Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
"Tu, tunggu Ai-chan!" aku berhenti sambil memegang lutut, terengah-engah setelah berlari sejauh 5 blok. Ai terus berlari. Namun nampaknya ia sadar kalau aku tidak mengikutinya lagi. Ia menoleh ke belakang. Akhirnya ia menuju ke arahku, menarik tanganku dan berlari lari kecil. Mau tidak mau aku harus mengikutinya. Daripada diseret-seret anak kecil, 'kan tidak lucu.
"Cepat, cepat!" Ai menyemangati.
Selama berlari, aku berpikir juga. Aku tidak menyangka perkembangannya akan menjadi seperti ini. Aku mau Shinichi dan Conan itu berbarengan. Aku tidak mau salah satu dari mereka tidak ada di sebelahku. Keinginanku memanglah aneh, apalagi Conan itu 'kan masih kecil, wajar kalau ia ingin tinggal bersama orang tuanya. Tetapi aku sudah menganggap dia sebagai adikku. Aku mau dia tetap bersamaku.
Alasan apa yang membuat mereka tidak bisa hidup berdampingan?
Tiba-tiba aku tersadar. Conan dan Shinichi tidak bisa bersama-sama. Kepergian yang terlalu tiba-tiba. Conan yang kurasa, menjadi cepat tinggi sekarang. Kemampuan analisis Conan. Shinichi yang pecinta Holmes. Wajah Conan yang mirip Shinichi. Mereka saudara jauh. Atau pura-pura sebagai saudara jauh.
Tanpa sadar kakiku berhenti dengan sendirinya. Ai tentu jadi ikut berhenti. Ia menoleh ke arahku. "Ada apa lagi? Nanti mereka keburu berangkat. Kau tidak mau bertemu dengan Edogawa untuk terakhir kalinya?"
"Memangnya dia tidak bisa kembali kesini?" tanyaku. Ai tertegun sebentar, lalu menjawab, "Tidak bisa, dia…"
"Karena ada Shinichi, 'kan?" tanyaku lagi. "Dia tidak bisa disini karena ada Shinichi. Mengapa seperti itu? Apakah karena…" aku menggantungkan kalimatku. Dia tidak bisa disini kalau ada Shinichi. Tidak bisa kalau hadir bersamaan?
Tiba-tiba suatu kesimpulan melintas di kepalaku.
"Ayooooo…" Ai menarikku lagi, namun kami hanya berjalan, tidak berlari kecil seperti tadi.
Aku mengelus dagu, bergumam pelan. "Shinichi adalah Conan."
Aku menabrak sesuatu. Tidak taunya aku menabrak Ai karena ia berhenti. Ku lihat bahunya bergetar sedikit. Lalu ia tenang lagi. Ia membalikan badan, wajahnya dingin. Ekspresinya kaku.
"Maksud Kakak apa? Aku tidak mengerti," ujar Ai dengan wajah yang begitu polosnya. Aku mengernyit.
Sekarang aku gantian menggandeng Ai, ia mengikutiku. Aku menjelaskan perkataanku tadi. "Mereka terlalu mirip. Kepergian Conan terlalu mendadak, Ai-chan. Tadi pagi…" aku bigung memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan. "Ia mengigau, memanggil namaku, bilang agar aku jangan pergi… padahal dia yang mau pergi. Padahal dia yang mau meninggalkanku. Dasar!" tanpa kusadari lagi aku jadi marah-marah sendiri.
"Si bodoh itu juga sama. Tidak masuk sekolah untuk menyelidiki kasus! Bayangkan saja! Dia membohongiku, dengan mengecilkan tubuhnya, lalu tinggal bersamaku! Hahaha!" aku tertawa, namun terdengar menyedihkan. "Lalu ketika ia hilang hari itu. Conan muncul di rumah Shinichi. Itu aneh! Lagipula, tak ada hal yang tidak kutahu soal Shinichi. Masa tiba-tiba dia kenal anak kecil seperti Conan? Kalau bukan untuk penyelidikan, dia suka meremehkan anak kecil! Analisisnya, tingkah lakunya, semuanya! Tidak mungkin anak kelas 1 SD bisa sepintar itu!"
Aku tidak tahu lagi apa ocehan yang keluar dari mulutku. Tapi aku tau itu semua berinti kemarahanku. Aku menumpahkan semua kebingunganku ke Ai-chan. Jika itu benar, dugaanku betul, aku marah. Benar-benar marah.
Bukan marah, tepatnya sedih merasa dibohongi.
Kenapa dia tidak bilang padaku kalau tubuhnya mengecil? Kenapa dia membohongiku? Kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa dia membiarkan aku menunggunya tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya? Kenapa dia membiarkan aku menangis? Jika itu rahasia, mengapa dia tidak percaya padaku? Sejuta kenapa muncul dikepalaku. Aku akan menyegel mulutku untuk menceritakannya kalau ia memintaku untuk melakukannya. Dan aku sangat yakin dia tau hal itu!
Sungguh bodoh. Aku merasa bodoh dibohongi seperti ini.
Padahal aku butuh Shinichi. Ketika dia tidak ada, dia malah jadi candu buatku. Aku ingin dia ada di sebelahku, tanpa meninggalkanku.
Namun Shinichi… jika memang dugaanku benar…
Dia tidak meninggalkanku secara harfiah, 'kan?
Dia tetap memilih berada disini ketika orang tuanya menjemputnya. Tunggu, tunggu, kalau begitu… berarti Tante Yukiko juga tau kalau anaknya mengecil?
Dilihat dari reaksi Ai, nampaknya dia juga tau rahasia ini!
Tiba-tiba aku merasa tubuhku terbakar amarah.
Hanya aku, satu-satunya orang dekatnya, yang tidak tau soal ini!
"Cepat jalannya, Ai-chan." ujarku. Suaraku bergetar menahan marah. Aku menoleh melihat wajah Ai. Dia menatapku dalam-dalam.
"Jangan menduga-duga. Tanyakan kebenarannya." ujarnya padaku. Dingin.
Cocok untuk api, seperti aku sekarang.
Aku sudah tau kebenarannya. Dan aku yakin dengan analisisku ini.
"Kak Ran!" suara Conan kaget ketika melihatku bersama Ai. Mungkin ia tidak menyangka bahwa aku akan pulang secepat ini dari kencan dengan Dokter Araide.
Seharusnya aku tidak mengiyakan tawaran Sonoko kemarin.
Aku tersenyum tipis. Dari ekspresi Conan, sepertinya wajahku menyeramkan sekarang.
Tentu saja. Karena aku akan menghajarnya jika dia berani lagi untuk berdusta denganku.
"Ooooh, Ran-chan." Bu Fumiyo tersenyum menatapku. Aku membalas senyumnya kecil. Ia memasukan barang-barang Conan ke dalam bagasi mobilnya.
Mataku menyipit. Jika Conan itu Shinichi, tentu saja orang tua Conan adalah Tante Yukiko dan Paman Yusaku. Lalu, Bu Fumiyo siapa dong? Tapi, bisa saja ini Tante Yukiko yang menyamar. Aku kenal benar dengan beliau. Pasti, tentu saja ini dia yang menyamar.
Itu bila analisisku benar, 'kan?
Aku jadi deg-degan sekarang. Bagaimana kalau analisisku salah? Bagaimana jika sebenarnya, Conan itu bukan Shinichi? Bagaimana bila analisisku ini muncul hanya karena prasangka burukku saja? Dan sekarang, sejuta kemungkinan muncul dikepala, menggantikan sejuta kenapa.
"KAK RAN!" Conan berteriak dihadapanku sekarang. Aku terbelalak. Lalu aku langsung menjitaknya.
"Tidak boleh teriak-teriak di depan orang dewasa, Conan-kun!" omelku. Conan merengut. "Aku memanggil Kak Ran, tapi Kakak tidak dengar juga, eeeeh…"
Aku menarik tangan Conan ke tangga atas. Kulirik ayah dari pintu kantor detektif, dia sedang tidur. Aku terus menarik Conan sampai atas, depan pintu rumahku.
"Kenapa, Kak Ran?" tanya Conan. Aku diam saja. Lalu aku menjatuhkan lututku ke lantai, menyamakan tinggiku dengannya. Sekarang aku merasakan perbedaannya. Conan benar-benar bertambah tinggi, sangat cepat. Tidak lazim. Benar-benar.
Aku…
Aku diam, menahan air mata, menggigit bibir bawahku. Ternyata aku tak bisa seperti Shinichi, mengeluarkan analisisnya dengan lancar dan percaya diri. Dengan tenang, dan yakin.
Tentu saja! Karena pelaku kejahatannya bukan orang yang dia cintai!
"Bukannya hari ini Kakak kencan dengan Dokter Araide?" tanya Conan. Aku mengangguk pelan, menatap matanya yang hitam, tidak mau mengalihkan pandanganku dari sana. Sebentar lagi dia pergi.
Dan tak akan kembali sebagai Conan.
"Kok, Kakak berpakaian seperti itu?" tanya Conan, setelah sadar aku tidak merespon pertanyaannya.
"Memangnya kenapa?" tanyaku ketus. Suaraku bergetar. Air mataku jatuh tanpa bisa dibendung lagi. "Ada yang salah dengan bajuku? Kau mau aku memakai baju renang?"
"Bu, bukan begitu maksudku…" Conan menggaruk kepala canggung.
Diam dalam kesunyian. Hanya terdengar tangisku pelan. Dan lirih.
"Jangan pergi." ujarku. Singkat dan menyedihkan. Memang 'kan? Untuk urusan Shinichi, aku jadi lemah dan rapuh. Kalau disentuh, langsung jadi pasir. Disentil mental.
"Maaf, Kak, aku harus pergi." jawab Conan. Aku memegang bahunya.
"Jangan pergi! Jangan, jangan, jangan, jangan, jangan!" aku menggeleng-gelengkan kepala, melarang kepergiannya. "Kau tidak boleh pergi! Kau harus tetap disebelahku, ya! Jangan kemana-mana!"
"Kenapa? Harusnya 'kan Kakak senang kalau aku pulang, akhirnya aku bisa kembali bersama orang tuaku." bantah Conan.
"Karena kau Shinichi." balasku. "Karena kau Shinichi. Kau bukan Edogawa Conan. Kau adalah Kudou Shinichi. Kau tak boleh pergi dariku untuk kedua kalinya, lalu tak kembali. Tidak, tidak boleh! Tidak!" jeritku pelan.
Conan mengangkat alis bingung, lalu ia menghembuskan napas pelan. "Apa maksud Kakak?" tanyanya. "Aku ini Conan. Kakak ngigo, ya?"
"Tii~dak! Aku sepenuhnya sadar," aku menarik napas pelan, dadaku sesak sekarang. "Dan ini adalah fakta! Kau itu Shinichi!"
"Bukan, aku…" ia menurunkan tanganku dari bahunya. "Aku… harus pergi. Selamat tinggal, Kak Ran!"
Aku menahan tangannya sebelum ia menuruni tangga. "Memangnya, jika kau bukan Shinichi seperti klaimmu tadi, kau tak bisa menelponku atau semacamnya?" tanyaku, agar ia berkata jujur.
"Tidak. Sikonnya tidak memungkinkan." jawabnya, nada suaranya datar.
Aku menariknya, memeluknya dari belakang. Kurasakan air mataku membasahi kausnya. "Tidak mau. Aku akan menculikmu kalau kau masih memaksa ingin pergi."
"Lho, harusnya Kakak senang karena aku kembali ke orang tuaku, dong." ujarnya. Aku menggeleng-geleng.
"Tidak. Kau Shinichi. Shinichi. Kau itu Shinichi. Kau bukan anak kecil yang masih butuh kasih saying orang tuamu! Kau itu Shinichi, yang dari kecil saja sudah ditinggal orang tuanya ke Amerika, dan kau tidak peduli! Kau itu Shinichi, kau itu… Shin…"
Conan membalikkan badan, mengangkat wajahku.
"Ja… jangan per… gi…" aku menutup mataku. Air mataku tambah deras saja. Conan menggunakan jarinya untuk menghapus likuid bening itu. Aku membisikkan nama Shinichi berulang-ulang seperti kaset rusak.
Memegang kepalaku seakan kepalaku bola basket.
Aku membuka mata. Wajahnya sedih dan menderita.
Dia Shinichi.
Aku yakin sekarang.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, ada semburat kecil di pipinya. Aku menutup mata, tau apa yang ia maksud. Kurasakan napasnya memburu, begitu pula aku. Ku buka bibirku sedikit, menutup mata kembali, dan…
"Ehem." Ada suara. Interupsi. Aku langsung membuka mata. Conan melepas kepalaku, lalu membuang muka, wajahnya merah.
Wajah Bu Fumiyo dengan cengiran lebar menggoda, melihat ke arah kami. Sepertinya ada suatu hal yang membuat dia puas. "Waduh, aku mengganggu ya, maaf…" ia berlalu ke bawah. Tambah yakin aku kalau ia Tante Yukiko. Masa dia tidak marah anaknya yang masih SD mau berciuman dengan remaja kelas 2 SMA?
"Tidak, kok, Bu." jawab Conan. Ia menuruni tangga, pelan.
Sekarang tubuhnya sudah seperti kelas 4 SD. Sepertinya tambah tinggi dari yang tadi pagi.
"Shinichi?" panggilku. Ia berhenti. Namun tidak menoleh.
Sudah cukup bukti, berarti ia sudah mengakui bahwa ia adalah Shinichi yang mengecil.
"Kau… akan kembali?" tanyaku.
"Pasti." jawabnya. "Aku akan kembali, dan tak akan meninggalkanmu lagi."
"Setelah kau kembali, aku akan menghajarmu, karena membohongiku, mandi bareng denganmu…" wajahku memanas. "Aku juga secara tidak langsung jadi menyatakan perasaanku padamu, kau pernah tidur bareng denganku, lagak polosmu yang menyebalkan itu, lalu…"
"Aku pasti kembali." potongnya. "Aku tak mau melihat kau menangis lagi. Dan perlu kau tau," ia menarik napas, lalu mendengus. "Aku juga memiliki perasaan yang sama, seperti perasaan kau terhadapku. Jadi, jangan pernah menerima ajakan kencan dari laki-laki seperti kemarin."
Aku mengangguk sambil menghapus air mataku.
Aku menundukkan kepala. Tidak tahunya, ada tangan yang mengangkat kepalaku, lalu menghapus air mataku.
Kukira dia sudah pergi.
"Jangan nangis lagi, ya? Demi aku." ujarnya.
Aku diam saja. Kupeluk lagi dia dari depan, tidak mau dia melihat wajahku yang menyedihkan ini. Ia menempelkan bibirnya di keningku —membuat jantungku mencelos saja, yaampun—. Lalu kudengar ia berkata, "Kau tau tidak, sewaktu di Beika Building Centre itu… aku ingin… melamarmu sebenarnya." ia menarik napas. "Namun malah ada kasus. Aku jadi gagal menyatakan perasaanku. Jadi, jangan bersedih, karena seperti sebelumnya, aku bisa berada di sebelahmu tanpa kau ketahui. Mengerti tidak?"
Aku mengangguk. Bahkan sekarang dia memakai gaya sok keren dan mengintimidasinya itu. Lalu ia berbalik, pergi. Masuk ke mobilnya, membuka kaca dan berdadah pelan ke arahku.
Aku hanya terdiam di tempatku, tak bisa menahan tangis.
Thanks to :
Shiro (hehehe, makasih, I'm finished now), Silver Bullet (Thanks, ini update), Sha-chan anime lover (bahasa ku yg formal?)
YAAMPUN, MENYE BGT SIIIIIIIIIIH!
Cuma sedikit nih, wkwkwk. Soalnya, di next chap mau ada kasus... masa detektif gak ketemu kasus? Apalagi ini Kudou Shinichi, detektif pengundang kematian! (Uuups! Shinichi FC jgn marah!)
Akhirnya UN udah beres, jadinya bisa update, hehehehehe *cengengesan*
Minta reviewnya, yah! :) Walau cuma satu review, tapi aku udah seneng karena ada yang baca dan komen!
