My Ego

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M-MA

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD

Langkah lari yang semakin lama makin cepat, Sasuke dan Ino seolah saling balapan untuk sampai di ruang Sakura berada. Saat mereka sampai, terlihat Itachi yang sedang menyenderkan keningnya di tembok. Kali ini Ino merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.

"Itachi kun?" panggil Ino dengan lembut sambil menyentuh bahu kekasihnya itu.

"Kak, Sakura…"

Itachi hanya diam, bagaimana dia harus menjelaskan pada mereka? Bahwa saat ini Sakura benar-benar membutuhkan donor sumsum tulang secepatnya. Itachi menatap miris pada Sasuke, saat melihat tatapan kakaknya, Sasuke bisa merasakan betapa bahayanya kondisi Sakura saat ini.

"Ada apa kak? Jelaskan padaku!"

Belum sempat menjelaskan, dokter yang menangani Sakura saat ini keluar dengan wajah panik, "Kondisinya kritis, darah merahnya terus berkurang, kita harus segera melakukan operasi."

Itachi menggeram, "Golongan darahku menurun dari ayah, sedangkan Sakura dari ibu! Aku tidak bisa memberikan darahku!"

"Pakai darahku, golongan darahku sama dengannya." Ujar Sasuke menjulurkan tangannya pada dokter.

"Resikonya sangat tinggi, apa kau siap?"

"Apapun resikonya, aku sangat siap, asal Sakura selamat."

"Sasuke…" entah mengapa sekarang Itachi merasa ingin mengutuk dirinya sendiri, baru tadi dia malarang Sasuke untuk menjenguknya, sekarang Sasuke merelakan sebagian darahnya untuk menyelamatkan Sakura, dia merasa tidak becus, kakak macam apa dirinya ini.

"Sasuke, berjuanglah," uacp Itachi menepuk pundak Sasuke.

Sasuke mengangguk dan mengikuti langkah sang dokter yang akan segera menjalankan operasi. Saat berada di dalam ruangan, Sasuke mengenakan baju khusus untuk operasi, di lihat tubuh Sakura yang sedang tertidur karena obat bius berada di samping Sasuke. Sasuke tersenyum dan berusaha menggapai tangan adiknya itu. Tapi posisi mereka walaupun bersampingan, tangan Sasuke tidak sampai untuk menggapainya. Wajah Sasuke berubah, ekspresinya kini menjadi datar.

Sekilas terulang kembali masa-masa di saat Sasuke menyakiti Sakura, saat pertama kali Sasuke memperkosanya, Sasuke sangat ingat bagaimana ekspresi Sakura saat itu. Sakura yang terus menerus menangis dan memohon agar dia berhenti untuk melakukan tindakan nista itu.

Saat Sasuke menamparnya karena ke egoisan untuk memilikinya, dan rasa cemburu yang berlebihan pada laki-laki yang mendekati Sakura, khususnya Neji… cinta pertama Sakura. Sekarang Sasuke kembali menatap wajah Sakura yang seolah tidur dengan tenang.

Air mata pun terjatuh begitu saja dari mata onyx-nya, bagaimana bisa adik yang paling dia cintai itu bisa terserang penyakit mematikan begini? Dan bagaimana bisa juga dia tidak menyadarinya? Saat ini Sasuke berharap agar waktu bisa terulang kembali, supaya dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang mutlak di buat oleh dirinya sendiri.

Salah satu suster mulai menyuntikan obat bius pada Sasuke, perlahan matanya mulai tertutup, mulai tertutup, dan sepenuhnya tertutup.

"Maafkan aku, Sakura… karena ke egoisanku, kamu menjadi menderita seperti ini… aku janji, kalau kamu sembuh nanti… aku akan membebaskanmu."

.

.

.

Itachi terus-terusan mondar-mandir di depan ruang operasi, di temani oleh kekasihnya Ino yang kini duduk dan terus berdoa. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang, berharap Tuhan yang selama ini mereka lupakan mendengar doa –nya.

Tiba-tiba langkah Itachi terhenti, Ino yang tidak mendengar suara langkah itu lagi pun membuka matanya. Ternyata penyebab langkah Itachi terhenti adalah kedatangan pamannya.

"Paman," Itachi sedikit membungkuk, di ikuti oleh Ino yang berdiri dan mulai membungkuk.

Itachi memulai pembicaraan, "Sepertinya Sasuke tidak bisa memegang perusahaan yang di London, maafkan aku paman sudah merepotkanmu dengan memintamu bersandiwara."

Madara tersenyum dan menepuk kepala Itachi, "Tidak apa-apa Itachi, aku tidak terlalu mau tahu apa permalasahan kalian, pesanku hanya satu… jagalah hubungan kalian baik-baik, kalian hanya bertiga sekarang."

Sambil memejamkan matanya Itachi kembali membungkuk, "Ya, Terima kasih."

"Jadi… bagaimana? Mereka sedang bertarung melawan takdir?" ucap Madara.

"Ya, mereka masih menjlani operasinya."

"Aku harap operasinya berjalan dengan lancar," gumam Madara, "Itachi, kalau ada apa-apa, katakan saja padaku, saat ini aku masih ada urusan, bisa aku tinggal dulu?"

"Ah, iya silahkan, maaf sudah membuatmu repot."

"Tidak apa, jangan sungkan, kalian bertiga sudah kuanggap seperti anakku sendiri," jawab Madara tersenyum, "Dan kamu, nona," Madara menatap Ino, "Tolong jaga Itachi yah."

"Ah, i-iya paman," jawab Ino gugup.

"Baiklah aku pergi dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku."

"Selamat jalan." Ucap Ino dan Itachi bersamaan.

Berjam-jam Itachi dan Ino menunggu, operasi tidak kunjung selesai, kali ini Naruto dan Hinata lah yang datang, kedua wajah orang itu memucat dengan nafas yang ngos-ngosan.

"I-Ino, S-Sakura… bagaimana Sakura?" tanya Hinata, matanya bengkak, sudah pasti Ino menebak kalau Hinata sepanjang perjalanan menangis kencang karena mendengar berita yang Itachi kabarkan pada Naruto.

"Mereka masih ada di dalam, sudah 4 jam," jawab Ino.

"Teme… Sakura chan, kalian pasti bisa, kalian anak yang kuat, kalian hebat, makanya kalian pasti bisa melewatinya," gumam Naruto sambil menatapi pintu ruang operasi.

Delapan jam terlewati, akhirnya kini pintu operasi terbuka, ke empat orang yang telah menunggu dari tadi kini bangkit bersamaan menghadang sang dokter yang baru saja keluar.

"Apakah operasinya berhasil?" tanya Itachi

Sang dokter terdiam, dia menoleh kebelakang dan kembali menatap Itachi, "Aku tidak tahu, keduanya masih tidak sadarkan diri… kami berhasil mendonorkan sumsum tulangnya, dan tubuh Sakura pun merespon donor itu, tapi mereka berdua kondisinya jadi tidak stabil."

"Mungkin besok mereka akan baik-baik saja?" ucap atau tebak Ino.

"Mudah-mudahan saja, aku akan usahakan semampuku," jawab sang dokter.

.

.

.

Hari berganti, ini sudah hari ke 2 setelah di jalaninya operasi itu. Itachi dan Naruto terus-terusan berada di ruangan Sasuke, sedangkan Ino dan Hinata berada di ruangan Sakura. Kadang mereka semua bergantian pulang untuk mengambil pakaian atau keperluan lainnya.

"Belum sadar juga?" gumam Ino sambil mengelus punggung tangan Sakura.

"Apa sebegitu tidak maunya untuk sadar?" ucap Hinata yang kini menempelkan lututnya di lantai dan menyenderkan kepalanya di pinggir kasur.

Di dalam ruangan Sasuke, Itachi duduk sambil menatap Sasuke dengan perasaan yang campur aduk, antara perasaan bersalah dan rasa kesal. Kenapa Sasuke harus jatuh cinta pada adik kandungnya sendiri? Kalau Sasuke atau Sakura itu bukan saudara kandung, tentu saja dia tidak mempermasalahkannya.

Melihat ekspresi Itachi yang berubah-ubah, Naruto jadi sedikit paham akan situasinya, dia merasa sepertinya Itachi telah menyadari semua ini, maka kini Naruto membuka pembicaraan, "Kau… sudah tahu yah?"

Mata Itachi terbelalak dan menoleh pada Naruto, "Kau… tahu?"

Naruto mengangguk, "Sudah lama."

"Kenapa kau tidak memberi tahuku? Kenapa kau diam saja?" bentak Itachi, "jangan-jangan kau mendukungnya!"

Mau bagaimana lagi? Naruto hanya bisa diam, apa yang harus Naruto jawab? Sasuke adalah sahabatnya, memang mendukung perasaan Sasuke pada Sakura adalah tindakan yang tidak benar, tapi sebagai sahabat yang baik, apakah Naruto akan membiarkan Sasuke memakan habis adik kandungnya sendiri? Atau membiarkan Sasuke tenggelam pada perasaan terpendamnya?

"Apa yang harus kulakukan? Melarangnya pun percuma, dia sangat mencintai Sakura chan."

"Mungkin saja itu awalnya bukan cinta, tapi karena kau mendukungnya, jadi-"

"Kau tidak tahu apa-apa, Itachi…" gumam Naruto pelan, "Kau tidak tahu apa-apa."

"Apa maksudmu?"

"…" kini Naruto enggan memberi tahukannya, tapi Itachi harus tahu, agar dia bisa tahu seberapa dalamnya cinta Sasuke pada Sakura, "Apa kau tahu, kalau Sasuke pernah membunuh?"

Mata Itachi terbelalak lagi.

Naruto yang melihat ekspresi Itachi kini menyesal telah berbicara sembarangan, ah tapi mungkin ini yang terbaik kan?

"Dulu, ada anak yang usil saat Sakura chan smp, anak itu ternyata menyukai Sakura chan, tapi caranya itu membuat Sakura chan risih," Naruto mulai bercerita, "Saat itu, Sasuke… dan aku membentuk suatu kelompok."

Itachi terus mendengarkan cerita Naruto, dia membayangkan, saat Sakura smp, itu berarti Itachi baru masuk universitas, dan sejak saat itu kalau Itachi datang berkunjung, tidak ada satu pun yang membuat Itachi curiga? Betapa rapi dan pintarnya Sasuke menutupi semua ini.

"Kelompok yang sengaja Sasuke bentuk hanya untuk melindungi adiknya diam-diam, kelompok ini terdiri dari preman-preman jalanan yang di taklukan oleh Sasuke, dan tentu saja semua menurut pada Sasuke karena menghormatinya, Teme ini sangat kuat. Sampai suatu hari anak yang mengusili Sakura chan itu menyatakan cintanya pada Sakura chan, dan di akhiri oleh penolakan dari Sakura chan… Sakura chan di jahili."

Naruto memberi jeda sebentar dan kembali melanjutkannya, "Saat Sakura chan menangis karena di jahili, dia mengadu pada Sasuke, ada aku juga kok saat Sakura chan mengadu, saat itu…"

"Sasuke nii, huuhuuuhuu… aku di cegat oleh Kiba dan teman-temannya, mereka menjahili dan menakut-nakutiku~ hiks…"

"Saat itu aku berpikir, Sakura chan hanya di jahili saja, tidak sampai parah, tapi karena Sasuke menanggapinya berlebihan… saat itu aku melihat ekspresi Sasuke yang sangat marah sambil memeluk tubuh Sakura chan…"

"Lalu?"

"Lalu, besoknya… si Teme ini…" Naruto kini berbicara sambil menatap Sasuke yang sedang tertidur, "Meminta salah satu anak buahnya untuk menghabisi anak yang bernama Kiba itu… memang sih bukan Teme yang membunuhnya, tapi tetap saja, itu adalah perintah dari Teme… saat aku dan Teme memeriksa mayatnya… ekspresi Teme saat itu…"

Naruto yang berusaha mencoba untuk melupakan ekspresi Sasuke yang menyeramkan itu kini teringat kembali, dan memberi tahu pada Itachi, bagaimana ekspresi adiknya itu saat melihat mayat Kiba yang dalam kondisi tertusuk katana itu, "Dia tersenyum… seolah puas melihat kondisi anak yang malang itu."

Itachi memucat. Dia tidak menyangka Sasuke bisa sekejam itu kalau sudah menyangkut urusan Sakura.

"Karena itu… bisa di bilang aku pun mendukungnya ada sedikit perasaan takut padanya… itu awalnya, tapi lama-kelamaan… aku benar-benar tulus mendukungya… sejak Sakura juga mulai mencintai Teme, sifat teme melembut dan dia berubah."

"Apa? Sakura juga mencintainya?"

"Ya, mereka memang pendosa, Itachi… tapi bagaimanapun juga… mereka manusia yang mempunyai perasaan," ujar Naruto.

Ucapan terakhir Naruto seolah memberi pukulan pada Itachi. Apakah Itachi harus merelakan hubungan mereka, dan ikut menjadi sang pendosa? Posisi Itachi benar-benar membingungkan, sebaiknya apa yang harus dia lakukan untuk kedua adik yang di sayanginya itu?

"Sasuke… kumohon sadarlah~"

.

.

.

Ino dan Hinata masih menunggu Sakura sadar, sesekali Ino melirik jam tangannya, perasaannya juga mengkhawatiri kekasihnya yang kini sedang berada di ruangan Sasuke, apa yang sedang dia lakukan? Apakah Itachi sedang stress memikirkan hubungan kedua orang ini?

"Selamat sore."

Ino dan Hinata menoleh ke arah pintu, "Neji?"

Neji tersenyum dan berjalan mendekati Sakura, "Bagaimana keadaannya?" tanya Neji pada Hinata.

"Tidak ada perubahan, masih tidak sadar."

Neji menatap Sakura dengan lembut dan mencium keningnya, membuat Ino dan Hinata terkejut, "Kalau saja aku lebih cepat mengambilmu darinya, mungkin hal ini tidak akan terjadi," gumam Neji.

"Neji…"

"Bagaimana keadaan dia?" dia yang di maksud oleh Neji, tentu saja Sasuke.

"Tidak sadarkan diri juga, mungkin mereka menolak untuk sadar," jawab Hinata.

"Permisi, saatnya pasien di periksa," kata sang dokter yang mengetuk pintu yang sudah terbuka.

"Ah, silahkan," Ino dan Hinata menyingkir agar Sakura bisa di periksa dengan leluasa. Sang dokter mengecek pergelangan tangan Sakura, leher, dan juga menempelkan stetoskop di dada Sakura.

"Bagaimana?" tanya Ino.

"Bisa aku bicara dengan keluarganya?" tanya sang dokter.

"Ah, kakak sulungnya sedang berada di ruangan kakak keduanya, ruangannya 5 kamar dari sini," jawab sang suster yang menjadi asisten sang dokter.

"Baiklah, ayo kita periksa juga yang di sana," jawab sang dokter.

Saat sang dokter melangkahkan kakinya ke ruangan Sasuke, Ino mengikutinya dia juga ingin tahu bagaimana kondisi Sasuke dan Itachi, tapi Hinata dan Neji masih tetap berada di ruangan Sakura.

"Ngh~"

Mata Hinata terbelalak ketika mendengar suara erangan, ketika dia menoleh…

"Sakuraaaaa."

.

.

.

Itachi mengamati sang dokter yang sedang memeriksa Sasuke, Ino membelai kepala Itachi dengan lembut, solah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Selesai memeriksa Sasuke, sang Dokter berucap, ""Kondisi keduanya makin memburuk setelah menjalani operasi, tubuh Sasuke sedang tidak stabil saat itu, tapi dia memaksa untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Sakura."

"Apa? Bukankah operasinya berhasil?" tanya Itachi.

"Ya, tapi kedua orang ini kondisinya sangat lemah, seharusnya hari ini mereka sudah bisa sadar, bahkan berbicara. Tapi mereka sampai saat ini membuka mata pun tidak, detak jantungnya juga melemah."

Mendengar hasil yang buruk itu membuat Itachi makin frustasi, Naruto mengepalkan kedua tangannya dan Inomenahan agar air matanya tidak keluar.

"Ugh~"

Dokter langsung menoleh ketika mendengar suara erangan.

"SASUKEEEE?" panggil Itachi yang melihat mata Sasuke terbuka.

Sasuke melirik kearah Itachi, melirik kearah Ino, Naruto sampai pada dokter yang terbengong. Sasuke mengalihkan pandangannya kembali menatap langit-langit.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya sang dokter,

Sasuke tidak menjawab, apa yang harus dia jawab? Baik-baik saja? Atau tambah buruk? Sasuke belum bisa membedakannya.

"Sakura…" jawab Sasuke pelan, "Aku ingin bertemu dengannya."

Melihat sahabatnya yang berpandangan kosong ini membuat Naruto pilu, tidak bisa menahan air matanya, Naruto membalikkan tubuhnya. Bagaimana bisa seorang Sasuke yang dia kenal dengan dingin, sekarang bisa menderita karena mencintai satu orang? Dan kenapa orang yang di cintai Sasuke harus adik kandungnya sendiri? Dan juga… kenapa Naruto lah yang seolah merasakan sakitnya hati Sasuke sekarang?

"Baiklah, akan kuantar kau ketempat Sakura," jawaban Itachi sukses membuat Ino dan Naruto terkejur.

.

.

.

"Sakura, syukurlaah~ syulurlaaaah~" ucap Hinata sambil memeluk tubuh Sakura.

"Hinata? Neji kun?"

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Neji.

"Sangat baik," jawab Sakura tersenyum.

Matanya mencari sosok Sasuke dan Itachi, kenapa kedua kakaknya itu tidak ada di ruangan ini? Ada apa sebenarnya?

"Mana Sasuke nii?" tanya Sakura pada Hinata yang kini sudah melepaskan pelukannya.

"Kau tidak tahu? Sasuke mendonorkan sumsum tulangnya untukmu, saat ini dia juga belum sadarkan diri setelah operasi itu," jawab Hinata.

"Apa! Bohong."

Sebelum Hinata kembali menjawab, seseorang mengetuk pintunya, begitu Neji membukakannya, terlihat Itachi yang mendorong kursi roda yang ditempati oleh Sasuke dengan infuse yang masih menempel di lengannya.

Melihat sosok Sasuke, mata Sakura kembali berair, betapa leganya wnaita itu melihat sosok orang yang dicintainya ini.

"Sasuke nii."

Sasuke tersenyum… senyum yang tidak pernah Itachi lihat sebelumnya. Itachi mendekatkan Sasuke pada Sakura kemudian menghampiri Sakura dan membelai kepalanya, "Bagaimana perasaanmu?"

"Sangat baik, Itachi nii."

"Baguslah," utar Itachi tersenyum lega.

"Nee, Itachi nii… bisakah tinggalkan aku dengan Sasuke nii berdua saja?" pinta Sakura.

Itachi terdiam, namun tidak berani menolak, "Baiklah, aku akan tunggu di luar."

Itachi menarik lengan Neji yang terlihat sepertinya ingin tetap tinggal di ruangan itu, di ikuti oleh Hinata. Begitu mereka di luar, Ino dan Naruto menghampiri Itachi.

"Itachi kun…"

"Biarkan mereka… jangan ganggu mereka sampai nanti malam, biarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan," ucap Itachi. Suaranya bergetar. Mendengar suara Itachi yang bergetar, Ino langsung memeluk tubuh Itachi.

Ino bisa mengerti bagaimana perasaan Itachi, dia tahu Itachi ingin sekali menangis, karena dia laki-laki dan gengsinya tinggi, akhirnya Ino mewakili Itachi menangis.

Tidak tahu apa yang harus di lakukannya lagi, Neji memutuskan untuk pulang, sepertinya tidak ada lagi kemungkinan sosok dirinya di hati Sakura. Di ikuti oleh Naruto dan Hinata yang memutuskan untuk pulang dulu. Tapi tidak bagi Itachi dan Ino yang masih berdiri di depan pintu ruangan Sakura.

.

.

.

Sasuke menatap Sakura sambil tersenyum lembut, "Syukurlah kau sudah siuman."

Sakura membalas senyuman itu dengan cengirannya, "Terima kasih yah, Sasuka kun, aku bisa merasakan darahmu di dalam tubuhku."

Melihat cengiran Sakura membuat Sasuke menjadi murung, kenapa Sakura masih bisa tersenyum begini setelah apa yang dia lakukan terhadapnya? "Sakura… maafkan aku…"

"Sasuke kun?"

"Karena aku kau mendapat musibah, karena aku kau menjadi menderita… aku tidak bisa membahagiakanmu~" Sasuke mulai mendundukkan kepalanya. Sakura menatap datar Sasuke, dia tahu apa yang akan diucapkan kakaknya ini, Sakura sudah hapal dengan sifat Sasuke.

"Aku… akan membebaskanmu, terima kasih untuk semuanya."

Ekspresi Sakura tidak berubah ketika mendengar ucapan itu, dia tahu itu bukan dari hati Sasuke, dia mengucapkan hal itu karena untuk kebaikan dirinya. Akhirnya Sakura tidak bisa menjawab, dan inilah yang Sakura katakan, "Kalau begitu… peluklah aku… untuk yang terakhir kali."

Sasuke terkejut mendengar ucapan Sakura, kepalanya mendongak keatas, menatap wajah Sakura yang seolah yakin akan keputusannya, "Sakura…"

"Aku merindukan pelukan Sasuke kun."

Sasuke tidak bisa lagi menahan air yang memberontak untuk keluar dari matanya, dengan gerakan yang cepat, Sasuke bangkit dari duduknya dan langsung memeluk serta mencium Sakura. Sasuke melepaskan infusenya sendiri dengan kasar, begitu pula infuse Sakura. Dia tidak peduli lagi apa yang terjadi nanti, mati bersama pun, Sasuke rela.

Ciuman panas itu berubah menjadi lumatan, Sasuke pun dengan cepan memasukkan tangannya ke dalam kewanitaan Sakura. Masih sangat kering, belum basah sedikitpun, akhirnya Sasuke memijat-mijat klitoris Sakura dengan pelan. Melihat ekspresi Sakura yang begitu menikmatinya, Sasuke merubah posisi.

Kini Sasuke berhadapan dengan kewanitaan Sakura, terlalu buru-buru memang, tapi Sasuke tidak mau mengulur waktu, di jilatnya kewanitaan yang sudah mulai basah itu dan di masukkan dua jari sekaligus.

"Aahhnn! Sa-Sasuke kuun~"

Sasuke mempercepat gerakan jari dan lidahnya, sampai, "Aaaaahhnn~ Nggghhhh!"

Sakura mengeluarkan cairannya.

"Tidak bisa… ternyata aku memang sangat mencintainya… Sakura~ selamat tinggal." Ucap Sasuke dengan nada yang bergetar.

Tapi Sakura menjawab "Aku mencintaimu, Sasuke-nii."

Jawaban Sakura meruntuhkan keyakinan Sasuke untuk meninggalkannya, Sasuke merengkuh kedua wajah Sakura,"Tidak bisa… aku tidak bisa meninggalkanmu… aku tidak bisa melepaskanmu!" geram Sasuke.

"Kalau begitu jangan, jangan lepaskan aku."

Mendengar jawaban Sakur, Sasuke memulihkan hatinya, perasaan yang tadinya ingin melepaskan adiknya itu berubah total menjadi ingin memiliki seutuhnya. Sasuke membuka celananya, kejantanannya sudah menegang, dan dengan satu gerakan yang cepat, Sasuke menusuk Sakura.

"Hyaa!," Sakura menjerit pelan, dan saat Sasuke memaju mundurkan pinggulnya dengan irama yang pas, Sakura terus mendesah,

"Aahh! Aahnn! Aaaahh~"

Sasuke tidak peduli seberapa besar desahan Sakura, dia tidak peduli siapa yang akan masuk, Sasuke terus mempercepat genjotannya.

"Sakuraaa~ aaaghh!"

"Aahn~, Sasukeee!"

Kedua pinggul mereka berkedut, keduanya klimaks dengan cepat, sementara Sasuke mengatur nafas di atas tubuh Sakura. Itachi terduduk di depan pintu sambil menutup telinganya, menangis di dalam pelukan Ino yang kini memeluk Itachi sambil menangis pilu, karena mereka berdua mendengar apa yang terjadi di dalam.

.

.

.

Malam pun tiba, Ino membawa Itachi ke kantin agar sedikit bisa melupakan apa yang mereka dengar tadi, sedangkan Sasuke kembali ke kamarnya setelah membereskan sisa-sisa percintaannya dengan Sakura. Sasuke termenung di dalam kamarnya, masih membayangkan apa yang baru saja dia lakukan bersama Sakura.

Sekali lagi, Sasuke di kejutkan oleh pengumuman brengsek itu.

Teeee teeeet

"Pemberi tahuan kepada seluruh keluarga Uchiha agar datang ke ruangan 283, saat ini kondisi pasien sangat menurun, sekali lagi kepada seluruh keluarga Uchiha agar datang ke ruangan 283, terima kasih."

Lagi-lagi pengumuman itu, Sasuke ingin sekali berlari, tapi jujur saat ini kakinya tidak mempu melangkah, tubuhnya lelah akibat perbuatannya tadi siang dengan Sakura. Dan Sasuke… saat ini hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa.

Itachi dan Ino berlari menaiki tangga dan langsung menuju kamar Sakura. Di sana sudah terlihat ada beberapa suster dan Dokter yang menangani operasi Sakura.

"Kondisinya kritis, kesadarannya menurun, tapi dia masih bisa mengucapkan sesuatu." Jelas sang Dokter sambil menempelkan beberapa alat di tubuh Sakura.

"Apa yang dia ucapkan dok? Tolong dia dokter!" pinta Itachi dengan paksa.

"Itachi-kun~"

"Dia mengucapkan… " sebelum Dokter menjawab, Sakura kembali berucap.

"Sasuke…nii~"

Mata Itachi terbelalak, dia tidak mau tahu lagi, dia tidak perduli ini adalah dosa, Itachi melangkahkan kakinya keluar menuju kamar Sasuke.

BRAAAK

"Sakuraa… Sakura~" Itachi terus berucap 'Sakura' pada Sasuke, melihat kakak sulungnya menangis begitu pilu, Sasuke langsung paham.

"Kak, apa yang- aaarrgh!" saat Sasuke mencoba untuk berdiri, lututnya lemas sehingga dia terjatuh.

"Sasukeee!" Itachi menolong adiknya dan membantunya berdiri, "Aku akan antar kamu ke tempat Sakura."

"Nii san…"

Sementara itu, di kamar Sakura.

"Tidak Sakura, kamu tidak boleh bangun!" cegah Ino.

Namun Sakura tidak memperdulikan Ino, tatapannya kosong dan terus saja berontak untuk bangkit dari tempat tidurnya sambil mengucapkan…

"Sasuke… Sasuke…"

Dokter yang baru pertama kali melihat kejadian ini sungguh terkejut, feelingnya mengatakan kalau Sakura itu sudah tidak bernyawa, karena saat tadi dokter menempelkan alat untuk membantu detak jantung berdetak. Dia sudah tidak bisa merasakan kehadiran Sakura.

"Nona," sang Dokter mencegah Ino untuk menghalangi Sakura, "Biarkan dia…"

Ino yang melihat tatapan dokter itu memilu, kini terdiam, dia melihat Sakura yang berjalan sempoyongan menuju luar. Begitu keluar kamar, Sakura melihat sosok Sasuke yang sedang di popong oleh Itachi.

Sakura tersenyum lembut pada mereka, "Nii san…" ucap Sakura entah pada siapa, mungkin juga pada dua-duanya.

Sakura melangkahkan kakinya beberapa langkah, kemudian tubuhnya yang tidak kuat menahan beban itu goyah, melihat tubuh Sakura akan terjatuh, Sasuke emndorong Itachi untuk melepaskannya, dan Sasuke berlari memaksakan lututnya bergerak walaupun hanya sedikit.

Sasuke menangkap tubuh Sakura dan mendekapnya di dalam pelukan. Mereka berdua terjatuh bersama, Sasuke yang masih lemas itu menangkap tubuh Sakura yang sudah tidak bisa bergerak. Sasuke menatap wajah Sakura yang sudah sangat pucat, mata Sakura pun meredup. Sasuke tahu… bahwa Sakura…

Sudah tidak di sini.

"Sasuke… nii… akhirnya…"

"Sshhh, jangan ucapkan apa-apa lagi." Sasuke menutup mulut Sakura memakai telunjuknya dan kembali memeluknya. Tubuh Sasuke gemetar karena menahan air mata yang kini mengalir deras dari onyx-nya.

Diciumi pucuk kepala dan kening Sakura berkali-kali.

Ino hanya bisa memeluk Itachi yang kini berlutut sambil menjambak rambutnya sendiri. Keadaan duka yang mendalam di rumah sakit malam ini. Tepat pada pukul 10 malam, Sakura… meninggal.

.

.

.

Kerumunan orang-orang yang memakai baju hitam, serta para remaja yang memakai seragam sekolahnya masing-masing. Terdengar hisakan tangis dari Hinata yang begitu pilu di dalam pelukan Naruto. Mereka yang kini duduk bersimpuh di depan dupa dan foto bingkai Sakura.

Mendoakan ketenangan wanita muda itu.

Sebuah langkah mendekati Sasuke yang dari tadi bersimpuh sambil menggenggam sebuah buku kecil, tidak bergerak sedikit pun, memandangi foto Sakura yang terlihat tersenyum sangat manis.

"Ini semua salahmu," ucap Neji yang memposisikan dirinya duduk di samping Sasuke, "Sakura menjadi seperti ini, ini semua salahmu."

Sasuke tidak merespon.

"Kenapa diam saja? Kau puas melihat Sakura tewas? Kau bahagia? Kau lebih memilih kematian yang di alami Sakura dari pada dia bahagia bersama laki-laki lain? Hah?" Neji yang termakan emosi kini mencengkram kemeja Sasuke.

"Neji!" Ino mencegah Neji untuk membuat keributan di sini.

"Katakan apa yang ingin kau katakan sesukamu," gumam Sasuke pelan sambil melempar buku kecil itu pada Neji.

Dengan itu Sasuke langsung bangkit. Pergi meninggalkan Neji.

Neji membuka buku itu, kemudian matanya terbelalak ketika melihat tulisan yanga da di dalamnya.

I Love You, Neji kun

Tertulis tanggal di mana Neji menyatakan perasaannya pada Sakura dulu. Neji mengepalkan tangannya, memeluk buku itu sambil bergumam, "Aku mencintaimu~"

Selesai upcara pemakaman, Sasuke langsung mengurung diri di kamarnya. Ino memutuskan untuk tinggal bersama Itachi, menemani kekasihnya yang masih rapuh itu. Ino akan melakukan apa saja agar Itachi tidak terlalu tumbang karena kehilangan adik bungsunya. Walaupun Ino juga merasa sangat tertekan karena Sakura adalah sahabat baiknya.

"Itachi kun, bisa tolong panggilkan Sasuke? Makan malam sudah siap," pinta Ino.

"Oke."

Itachi melangkahkan kakinya menaiki tangga satu persatu, diketuk perlahan pintu kamar Sasuke, namun tidak ada jawaban. Ketika Itachi membukanya, tidak ada siapa-siapa di situ. Itachi bisa menebak di mana Sasuke sekarang, pasti dia berada di kamar Sakura. Akhirnya Itachi mengetuk pintu kamar Sakura.

Tapi tidak ada jawaban.

Saat Itachi membukanya, Itachi melihat Sasuke sedang tertidur, Itachi mendekatinya, sebelum kakak sulung Uchiha itu mendekati adiknya, Itachi melihat di atas meja ada secarcik kertas.

Itachi membacanya. Hanya ada tulisan…

Maafkan aku, Nii san.

Masih bingung dengan tulisan itu, Itachi menatap sosok Sasuke yang tertidur, sekilas perasaannya tidak enak, maka dia mengguncangkan tubuh Sasuke. Saat tubuh Sasuke terbalik. Mata Itachi terbelalak, ekspresinya ketakutan…

"TIDAAAAAAAAAAAK!"

Sasuke yang kini sedang memeluk seragam dan foto bingkai kematian Sakura, memotong pergelangan tangannya hingga kehabisan darah. Menyusul di mana Sakura kini berada. Karena Sasuke berjanji, kemanapun Sakura pergi, dia akan terus berada di sisinya. Kalau bahagia itu adalah mati bersama, maka Sasuke akan memilih mati bersama Sakura.

Akhirnya, mereka dapat bersatu… kematianlah yang menyatukan mereka.

i will follow you wherever you will go

The End


A/N : oke, akhirnya fict ini tamat, langsung aja saya ngebacot yah

saya sudah mendiskusikan ending ini bersama V3Yagami, dia bilang "yakin lo mau bikin ending yang ngenesin kaya gini?" dan saya jawab "Yakin banget, sekali-kali pengen bikin chara yg dua-duanya mati."

akhirnya jadilah seperti ini...

V3Yagami juga bertanya tentang nasib Itachi, apakah itachi jadi gila? atau juga ikutan bunuh diri kayak sasuke?

jawabannya ngga Fit, Itachi ngga gila, kan ada Ino di sampingnya, emang butuh waktu lama buat pemulihan karena shock, Itachi sempet stress dan ikut therapy dimana cerita itu nanti saya bikin one shotnya ITAINO, Ino yang setia ngedampingin Itachi yang depresi

nah, berita baru... saya akan membuat fict collab bersama V3yagami, dengan catatan SUAH BANGET NGEBUJUK DIA BUAT BIKIN FICT COLLAB dikarenakan ngga pede -_-

di tunggu yah fict collab kami, ceritanya agak sedih dan pairingnya SasuSakuNaru

ceritanya masih dirahasiakan

pokoknya ditunggu saja yah, Ratednya M, jadi anak kecil menyingkirlah, hehehehe

sekian dulu dari saya

terima kasih atas semua reviewnya, dan dari silent reader juga terima kasih

terima kasih V3Yagami sudah mengusulkan bagaimana cara Sakura mati, yaitu di pelukannya Sasuke

salam hangat

Raffa