur.

"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja? Hah? Melihatmu berciuman mesra… apa kau menikmatinya? Apa kau mencintainya?"

"Sasuke-Kun! Hentikan!" Sakura meronta ketika Sasuke mencoba akan menciumnya.

Sasuke terdiam, sedikit shock karena Sakura tiba-tiba menolaknya, "Kau… menolakku?"

Sakura sendiri kaget, kenapa dia bisa menolak Sasuke, bukannya ingin menolak, hanya saja Sakura tidak ingin berciuman dengan Sasuke yang kini tengah diselimuti oleh rasa cemburu.

"Kau… harus dihukum!" geram Sasuke.

Sasuke membuka seragam Sakura dengan paksa sehingga bra Sakura pun terlepas, dan langsung di-emut salah satu puting Sakura.
"Aaaahhh! S-Sasuke-Kuun! Tidaaak, jangaaan!" ronta Sakura.

Karena rontaan Sakura yang lumayan kuat, Sasuke makin merasa kalau dirinya ditolak, kesal dapat penolakan dari wanita yang sangat dicintainya itu, Sasuke hilang kendali.

PLAAK.

Sakura menghentikan rontaannya.

Sasuke pun menghentikan aksinya,

Hanya ada diam yang menyelimuti suasana itu, Sasuke yang baru saja menampar pipi Sakura dengan sangat keras, sehingga menimbulkan darah yang mengalir di bibir Sakura. Melihat darah itu, Sasuke panik dan membelai pipi Sakura.

"Sakura… Sakura… maafkan aku…"

Ekspresi Sakura tidak berubah, masih dengan ekspresi kagetnya yang juga tidak memandang sosok Sasuke yang kini sedang berada diatasnya, Sasuke menyeka darah itu dan menciumi bibir Sakura dengan lembut.

"Maafkan aku, aku mohon~" sambil memeluk Sakura, Sasuke memohon dan bisa Sakura rasakan tangan Sasuke yang memeluknya itu gemetar, Sasuke benar-benar menyesal telah menampar Sakura begitu kerasnya.

Sakura hanya diam tidak menjawab apa-apa tapi tangannya melingkar ditubuh Sasuke yang masih memeluknya itu, pikiran Sakura mulai bimbang, apakah Sakura akan bahagia bila bersama dengan Sasuke? Sepertinya dia akan lebih bahagia kalau bersama dengan Neji.

Neji tidak pernah memukulnya, bisa memperlakukannya dengan mesra selayaknya sepasang kekasih di depan umum, cemburu pun masih berda di dalam batasnya. Tapi Sasuke… selalu main kasar padanya, sedikit-sedikit mengancam membunuh.

Neji cinta pertam Sakura, sedangkan Sasuke cinta baru bagi Sakura. Wanita itu mencintai kedua laki-laki ini, egois bukan? Tapi bagaimana pun juga, Sakura harus memilih satu, walaupun akan menyakitkan, Sakura harus memilih.

.

.

Seminggu berlalu setelah kejadian itu, hari dimana Itachi berkunjung kembali tiba. Saat makan malam, Itachi menyadari ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ya, dan itu adalah sikap Sakura, setiap Itachi datang, Sakura pasti akan selalu ceria, namun saat ini kelakuan Sakura sangat mencurigakan.

Tidak banyak bicara di meja makan, saat membereskan meja makan pun tidak bercerita apa-apa, biasanya Sakura selalu cerita tentang kehidupan sehati-harinya, dan beradu mulut sebentar dengan Sasuke.

Sasuke pun terlihat aneh, Itachi sadari dari tadi Sasuke selalu melirik Sakura dengan tatapan seolah ingin mengatakan sesuatu yang tertahan.

"Aneh."

"Hah?" wanita berambut pirang yang kini sedang mempoles kuku kakinya itu menoleh pada sumber suara di sampingnya.

"Apa kau tidak merasakan suatu keanehan?"

"Apa maksudmu, Itachi-Kun?" tanya Ino sambil menutup botol kecil berwarna pink, "Kau terlalu lelah dan banyak pikiran tentang pasien-pasienmu."

"Sakura dan Sasuke terlihat aneh… apa di sekolah mereka juga begitu?"

"Tidak, kau lelah, makanya pikiranmu jadi kemana-mana," ucap Ino membenarkan posisinya kini menaiki kasur dan bersender, "Rebahkan kepalamu di sini," lanjutnya sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri untuk dijadikan bantal oleh Itachi, "Sebaiknya kau istirahat."

Itachi tersenyum dan menuruti ucapan Ino, "Terima kasih, Ino."

Pagi telah tiba, Ino sengaja untuk bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan ringan seperti roti sandwich dan teh hangat, saat dia melihat sosok Sasuke yang turun dari tangga, Ino menyapanya.

"Selamat pagi, Sasuke."

Sasuke tidak menanggapinya, dia hanya mengangguk kecil dan duduk salah satu kursi, "… Sakura…"

"Belum bangun, aku sengaja membuatkan kalian sarapan," jawab Ino.

Tidak lama kemudian Itachi dan Sakura muncul bersamaan, melihat Ino yang sudah bangun dan menyiapkan sarapan, Itachi tersenyum dan menghampiri kekasihnya itu, mencium keningnya dan memeluknya, "Kau bisa jadi istri yang hebat."

Mendengar kata 'istri' terucap dari mulut Itachi, wajah Ino langsung merona. Sasuke yang melihat adegan itu hanya bisa memutar kedua bola matanya. Bertatap muka lah, Sasuke dan Sakura sekarang.

"Pagi, Sasuke-Nii," sapa Sakura lembut.

"Ah, p-pagi," Sasuke menjawab dengan kikuk.

"Aku mau tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua? Seperti perang dingin," tanya Itachi menempatkan posisinya duduk diseberang Sasuke.

"Tidak ada apa-apa, Itachi-Nii terlalu khawatir, iya kan Sasuke-Nii," jawab Sakura dengan nada yang di paksakan agar terdengar riang.

"Oh iya, apa rencanamu hari ini, Sakura? Bagaimana kalau kita berempat jalan-jalan?" tanya dan usul Itachi.

"Wah, ide bagus, aku mau, sekalian ajak Hinata saja," jawab Ino.

"Ehm, maaf… hari ini aku ada janji," ucap Sakura dengan wajah yang sungkan.

"Dengan Neji yaaah~" ejek Ino.

Mata Sasuke langsung melirik Sakura dengan sinis, apalagi saat Sakura menjawab.

"Iya, aku ada urusan sebentar, ingin menyelesaikan sesuatu dengan Neji."

"Oh yasudah, kalau begitu kita berdua saja," kata Itachi tanpa mengajak Sasuke, karena dia sudah tahu Sasuke tidak akan mau diajak kalau hanya bertiga.

"Ng, maaf yah, padahal Itachi-Nii sudah mengajak," ucap Sakura dengan nada sedih.

"Heii, tidak apa-apa, masih ada lain waktu," ujar Itachi.

"Kalau begitu aku siap-siap dulu yah," Sakura beranjak setelah memakan sandwich dan meminum tehnya.

Sasuke menatap sosok Sakura yang berlari kecil menuju kamarnya, dalam hati dia bertanya-tanya, urusan apa yang harus diselesaikan dengan Neji? Kenapa tidak ada diskusi dengannya sama sekali? Dan kenapa pagi ini sepertinya Sakura jadi sedikit lebih ramah padanya?

.

.

Sesudah Sakura siap-siap, dia bercermin didepan kaca lemarinya, menatap dirinya dengan tatapan datar, "Apapun keputusanku, sepertinya akan berakhir sama saja."

Sakura menghela nafas dan mengambil tas kecilnya, dia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu luar, sebelum Sakura membuka pintu, Sasuke mencegatnya, menggenggam lengan Sakura namun tidak dengan kekerasan.

"Jangan pulang larut," ucap Sasuke lembut.

Sakura menoleh, awalnya Sakura memasang wajah bingung, ketika melihat tersirat kekhawatiran diraut wajah kakaknya itu, Sakura tersenyum lembut, "Aku akan datang membawa kabar gembira."

Setelah itu Sakura berlalu meninggalkan Sasuke yang masih berdiri diam karena mencerna kata-kata Sakura tadi.

"Apa maksudnya?"

Sakura berjalan ke taman dekat sekolahannya, dilihat ada sosok Neji yang kini sedang duduk dibangku taman, Sakura menatapnya dari kejauhan, dia mengingat betapa dulu dia mengidolakan Neji sebelum mereka kenal. Saat Hinata menjenguk Neji yang sedang latihan, Sakura selalu minta ikut.

Sampai mereka menjadi sepasang kekasih, Sakura masih tidak percaya, bahwa laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu memintanya untuk menjalani hubungan. Sakura tersenyum ketika mengingat bagaimana caranya mengidolakan Neji, membicarakan Neji sepanjang hari dengan Hinata dan Ino, berdebar-debar saat disapa Neji pagi hari.

Tapi semua berubah.

Sasuke Uchiha, kakak kandungnya berhasil membuat Sakura jatuh cinta padanya. Kasihan? Bukan, Sakura merasa ini bukan rasa kasihan, Sakura benar-benar mencintai kakaknya itu, dia rela memberikan kesuciannya saat sex kedua mereka, karena saat pertma kali, Sasuke lah yang memaksanya.

Setelah Sakura melewati malam itu, Sakura merasa sangat nyaman bersama Sasuke, Sasuke selalu melindunginya dari dulu, walaupun Sasuke emang kasar, Sakura akan mengubahnya, Sakura rela memutuskan hubungan dengan teman laki-lakinya agar Sasuke tidak merasa cemburu, sudah cukup Sakura membuat Sasuke cemburu seumur hidupnya.

Makanya… hari ini… Sakura ingin membuat Sasuke bahagia, walaupun dia harus mengorbankan cinta pertamanya.

"Neji-Kun," panggil Sakura.

"Duduklah," ucap Neji menggenggam tangan Sakura.

Sakura duduk disamping Neji, laki-laki itu melihat wajah Sakura yang penuh dengan ketenangan.

"Sepertinya keputusanmu benar-benar sudah bulat yah?" tanya Neji tiba-tiba, "Mengirimku pesan yang isinya minta putus tadi malam benar-benar membuatku kaget."

"Ng, maafkan aku."

Neji menatap pilu wajah Sakura yang kini sedang menunduk kebawah, "aku sudah tahu."

"Eh?"

"Aku tahu semuanya, Sakura!" nada Neji makin menaik.

"N-Neji-Kun…"

"Sakura! sadarlah, yang kalian lakukan itu adalah sebuah dosa besar! apa kau ingin Itachi mengetahuinya? orang tuamu sudah tidak ada, bagaimana perasaan Itachi kalau mengetahui bahwa kedua adik kandungnya menjalani hubungan terlarang!" dan akhirnya Neji membentak Sakura.

Mata Sakura terbelalak, dia tidak menyangka kalau Neji bisa mencium rahasia Sakura yang dia kubur dalam-dalam itu.

"Neji-Kun, aku mohon jangan beri tahu siapa-siapa, aku... tidak mau sampai Itachi-Nii baku hantam dengan Sasuke-Kun," pinta Sakura panik.

"Sasuke-Kun? Sejak kapan kau memanggil dia sepeti itu?" terdengar dengusan pelan dari sela-sela kalimat itu, "Dan kenapa harus baku hantam? Sasuke harusnya mengerti!"

"Tidak... kau tidak mengerti... Sasuke-Kun... dia berbeda, pemikirannya berbeda dari orang-orang normal, karena itu... aku harus ada di sisinya… Neji-Kun… maafkan aku, kita harus berpisah," ucap Sakura yang kini sudah menangis.

"Kau bohong… kau tidak benar-benar ingin pisah kan?" tanya Neji melembut pada Sakura, "Kita cari jalan keluarnya bersama."

Sakura makin menangis, dia tidak menyangka kalau Neji akan sebaik ini, dia sudah menyakiti hati Neji, mengkhianati hati Neji, "Aku serius," jawab Sakura.

"Kalau begitu tatap aku," pinta Neji, "Tatap aku dan katakan kalau kau membenciku."

Sakura terdiam, mana mungkin Sakura bisa melakukan itu, tapi tiba-tiba tersirat bayangan wajah Sasuke yang sedang memeluknya dengan wajah gembira saat Sakura memberi kabar bahwa dirinya dan Neji sudah berakhir. Sakura ingin melihat ekspresi itu, tapi dia juga tidak bisa menyakiti Neji.

Kembali lagi… Sakura harus memilih.

Sakura mendongkan kepalanya, dengan lirih dan pilu Sakura berucap, "Aku membencimu."

Melihat wajah Sakura yang sangat pilu, Neji langsung menciumnya, ciuman yang agresif namun begitu lembut, sama seperti ciuman Sasuke saat mereka melakukan sex. Saat Neji melepaskan ciumannya, Neji tersenyum pada Sakura, "ini ciuman terakhir untukmu," ucap Neji berdiri, meninggalkan Sakura sendiri di taman itu.

Sakura makin menangis, sendiri dan terhisak. Menahan tangisnya agar tidak mengencang. Entah Sakura akan menyesalinya atau tidak, yang jelas satu yang ingin Sakura mau, yaitu Sasuke. Dia ingin Sasuke memeluknya di saat seperti ini, karena itu Sakura langsung berlari dengan air mata yang masih memendung matanya.

.

.

Sasuke baru saja mandi, dengan memakai kaos hitam dan celana pendek serta handuk yang menggantung di lehernya, Sasuke menuju dapur untuk mengambil minuman, saat Sasuke akan meneguk botol minuman, dia mendengar pagar rumahnya terbuka dan suara langkah kaki.

Pintu pun terbuka dan tertutup dengan kencang, penasaran siapa yang datang, Sasuke mengecek. Matanya terbelalak ketika melihat wajah Sakura yang berantakan karena menangis.

Sasuke berlari dan memegang pundak dan pipi Sakura, "Sakura? Ada apa? Kenapa menangis? Siapa yang menyakitimu! Katakan padaku!"

Sakura menggelengkan kepalanya dan memeluk tubuh Sasuke, tangisannya makin mengencang, Sakura belum pernah menyakiti orang sebelumnya, inikah yang dinamakan patah hati karena melukai seseorang yang mencintai kita dengan tulus?

"Sakura?" panggilan Sasuke melembut, dia juga membelai rambut Sakura dengan pelan.

Sasuke membiarkan Sakura menangis dipelukannya sampai adiknya itu puas, entah apa yang terjadi dengan adiknya itu, sebelum berangkat Sakura memberikan senyuman pada Sasuke dan mengatakan akan ada kabar gembira untuknya, apakah kabar gembira yang dimaksud adalah kepulangannya dengan kondisi ini? Kalau iya… itu sama sekali tidak bisa dibilang kabar gembira sama sekali.

Sasuke membuatkan Sakura teh hangat agar sesungukannya itu hilang, saat dia merasa Sakura sudah lebih tenang, barulah dia bertanya, "Ceritakan padaku, apa yang terjadi?"

Sebelum Sakura bercerita, dia bertanya, "Itachi-Nii?"

"Ah, tadi dia menelepon, katanya dia tidak kembali kesini, dia langsung pulang," jawab Sasuke.

Sakura mengangguk kecil, kemudian menggenggam cangkir yang sudah berada ditangannya itu, "Aku… sudah putus dengan Neji."

Sasuke langsung menoleh dan menatap Sakura dengan intens, memastikan bahwa apa yang diucapkannya itu bukanlah suatu kebohongan belaka.

"Tapi dia tahu tentang kita… aku takut… takut dia akan mengatakannya pada Itachi-Nii, Sasuke-Kun… aku harus bagaimana? Aku.. menyakitinya… dia tulus mencintaiku dan aku menyakitinya… mengkhianatinya…"

"Apa dia mengancammu?" tanya Sasuek sambil menenangkan Sakura.

"Tidak, hanya saja… hatiku sangat perih… melihat dia yang sudah kusakiti… hatiku sakit~"

Inilah salah satu yang Sasuke suka dari Sakura, anak ini terlalu baik, bahkan dia menangis seperti ini karena merasa menyakiti Neji? Bahkan Sasuke tidak pernah mengalami perasaan itu pad wanita-wanita yang dulu diperalat olehnya.

"Kau… mencintainya yah?" tanya Sasuke ragu.

Sakura tersentak mendengar pertanyaan Sasuke, dia tidak menjawab, Sasuke makin yakin, dengan diamnya Sakura seperti ini, dia yakin bahwa Sakura juga mencintai Neji.

"Sebaiknya kita istirahat, walaupun masih sore, kau butuh istirahat supaya besok segar," Sasuke berucap sambil menepuk ujung kepala Sakura, dan Sakura hanya mengangguk lemah.

.

.

Di sekolah, Sakura berangkat bersama Sasuke, pelajaran pertama dilewati dengan mulus tanpa pertanyaan yang terlontar oleh Hinata, mungkin Neji tidak cerita pada sepupunya itu, saat jam istirahat, Sakura, Hinata dan Ino berjalan menuju atap sekolah untuk memakan bekal bersama.

"Hinata, aku dengar kau jadian dengan Naruto?" tanya Ino.

"Ehm… i-iya," jawab Hinata malu-malu.

"waah, selamat yah, semoga kau bahagia bersamanya," ucap Sakura.

"Hinata-chaan," panggil seseorang dengan nada riang dari belakang, dan kita semua sudah tahu, suara siapa itu.

"N-Naruto-Kun…"

"Mau kemana?"

"Keatap, mau ikut?"

"Eh? Bolehkah?"

"Tentu saja boleh," Sakura yang menjawab.

"Ah, Sakura-Chan… Teme tadi aneh sekali, ekspresi datarnya lebih menyeramkan dibanding kemarin-kemarin, kau tahu kenapa?"

"Tidak tahu, memangnya ada apa?"

"Eh! Kita ke lapangan basket yuk! Katanya Sasuke-Senpai berkelahi dengan Neji-San loh."

"Ah yang benar? Kira-kira siapa yang menang yah?"
"Sudah pasti Neji-San, dia kan juara karate nasional!"

"Posisinya Neji-San yang menghampiri Sasuke-Senpai."

"Wah, berani sekali."

Mata Sakura terbelalak mendengar percakapan beberapa murid yang lewati melintasi dirinya itu.

"Sakura! Ayo kita kesana," ajak Ino.

Mereka berempat berlari menuju klub karate, dan benar saja, pintu ruangan itu sudah penuh dengan murid-murid yang melihat adegan berkelahi antara Sasuke dan Neji.

"Permisi, permisi… adik Sasuke Uchiha mau lewat," ucap Ino agar mereka menyingkir.

Setelah berhasil memasuki lapangan itu, Sakura melihat keadaan mereka yang sudah babak belur satu sama lain, kekuatan mereka seimbang, namun ada satu hal yang Sakura sadari, Neji… tidak akan bisa menang dari Sasuke. Mata Sasuke terlihat sangat menyeramkan saat ini.

Saat Sasuke akan menghajar Neji lagi, Sakura berteriak, "Sasuke-Nii! hentikan!"

Pukulannya terhenti, Sasuke maupun Neji menoleh pada sosok Sakura.

"Apa-apaan kalian! Kenapa harus berkelahi sih!" tegur Ino.

"Sasuke-Nii, ada apa ini?" tanya Sakura lembut pada kakaknya.

"Dia… menantangku," ucap Sasuke dengan wajah merendahkan sosok Neji, "Katanya, kalau aku kalah, aku harus melepaskanmu."

"Apa? Sasuke! Kau juga keterlaluan, kalau kau begitu terus, Sakura tidak akan bisa menikah!" tegur Ino kembali.

"Heh, biar saja, itu yang kuharapkan, karena Sakura akan menikah denganku," ucap Sasuke dengan wajah yang masih sama dinginya, bahkan Ino tidak sanggup menatap matanya langsung.

Entah bisa dibilang sinting atau apa, Sakura merasa senang Sasuke mengatakan hal itu di depan umum seperti ini, walaupun jadi tercipta omongan yang tidak enak di dengar.

"Hah? Menikah?"

"Sesama saudara kandung?"

"O-Oi… Teme."

"Kau sinting, Uchiha… bebaskan Sakura! Biarkan dia yang memilih jalan hidupnya!" bentak Neji.

"Membebaskannya, eh?" Sasuke menyeringai, kemudian dia menarik wajah Sakura dan menciumnya di depan umum, jelas saja tercipta teriakan tidak rela dari fans Sasuke.

Sambil menatap mata Sakura, Sasuke melepaskan ciumannya dan berkata lantang, "Aku tidak akan melepaskanmu, kau dengar itu!" kemudian Sasuke menjilat telinga Sakura.

"Ahn~ S-Sasuke-Kuun~" desah Sakura yang sangat pelan.

"Aku…" Sasuke kembali menatap Neji, "akan membunuh siapa saja yang berani menghalangi kita!"

Sasuke berdiri meninggalkan Sakura dan menghampiri Neji, Sakura sangat panik, tidak ada yang berani menghentikn tindakan Sasuke saat ini, bahkan Naruto sekali pun.

"Naruto-Kun… tolong Neji," pinta Hinata.

"Maaf Hinata-Chan… Teme yang seperti ini… aku tidak berani mendekatinya," ujar Naruto dengan mata yang masih terbelalak, dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu sudah benar-benar menjadi gila.

"J-Jangaan! Sasuke-Kun aku mohoon~" Sakura berusaha bangkit dan mencoba meraih tubuh Sasuke, namun tiba-tiba pandangannya gelap, dan tubuhnya terjatuh tidak sadarkan diri.

"SAKURAA!" jerit Ino.

Jeritan Ino membuat Sasuke kembali ke alam sadarnya, tubuh Sasuke langsung membalik dan menggendong Sakura.

"Bawa keruang kesehatan," usul Ino.

"Gurunya sedang cuti!" Hinata menginformasikan.

"Langsung kerumah sakit saja, Teme!" usul Naruto.

Sasuke mengangguk dan membawa Sakura pergi dari situ, sebelum benar-benar meninggalkan mereka, Sasuke menghentikan langkahnya, "Kalian tidak usah ikut, tunggu kabar dariku saja."

Entah kenapa rasanya saat ini lebih baik menuruti perintah Sasuke dari pada harus berakhir dirumah sakit, tanpa memperdulikan suara gemuruh dari seluruh murid yang menonton adegan tadi, Ino menyeret Hinata dan Naruto, meninggalkan Neji yang kini wajahnya memucat.

"Kau sudah tahu semua ini, Hinata?" tanya Ino melipat kedua lengannya.

"Maaf Ino, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu."

"Aku harus beri tahu Itachi-Kun," ucap Ino mengambil hp-nya.

"Tunggu Ino! bukan porsi kita untuk memberi tahunya," cegah Naruto menggenggam lengan Ino saat akan menekan tombol di hp-nya.

"Tidak untukmu, Naruto, tapi aku kekasihnya dan sahabat Sakura, aku tidak menyangka kalian mendukung hal terlarang seperti ini… kalian sama gilanya dengan Sasuke," cetus Ino.

.

.

Sasuke menunggu kedatangan dokter dengan cemas, apa yang terjadi sebenarnya dengan Sakura? Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan? Karena seingatnya tadi pagi Sakura sudah sarapand engan benar bersamanya. Saat Sasuke memijat keningnya, dia mendengar suara pintu terbuka, dan keluarlah sosok dokter.

"Bagaimana hasil pemeriksaanya?" tanya Sasuke.

"Adik anda, terserang Leukimia," jawab sang dokter dengan sedikit ragu.

Mata Sasuke terbelalak, tubuhnya tersentak… mendengar kabar yang sangat buruk seumur hidupnya.

"B-Bagaimana bisa? Stadium?"

"Dua hampir ketiga," jawab sang dokter lagi.

"APA! K-kenapa… ah!" tiba-tiba Sasuke teringat akan sesatu yang mengganjal pada diri Sakura, kenapa wajahnya selalu pucat, kenapa tubuhnya selalu lemas, bahkan saat bercinta pun Sakura lelahnya berlebihan.

"Kenapa aku tidak menyadarinya?" gumam Sasuke.

to be continued


A/N : Haaaii, maaf yah saya lama updatenya, kalian tahu kan saya sudah kerja sekarang, hehehee..

Langsung saja yah ke next chapternya :

"APA! Sakura Leukimia? Aku segera kesana!"

.

.

"Bukan salah Sasuke-Kun, salahku juga yang tidak bisa memperhatikan kondisi diri sendiri."

"Maafkan aku~ aku akan melakukan apa saja untukmu… tapi kumohon… sembuhlah~ jangan tinggalkan aku~"

.

.

"Kau memang bajingan! Adik kita itu bukan untuk dikencani! Tapi untuk dijaga! Sasuke, kau gila!"

"Terserah kakak mau bilang apa, aku tetap akan mencintai Uchiha Sakura!"

.

.

"Nee, Neji-Kun… mau memaafkanku?"

"Pasti… cepatlah sembuh, Sakura~"

"Neji-Kun… menangis bukanlah imej yang pas untukmu."

.

.

"Sakura-Chan mencintai Neji dan Sasuke, itu adalah ego nya, Sasuke mencintai adik kandungnya sendiri, tidak memperdulikan perasan orang sekitarnya dan ingin memilikinya sendiri, itu adalah ego Sasuke, Neji masih terus berjuang mendapatkan Sakura, meskipun dia tahu bahwa Sakura kini mencintai Sasuke, itu adalah ego nya Neji."

"Ng, Masing-masing mempunyai ego yang sulit untuk dikendalikan."

.

.

"Paman Madara, ada apa?"

"Aku minta kau ikut denganku, Sasuke."

"Hah? Kemana?"

"London, tolong pegang salah satu perusahaan yang ayah kalian tinggalkan, aku tidak sanggup mengelolanya sendirian."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Sakura yang sedang sakit!"

.

.

"Ah, maaf… anda tidak boleh menjenguknya."

"Kenapa? Aku kakak kandungnya! Siapa yang berani memberi perintah begitu?"

"Aku!"