Yeah, Detective Conan gak pernah jadi punya gw… hanya milik Aoyama Gosho!
Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Sebuah cahaya memasuki penglihatan Shinichi. Ia tidak melihat benda, hanya cahaya saja. Lalu ia membuka mata —yang rasanya sulit sekali— dan melihat langit-langit putih yang bersih. Seketika pula bau antiseptik menyergap indera penciumannya.
Rumah sakit? pikirnya bingung. Lalu ia merasakan nyeri di perut dan kepalanya.
Lalu ia teringat kenapa bisa dia di rumah sakit.
"Aduh…" Shinichi mengerang pelan, lalu mengumpat ketika merasakan kakinya juga terasa perih. Lalu ia mendudukkan diri, melihat ke seluruh ruangan. Ada sebuah TV menyala, secangkir teh diatas meja, juga majalah wanita.
Tapi tidak ada siapa-siapa disana.
Tidak ada cerita sinetron tentang seorang lelaki yang kecelakaan dan ditunggui oleh kekasihnya yang menangis ria nih? pikirnya sinis sambil berusaha untuk berdiri. Ia meringis ketika merasa perih luar biasa di bagian perut. Shinichi terus mengumpat-ngumpat tidak jelas, menyambar kantung infus dan berusaha berjalan keluar ruangan. Lalu ia teringat. TV menyala, teh diatas meja, dan majalah? Harusnya ada orang disini.
Sebodolah, Shinichi menjejakkan kaki ke tanah. Seketika kakinya terasa seperti melesak hingga perut. Kenapa kemarin, padahal dalam keadaan peluru bersarang di perutnya, ia merasa baik-baik saja hingga bisa setengah berlari? Dengan sepatu sol tebal, pula.
"Aduh…"
"Shinichi!" sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari arah pintu. Shinichi mendongakkan kepala, melihat ke arah cewek yang dia cintai selama ini.
Cewek itu berkacak pinggak, bibirnya mencebik ke bawah, tanda bahwa ia marah. Lalu dia mengentakkan kakinya sambil berjalan dan mulai mengomel. "Bodoh! Kau ini sedang terluka, tau! Tidak bisa apa, duduk diam disana? Nanti lukamu tambah parah!" kemudian cewek itu menarik Shinichi kembali ke tempat tidur, mendudukkannya dan menyelimuti dengan selimut.
Shinichi melihat sekilas, mata Ran sembab.
"Kau habis menangis, ya?" tanyanya dengan muka sok polos.
"Ti… tidak kok!" Ran membalikkan badan, pura-pura mengambil majalah sembari menggosok matanya. Ia masih merasa bersalah soal terlukanya Shinichi. Namun segera lenyap setelah Shinichi sadar dan kelihatannya baik-baik saja. Sekarang ia malah merasa khawatir karena Shinichi hendak keluar ruangan. Padahal lukanya belum kering benar. Dan Shinichi terlalu keras kepala untuk dinasihati.
Ran menyambar kursi plastik yang ada di dekatnya dan menyeret kursi itu ke sebelah tempat tidur rumah sakit. Shinichi hanya memperhatikan, tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Ran duduk di sebelah Shinichi, menatap cowok itu garang.
Shinichi berdeham, memalingkan wajah menyadari betapa dekatnya wajah Ran dengan wajahnya, dan berkata, "Jadi bagaimana?"
"Ba… bagaimana apanya?" tanya Ran.
"Mereka…" Shinichi meracau tak jelas. Lalu diam sendiri.
"Mereka lolos. Dengan mengumpankan anggota bawah mereka, lalu melarikan diri," jawab Ran.
"Ooh…" Shinichi ber-oh ria sambil menatap TV yang menyala. Namun dari tatapan matanya bisa dilihat dia tidak memperhatikan acara di TV itu.
Jadi mereka lolos, pikirnya. Hebat juga, ternyata mereka sudah menyiapkan umpan, agar mereka sendiri bisa lari. Shinichi menghela napas. Entah sampai kapan dia dan FBI akan main kucing-kucingan dengan organisasi sialan itu. Dapat info soal transaksi mereka, sergap, lalu mereka kabur. Datang, gertak, kabur. Sepertinya akan lama. Lalu bagaimana dengan Ran? Ia melirik Ran sekilas, lalu menatap TV lagi. Wajahnya berkata brengsek-tapi-apa-yang-bisa-kulakukan.
Ran menatap Shinichi. Dia akan mengikuti Shinichi, bagaimanapun juga. Mau ada transaksi seberbahaya apapun ia tak peduli. Namun ia tidak tau cara melawan pistol dari jarak jauh untuk saat ini. Kalau ia bertindak gegabah, pasti Shinichi menyuruhnya pulang. Sedangkan dia tidak mau pulang.
Tadi dia menelpon ayahnya. Kogoro mengamuk, menyuruh Ran pulang, karena tau kepergian Ran adalah karena Shinichi. Namun Yukiko merebut telponnya dan bilang pada Kogoro kalau semua akan baik-baik saja, jadi lebih baik Kogoro tenang di kantor detektifnya.
"Kau harus menjaga diri!"
"Aku tau, ayah."
"Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah mau membunuhku, 'kan? Yang membuat anggota FBI datang kemari?"
Ayahnya tau. Tentu saja.
"I… iya, orang-orang itu."
Kogoro menghela napas. Ran itu keras kepala, sulit dilarang.
"Baiklah… lalu aku harus bilang apa pada ibumu?"
"Ayah, jangan beritahu ibu, ok? Ini hanya antara aku dan ayah. aku tidak mau ibu tau." Kogoro terdiam mendengar penuturan Ran.
"Please…"
"Baiklah! Ingat, ketika kau pulang nanti akan kuhajar bocah detektif sialan itu! Dan tidak perlu ada FBI menjagaku, aku bisa menjaga diri sendiri!"
Walau ayahnya bilang begitu, tetap saja ada agen FBI yang menjaganya tanpa sepengetahuan detektif geblek itu.
"Um, Shinichi, aku keluar sebentar…" Ran berdiri, menaruh tangannya di tepi kasur rumah sakit. namun sebelum ia hendak berbalik, sebuah tangan menahan lengannya.
"Tunggu, Ran."
"Waaa…" Ran tersandung kaki kursi dan kehilangan keseimbangan. Ia hendak terjatuh ke depan, namun karena Shinichi menarik tangannya, tubuhnya berbalik dan jatuh. Jatuh di dada Shinichi.
Lalu Ran merasakan wajahnya memerah.
Tidak hanya Ran, Shinichi juga begitu. Shinichi terbelalak, menatap Ran yang ada di dadanya dan Ran menatap Shinichi malu. Mereka berdua sesaat terlihat seperti orang tolol.
Lalu Ran dengan sigap berdiri, wajahnya merah total.
"Um, eh, Shinichi, aku mau keluar…"
"Tunggu dulu!" Shinichi menahan tangan Ran lagi sebelum cewek itu berbalik. Wajah Ran panas lagi. Ia menoleh ke arah cowok detektif itu, melihat bahwa cowok itu menatapnya serius sekarang.
Bisa Ran rasakan, jantungnya melompat-lompat hendak keluar.
"Eh… ngngng… apa?" tanya Ran.
"Ran… sebenarnya…"
Wajah Ran benar-benar panas sekarang. Dia bisa merasakannya. A… apa Shinichi mau menyatakan cinta? pikirnya bingung. Ia menelan ludah, membalas tatapan cowok itu.
"Aku lapar, tolong belikan makanan, ya?" ujar Shinichi innocent.
Kemudian hening.
"Ran-chan!" Yukiko memanggil Ran yang baru saja dari kantin rumah sakit. "Apa yang kau bawa?"
"Eh, nasi goreng, Shinichi sudah sadar dan dia bilang dia lapar…"
"EEEH! BENARKAH?" Yukiko histeris, lalu menarik Ran ke kamar Shinichi. Ran hanya mengikutinya, wajahnya memerah mengingat insiden tadi. Sungguh, begitu narsisnya dia sampai-sampai mengira kalau Shinichi akan menyatakan cinta. Tapi bukan salah Ran sepenuhnya, gerak-gerik Shinichi-lah yang membuatnya merasa seperti itu.
Yukiko membuka pintu kamar rumah sakit yang dijaga ketat oleh FBI. Shinichi duduk sambil memegang remote, mengganti saluran TV sesuka hati dengan wajah malas.
"Shin-chaaaaannnn" Yukiko berlari ke arah anaknya dan memeluk leher Shinichi. "Kau sudah sadar!"
"I… ibu…" Shinichi megap-megap kehabisan oksigen.
"Kau tidak apa-apa 'kan, Shin-chan? Apa yang kau butuhkan?" tanya Yukiko. Yukiko mencerocos tidak berhenti sampai Shinichi bilang, "Ibu, sudah berhenti!"
"Kau… padahal aku mengkhawatirkanmu!" Yukiko berkata sambil menjitak kepala Shinichi keras-keras.
"IBU SEBENARNYA KHAWATIR GAK SIH!"
"Um, eh, Shinichi, makananmu…" Ran menyodorkan bungkusan yang ada di tangannya.
"Oh, eh… makasih…" Shinichi mengambil makanan itu dari tangan Ran. lalu Ran berbalik dan melengang keluar ruangan. Wajahnya merah mengingat hal yang terjadi sebelum ia keluar ruangan tadi.
"Lho, Ran-chan kenapa?" tanya Yukiko bingung.
Shinichi mengangkat bahu dan menyuap nasi goreng yang dibeli Ran ke mulutnya. Rasanya perih kalau melihat Ran pergi seperti tadi. Seakan Ran akan meninggalkannya.
"Kudou! Nanti malam kita kembali ke Tokyo, ya!" Dhan membuka pintu dan nyengir lebar melihat wajahnya. Shinichi hanya memasang wajah datar.
"Cepat sekali. Aku 'kan baru sadar…"
"Kau sudah 5 hari disini! Kalau terlalu lama, bisa-bisa mereka akan melacak kita! Pokoknya, nanti malam kita pulang ya!" ujar Dhan, hendak menutup pintu.
"Lho? Kok kau pakai baju rumah sakit?" tanya Shinichi sebelum pintu tertutup.
"Ehehehe… aku juga terluka kemarin, lumayan parah…" Dhan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nanti bukan aku yang menyetir kok! Sudah ya!"
BLAM.
"Hhhh…" Shinichi menghela napas, berusaha menghabiskan makanannya. Kalau ada Ran, mungkin bisa disuapi…
Aku mikir apa, sih… dia mengalihkan pandangan ke TV. Sedang ada tayangan drama. Yukiko terus bicara soal keselamatannya, namun ia tidak menangkap semuanya. Ia melirik jam dinding, 7.30 malam. Entah seberapa malam mereka akan pulang ke Tokyo nanti.
Shinichi sedikit takjub bahwa mereka akan naik Honda Jazz milik Dhan.
Dia pikir, mobil itu sudha hancur diterjang peluru. Ternyata tidak, hanya ada sedikit lecet di body mobil itu. Menggeleng heran, ia naik ke mobil itu, dibantu Ran.
"Hanya kita berempat?" Shinichi melihat ke jok yang biasa diduduki Shiho.
"Dia satu mobil dengan Jodie," Ara membetulkan spion dan mulai menggas mobil. Shinichi melirik ke arah spion, ada sebuah mobil yang ia belum pernah lihat di antara mobil-mobil agen FBI. Mengingat bahwa 5 hari lalu mereka adu tembak dengan organisasi itu, jadi mungkin ada agen FBI yang mengganti mobilnya karena rusak ditembaki.
"Ng? Aneh, bukankah seharusnya mobil Jodie yang di belakang kita? Lagipula sejak kapan diantara kita ada yang memakai mobil itu?" tanya Dhan, melihat ke arah spion.
"Eh? Iya juga ya… mungkin ada perubahan rencana? Aku tidak tau…" Ara melirik spion. "Mungkin ada yang ganti mobil, kau tau 'kan, mobilnya mungkin hancur karena ditembaki…"
Shinichi berusaha melihat ke belakang, namun tiba-tiba perutnya terasa perih.
"Adududuh…"
"Shinichi, lukamu belum kering!" Ran menahan bahunya agar tidak memaksa untuk memutar badannya. Shinichi bersandar, meringis. Lain kali dia tidak akan membiarkan dirinya tertembak diperut. Penderitaannya luar biasa…
Ran menatap si detektif SMU yang duduk bersandar sambil menengadahkan wajah, berkeringat. Sebenarnya ia belum mau pulang, firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk kalau mereka pulang sekarang. Namun benar kata Shiho, kalau mereka terlalu lama disini, malah akan berbahaya. Bukan hanya mereka, tapi juga warga sipil yang lain.
Warga sipil?
Tiba-tiba Ran teringat Sonoko yang dia tidak beri kabar sama sekali. Bahkan sejak kepulangannya sewaktu transaksi di Osaka itu, ia agak murung dan tidak menceritakan apa-apa pada Sonoko, meski dia bertanya —bahkan agak memaksa— apakah Ran ada masalah. Namun, kalau ia memberitahukannya bisa-bisa nyawa Sonoko terancam…
Ran menghela napas pelan. Ia betul-betul rindu Sonoko.
Shinichi melirik cewek di sebelahnya. Sekarang Ran memasang tampang lelah dan sedih. Shinichi mengangkat alis. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan cewek itu, namun kemungkinan besar ada hubungannya dengan orangtuanya atau Sonoko.
"Kau mau pulang?" bisik Shinichi hingga hanya bisa didengar oleh Ran. Ran mengalihkan pandangan ke arah Shinichi dengan tatapan tidak percaya.
"Kau ingin aku pulang?"
"Yah, sebenarnya untuk keselamatanmu, lebih baik kau pulang. Namun kau 'kan keras kepala kalau diberitahu," ujar Shinichi.
"Kau sudah tau, 'kan, aku mau disini?" bisik Ran pelan. "Lagipula, tidak hanya aku yang keras kepala, Tuan Detektif yang Tidak Pernah Berkaca pada Diri Sendiri?"
"Tapi kau rindu orangtuamu dan Sonoko, 'kan?" tanya Shinichi tepat sasaran.
Ran terdiam. Memang, sangat bahkan. Namun ia juga tidak mau kalau Shinichi pergi, apalagi untuk selamanya. Itu sama dengan mimpi buruk yang takkan pernah berakhir.
"Pokoknya aku mau disini!" bisik Ran lagi.
Shinichi tertegun, lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Ran. Gadis itu sedikit tersipu, lalu menunduk.
Jalanan sudah sepi, gelap. Di sebelah kanan mereka ada danau yang agak kebawah kira-kira 3 meter dan di sebelah kiri mereka ada lapangan. Sepertinya jalanan ini hanya satu arah, karena Shinichi tidak melihat mobil dari arah lain.
Shinichi melihat rerumputan yang ada di tanah sekitar danau itu. Mengingat jalan yang dulu suka ia lewati bersama Ran untuk pulang sekolah. Masa-masa damai.
Lalu ia melihat sebuah menara. Ia melihat ada sesuatu yang memantulkan cahaya di atas menara itu. Shinichi memicingkan matanya, melihat ada dua orang sniper yang mengarahkan senjatanya ke arah mobil ini.
Shinichi mengambil kacamata Conan yang ada di saku jaket jeans-nya, memakainya dan melihat dengan jelas sekarang.
Chianti dan Korn.
Ia melirik spion, memperhatikan dengan baik. Sekarang ia tau sekali, mobil di belakang mereka dikendarai oleh orang yang bukan dari FBI. Namun ia tau, ada Chianti dan Korn, berarti anggota mereka.
"Mereka hendak menembak kita!" Shinichi berteriak. Ara langsung menoleh ke belakang, melihat Shinichi hampir berdiri dan matanya terbelalak kaget.
"Hah? Ada apa, Kudou?"
"Chianti dan Korn! Mereka, di atas menara itu…"
DOR! DOR!
Suara letusan terdengar, mobil menjadi tak terkendali. Ara membanting setir ke kiri, ingin meminggirkan mobil sebelum menabrak pembatas jalan. Namun mobil di belakang mereka menabrak Jazz itu hingga mobil kembali kehilangan kendali.
"Brengsek!" Ara membanting setir ke kiri, namun mobil di belakang menyusul dan ada di kiri Jazz itu, mendorong paksa hingga mobil mereka masuk ke danau.
"Waa! Keluar dari mobil ini, segera!" teriak Dhan. Ara membuka kunci pintu mobil, segera dia dan Dhan loncat ke rerumputan yang ada di atas danau itu sebelum mobil menyentuh air.
"Shinichi, ayo!" ujar Ran ketika Shinichi tidak juga bergerak. Barulah Ran sadar, Shinichi memaksakan diri memutar badannya agar bisa membuka pintu, namun lukanya terbuka lagi.
Shinichi merasa kesakitan ketika hendak mengerakkan dirinya. Ia berusaha membuka pintu, namun sulit sekali. Ran tidak berusaha keluar mobil itu dan malah menarik dirinya.
"KELUAR, RAN! LOMPAT!" teriaknya.
Terlambat. Mobil itu keburu memasuki danau.
Ran berusaha membuka pintu, namun mobil itu jatuh miring ke kanan, ia tidak bisa membuka pintu mobilnya. Ia juga berusaha membuka pintu mobil yang ada di sisi kiri. Namun entah kenapa pintu itu enggan membuka. Sedangkan ia melihat luka Shinichi terbuka lagi, dan mulai mengeluarkan darah, bercampur dengan air.
Mana mungkin ia mau mati dengan cara seperti ini?
Ran melihat sebuah kunci setir yang teruat dari besi. Ia meraihnya dan memecahkan kaca depan. Namun sulit, hanya sedikit retak. Ran menoleh ke arah Shinichi, cowok itu berusaha memecahkan kaca dengan sikunya. Sama dengan Ran, hanya retak.
Oksigen di paru-paru mulai menipis. Sudah berapa kali Ran menelan air danau itu. Lalu ia segera mengambil keputusan sebelum benar-benar mati disana.
Ia berpegangan pada kepala jok, menendang kaca depan mobil itu dengan keras. Tidak ada suara pecahan, karena mereka ada di dalam air sekarang.
Ran menyesal, kenapa dia tadi memakai celana pendek. Ia menarik tangan Shinichi, namun karena cowok itu kesulitan bergerak, ia memeluknya dan menarik cowok itu keluar.
Ran tidak tau bagaimana ia bisa ke permukaan. Yang jelas ia menumpukan kaki ke atap mobil, lalu meloncat sambil membopong Shinichi yang terasa ringan. Selanjutya ia tidak tau bagaimana, pokoknya kepalanya sudah sampai permukaan.
Ia berusaha memunculkan Shinichi ke permukaan juga. Napas detektif itu sudah satu-satu, Ran melihat darah semakin banyak keluar. Ia berusaha berenang menuju rerumputan, entah bagaimana mobil mereka bisa sejauh itu. Sepertinya terseret.
Ia berusaha untuk selamat. Namun rasanya sulit. Sulit bernapas, sulit melihat. Air matanya merebak, ia menyeret Shinichi ke sana.
Setelah berusaha berenang selama 10 menit, rerumputan itu sudah dekat. Ran merasa ia menjejakkan kaki ke tanah, lalu ia mendorong tubuh Shinichi ke tanah itu. Membaringkan Shinichi, lalu ia duduk di sebelah Shinichi, bingung harus melakukan apa.
"Uhuk…" Shinichi tersadar, air keluar dari mulutnya. Ia memegangi perutnya, perih dan berdenyut-denyut.
"Shinichi! Kau tidak apa-apa?" tanya Ran.
"I… ni…" Shinichi menunjuk perutnya.
"RAN-CHAN! SHIN-CHAN!" Yukiko berlari ke arah mereka bersama James, Jodie, dan beberapa orang yang membawa tandu.
Ran memegang erat tangan cowok itu. Shinichi berusaha tersenyum, namun malah terlihat seperti seringai.
Lalu Ran merasa perih di betisnya. Ternyata tergores, banyak goresan.
"Ran-chan… kita obati kakimu, ya?" ujar Yukiko sambil mendorong gadis itu.
Ran mau menangis rasanya. Kematian terasa begitu dekat tadi. "I, iya…"
Hancur total!
Gw gak bisa gambarin rerumputan yang dimaksud! Hancur deh! Pemilihan katanya itu lho, gw ngerasa kayaknya kurang tepat terus… ada apa ini…
Gw gatau harus ngomong apaan lagi…
Kira-kira bakal berapa chapter ya fic ini? Setelah —akhirnya— gw publish nih chapter, berarti gak akan lebih dari 20!
riidinaffa : Eeeh, benarkah? Gagal bener gw sebagai author… haha, iya dia ikut kok. Eh emang iya? Apa pen name lamanya?
AngelaBlue : Bkakaka, namanya aja nyamar… Haha, kalau kayak gitu mah kesannya bukan novel banget, sedangkan gw buat ini fic seakan-akan, yeah, ini novel detektif. Oh iya ya ._. Udah gw ediiit!
Tachi Edogawa : Akhirnya dapet juga kritik kayak gini… hahaha, harus kayak gitu supaya ntar… ups, surprise!
Kongming the Greencoat : Namanya juga anggota kelas bawah :P iya, karena sebenernya bingung gimana nulisnya. Kalo gitu, entah pada ngerti atau nggak… mudah-mudahan sih iya.
uchiha cuChan clyne : Emangnya ada humor? Perasaan gw nggak deh… haha, gak apa-apa kok neng…
kudo kun ran : Eh, rele? Selama itukah? Yah, emang gw ada hubungan sodara ama si Kudou kampret… makasih lho ._.
Kudo Widya-chan Edogawa : Gw heran, emang ada humornya yah? Wkwkwk, kali-kali kasih yang jelek buat Shinichi… liat aja ya~ updated neng.
Kritik saran? Flame? Komentar? Apresiasi? Apapun itu, silahkan review :)
