Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.

Enjoy :)


Sebuah Honda Jazz hitam melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, di jalan tol menuju Hokkaido.

Seorang lelaki berkacamata dengan frame hitam yang mengendarainya. Di sebelahnya ada wanita dengan parka merah darah, duduk dengan laptop dipangkuan. Wanita itu juga memakai headset merah. Sama dengan wanita parka, seorang cewek duduk di kursi belakang, bedanya dia memakai kaus dan memakai in-ear phone.

Di sebelah si cewek, seorang pemuda tampan yang lumayan banyak menyihir para remaja, duduk sedikit membungkuk. Tangannya menopang dagu. Memakai parka biru dan kacamata hitam. Hoodie parka itu menutup kepala si pemuda.

Bletak!

"Adaw!" Kudou Shinichi langsung terbangun. Dia duduk tegak seketika. Dan ia melihat sebuah kotak CD tergeletak manis di pangkuannya. Ia mengelus kepalanya. "Brengsek, jangan asal lempar dong!"

"Aku itu sedang menjelaskan soal misi ini, detektif pemalas!" jawab Ara, wajahnya sebal. "Aku malas mengulanginya! Kau malah tidur!"

"Kemarin 'kan sudah! Lagipula, memangnya gara-gara siapa aku hanya tidur 4 jam dalam 3 hari?" Shinichi menguap lebar, tangannya menyilang di belakang kepala. Hoodie-nya langsung terjatuh di belakang punggung. Ia masih mengantuk, tapi daripada benjol mending bangun saja. Lalu secara tak sengaja ia melihat sekilas layar laptop Shiho. "Lho, Haibara, kau masih mencari data soal Shui…"

Plak! Sekarang telapak tangan Shiho menutup mulut Shinichi, menimbulkan suara yang cukup keras. Shiho menatap Shinichi seolah berkata diam-atau-aku-akan-membunuhmu-tolol!

Pasti sakit, pikir Dhan sambil melihat mereka lewat kaca spion.

Shinichi melotot, menahan perih pada bibirnya.

"Data soal apa?" tanya Ara basa-basi. Matanya masih tertuju pada laptop, sepertinya dia sedang berusaha meng-hack sistem e-mail Anokata.

"Suite. Setelah semua selesai, aku ingin berlibur," jawab Shiho kalem. Ara hanya mengangguk-angguk acuh tak acuh, sedangkan Shinichi mengusap bibirnya.

Sialan, kenapa sih para wanita di sekitarku galak-galak semua? batin si detektif. Yukiko, Shiho, Ara, dan…

Shinichi melempar pandangannya ke jalanan, tidak membiarkan nama gadis yang sudah membuatnya bermuram durja selama 4 hari muncul ke benaknya.

Tapi tetap saja. Karena kurang tidur, otaknya jadi lambat merespon. Nama Ran malah terus terngiang di otaknya. Tak bisa ia hentikan. Seperti air dari keran bocor. Ran, Ran, Ran, Ran, Ran, Ran…

"Kudou?" suara Dhan memecah lamunan Shinichi.

"Hah?" Shinichi menoleh ke arah Dhan.

"Tidak mendengarkan, ya?" tanya Dhan kalem. Shinichi nyengir, merasa bersalah.

"Kata James, transaksi mereka diundur karena akan ada kemah anak-anak SD dadakan, di dekat hutan wisata sekitar gedung itu. Nanti kita akan beristirahat di penginapan Hokkaido, satu hari full. Kau bisa tidur dulu. Nanti kau sakit lagi seperti kemarin," ujar Dhan, nyengir. Karena sebenarnya, dia tau dan mengerti apa yang membuat Shinichi tidak fokus selama 4 hari ini. Yah, dia juga 'kan lelaki. Pasti langsung mengerti ada apa begitu melihat gerak-gerik Shinichi.

Dhan jadi mengingat, 4 hari berturut-turut, tiap makan siang dan makan malam, Shinichi keluar ruangan latihan. Tidak sengaja, pada hari keempat, Dhan melihat apa yang Shinichi lakukan di koridor sepi tersebut.

Dia menelpon Ran.

Tapi Shinichi hanya menunjukkan wajah gelisah. Tidak berbicara satu patah katapun. Yang berarti, telponnya tidak diangkat oleh Ran.

Yang artinya, juga. Kalau ia sedang bertengkar dengan Ran.

Dhan melirik spion. Shinichi sedang mengobrol dengan Shiho, entah soal apa. Mata Shinichi menyipit, ada bayangan hitam di bawah matanya, sesekali ia menguap.

Bagaimana kalau dia tau ceweknya ikut misi lagi, ya? pikir Dhan.


Tangan Ran sudah terangkat, mengepal, hendak mengetuk pintu jati yang ada di depannya. Tapi tangannya itu ia turunkan lagi. Wajahnya merah, ada sesuatu di tangan satunya, entah apa.

Ia meneguk ludah. Ketuk saja Ran! Ayolaaah! Ran meyakinkan dirinya sendiri. Tapi gagal. Ia masih tidak percaya diri.

"Mouri-san?"

"Hua!" Ran melompat ke belakang, kaget, ketika ada sebuah tangan yang menepuk bahunya.

Seorang lelaki dengan kacamata frame hitam. Dhan.

Orang itu mengernyitkan kening. "Ada apa? Kau ada perlu denganku?" ia melirik pintu kamar hotel tersebut. "Atau.. kau ada perlu dengan… ehem… ehem…"

Wajah Ran memanas.

"Dhan-san, maukah anda membantuku?" tanyanya canggung, ketahuan oleh seseorang ada di depan pintu kamar hotel milik orang itu aneh sekali rasanya. Walaupun maksudnya sih bukan bertemu Dhan, tapi teman sekamarnya, alias…

"Um, yah, katanya Shiho, Shinichi itu kurang enak badan, jadi maksudnya aku mau memberikan bubur ini, aku beli di depan hotel, yah…" Ran menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung. "Ja, jadi… maukah kau memberikan ini padanya?"

"Kenapa kau tak memberinya saja sendiri?" tanya Dhan. Alisnya terangkat naik, bingung.

"Eh, um… pokoknya… tolonglah…." Ujar Ran. Dhan tersenyum tipis.

"Baiklah, nanti ku berikan." Aku tidak mengerti perempuan… batin Dhan.

"Te-terima kasih!" Ran membungkukkan badannya dan segera pergi ke kamarnya yang berbeda dua pintu dari kamar Dhan serta Shinichi dengan wajah merah padam. Sebelum menutup pintu, Ran kembali berucap, "Aku sangat berterima kasih!"

"Ya, ya…" Dhan menguap lebar, mendorong pintu keras-keras. "Hoi, Kudou…"

DUAK!

"ADUH!"

"Walah…" Dhan menarik pintu sedikit, melihat apa yang menahan pintu itu. Shinichi memegang jidatnya, lalu mundur beberapa langkah.

"Brengsek…" Shinichi langsung berpegangan pada dinding di sebelahnya sebelum jatuh. Pandangannya berputar, namun membaik setelah beberapa saat. Walau tetap saja, jidatnya terasa sakit sekali.

"Wah wah maaf, aku tak tau kau ada di belakang pintu!" Dhan langsung membantu Shinichi berdiri, dan membopongnya ke sofa sesudah menutup pintu.

"Sudah berapa kali aku kena hantam hari ini…" Shinichi mengelus jidatnya.

"Mau di kompres?"

"Tidak usah…" Shinichi menatap bubur yang di bawa Dhan yang sedang meringis. Lalu detektif itu memandang tajam Dhan, membuat yang dipandang ketakutan sendiri.

"Ran ada disini."

Dhan menelan ludah.

"Eh, yeah…" Dhan bingung menjawab pernyataan Shinichi. Sebenarnya dia tau fakta itu dari Ara, 2 hari yang lalu, ketika mereka berdua sedang keluar, makan di kafe sebelah gedung FBI itu.

"Ran-chan menghubungi Jodie lagi," ujar Ara sambil menyuap chicken mozzarella-nya ke mulut. Dhan langsung berhenti menyesap juicenya.

"Ceweknya Kudou itu?"

"Iya, dia minta diikut sertakan di misi Hokkaido nanti."

Dhan mengernyitkan kening. "Bukannya Kudou malah memulangkan ceweknya supaya dia tidak ikut ke Hokkaido, ya?"

Ara menusuk-nusuk makanannya. "Memang. Aku juga tidak setuju kalau Ran-chan ikut. Kemarin saja dia sudah tertembak, walau hanya terserempet peluru sih…"

Dhan menatap mata kekasihnya dalam-dalam.

"Jangan bilang kalau Jodie mengizinkannya?"

Ara memutar bola matanya. "Sayangnya, iya. Aku tidak tau kenapa Jodie mau mengambil keputusan dengan resiko besar begitu, tapi yah, kamu tau sendiri 'kan, Ran itu orangnya keras kepala. Pasti dia memohon-mohon sampai Jodie tidak tega dan akhirnya membolehkan Ran untuk ikut."

"Kudou tau?"

"Kamu mau kita semua dibunuh olehnya?"

Dhan memutar-mutar spaghetti-nya dengan garpu. "Iya sih…"

"Ran-chan bilang, jangan beritahu Kudou sampai kita sudah disana. Tidak mungkin 'kan Kudou menyuruh Ran pulang sendiri. Masih ada resiko, apalagi sudah berada di sekitar lokasi transaksi organisasi itu…"

"Sewaktu aku mau beli kopi kalengan di lobby, aku mendengar kau berbicara dengan Ran," ujar Shinichi, matanya galak. Dhan hanya nyengir innocent.

"Kau tau soal itu 'kan?" ujar Shinichi.

"Yah…" Dhan memasang tampang tidak tau apa-apa.

"Susah sekali sih anak itu dinasihati!" Shinichi menggaruk kepalanya, sebal luar biasa.

"Sudahlah, dia 'kan sudah disini, percuma kau marah-marah…" Dhan mengangkat bahu. "Lagipula, dia membelikanmu bubur, nih…"

Mata Shinichi membulat. "Itu… dari Ran?"

"Begitulah." Dhan menguap lebar dan melempar diri ke salah satu single bed di kamar itu. "Aku mau tidur dulu, jangan ganggu!"

Shinichi tidak menjawab, wajahnya merah, menatap bubur itu.

"Cie, senang tuh…"

"Diam deh!"


"Kenapa aku harus pakai ini sih?" Shinichi menggerutu sebal. Ibunya membubuhkan bedak banyak-banyak ke wajah Shinichi yang sudah memakai topeng karet —untuk menyamar, seperti biasa. Shinichi terbatuk.

"Aduuuuh, hentikaaan!"

"Lho, ini 'kan demi kesuksesanmu, 'kan, Shin-chan!" Yukiko mengambil perona pipinya. Shinichi mengernyit mundur.

"Pokoknya aku tidak mau! Yang lain saja, ya, Bu…"

"Lho, memangnya kenapa?"

"MASA AKU PAKAI PAKAIAN PEREMPUAN!" Sekarang yang ada hanya seseorang berwajah cantik dengan rambut Shinichi.

"Dulu kau mau menyamar sebagai Haibara…" Yukiko menaruh wig cokelat panjang ke kepala Shinichi. "Apa ini sudah cukup?"

Shiho dan Ara melihat ke arah Shinichi dengan pandangan menilai. "Kupikir sudah," ucap Ara.

"Menurutku dadanya kurang besar, hahaha…" ujar Dhan.

"Diam kau!" bentak Shinichi.

"Memangnya kenapa sih, Kudou, kalau kau menyamar jadi wanita?" tanya Ara sambil membubuhkan lipstik ke bibir Shinichi.

"KAU PIKIR KARENA APA?"

Shinichi melihat ke tubuhnya. Tinggi. Pakai hot pants —yang membuatnya jijik sendiri, kaki berotot begitu pakai celana super pendek seperti ini?—dan…

Dua bola yang menggantung di dadanya.

Ugh… Shinichi melihat ke arah bola itu. Inilah alasan terbesar ia menolak menyamar sebagai perempuan. Kalau dada wanita betulan sih tidak masalah, semua cowok termasuk dia juga... Tapi kalau dada palsu yang dipakai seorang cowok begini….

Lalu Shiho mendorongnya ke depan cermin. Bukannya berdiri sempurna, dia malah terjerembab dengan sukses.

"ADUH!"

"Suaranya jangan kayak cowok begitu, dong!" ujar Yukiko. Shinichi berdeham-deham, lalu memakai masker pengubah suara, dan melihat dirinya sendiri di cermin.

Seorang wanita cantik dengan rambut cokelat yang tergerai di pinggang, memakai kemeja safari cokelat dan celana pendek, cokelat pula. Entah apa yang ibunya lapisi di atas kakinya, yang jelas itu kaki yang jenjang, kaki wanita. Dia juga bingung bagaimana ibunya itu mengakali jakunnya. Dan sebuah sepatu bersol tebal. Wajah merona. Eye shadow pink. Dan sejak kapan bulu matanya lentik begini?

Oh, brengsek… Shinichi mengumpat kesal. Mengapa harus dia? Apa dosanya?

Ia melirik Dhan. Padahal Dhan hanya didandani sebagai lelaki berambut sebahu dan berjerawat. Juga tidak memakai kacamata. Tapi mengapa dia harus jadi perempuan? INI TIDAK ADIIIL! batinnya.

Lalu ia melirik Ran.

Ran dengan dandanan Akane-nya, menatap Shinichi dengan wajah merah. Lalu ia memalingkan wajah.

Lagi-lagi partner Shinichi kali ini adalah Ran. Entah apa maksud keempat makhluk sesat itu —Yukiko, Shiho, Dhan serta Ara— mendandaninya seperti perempuan dan menyusup ke gedung kosong. Yang benar saja. Masa dua wanita dengan wajah lugu begini —Shinichi dan Ran, maksudnya— disuruh masuk kesana?

"Kalian akan mengawasi dari lantai teratas gedung itu," ujar Dhan menjelaskan saat Shinichi bertanya. "Lalu kalau ketahuan, kalian bisa berpura-pura sedang uji nyali, begitu. Pintar 'kan ideku?"

"Jadi ini idemu?" tanya Shinichi.

"Yah, begitulah…"

"Idemu memang selalu buruk."

"Oi…"

Alibi yang kurang bagus, menurut Shinichi.

Lagipula, mana ada wanita dengan wajah innocent seperti yang Yukiko dandani ke wajah Shinichi, iseng memasuki gedung kosong, memiliki dua pistol serta amunisi untuk lima pistol di perut pula?

Namun Shinichi menurut saja. Alasan yang cukup masuk akal, dua cewek penakut sok-sokan ingin melihat hantu di gedung kosong…

"Aku, Yukiko-san, dan Shiho-chan disini. Aku yang akan mengkoordinir kalian, oke?" ujar Ara sambil melemparkan anting-anting ke Shinichi dan Dhan. Shinichi anting panjang dan Dhan anting yang berbentuk titik.

"Ini untuk apa?"

"Ada ear phone didalamnya, jadi kau bisa mendengar apa yang Shiho semua anggota misi dan kami katakan. Mic-nya ada di semua jam tangan yang kita pakai, kecuali aku dan Shiho-chan. Oke?"

Lalu Shinichi melihat speaker di atas kasur, dan seperangkat alat lainnya. Serta 3 laptop disana.

"Firasatku buruk soal ini," ujar Shiho. "Jadi hati-hatilah."

"Yeah…" ujar Shinichi sambil memutar bola matanya. Lalu dia, Ran, dan Dhan keluar dari kamar.

"Shin-chan?"

Shinichi menoleh. "Haah? Apa, bu?"

"Jaga dirimu. Ran-chan juga…"

Shinichi menatap ibunya dengan ekspresi menenangkan dan senyum tipis penuh keyakinan walau tertutup masker. "Ya…"


"Shi… Shinichi…" bisik Ran lirih. Ia memeluk tangan Shinichi erat-erat.

"Haaah?" balas Shinichi dengan tampang malasnya.

Mereka sudah satu jam berada disini. Di sebuah ruangan yang remang-remang dan penuh debu, membuat sesak. Hanya ada satu ventilasi di sudut ruangan sebesar 30x30 cm. Shinichi dan Ran hanya duduk di sebelah tangga, siap turun bila terjadi apa-apa.

Sudah lewat 30 menit dari waktu transaksi yang mereka tentukan. Kenapa sih mereka selalu terlambat di tiap transaksi mereka? pikir Shinichi sebal.

"A… aku takut, disini gelap sekali…"

"Kau ini kan jago karate, masa takut hantu sih…"

Lalu sebuah tikus lewat tepat di kaki mereka.

"MMMPPPPPHHHHH!" Ran berteriak tepat setelah Shinichi menyusrukkan wajahnya ke bahunya.

"Sssttt…" Shinichi mendengar suara seseorang datang.

"KAU TERLAMBAT!" ujar seorang wanita gusar. Shinichi bisa mendengar wanita itu mengetukkan kakinya ke lantai.

"Mana uangnya?" suara Vodka terdengar.

"Aku mau kalian memperlihatkan dulu narkobanya!" ujar wanita itu tak sabar. "Cepat!"

Wow, mereka ini menerima semua job kejahatan, ya… pikir Shinichi. Lalu ia mendengar suara koper dibuka, dan wanita terkesiap.

"300 juta yen!" suara gesekan. Sepertinya kopor itu dilempar lewat lantai. Lalu suara kopor terbuka lagi.

"Hoi, Spade, Heart, kalian dimana?" sebuah suara pelan terdengar di telinga Shinichi.

"Dilantai teratas gedung ini," bisik Shinichi. "Lebih baik kau segera bergerak, Big, mereka sudah disini. Bersama klien mereka. Cepat, aku takut transaksi ini keburu selesai, mereka bisa…"

DOR!

Shinichi dan Ran membelalakkan mata, bersamaan. Mereka saling pandang. Shinichi bisa merasakan bulu kuduknya meremang. Dia sudah biasa dengan suara tembakan —berkat latihannya selama ini, terima kasih pada FBI— namun entah kenapa suara tembakan kali ini membuatnya gugup.

"Kyaaa… uhuk…" suara wanita tadi. Lalu suara berdebam terdengar.

"Spade, ada apa?" tanya Dhan. Namun Shinichi tidak menjawab.

"Shinichi, mereka… menembak…" Ran makin menempel erat pada Shinichi, suaranya tertahan karena ia menekan mulutnya ke lengan cowok itu

"Aku tau…" Shinichi menggerutu sebal. Jantungnya berpacu cepat, napasnya memburu, bersemangat namun sedikit merasa takut juga. Lalu ia teringat rencana Dhan tadi. "Mungkin saatnya kita memainkan peran."

"Eh?" Ran bingung. "Peran apa?

"Kakak… kenapa wanita ini dibunuh?" tanya Vodka bingung. Setahunya tadi, mereka mengambil uang dari wanita itu, memberi narkobanya, dan pergi secepatnya dari sana.

"Lihat tangga itu…" suara berat Gin bergema. "Ada jejak di tangganya… mungkin mereka tidak sadar, namun terlihat lumayan jelas…" Gin mendekati tangga itu. "Berarti wanita ini membawa teman… dan mereka ada di atas…"

"KYAAAAAAAAAA!" suara seorang wanita berteriak. "Bodoh! Apa aku bilang, dengar tidak, tadi itu suara tembakan! Pasti itu hantu! Karena rumornya, dulu ada yang terbunuh karena ditembak mati disini! Kita harus pergi dari sini, Yumi-chan. Ayoooo!"

"Hatsyiuh! Mungkin iya… aku sudah bersin-bersin disini! Nanti pilekku tambah parah. Ayo!"

Suara derap langkah ke bawah, terburu-buru. Gin dan Vodka menyembunyikan mayat dan darah dengan dus, berdiri dibaliknya, dan mengeluarkan pistol mereka. Shinichi dan Ran turun dengan cepat. Shinichi melirik tajam ke arah belakangnya, tempat Gin dan Vodka bersembunyi, tersenyum karena rencananya berhasil. Lalu berbicara di jamnya. "Mereka disini. Lantai 4…"

"Roger!" ujar beberapa orang, lalu suara mesin kendaraan terdengar keras.

Ran menarik tangan Shinichi. "Tunggu, Yumi-chan, awas…"

Terlambat. Shinichi keburu menginjak ujung anak tangga karena terburu-buru, yang membuatnya kehilangan keseimbangan, dan jatuh.

GUBRAK!

"WAAA! ADUUUH!" Shinichi jatuh sampai pertengahan tangga. Ia memegang pantatnya. Sialan, lagi-lagi aku jadi korban! batinnya.

"Shinichi… su… suaramu…" bisik Ran.

"Eh? Eh…?" Shinichi baru tersadar suaranya kembali ke asal. Lalu ia membuka maskernya dan mengetesnya. "Tes… tes…"

Tetap rusak.

YAAMPUN! KENAPA RUSAKNYA SEKARANG SIH? Shinichi langsung menarik Ran ke bawah, tepat sedetik sebelum sebuah peluru memecahkan jendela yang ada dibelakang mereka.

PRANG!

"Hey, Spade, ada apa? Aku ada di belakang gedung itu, ada suara tembakan dan kaca pecah disini!" sebuah suara terdengar di telinga Shinichi, namun ia tidak peduli. Ia terus menarik Ran ke lantai dasar sebelum mereka menjadi korban muntahan peluru dari pistol Gin.

"Kakak?"

"Suara tikus itu… Kudou Shinichi…"

"Mereka mengenalimu!" ujar Ran terkesiap, kaget.

"Tentu saja mereka mengenali aku!" Shinichi berteriak sebal karena kekagetan Ran pada hal yang sudah jelas.

Lalu Shinichi berlari lagi, ke tangga menuju lantai 2. Namun lantai itu tertutup kayu, tidak seperti sebelumnya ketika ia ke gedung ini.

"Angkat kayunya!" Shinichi dan Ran menendang dan menginjak kayu itu keras, namun tidak mempan. Kayunya terlalu tebal. Ada gembok yang duduk manis disana, membuat kayu itu tak bisa terangkat.

"Brengsek!" Shinichi mengeluarkan pistolnya dan menembakkannya ke gembok itu.

"Shinichi!" Ran berteriak melihat Gin dan Vodka sampai di ujung tangga. Saat itu pula Shinichi menarik tangan Ran dan melewati tangga dengan cepat, tepat sebelum peluru Gin melesat ke tempat Ran berdiri.

"Maskernya rusak! Mereka sadar ini aku!" bisik Shinichi ke jam tangannya.

"Tenang, gedung itu sudah terkepung oleh kita! Mereka takkan bisa keluar dalam radius 1 kilometer!" ujar suara wanita, Shinichi tak bisa mengenalinya.

"Shinichi! Tangganya di tutup lagi!" teriak Ran. Shinichi melirik ke arah tangga itu. Tidak ada waktu karena tepat saat itu Gin dan Vodka ada di ujung tangga.

Shinichi melirik ke arah jendela besar di belakang mereka. Kalau ia menembak kaca itu, mungkin ia bisa melompat ke bawah…

DOR DOR DOR DOR!

Ia lagi-lagi menarik Ran, setelah sedikit mendobrak sisa kaca di jendela itu segera keluar. Ternyata masih ada balkon disana. Perih menjalar ke tangan dan kakinya, namun dia tidak peduli sekarang. Shinichi melirik ke bawah. Sebuah lapangan kecil, penuh rumput dan ilalang. Kira-kira 25 meter di depan lapangan itu, ada sekumpulan pohon dan kemudian jalan raya. Ia harus melompat setinggi kira-kira 3 meter, lalu berlari menuju jalan raya yang lumayan ramai.

3 meter? Apa bisa aku melompat ke bawah? Tapi sepertinya tidak apa-apa, karena disana ada rumput… pikirnya. Otaknya berputar cepat, memikirkan presentase keberhasilan kalau menggunakan cara lain. Namun sepertinya ia tak ada pilihan sekarang.

"SHINICHI!" Ran menarik tangan Shinichi sambil melihat ke belakang. Cowok itu langsung menutupi Ran.

Suara tembakan kembali terdengar.

Bahu Shinichi yang kena.

"Brengsek!" Shinichi menembak ke arah Gin, dan mengenai kaki lelaki berambut perak tersebut. Shinichi sadar Vodka melepaskan tembakan, tetapi sebelum menghindar peluru menyerempet pelipisnya. Lalu ia menarik Ran ke dalam pelukannya dengan cepat, dan melompat kebawah.

Punggungnya mendarat dengan mulus. Kepalanya terbentur tanah, lumayan keras, namun tidak cukup keras untuk menghilangkan kesadarannya. Hanya ada darah yang makin deras keluar dari kepalanya sekarang.

"Shinichi, kau tidak pakai rompi anti peluru, ya?" tanya Ran khawatir. Shinichi tidak menjawab dan mengumpat dalam hati karena ia lupa memakai benda penting itu.

Tepat saat itu, terdengar suara mobil-mobil di ujung jalan dan ia bisa melihat beberapa orang sniper di atas pohon dan bukit di pinggir jalan, membidik ke arah gedung tua itu.

Namun Gin nampaknya belum terlalu memperhatikan.

Peluru kembali melesat ke arah mereka. Shinichi segera berdiri dan berlari, memosisikan diri di belakang Ran, menamengi tubuh gadis itu secepatnya. Ia berlari secepat yang ia bisa, namun darah sudah memenuhi matanya sehingga sulit melihat apapun, dan punggungnya terasa begitu sakit, juga bahunya yang terus mengucurkan darah. Dipersulit dengan sepatu sol tebal yang ia pakai sekarang. Tapi ia tidak mau berhenti.

Ia tidak mau kalau ia berhenti, wanita di depannya yang sekarang ia dorong untuk terus maju ini, tergores sekecil apapun.

Ya, itu yang ia mau. Padahal dia sendiri tidak yakin apakah akan selamat. Yang penting Ran selamat, itu saja.

Rasanya mudah saja mengiyakan perkataan ibunya dan Shiho tadi. Namun sekarang dia terjebak disituasi sulit. Tidak menepati janji pada ibunya. Mudah sekali ia berkata kalau akan menjaga diri, namun sekarang lengah sedikit saja mungkin dia akan mati.

DOR! DOR!

Sebuah peluru menyerempet betisnya dan satu lagi bersarang di perutnya. Shinichi meringis. Seluruh tubuhnya terasa perih, bahkan kakinya karena tergores oleh kaca yang tadi ia jatuhi.

Ia balas menembaki asal, ia tidak tau ke arah mana pelurunya melesat. Namun ia berharap setidaknya ada satu peluru yang bersarang di salah satu kepala mereka.

Lalu sniper-sniper itu menembaki Gin dan Vodka. Ia sempat melihat kebelakang dan menyadari Gin dan Vodka sudah menghilang, namun ada beberapa orang dilantai satu yang berpakaian hitam-hitam dan menembaki sniper-sniper itu. Untungnya mereka tidak terlalu mempedulikan Ran dan Shinichi. Ran menangis,—Shinichi bisa merasakannya karena sekarang tangannya ditarik oleh Ran agar terus maju dan ada air yang menetes di lengannya— sampai ia sadar bahwa mobil-mobil FBI sudah sampai di lapangan kecil tersebut.

Sebuah mobil Jazz hitam memosisikan diri di belakang Shinichi, hanya berjarak kira-kira 5 cm. Terjadi baku tembak sekarang, suara desingan peluru terdengar, juga teriakan dan derap langkah kaki. Ran berhenti, merunduk kebawah, menyuruh Shinichi juga merunduk, melindungi diri dibelakang mobil itu.

Shinichi terduduk begitu saja, bersandar di mobil itu, sudah tidak kuat lagi, lalu ia merasa kebas.

Hingga kegelapan menarik kesadarannya.


Ran terduduk lemas, bersandar di kursi putih di sebuah lorong putih, lorong rumah sakit di Hokkaido. Ruangan di sebelahnya adalah ruangan operasi, di atas pintu ruangan itu ada tulisan 'SEDANG OPERASI' yang terpampang jelas.

Yukiko terduduk di sebelahnya, menangis tersedu-sedu sambil menelpon Yusaku. Shiho duduk di sisi yang satu lagi, terdiam kaku tak bergerak.

Penyamarannya sudah hancur. Rambutnya sudah tergerai, riasannya luntur sudah. Bahkan dia sudah tidak tau kacamata yang dia pakai tadi dimana.

"Dimana Ara?" tanya Ran, suaranya serak.

"Sedang menunggui Dhan, sama seperti Kudou, keadaannya lumayan parah. Ia agak memaksa untuk melawan anggota mereka dari belakang gedung, padahal pistolnya hanya ada 1," jawab Shiho lengkap.

Ran hanya mengangguk pelan.

Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia tau, dari awal dia tau, gerak-gerik Shinichi dari awal Gin menembak adalah untuk melindungi dirinya. Agar ia tidak tergores sedikitpun. Seperti menjaga porselen yang mudah pecah.

Lalu ia melirik telapak tangannya yang tergores kaca. Tujuan Shinichi gagal, tapi setidaknya Ran tidak terluka parah.

Ran baru sadar kalau Ara, Shiho dan ibunya Shinichi yang membawa mobil Jazz hitam itu, bukan Dhan. Ara meninggalkan lokasi tanpa ikut baku hantam dengan mereka, walau sempat ditembaki dan dibalas Shiho, lalu melesat cepat ke rumah sakit. Pada saat itulah Yukiko melepaskan penyamaran Shinichi, dan mengganti kemeja safari yang penuh darah itu dengan kaus putih kebesaran.

Namun percuma, darah terus mengalir. Mereka segera menuju Rumah Sakit Hokkaido, melesat dengan kecepatan yang mungkin tidak akan pernah Ran rasakan lagi.

Walau dalam dandanan wanita, Ran tau itu Shinichi. Matanya, sorot mata Shinichi padanya, tidak berubah. Bahkan perlindungannya. Walau yang ada di sebelahnya adalah wanita bermbut cokelat, namun ia tau itu Shinichi.

Dadanya sesak. Ia tidak bisa menangis dari 6 jam yang lalu, saat membawa Shinichi dengan Jazz milik Dhan. Namun dadanya seperti dihantam oleh lawan-lawan karatenya. Terasa sakit dan sulit bernapas, seperti ada tekanan yang kuat disana. Tenggorokannya perih, suaranya parau.

Seandainya ia bisa menjaga diri sendiri, mungkin Shinichi tidak akan terluka separah ini. Mungkin luka Shinichi, setengahnya bisa berada padanya. Tidak sampai seperti ini.

Lalu ia rasakan air mata jatuh, mengalir di pipinya.


Shiho berdiri, meninggalkan Ran yang tertidur di kursi tunggu rumah sakit, menunggui Shinichi yang belum keluar juga. Ia melepas mantelnya dan menyelimutkannya ke Ran.

Benar-benar mirip Akemi, batin Shiho sambil tersenyum. Lalu ia menuju kantin rumah sakit, tempat Jodie menunggunya.

"Bagaimana?" Shiho duduk di depan Jodie. Wanita berambut pirang pendek tersebut tersenyum, lalu wajahnya kembali serius. Ia mengeluarkan sejumlah kertas, menurut Shiho itu data orang-orang. Namun ia tidak tau orang-orang itu siapa.

"6 anggota mereka tewas," buka Jodie. "Dan 15 sisanya luka-luka, sudah tertangkap. 2 orang lainnya, lari."

"Gin dan Vodka," tebak Shiho.

"Tepat," Jodie membuka kertas-kertas itu. "Mereka semua sudah kami selidiki. Tak satupun dari mereka memiliki pekerjaan tetap, yang artinya mereka hanya mengabdi pada organisasi ini. Dan artinya pula, mereka hanya anggota bawahan, yang disuruh menembak dan bisa diganti sesuka hati. tidak seperti Gin, Vodka, Vermouth, Chianti, Korn, dan lainnya. Biasanya anggota elite mereka adalah orang terpandang atau terkenal. Atau, sama sekali tidak memiliki identitas, seperti Gin."

Shiho menatap kertas-kertas itu. Pandangannya kosong.

Mereka lolos lagi. Sedangkan dua orang dekatnya sedang sekarat di rumah sakit ini sekarang.

"Ada apa, Miyano?" tanya Jodie. Shiho mengangkat kepalanya.

"Berapa orang korban dari pihak kita?"

Jodie menatap Shiho sedih. Ia tersenyum miris. "Sampai sekarang tidak ada korban jiwa. Luka kecil, hampir semua orang," Shiho melirik ke plester yang ada di pipi Jodie, "dan 2 orang luka berat. Kau tau siapa mereka."

"Dan kita tidak tau apakah mereka hanya akan menjadi korban luka berat, atau korban jiwa, ya 'kan?" tanya Shiho sarkastik.

BRAK!

Jodie berdiri, menggebrak meja kantin rumah sakit. Untungnya, kantin itu sudah sepi, hanya kios makanan yang buka. Orang-orang sepertinya tidak sadar soal keberadaan Shiho dan Jodie di sudut kantin tersebut.

"KAU TIDAK MENGERTI!" Jodie berkata cukup keras, namun tidak terdengar orang lain. "KAMI TIDAK PERNAH SENGAJA MENGGUNAKAN KUDOU DAN DHAN UNTUK MEMANCING MEREKA!"

"Kalau begitu, mengapa Gin dan Vodka bisa lari?" tanya Shiho. Suaranya terdengar marah. Ia ikut berdiri. "Tidak taukah kau, seberapa besar usaha kami, usahaku, usaha Kudou, bahkan Ran dan Yukiko-san! Untuk membantu kalian, para FBI! Untuk menangkap mereka! tapi dengan mudahnya mereka lolos, hanya mendapatkan orang-orang yang bisa diganti sesuka hati mereka!"

Jodie menatap Shiho. "Kami…"

"Bahkan Dhan, Ara! Walaupun anggota kalian, mereka berusaha keras, aku tau, sudah berapa kali Ara hampir tewas karena usahanya untuk menyadap para anggota organisasi itu, serta Dhan yang sudah berapa kali tertembak… lalu kalian meloloskan mereka begitu saja?"

"Miyano…"

"Aku tidak tega, Jodie. Pada Ran, yang sedihnya luar biasa, pada Yukiko-san…"

Sebuah tangan menepuk bahu Shiho.

Shiho menoleh. Ara melihatnya dengan tatapan dingin dan getir, lalu menarik kursi, duduk di sebelah Shiho. Lalu Shiho dan Jodie ikut duduk.

"Sudah tugas kami, semua anggota FBI, untuk mempertaruhkan nyawa dan melindungi dunia, 'kan?" ujar Ara. Matanya melirik ke sebuah kios, entah kenapa. "Kau tak usah risaukan aku dan Dhan, kami sudah biasa. Dan untuk Kudou, kurasa dia akan tertawa terbahak-bahak kalau kau mengkhawatirkan dia sekarang."

"Tapi…" Shiho terdiam.

Sejujurnya ia tidak tega, karena Ran hanya menangis tanpa suara daritadi. Gadis yang menyerupai kakaknya. Dan Yukiko yang baik hati, menangis tersedu-sedu, orang yang seperti ibunya. Ketika Shinichi terbaring, dilumuri darahnya sendiri, pemuda yang selalu melindunginya. Ketika melihat Dhan hampir mati, dan tatapan Ara yang kosong, yang sudah seperti saudaranya.

Dari semalam juga, ia merasa begitu marah ketika Akai Shuichi mati dengan dugaan langsung atas perintah Gin — ia mendapat informasi itu lewat database FBI.

Dan Gin dan Vodka lolos pada transaksi kali ini?

Ia merasa butuh menyalahkan seseorang.

"Maaf…" bisik Shiho pelan. "Aku terbawa emosi…"

"Aku tau. Aku juga minta maaf karena tidak berhasil menangkap mereka," Jodie meringis. "Aku, James dan Andre sudah berusaha mengejar mereka, namun kami kehilangan jejak karena dia memasuki daerah perkantoran, yang sedang macet total."

"Lebih baik kita makan," ujar Ara tersenyum. "Aku lapar."

"Dhan bagaimana?" tanya Jodie.

"Tidak terlalu baik, dia masih belum sadar, tapi setidaknya sudah melewati masa kritis." Ara nyengir menenangkan dua orang di dekatnya.

"Tadi aku juga sudah ke kamar Kudou. Sepertinya belum ada perubahan sama sekali, begitu kata Tante Yukiko. Kita do'akan saja," ujar Ara.

Shiho menerawang, pikirannya tertuju ke Akai Shuichi.


"Seorang wanita?" Vermouth bertanya dengan nada kurang tertarik pada Gin. Ia menyalakan pemantiknya, untuk menghilangkan kegugupannya sekarang. Walau nampaknya tidak terlalu peduli, namun ia tau kalau yang dimaksud Gin adalah Mouri Ran.

"Ya. Entah bagaimana FBI bisa mendapat informasi bahwa akan ada transaksi di gedung itu, yang jelas sudah dua kali Kudou Shinichi ikut mereka dan membawa wanita itu," Gin menghisap rokoknya dalam-dalam, mengawasi gerak-gerik Vermouth dari spion. "… juga sangat melindunginya. Aku curiga kalau wanita itu memiliki hubungan spesial dengan detektif tikus itu."

"Hmmm…" hanya itu respon yang keluar dari mulut Vermouth. Padahal sekarang ia memikirkan puluhan cara untuk menyembunyikan Ran.

"Kau tau sesuatu, Vermouth?" tanya Gin.

"Tidak juga," jawab wanita pirang itu.

"Atau kau menyembunyikan sesuatu?" suara Gin tetap tenang namun memojokkannya.

"Aku hanya berpikir bagaimana cara mencari identitas wanita itu…"

"Fujitani Akane," kata Vodka. "Kakak sudah menyuruhku untuk mencari gadis itu, tim IT kita sudah berhasil menjebol database FBI, menemukan bahwa wanita itu bernama Fujitani Akane, 20 tahun. Hanya diketahui nama dan umurnya saja. Selebihnya, kosong."

Vermouth tersenyum. Tentu saja, sepertinya itu database palsu yang dibuat FBI. Dia mendengar ada seorang hacker yang bergabung dengan FBI 3 tahun lalu dan membuat sebuah firewall yang berisi data bohongan dari FBI. Dalam satu menit, sistem itu juga melacak IP address dari sebuah PC atau laptop, atau perangkat lain yang melacak database palsu tersebut. Mereka juga akan mendeteksi identitas, bahkan sistem itu tidak bisa ditipu dengan IP Spoofing yang biasa digunakan para kracker dan pelacak untuk melakukan kejahatan. Lalu mereka akan mencari pelaku dan menginterogasinya.

Ia mengetahui hal itu dari Calvados. Karena menurut Calvados, hacker itu adalah anak dari seorang anggota intelijen negaranya yang dibunuh oleh organisasi mereka.

Dan sekarang Vermouth yakin, berita yang ia kira hanya dongeng saja adalah nyata.

Vermouth tersenyum. Namun ia enggan menanyakan nasib orang yang disuruh Vodka untuk mencari informasi. Karena mungkin saja orang itu yang membocorkan transaksi mereka pada FBI.

Setidaknya Mouri Ran dan Kudou Shinichi aman saat ini. Mereka menggunakan data palsu, ide yang cukup bagus.

Vermouth mulai berpikir cara untuk memperingati sahabatnya.

Sedangkan Gin menatap Vermouth, lagi-lagi lewat spion, curiga.


Oke, bahasa-bahasa aneh bin ajaib kayak IP address udah keluar, haha.

Bukannya gw nganggap kalian remeh, I never meant it. Tapi, hampir semua pengguna komputer, baik PC ataupun laptop, gatau apa itu IP address. IP address adalah sebuah nomor yang hanya dimiliki suatu komputer, terdapat kode negara disana. 1 IP address untuk 1 komputer. Jadinya, setiap komputer punya IP address yang berbeda. Dari IP address kita bisa ngelacak keberadaan komputer tersebut. IP address bisa dipalsukan, banyak hacker yang memakai cara ini untuk melaksanakan kejahatan mereka, misalnya memakai kartu kredit orang lain untuk membeli barang yang mereka inginkan. Maksud dari IP spoofing (alias IP palsu) itu supaya mereka gak dilacak, misalnya itu hacker ada di Indonesia, terus dia pake IP Rusia. Kasus kayak gini banyak banget di dunia peng-hacker-an (bahasa apa ini…). FYI, IP address juga dipake para pemasang iklan di internet buat masang iklan yang tepat, lho. Jadi walaupun lo ada di situs luar negeri (semacam blog atau site berita gitu, deh) tapi iklannya bahasa Indonesia semua. Canggih, 'kan?

Kenapa gw bisa tau? Karena hal ini penting banget buat warnet, sedangkan gw adalah OP warnet, hahaha.

Sori ya updatenya lama. Saya pemalas, sih ._.

Sha-chan Anime Lover : Oke, udah ku edit, hahaha. Ada lho kejadian orang naksir sama seseorang hanya karena denger ceritanya. And I make it for Haibara, hahaha. Oh ya, Fairy Tale kamu apa kabar, aku penasaran tau…

Fumiya Ninna : Haha, biar asikkk ;) mungkin cuma di fanfic ini? Gw pake rumor yang merebak diantara ConanAddict aja…

Kudo Widya-chan Edogawa : Haha, it's a mistery ;) jangan marahi gw… secepatnya update!

riidinaffa : Etdah, ketawanya serem amat. This is, I gave it to you...

Tachi Edogawa : Eeeeh, benarkah? Makasih banget log, terharu daku. Updated!

Kongming the Greencoat : Ganti nama lagi ya om, hahaha. Sarkastik boleh 'kan, sekali-kali.

Wanna ask something on this fic? Atau ada karakter OOC? Atau jelek? Atau typo? Dan sebagainya?

Review :)