Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.

Enjoy :)


Tiba-tiba dia memegang kedua bahuku, dan dengan tangannya membandingkan tinggi kami.

"Kok, tinggimu bertambah banyak sekali, Kudou?"

"Eh?" aku menaikkan satu alis. "Mana mungkin, Haibara, dalam sehari aku bisa tumbuh cepat. Cuma perasaaanmu aja, kali. Aku segini-gini aja kok dari kemarin." setelah berkata begitu aku melangkah ke pintu, dan hendak membukanya. Namun Haibara memegang satu bahuku, menahanku.

"Tidak. Aku juga tidak mungkin salah." Ia menekankan kata tidak mungkin dalam kalimatnya. Aku mengernyit.

"Aku terus memperhatikanmu, Kudou, karena kau adalah korban obatku. Tentu saja aku harus tau segala informasi pertumbuhanmu secara fisik —tidak psikis, kau kan sudah kelas 2 SMA— seperti tinggi, berat badan, dan semacamnya. Kemarin, aku masih setinggi telingamu," Haibara kembali mengukur tinggiku. "Masa sekarang aku hanya sebahumu? Karena aku lebih tidak mungkin lagi memendek, berarti kau yang tambah tinggi."

Aku memutar bola mata. "Mungkin memang kau yang tambah pendek, non. Sudah ah, ayo nanti kita terlambat!" aku menariknya. "Kami pergi, Professor!"

Professor, yang tadi diam karena bingung dengan perdebatan aku dan Haibara, melambaikan tangan cepat dan nyengir. "Hati-hati, Shinichi, Ai-kun!"

Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju bangkuku. Genta membalikkan badan dan berkata "HAHAHAHA, CONAN! Kau mau pakai hot pants kesekolah ya? Pendek banget tuh celana kau! Wahahahaha, apa kau mau jadi model kalender murah yang ada di abang-abang itu?"

Meledaklah tawa seisi kelas. Aku mengernyit. Ini 'kan celana yang biasa kupakai bersama setelan jasku.

Aku melirik sedikit ke arah kakiku. Benar, rupanya jadi pendek sekali, kira-kira ¼ kaki.

Ayumi menghampiriku pula. "Iya, Conan-kun. Lihat, tangan jasmu juga jadi ngatung* gitu. Apa kau tumbuh ya? Tapi kok cepat banget?"

"Betul, betul!" Mitsuhiko setuju. "Kau lebih tinggi dariku sedikit, sekarang! Kau pakai apa, Conan? Kok bisa pesat banget tingginya?"

Aku melotot tidak percaya.

"Selamat pagi, anak-anak!" Bu Kobayashi masuk ke kelas. "Ayo, buka buku kalian…"

Omongan Bu Kobayashi sudah tak terdengar lagi. Aku masih kebingungan dengan fakta itu. Aku bertumbuh cepat dalam waktu satu hari? Ini aneh sekali! Aku 'kan tidak minum obat antidote APTX! Lagipula, kalaupun minum juga, aku akan jadi Kudou Shinichi kurang dari 5 menit!

Tidak minum antidote?

Aku tersentak.

Haibara berbisik, tapi matanya tetap berlagak memperhatikan papan tulis. "Apa kubilang. Kau memang bertambah tinggi. Menurutku, ini efek roti yang kemarin. Kau tidak langsung berubah jadi kelas 2 SMA lagi, tapi bertahap. Seru juga, nih."

Aku menoleh cepat, dan berbisik lumayan keras, "Seru kepalamu! Bagaimana nanti aku kembali ke kantor detektif? Ran juga pasti sadar, dan akan mencurigai identitasku, tau!"

"SSSTT!" tegur Mitsuhiko. Aku nyengir kecil. Aku yakin dia tidak dengar jelas omonganku, karena setelah itu dia berbalik badan lagi dan memperhatikan Bu Kobayashi. Aku menoleh lagi pada Haibara, dan mengecilkan volume suaraku. "Lagipula, aku tidak yakin roti itu yang menyebabkannya!"

"Tadi pagi kau mimpi buruk, 'kan?"

"Eh?"

"Iya 'kan?"

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Ye, yeah… aku memang bermimpi buruk." Aku diam. Haibara nampak menunggu. "Aku bermimpi soal… Ran yang bersama Dokter Araide. Lalu tubuhku membesar. Prosesnya sama seperti ketika aku minum antidote, namun aku masih bisa berlari. Dia meninggalkanku…" aku terdiam lagi.

Haibara menunggu lagi.

"Kupikir, aku bermimpi seperti itu karena… aku memikirkan pembicaraan FBI kemarin. Jadinya terbawa mimpi."

"Kalau begitu, Kudou…" Haibara nyengir sinis. "Selamat bermimpi seperti itu tiap malam, deh."

"Maksudmu?"

"Mungkin pengaruh obat itu juga, rasanya…" Haibara mengetuk-ngetukan telunjuknya ke dagu.

Aku melengos, memperhatikan papan tulis lagi.

Tiba-tiba suatu pertanyaan muncul di kepalaku.

"Eh, Haibara…" aku berbisik. "Bagaimana caranya ya, zat kimia di antidote itu bisa tercampur di roti? Berarti, ada unsur bir Paikaru, dong?"

"Kesalahan prosedur memasak." jawab Haibara. "Sepertinya, yang memasak itu salah memasukkan salah satu bahan, ada kemungkinan memasukan bir, terkadang ada yang seperti itu. Dan dia, hanya memasukan unsur Paikaru saja, gitu."

"Tapi kok yang lain baik-baik saja."

"Ya karena mereka anak kecil betulan, bukan jadi-jadian seperti kau dan aku."

Aku merengut sebal, jadi malas berbicara lagi.


Aku menendang kaleng yang ada di depanku. Kaleng itu sebenarnya kutemukan didepan gerbang sekolah. Namun daritadi tak mau kulepas. Kutendang sembari menuju ke kantor detektif. Terkadang aku melakukan atraksi dengan kaleng itu, (bahasaku kok seakan aku ini hewan sirkus?) yang membuat perhatian orang menjadi ke arahku.

Sesampainya di kantor detektif, aku tidak langsung masuk. Aku masih menendang-nendang kaleng seakan itu bola sepak. Aku menendangnya ke atas, lalu menendang ke atas lagi dengan kaki kiri, dan trik-trik lain. Beberapa orang melihat ke arahku, tapi aku tak peduli. Aku sedang kesal, dan sudah lama pula aku tak main bola.

Lalu, diujung jalan aku malah melihat Ran berjalan dengan Dokter Araide.

DUAK!

Kaleng kutendang keras-keras. Lalu menghantam kepala seseorang. Ia berbalik menghadapku, wajahnya marah. Sudah mana badannya kekar sekali. Bulunya juga banyak. Lagipula, dengan angin dingin begini, dia hanya memakai kaus hitam ketat tak berlengan dan celana jeans hitam

Kalau aku ditubuhku beneran sih, aku tidak takut. Tapi sekarang, aku adalah Edogawa Conan, seorang anak kecil kelas 1 SD yang tenaganya tidak ada apa-apanya.

"KAU…" orang itu menggeram kesal.

Aku nyengir selebar yang kubisa.

"Huh!" ia berbalik pergi. Aku menghembuskan napas lega. Untung saja, kalau aku digebuki gimana tuh…

Lalu aku terus memperhatikan orang itu. Gerak-geriknya mencurigakan. Iseng, aku mengikutinya, siapa tau ada kasus lagi.

Tiba-tiba dia berhenti dan menelpon ditempat umum. Aku pura-pura tidak mengenalnya, melewatinya dan menguping sedikit pembicaraan mereka.

Kuperlambat jarakku ketika kami terpaut kira-kira 3 meter.

"Ya, ya… orang itu sudah kuberitahu." ujar laki-laki itu. "Aku sudah memberitahu tempat transaksinya. Sekitar pukul 7 malam nanti, kau bisa menemuinya disana. Yayaya, kau tinggal serahkan padaku. Setelah kau pergi, aku akan membunuhnya…" ada jeda sedikit. Jantungku jadi berdebar. Akan ada pembunuhan?

"Tempatnya di…" orang itu melirik kanan kiri, takut ada yang mendengarkan. Padahal ada anak kecil disini yang mengupingnya daritadi. "Back."

Aku mengernyit. Back? Kembali?

"Dipukul." ujar lelaki itu. Kembali ada jeda, lalu ia berkata. "Justru aku menggunakan kebodohanku dalam bahasa Inggris itu. Kau pasti bisa menebaknya. Kau kan pintar. Tempat itu satu-satunya di kota ini. Suaranya juga berisik"

Terdiam lagi. Aku menajamkan telinga.

"Ok, ok. Bilang pada Gin, aku siap. Sudah ya Vodka, aku belum makan siang nih."

Vodka? Gin?

Mereka terlibat?

"HAHAHAHA." Laki laki itu tertawa. "Ok ok. Sampai ketemu. Aku tak bisa membayangkan kalau dia ketakutan nanti."

Diam lagi. Namun aku merasa ramai, dengan detak jantungku dan bisa kurasakan di telinga derasnya aliran darahku.

Laki-laki itu pergi. Cepat sekali, namun aku masih mampu mengikutinya. Sayangnya, ia menaiki motor Harley hitamnya, lalu melesat dengan cepat.

Aku terdiam.

Akan ada pembunuhan malam ini, dan organisasi terlibat?

Aku berbalik, dan berlari secepat mungkin kerumah Professor. Aku berusaha menghubungi Bu Jodie dengan hand phone ku, namun aku lupa kalo benda itu low bat. Sialan, mau gak mau aku harus ke rumah Professor dulu!

Sesampainya disana, dari kejauhan aku melihat mobil Bu Jodie. Lalu aku disambut lagi oleh laki-laki hitam dan wanita berambut lurus kemarin yang sempat menghadangku. Aku menyunggingkan senyum tipis, terengah-engah. Laki-laki hitam itu membuka pintu pagar dan berkata, "You can enter this house, shrink guy! We wouldn't stop you like before!" sambil tersenyum ramah.

"Thanks!" jawabku. Tanpa basa-basi lagi aku langsung berlari ke dalam rumah, dan kulihat di ruang tamu Professor, Bu Jodie sedang sibuk berbicara dengan Haibara sambil mengutak-atik laptopnya. James juga sedang bertelepon, entah dengan siapa.

Bu Jodie mengangkat muka. "Ada apa, Cool Guy? Kau gelisah sekali?"

"Ada pembunuhan!" ujarku. "Dan yang akan melakukannya adalah organisasi!"

Bu Jodie menatapku dalam-dalam, sampai dasar laut, lalu berkata, "Kami sudah tahu."

"Eeeehh?"

"Ya, kami sudah tau. Kami mendapat informasi akan ada transaksi narkoba, namun si pemberi narkoba itu akan dibunuh karena membocorkan rahasia organisasi itu." jelas Bu Jodie. "Kami tak tau kapan dan dimana, makanya kami sedang selidiki…"

"Aku tau." potongku. "Malam ini, jam 7. tempatnya di… back dipukul?" aku bertanya pada diri sendiri,

"Back dipukul?" tanya Bu Jodie heran.

"Ya, tadi aku mengikuti seorang laki-laki yang mencurigakan. Ia menelpon menggunakan telpon umum. Dia bilang tempat nya di 'back dipukul' itu, lalu katanya ia membuat kode seperti itu karena ia bodoh dalam bahasa Inggris, dan Vodka…" aku meringis kecil menyebut nama itu "pasti bisa memecahannya karena dia pintar. Tempat itu juga satu-satunya ditempat ini, dan suaranya berisik."

"Bodoh dalam bahasa Inggris?" James bergabung. "Hm, dipukul itu bisa jadi hit, kicked…"

"Back hit?" ujar Haibara. "Aneh sekali…"

"Lagipula, memangnya ada perbaikan di kota ini?" tanya Professor. "Seingatku tidak ada, deh…"

"Hm…" kami semua berpikir.

Kriiiiiiing!

Telpon rumah Professor berdering keras. Professor segera mengangkatnya.

"Halo?" Professor menyahut. "Oh, Ran ya. Sebenar, kupanggilkan dulu." Profesor menggerakan tangannya untuk memanggilku.

"Halo, Kak Ran?"

"Kau kapan mau pulang, Conan-kun?" tanya Ran. "Memangnya kau mau menginap lagi?"

"Ti… tidak kok Kak." jawabku. "Nanti ketika makan malam aku pulang. Aku mau main game dulu sebentar, seru sekali."

Ran mendengus. "Yasudah, cepat pulang ya!"

"Baik!"

Aku segera menutup telpon. Bu Jodie tersenyum geli. "Repot juga ya jadi kau, Kudou-san."

"Haha…" aku tertawa menyindir.

"Tapi, Professor…" James menyahut. "Suara telponmu keras dan jelek sekali. Mungkin kau harus menggantinya…"

"Hahaha…" Professor tertawa speechless.

Suara?

Suara?

"ITU DIA!" seruku.

"Sudah terpecahkan, ya?" tanya Haibara. Aku mengangguk antusias. Ternyata tidak sesulit yang kukira!
"Maksudmu apa, Kudou-san? Aku tidak mengerti."

Aku menarik napas senang.

"Orang yang bodoh bahasa Inggris. Aku lupa kalimat terakhir laki-laki itu. Suara yang dia maksud itu, suara ketika benda dipukul!"

"Dipukul itu bunyinya…" James menirukan. "DUAK! GUBRAK!"
"BUKK!" Professor nyeletuk.

Mereka saling pandang.

"BUKK!"

"Ya, benar!" ujarku. "Bukk. Atau book. Maksudnya buku, atau toko buku. Back itu maksudnya belakang. Toko buku satu-satunya di kota ini, dan kebetulan sekali cocok untuk tempat transaksi mereka adalah…"

"Toko Buku Amamiya." potong Haibara. "Karena, di belakang toko buku itu ada sebuah gedung bertingkat yang belum selesai dibangun sebab developernya terlilit hutang. Lumayan sepi, penyebabnya adalah desas-desus soal hantu dan adanya kasus penjambretan disitu baru-baru ini. Ayumi bilang padaku pagi tadi, tempat itu semakin seram karena kemarin ada yang bunuh diri disana."

Aku nyengir. "Tepat sekali!"


Kurasakan wajahku kesal.

Aku berjalan sambil menundukan kepala. Sialan! Aku jadi teringat kejadian di rumah Professor tadi…

"Baiklah, segera berangkat kesana!" aku berjalan ke depan. "Bersiap-siap untuk menjebak mereka agar mereka tidak lolos!"

"Kau mau kemana, Kudou?" tanya James, menahan bahuku.

"Eh?" aku bingung sendiri. "Tentu saja ke belakang Toko Buku Amamiya, 'kan? Kenapa kau masih bertanya? Kita 'kan harus menyergap mereka segera, atau mereka bisa lolos…"

"Kau mau ikut?" tanya Bu Jodie heran.

"Ya, tentu saja!" jawabku.

"Tidak sekarang, Kudou." ujar James.

"Eh?"

"Tubuhmu masih kecil. Kami tidak mau mengambil resiko. Lagipula, kau belum berlatih menggunakan senjata dan macam-macamnya. Kau tinggal saja disini, nanti hasilnya kami beritahukan kau." James menarik napas. "Kau mengerti, 'kan?"

"APANYA YANG MAU DIMENGERTI? BRENGSEK!" teriakku keras. Orang-orang melihat ke arahku, tapi aku melengos tak peduli. Mereka yang berjanji akan membuatku menyelidiki organisasi itu, namun sekarang mereka malah melarangku! Argh! Bikin kesal saja!

Lihat saja, dengan pertumbuhanku sekarang, aku akan segera kembali menjadi Kudou Shinichi dalam beberapa minggu!

Handphone ku bergetar, menandakan ada e-mail masuk. Kubuka slide handphoneku.

From : Bu Jodie

Cool Guy, kami gagal. Laki-laki yang kau buntuti kemarin itu, bunuh diri ketika kami menyergapnya. Kami menyebar sekitar 5 kilometer ke seluruh penjuru, namun kami tidak menemukan Gin dan Vodka. Oh ya, besok ke rumah Professor Agasa untuk membicarakan soal kau kembali ke tubuhmu semula. Nampaknya Miyano-san sudah menemukan antidote nya.

Jodie Santemillion

Aku segera menelpon Bu Jodie.

"Hello, Cool Guy? What's wrong? You'd receive my message?" sahutnya langsung begitu telpon tersambung.

"Well, Bu Jodie, soal antidote itu…" aku memilah kata-kata yang akan kugunakan sambil berjalan menuju kantor detektif. "Kurasa tidak perlu. Kita bisa menundanya."

"Eh? Why? Kau ingin segera kembali menjadi detektif SMU, benar 'kan? Jadi mengapa harus menundanya?"

"Aku butuh perpisahan sebagai Edogawa Conan." jelasku. "Akan mencurigakan untuk Ran bila aku menghilang tiba-tiba, lalu Kudou Shinichi kembali. Aku akan membuat perpisahan yang bilang kalau aku keluar negeri. Lalu beberapa minggu kemudian, —oh ya, ngomong-ngomong sekarang dalam sehari aku bisa tumbuh sekitar 10 cm, jadi tidak butuh antidote lagi— aku akan muncul. Jadi tidak terlalu kentara kalau Conana itu sama dengan Shinichi."

"Hmmm…" nampaknya Bu Jodie mencerna omonganku. "Okay, I'll tell James about this. See ya later, then, Cool Guy!"

Aku langsung menutup telpon. Aku sudah sampai di kantor detektif, jadi aku langsung naik tangga menuju ke lantai tiga. Namun di ruangan Paman Kogoro, dari balik pintu, aku mendengar Ran sedang berbicara dengan Sonoko lewat telpon. Saat itu juga aku menempelkan telinga di pintu.

"EH? DOKTER ARAIDE MAU MENGAJAK KENCAN!"

Sepertinya Ran menggunakan speaker, karena aku bisa mendengar suara Sonoko juga.

"Haha! Iya Ran! Dia memang tidak bilang langsung ingin berkencan denganmu, tetapi ia nitip pesan sama aku untuk disampaikan ke kamu, dia punya 2 tiket nonton film Gnomeo and Juliet. Jadi secara tidak langsung dia mengajakmu date! Ayolah Ran… terima saja!"

"Huuuh, jangan bilang kau sudah mengiyakan, ya, Sonoko?"

"Ping pong! Aku bilang kalau kau pasti menerimanya karena kau sudah menunggu ajakannya sejak lama!"

SONOKO BRENGSEK!

"SONOKOOOO!" Ran berteriak kecil, nada suaranya kesal.

"Jadi, Ran, kau terima tidak?"

Tidak tidak tidak tidak tidak! Jangan bilang 'ya' Ran! JANGAN!

"Tidak!" ujar Ran cepat. Aku langsung bersyukur kepada yang diatas. Bukan langit-langit lho. Ngerti dong, maksudku. "Mana mungkin aku terima! Aku tidak menunggu ajakannya, kau yang hanya mengada-ada. Aku akan bilang padanya kalau kau berbohong, dan aku akan ada acara!"

"Yaampun Ran, memang kenapa sih? Masa kau hanya kencan dengan suami tercintamu itu? Gak asik banget! Sekali-kali coba cowok lain kek!" Sonoko merajuk.

"A… aku tidak pernah kencan dengan Shinichi!"

"Memangnya aku bilang Shinichi?" suara Sonoko menggoda.

"Ter… terserah kau deh!"

"Hahaha, aku yakin wajahmu memerah sekarang!" goda Sonoko lagi. Aku membuka pintu kecil, ingin melihat seperti apa ekspresi Ran diledek seperti itu.

Merah banget.

Wajahnya memerah karena aku! Yaampun! Kurasakan wajahku ikut menghangat.

"Pokoknya aku tidak mau!"

"Ayolah Ran… dia sudah sangat berharap…" suara Sonoko memelas. Aku melengos. Sonoko sialan! Kenapa sih ia gigih banget supaya Ran tifak mengingat aku terus?

"Ya, Ran? Lupakan saja suamimu yang entah ada dimana itu." Aku disini, bodoh. "Terima saja, Ran. Oke?"

Aku mohon Ran, jangan!

Namun aku langsung lemas, waktu mendengar Ran menjawab :

"Ngngngng, baiklah, lagipula aku juga tidak mau begini terus, mungkin memang harus mencoba."


Thanks to :

Sha-chan Anime Lover & Nishikawa Azura

Mehehehehehehehehehehehehehe *cengengesan*

Conan gampang GR, ya? Gak apalah, kalo kali-kali imagenya itu gak keren. Mehehe.

Maaf kalo updatenya kelamaan. Soalnya, harus bagi waktu sekarang antara ngejain ribuan soal Fisika – MTK dan nulis fanfict. Semoga suka chapter ini, yah.

Reviewnya :D

PS : Emangnya judul chapter tuh gak bisa panjang-panjang ya? Padahal chap kemarin judulnya panjang banget, tapi kusingkat, jadi gak asik ==