Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Conan menatap jalan raya, kepalanya miring, malas melihat wajah ibunya. Sedangkan Yukiko sedang bersiul bahagia, seakan memenangkan lotere 10 juta yen.
Ups, sepertinya kekayaan keluarga Kudou melebihi 10 juta yen itu.
"Hm hm hm hm hm…" sekarang ia bersenandung, menyanyikan lagu yang sedang lumayan terkenal di Jepang. Conan melirik ibunya.
"Ada apa sih? Kelihatannya Ibu senang sekali." ujarnya, sambil melihat jalanan lagi. Moodnya sedang buruk sekarang, gara-gara ibunya menginterupsi kejadian tadi.
Kira-kira 100 meter dari kantor detektif, dengan cepat ibunya itu membuka penyamarannya. Sekarang ia adalah Kudou Yukiko, dengan rambut bergelombangnya yang berwarna kuning terang, tubuh langsing, baju lengan panjang bergaris oranye-kuning, dan celana putih. Bukan lagi Edogawa Fumiyo yang berambut pendek hitam dan mencuat keluar, gemuk, dan selalu terlihat mengenakan setelan orang kantoran itu.
"Ohohoho, tentu saja aku senang, Nak!" Conan merengut mendengar ibunya memanggil dia dengan kata 'nak'. Seakan dia anak kecil saja. "Karena sekarang, anakku sudah dewasa! OHOHOHOHOHO!"
"Maksud ibu apa sih? Aku 'kan memang sudah dewasa, sebenarnya aku ini sudah SMA. Memangnya dengan berubah jadi anak kecil, aku jadi SD betulan lagi, begitu?" tanya Conan sambil memperhatikan jalanan lagi. Nampaknya, mobil-mobil yang lewat serta gedung-gedung tinggi sekarang lebih menarik daripada melihat wajah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Bukan itu maksudku, Shin-chaan…" Yukiko memberi penekanan pada kata Shin-chan lalu menoel* hidung Conan. Yang ditoel hidungnya, langsung memundurkan kepalanya.
Sebenarnya Conan sudah tau kemana arah pembicaraan mereka ini. Namun ia berlagak bodoh saja. Tau begini, ia jadi menyesal bertanya kenapa ibunya begitu senang tadi. Lebih baik dia diam saja deh.
"Lalu apa maksud Ibu?" tanya Conan, sok pilon*.
"Oooh, kau marah ya? Aku tidak sengaja melihat ketika kau mau BER-CI-U-MAN dengan Ran tadi, aku ingin memangilmu karena aku sudah selesai. Ya ampun, anakku sudah dewasa rupanyaa~" Yukiko mengacak-acak rambut Conan, membuat yang punya rambut jadi bertambah kesal. Conan merapikan rambutnya dengan bibir manyun, mau mengamuk tapi tidak bisa. Ia hanya menunjukkan wajah aku-sedang-marah-dengan-Ibu-jadi-jangan-bicara-padaku.
"OHOHOHOHO!" Yukiko menginjak pedal gas lebih dalam. Sekarang jarum di speedometer menunjuk ke angka 140.
Conan langsung pegangan pintu begitu ibunya belok ke kiri. "IBU! ADA AKU! AKU INI ANAKMU, TAU! PELANKAN MOBILNYA SEKARANG!"
"Ooh, Shin-chan, kau tau 'kan kalau ibumu tercinta ini sangat mahir membawa mobiiil!" balas Yukiko dengan ceria, membuat Conan melipat tangan di depan dada, dan wajahnya bertambah marah berkali-kali lipat.
Mungkin aku harus bilang Ayah soal kegilaan Ibu dalam membawa mobil, batin Conan. Ia memperhatikan interior mobil tersebut.
Feroza merah metalik, dengan ban radial. Kekuatan mesin 1600 cc, walaupun bensinnya boros namun enak diajak ngebut. Joknya bewarna coklat susu, wanginya juga enak. Mesin yang tidak ribet, walau mobil ini sedikit rendah. Ya ya ya, sesuai dengan kriteria ibunya soal mobil.
"Tapi, Shin-chan…" ibunya membuka pembicaraan lagi. "Tadi Ran tidak marah ketika kau hendak menciumnya, berarti dia tau dong kalau kau itu Kudou Shinichi, orang yang selama ini ditunggunya? Kau memberitahu dia soal itu?"
"Tidak." jawab Conan. "Tentu saja aku tidak memberitahunya dalam keadaan aku dan FBI belum meringkus organisasi yang mengecilkan tubuhku itu. Itu kan berbahaya. Mungkin karena kejadian aneh akhir-akhir ini, jadinya dia bisa mengambil kesimpulan." Conan memalingkan mukanya lagi ke jalanan, tidak mau ibunya melihat ekspresinya menyedihkan sekarang.
"Lalu… kau mengakuinya?" tanya Yukiko pelan.
"Tentu saja." jawab Conan. "Untuk apa lagi aku menyembunyikannya lagi sekarang? Aku tau ia bisa menjaga rahasia, apalagi aku membohonginya selama ini. Lagipula…" tenggorokan Conan sekarang enggan mengeluarkan kata-kata itu, namun ia mengerti kalai ibunya butuh penjelasan agar ia mengerti. "Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah aku akan selamat dan berhasil atau mati…"
"Shin-chan, dengarkan Ibu." Yukiko sekarang memelankan mobilnya hingga angka 140 berubah jadi 120. Memang bukan kecepatan yang cukup pelan untuk ukuran mobil. "Aku tidak mau kau celaka. Tidak bisakah kau hanya memberi informasi, dan tidak ikut meringkus mereka? Kau mengerti 'kan maksud Ibu. Bukan hanya aku dan Yusaku yang akan sedih, Ran juga, Professor, teman-teman kecilmu…"
"Keputusanku sudah bulat, Bu." Conan memotong omongan ibunya. "Aku sudah memikirkannya masak-masak, yah, Ibu tidak usah khawatir…"
Diam. Conan tidak mau melanjutkan kata-katanya.
"Eh, tapi soal Ran tau identitasku, apa mungkin Haibara yang memberitahunya ya?" Conan menebak-nebak.
"Ha? Kenapa begitu?" Yukiko menaikkan satu alisnya, heran.
"Tadi 'kan dia yang menjemput Ran, padahal tadinya aku mau pergi tanpa pamit lho. Dia 'kan wanita juga, jadi mungkin hatinya tersentuh…"
"Jangan asal tuduh, detektif terkenal." ujar cewek yang berambut pirang stroberi, sarkatis. "Enak saja, walau bagaimanapun juga, aku 'kan yang menyuruhmu untuk menutup mulut. Analisismu itu tanpa bukti. Kalau kau yang salah, jangan jadikan orang lain kambing hitam."
"Tapi 'kan tetap saja…" Conan terdiam. Lalu bangkit dari kursinya dan menunjuk Haibara yang duduk di kursi belakang. "AAAAAH! KENAPA KAU ADA DISINI?"
"Memangnya kenapa?" Haibara dengan santai membuka majalah majalah ELLE yang sedari tadi dibacanya. "Kita 'kan satu tujuan, dan…" Haibara menurunkan telunjuk Conan yang menunjuk mukanya. "Jangan menunjukku seperti itu. Tidak sopan."
"T…Tapi…" CKIIIIIT! Mobil Yukiko mengerem, DUAK! Kepala Conan terbentur langit-langit mobil. Yukiko membanting setir ke arah kanan hendak memutar, dan kepala Conan terbentur lagi oleh kaca mobil.
"WADAW!" Conan mengelus kepalanya, yang dia yakin besok benjol. "Ibu kenapa sih? Makanya kalau menyetir jangan dengan kecepatan cahaya dong!"
"Kau yang salah." goda Haibara. "Siapa suruh kau berdiri di jok? Bersikaplah dewasa sedikit. Masa segala sesuatu harus diberitahu."
"Aku sudah dewasa, tau!" Conan membanting pantatnya ke jok, kesal.
"Kalau sudah dewasa, kenapa gagal mencium Ran?" ledek Yukiko, lalu ia tertawa bersama Haibara.
"MEMANGNYA SIAPA YANG MEMBUAT GAGAL, HAH?" sekarang emosi Conan meletup-letup.
Rasanya seperti di neraka, bersama dengan dua wanita yang suka menjailinya itu.
"Good afternoon! Wanna reserve some seat?" tanya seorang pelayan wanita Asia. Sepertinya ia mengira mereka orang asing karena rambut Yukiko dan Haibara yang tidak biasa. Yukiko tersenyum.
"Aku orang Jepang, kok. Ya, untuk tiga orang."
"Oh, maaf Miss. Sebentar, saya cek dulu tempatnya." si pelayan membuka-buka buku, lalu berkata, "Oh ada. Silahkan, atas nama siapa?" tanya si pelayan. "Kudou Yukiko." jawab Yukiko.
Si pelayan mengantar mereka ke tempat duduk.
"Apa yang mau di pesan, Miss?" tanya si pelayan lagi.
"Hmmm, steak tenderloin."
"Anak-anak, kalian mau apa?" tanya si pelayan ramah.
"Aku salad saja," jawab Haibara.
"Huh, apa kau tidak kelaparan hanya memakan itu?" ledek Conan. Haibara tidak menanggapi.
"Kau apa, nak?" tanya pelayan kepada Conan.
"Hmm, aku…" Haibara menyambung kata-kata Conan cepat. "Dia suka Kids Lunch. Itu saja."
"Baik, kuulangi ya, 1 Kids Lunch, 1 salad, 1 steak tenderloin. Minumnya?"
"TUNGGU DULU! ITU 'KAN DIA YANG BILANG, AKU TIDAK BILANG BEGITU!" sergah Conan, mendelik ke arah Haibara. Yang dipelototi tidak peduli, malah melihat ke arah menu.
"Aku spaghetti carbonara saja, minumnya jus alpukat."
"Aku iced lemon tea!" seru Yukiko.
"Aku air mineral." sahut Haibara.
"Jadi 1 salad, 1 spaghetti carbonara, 1 steak tenderloin, 1 air mineral, 1 iced lemon tea, 1 jus alpukat. Segera diantaar!" si pelayan berbalik untuk memberikan pesanan kepada koki.
"Huh, pantas saja kau jadi gemuk, Edogawa Conan-kun. Makanmu saja penuh lemak begitu."
"Oh ya? Daripada kau, makan hanya salad dan air mineral? Heran, kenapa kau bisa pintar hanya memakan itu."
"Bukan urusanmu, detektif bodoh."
"Oh ya, ilmuwan kemudaan?"
"Sudah, jangan bertengkar lagi, ya!" Yukiko merasa sekarang ia sedang mengajak makan siang dua anak kecil yang menjadi musuh bebuyutan, walaupun mereka berdua adalah remaja yang sudah SMA. Aduh, kok Professor tahan ya mendengar ocehan mereka berdua? batin Yukiko.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakan si pelayan tadi menggema. Conan, Yukiko dan Haibara langsung terdiam.
Conan berlari mencari arah suara, diikuti Haibara. "SHIN-CHAN! AI-CHAN!" Yukiko berteriak lalu menyusul.
Yukiko melihat Conan dan Haibara berhenti di depan toilet, sementara si pelayan tadi terduduk di lantai, dengan muka pucat pasi.
"Ada apa, sih?" tanya Yukiko, melihat ke dalam toilet.
Ada orang yang gantung diri.
"TELPON POLISI SEKARANG, BU!" teriak Conan. "CEPAT!"
"Ba, baik…" Yukiko segera menelpon polisi. Conan yang hendak masuk ke dalam toilet, masuk terburu-buru.
GUBRAK! Dia terpeleset.
"Hati-hati, dong, Kudou-kun!" Haibara membantu Conan berdiri. "Aduuuh…" Conan mengelus kepalanya. Sialan, aku sudah 3 kali terbentur hari ini. batinnya.
Tapi, aneh… kenapa di sini ada genangan air ya? Dilihat dari kemewahan restoran ini, harusnya ini kamar mandi kering. Atau dia menghambur-hamburkan air? Tapi kenapa? Lagi pula dindingnya tidak menunjukkan tanda-tanda basah atau bekas kena air… Conan mengitari toilet, mengecek keadaan toilet itu. Ukurannya hanya 2 x 1,5 meter, dengan satu pispot dan penyemprot. Diatasnya ada lemari yang isinya tissue. Tinggi toilet sekitar 2 m. Korban berada dekat dengan pintu, jadi kakinya tidak bisa mencapai pispot. Sedangkan, toilet ini hanyalah ada satu di sebuah koridor sepi.
Bunuh diri? Atau pembunuhan ya? Conan berputar-putar saja di toilet, mencari seteliti mungkin bukti yang lain.
"Kematiannya sekitar 1 jam yang lalu, dilihat dari kekakuan mayat, Kudou-kun." ujar Haibara, dalam keadaan ia memanjat pispot. "Sepertinya kematiannya karena tercekik… tidak ada tanda-tanda lain selain bekas tali tambang di lehernya." Haibara melompat ke bawah. Conan diam saja dan terlihat berpikir.
"Kau dapat sesuatu, Kudou-kun?"
"Tidak tau… mungkin kita bisa lihat nanti…" balas Conan.
"Hmmm…" Inspektur Megure melihat ke arah 3 tersangka. "Jadi, siapa korbannya?"
"Nakashima Endi, 23 tahun." Takagi menjelaskan sambil membaca catatannya. "Ia adalah kepala pelayan disini. Kematiannya diperkirakan antara pukul 2 siang sampai 2.15." ujarnya.
"Dan para tersangkanya…"
"Baik. Enatsu Hikari, 21 tahun, dia adalah pelayan bawahan korban. Nagashima Haruka, 21 tahun, sama dengan Enatsu-san, dia bawahan korban, juga pacarnya. Saotome Hideo, 23 tahun, ia adalah sahabat korban, kebetulan dia berada disini."
"Lalu kenapa mereka yang jadi tersangka?"
"Karena mereka tidak memiliki alibi pada saat kejadian, dan mempunyai motif, Inspektur!" sahut Conan. "Aku sudah menanyakan pada orang sekitar, semua orang di restoran ini selalu berdua atau bertiga, dan hanya mereka yang memiliki motif. Korban suka menghina keluarga Enatsu-san, karena mereka punya hutang pada keluarga korban. Nagashima-san, dia adalah kekasih korban, katanya ia suka dikasari oleh korban. Lalu Saotome-san…" Conan melirik ke arah laki-laki itu sebentar, lalu melanjutkan perkataannya. "Dia adalah mantan pacar Nagashima-san, lalu korban merebutnya."
"Hooo…" Inspektur Megure menatap para tersangka. "Lalu, dimana kalian pada saat kejadian?"
"A, aku sedang mengecek ketersediaan bahan makanan… Endi-san yang menyuruhku…" jawab Hikari, pelayan yang melayani Conan dkk tadi.
"Hiks, aku… aku sedang… menjaga konter depan, hiks, tapi memang selama kejadian tidak ada pembeli, hiks hiks…" Haruka terus menangis, mengelap air matanya dengan punggung tangan.
"Aku sedang di ruangan Endi, tadi dia yang menyuruhku masuk ke sana." ujar Hideo, memperhatikan Haruka yang sedang menangis.
"Ho… oh ya, ngomong-ngomong, Conan-kun…" Megure angkat bicara.
"A, ada apa, Inspektur?"
"Mana detektif itu?"
"Hah?" Conan mengernyitkan kening, bingung dengan maksud Inspektur Megure.
"Dia…" Inspektur Megure menggantungkan kalimatnya. "Yang diawal terlihat bodoh, lalu HOAAHHHMMMM…" Inspektur Megure memutar tangannya, mundur, lalu bersandar di dinding, melipat tangan di dada, dan menyilangkan kaki. "Kau tau 'kan siapa yang kumaksud?"
"Oh… Paman…" Conan baru konek. "Aku tidak bersamanya kesini. Aku pergi dengan…"
"Aku, Inspektur." Jawab Yukiko. "NIGHT BARONESS INI! OHOHOHOHO!"
Hahaha, Conan tertawa dengan mata setengahnya.
"YUKIKO!" Megure terkejut melihat Yukiko. "Sedang apa kau disini? Kapan kembali ke Jepang?"
"Kemarin sore, Inspektur!" jawab Yukiko.
"Kau… kenal Conan?" tanya Inspektur Megure heran. Kok si Conan ini kenal banyak orang-orang yang berhubungan dengan kasus, ya?
"Tentu saja! Dia itu anaknya anak keponakan ayahnya sepupu cucunya kakek kakekku!" jelas Yukiko. Mendengar kata-katanya saja, Megure sudah malas mencari-cari hubungan Yukiko – Conan, padahal kalau diteliti, Conan adalah anak Yukiko, alias Shinichi.
"Hooo, lalu, sedang apa kau disini?" tanya Megure.
"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku." jawab Conan kayak lagi nyanyi lagu dangdut.
"Hah? Kau punya orang tua, Conan-kun?"
"Tentu saja aku punya!"
"Inspektur!" Chiba, salah satu opsir bawahan Megure yang tampan tapi gendut itu, membawa sebuah kantong plastik berisi bon. "Aku menemukan bon ini di tubuh korban…"
"Oh, itu bon pembelian es batu." sergah Hikari. "Akhir-akhir ini, Endi-san suka membeli es batu balok yang besar-besar, untuk mengawetkan makanan, katanya."
"Disini juga ada bon pembelian buah-buahan yang cukup banyak," ujar Chiba.
"Itu untuk dessert, hiks, dan memang akhir-akhir ini Endi-kun… suka makan buah…" tukas Haruka. "Katanya dia mau diet."
"Es yang seperti apa, Kak Hikari?" tanya Conan.
"Es balok yang besar-besar sekali itu, lho, Dik." Jawab Hikari. "Kira kira lebarnya 1 meter, dan tingginya… 1,5 meter. Gede banget! Biasanya ada di gudang penyimpanan makanan…"
"Bagaimana dengan buah itu?"
"Memang akhir-akhir ini Endi-san suka makan buah, terutama pisang, agar cepat kenyang katanya. Dan dia belinya banyak lho."
"Oooh, begitu, terima kasih Kak!"
"Sama-sama, detektif cilik!"
Conan berlari menghampiri Chiba.
"Paman Chiba!" sapanya. "Boleh aku melihat bon itu?"
Chiba memegang lututnya, menunduk. "Boleh, tapi jangan dirusak ya, Conan-kun!"
"Hen!" Conan menunjukkan senyum anak kecil terbaiknya, lalu mengambil kantong itu dari tangan Chiba yang besar.
100 balok es? Ini sih banyak sekali. Daripada repot begini lebih baik 'kan membeli lemari es. Becek pula, batin Conan. Wah, ternyata dia juga beli banyak buah. Satu hari bisa 10 pisang? Apa dia tidak eneg* makan banyak begitu? Ini sih bikin gemuk, bukannya malah makin kurus.
"Panas sekali ya, toilet ini." keluh Megure.
"Iya, munkin karena tidak ada ventilasinya, Inspektur…" jawab Takagi.
"Minum, Kudou?" Haibara mengangsurkan sebuah gelas berisi iced lemon tea ke arahnya. Conan mengambilnya, lalu meminumnya sapai habis.
"Uuh, tidak enak." ujar Yukiko.
"Enak kok, Bu. Segar lagi." sergah Conan.
"Tapi kok rada tawar ya?"
"Mungkin karena kelamaan diminum." tukas Haibara. "Jadi esnya mencair, lalu karena airnya jadi banyak, rasanya jadi tawar."
Conan tertegun, lalu…
"ITU DIA!"
"Eh?"
"Aku tahu siapa pelakunya! Terima kasih, Haibara!" ia memegang bahu Haibara yang lebih pendek darinya. Lalu ia berlari menuju Inspektur Megure, namun ibunya tercinta menarik kaus Conan dari belakang, membuat Conan jatuh lagi.
GUBRAK! Begitulah bunyinya.
"IBU APA-APAAN SIH!" teriak Conan, membuat Takagi menoleh.
"Ibu? Kau anaknya Yukiko-san, Conan-kun?"
"Ah, eh, oh…" Conan bingung mencari alasan, namun Yukiko segera mengatasi masalah itu. "Iya, aku sangat akrab dengannya —siapa namamu? Takagi, 'kan?—makanya ia memanggilku 'Ibu' karena dia jarang bertemu ibunya… ya 'kan, Conan-kun?" tukas Yukiko.
"Iya, tante ini…" Conan merasakan hawa membunuh, tetapi dia tidak peduli "…saudara jauhku, Paman, jadinya aku dekat dengannya, dan memanggilnya Ibu. Ya 'kan, Bu?"
"Tentu saja! OHOHOHOHOHO!" Yukiko tertawa sambil menggosok keras-keras kepala Conan. Yang digosok kepalanya hanya tersenyum sambil menahan sakit.
"Oh, begitu…" Takagi pun berlalu.
BLETAK! Yukiko menjitak Conan keras.
"APA SIH?" bentak Conan.
"Kau sudah tau pemecahan kasusnya 'kan, anakku tersayang…" Yukiko memelototi Conan dengan senyum menyeramkan, ditanggapi dengan mata setengah khas Conan.
"Ya, lalu Ibu mau apa?"
"Beritahu aku pemecahannya, biar aku yang jadi detektifnya!"
"Kenapa harus Ibu?"
"Kau tidak ada perantara untuk analisismu 'kan, Shin-chaaaan!" ujar Yukiko, menoel hidung anaknya lagi. Conan merengut.
"Iya deh, iya…"
"Itu baru anakku!" Yukiko mengelus kepala anaknya pelan. "Jadi, bagaimana? Siapa pelakunya?"
"Hem…" Megure mengelus dagunya. "Kalau ia bunuh diri, kakinya terlalu jauh dari pispot, tapi kalau dibunuh…" dia melirik tiga orang tersangka. "Siapa pelakunya?"
"Teka-teki telah terpecahkan, Inspektur." sahut Yukiko. "Aku sudah menemukan pelakunya!"
"APA?" mereka semua berteriak keras sampai-sampai dinding-dinding retak dan puluhan orang mengalami pecahnya gendang telinga.
Bohong, kok.
"Kau tau siapa pelakunya, Yukiko?" tanya Megure tidak yakin.
"Ya! Aku tau pelakunya…"
"Siapa, Kudou?"
"Eh?" Conan menoleh ke arah Haibara yang berdiri disebelahnya.
"Siapa pelakunya?"
"Endi-san sendiri." jawab Conan kalem.
"Hah? Bunuh diri? Bagaimana bisa?"
"Es yang besar-besar itu diletakkan dibawahnya, ia dorong es itu dengan kakinya agar ia tidak memiliki pijakan lagi, lalu gantung diri. Begitulah."
"Yang benar?" tanya Haibara.
"Tentu saja! Untuk apa aku bohong?"
"Motifnya?" tanya Haibara.
"Kau dengarkan saja, Nona. Nanti juga tau. Soalnya aku juga belum jelas soal itu." Conan menggaruk pipinya dengan telunjuk.
"Bilang saja kau tidak tau, Tantei-san!"
"Oi!"
"Ta, tapi Yukiko, apa penyebabnya?" tanya Megure. 'Tidak ada alasan jelas, 'kan?"
"Itu dia, Inspektur, yang masih harus kita cari." Jawab Yukiko.
"Karena aku marah padanya." Tiba-tiba Saotome Hideo angkat suara.
"Eh?"
"Maafkan aku, Haruka. Aku tadi kesini marah-marah padanya karena ia telah merebutmu dariku. Aku menyumpahinya, dan menyuruh dia mati…" Haruka, tangisnya makin keras.
Haibara menoleh ke belakang.
"Kudou-kun, mereka disini." bisik Haibara lirih, matanya nyalang, ketakutan, mencari-cari sosok seseorang di seluruh penjuru koridor.
"Eh?"
"Aku kenal hawa ini. Gin. Dan Vodka."
"RAAAAANN?" seorang cewek berambut pendek dan pirang berbandana, berteriak memanggil sahabatnya di depan kantor detektif Mouri. Namun, ia tidak mendengar respon dari orang yang dipanggilnya itu.
Ia menaiki tangga, melirik ke dalam sebuah ruangan di sebelah kirinya. Yang ada hanya detektif berkumis berumur 37 tahun yang sedang tidur dengan bunyi ngorok indahnya dan kaleng bir bertebaran dimana-mana. Namun ia tidak menemukan sosok yang dicarinya disitu.
Kapan paman itu akan berubah? batin cewek itu dengan mata setengahnya, mengejek.
Cewek itu melangkahkan kakinya lagi ke atas, menuju lantai tiga. Ia membuka pintu, yang menimbulkan bunyi derit yang cukup berisik. Yah, maklum pintu tua.
Sonoko melongokkan kepalanya ke dalam ruangan, dan menoleh kanan kiri. Sampai akhirnya ia melihat gadis karate yang sedang dicarinya, Mouri Ran, sedang duduk di sofa, dengan kaus merah, baju kodok dan sepatu kets putihnya. Seperti habis berpergian.
Sonoko membuka pintu lebar-lebar, lalu berjalan panjang-panjang, menuju ke arah gadis berambut hitam itu.
Ia memegang bahu sahabatnya. "Ran? Kau kenapa?"
Yang dipanggil menoleh. Ia menatap Sonoko kosong, namun terlihat jelas masih ada jejak bekas air mata. Pertanda ia habis menangis.
"EEEEEH? Kau kenapa?" tanya Sonoko terkejut. Ran menggeleng. "Pasti Dokter Araide mengapa-apakanmu, ya 'kan? Aku harus menghajarnya…" Sonoko sudah berdiri dengan emosi berapi-api, membuat siapapun yang melihatnya akan ketakutan. Namun tangan cewek itu ditahan oleh Ran, membuat ia menoleh. Akhirnya ia duduk di sebelah Ran.
Bibir Ran bergetar, air matanya muncul setitik di sudut matanya.
"Shi… Shinichi…"
"KENAPA DENGAN DETEKTIF TOLOL ITU? DIA MENYAKITIMU LAGI?" tanya Sonoko.
Ran menggeleng kuat. Pandangannya kosong lagi. Lalu jatuh di bahu Sonoko.
"Ran? Ran! Kau kenapa?"
"Kau serius?" tanya Conan sambil berlari menuju lobby. Haibara mengikutinya dari belakang. Mereka hendak menyusul Yukiko yang sedang mengambil mobil.
Wajah Haibara pucat pasi, ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, larinya lambat. Membuat Conan harus menariknya.
"Mereka disini…" bisik Haibara lirih. Namun Conan masih bisa mendengarnya.
Brengsek! Sedang apa mereka disini? Conan tak habis pikir, dalam seminggu ini ia terlalu sering berdekatan dengan organisasi hitam!
"Anak-anak! Masuk!" teriak Yukiko. Conan membuka jok depan dengan cepat, mendorong Haibara masuk ke jok belakang, membuka jok lagi, lalu duduk diatasnya. Membanting pintu dengan cepat, dan melesat pergi.
"Tidak ada orang yang mengikuti, Shin-chan." itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Conan terengah-engah. Haibara sangat ketakutan. Yukiko segera melarikan mobilnya.
250 meter kemudian…
"Porsche hitam 356 A." ujar Conan. "Mereka benar-benar mengejar kita."
Yukiko melihat spion. Memang ada mobil 75 meter dibelakang mereka.
"Apakah mereka berambut cepak? Yang satunya berambut keriting dan memakai kacamata?"
"Ti… tidak…" Conan melihat ke belakang. Memang orang dengan rambut cepak. Yang menyetir berambut sebahu keriting dan memakai kacamata.
Namun sejurus kemudian mereka melepas penyamaran.
"BRENGSEK! Mereka benar-benar Gin dan Vodka! Kita harus segera pergi dari sini!" Conan panik sendiri. Ia segera menghubungi Jodie.
"Ada apa, Cool Guy?"
"Kami dikejar Gin dan Vodka! Bagaimana mereka tau aku itu Kudou Shinichi, dan Haibara itu Sherry? Mestinya ini rahasia!" Conan jadi ngomel sendiri. Gimana nggak, dia sudah percaya penuh sama FBI, dan dalam waktu kurang seminggu, Organisasi Hitam sudah mengetahui identitas mereka! Masa kalah sama mereka yang tidak dilindungi siapapun?
Rasanya seperti kepala dia hilang entah kemana.
"Tenang, Kudou." Jodie memijit keningnya. Sudah dia duga, cepat atau lambat mereka ketahuan, karena database FBI di hack oleh mereka. "Tenang, ok? Kami juga sedang kebakaran jenggot disini. Database kami di hack mereka, sekarang kami sedang mencari tau sampai mana data kami dicuri."
James melihat Jodie bingung, namun Jodie mengusirnya dengan tangan.
"TAPI KAMI DIKEJAR SEKARANG!" teriak Conan.
Tut tut tut. Hubungan terputus. Conan mengernyit, lalu melihat handphone flip merahnya. Low bat.
"Sialan!" umpat Conan. Ia menutup handphone-nya keras-keras, bingung.
"Kita ke tol saja!" ujar Yukiko. Conan mengangguk. Ia memakai sabuk pengaman, lalu ibunya belok ke kanan, dengan gaya manuver seperti biasa. Mobilnya miring 45 derajat, lalu berbalik ke lawan arah.
Yukiko menekan pedal, sekarang jarum speedometer menuju angka 160. Banyak orang-orang memaki-maki mobil mereka karena kecepatan mobil merah marun itu.
Dari depan, tiba-tiba sebuah Porsche 356 A hitam melawan arah. Lalu mobil itu berputar, menjajari Feroza mereka. Gin mengacungkan tokalev ke arah kepala Yukiko.
Tiga orang di dalam mobil yang teracung pistol itu, merasakan detak jantung mereka berhenti sesaat.
"Ran?"
Ran merasa ada yang memanggil namanya. Suara itu kecil sekali. Ia tidak bisa membuka kelopak matanya, untuk mengetahui siapa orang yang memanggilnya.
"Ran? Kau dengar aku?"
Ada seberkas cahaya masuk ke matanya. Ia mengenali suara itu. Tapi tidak bisa menjawab. Seakan-akan terkurung dalam kegelapan, kesedihan, dan kesunyian. Sarat oleh tekanan. Tekanan yang menyakitkan.
"So… noko…" gadis itu menyahut suara yang memanggilnya.
"Ran! Kau sadar! Akhirnya…" suara itu bergetar, lega dan khawatir, menahan tangis. Ran membuka mata sepenuhnya. Di sekelilingnya ada Sonoko, Kogoro, dan Dokter Araide.
Sonoko memeluk leher Ran, terisak-isak. Ran tertegun, tak tau mau membalas apa. Dia hanya diam, membungkam suara. Tubuhnya terasa kebas. Kepalanya pusing, dan lidahnya juga kelu. Lagipula ia tidak mengerti mengapa sekarang ia berbaring… di kamarnya?
"Akhirnya kau sadar, Ran…" ujar Kogoro kalem, tapi gak mampu buat menyembunyikan nada lega di suaranya.
"Aku… kenapa?" tanya Ran. Sonoko langsung menyahut.
"Kau daritadi menyebut nama Shinichi-kun terus! Ada apa, Ran? Ceritakan saja padaku! Jangan kau pendam sendiri! Apa yang dia lakukan padamu? Kenapa kau sampai shock begini?"
"Aku akan kembali, dan tak akan meninggalkanmu lagi."
"Aku pasti kembali. Aku tak mau melihat kau menangis lagi."
"Dan perlu kau tau, aku juga memiliki perasaan yang sama, seperti perasaan kau terhadapku. Jadi, jangan pernah menerima ajakan kencan dari laki-laki seperti kemarin."
"Jangan nangis lagi, ya? Demi aku."
"Demi aku."
"Demi aku."
Ran menahan air mata yang ingin menyeruak keluar dari bola matanya. Demi Shinichi, bodoh. Jangan menangis. Dia pasti kembali. Dia sudah janji…Ran terus mengulang-ulang kalimat itu di otaknya. Suara itu tegar, keras dikepalanya.
Tapi tidak dengan perasaannya. Walau sekarang ia sudah berhasil menahan air matanya membanjir, hatinya menolak. Hatinya tersedu-sedu, meraung-raung menyedihkan. Ia tenggelam dalam kemarahan, kesunyian, yang sarat dengan cinta. Ia tau ia marah, lelaki itu meninggalkannya, tapi ia tau pula kalau ia mencintai lelaki itu. Tidak bisa membencinya walau lelaki itu pergi. Tidak bisa membencinya walau dia membuatnya menunggu. Tidak bisa melupakan detektif itu. Tapi pasti 'kan dia kembali? Lalu apa maksudnya kalau ada kemungkinan dia tidak kembali, seperti kata Shinichi kecil kemarin?
Tidak adakah yang mau menjelaskan maksud semua ini padanya?
"Tidak apa-apa kok Sonoko." jawab Ran, suaranya lirih namun tegas. "Tidak ada apa-apa."
Toel, menoel, ditoel, itu kayak nyolek, tapi ujungnya aja.
Pilon = gak tau, gak ngerti dan lugu.
Eneg = mual.
Thanks to :
Sha-chan anime lover (Udah ku edit, sori typo hehe. Yah, aku tau, tp biar bisa bedain aja 'tau' nya mengetahui sama 'tahu' makanan...), Fumiya Ninna 19 (Hontou? Arigatou... hehehe, nih udah kulanjutin)
Yeah, so late. Chapter ini dan beberapa chapter kedepan banyak sama suspense, romancenya paling ada pas dibagian Ran aja. Pendek banget yah? Hehehe *cengengesan*
Trik kasus kuambil dari FS. Karena dulu disana itu ada grup pecinta Conan n sering share kasus, hehe. Tapi sekarang sih udah nggak. Mudah-mudahan di facebook aku bisa nemuin grup kayak gitu lagi.
Oh ya, join aja di grup yg aku jd adminnya, on Facebook. "Detective Conan Fan's Group", dan "Fandom Detective Conan Indonesia".
Review :)
