Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Mobil itu berhenti.
Ran membuka bagasi mobil tersebut. Jodie dan Camel, yang mendengar suara pintu bagasi terbuka, segera menoleh. Mereka langsung mengeluarkan pistol.
Sekarang mereka ada di basement gedung FBI di Jepang. Jodie langsung terbelalak kaget melihat sosok yang keluar dari bagasi mobilnya. Mouri Ran. Gadis yang pernah menjadi muridnya, serta… orang yang diminta Kudou Shinichi untuk dilindungi ekstra oleh FBI.
"Ra, Ran?"
"Shinichi ada disini." ujar Ran tegas.
Jodie tau, itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan. Ia meneguk ludah, tegang. Ia menurunkan pistolnya, memasukkannya lagi ke balik blazer putihnya, dan mendekati cewek itu. Ran menatap Jodie tajam ketika orang yang pernah menjadi gurunya itu mendekatinya. Ia bersiaga, takut akan dibuat pingsan lalu dibawa pulang ke rumahnya. Sebenarnya dia tidak takut. Masalahnya Ran tidak tau dimana dia sekarang. Otomatis ia takkan bisa kembali lagi kesini nanti.
Namun Jodie mengangkat tangannya, dan menaruhnya di bahu Ran. "Ran-chan, apa yang kau lakukan disini? Berbahaya! Pulanglah, biar nanti kau kuantar. Ayo…"
"Tidak. Aku tidak mau." bantah Ran. "Aku mau bertemu Shinichi. Dimana dia? Pasti anda tau dimana dia berada, kan, Bu Jodie? Apa dia ada di gedung ini?"
"Tidak, kau harus pulang!" sergah Jodie. "Kudou-kun bilang aku harus melindungimu, bukannya malah membiarkanmu makin mendekati bahaya seperti ini!"
Ran mendengus. "Baiklah, kalau kau tidak mau, biar kucari sendiri. Lagipula, kenapa dia boleh mendekati bahaya, tapi aku tidak?" Ran berbalik menuju lift yang ada di ujung basement.
"Ran-chan, tunggu!" Jodie menyusulnya, menahan tangannya. Andre Camel, yang heran melihat tingkah mereka berdua, memasukkan pistolnya ke sakunya di celana dan menyusul mereka, pelan.
"Aku bisa mencari mereka sekarang." ujar Ran, tau permintaannya tidak akan dikabulkan.
"Uh… OK, OK! Aku akan mengantarmu melihat Kudou tanpa sepengetahuannya, tapi setelah itu kau harus pulang!" teriak Jodie frustasi.
Ran menatap mata Jodie, dan tidak melihat ada kebohongan disana.
"Baiklah." jawab Ran dingin, hatinya sedikit tenang mengetahui akan melihat Shinichi.
Jodie memasuki lift bersama Ran dan Camel, memencet tombol menuju lantai 3. Ran menunggu, hatinya gelisah sekarang. Berdebar karena akan bertemu orang itu lagi setelah kejadian memuakkan kemarin.
"Bagaimana kau bisa masuk ke bagasiku, Ran?" Jodie menatap Ran dalam-dalam dan bingung. "Aku benar-benar tidak menyangka! Itu bukanlah kebiasaan yang bagus, kau tau."
"Memang." Ran menatap ke bawah, menyusuri pola karpet lift. "Itu bukan kebiasaan yang cukup bagus, tapi aku memiliki firasat Ibu pasti membantu Shinichi… bersembunyi, menumpas, orang-orang jahat itu. Jadi aku masuk ke sana ketika melihat mobil Ibu… maaf bila aku lancang."
Jodie menghela napas berat. "Lain kali jangan diulangi, oke?"
Pintu lift terbuka. Ran menggeleng. "Tidak, aku tidak mau berjanji. Jaminan apa yang menyatakan setelah ini aku bisa melihat dia lagi?" tanya Ran.
"Seberapa jauh kau tau soal permasalahan Kudou sampai dia mengecil?"
"Dia hanya bilang dia mengecil… sepertinya karena kelompok besar yang jahat, karena kasus… dia 'kan detektif."
Ting!
Pintu lift terbuka. Jodie melenggang maju, begitu pula Ran. Camel hanya mengekor tanpa berbicara. Jodie memasuki ruangan dengan papan bertuliskan '2', besar dan hitam.
Ran melihat ruangan itu, penuh dengan monitor 14 inchi. Seorang lelaki bertubuh gemuk dan berambut pirang duduk didepan monitor-monitor itu, sambil meniup-niup kopinya. Ketika mendengar pintu terbuka, ia menoleh.
"Oh, Jodie! What's goin' on?" tanya si lelaki gemuk dengan logat Amerika Selatan yang kental. Lelaki itu menatap Ran dengan saksama, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ran tersenyum canggung.
"I wanna see Dhan's room from the CCTV, may I?" tanya Jodie.
"Of course! There're no one that prohibits you!" lelaki itu tertawa, begitu pula Jodie.
"Please." lelaki itu berdiri dan keluar ruangan. Jodie menoleh, menyuruh Ran mendekat. Awalnya Ran ragu. Namun ia melihat bayangan Shinichi di salah satu monitor. Ia langsung mendekati tanpa tedeng aling-aling.
Ia menatap monitor itu dalam-dalam. Shinichi —sekarang sudah kembali ke tubuhnya yang semula karena prosesnya tadi pagi sudah selesai— sedang menghajar seorang wanita berambut pendek dan ikal.
Si wanita hampir kalah, karena Shinichi selalu menendang perutnya. Ran mendelik ke arah Jodie. Kenapa Shinichi jadi suka menyiksa wanita? Namun ketika kaki cowok itu mau menghantam wajah si wanita ketika si wanita menunduk, maka si wanita menahan balik dengan kakinya, menendang betis Shinichi dengan kaki satunya lagi, tumit tepatnya, membuat mereka berdua terjatuh. Shinichi tak bisa berdiri akibat hantaman wanita tadi di kakinya.
Lalu si wanita tertawa. Kentara sekali wajahnya mengejek. Shinichi merasa kesal, lalu berdiri dan hendak meninju si wanita. Sayangnya kepalan tangan itu berhasil ditahan, si wanita membalik tubuh detektif SMU tersebut, mengambil tangan tersebut dan mendorongnya kebawah. Ba, bantingan punggung? Ran langsung merasakan mulutnya menganga heran. Ia hendak memukulkan sikunya ke leher Shinichi.
Ran terkesiap, matanya langsung terbelalak. Namun wanita itu berhenti, dan tertawa lagi. Shinichi berdiri kesal. Ia terduduk, mengusap-usap dagu seakan-akan mafia yang gagal menjalankan misi, tersaruk-saruk berjalan sofa diruangan itu. Sekarang si wanita mulai pukul-pukulan dengan gadis berambut pendek dan bergelombang.
Ran merasakan emosi yang berganti-ganti. Pertama marah, lalu kesal, lalu berubah lagi menjadi sedih.
"Bu Jodie… kenapa Shinichi dihajar seperti itu?" tanya Ran, suaranya getir.
"Itu latihan, Ran-chan. Kau tau, pasti sangat berbahaya untuk menghadapi kelompok jahat ini bila tidak bisa membela diri dan memegang senjata. Jadi kami melatih Kudou dan Miyano seperti itu. Kami juga akan mengajarkan beberapa metode pemecahan kode dan pencurian data… itu akan sangat dibutuhkan untuk melawan mereka."
Mereka, batin Ran. Sudah dia duga kalau Shinichi mengecil karena pengaruh orang jahat.
"Bu Jodie… bolehkah aku meminta satu hal?"
"Hm? Selama masih dijangkauanku dan masuk akal, pasti kukabulkan, Ran. Apa itu?"
Ran tersenyum misterius ketika sebuah ide melintas di benaknya.
"You met Sherry? Seriously?" Vermouth merasakan pematiknya jatuh ke pangkuannya. Matanya melebar tak percaya, bibirnya terbuka, shock.
Vermouth, Vodka dan Gin sedang menuju ke markas mereka dengan Porsche 356 A hitam Gin. Vodka yang memegang setir. Sementara Vermouth duduk di jok belakang mobil.
Gin menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu berkata, "Tidak bisa dibilang bertemu. Tapi aku menemukan dia sedang di sebuah mobil bersama dua orang. Aku mendapatkan informasi soal Sherry dari database FBI. Ternyata ia mengecil karena obatnya sendiri, karena itulah ia lolos dari perhatian kita."
Vermouth langsung diam, menatap ke jalanan depan, namun pikirannya kemana-mana.
"Kenyataannya juga, Kudou Shinichi, seorang detektif SMU yang ternyata pernah kubunuh," Gin melirik Vodka sepintas, karena partnernya yang mengingatkan dia soal detektif itu, "…masih hidup. Aku tidak percaya, racun yang kuberikan malah memberikan efek yang sama seperti yang dialami Sherry, yaitu mengecil. Selama ini juga nampaknya dia yang melindungi Sherry. Sialnya, mobil yang kemarin dia pakai bersama teman-temannya itu adalah mobil sewaan.
"Aku juga menyelidiki tempat tinggal dia selama ini, sayangnya tidak disebutkan di data tersebut, siapakah yang menampung mereka berdua selama ini, dan melindungi 2 tikus itu." Gin menatap spion, seakan bisa melubangi spion tersebut dengan matanya.
"Mengapa kau kaget, Vermouth?" tanya Gin, dingin. "Apakah kau sudah mengetahui kenyataan ini sebelumnya, dan menyembunyikan hal itu dari kami?"
Vermouth menggeleng. "Bukan, bukan! Aku tidak percaya! Sherry! Yang sudah lama kita cari, akhirnya ketemu dan… mengecil? Ini diluar akal sehatku!"
Gin mengalihkan pandangan ke jalanan di depannya. "Aku tau. Tapi apa yang tidak bisa dilakukan olehnya? Masalahnya sekarang, FBI melindungi mereka berdua. Langkah kita untuk mencari mereka akan sulit. Namun nampaknya mereka masih di Jepang. Orang itu memberi tugas menyelidiki soal keberadaan mereka kepadaku. Sekaligus, menghabisi mereka." tukas Gin dingin.
Pandangan Vermouth mengeras, seakan tidak peduli. Namun sebenarnya dia gundah. Anak sahabatnya sekarang masuk ke sasaran pencarian Gin dan Vodka! Bersama Sherry, anak yang kabur itu! Keberadaan mereka telah diketahui!
Sebenarnya ia tidak peduli tentang Sherry, dia memang pengkhianat. Vermouth tau pasti soal itu. Apalagi dia anak Elena, orang yang tidak ia sukai di organisasi. Tapi bagaimana dengan Kudou Shinichi? Ia tak bisa membayangkan betapa sedih sahabatnya, Kudou Yukiko, bila kehilangan anak satu-satunya tersebut. Ia sangat tau betapa sayangnya Yukiko terhadap Shinichi. Lagipula Shinichi orang baik. Ia tau, ia harus menyelamatkan Shinichi dan… Sherry. Dengan berat ia mengakui itu. Mereka adalah paket target Gin, yang otomatis paket yang harus ia selamatkan.
Vermouth bersyukur FBI tidak memasukan data Mouri Ran. Dia lebih tidak bisa membayangkan lagi kalau angelnya—malaikatnya, penolongnya, dalam bahaya. Gadis itu prioritasnya. Dia seribu kali lebih mulia dari Kudou Shinichi, dia penyelamat hidupnya. Vermouth tidak mau Ran dalam kondisi berbahaya.
Artis terkemuka Amerika itu mendengus pelan, mengambil pemantiknya dan menyulut rokok putihnya. Memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk menyelamatkan Shinichi dan menyembunyikan Ran dari pandangan organisasi.
"Dan kau akan membantu kami, Vermouth." tambah Gin.
"Apapun yang kau mau, Gin."
Seseorang mengetuk pintu pelan ketika Ara sedang 'menghabisi' Shinichi. Ara mengangkat kepala, dan berdiri, membuka pintu.
Jodie membawa gadis berambut hitam, dikuncir dua dan berkacamata. Jodie membisikkan sesuatu ke Ara, cepat dan tidak di mengerti. Ara mengangguk-angguk, tersenyum manis ke arah cewek kuncir dua itu. Si kuncir dua membalas senyumnya canggung, dan wajahnya sedikit memerah.
Shinichi terduduk. Lalu ia mengamati cewek itu.
Cewek itu memakai legging* panjang bewarna hitam, blus krem selutut, dan sepatu sneakers putih-hitam. Wajahnya mudah merah, kulitnya putih, sepertinya dia orang Jepang. Tubuhnya sama dengan Ara, hanya lebih pendek sedikit. Rambutnya hitam dan panjang, mudah jatuh. Sepertinya ia pemalu.
Kayaknya aku mengenal cewek ini, siapa ya? Shinichi sekarang memelototi cewek itu. Si cewek menunduk, menatapnya dari balik poninya. Tatapnnya tegas dan marah, tapi lalu berubah jadi sedih. Shinichi ternganga melihatnya. Lalu cewek itu mengangkat kepalanya, matanya sekarang dipenuhi sorot malu.
Ara melambai ke Jodie, lalu menutup pintu.
"Nah, Kudou, Miyano-chan, ternyata Jodie memberiku asisten untuk melatih kalian!" Ara tersenyum manis —yang Shinichi yakin hanya pura-pura—lalu ia menoleh ke cewek itu. "Silahkan, perkenalkan dirimu!"
"Na, namaku… Fujitani Akane… sa, salam kenal…" Fujitani tersenyum canggung. Shinichi mengangkat alis, Shiho tersenyum kecil.
"Tak kusangka orang seperti kau butuh asisten." ujar Shinichi, mengambil biskuit diatas meja dan meneguk susu full cream sampai habis.
"Hei bodoh! Itu untuk Dhan!" teriak Ara sambil menjitak Shinichi.
"Dia bilang aku boleh memakan makanannya kok… dia ramah dan baik, tidak sepertimu." sergah Shinichi sambil mengambil onigiri dan memakannya bulat-bulat.
"Kau ini…"
Fujitani Akane. Nama itu terlintas di benak Ran ketika mengingat dua orang artis yang disukai Sonoko.
Tentu saja. Menyamar adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk melihat cowok yang ia sukai, tanpa dicurigai Shinichi. Sama seperti ketika Shinichi menyamar sebagai Conan. Ia tersenyum getir melihat pujaan hatinya bertengkar dengan Ara, dan Shiho —yang ia yakin adalah Haibara yang membesar— di latar belakang, memakan biskuit vegetarian sambil membaca majalah Vogue di sofa merah panjang dan bergelung dengan bantal. Sepertinya dia baru bangun tidur.
"Oh ya, Akane-chan juga akan mengurus kalian selama di apartemen… jadi kau, Kudou, jangan macam-macam! Ada dua wanita yang akan bersamamu!"
"Iya…" Shinichi mengambil onigiri lagi dan berdiri, menepuk-nepuk bajunya. Berjalan dengan langkah yang lebar ke arah Ran. Ran terbelalak. Jangan-jangan Shinichi mengetahui identitasku? Ran meneguk ludah ketika Shinichi menatapnya lekat-lekat, mendekatkan wajahnya ke wajah Ran.
"Hei, Kudou, mau apa kau?"
"Diam saja deh!" Shinichi menoleh ke arah Ara dan menyuruh Ara diam, yang dipelototi hanya memutar bola mata.
"Kau, jujur, siapa kau?" tanya Shinichi.
"Apa maksud anda, Shi… Kudou-san?"
"Aku pernah melihatmu."
Glek. Ran menelan ludah.
"Sa… saya tidak pernah melihat anda sebelumnya…" Ran mendorong dada Shinichi, membetulkan kacamatanya gugup. "Eh, pernah di televisi dan koran… tapi saya belum pernah bertemu anda langsung."
Shinichi mengangkat satu alis, lalu menepuk-nepuk rambut Ran pelan. "Haha, aku bercanda. Tapi aku serius, merasa pernah melihatmu sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Oh ya, jangan terlalu formal bicara denganku… tenang saja." Shinichi nyengir. "Tapi jangan juga kau seperti cewek singa di belakangku itu…" Shinichi menunjuk Ara dengan jempolnya.
"Mungkin aku harus menghajarmu, Kudou."
"Oh ya, begitukah?"
"Eh, selain itu, Ara-san…" Ran memotong pertengkaran mereka.
"Panggil aku Ara, oke? Tidak usah pakai honorable segala!" potong Ara mengingatkan.
"Eh, Ara… kata Bu Jodie kita melatih satu orang…"
"Oh, itu! Kudou, kau dilatih oleh Akane-chan, ya? Kata Jodie, lebih baik aku mengajarkan kalian teknik dan dimana titik-titik tempat musuh langsung tak berkutik, walau aku lebih suka kalian langsung praktek… lebih efektif menurutku. Aku akan memegang Miyano-chan, kau oleh Akane-chan. Jelas?"
Shinichi mengangguk-angguk.
"Istirahat dulu, aku ngantuk." ujar Ara. Shiho yang memperhatikan mereka, menyingkir dari sofa panjang. Ara nyengir minta maaf, lalu membanting tubuhnya disana.
Ara tertidur, sedangkan Shiho menyeret kakinya keluar dari ruangan. Shinichi menenggak susu dari kotak satu liter, kehausan, sementara Ran alias Akane berdiri canggung, tidak tau harus berbuat apa.
Ran menatap Shinichi. Ia masih tetap dingin pada orang yang tidak begitu ia kenal. Sekarang tubuhnya sudah kembali, baguslah, ia bersyukur. Wajah itu, tubuh itu, segalanya, ingin sekali Ran maju dan menyentuhnya, memarahinya karena telah membohonginya, dan menghajar Shinichi.
Ingin menangis.
Ran menggigit bibirnya, kebiasaannya akhir-akhir ini untuk menahan air mata agar tidak keluar. Dan berhasil. Ia bernapas lega. Ia mengerjap-erjapkan mata, tegang.
Shinichi membaringkan tubuhnya di lantai. Bisa Ran lihat, di sekujur lengan Shinichi, lebam menghiasi tangannya dengan indah. Lagi-lagi Ran berusaha menahan keinginannya untuk mengobati Shinichi dan mengomelinya. Shinichi hanya memakai kaus putih kedodoran dan celana pendek. Lalu cowok itu menutup mata, sepertinya hendak tidur.
Tiba-tiba pintu terbuka.
"Ran-chan, bagaimana dengan latihannya? Ara sudah bilang 'kan soal tadi…" Jodie langsung mencerocos, namun terhenti karena Shinichi menatapnya tajam. Ia bangkit, duduk di lantai.
"Ran? Kau bilang Ran tadi?" tanya Shinichi.
Woaaaah! Ran merasa gugup. Ia merasakan tangannya gemetaran dan perutnya dipenuhi ratusan kupu-kupu. Inikah yang dirasakan Shinichi kalau ada yang salah bicara dan membahayakan identitasnya? batin Ran.
"Eh, oh…" Jodie mencari-cari alasan. "Tadi aku bilang… Kan-chan kok. Kan-chan! Kau ini bagaimana? Memang kau pikir aku memanggil siapa?" tanya Jodie balik.
Shinichi menatap Jodie, lalu menghela napas, menyilangkan tangannya dibelakang kepala. "Kukira tadi…"
"Memang 'kan kepalamu isinya hanya wanita itu." Shiho masuk sambil membawa dua cangkir kopi. Yang satu ia sodorkan ke Akane. "Ini, kopi. Untukmu. Duduklah."
"Ba, baik…" Ran menyesap kopi buatan Shiho. Enak.
"Apakah masalah untukmu kalau aku memikirkan Ran terus?" tanya Shinichi sarkastis.
"Uh, mungkin? Akhir-akhir ini 'kan kau mengigau namanya terus, keras sekali, sampai terdengar ke kamarku. Aku jadi tidak bisa tidur, bodoh."
Wajah Shinichi memerah.
Wajah Ran pun tak kalah merahnya.
"Wajahmu merah, tuh, Kudou!"
"Di, diam deh!"
*legging = celana ketat hitam. Mirip stocking tapi lebih tebal
Thanks to :
Sha-chan Anime Lover (Iya, aku tidak ada ide lagi gimana caranya supaya Ran bisa membututi mereka, hehehe. Tapi ini gak Cuma di vol. 42, inget gak kasus petak umpetnya Ayumi? Sayang bgt, akhirnya aku memutuskan itu buat chapter depan, sorry…), Peri Hitam (Betul sekali! Tebakan yang bagus! Gin memang orang jahat yang entah kenapa jadi favoritku…), Fumiya Ninna 19 (Di chap dulu dijelaskan FBI dapet prototype APTX 4869 'kan? Udah dia buat. Tinggal minum aja. Tapi Shinichi gapake obat itu karena ia sudah membesar secara bertahap), Mengde (Yah, itu yang kualami kalo adu tae-kwon-do sama temenku… hahaha), azalea (ini update, hehehehe, kuusahakan kilat deh)
Kuputuskan, penggerebekan BO ada di next chapter, maaf yaaa! Biasa, inilah author geblek yang dengan mudah mengubah chap, hehehe *cengengesan*
Review!
