Minna-sama! Rei-chan datang lagi untuk meng-update fic ini!
Makasih banyak buat yang udah review chapter lalu... Rei-chan bener-bener gak nyangka kalo review nya bisa nyape di atas 5! Sesuai permintaan, chapter ini sedikit dipanjangin, jadi gomen kalo updatenya agak lama... saya sibuk sih...

Oiya. Lupa. DON'T LIKE? DON'T READ! artinya, kalo ngerasa nggak suka sama fic ini, tinggalin aja. Tapi kalo yang penasaran, Happy Reading, ya!

.


.

Naruto Masashi Kishimoto
Fairly Odd Parents punyanya Nickelodeon

Rated: K+

Genre: Fantasy/Family

Warning: Kayaknya OOC, nggak pake plot, mungkin ada typo(s), aneh, abal, ide pasaran, bahasa tidak baku, authornya newbie, alur yang kayaknya berantakan, EYD banyak yang salah, dan yang lainnya.

Summary: Naruto panik! Ada tugas yang belom dibikin! Tapi ternyata... "Yang... itu lho, bikin tongkat yang bisa terbang!"

.


.

Chapter sebelumnya...

"Heeh! Kucing siapa tuh?" tanya Sakura penasaran dengan nada rada sengaknya, kemudian mengambil paksa si kucing hitam yang ada di gendongan Naruto.

"Eh? Jangan! Kembalikan!" Naruto membentak Sakura untuk mengembalikan kucing hitamnya. Karena dia tau, kalo diminta baik-baik, nggak bakalan bener.

"Kucing ini, gue ambil! Nggak boleh ada kucing waktu gue lagi ngejagain elo!" bentak Sakura balik. Dia pun mengangkat kucing itu tinggi-tinggi. Mau liat jenis kelaminnya(?) kayaknya... Dan kemudian...

"KYAAAAAA!" Sakura menjerit keras, apa yang terjadi?

.


.

Tiba-tiba, sang kucing hitam melompat ke arah wajah Sakura. Tepat di wajahnya. Dan kemudian...

Meaaawww! Sring! Cring! Prang! Duk! Bletak!

"KYAAAAAAAAA!" Sakura menjerit keras. Ternyata, kucing hitam itu mencakar Sakura tepat di wajahnya. Hmm... kucing cerdik(?).

'Rencana sukses!' kata si kucing hitam alias Sasuke di dalam hati, tapi kapan dia merencanakannya? Ternyata saat diangkat ke atas oleh Sakura. Fakta kecil, Sasuke punya kecepatan tinggi(?) dalam merencanakan sesuatu.

"Saakiiiit..." Sakura meringis kesakitan sambil menutupi wajahnya yang sedikit berdarah akibat cakaran Sasuke tadi. Whoa! Kuat juga si Sasu-Kucing ini! Dia pun berlari ke lantai satu, mencari obat yang bisa menolongnya. Naruto hanya diam membatu, melihat Sakura sang babysitter kesakitan, akhirnya dia hanya bisa menunduk. Menunduk dalam seperti menyesal akan sesuatu.

Criiiing!

Kucing hitam itu mengangkat kipas ajaibnya dan kucing hitam itu menjadi Sasuke berbentuk peri lagi! Yeey!

"Keren," gumam Naruto entah pada siapa, mungkin pada lantai yang menjadi objek penglihatannya. Ckckck... Naruto kenapa, nih?

"Yaa, begitulaah," kata Sasuke narsis. Sekali lagi. NARSIS! Dan sejak kapan Sasuke jadi narsis gini? Ini menjadi misteri...

"Siapaa lagi yang bilang keren ke kamu, aku kan bilang keren ke kipasmu itu!" kata Naruto sambil menunjuk kipas yang dibawa Sasuke. Dan hal itu, sukses membuat Sasuke sweatdrop. "Oh iya, Sasuke, kamu bilang kalo aku bisa minta apa aja tanpa batas kan?" tanya Naruto pelan.

"Ya," jawab Sasuke singkat. Super singkat. Cuma dua huruf yaitu 'y' dan 'a' alias 'ya'.

"Kalo gitu, aku pengen... ng... pengen... mie ramen!" pinta Naruto. Menguji kekuatan tongkat(kipas) sihir sang Ayah Peri. Sasuke mengangkat kipasnya lagi...

Criiing!

.


.

My Parents is Fairy
Created by: Devilish Angel

-Chapter 2(Tongkat Terbang?)-

.


.

Dalam sekejap, mie ramen yang dipinta Naruto sudah ada di depan mata.

"KEREEEEN!" kata Naruto dengan wajahnya yang terbilang lucu itu! Berhasil membuat wajah Sasuke keheranan. Naruto pun segera melahap mie ramen nya itu.

Beberapa menit kemudian...

"Fuah! Kenyaang!" Naruto mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit setelah semangkuk mie ramen masuk ke perut nya.

"Sasuke..." panggil Naruto.

"Ng?" jawab Sasuke singkat. Lagi?

"Aku pengen besok datang sekarang!" pinta Naruto.

Dan... criiing!

.


.

Naruto melihat kalender di-handphone-nya, menunjukkan hari Senin, 30 Agustus 2010.

"Aku pengen udah rapi dengan seragam lengkap! Sudah siap ke sekolah!" pinta Naruto lagi.

Criiing!

Permintaan Naruto dengan sekejap dilakukan oleh(kipasnya) Sasuke.

"Apa lagi?" tanya Sasuke kepada Naruto. Kayaknya... Sasuke udah mulai kesel, nih!

"Ng..." Naruto berfikir, "Aku pengen sekarang udah ada di sekolah!" Naruto meminta lagi. Ni anak banyak mintanya, deh!

Criiiing!

Dalam sekejap, Naruto sudah ada di gerbang sekolah dengan Sasuke di sampingnya.

"Apa la—mmph!" Naruto mendekap Sasuke dan menutup mulut Sasuke dengan tangan kirinya. Membuat Sasuke diam dengan wajah yang agak memerah. Gak bisa nafas. Membuat orang-orang yang lewat melemparkan pandangan yang beragam, ada yang bingung, heran, ngeri bahkan ada yang jingkrak-jingkrak kegirangan! Yang bingung dan heran, tentu saja mereka kebingungan dan keheranan. Naruto ini meluk apaan, sih? Oiya. Orangtua peri seperti Sasuke, tidak bisa dilihat sembarangan orang. Para peri, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang 'diikuti' peri. Contohnya seperti Naruto. Jadi, jelas saja kalau yang melihat Naruto saat ini, sangat kebingungan! Dan yang jingkrak-jingkrak kegirangan, kau taulah siapa saja yang seperti itu saat melihat Naruto kelihatan memeluk sesuatu, kemudian membayangkan hal yang 'iya-iya'. Ya kan?

"Kalo kamu ketauan Kakashi-sensei bisa gawat. Dia punya penyakit... apalah itu aku tak peduli yang jelas penyakitnya itu aneh," bisik Naruto tepat di telinga kanan kepada Sasuke.

"Gimana kalo kamu kamu jadi sesuatu yang tidak mencolok di sekolah. Seperti...mungkin penghapus?" Naruto menyarankan. Tiba-tiba...

Criiiing!

Sasuke berubah menjadi sebuah penghapus berwarna biru berbentuk kucing yang sedang duduk dengan mata hitam.

"Nah! Gitu dong!" kata Naruto sambil melihat ke tangan kanannya tempat Sasuke berbentuk penghapus berada. Naruto pun memasukan Sasuke ke dalam saku bajunya lalu berjalan masuk ke sekolah. Atau lebih tepatnya ke dalam kelas. Tidak mempedulikan reaksi orang-orang yang melihat Naruto tadi.

.


.

"Naruto! Udah ngerjain tugas dari Kakashi-sensei belum?" tanya Kiba Inuzuka. Anak keluarga Inuzuka yang punya tattoo segitiga merah terbalik. Dan... yah... dialah sahabat Naruto. Mereka juga sekelas. Sama-sama kelas 7-F.

"Eh? Yang mana?" Naruto agak panik lalu balik bertanya.

"Yang... itu lho, bikin tongkat yang bisa terbang!" kata Kiba sambil memegang penggaris dan memperagakannya seperti tongkat terbang. Heh? Bikin tongkat terbang? Yang benar saja! Mana ada tongkat terbang di dunia ini? Ya kecuali di dongeng—fiksi—fantasi... ini juga fiksi, tapi karena disini mengambil setting kehidupan nyata, jadinya gak ada!

"Ah! Ngg..." Naruto bingung dan takut. Bingung bagaimana caranya bikin tongkat yang bisa tebang dan... dia juga takut saat membayangkan hukuman Kakashi-sensei yang dikenal tidak masuk akalnya. Seperti Ino, teman sekelasnya yang pernah dihukum karena tidak membawa tugas yang... ajib bener! Gak masuk akal! Tugasnya ialah untuk membawa kucing yang warna rambutnya merah ke sekolah. Karena... mana ada kucing yang punya rambut warna merah? Maka dari itu, sebagai hukuman, Ino pun disuruh membawa kucing berambut biru ke sekolah oleh Kakashi-sensei. Sekali lagi. Mana ada kucing yang punya rambut berwarna biru? Untuk mengakalinya, Ino pun mengecat rambut seekor kucing dengan seekor rambut. Benar-benar kejam. Oke! Balik ke fanfic!

Naruto berfikir, bagaimana caranya membuat tongkat terbang? Akhirnya dia ingat Sasuke, dia bisa meminta Sasuke memberinya tongkat terbang. Dia memasukan tangan kanannya ke dalam tas, seperti akan mengambil sesuatu.

"Aku harap, aku punya tongkat terbang!" gumam Naruto pelan sepelan-pelannya. Berusaha agar tidak terdengar siapa-siapa.

Criiing!

"He? Suara kaca pecah! Dimana?" Kiba panik, dia melihat ke sekelilingnya, namun tidak melihat benda apapun yang pecah di sekitarnya, "Aneh." gumam Kiba, lalu melihat Naruto yang sibuk dengan tasnya.

Naruto merasakan sesuatu di tangan kananya, benda yang panjang seperti penggaris namun bentuknya seperti tabung.

"Ini dia!" kata Naruto bersemangat sambil mengeluarkan benda tersebut, ternyata benda itu adalah tongkat terbangnya.

"Hmm, kamu yakin, itu tongkat bisa terbang?" tanya Kiba tidak yakin kalau tongkat itu bisa terbang.

"Err... ng... ng..." Naruto tergagap akhirnya dia pun mengangkat tangannya lalu melepaskan tongkat itu. Ternyata tongkat itu tidak jatuh alias bisa terbang!

"Hah?" Kiba cengok, melihat tongkat itu bisa terbang.

"Tuh, kan! Bisa terbang!" teriak Naruto sambil menunjuk tongkat yang sedang terbang di depannya itu. Saat itu juga, Naruto dan tongkatnya menjadi pusat perhatian warga kelas tersebut.

"Ehem!" tiba-tiba terdengar suara seseorang dari depan kelas. Ternyata, tanpa diketahui warga kelas, seorang lelaki tinggi berambut silver dan memakai masker sudah ada di depan kelas, dialah Kakashi-sensei, wali kelas tersebut. Dia dikenal sebagai guru yang selalu terlambat masuk kelas. Siswa-siswi di kelas itu melihat ke depan kelas, tempat Kakashi-sensei berada. Begitu melihat Kakashi-sensei, mereka panik lalu duduk ke tempat masing-masing dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya(?).

"Oke, kumpulkan tugas kalian!" perintah Kakashi-sensei kepada murid-muridnya. Mereka panik lagi, karena tidak membuat tugasnya, yaitu membuat tongkat terbang! Kenapa? Karena tugasnya yang sangat aneh! Huh! Tongkat terbang? Yang benar saja! Mana ada tongkat yang bisa terbang di dunia ini? Naruto ke depan kelas untuk mengumpulkan tugasnya. Tidak lupa membawa tongkat terbangnya.

"Ini, sensei!" kata Naruto sambil menyimpan tongkat tersebut ke meja guru.

"Hm? Kau yakin tongkat ini bisa terbang?" tanya Kakashi-sensei sambil menunjuk tongkat tersebut. Naruto hanya mengangguk pertanda iya, "Buktikan," perintah Kakashi-sensei. Naruto pun mengambil tongkatnya dan melemparkan tongkat itu keatas. Tongkat itu terbukti tidak kembali ke tangan Naruto alias tidak jatuh. Hal itu membuat Kakashi-sensei heran, "Hebat! Kau sudah mengumpulkan tugasmu. Yang lain kemana?" tanya Kakashi-sensei kepada muridnya yang lain, namun tidak ada reaksi apapun dari muridnya kecuali panik, panik, dan panik.

"Tidak ada? Yasudah," kata Kakashi-sensei. Dia pun menuliskan sesuatu di papan tulis entah menulis apa, akhirnya Naruto kembali ke tempat duduknya. "Kerjakan halaman 57 bagian 3." Perintah Kakashi-sensei.

.


.

Jam istirahat pun akhirnya tiba... murid-murid SMP Negeri 1 Konoha(sekolahnya Naruto, Kiba, dan kawan-kawan) buru-buru pergi ke kantin. Mengingat waktu istirahat yang diberikan, cukup singkat. Hanya 20 menit.

"Hey! Naruto!" sapa Kiba kepada Naruto saat bertemu di lorong menuju kantin.

"Eh? Ada apa Kiba?" tanya Naruto.

"Naruto, kasih tau aku dong! Caranya bikin tongkat terbang!" kata Kiba dengan mata yang berbinar-binar. Oh, puppy eyes no jutsu.

"Ng... umm... err... aku ke WC dulu ya!" Naruto tergagap lalu berlari menuju WC murid yang terletak di pinggir kanan kantin.

'Hmm, Naruto kenapa ya?' tanya Kiba di dalam hati. Tidak mau ambil pusing, akhirnya Kiba pergi menuju kantin karena perutnya sudah merengek-rengek meminta nafkah dari sang pemilik(?).

.


.

"Hahh, hahh, hahh..." terdengar suara nafas Naruto yang kelelahan.

'Apa yang harus aku lakukan... kalau Kiba tau aku punya orang tua peri, apa yang akan dia katakan?' kata Naruto di dalam hati. Dia tidak mau menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya. Tapi perihal orang tua peri ini harus dirahasiakan dari siapapun. Dia juga tidak mau dianggap gila karena... yah... orang-orang tidak mempercayai orang tua peri. Tiba-tiba...

"Naruto?" tanya seseorang. Naruto melihat kesekelilingnya, namun tidak ada tanda-tanda ada orang lain di WC itu, "Hoy! NARUTOO!" suara yang sama memanggilnya lagi, membuat Naruto sedikit merinding, hingga akhirnya dia ingat pada Sasuke yang masih ada di saku bajunya, akhirnya Naruto mengeluarkan Sasuke dari sakunya dan menyimpan Sasuke di tangan kirinya.

Criiing!

Sasuke kembali ke bentuk perinya, mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan, "Hoy! Di dalem pengap tau!" teriak Sasuke OOC. Membuat Naruto sweatdrop.

"Sasuke?" tanya Naruto, "Hn? Apa?" tanya Sasuke balik, "Err, tadi Kiba nanyain, gimana caranya aku bikin tongkat terbang," kata Naruto, "Uh-um, terus?" tanya Sasuke lagi, "Ya, aku harus jawab apa? Masa aku bilang 'aku dapet itu tongkat dari orang tua peri', nggak kan? Jadi aku harus jawab apa? Kiba itu sahabatku sejak kecil, aku gak bisa nyimpen rahasia sama dia..." jelas Naruto. Sasuke nampak berfikir sejenak, dia mendekati telinga kiri Naruto lalu mengatakan sesuatu.

.


.

"Ngerti?" tanya Sasuke. " Iya, aku ngerti," jawab Naruto, "Yaudah, ke kantin sana, perutmu udah mulai keroncongan tuh!" kata Sasuke sambil menunjuk ke perut Naruto yang sejak tadi berbunyi, membuat Naruto nyengir watados.

Di luar WC tempat Naruto berada, tanpa mereka sadari, seseorang tengah menguping pembicaraan Naruto dan Sasuke.

"Naruto... siapa sebenarnya dia?" gumam orang yang menguping tersebut, siapakah orang itu? Jawabannya ada di chapter depan.

.


.

To Be Continue

.


.

Hufhh, capek... akhirnya Rei-chan update fic ini, ehem, waktunya balas Review anonim!

Orange Naru = Iya, inspirasinya emang dari situ, waktu Imotoku nonton Fairy Odd Parents sambil baca komik Naruto! Jadilah seperti ini... Horee! Makasih... ada, ini lanjutannya... Makasih Reviewnya...

Miku = Horee! Ada yang bilang lucu! Ini, Rei-chan update! Makasih Reviewnya!

Hyuzura Namikaze Hyuuga = Yaa, begitulah... tadinya mau bikin Sakura jadi pengasuh yang baik, tapi jadinya begini... Iya, jadi bapa peri! Makasih! Oke! Ini Rei-chan lanjutin... Makasih Reviewnya!

Fiuh... makasih Reviewnya, Rei-chan bener-bener seneng! Ada Review di fanfic gajeku ini! Jadi terharu...

Juga, Rei-chan ucapkan MAKASIH BANYAK buat yang mau review. Tanpa kalian, gak akan ada chapter 2 kayak gini... jadi... ada yang penasaran sama chapter 3? Kalo ada... review, dong! Kasi tau aku apa yang kalian pikirkan tentang fic ini lewat REVIEW!
Intinya sih... Cuma minta review aja... :D

With Cute Smirks, I'm Devilish Angel. December 3rd, 2011