Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
"Ngngngng, baiklah, lagipula aku juga tidak mau begini terus, mungkin memang harus mencoba."
"HAAAAA!" aku terlonjak dari tempat dudukku. "Gitu dong, Ran! Itu baru asik namanya! Perhatikan sekelilingmu juga!"
"Asik apanya?" aku merengut sebal. "Asik untukmu, kali!"
"Hehehe…" Sonoko tertawa.
"Memangnya kapan sih?" tanyaku acuh tak acuh.
"Besok…"
"EEEH! Mendadak banget!"
"Gak apa-apa 'kan? Besok 'kan Sabtu. Kau tidak ada acara ini."
Aku tidak mengangkat kepalaku, tetap mengerjakan PR-ku. Sonoko emang begitu akhir-akhir ini. Kepengen banget nyomblangin aku sama beberapa cowok disekolah. Ketika kutanyakan maksudnya, dia malah menjawab dengan riang gembira. "Supaya kau tidak terpaku sama Shinichi-kun, Ran! Dia meninggalkanmu! Ayolah, cari cowok lain saja! Cowok itu seperti ikan di lautan, banyak sekali!"
Mendengar jawabannya aku meringis. Memangnya kenapa kalau Shinichi meninggalkanku? Ada pengaruhnya?
Sonoko bahkan menyebarkan kabar-kabar aneh di kalangan para cowok. Aku mengetahuinya ketika mendengar percakapan 2 orang adik kelasku.
"Iya, kamu tau gak Kak Mouri?"
"Hn, aku tau, tau. Mouri Ran, 'kan? Yang mewakili sekolah kita menjadi pemenang karate wanita di wilayah Kanto! Siapa sih yang gak tau dia? Kak Ran kan banyak yang naksir!" ujar temannya yang adik kelasku, satu klub yaitu karate.
"Iya! Si Takumi nembak dia lho!"
"EEEHHH! Kak Ran kan pacaran sama detektif SMA yang sedang absen itu! Si Kuso* itu!"
"Makanya! Kata Kak Suzuki, sahabat Kak Mouri, mereka sudah putus! Break up! Karena itu, untuk para lelaki yang menyukainya, mereka sudah bisa menyatakan perasaannya, karena dia sudah gak ada ikatan lagi! Aku denger sendiri dari si Takumi"
"WAAAH, aku juga mau ah!"
"Lho, memangnya kau naksir Kak Mouri juga?"
"Siapa sih yang nggak? Dia itu idaman!"
"Lho, Hikari gimana? Kalian 'kan baru jadian seminggu!"
"Hehehe, gampang! Aku mau dapetin Kak Ran dulu aaaaah!"
Aku tersenyum mengingat percakapan itu. Sudah sekitar 5 orang yang kutolak menjalin hubungan denganku minggu ini. Belum seminggu lalu, seminggu lalunya lagi. Ada-ada saja. Sonoko pasti juga membujuk mereka yang aneh-aneh.
"Hey Ran! Kau dengar tidak?" tanya Sonoko.
"Hah? Soal apa?" tanyaku balik.
"Adduuuh! Belum kencan aja udah gak fokus. Gimana nanti pas acaranya tuh, hehehe… gak bisa aku ngebayang seberapa cemburunya Shinichi-kun…hehehe…"
"SONOKO!"
"Makoto mau pulang ke Jepang." nada canda Sonoko hilang dari suaranya, berganti menjadi ragu dan bingung. Aku merasa ada celah untuk meledeknya balik."Aku ingin memberi hadiah selamat datang untuknya… tapi aku bingung apa itu. Kasih saran, doooong!"
"Hmmm, bagaimana kalau ciuman yang mesra?" godaku. "Pasti ia malah semakin betah di Jepang dan tak mau meninggalkanmu, 'kan?"
"Ran!"
"Aku yakin sekarang wajahmu memeraaaah!"
"Ping pong!"
"AKU PULAAAAAANG!" ujar Conan. Ia membuka pintu. Air mukanya kesal. Ia duduk, membanting pantat di lantai.
"Oh, Conan-kun!" aku tersenyum. "Sudah pulang rupanya."
"Iya." jawab Conan ketus. Aku bingung ada apa dengannya. Aku memegang keningnya pelan. "Kau sakit, Conan-kun?" tanyaku sambil menempelkan jidat. Wajahnya memerah.
"Ti… tidak kok Kak! Aku baik-baik saja!" ujarnya, menarik kepalanya. Aku mengerutkan kening.
"Oh, ada bocah itu rupanya!" ujar Sonoko. "Sudah, biarkan saja dia!" Conan menunjukkan tampang kesalnya lagi. "Kau 'kan bisa mengobrol dengannya nanti. Sekarang beri aku saran, Ran!"
"Bagaimana dengan jam tangan terbaru keluaran Swezz Soldier?" celetuk Conan. "Anti air dan anti pecah. Sport banget, cocok 'kan untuk Kak Makoto yang suka berantem? Model dan warnanya juga cocok dengan dia." lanjutnya sambil mengeluarkan buku PRnya dari tas, ingin mengerjakannya bersamaku.
"Iya, itu saja Sonoko!" jawabku.
"Oh iya, aku liat di majalah baru-baru ini…" omongan Sonoko terputus. Aku juga. Aku menatap Conan dalam-dalam. Kurasakan mulutku menganga.
"Hm? Apa?" tanya Conan kebingungan mendengar kami tiba-tiba diam, dan aku yang memperhatikan dia terus.
"DARIMANA KAU TAU AKU MAU MEMBERIKAN HADIAH KE MAKOTO, BOCAH?" teriak Sonoko, keras sekali. Aku dan Conan sampai menutup telinga.
"Hah, maksudnya?" Conan tambah bingung.
"Kau tau darimana? Tadi kan kau belum datang sewaktu kami membicarakannya!" jelasku.
"Eh…" Conan menggaruk kepala. "Suara Kak Sonoko terdengar sampai ke bawah… makanya aku tau…"
"HALAH! PASTI DIA MENGUPING, RAN! Dia pasti akan mengadu sama Shinichi! Lihat saja!"
"TIDAK!" bantah Conan. "AKU TIDAK AKAN MENGADU KE KAK SHINICHI KOK, KALO KAK RAN KENCAN DENGAN DOKTER ARAIDE!"
Sunyi.
"Eh… hehehe…" Conan nyengir sambil garuk-garuk kepala. Dia sadar apa kesalahan kata-katanya sekarang.
"TUH KAN RAAAN! APA AKU BILANG! Dia itu dibayar Shinichi untuk memata-mataimu selama dia pergi, agar kau tidak berhubungan dengan lelaki lain, dan kau tetap menunggu dia! Sudah kuduga sejak lama! Dia itu tidak rela kau melupakan dia! Sudah kuduga! Sudah kuduga! Memang mudah ditebak banget si Shinichi itu!" aku tertawa kecil mendengar tuduhan Sonoko. Mana mungkin Shinichi melakukan hal seperti itu.
"Nggak Kak Ran! Aku gak sengaja dengar! Beneran! Aku tidak menguping! Dan aku juga tidak memata-matai Kak Ran untuk Kak Shinichi!"
"Jangan percaya dia Ran!"
"Percayalah padaku, Kak Ran! Aku tidak menguping!"
"Kalau memang kau tidak bekerja untuk Shinichi,, berarti sebenarnya kau naksir Ran, 'kan, bocah! Akuilah!"
Wajah Conan memerah lagi. "Nggg, nggak kok!"
Dan kurasa, perdebatan itu akan jadi perdebatan tanpa akhir.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat aku tersadar dari lamunanku. Aku mengangkat kepala dan berkata agak keras. "Masuk saja! Tidak dikunci!"
Pintu terbuka. Kepala Conan muncul dari baliknya. Kulihat wajahnya ragu-ragu.
"Ada apa, Conan-kun?" tanyaku sambil tersenyum. "Sini. Masuk aja."
Ia melangkahkan kaki, menuju ke arah tempat tidur, tempatku duduk.
"Kau tinggian, ya!" ujarku. Aku belum pernah melihat piyamanya yang satu ini, sepertinya lebih besar daripada yang ia biasa pakai. Dia memainkan tangannya, mengadu telunjuk satu dengan lainnya, lalu berkata, "Kak Ran… jangan percaya sama Kak Sonoko ya…" ia berdecih pelan menyebut nama Sonoko. Aku tertawa pelan. "Aku tidak sengaja mendengarnya. Beneran deh, swear!" ia mengangkat telunjuk dan jari tengahnya, membentuk tanda peace. "Dan aku janji, aku tidak akan mengadukannya kepada Kak Shinichi!"
"Diadukan juga tidak apa-apa, kok!" aku memegang pipinya, mengelusnya. Conan mengernyit. "Lho, bukannya Kakak tidak mau Kak Shinichi tau?" tanyanya.
"Mungkin kalau dia tau… dia akan pulang." jawabku. Conan terdiam, menunduk. Kurasakan air mataku menggenang.
"Kak Ran… aku akan ke luar negeri menyusul orang tuaku…" ujar Conan pelan. Mataku membelalak. Kuangkat dagunya, mencari kebohongan di matanya. Namun ia serius. Kulihat perasaan bersalah berkecamuk di wajahnya.
"Kok tiba-tiba?" aku menyusut air mataku.
"Karena…" Conan terdiam. Aku menunggu, namun dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Pokoknya, setelah aku pulang, pasti Kak Shinichi kembali ke sini! Aku janji! Dan setelah itu, dia tidak akan meninggalkanmu lagi! Kalau aku tidak ada, Kak Shinichi akan disebelah Kakak, dan Kakak tidak akan menderita lagi!"
"Eh?" aku bingung. "Kau tau darimana?"
Firasatku mengatakan, mereka merahasiakan sesuatu. Sesuatu yang tidak boleh kuketahui. Sesuatu yang harus disembunyikan dariku. Dan aku yakin firasatku ini tidak meleset sedikitpun.
"Pokoknya," Conan memegang tanganku erat, matanya menatapku dalam-dalam. "Pegang kata-kataku, Kak Ran. Kalau dia tidak kembali…" Conan lagi-lagi menggantung kata-katanya. Aku tersentak. Maksudnya apa?
Aku jadi bingung. Apa yang Conan dan Shinichi sembunyikan dariku? Apa sebenarnya alasan Shinichi pergi? Aku yakin bukan karena kasus! Kepergian dan kemunculan Conan-Shinichi juga terlalu dekat waktunya. Tiba-tiba sekali. Shinichi tidak ada, Conan muncul. Conan menghilang, Shinichi muncul.
Tapi waktu festival itu…
Semuanya berputar di kepalaku dengan cepat. Aku tidak mengerti. Aku tidak bisa menarik kesimpulan dari semua yang terjadi akhir-akhir ini.
"Kak Ran?" tegur Conan.
"Conan-kun…" aku memanggilnya.
"Ya?"
"Siapa kau sebenarnya?" tanyaku.
Air mataku turun sekarang. Pasti ada yang mereka rahasiakan dariku, dan itu berhubungan denganku, Mouri Ran! Mengapa mereka berdua tidak jujur padaku? Ada apa sebenarnya ini? Kenapa mereka membuatku jadi satu-satunya orang yang tidak tau keadaan yang sebenarnya?
Conan menghapus air mataku pelan. Ia melepas genggaman tangannya, dan menuju pintu, hendak keluar. Aku menghapus air mataku. Conan membuka pintu pelan.
Sebelum dia keluar, dia memanggilku.
"Kak Ran?"
Aku menoleh.
"Peganglah kata-kataku, semua, setiap patah kata yang kuucapkan padamu. Janji?" ia menatapku.
"Aku tidak mengerti…" suaraku bergetar. "Beritahu aku yang sesungguhnya, Conan-kun! Ada apa ini? Apa yang terjadi? Pada kau, pada Shinichi. Kenapa kau berbohong? Kenapa harus disembunyikan?"
"Tanyalah pada rumput yang bergoyang." ujar Conan hendak menghiburku. Aku menatapnya balik, kesal. Ini bukan waktunya untuk bercanda! Lagian 'kan, rumput bergoyang gak bisa ngomong! Rumput yang bergoyang juga gak tau apa-apa, sama seperti aku! Gak ada gunanya nanya sama rumput yang bergoyang!
Kenapa aku ikutan dodol gini sih?
Ia tersenyum menenangkan.
"Ketika segalanya terkendali, aman, Kak Shinichi akan memberitahumu… Ran." ia hanya memanggilku dengan nama. Aku sadari itu. Namun aku tidak peduli sekarang. Yang aku inginkan hanya tau kebenaran sesungguhnya! Aku terus menghapus air mataku dengan punggung tangan.
"Selamat tidur…" katanya pelan, lirih. Ia menutup pintu.
Tangisku berubah jadi sedu sedan.
"Ran…" sergah seseorang. Aku tidak mendengarnya jelas. Aku membiarkannya, mengira itu adalah mimpi.
"Ran…"
Aku terbangun. Jam 5 pagi. Terlalu pagi untuk bangun. Namun aku kepingin berendam air hangat, lagipula hari ini 'kan aku ada kencan dengan Dokter Araide.
"Ran…"
Ternyata bukan imajinasiku. Benar-benar ada yang memanggil namaku. Walau suara itu lumayan kecil, tapi masih bisa terdengar.
Aku keluar kamar. Tidak ada orang, kok. Apa jangan-jangan hantu, ya?
"Ran…"
Aku menoleh. Dari arah sofa. Di atas sofa itu, Conan berbaring. Tubuhnya berkeringat, kepalanya menggeleng-geleng kayak babi celeng.
Hush, bukan saatnya untuk berpikiran yang aneh-aneh!
Aku menghampirinya. Kupegang tangannya. Panas sekali! Belum pernah aku memegang tubuh manusia sepanas ini!
Aku ingin meninggalkannya sebentar mengambil air es untuk mengompres, tapi Conan menahan tanganku kuat. Aku yang tadinya hendak berdiri, duduk kembali. "Ran… Ran…" sekarang suara Conan jadi seperti rintihan. Sedih sekali.
"Apa?" jawabku. Mungkin ia bisa mendengar?
"Jangan… pergi…" ujarnya. Suaranya menderita. Aku tidak suka mendengarnya. Conan sudah seperti adikku sendiri, aku sangat sayang padanya. Lagipula 'kan aku didepannya. Aku tidak akan pergi.
Malah dia yang mau pergi meninggalkanku.
"Conan-kun?" aku memanggilnya.
Dia tidak menyahut.
"Ran…" panggilnya lagi.
Aku berteriak didepan wajahnya. "CONAN-KUN!"
Tidak bangun juga.
Kebo banget.
"CONAN-KUN!" teriakku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Matanya terbelalak, kaget. Lalu ia mengerjap-erjapkan* matanya, bingung. Terduduk.
Setelah sadar sikon*, dia melihatku. "KAK RAN!" teriaknya sambil menunjuk. Aku menurunkan telunjuknya.
"Jangan tunjuk-tunjuk orang seperti itu! Tidak sopan!" nasehatku. Ia mengangguk sambil mencari kacamatanya.
"Kacamata, kacamata…" ia meraba seluruh bagian sofa.
"Nih!" aku memberikannya. "Jatuh ke lantai."
"Te… terima kasih!" ujarnya terbata-bata. Lalu memakai kacamatanya.
"Kok kau tidur disini?"
"Ketika aku kembali ke kamar Paman, pintunya sudah dikunci… hehehe…" ia tertawa kesal.
"Kau mimpi tadi?" tanyaku. Conan termangu, lalu menggeleng-geleng. "Tidak kok. Memangnya kenapa?"
"Tadi… kau memanggil-manggil namaku…" aku menggaruk kepala, bingung.
"Mungkin aku hanya mengigau." ujar Conan menenangkan, walau terdengar seperti menenangkan dirinya sendiri.
Aku memerhatikannya lagi.
"Kok, kau tambah tinggi dari yang kemarin?" tanyaku.
Ribuan pertanyaan ingin kulontarkan lagi. Namun Conan berdiri, dan bilang "Mungkin hanya perasaan kakak saja." Lalu ia meninggalkanku, menuju toilet.
"Conan-kun?"
Ia berhenti, membalikan badan. "Hm?"
"Jangan tinggalkan aku." ujarku. "Aku tidak mau sendiri."
"Kan ada Paman, Kak Sonoko…"
"Kau mengerti maksudku."
Ia terdiam, menunduk.
"Ya?"
"I.. iya. Aku janji." jawabnya, lalu berbalik lagi, meninggalkanku.
"Dokter!"
"Oh, Ran!" Dokter Araide melambaikan tangannya padaku. Dia memakai sweater rajutan hitam-putih, dan celana hitam, juga sepatu hitam. Aku sendiri memakai kaus merah, baju kodok* dan sepatu kets, serta tas selendang merah.
Sudah kuduga, seperti ini memang kayak anak kecil. Biasanya, kencan dengan Shinichi, aku tidak memikirkan bajuku seperti apa.
"Lama menunggu?" tanyaku. Dia menggeleng.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
"Ke Tropical Land, mau?"
Sebenarnya aku menghindari tempat itu sebisa mungkin. Tempat itu penuh dengan kenanganku dan Shinichi. Tapi untuk menyenangkan hati Dokter Araide, aku ikut saja.
Selama disana, kami lebih banyak dalam kesunyian. Aku, jalan-jalan begini, hanya biasa dengan Shinichi, dan dia yang akan mengambil seluruh pembicaraan. Aku akan mengomelinya karena itu. Kami tertawa, ia selalu memancing keadaan untuk riuh agar aku tidak diam saja. Mengejekku, menganalisis orang disekitarnya. Kadang berujung kami bertengkar.
Di setiap wahana, yang kuingat adalah kenanganku bersama Shinichi, bukannya terfokus pada kencan buatan Sonoko ini. Terkadang aku atau Dokter Araide berinisiatif mengajak ngobrol, namun ketika sudah habik topiknya, kami terdiam lagi.
"Terima kasih, Ran." ujar Dokter Araide ketika kami sudah selesai. Aku tersenyum.
"Sama-sama, Dokter."
Dokter Araide memegang daguku… hendak mencium? Namun aku tak bisa menolak. Karena pada saat itu, yang terbayang di wajahku adalah Shinichi. Aku mengira Dokter Araide itu Shinichi.
Hanya wajahnya yang memenuhi benakku.
Sret!
Ada yang menahan perutku agar tidak terus maju. Aku menoleh, namun tidak ada siapa-siapa.
Aku dan Dokter Araide sama-sama melihat ke bawah.
Ai.
"Permisi." ujarnya, lalu menarik tanganku. Aku mengikutinya saja, merasa bersyukur karena selamat. Yang tadi itu Dokter Araide, bukan Shinichi!
Kami berhenti didepan gerbang Tropical Land. Haibara berbalik. Lalu dia memarahiku. "Kakak gimana, sih! Katanya menunggu Kudou, tapi malah kencan dengan dokter klinik itu!"
"Ha… habis…" aku membela diri. "Sudah seminggu juga Shinichi tidak menelpon, tidak memberi kabar. Aku tidak salah 'kan? Dia yang meninggalkanku terus."
Ai mendengus. Kalau begini ia seperti orang dewasa. "Itu tidak penting sekarang. Conan sudah dijemput orang tuanya, dan akan pergi. Kakak mau melihatnya tidak?"
Secepat ini?
Tapi… kalau benar kata Conan, benarkah Shinichi akan kembali?
"Ayo, cepat!" panggil Ai. Aku mengangguk, lalu berlari mengikutinya.
*Kuso = Sialan, brengsek. Pelesetannya Kudou :P
*mengerjap-erjapkan = ngedip2in mata karena kaget. Bener gak sih, mengerjap-ERJAPkan?
*sikon = situasi kondisi
*baju kodok = baju yang ada terusan itu loh, tapi terusannya celana. Baju yg suka Genta pake.
Thanks to : (sekalian fict Need You Now)
Sha-chan anime lover (ikutin terus ya, nanti tau deh :P), SilverBullet (Makasih, nih ku update) Conanlovers (Oh ya? Kirain jayus wkwkwk), Lionel Sanchez Kazumi (yah, kalo aku sih gengsi, udah marah duluan eeeh kangen duluan, hehe)
Waaaaah, selesai juga!
Sebenarnya, aku sudah ada inti cerita sampai chapter 6. Sayangnya, waktu untuk menulis fict ini makin sedikit saja, karena udah detik-detik menjelang UN. Maaf yaaa *cengengesan*.
Sehabis UN, aku janji waktu updatenya dipercepet deh… hehehe. Kemarin pengen update malah nulis Need You Now.
Ini sudut pandang Ran, yang sengaja kubuat penuh romance. Pas Conan, bagian suspensenya, hehehe.
Dan, sekarang makin banyak aja fic di Detective Conan Indonesia! Ah senengnyaaa! Padahal kalo dulu sekitar 1 mingguan baru muncul 1 fic.
Review :)
