Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Disclaimer : Y'know? Detektif Conan selamanya milik Aoyama Gosho.
Kematian terasa begitu dekat.
Itulah yang dirasakan Ran dan Shinichi belakangan ini. Shinichi terutama, dia diincar habis-habisan. Sejak 'kecelakaan kedua' di Hokkaido, sudah 3 kali mereka gagal kembali ke Tokyo karena nyawa mereka diincar. Tentu saja, mobil Jazz Dhan hancur —yang membuatnya bad mood sepanjang minggu— dan penjagaan kepada Shinichi makin ketat.
Kalau penjagaan Shinichi dan Ran ketat, maka Shiho lebih ketat lagi. Karena dia adalah sumber informasi terpenting mereka, maka dia diberangkatkan tepat satu hari setelah mobil Dhan tenggelam di danau tersebut. Mengantisipasi keberadaannya sudah diketahui.
Waktu itu, Shinichi sadar dalam keadaan bingung. Ketika terbangun, dia ada di rumah sakit dan ruangan yang sama seperti semalam. Ran di sebelahnya, kepalanya tertangkup, tidur. Ibunya hampir terlelap di sisi tempat tidur yang satunya. Ia bahkan bisa melihat Dhan beserta ceweknya tidur di sofa dengan kepala saling bersandar ke pundak yang satunya. Ia juga bisa melihat 3 orang yang sedang mengobrol di depan pintu kamar rumah sakitnya, yang ia kenali sebagai anggota FBI.
Perutnya perih, jelas. Ia memaksakan diri untuk bangun. Dan Yukiko langsung sadar 100%.
"Shin-chan? Kau baik-baik saja?" Yukiko menyingkirkan rambut di kening anaknya, tampak senang. Ia hendak berdiri, namun Shinichi menahannya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya langsung. Ia bisa melihat keraguan melintas di wajah ibunya sekilas. Lalu wanita itu mengehembuskan napasnya keras-keras.
"Ban pecah," ujarnya. "Dan ada bekas tembakan di aspal, itu penyebabnya. Mobil kalian tiba-tiba menghilang dari pandangan kami. Lalu Jodie melihat Jazz Dhan malah meluncur ke dalam danau, dengan sebuah mobil yang mendorongnya. Camel mengejar mobil itu, tapi dia menemukannya sudah tertinggal di pinggir jalan, tidak ada satupun yang tertinggal untuk mencari tau identitas si pengendara mobil. Bahkan mobil itu curian. Sedangkan aku, James dan Jodie segera turun ke bawah. Saat itulah aku melihatmu dan Ran-chan, lalu…"
Yukiko tidak melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya tercekat. Bayangan malam itu terbayang lagi di benaknya, melihat darah, melihat air mata, melihat kesedihan.
Ia merasa marah. Kenapa harus anaknya yang mengalami hal itu?
Tapi Yukiko tau jelas. Mungkin harus ada yang dikorbankan untuk menumpas hal-hal buruk dari dunia ini. Karena sebenarnya ia sendiri tidak bisa membayangkan kalau ada seorang ibu lagi, di luar sana, di belahan bumi lain, yang akan mengalami nasib sama seperti dirinya, melihat anak mereka terluka untuk memberantas kejahatan— dan tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Cukup dia saja. Lagipula dia cukup kuat, kok.
"Aku panggil dokter, ya, Shin-chan!" ujar Yukiko. Lalu sang anak tersenyum kecil, saat itulah ia merasa kemarahannya hilang entah kemana.
Setelah itu, Shinichi diomeli Jodie panjang lebar karena bisa-bisanya tidak menyadari keberadaan organisasi. Namun kata-kata wanita itu hanya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Hanya omongan lalu saja. Dan mereka segera berencana pulang.
Namun Shinichi, lagi-lagi kena teror. Ada pistol mengacung dari sebuah motor di luar. Dhan menyadarinya. Lalu ia menginjak pedal gas dalam-dalam —mobilnya sudah berganti menjadi Jazz merah menyala— dan motor itu mengejar. Mereka berputar-putar seperti orang tolol hingga si motor tak terlihat, menghubungi Jodie yang khawatir setengah mati, dan melintasi tol menuju Tokyo seperti orang kesetanan.
Bahkan Ran pernah keluar bersama Ara dengan dandanan Akanenya, hanya ke minimarket untuk membeli cemilan. Mereka diserang pisau disana. Yang si penyerang tidak tau, yang dilawan adalah dua gadis yang tingkat beladirinya sudah expert.
Bahkan Shinichi sudah tidak ingat berapa kali dia diincar selama di Tokyo —hampir diracuni, hampir tertusuk, hampir tertembak, dan hampir-hampir lainnya— sedangkan Ran, yah, karena dia menyamar, jadi pada saat menyamar sajalah dia diincar, yang kalau dihitung hanya 3 kali.
Shinichi benar-benar bersyukur, apalagi dengan software yang dibuat Ara bersama rekannya di FBI bernama Kate. Kata Jodie, software itu berisikan data-data yang sudah dipalsukan mereka berdua. Selama ini Ara dan Kate membuatnya di gedung FBI Jepang tempat Shinichi bernaung untuk sementara, selama 3 bulan.
Shinichi juga sudah bertemu si Kate itu. Rambutnya halus dan ikal kecoklatan, kulitnya kuning langsat. Wajahnya manis dan anggun. Tubuhnya sedikit mungil. Senyumnya manis, matanya biru terang. "Salam kenal," ujar wanita itu ketika memperkenalkan diri.
Tapi ketika sudah mengenalnya dan mulai bercanda dengan Ara, sama barbarnya.
Shinichi berbaring di atas kasurnya. Menatap langit-langit. Perutnya agak nyeri, lagipula ia merasa bosan berada di gedung ini terus menerus. Ran masih bisa sekolah dan tetap beraktifitas seperti biasa, walaupun dia tetap tinggal di gedung FBI untuk sementara. Ran sering mengunjungi Kogoro, tentu saja. Dan masalah ini memang hanya Kogoro yang mengerti, walau yang ia tau hanya sekilas.
Sementara dia? Hanya terkungkung dengan latihan.
Entah apa yang FBI mau, yang jelas ia diajari banyak hal. Yang 50% sudah ia mengerti dari ayahnya. Sisanya malah benar-benar tidak masuk ke otaknya.
Yah, sedikit-sedikit nyangkut, lah.
Dan soal perasannya pada Ran… mulutnya selalu terkunci jika melihat cewek itu. Bukannya sama sekali tidak bicara, tapi rasanya tak ada satu kata romantis pun yang bisa keluar dari mulutnya. Selalu ledekan. Selalu ejekan. Selalu tawa. Selalu soal misi. Tidak pernah menyinggung sebuah kata yang membuat hati Shinichi jungkir balik.
Itu, lho, yang berawalan huruf C.
Cinta. Sulit sekali mengatakannya.
Yah, Shinichi sih sering menggaungkan kata-kata itu dihatinya. Ran, aku cinta padamu. Ran, I love you, atau sesuatu seperti itu. Tapi seperti yang sudah dibilang, hanya ada di hatinya. Tidak keluar dari mulut.
Tubuhnya letih, namun matanya masih sekuat lampu 100 watt. Terang benderang. Tak ada keinginan untuk tidur.
Besok hari Minggu. Mungkin dia bisa berjalan-Ran kali ini, melepas penat, mungkin sekalian menyebut kata, ehem, C itu.
Bisa nggak ya? Shinichi bolak-balik di atas kasurnya, tersenyum-senyum seperti orang tolol dengan wajah memerah hingga jatuh tertidur.
Ketika ia terbangun, Shinichi melompat dari tempat tidur dan menuju ruang makan.
"Ran mana?" tanya Shinichi, melihat Shiho sedang memelototi laptop-nya —oh, bahkan Shinichi tidak pernah melihat Shiho lepas dari barang itu, seperti satu paket— di atas meja makan. Mereka bertiga tinggal di gedung itu, di sebuah ruangan yang disulap menjadi seperti apartemen.
"Berangkat pagi-pagi. Katanya ada latihan karate."
Shinichi langsung lemas. "Ooh…"
Ia jadi malas sarapan, seperti yang ia lakukan belakangan ini. Dengan cepat ia menyambar handuk dan melengang menuju kamar mandi.
Namun ia merasa berjalan ditempat.
Ternyata, Shiho menahan ujung kausnya.
"Apa-apaan, sih, brengsek?" tanya Shinichi sebal. Mood-nya sudah cukup buruk pagi ini, jadi tidak perlu ditambah dengan keisengan Shiho. Bisa-bisa kepalanya meledak, serta otaknya berhamburan di seluruh ruangan.
Shiho mengendikkan kepala ke makanan di seberangnya. Shinichi menoleh. Ia melepas pengangan Shiho dari kausnya, lalu melihat setangkup roti bakar dan susu disana.
Shinichi melongo. Benar-benar melongo. Otaknya berjalan agak lambat pagi ini.
Lalu ia melihat sebuah kartu di sebelah makanan itu.
Makan atau aku membunuhmu.
xxx, Mouri Ran.
Bunuh saja kalau bisa… pikir Shinichi iseng sambil menarik bangku dan membanting tubuhnya disana. Ia memakan roti bakar itu. Tidak panas sekali, walau masih ada hawa-hawa hangat di roti itu. Rasanya lezaaat sekali, menurut lidahnya. Namanya juga orang jatuh cinta. Jadi makanan yang dibuatkan objeknya terasa begitu enak, walau sebenarnya tidak istimewa.
"Mengapa dia bisa tau aku malas sarapan akhir-akhir ini?" tanya Shinichi dengan mulut penuh.
Shiho mengernyit sebal. "Telan makananmu dulu, bodoh. Roti untuk sarapan hanya berkurang setelah aku dan dia sarapan, tidak lebih. Jadi dia tau kalau kau tidak sarapan."
Shinichi membulatkan mulutnya, maksudnya sih mau bilang "Oooohhh…" tapi keburu tersedak, maka ia menenggak susunya sampai habis.
"Aku mandi dulu ya!" ujar cowok itu sambil cengar-cengir gak jelas.
"Sulit memang, tinggal dengan orang yang sedang jatuh cinta."
"Kau sendiri juga merasakannya, 'kan? Jatuh cinta, maksudku."
Sonoko menatap Ran yang sedang jogging di sebelahnya.
Hari ini, Ran latihan karate bersama klubnya. Karena Sonoko sedang tidak ada kegiatan, maka ia ikut lari pagi —agenda klub itu sebelum latihan— bersama mereka. Rencananya, sih, mereka akan jogging kira-kira 1 jam.
Sonoko merasa, ada sesuatu yang disembunyikan Ran. Apalagi Ran melarangnya untuk mejemput Ran di kantor detektif tiap pagi seperti dulu. Sepulang sekolah, Ran langsung menghilang begitu saja. Cewek itu juga terlihat capek dan letih setiap hari, seakan-akan ada hal berat yang harus ia lakukan. Padahal, latihan karate Ran seperti biasa, tidak ada tambahan. Pelajaran juga, tugas-tugas nampaknya ringan sekali untuk dikerjakan. Untuk Sonoko saja ringan, apalagi Ran?
"Ran, aku lapar," ujar Sonoko, ketika jogging mereka selesai. Maka, Ran dan Sonoko menuju kafe terdekat untuk makan.
"Ada yang kau sembunyikan?" tanya Sonoko sambil menyuap es krimnya. Ran mendongak, melihat ke arah sahabatnya.
Ada yang disembunyikan, katanya? Banyak! Banyak sekali! Sungguh, Ran ingin bercerita. Tapi sulit. Itu bisa membahayakan dirinya, Shinichi, ayahnya, ibunya, Sonoko sendiri…
"Berceritalah kalau kau memiliki masalah," ujar Sonoko. Sebetulnya, ia sadar benar bahwa Ran menyembunyikan sesuatu. Namun, ia juga melihat kalau sorot mata Ran… bahagia.
Itu yang terpenting.
"Tidak, tidak ada," jawab Ran sambil tersenyum iseng. "Kau mau jadi detektif, hm?" lanjutnya dengan nada iseng. Sonoko melemparnya dengan tissue, lalu mereka tertawa terbahak. Cerita konyol dengan topik ringan, Makoto, fashion terbaru, tugas, cowok ganteng di sekolah, dan sebagainya terus keluar dari mulut Sonoko. Ran tertawa, menanggapinya sekali-kali.
Aku ingin bercerita, Sonoko. Tapi tak bisa. Maaf… Ran membatin sambil mengaduk makanannya, meringis.
"Ada yang mengikuti kita dari belakang," ujar Shiho.
Shinichi melirik ke arah cewek itu dengan ekspresi kaget. "Kau bercanda," ujarnya sambil menurunkan kacamata hitam yang ia pakai sampai ke hidung. Namun tak urung juga, ia melihat ke belakang lewat kaca restoran yang ia lewati.
"Bukan waktunya untuk bercanda, Tuan," balas Shiho sinis. Shinichi mendengus, semakin waspada. Ia meraba pistol dibalik jaket hitamnya. Masih ada disana.
Hari ini Shinichi dan Shiho keluar untuk membeli keperluan sehari-hari yang sudah habis. Biasanya Ran yang membelinya, namun Shinichi sudah lama tidak keluar dari gedung dan ingin menghirup udara bebas. Jadilah, mereka pergi ke supermarket terdekat. Dengan penyamaran tentunya. Shinichi dengan wig cokelat dan kacamata hitam, serta Shiho dengan rambut hitam panjang dengan jepit putih, kacamata berbingkai putih, dan permen karet yang terus menerus ia kunyah.
"Apakah mereka anggota organisasi itu?" tanya Shinichi. Shiho menggeleng, lalu berkata "Aku tak pernah melihat mereka sebelumnya."
Lalu Shinichi melihat ada kedai es krim didekat mereka. Segera, ia menarik Shiho dan mampir kesana.
"Apa-apaan…? Hei, Kudou!" bisik Shiho. Shinichi tidak peduli, lalu memesan es krim dan memperhatikan cermin yang ada di balik rak kedai.
Orang yang Shiho curigai memakai kaus berkerah putih dan celana panjang hitam, orang yang bisa ditemui dimana saja. Namun Shiho sadar, orang itu sudah ada dibelakang mereka sedari tadi, sejak mereka keluar dari supermarket. Dan sekali-kali bersembunyi ketika Shiho dengan sengaja menoleh ke belakang. Shinichi menunggu, lalu melihat orang itu melewati mereka begitu saja.
"Kau terlalu berlebihan," bisik Shinichi sambil mengeluarkan receh dan membayar es krimnya. Lalu berjalan lagi dengan santai. Shiho mengangkat alis, tidak mengerti.
"Mereka tidak mengikuti kita, bodoh. Lihat saja, tadi mereka tidak berhenti untuk…" Shinichi terdiam melihat lelaki yang tadi dicurigai Shiho berdiri didekat tiang listrik. Ketika Shinichi melewati lelaki tadi, orang itu berbali dan mengikuti mereka lagi.
"Siapa yang bodoh sekarang?" tanya Shiho. Shinichi menjilat es krimnya dengan wajah innocent.
"Yang jelas sekarang kita tau kalau dia memang mengikuti kita, 'kan?" kilah Shinichi. Shiho memutar bola matanya.
Shinichi lalu teringat suatu hal. Lalu ia mengajak Shiho berbelok, berniat mengelabui lelaki itu. Shiho dan Shinichi bersembunyi dibalik dus, ketika mereka mendengar seseorang berjalan ke arah mereka.
"Brengsek, dimana mereka?" ujar si lelaki itu. Ternyata jalan buntu, agak gelap dan sepi, dengan dus-dus bekas dan barang-barang rusak di sekitarnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak ada siapapun.
Menurutnya, tidak ada siapapun.
Kenyataannya, ada siapapun disana.
DUAK! Lelaki itu merasakan tendangan di kepalanya yang lumayan keras dari belakang. Matanya berkunang-kunang sejenak. Kemudian ia menoleh. Lalu terjatuh ke belakang, kehilangan keseimbangan ketika sebuah kaki menyapu tungkainya.
Didepannya, ada orang-orang yang tadi ia ikuti.
Shinichi menaruh kakinya di leher lelaki itu, berjaga-jaga kalau si stalker mau kabur. Jadi, mudah saja untuk menginterogasi lelaki itu, karena sekali hentak saja, leher lelaki itu patah. "Untuk apa kau mengikuti kami, hm?" tanyanya. Si lelaki mengkeret, sorot mata Shinichi adalah sorot mata membunuh.
"A-aku hanya disuruh!" teriak lelaki itu. "Aku hanya disuruh orang-orang berbaju hitam! Mereka bilang, mereka akan membocorkan rahasiaku kalau aku tidak mengikuti perintah mereka!"
"Kudou-kun, baju hitam…" Shiho menepuk bahu Shinichi. "Mungkinkah… mereka?" bisik Shiho.
Shinichi melengos, lalu menarik tangan lelaki itu agar ia berdiri. Lelaki itu menundukkan kepala. Mereka berjalan, hendak keluar gang buntu tersebut.
"Shiho, telepon Dhan, suruh dia jemput kita disini," ujar Shinichi. Kelihatannya detektif SMU yang sedang bersembunyi itu sedang berpikir. Shiho mengangkat bahu dan mengeluarkan handphone-nya, mencari nama Dhan di phone contact-nya dan menelpon.
Si lelaki itu melihat Shinichi lengah, dan pada saat itu dia mengeluarkan pisau dari balik kausnya dan hendak menusuknya ke perut Shinichi.
Shiho melihat gerak-gerik lelaki itu. "KUDOU-KUN!" teriak Shiho. "AWAS…"
Tepat saat itu, Shinichi menahan lengan si lelaki dan menyikut dagu si lelaki keras. Seketika orang itu pingsan dan jatuh ke tanah.
BREEK!
"Yah," Shinichi melihat lengan jaketnya yang sobek terkena pisau. "Padahal ini jaket baru dan aku suka pada jaket ini. Ck, sayang sekali…"
Shiho mengangkat alis. "Bodoh."
Shinichi menempelkan jarinya di bibir. Seketika, Shiho terdiam. Shinichi telah jongkok di dekat lelaki itu, memperhatikan sesuatu di kancing kaus berkerah putih yang dikenakan oleh lelaki itu.
"Apa itu?" bisik Shiho.
Shinichi hanya tersenyum. Senyum kemenangan, karena sebuah rencana langsung tersusun di otaknya.
"Kakak… si bodoh itu tertangkap oleh mereka…" ujar Vodka.
Gin tersenyum sinis. Ia menekan head set yang telah menempel di telinganya sejak tadi, juga memperhatikan laptop hitam yang ada di pangkuannya.
"Aku tahu dia akan tertangkap," ujarnya. "Aku sudah mengganti kancing kaus yang ia pakai dengan penyadap dan pemancar. Jadi kita bisa tahu, dimanakah markas mereka."
Vodka hanya mengangguk-angguk, dalam hati kagum dengan kerja rekannya itu.
"Lalu dimana markas mereka?" tanya Vermouth sambil memainkan HP hitam flip-nya. Sorot matanya tak perduli, rokok terselip di bibirnya. Walaupun kenyataannya, ia sedang mengetik sebuah e-mail.
Untuk Kudou Yukiko.
Vermouth tahu, sebentar lagi ini semua akan tamat. Berakhir. Akan ada pihak yang mati. Yang ia tidak tahu, pihak mana yang akan kalah. FBI atau mereka. Sebab, sekarang FBI memegang sebuah silver bullet. Yang akan menembak mati si serigala jahat.
Dan yang mereka tidak ketahui, tameng si serigala jahat bukanlah sembarang tameng.
Vermouth benar-benar ingin menyelesaikan permainan ini, sangat ingin pula membantu Kudou Shinichi dan Mouri Ran. Namun, kalau ia keluar dari organisasi yang telah ia ikuti selama bertahun-tahun ini sekarang, Anokata akan menyuruh Gin langsung untuk melubangkan kepalanya, karena ia akan dicurigai. Dor. Mati.
Jadi lebih baik, ia tetap berada disini. Plus, melindungi malaikatnya serta anak sahabatnya, yang sangat-sangat kebetulan —menurut penglihatannya—adalah pasangan kekasih dan akan terlibat dalam pertarungan FBI vs mereka.
"Mereka menuju Haido Building…" ujar Gin. Vodka tersenyum sinis, merasa kemenangan sudah ada di tangannya, memutar setir menuju ke gedung itu.
Vermouth menutup handphone-nya. Ia merasa heran, mengapa Kudou Shinichi begitu mudah terjebak? Dia bukan orang bodoh, Vermouth tahu betul soal itu.
Porsche Gin memasuki pelataran parkir gedung itu. Dari spion, Vermouth melihat ada Chianti, Korn, dan beberapa orang yang tidak ia kenal. Mungkin anggota kelas bawah. Sepertinya akan ada pembunuhan besar-besaran kali ini.
Apakah ia akan membunuh orang yang telah menolongnya? Ia tidak tahu.
"Aku menunggu di mobil saja," ujar Vermouth. Ia menyulut api pada rokoknya. Gin menatapnya lewat spion, curiga.
"Mengapa? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tanya Gin.
Vermouth tergelak. "Mustahil aku menyembunyikan sesuatu darimu, Gin. Namun kurasa, kau pasti akan menyelesaikan masalah ini dengan mudah tanpa bantuanku. Jadi kau tidak akan membutuhkan bantuanku, bukan? Itu hanya membuang-buang tenaga saja."
Gin memutar bola matanya. Sebetulnya ia masih curiga, namun ditepisnya. Benar kata Vermouth, ini hanya kasus kecil yang tidak membutuhkan bantuan Vermouth. Ia bisa menyelesaikannya sendiri.
"Kita pergi…" Gin dan Vodka keluar dari mobil.
Sekarang langit begitu mendung. Gerimis turun perlahan. Vermouth menatap keluar jendela, melihat langit yang seakan sedang mengutuk dunia. Sedang mengutuknya, mengutuk organisasi itu, atau mengutuk FBI, ia tidak tahu.
Yang jelas, tanpa sebab, ia tidak ingin ada darah hari ini. Terutama dari dua orang itu.
Gin berjalan cepat bersama Vodka disebelahnya. Dihiraukannya sapaan ramah si resepsionis. Ia melirik ke iPad yang ia bawa.
Lantai 5 gedung ini. Di sebuah ruangan. Ruangan apa, ia tidak tahu. Yang jelas ia harus segera kesana.
"Lantai 5," ujar Gin. Lalu Vodka membisikkan sesuatu di mic earphone yang ia kenakan.
Gin dan Vodka memasuki lift. Dengan cepat, mereka telah sampai di lantai 5. Gin menuju ruangan yang ditunjukkan di iPadnya itu. Sedikit lagi sampai.
Sekarang, Gin ada di depan ruangan yang dimaksud. Dengan cepat, Vodka melempar penyadap yang berbentuk semut buatan ilmuwan dari organisasi mereka ke ventilasi pintu. Segera, Gin mendengar suara-suara yang terdapat di dalam ruangan tersebut.
"MENGAKULAH! SIAPA YANG MENYURUHMU!" teriak sebuah suara. Laki-laki. Gin tidak pernah mendengarnya. Ia memperbesar volume sampai titik tertinggi, memasukan iPad ke balik jubah hitamnya.
"A… aku tidak tahu…"
"Jangan bohong!"
"P-pasti anggota organisasi hitam itu, 'kan?" tanya seorang wanita. Gin tidak mengenali pula suara wanita itu. Ia berusaha konsentrasi.
"Bah! Aku lelah, Akane. Kita istirahat dulu!" ujar si lelaki.
Gin tahu nama itu. Ia pernah membacanya dari database FBI. Fujitani Akane, seorang wanita berumur 20-an dengan rambut di kuncir dua, berkacamata, dan orang Jepang. Wanita nerd-looking yang menjadi anggota baru FBI.
"Uhm, Ku… Kudou-san… kau tak apa-apa? Seharusnya jangan hanya kita berdua yang menginterogasi…"
Kudou-san? Kudou Shinichi, huh… Gin tersenyum licik. Aura membunuh terlihat dari pancaran matanya. Ia mendekati pintu jati ruangan itu, mengeluarkan tokalevnya. Mereka hanya berdua. Hanya butuh 3 peluru… membunuh detektif SMU, agen baru FBI, dan orang bodoh mereka…
"Ka… kakak…" bisik Vodka.
Gin menyiapkan pistolnya, memasang peredam suara di pistol tersebut. Ia menembak handle pintu tersebut dan menerjang masuk.
Namun yang ia dapati hanya ruangan kecil berukuran 1x2 meter bercat putih, dengan jendela agak besar di hadapan pintu dan meja kayu ditengah-tengah.
Di atas meja itu ada tape recorder. Dan kaus putih yang memiliki penyadap tersebut. Dan penyadap yang dilempar Vodka tadi, tergeletak dengan indahnya di pojok ruangan.
Ia terjebak. Mereka terjebak.
"ANGKAT TANGAN! LEMPAR SENJATAMU!" sebuah teriakan terdengar dari belakang. Vodka sudah mengangkat tangan, karena ia ditodong oleh seseorang yang dulu Gin kira pernah dia bunuh.
Si detektif SMU brengsek itu. Tentu saja.
Gin melihat si Fujitani Akane, agen baru itu. Jodie Starling. James Black. Dan beberapa orang yang tidak ia lihat di database yang sudah di hack itu. Mereka semua mengacungkan senjata yang bisa kapan saja meletus.
Jadi mereka terperangkap.
Untunglah, ia belum menyuruh Chianti dan Korn untuk naik ke atas. Mereka masih menunggu perintah di bawah.
Gin menembak jendela di belakangnya dengan cepat, menarik Vodka untuk lompat dari jendela itu. Dengan cepat, Gin mengikat tali di kunci jendela itu, dan berpegangan pada tali itu dengan Vodka di tangannya. Vodka, menembaki jendela di ruangan lantai 3. Seketika, Gin dan Vodka melompat ke dalam ruangan itu dan berlari menuju pelataran parkir.
Vermouth sudah di balik setir. Gin dan Vodka melompat ke dalam mobil. Vermouth menekan pedal gas, dan mobil melesat dengan cepat, diikuti sebuah Viper hitam di belakang mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Vermouth. Suaranya meninggi.
"Mereka menjebak kita," ujar Gin. Dia mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia terjebak! Yang benar saja!
Dan orang yang ia kira telah mati di tangannya, ternyata masih hidup! Itu adalah kesalahan yang sangat-sangat fatal!
Namun kesalahan itu masih bisa di koreksi.
Dengan cara membunuh Kudou Shinichi. Lagi.
"Kita gagal lagi…" ujar Ran. Ia menurunkan pistolnya. "Berapa lama lagi kita akan bermain petak umpet dengan mereka…"
"Tidak sepenuhnya gagal, kok," ujar Shinichi, tersenyum penuh kemenangan. Ia berjongkok di dekat jendela.
"Hm? Maksudnya?" tanya Dhan.
Lalu ia melihat sesuatu yang di genggang Shinichi. Sehelai rambut berwarna perak.
Yosh! Ini dia!
Gw gabisa bales review dulu ya. Kenapa? Gw lagi deadline tugas. Ini aja gue sempet-sempetin update karena ada beberapa orang di twitter nanyain kelanjutan ini fic... merasa nista deh gue. Maaf ya karena lamaaa u,u
Keberatan untuk review?
