Disclaimer : Ini Detective Conan, punya Aoyama Gosho. Aku hanya mengutip ;)


Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.

Enjoy :)


"Adudududuh! Pelan-pelan dong!" Conan mengaduh kesakitan ketika Ara mengompres bahunya.

"Aku sudah pelan-pelan, bodoh! Kau saja yang terlalu lemah!"

"Enak sekali kau bicara… WA!" Conan langsung berdiri tegak, kesakitan ketika memarnya ditekan es. Ara mendudukannya lagi di sofa merah yang mereka duduki, menyuruh Conan diam.

"Lagian, kau itu payah sekali! Itu 'kan baru perkenalan saja, tapi langsung memar begini!"

"Yang bodoh itu aku atau kau? Siapapun akan memar kalau bahunya ditekan ke beton seperti itu!"

"Payah."

"Terserah kau!" Conan sudah malas berdebat, ia menoleh ke arah Haibara. Yang diliatin malah senyum geli.

"Kenapa kau?" tanya Conan ketus.

"Kalian berdua lucu sekali. Sama-sama garang. Pantas saja, Kudou-kun, Ran-san tidak betah padamu."

"Enak saja! Katakan itu pada wanita di belakangku!" Conan meledek. Ara mendelik.

"Aku punya kekasih, tau! Mulutmu itu harus disekolahkan sekali-kali!"

"Huh, paling lelaki jelek!"

"Sok tau! Memangnya kau, cowok mengecil yang tinggal bersama kekasih belum resmi bernama Mouri Ran, mahir karate bahkan juara di Kanto tapi kau yang bahkan satu atap dengannya sama sekali tidak terbiasa dipukul? Aneh!"

Conan membalik badannya. "DARIMANA KAU TAU SOAL ITU?"

"Ck ck ck!" cewek itu menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Jangan remehkan wanita bodoh ini, detektif terkenal!"

Ara menempelkan sesuatu, Conan meringis. Hangat.

"Eh… apa itu?"

"Koyo. Sekali-kali 'kan tidak apa-apa kalau menggunakan obat tradisional." Ara merenggangkan tubuh, menguap, lalu ke ujung ruangan. Melihat ke arah jendela, lalu berbalik lagi, hingga tidak terlihat jelas karena memunggungi matahari.

"Jadi, kapan kalian mau latihan?"

"Uh, jawab dulu pertanyaanku!" seru Conan. Merasakan orang yang dihadapannya ini bukan sekedar jago karate saja. "Bagaimana kau bisa tau soal Ran? Aneh sekali, aku 'kan belum cerita apa-apa padamu, kurasa Bu Jodie juga belum!"

"Dia itu hacker gila, dan pemecah kode terbaik di Jepang." suara bass menyahut, menjawab pertanyaan Conan. Conan dan Haibara menoleh.

"Dhan! Kapan datang?" Ara menyeberangi ruangan, laki-laki yang dipanggil Dhan itu tersenyum.

"Baru saja. Kata Jodie, ada orang yang harus dilatih. Apa maksud dia adalah bocah ini?" Dhan menunjuk mereka dengan jempolnya. Conan mengernyit. Bocah? Kau kali yang bocah!

Walau namanya seperti orang barat, namun kulitnya sama gelapnya dengan Ara. Matanya lebar, rambutnya sedikit panjang untuk ukuran lelaki dan berantakan. Ciri-ciri orang Asia Tenggara. Sepertinya si Ara itu juga orang Asia Tenggara. Tingginya sekitar 175 cm, tubuhnya tidak terlalu gemuk namun tidak kurus juga. Dia memakai kemeja putih dengan tangan dilipat, dasi hitam, celana jeans dan… sepatu basket hitam?

"Hello, detective!" Ara membuyarkan lamunan Conan yang sedang memperhatikan Dhan itu. "Ini pacarku! Namanya Dhan!"

"Oh, salam kenal, Dhan." ujar Haibara.

"Salam kenal!"

"Nanti malam jam setengah tujuh, aku bersama Dhan akan melatih kalian disini. Kalian bisa beristirahat di sebelah ruangan ini, masuk lah kesana. Seperti apartemen, tapi ada dua kamar. Selamat beristirahat!" Ara melambai ketika Conan dan Haibara keluar. Samar-samar Conan mendengar Dhan bertanya. "Siapa mereka?"

"Ceritanya panjang. Tadi aku sempat mencari informasi soal mereka sembari mengambil es…"

"Es? Tidak ada minuman disini."

"Hehehe, kalau itu…"

Conan menutup pintu, menyilangkan tangan di belakang kepalanya.

"Uh, Haibara, perasaanku kok tidak enak ya?"

"Mungkin karena dua orang aneh yang akan melatih kita itu." jawab Haibara acuh tak acuh.


"Ran! Kau darimana? Tadi pagi aku menjemputmu, tapi kata ayahmu kau sudah berangkat pagi-pagi sekali! Hari ini 'kan tidak ada kegiatan klub…" Sonoko mencerocos tak henti ketika melihat Ran masuk ke kelas. Ran hanya diam, tidak menyahut, menuju ke kursinya dan duduk. Tak menanggapi Sonoko. Pikirannya sedang di dimensi lain.

"…kau tidak datang… Hei, Ran, kau dengar tidak?"

Ran mengangkat wajahnya. Ia tertegun sebentar, lalu tersenyum kecil. "Dengar kok. Maaf, tadi aku ada janji ke toko buku dulu. Makanya kau kalau mau menjemputku hubungi aku sebelumnya."

"Uuh! Masa kau tidak menerima e-mail ku semalam? Eh, ngomong-ngomong soal e-mail…" Sonoko sudah ngomong kemana-mana tanpa henti seperti kereta api express. Ran sekali-kali mengangguk atau menggeleng, tersenyum kalau Sonoko menceritakan hal lucu, tapi ia lebih banyak diam, melihat ke arah kursi disebelahnya yang kosong.

"Eh, ada Gori! Ayo ganti baju!" Sonoko menarik tangan Ran. Sekarang adalah jam olahraga. Ran hanya mengikuti, tidak semangat, menuju ruang ganti. Sonoko sudah bercerita lagi, Ran terkadang menanggapi, lalu diam lagi. Begitu terus hingga pelajaran olahraga tadi selesai.

"Ran." tiba-tiba Sonoko berhenti bicara, memanggil namanya. Ran yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepala melihat wajah Sonoko.

"Hm? Kenapa, Sonoko?" Ran bertanya, alisnya terangkat satu.

"Kau ada masalah?" tanya Sonoko balik, to the point. Ran terdiam, tak menjawab. Ia memalingkan muka dan menarik tangan Sonoko. "Mungkin hanya perasaanmu saja. Ayo, habis ini pelajaran Bahasa Inggris, nanti kita terlambat!"

"Apa ini soal Shinichi-kun?"

Luka di hati Ran seperti disiram air garam mendengar namanya.

Ran berbalik, senyum cerianya ringan, seolah tidak ada apa-apa. "Bodoh. Untuk apa aku memikirkan soal dia? Ayo, memangnya kau mau dihukum? Cepat!"

"Kalau ada masalah, apapun itu, ceritakan padaku, Ran! Tanpa kuberitahu, kau mengerti soal itu, 'kan?"

"Iyaaa!" mereka berlari-lari kecil dan tertawa. Padahal dihati Ran ia sedang sedih. Sebenarnya ia mau, banget malah, bercerita ke Sonoko soal Shinichi yang mengecil jadi Conan. Namun kalau dari gerak-gerik cowok itu, nampaknya ia menghadapi masalah serius, dan tidak menceritakannya soal itu karena takut keselamatan Ran terancam. Memberitahunya saja sudah berisiko, apalagi memberitahu Sonoko. Lagipula Ran sudah berjanji untuk merahasiakannya.

Namun terkadang, ide itu sangat menggoda.

"Suzuki, read the narrative at page 108!"

"Baik." Sonoko berdiri dan membaca dongeng tersebut. Terkadang Ran mendengarkan, namun ia sering berfokus soal Shinichi.

"'Please, don't tell anyone. I trust you!' said the Prince to the Princess. The Princess just keep her mouth sealed, she doesn't want to talk to the Prince, even its just one word. Prince Guevala felt…" suara Sonoko jadi latar belakang pikirannya.

"Then, what's the moral point, Mouri?" tanya si guru Bahasa Inggris setelah Sonoko selesai membaca.

Ran terdiam. Sebenarnya ia benar-benar tidak memperhatikan tadi. Namun tiba-tiba ia menjawab. "Don't ever break your promise."

"Correct." Si guru mencatat sesuatu di buku. "Next, Sawajima, read…"

Ran terdiam mendengar jawabannya sendiri tadi, lalu tersenyum. Ia akan bertahan, dan ia yakin dirinya kuat.


"Wah… Indah sekali kaki dan tanganku… banyak tatoonya." Conan melihat kaki dan tangannya. Memar semua. Sepertinya bersenggolan dengan orang pun tidak bisa. Sakit sekali.

Untung ia bawa banyak sweater dan celana panjang untuk menutupinya.

Ia melirik Haibara. Memar Haibara tidak sebanyak dirinya, walau sepertinya cewek itu kecapekan. Sekarang ia sudah berada di tubuh Miyano Shiho, berbalut kaus putih yang sedikit besar dan celana panjang training, sepatu olahraganya tergeletak di lantai, berbaring di sofa merah tempat tadi pagi ia dirawat si Ara sialan itu.

"Payah kau. Haibara-chan saja tidak selemah kau, masa kau begitu saja sudah kelelahan?" ledek Ara.

"Panggil aku Miyano." ujar Hai—, eh, Shiho.

"Okee deh, Miyano-chaan!" Ara tersenyum ceria, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Conan lagi. "Tapi tendanganmu keras sekali, ya? Perutku masih sakit sampai sekarang…"

"Kalau itu sih serahkan padaku." ujar Conan.

Metode ajaran Ara sebenarnya agak aneh. Ia mengajarkan semuanya dengan cepat secara teori. Setelah Conan dan Shiho bilang mereka bisa, langsung dipraktekkan melawan guru sementara mereka itu. Tentu saja mereka kalah.

Pertandingan Conan dan Ara juga lucu. Conan diatas angin pada 5 menit pertama dengan tendangan menakjubkannya, namun Ara hanya sekali pukul di dagu, dan dengan itu pandangan Conan mengabur, rahangnya juga kaku. Tentu saja Ara memanfaatkan kesempatan itu.

Padahal ia sudah mengira bakal menang. Sialan cewek ini, pikir Conan sebal.

Kalau Shiho lebih hebat lagi, pertandingan mereka lumayan lama, sepertinya Shiho bisa mengimbangi sedikit guru mereka itu. Sayang ia kalah karena pukulan perut.

"Tuh sana, 5 menit lagi kalian akan berlatih memakai senjata tajam bersama Dhan… sepertinya kalian pakai pistol dulu."Ara melenggang sambil meregangkan tubuh, membuka pintu.

"Tunggu dulu… latihannya berapa jam?" tanya Conan. Tubuhnya sakit-sakit semua, dan ia tidak yakin dalam 1-2 jam kedepan ia masih bertahan.

"Tidak tau, biasanya hanya 2 jam." jawab Ara, lalu menutup pintu. Lalu ia membukanya lagi, dan berkata.

"Selamat menikmatiii!" Ara tertawa setan dan menutup pintu lagi.

"Cewek brengsek." celetuk Conan. Ia kesal sekali. Sekarang sudah jam 9, hanya dalam 2 jam tubuhnya sudah jadi samsak.

"Terima sajalah." ujar Shiho sambil membuka majalah fashion di rak meja. Conan mendelik, lalu mengambil kue entah punya siapa di atas meja dan memakannya.

"Sembarangan sekali kau. Kita tidak tau itu punya siapa."

"Biarin. Aku lapar."

Pintu terbuka. Mereka menoleh.

"Oh, hai." sekarang Dhan yang masuk, membawa dua kantung besar. Ia menaruhnya disamping pintu, lalu mengambil 2 botol air mineral dan melemparkannya ke Conan dan Shiho. Dengan sigap Conan menangkapnya, membuka dan menenggak hingga habis.

"Hei… sudah berapa lama kau tidak minum?" tanya Dhan.

"Baru setengah jam. Tapi cewek tercintamu menyiksaku terus, jadi aku haus." jawab Conan acuh tak acuh. Dhan tertawa terbahak-bahak.

"Kok kau tahan sih punya pacar seperti itu?" tanya Conan, ia berbaring di lantai. Dingin menghilangkan sedikit rasa sakitnya.

"Pacarmu juga karateka, 'kan?" tanya Dhan, mengambil kue diatas meja juga.

"Tapi dia lembut!"

"Dia juga." Dhan mengangkat bahu. "Kalau denganku, sahabat-sahabatnya, dan keluarganya, ia baik dan lucu kok. Walau aku tak yakin ia lembut seperti definisimu soal kata itu. Mungkin karena wajahmu menyebalkan jadi dia menyiksamu."

"Iya deh, kau 'kan sedang kasmaran. Jadi kau puji dia terus." sergah Conan. Wajah Dhan merah, ia jadi sebal diledek anak ini.

"Sudah bangun, latihan sekarang, atau kusuruh Ara menyiksamu!" ujar Dhan tegas. Anak ini memang cocok untuk disiksa…Dhan langsung berniat ingin mengerjainya.

"Iya, iyaa…"

"Oh ya, ngomong-ngomong…" Dhan mengambil pistolnya dan mengukur arah tembak sebentar. "Aku disuruh Jodie untuk memberitahumu kalau masa latihanmu itu 1 bulan. Karena tepat saat itu, ada transaksi besar-besaran di Amerika, tentu saja melibatkan mereka."

Conan tersedak. "DISIKSA 1 BULAN!" Conan langsung berpikir cepat. Apa bisa dalam sebulan ia menguasai segalanya? Sepertinya ini baru permulaan, dan banyak hal yang harus dipelajari lagi.

Dhan memutar bola mata. "Nanti kuberitahu Ara deh supaya pelan-pelan melatihmu."

"Dia hanya menurut padamu, ya?"

"Kalau disini sih, begitu."


Ran menimbang-nimbang handphone pinknya. Sekarang ia sedang bergulat dalam pilihan. Apakah ia menelpon Shinichi sekarang, atau tidak. Pilihan pertama cukup sulit, setelah pembicaraan mereka kemarin yang rasanya seperti berabad-abad yang lalu. Pasti mereka akan membahas soal itu, dan Ran belum sanggup untuk membicarakannya. Membayangkannya saja ia bergidik. Ia belum mampu menerima konsekuensi apapun sekarang, karena ia tau apapun itu pasti akan menyakitinya lebih dari yang sudah-sudah walau cowok itu tidak bermaksud seperti begitu. Ia paham sekali. Pilihan kedua lebih sulit lagi. Ia mau mendengar suara orang itu sekarang. Bisa-bisa dia gila kalau kelamaan seperti itu.

Ran mendengus, lalu melempar handphonenya ke kasur. Sekarang ia menjadi pecandu Shinichi. Walau ia sudah menunggunya, tapi dia 'kan bukan pacarnya. Hanya sebatas teman masa kecil, kalau kata Sonoko. Memikirkan dia mungkin bukan orang spesialnya Shinichi jadi membuat hatinya dongkol.

Ran melompat ke kasurnya, memeluk guling erat-erat, menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Berhasil, ia bernapas lega. Lalu terlentang menatap langit-langit yang putih, mencari bentuk-bentuk. Ia malah menemukan kaca pembesar. Detektif banget, keluhnya. Ia malah semakin ingat dengan Shinichi. Ia berguling, lalu melirik handphone yang ada disebelah kepalanya.

Ran mengambil handphone tersebut, menuju ke folder tempat ia menyimpan foto. Tersenyum-senyum melihat foto-fotonya dengan Shinichi, ketika dulu segalanya masih mudah. Ketika dulu Shinichi bukanlah Conan.

Matanya berkaca-kaca. Dia ingin menyalahkan seseorang soal ini, tapi siapa? Masa menyalahkan Shinichi? Ran yakin dia juga tidak mau tubuhnya mengecil! Satupun tak ada yang mau.

Lalu Ran membuka contact listnya, dengan mudah menemukan nama Kudou Shinichi.

Telpon atau tidak.

Ia menekan tombol call.

Tut, tut, tut…

Ran menelan ludah. Ia sudah keburu menelpon.

"Maaf, nomor yang ada tuju tidak bisa dihubungi atau berada di luar jangkauan service area…"

Ran segera memutus sambungan, lalu mematikan handphonenya.

Jangan pikirkan Shinichi, jangan pikirkan Shinichi…ia berusaha mendoktrin dirinya sendiri.

Tapi yang ada di pikirannya memang hanya bisa Shinichi.

Keesokan paginya ia terbangun. Tidurnya tidak nyenyak, ia masih mengantuk, tapi ini masih hari sekolah, jadi harus bangun awal. Ia merengangkan tubuh, menuju kamar mandi dan mencuci mukanya. Rasanya segar. Ia menyiapkan sarapan, lalu makan bersama ayahnya. Kogoro menanyakan macam-macam, Ran menjawab seadanya namun tetap menunjukkan wajah ceria sehingga Kogoro tidak curiga.

Ia langsung berangkat padahal Sonoko bilang mau menjemputnya. Ia mau jalan-jalan dulu.

Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil yang ia kenali.

Ini 'kan mobil Bu Jodie, batinnya. Lalu ia melihat ke dalam mobil, tidak ada orang.

Tapi ia mengenali sesuatu. Sweater rajutannya untuk Shinichi.

Ran terbelalak. Bagaimana bisa sweater ini disini? ia berpikir cepat, lalu langsung menemukan jawabannya. Bu Jodie adalah anggota FBI, pasti dia terlibat dengan orang jahat yang Shinichi maksud. Ia ingin mengikuti, namun ada Jodie di ujung jalan, bersama laki-laki besar dengan wajah berbentuk kotak. Ran langsung panik, dan tanpa pikir panjang masuk ke bagasi mobil. Jalanan memang masih sepi jadi tidak ada yang melihatnya.

Mobil berjalan. Ran jadi berdebar ketakutan.

"Bagaimana kabar di Kuro itu?" tanya si laki-laki berwajah kotak.

"Kudou, Camel. Namanya Kudou." jawab Jodie.

Ran merasa jantungnya berhenti berdetak sedetik.

"Yah, dia sedang dilatih untuk menghadapi mereka… kita lihat saja nanti. Ara bilang ia cukup mudah belajar, Dhan juga bilang begitu, malah katanya ia mahir memegang senjata."

"Bagaimana dengan mantan anggota itu?" tanya Camel.

"Maksudmu Haibara? Kata Ara dia malah lebih baik. Dhan juga bilang sepertinya urusan senjata dia tidak usah dibimbing lagi."

"Tapi 'kan kita tetap melakukan pengawasan…"

"Ya, ya, kita punya dua senjata penting untuk melumpuhkan mereka bulan depan menggantikan Shuu…"

Shinichi! Aku bisa bertemu Shinichi! Ran langsung bertekad untuk mengikuti Jodie terus, tak memikirkan lagi yang lain-lainnya.

Thanks to :

azalea (mehehe, Yusaku gitu-gitu kan dodol juga, sama kayak anaknya), Fumiya Ninna 19 (semoga Aoyama Gosho membaca reviewmu ini... kalau dia bisa bahasa Indonesia. *sigh* well, tunggu aja yah hehehe gak seru dong kalo kukasih tau), Reiko Motoharu (Ga apa-apa kok, ini ku update, hehehe), Sha-chan Anime Lover (Wkwkwk, secepatnya! Ini kan fic bkn pasar? :P), Peri Hitam (Makasih, hehehe. Salam kenal juga. Kupikir gak usah karena semua tau kalo ini 'kan bikinan Aoyama plus aku cm menyadur cerita... tapi kuikuti saranmu deh hehehe. Yah dia kan dodol gitu... oh ya? Favoritku malah chapter selanjutnya)

Wah udah selesai, hehehehehehehehe *cengengesan*

Nah… yang menunggu-nunggu konflik pencarian BO, tunggu aja chapter depan, huehehe. I'll make next chap better than before ;)

Karena ini weekend…

Enjoy ur day! ;)