Detective Conan only belong to Aoyama Gosho…


"Jadi bagaimana?" tanya Shinichi sambil menunduk. Dia menatap ke layar komputer dan menumpukan berat badannya di satu tangan di sandaran kursi hitam yang empuk.

"E… eh…" seorang wanita berambut hitam lurus dan berkacamata yang duduk di atas kursi hitam itu berkata gugup, wajahnya merah. Ya ampun, orang ini tampan sekali! batin wanita itu. "Da… dari hasil penelitian lab, pemilik rambut ini berjenis kelamin laki-laki, berumur sekitar 28-32 tahun, golongan darahnya A. Kami juga sudah meneliti suaranya… dan... kami mendapatkan data soal tinggi badan, berat, dan ciri fisik lainnya. Um, sa… sayangnya, eh, DNA dan datanya tidak cocok dengan satupun data yang ada di FBI… jadi kupikir… dia bukan orang sembarangan karena kami tidak mempunya satupun informasi… tunggu sebentar…" wanita itu mengklik sebuah ikon pada layar dan muncul biodata seseorang. Background-nya hitam, dengan foto laki-laki berumur 40-an. Dan sebuah berita dari koran ternama di Amerika.

"Siapa… itu?" tanya Shinichi.

"DNA-nya… cocok dengan dia…" wanita itu menggeleng. "Tidak. Sepertinya pemilik rambut yang kau berikan pada kami adalah anak dari orang ini… karena orang ini jelas-jelas sudah tertembak mati oleh FBI. Kami masih memiliki data tentangnya."

Shinichi membaca cepat informasi yang ada di layar. "Kato Kichida?" Shinichi mengucapkan nama tersebut dengan nada tinggi, heran. "Aku tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya."

Wanita berambut hitam lurus itu menjawab. "A… aku juga belum masuk ke FBI sewaktu penangkapan orang ini… namun Kato Kichida ditangkap oleh FBI 18 tahun lalu atas kasus penyeludupan narkoba besar-besaran. Umm… ia memang mempunyai istri dan anak, namun seingatku, istrinya bunuh diri, juga anaknya…"

"Kalau dia bunuh diri, kenapa bisa anaknya ada di Organisasi Hitam sekarang? Anggota elite, pula," desak Shinichi. Wajah wanita itu memerah, ia menggeleng-geleng. Ia meng-scroll mouse-nya untuk mendapat informasi lebih banyak lagi.

"A, aku tidak tahu…"

"Mungkin anak itu selamat," ujar James dari belakang. Shinichi terperanjat. Sialan, mengagetkan saja, batinnya. "Mungkin saja sebenarnya anak itu tidak mati, mungkin hanya istrinya saja yang tewas. Kami baru tahu informasi bahwa Kato Kichida mempunyai anak dan istri kira-kira 5 tahun setelah kematiannya. Ketika kami menyelidikinya lewat orang-orang sekitar rumah Kato Kichida, mereka bilang istrinya membakar diri bersama anak plus rumah mereka. Jadi kasus dianggap selesai." James menyipitkan mata, menatap layar itu seakan bisa menembusnya.

"Jadi, Gin adalah anak dari gembong narkoba yang terbesar di dunia saat itu?" tanya Jodie. Ia datang bersama Ran yang membawa cangkir-cangkir kopi di atas nampan. Shinichi menyambarnya sambil memeletkan lidah. Ran tertawa kecil dan menawarkan kopi kepada si wanita berambut hitam.

Shinichi meniup kopinya sambil berpikir. Informasi soal Gin yang merupakan anak dari penyeludup narkoba yang tewas 18 tahun yang lalu adalah info yang menarik. Anak penjahat menjadi penjahat… dramatis sekali. Sang bapak adalah gembong narkoba, keturunannya pembunuh sadis. Shinichi tidak membayang kalau misalnya —misalnya, lho— Gin punya anak. Jangan-jangan anak itu akan menjadi penyeludup narkoba yang membantai semua kliennya plus merampok bank. Benar-benar skenario yang cukup bagus. Tunggu, memangnya ada cewek yang mau sama orang psikopat begitu? batinnya sambil menegak kopinya. Ia memeletkan lidah. Brengsek, panas banget, pikirnya.

Shinichi merasakan tepukan halus di bahunya. Ia menoleh. Ran menatapnya, dengan pandangan yang lucu. Sulit Shinichi menjelaskannya… pandangan takut… khawatir?

"Shinichi, kau belum tidur dari kemarin…" Ran menarik tangan detektif itu. "Tidurlah," bisik Ran pelan.

Wajah Shinichi memerah. Ia ingin menjawab tetapi tenggorokannya terasa lecet karena kopi panas tadi. Ia merasa diperhatikan oleh gadis karatenya —gadisnya! Bahkan menjurus ke hal-hal yang bersangkut paut dengan cinta pun belum— yang malang ini. Malang karena ikut merasakan bahaya sepertinya.

"Aku tidak ngantuk karena minum kopimu. Pahit banget, nih," kilah Shinichi. Ran menggeram.

"Ah, Bu Jodie, tadi Shinichi bilang kalau ia mengantuk. Bolehkah kalau aku dan Shinichi ke kamar sekarang?" tanya Ran dengan nada polos. Wajah Shinichi memerah lagi. Ran mengucapkan kata 'kamar' seakan-akan mereka tidur sekamar.

Ugh. Dia mau sekali. Mau sekali kalau sekamar dengan Ran, maksudnya.

"Pergilah, kau butuh istirahat, Kudou," jawab Jodie. Ran tersenyum penuh kemenangan, menarik tangan cowok keras kepala itu. Shinichi mendengus, memutar bola matanya. Ia menyeret kakinya menuju lift, kamarnya ada di lantai 10.

Ran memeluk tangan kiri Shinichi. Wajah Shinichi menghangat melihatnya. Apalagi ia merasakan sesuatu yang kenyal… pipinya bersemu merah.

Jangan mesum, bodoh! teriak Shinichi dalam hati. Padahal sebenarnya, ia juga menikmatinya sih… "Memangnya kau harus memegangi tanganku, ya?" tanya Shinichi sambil menunjuk lengannya yang digamit dengan lembut oleh Ran.

"Oh…" refleks, Ran melepas tangannya. Wajahnya memerah. Ia menaruh tangannya di samping tubuh, malu.

Suasana canggung jadi terasa di udara. Shinichi menghela napas sebal. Tadi 'kan, maksudnya bukan seperti itu. Ia hanya tidak mau dikira mesum, kok. Padahal memang sudah mesum sih, tapi tidak mengapa 'kan kalau dia tidak ingin dianggap lebih mesum lagi?

Pintu lift terbuka. Shinichi menarik napas dalam-dalam, lalu dengan cepat menyambar telapak tangan Ran yang dingin.

Ran tersentak. Ia tidak menyangka Shinichi akan memegang tangannya… wajahnya merah lagi. Ia menoleh ke arah wajah detektif itu. Shinichi tak kalah merahnya dengannya.

"Ta… tadi kau menyuruhku untuk tidak menyentuhmu…" gumam Ran. Shinichi mendengus.

"Bukan itu maksudku," ujar Shinichi, memperat genggamannya. Hangat dari tubuh Shinichi menjalar menuju tubuh Ran. Membuat tubuh gadis itu menghangat. Begitu pula dengan hatinya.

Sungguh, Ran ingin selamanya seperti ini. Bersama orang yang kita cintai… Ran menyejajarkan diri di samping Shinichi.

Lalu terdengar bunyi perut keroncongan.

Ran melirik teman masa kecilnya itu. Yang dilirik hanya cengengesan.

"Kau belum makan, ya?" tebak Ran galak. Shinichi mengangguk sambil nyengir, merasa malu. Ran menghela napas. Sudah bagus suasananya seperti tadi, malah dihancurkan dengan suara keroncongan itu!

"Ya sudah, aku buatkan makanan dulu!" ujar Ran sambil membuka pintu. Setelah menutup pintu, ia segera bergegas menuju dapur untuk memasak makan malam. Shinichi hanya mengekor, duduk di meja makan, memperhatikan Ran memotong-motong sayuran, entah apa itu. Shinichi hanya menikmati momen itu saja. Rasanya lelah sekali ketika dalam beberapa minggu ini ia selalu waspada dengan ancaman kematian. Sekali-kali ia sangat ingin rileks bersama orang yang dia suka… begitulah.

Ia jarang bersama Ran dengan situasi seperti ini. Selalu ada orang lain, atau suasananya tidak enak. Jadi lebih baik, ia menikmati momen ini lama-lama. Siapa tahu ia tidak akan mengalami hal seperti ini lagi… Shinichi menepis pikiran itu cepat, secepat kedatangannya.

"Sudah jadi!" Ran berkata dengan nada riang luar biasa. Shinichi terperanjat. Ia jadi merasa malu sendiri. Padahal 'kan dia hanya melamun, kenapa harus malu?

Ran meletakkan piring berisi tempura dan sausnya, beserta sayuran. Ran lalu sibuk lagi mengambilkan Shinichi nasi dan air putih. Shinichi hanya melongo melihat cewek itu bolak-balik ruangan dengan cepat.

"Tarah! Nah, sekarang makan!" ujar Ran. Ia menarik kursi di seberang Shinichi dan menduduki kursi itu. Ia menatap Shinichi sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Tapi Shinichi hanya bengong, menatap makanan yang ada di depannya.

"Kok diam sih?" tanya Ran.

Shinichi mendengus. "Oke, oke…" ia mengambil sepotong tempura dan menjilatnya sedikit. Lalu wajahya tampak seperti berpikir. Kemudian ia mengangguk-angguk, mulai makan dengan lahap.

"Kau! Jorok!" seru Ran. "Kenapa harus dijilat dulu, sih?"

"Takutnya tidak enak…" Shinichi terkekeh mendengar leluconnya. Ran cemberut, menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia melipat tangan di depan dada dan memperhatikan Shinichi tanpa sepengetahuan cowok itu.

"Selamat makan…" bisik Shinichi pelan, lalu mulai makan dengan lahap. Ran tersenyum. Cowok itu bertingkah seperti tidak makan bertahun-tahun saja. Ran menopangkan dagu pada dua tangannya, sikunya di meja. Sekarang ia benar-benar memperhatikan Shinichi secara terang-terangan.

Beberapa menit kemudian, Shinichi selesai. Ia mengelap mulutnya dengan tissue, lalu balik menatap Ran. Ia memajukan tubuhnya dengan ekspresi menyebalkan. "Ngapain lihat-lihat? Naksir?"

Ran tersentak. Ia cemberut lagi. Dasar cowok tidak peka! pikir Ran sebal. Ia hendak mengenyakkan tubuhnya ke kursi lagi.

Namun Shinichi keburu menahan tangannya.

Ran terhenti. Ia melihat wajah Shinichi memerah, mata cowok itu menatapnya dengan saksama. Ran merasakan wajahnya ikut memanas, namun ia hanya diam saja. Ia tidak melepaskan tangannya dari genggaman cowok itu. Ran menghitung dalam hati. Mereka ada pada posisi itu selama beberapa menit.

"Ran…" Shinichi berbisik. Suaranya begitu pelan. Mungkin Ran takkan bisa mendengarnya bila ada suara lain di ruangan itu. Namun dapur begitu sepi. Yang terdengar hanya desah napasnya dan Shinichi, suara di detektif SMA, juga debar jantungnya yang begitu jelas di telinga.

"A… apa?" tanya Ran, mengisi kesunyian. Keheningan di ruangan itu adalah keheningan yang membuat Ran berdebar. Debar yang menyenangkan. Shinichi mengelus tangan Ran dengan ibu jarinya. Ran menggenggam balik tangan Shinichi, dengan maksud bahwa ia tidak ingin melepaskan cowok itu.

"Sebenarnya… aku…" Shinichi melirik ke arah kanan. Ran mengikuti arah pandangnya, namun tidak melihat apapun. Akhirnya Ran menatap mata Shinichi lagi. Si detektif nampaknya sedang gelisah… tapi Ran sendiri tidak tahu karena apa.

Tetapi ia memilki sebuah dugaan di benaknya. Dugaan yang kalau benar-benar terjadi… bisa-bisa ia terbang menembus langit ke tujuh.

Oke, itu berlebihan, pikir Ran. Namun ia benar-benar merasa seperti itu, kok.

"Ya?" tanya Ran lagi.

Shinichi menarik napas. "Aku…"

Ran merasa jantungnya berhenti berdetak selama sepersekian detik.

"Aku…"

Pintu dapur menjeblak terbuka. Dengan cepat, Ran melepas genggamannya, begitu pula Shinichi. Lalu Ran melihat siapa yang masuk ke dalam dapur. Seseorang dengan rambut pirang stroberi melongokkan kepalanya dengan tampang malas-malasan.

"Oh, aku mengganggu, ya? Maaf deh!"

Shiho hendak menutup pintu, namun Ran keburu memotongnya. "Masuk saja, Miyano-san. Aku mau membersihkan peralatan makan Shinichi, kok," ujar Ran. Gadis itu berdiri dan mengangkati piring. Shiho membantunya, lalu Ran mulai mencuci piring. Shiho mengambil makanan di kulkas dan berjalan keluar.

Tetapi sebelum keluar, wanita itu membisikkan sesuatu yang membuat amarah Shinichi menggelegak.

"Boo-doh" Shiho mengucapkannya pelan, lalu terkikik sendiri.

"Brengsek!" umpat Shinichi, sedangkan Shiho keburu membanting pintu di depan wajah cowok itu.


DOR!

DOR!

DOR!

DOR!

CRING! CRING! CRING! CRING!

Shinichi menghabiskan seluruh peluru di pistol yang di pegangnya. Ia sedang berlatih menembak. Agak sadis juga, karena selongsong peluru bertebar di lantai dengan jumlah tak terhitung. Lumayan lah, tembakannya 95% tepat sasaran. Shinichi mengisi pelurunya lagi dan menembak sesuka hati. Sampai ia merasa kesalnya sudah habis. Ia memasukkan pistol itu ke sakunya. Sehabis itu, ia mengambil beberapa amunisi. Tiba-tiba ia ingin menembak lagi.

Sudah 3 jam Shinichi disana. Tadi ia disuruh Dhan untuk berlatih. Lagipula, sekalian melampiaskan kekesalannya karena ia gagal bicara pada Ran — lagi. Shiho memang brengsek, pikirnya, memasukkan peluru ke pistol-nya. Ia memasang pelindung mata dan penutup telinga dan mulai menembak lagi.

Shinichi teringat kalau ia sudah gagal untuk kesekian kalinya menyatakan cinta.

DOR!

Tidak tepat sasaran.

Shinichi mendecih. Ia berusaha konsentrasi. Namun sekarang ia malah memikirkan keselamatan orang-orang sekitarnya.

DOR!

15 cm di sebelah kepala target.

Shinichi menarik napas, berusaha tenang. Tapi dia malah teringat detektif bermata wanita yang ia temui dulu sekali, di kantor detektif Kogoro*. Ia tertawa.

DOR! Meleset lagi.

Kemarahan cowok itu memuncak. Ia menembaki papan target sampai pelurunya habis cepat-cepat. Tidak ada yang tepat sasaran.

"Hei, hei…" sebuah suara bass muncul dari belakang. Shinichi pura-pura tidak mendengar. Lalu ia merasakan lengannya dipaksa turun oleh sebuah tangan. Kesal, Shinichi membuka pelindung mata dan penutup telinganya, merengut.

"Apa sih!" teriaknya.

"Harusnya aku yang bertanya!" balas Dhan. "Kau ini ada dendam apa sama kami? Mau menghabiskan peluru berapa ratus, sih? Sudah, sana!" usir Dhan sambil mendorong cowok itu pergi.

"Aku 'kan mau latihan!" sela Shinichi.

"Kau lihat saja hasil perbuatanmu sendiri!" tukas Dhan sambil memasang penutup matanya.

Shinichi merengut, lalu melihat ke belakang. Ia terperanjat sendiri.

Seorang wanita yang agak tua dan gemuk dengan penutup telinga berjongkok dan memunguti selongsong peluru yang ada di lantai. Ia gemetaran, jelas sekali terlihat ketakutan. Wanita itu melirik Shinichi sekilas, bergidik, kemudian memunguti selongsong peluru lagi. Tidak sulit menebak apa —tepatnya, siapa— yang wanita itu takuti.

Shinichi jadi salah tingkah. Apalagi selongsong yang dipungut wanita itu tidak sedikit. Banyak sekali. Dan dilihat dari cara wanita itu memandangnya, itu berarti ia menembak dengan aura gelap dan terlihat menyeramkan.

Dhan mulai menembak. Lama-lama gendang telingaku pecah kalau ada disini terus, pikir Shinichi. Dengan perasaan kesal, ia keluar dari ruangan itu.

Di koridor, Shinichi bertemu beberapa anggota FBI. Sebagian ia kenal, sebagian tidak. Shinichi memasang senyum aku-baik-baik-saja-apa-kabar-kalian pada mereka. Suasana hatinya tidak membaik. Ketika tidak ada orang di koridor, ekspresi cowok itu seperti ingin makan orang. Untung tidak ada yang melihat.

Shinichi memencet tombol lift berkali-kali, walaupun ia tahu liftnya tidak akan lebih cepat datang. Ia malas naik tangga — sekarang mereka sudah pindah ke sebuah gedung dengan 10 lantai. Lantai teratas, terdapat 20 kamar yang digunakan anggota FBI dan dirinya. Sedangkan yang lain digunakan untuk ruang olahraga, latihan menembak, administrasi, pengamanan, ruang komputer (alias database FBI, namun mereka menyebutnya begitu), lab forensic, dan lainnya. Shinichi belum keliling gedung ini lebih jauh, ia hanya tahu beberapa ruangan saja.

Pintu lift terbuka. Shinichi melangkah masuk, menutup pintu lift. Wajahnya sok. Shinichi bersandar pada dinding lift, menyilangkan kaki dan menunduk.

TING!

Shinichi melompat keluar lift. Lalu ia merasa bodoh sendiri. Kenapa dia melompat-lompat?

Shinichi berjalan santai ke kamarnya. Sebenarnya ia agak malas — bagaimana kalau ia bertemu si Shiho sialan itu? Atau… kalau bertemu Ran? Kejadian tadi masih belum bisa ia singkirkan dari benaknya, rasanya begitu memalukan…

Masalahnya tidak ada tempat lagi yang bisa ia singgahi. Sepagian tadi ia sudah di ruang komputer, ia tidak merasa lapar untuk turun ke kafeteria, buku-buku di perpustakaan kebanyakan sudah dia baca, sisanya teenlit cewek yang menyentuhnya pun Shinichi tak mau. Ia juga sudah ke lab forensik tadi, tak ada yang bisa ia lihat. Mau latihan menembak malah diusir oleh hantu. Fisik? Dia sudah cukup lelah sehabis misi kemarin.

Shinichi membuka pintu. Sepi. Yang terlihat dari sini adalah sebuah sofa cokelat besar dan 2 cokelat kecil, televisi 21 inch, lampu, lukisan besar, meja kaca, laci, rak buku, dan beberapa pintu. Salah satu pintunya adalah pintu kamar Shinichi. Si detektif SMU menyeberangi ruangan buru-buru, membuka pintu kamarnya dan menguncinya. Shinichi mendengus, melempar diri ke kasur. Ia menatap langit-langit yang putih bersih.

Entah kapan semua hal ini selesai. Jelas, ia tidak pernah menikmati setiap bagiannya — sebenarnya, sejak tubuhnya mengecil pertama kali.

Tidak, ia tidak menyesal karena hal ini ia jadi mengenal beberapa orang, memecahkan beberapa kasus (kegiatan yang paling Shinichi sukai), lebih dekat dengan Ran… tapi ia tidak suka situasi berbahaya. Kalau ini semua tentang dirinya sih tidak masalah. Lain ceritanya kalau menyangkut semua orang di sekitarnya. Seakan-akan ia titik noda hitam yang meracuni segentong cairang bening.

Shinichi mendesah. Hal ini tidak pernah berhenti pikirkan.

Setidaknya aku tambah keren, pikirnya iseng, kemudian menutup mata.


Di koridor lain di gedung itu, suasana begitu sepi. Yang terdengar hanyalah suara deru pendingin ruangan. Jika tidak memperhatikan dengan baik, orang akan mengira koridor itu kosong.

Namun, seorang wanita dengan rambut pirang bergelombang bersandar pada dinding dengan wallpaper hijau tua. Di sebelahnya terdapat pintu dengan papan : SECURITY ROOM. Ia mengenakan kaus kuning gombrong, celana putih panjang ketat dan heels putih 7 cm. Tangannya terlipat di depan dadanya. Salah satunya menggenggam ponsel flip berwarna pink cerah. Wajahnya cantik dan menyenangkan. Namun ekspresinya begitu sedih. Ia menatap layar ponselnya sambil menahan air mata.

Yukiko,

Anakmu dan pacarnya dalam bahaya. Peringatkan mereka.

Sharon.

Sharon masih hidup? Lalu siapa orang yang ada di dalam peti mati itu? Yukiko tidak mau percaya. Sangatlah tidak lucu kalau seorang hantu mengirimkan e-mail kepadanya! Suami dan anaknya adalah detektif, mana mungkin ia percaya takhayul seperti itu?

Yukiko mengingat-ingat. Mungkin ada Sharon lain yang dikenalnya? Dari kemarin ia berusaha mencari Sharon yang lain, sayang Yukiko tidak menemukannya. Sharon yang ia tahu hanya Sharon yang itu.

Tunggu. Bagaimana Sharon tahu bahwa anaknya terlibat bahaya?

Sharon bergabung dengan organisasi itu.

Yukiko menggelengkan kepala. Lalu ia berdiri tegak. Tidak. Sharon bukan penjahat. Dari dulu, Sharon adalah teman baiknya. Teman baiknya jelas bukan penjahat. Sharon bukan penjahat….

Benarkah?

Merasa marah pada diri sendiri, Yukiko menghentakkan kaki menuju lift. Memperingati Shinichi dan pacarnya —dalam hal ini, Yukiko mengasumsikan Ran— bahwa mereka dalam bahaya? Yukiko sudah tahu! Bukankah dia sudah menyuruh 2 anak keras kepala itu mundur? Tak satupun dari mereka mendengarkannya. Mereka bilang bahwa mereka aman. Mereka ada di bawah pengawasan FBI dan segalanya, tapi Yukiko tahu persis mereka tetap terancam.

Kira-kira siapa Sharon yang mengirimi email aneh ini?


"Kudou Shinichi masih hidup?" Vermouth berkata dengan suara tinggi. Rokok yang ia pegang terjatuh.

Vermouth, Gin, Vodka, Chianti dan Korn berkumpul di tempat latihan Chianti dan Korn menembak. Gin bersandar pada pembatas yang terbuat dari kaca, tempat dimana Chianti biasa membidik melalui sniper kesayangannya.

"Ya. Kudou Shinichi masih hidup. Kau kenal dia, Vermouth?" tanya Gin dingin.

Vermouth mengerjapkan mata, mengambil rokoknya yang baru dan menggeleng. Gin menatap wanita itu tajam. Namun, bukan tiada artinya Vermouth mengarungi dunia artis selama belasan tahun. Ia mampu menutupi kekagetannya dengan ekspresi dingin.

"Kau bercanda. Bocah itu tahu keberadaan kita? Dan dia berpihak pada FBI?" Vermouth mengangkat bahunya, sok tidak peduli. "Bagaimana kalau orang itu tahu?"

"Itu yang kupikirkan," sambar Gin. "Yang jelas kita harus membunuhnya sebelum orang itu tahu."

"Kita?" ujar Chianti, matanya terbelalak. Ia melipat tangan di depan dada, bibirnya mencebik ke bawah. "Kau bercanda, Gin? Kami bahkan tidak tahu siapa itu Kudou Shinichi! Mengapa kau membawa-bawa kami juga?"

"Aku meminta bantuan," kata Gin. Walaupun ia berkata meminta bantuan, jelas itu maksudnya adalah perintah. Posisi Gin ada di atas Chianti. Perempuan itu tak bisa menolak, namun ia menggeram marah.

"Kapan kita akan membunuhnya?" tanya Korn. "Mungkin aku…" Korn tenggelam dalam gumamannya sendiri. Gin menoleh kepada lelaki itu. "Aku tidak tahu. Makanya aku ingin menyusun rencana."

"Tapi bagaimana kita menemukan bocah itu, Kak?" Vodka menghisap rokoknya untuk yang terakhir kali, lalu menginjaknya di lantai. "Kita tidak tahu dimana lokasinya. Dan, kupikir akan sulit untuk memancing anak itu bila ia ada di dalam perlindungan FBI."

Sementara partner in crime -nya mulai membicarakan cara-cara untuk memancing Kudou Shinichi keluar, Vermouth melamun. Ketakutannya menjadi kenyataan. Kudou Shinichi terekspos sudah. Tinggal menunggu waktu ketika perang antara FBI dan mereka pecah. Benar-benar membuatnya muak. Tak bisakah ia menjadi orang baik, sekali saja? Ia betul-betul ingin menyelamatkan Kudou Shinichi dan sang malaikat, Mouri Ran!

Vermouth memutar otak. Dia tidak bodoh. Ia harus menemukan cara untuk membuat dua anak itu mundur dari misi ini.

Namun bisakah? Meski ia sudah memperingatkan Yukiko, ia tahu persis Kudou Shinichi akan terbakar rasa ingin tahu dan nalurinya sebagai detektifnya. Mouri Ran tentu saja akan mengikuti cowok itu. Lagipula, hatinya yang baik pasti ingin menghentikan organisasi jahat yang menyebabkan banyak orang menderita tanpa gadis itu sadari.

Jadi aku termasuk ke organisasi jahat yang ingin gadis itu musnahkan? Vermouth berpikir, sarkastik. Ia mengibaskan rambutnya ke belakang, tidak repot-repot berusaha mendengarkan percakapan itu.

Sementara Gin berbicara, pria itu memperhatikan Vermouth diam-diam. Gin mencurigai bahwa Vermouth sudah tahu sejak awal bahwa Kudou Shinichi masih hidup. Akan tetapi, kata-kata Chianti terngiang di otaknya. Mana mungkin Vermouth mengenal detektif SMU yang sombong — mentang-mentang ia dielu-elukan publik?

Seharusnya Gin percaya. Orang itu saja percaya pada Vermouth, mengapa ia tidak? Bagaimanapun juga, intuisi kejahatannya bekerja. Gin yakin betul Vermouth menyembunyikan sesuatu. Walau ia tak bisa menebaknya sekarang, Gin yakin dengan penuh kepercayaan diri, sebentar lagi hal yang wanita sembunyikan itu akan terkuak. Dia orang cerdas. Dia tahu segalanya.

Gin kembali memusatkan konsentrasi ke perencanaan pembunuhan Kudou Shinichi.

Tanpa mengetahui Vermouth menyadari tatapan Gin padanya — yang sekilas, tapi tajam dan berbahaya.


"Shinichi?"

Sebuah suara teredam membangunkan Shinichi dari tidurnya yang gelisah. Shinichi langsung terbangun, waspada. Ia meraba-raba senjata tajam yang ia simpan di laci…

"Shinichi?" kata Ran. "Sudah jam 9. Kau sudah makan malam, belum?"

Cuma Ran, pikir Shinichi. Aku tidak lapar, batinnya lagi, meyakinkan diri sendiri. Ia masih malu bertemu Ran.

Namun perutnya keroncongan berbunyi.

Shinichi berdecak kesal. Sebenarnya ia lapar sekali. Pasti tidak akan bisa tidur nyenyak kalau ia tidak menigisi perut dengan apapun. Ia melompat dari kasur dan membuka pintu. Dilihatnya Ran dengan tangan hendak mengetuk dadanya, terhenti.

Sadarlah Shinichi. Ran ingin mengetuk pintu lagi tetapi pintu sudah dibuka olehnya.

"Ehm… hai," sapa Shinichi canggung. Ia merasa panas menjalar ke pipinya. Shinichi merutuk dalam hati. Mengapa dia jadi cowok memalukan begini? Katakan saja dia naksir Ran, lalu Ran menjawab ya, lalu mereka berpelukan, lalu mereka berciuman, happy end!

"Makan," Ran berkata dengan suara galak. Ada nada memerintah di dalamnya. "Aku sudah masak. Ayo makaaan!"

Shinichi ikut saja ketika si cewek karate menariknya ke dapur. Harum masakan tercium. Shinichi merasa tambah lapar.

Di meja makan, ada makanan lengkap. Asap masih mengepul, tanda makanan baru matang. Tidak ada orang disana, hanya mereka berdua. Tiba-tiba Shinichi merasa ini merupakan kesempatan yang bagus.

"Kenapa sepi?" tanya Shinichi. Ran menoleh.

"Miyano-san menginap di lab, katanya dia sedang membuat sesuatu bersama ilmuwan yang lain. Aku takut untuk sendirian di dapur, jadi…" Ran menggantunkan kata-katanya. Wajahnya memerah karena malu.

"Jadi aku disini hanya untuk pelarian?" goda Shinichi. "Kau tidak ikhlas mengajakku makan?"

"Bu… bukan begitu!" Ran cemberut. Shinichi menyeringai lebar. "A… aku 'kan tidak mau kau sakit atau apapun… makanya aku mengajakmu makan!"

"Percaya, percaya…" Shinichi mengacak-acak rambut Ran. Ran tambah cemberut. Dia 'kan bukan anak kecil, kenapa rambutnya diacak-acak seperti anak SD?

Shinichi menarik kursi dan duduk di atasnya. Ran duduk juga di hadapan Shinichi. Shinichi mengkerutkan muka dengan tampang curiga.

"Tidak ada racunnya, 'kan?" tanya Shinichi. Secepat kilat ia dilempar tissue oleh Ran.

"Kuambilkan deh, nasinya," Ran mengambilkan semangkuk nasi untuk Shinichi dan dirinya sendiri.

Shinichi merasa tolol. Mengapa dia tadi merasa malu bertemu Ran? Padahal, seperti yang dia tahu, Ran selalu mampu membuatnya nyaman. Situasinya akan mengalir begitu saja bersama cewek itu. Tidak ada kata canggung dalam hubungan mereka. Sudah berapa belas tahun mereka saling kenal? Sekarang Shinichi merasa malu pada dirinya sendiri.

"Selamat makan," Shinichi berujar datar, lalu makan lahap sekali.

Ran melihat cowok itu sambil tersenyum. Dasar, batinnya. Mengapa cowok selalu makan selahap itu?

Baru ¾ porsi dimakan Shinichi, tiba-tiba ia merasa paru-parunya disumbat. Rasanya sulit sekali bernapas. Ia juga merasa dibakar… dibakar dari dalam tubuhnya… padahal tadi ruangan ini dingin sekali….

Shinichi kenal betul sensasi ini. Ketika ia akan menyusut, atau membesar, seperti ini sakitnya. Tulangnya seakan meleleh, jantungnya mau meledak… Shinichi menggenggam sumpit sambil memegang dadanya.

"Shinichi?" samar-samar cowok itu mendengar Ran memanggil namanya dengan nada khawatir. Sungguh Shinichi ingin menjawab tetapi yang bisa keluar dari bibirnya hanyalah erangan. Ia menahan diri untuk tidak meronta-ronta. Shinichi mengangkat kepalanya, melihat ekspresi heran bercampur ketakutan Ran.

Ran menyambar tangan Shinichi. Ia berjengit ketika menyentuh tangan cowok itu. Panas, seperti habis dibakar di kompor. Cowok itu mengerang kesakitan, keringat muncul dari dahinya. Ran panik. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah makanannya beracun? Bukankah ia sudah memakannya juga sebagian? Kalau memang makanan itu berbahaya, mengapa sekarang ia baik-baik saja? Ran berdiri, menghampiri Shinichi. Kaus cowok itu sudah basah kuyup.

"Shinichi?" panggilnya lagi. Ran meraba kening cowok itu. Panas. Ia menahan tubuh Shinichi ketika si detektif ingin jatuh ke depan.

"AAAAAAAAAARRRRRGGGGHHHH!" Shinichi berteriak, keras sekali.

Ran kaget ketika tubuh Shinichi terkulai begitu saja ke lengannya.


Shinichi membuka mata.

Hal pertama yang ia rasakan adalah panas. Panas yang masih membakar. Tapi, panas itu membakar dari dalam tubuhnya, bukan dari luar. Ketika matanya terbuka sempurna, maniknya langsung berair. Setidaknya ia merasa lebih baik. Shinichi merasa ada sesuatu yang basah di kening, lengan, betis, dan telapak kakinya. Setidaknya cukup membuat dingin… tapi tidak mampu menahan semua panas sialan ini.

"Kau terbangun ya? Maaf." Sebuah suara halus menyapanya. Halus, tapi parau. Pertanda orang itu belum minum atau kurang tidur.

Shinichi menoleh. Kepalanya sakit sekali. Akan tetapi, suara itu begitu memikatnya.

"Ran?" Shinichi berkata. Ia berusaha membersihkan tenggorokannya, perih. Suaranya lebih parau dari Ran.

"Kau masih sakit?" Ran berusaha menutupi nada cemasnya, walaupun matanya tak bisa membohongi si detektif. "Yang mana yang sakit? daritadi kau mengigau terus, suhu tubuhmu tinggi sekali. Aku berusaha untuk memberimu obat… tapi nampaknya ini bukan demam biasa. Jadi aku tanya Miyano-san. Sayang proyeknya masih belum selesai, beberapa jam lagi dia akan kesini," tutur Ran. ia mengambil handuk yang ia balurkan ke beberapa bagian tubuh Shinichi sesuai saran Shiho. Ia menyelupkan kain-kain itu ke air lagi.

Shinichi menangkap tangan Ran yang hendak mengaruh handuk di keningnya.

"Bagaimana perasaanmu?" Ran bertanya.

"Ngngng…" Shinichi berusaha mendiagnosa apa saja yang ia derita. "Kepalaku seperti dihantam… tenggorokanku sakit… jantungku mau meledak… tulangku seakan meleleh…"

"Kau... akan kembali jadi Conan lagi?" tanya Ran. Shinichi menggeleng sambil tersenyum menenangkan.

"Tidak, tidak, ini sudah beberapa minggu. Shiho sudah bersani menjamin tubuhku takkan menyusut lagi," tutur Shinichi. "Dimana ini?" tanyanya.

"Di… kamarmu?" Ran menjawab dengan nada bertanya, bingung.

"Seharusnya," Shinichi berkata dengan nada yang menyeramkan. "Kalau ada seorang lelaki dan wanita dalam satu kamar… seharusnya… terjadi sesuatu, lho."

Shinichi berusaha bangkit. Ran berusaha menahannya, tapi cowok itu keras kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ran sekarang.

"Maaf…" Ran baru mengerti maksud si detektif dodol itu. "Aku tidak bermaksud mengabaikan moral atau semacamnya…"

"Permintaan maaf tidak diterima."

"Diterima saja deh, biar cepat."

"Kalau aku maunya lama, bagaimana?"

"Biar cepat bagaimana?"

"Let me think," Shinichi mengangkat jari telunjuknya. "Hm… kalau di drama yang suka kau tonton, seharusnya kau mencium aku sekarang. Penonton pasti suka adegan itu… hmmbbphh!" Shinichi tidak bisa bicara lagi karena wajahnya dijejalkan handuk basah oleh Ran.

"Puah! Kau mau aku mati, ya?" Shinichi menggerutu kesal setelah ia bebas dari handuk-handuk itu.

"Mesum!" Ran memeletkan lidahnya. "Memangnya ini drama, apa? Ini kehidupan nyata, tahu!"

Shinichi tertawa. "Mesum begini aku memiliki banyak penggemar, lho," kata cowok itu yang mendapat sambutan lemparan handuk dari Ran.

"Hm… kalau kau tidak menciumku, ceritanya jadi gak seru!" goda Shinichi lagi.

Lalu dia terdiam.

Tentu saja. Ran mengunci bibirnya, pelan. Tadinya niat cewek itu hanya akan mencium cowok itu sebentar, tetapi Shinichi keburu menarik pinggangnya dan menyambut ciuman itu. Sebenarnya agak antusias karena Shinichi frustasi juga tidak bisa menyalurkan perasaannya pada Ran… untuk beberapa bulan. Beberapa bulan yang benar-benar menyadarkannya kalau ia memang mencintai Ran.

Ran kaget melihat reaksi Shinichi, walau senang juga. Darah mengalir deras ke pipinya. Ia hanya diam mengikuti gerakan cowok itu, sementara Shinichi memeluk dan menciumnya lagi. Panas dari lengan Shinichi yang memeluknya memancar. Panas yang tiba-tiba malah membuat Ran merasa nyaman.

Ketika mereka berpisah, Shinichi menempelkan keningnya ke kening Ran. Sekarang Ran benar-benar merasakan panas tubuh cowok itu.

"Shinichi… tubuhmu panas sekali…" Ran benar-benar khawatir. Bagaimana kalau Shinichi kolaps?

Bahkan Shinichi bisa mendengar desah napas Ran. ia juga merasakan embusan napasnya yang panas.

"Dengar," kata Shinichi —sebenarnya tidak perlu. Ran sudah memusatkan seluruh perhatiannya pada Shinichi— "Aku mencintaimu, lebih dari siapapun di dunia ini. Oke?"

Wajah Ran memerah. "Klise," balasnya.

"Aku serius," Shinichi mulai merasakan kepalanya sakit lagi. Dia mengeluarkan semua kata-kata-kotor-tak-berpendidikan dalam hatinya. Mengapa ia tidak bisa romantis sekali saja? "Ran… aku cinta padamu… aku…"

Ran tak bisa mendengar kata-kata lanjutan Shinichi. Cowok itu terjatuh ke bahunya, pingsan lagi.

"Bodoh," Ran mengetuk kening Shinichi, membaringkannya ke ranjang.


Miyano Shiho betul-betul datang 3 jam kemudian. Ran sudah tertidur di tepi ranjang Shinichi (dia mengambil kursi dari dapur). Ia terbangun mendengar Shiho masuk ke kamar Shinichi.

"Miyano-san," ia langsung berdiri. Shiho mengangkat alis.

"Ada apa dengan si sialan ini?" tanyanya sinis.

Ran tersenyum letih. "Suhu tubuhnya tinggi sekali. Ia bilang kepala dan tenggorokannya sakit… dan…" Ran ragu mengucapkannya. Mana ada tulang meleleh? Jantung meledak?

"Apakah ia bilang dadanya seakan mau meledak?" cecar Shiho. "Tulang meleleh? Atau semacamnya?"

Ran terperangah. "Ya, Shinichi bilang begitu. Kenapa…"

Sebelum Ran menyelesaikan kata-katanya, Shiho sudah bergerak. Ia memeriksa bola mata Shinichi, denyut nadi, tekanan darah, gula darah, dan semacamnya. Ran bingung bagaimana Shiho bisa membawa peralatan medis sebanyak itu di tas yang tidak terlalu besar. Aku harus membiasakan hal-hal aneh di sekitarku sekarang, batin Ran.

"Miyano-san?" panggil Ran ketika si ilmuwan tidak bergerak.

Wajah Shiho penuh horror. Ran merasa ada berita buruk.

"Sepertinya… Ran-san, racun APTX 4869 masih bersisa pada tubuhnya. Ini tidak akan mengecilkan tubuhnya, tapi dalam jangka waktu tertentu —aku tidak tahu tepatnya— ia akan mengalami gejala ini…"

"Lalu?" Ran berkata tidak sabar.

"Ini akan sulit. Soal misinya… hal yang ia akan lakukan sudah cukup berbahaya… juga…"

Ran menelan Shiho benar-benar buruk. Cewek berambut pendek itu menatapnya tajam.

"Kalau begini terus, dia bisa mati."


Hoho, akhirnya saya nge-post juga ya.

Baca review-reviewnya jadi gak enak sama pembaca, sama yang nunggu fic sialan ini. Makin lama makin sarkastik gitu. Sorry, lho. Gak bermaksud mengecewakan penggemar… okeh, gw mulai ngaco.

BTW, selama nulis chapter ini, gw gak dapet feel humor sama sekali. Kenapa yah? Mungkin karena suasana hati lagi kurang bagus? Kok pas gw baca ulang fic ini… kayak novel abad 18? Bedanya bahasa gw lebih modern aja.

Gak tau deh. Yang jelas, kritik saran bisa disampaikan dengan review, atau ke Facebook : Firliani Sarah, atau ke Twitter : edogawafirli. Flame juga no prob sih, palingan gak gw jawab.

Eh iya, kalo kalian punya account twitter dan betul-betul suka Conan, follow aja AboutConan. Buka juga blognya, link-nya ada di akun twitter itu. Like juga ya, fanpage nya di Facebook, All About Detective Conan.

I hope we'd meet again under the moonlight…

Cheers!