Loha! Minna-sama!
Rei-chan balik lagi buat update fic dengan penname baru... Rei Chan de Little Devil. Lalu diganti lagi jadi Rima de Lonely Queen, terus... Choco N Latte, dan akhirnya... yang sekarang ini, Devangel Heavaell! XD
Err... maaf, updatenya lama banget, nih! Rei-chan beneran sibuk banget! Nasib nih, jadi kakak kelas tertinggi(?) yang mau UN... oleh karena itu, chapter ini... sedikit dipanjangin dari chap-chap sebelumnya.

Oiya. Lupa. DON'T LIKE? DON'T READ! artinya, kalo ngerasa nggak suka sama fic ini, tinggalin aja. Tapi kalo yang penasaran, Happy Reading, ya!

.


.

Naruto Masashi Kishimoto
Fairly Odd Parents punyanya Nickelodeon

Rated: K+

Genre: Fantasy/Family

Warning: Kayaknya OOC, nggak pake plot, mungkin ada typo(s), aneh, abal, ide pasaran, bahasa tidak baku, authornya newbie, alur yang kayaknya berantakan, EYD banyak yang salah, dan yang lainnya.

Summary: "Nah! Jadi... bahan-bahan tongkat terbang itu apa, Naruto?" Duh gimana nih? Nggak masuk akal banget kan kalo tongkat terbang dibikinnya dari bahan-bahan 'itu'?

.


.

Chapter Sebelumnya...

"Ngerti?" tanya Sasuke. " Iya, aku ngerti," jawab Naruto, "Yaudah, ke kantin sana, perutmu udah mulai keroncongan tuh!" kata Sasuke sambil menunjuk ke perut Naruto yang sejak tadi berbunyi, membuat Naruto agak malu.

Di luar WC tempat Naruto berada, tanpa mereka sadari, seseorang tengah menguping pembicaraan Naruto dan Sasuke.

"Naruto... siapa sebenarnya dia?" gumam orang yang menguping tersebut, siapakah orang itu?

.


.

My Parents is Fairy
Created by: Devilish Angel

-Chapter 3(Rahasia Tongkat Terbang)-

.


.

Seorang siswa laki-laki berambut seperti... umm... apa yah... nanas, mungkin? Wajahnya seperti orang ngantuk yang lagi kesel(?), pasti taulah siapa. Dialah Shikamaru. Kini, dia sedang berjalan cepet, buru-buru ceritanya, ke WC murid cowok.

'Ck! Ngerepotin aja! Nyebelin tau nggak? Ini semua gara-gara kau!' sepertinya Shikamaru menumpahkan kekesalannya dalam hati sambil jalan agak pincang gak jelas, namun anehnya, orang-orang yang melihat Shikamaru berjalan seperti itu, bukannya ngeliatin Shikamaru dengan pikiran 'ni orang kenapa, sih?' malah saling melempar senyuman ala Fujodanshi dengan smirk-smirk-nya! Aneh banget, deh...

Shikamaru melangkah masuk menuju zona khusus siswa putra dan... "Ngerti?" Shikamaru mendengar suara seseorang dari salah satu bilik disitu. Serem banget! Karena merasa itu cuma perasaannya aja, Shikamaru jalan lagi!

"Iya, aku ngerti," terdengar suara lagi! Dan dari tempat yang sama! Bilik yang sama! Tapi... suara yang barusan berbeda dari yang sebelumnya! Kalau suara yang pertama itu agak 'berat' yang barusan malah suaranya khas banget sama anak SMP. Juga sepertinya suara yang tadi itu mungkin Shikamaru kenal. Seperti suara si bocah kuning biang keributan(?), Naruto. Karena rasa penasarannya yang sudah kelewat tinggi, Shikamaru pun memutuskan untuk menguping sejenak. Mengambil informasi secara illegal(?). Dia berjalan pelan menuju pintu bilik lalu menempelkan kuping kanannya ke pintu itu.

Shikamaru terus menguping. Terus dan teeruuuus... "Naruto... siapa sebenarnya dia?" gumam Shikamaru pelan. Masih menguping. Hati-hati ya, Shika! Nguping di pintu itu bahaya!

BRAAAAK!

Pintu bilik akhirnya dibuka, memperlihatkan sesosok pemuda berambut kuning, dialah Naruto! Naruto pun segera pergi keluar dari kamar mandi putra dan bergegas ke kantin. Tanpa disadarinya, seseorang yang menguping Naruto kini sudah tidak berbentuk lagi di balik pintu. Nah! Itulah bahayanya nguping dari pintu! Jadi, hati-hati, yah!

.


.

'Haahhh... ide yang aneh! Masa tongkat terbang dibikin dari 'itu'? Gak masuk akal! Cuma orang bodoh yang percaya benda-benda yang begitu adalah bahan-bahan tongkat terbang! Kenapa dia bisa berpikir sampai ke situ, sih! Yakin deh, Kiba gak bakalan percaya sama yang begini... eh? Tapi... kok aku percaya-percaya aja, yah?' kata Naruto di dalam hati sambil berlari menuju surganya murid-murid yang lapar: kantin.

Mau tau apa aja yang dibilangin Sasuke ke Naruto? Oke, ini dia percakapan Naruto dan Sasuke waktu di WC...

.


.

Flashback

"Sasuke?" tanya Naruto.

"Hn? Apa?" tanya Sasuke balik.

"Err, tadi Kiba nanyain, gimana caranya aku bikin tongkat terbang," kata Naruto.

"Uh-um, terus?" tanya Sasuke lagi.

"Ya, aku harus jawab apa? Masa aku bilang 'aku dapet itu tongkat dari orang tua peri', nggak kan? Jadi aku harus jawab apa? Kiba itu sahabatku sejak kecil, aku gak bisa nyimpen rahasia sama dia..." jelas Naruto.

Sasuke nampak berfikir sejenak, dia mendekati telinga kiri Naruto lalu mengatakan sesuatu.

"Oke, kamu bilang aja ke temenmu itu, si Kiba, kalo tongkat terbang kamu bikin dari campuran telur, terigu, margarin dan coklat, dibentuk jadi kayak bentuk tongkat, nah! Bahan-bahan itu kamu masukin ke oven, tunggu sekitar... umm... sekitar lima menitan lah! Terus... ambil dari oven, dan jadi! Gitu aja." jelas Sasuke sambil berbisik, membuatnya seperti ibu-ibu yang lagi ngegosip. Dan hal itu membuat Naruto menampilkan ekspresi yang... ngg... gimana-gimanaaaa gitu. Mungkin bisa dibilang aneh.

"Ngerti?" tanya Sasuke, bingung akan ekspresi Naruto yang... gimana-gimana tadi.

"Iya, aku ngerti," jawab Naruto spontan. Kayaknya Naruto agak cengok deh sama penjelasan Sasuke tadi. Iya nggak?

"Yaudah, ke kantin sana, perutmu udah mulai keroncongan tuh!" kata Sasuke sambil menunjuk ke perut Naruto yang sejak tadi berbunyi, ya iyalah! Laper gituloh!

"Eh, Sasuke! Gimana kalo kamu berubah jadi sesuatu yang nggak mencolok seperti—"

"Stop! Aku nggak mau jadi penghapus dan dimasukkin saku! Pengap, tau!"

"Lantas jadi apa? Hayo..."

"Humm..." Sasuke tampak berfikir, "aku mau jadi pin saja," kata Sasuke tidak lama kemudian.

"Boleh!" kata Naruto sambil menganggukkan kepalanya.

CRIIIING!

Sasuke pun berubah menjadi pin biru bergambar kucing biru langka yang amat sangaat lucu aah! Imut-imut kawaii! Unyu-unyu gimanaa gitu. Kucing berbulu biru tua dan bermata hitam, sungguh kucing yang sangat langka karena mana ada kucing yang bulunya warna biru tua? Kalo emang ada, yakin deh kucingnya udah punah(?).

Merasa tidak tahan menahan lapar yang sejak tadi ditahannya, Naruto membuka pintu WC dengan semangat orang lapar(?).

BRAAAAK!

Saking semangatnya, bahkan Naruto tidak sadar bahwa pintu kayu yang tadi dibukanya dengan penuh semangat, membuat seseorang yang sedari tadi mengupingnya kini tepar tak berdaya.

End of Flashback

.


.

Sesampainya Naruto di kantin, "Hoy! Naruto!" terdengar suara Kiba dari kejauhan, dia terlihat sedang berlari kearah Naruto yang hendak duduk di sebuah kursi.

Merasa namanya dipanggil, Naruto menoleh, dan...

"HUWAAAAAAAAA!" jerit Naruto, dari raut wajahnya, jelas banget kalo sekarang dia kaget banget gara-gara Kiba yang tiba-tiba udah ada di belakangnya!

"Hahahahaa! Kaget ya, Naruto?" kata Kiba dengan senyum jailnya.

"Kamu juga sih! Pake acara ngagetin segala, Kiba..." Naruto mengelus dadanya, mencoba untuk menenangkan diri dari kekagetannya tadi.

"Nah! Jadi... bahan-bahan tongkat terbang itu apa, Naruto?" tanya Kiba penuh harap ditambah mata berkaca-kaca sambil mengeluarkan pulpen yang ada di dalam saku bajunya.

Naruto tampak berfikir, apakah Kiba akan mempercayainya atau tidak... ya iyalah! Nggak masuk akal banget kan kalo tongkat terbang dibikinnya dari bahan-bahan 'itu' yang dibilangin Sasuke? Karena gak punya ide lain, Naruto pun pasrah untuk memakai ide dari Sasuke. Moga aja Kiba percaya, lah...

"Ehem... jadi gini... bahan-bahan tongkat terbang adalah telur, margarin, terigu dan coklat. Nah! Bahan-bahan itu kamu campur semua... terus, kamu bentuk kayak tongkat, kalo udah... masukin ke oven, tunggu lima menit, jadi!" jelas Naruto cepat.

Kiba sibuk mencatat bahan-bahan dan cara membuat tongkat terbang yang disebutkan Naruto tadi. Tapi, nggak nyatet di kertas... dia nyatet di tangan. Dasar...

"Eh! Naruto, suhunya berapa derajat?" tanya Kiba karena merasa ada yang kurang sambil memperhatikan 'catatan'nya.

"Umm... suhunya... suhunya... berapa, ya... umm... dua ratus derajat celcius!" jawab Naruto dengan semangat sambil mengacungkan dua jari tangan kanannya.

"Uh-um... thanks ya, Naruto!" ujar Kiba sambil memasukkan pulpen nya ke dalam saku baju.

Kiba pun pergi dengan riang menuju kelas sambil jingkrak-jingkrak kesenangan, hingga orang-orang , yang melihatnya, saling melempar pandangan bingung yang aneh seakan-akan melihat orang gila yang baru saja mau masuk rumah sakit jiwa.

Setelah dirasanya Kiba sudah jauh, Naruto pun hendak duduk di kursi dan mau mesan mie ramen kesukaannya. Tapi...

Teeeeet! Teeeeeeet!

Bel masuk sudah berbunyi, pemirsa! Ooh... betapa malangnya Naruto... di jam istirahat ini, dia tidak makan! Jangankan makan, duduk di kantin aja gak sempet? Akhirnya, dengan menyimpan dendam yang sangat pada bel sialan yang menggangunya, Naruto pun berjalan dengan lemas ke kelasnya.

.


.

Di kelas Naruto, semua siswa melihat kedepan, memperhatikan sesuatu. Tapi... mereka memperhatikan apa? Apakah... mereka memperhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran sejarah? Hmm... Author rasa itu tidak mungkin terjadi. Pelajaran sejarah adalah pelajaran paaaling membosankan dan paaaling bikin ngantuk bagi Naruto, kawan-kawannya, juga Author(?). Ataukah... mereka memperhatikan jam dinding besar di depan kelas yang satu menit lagi menunjukkan pukul tiga sore? Sepertinya kemungkinan kedua merupakan jawabannya. Semua murid, tak terkecuali, melihat ke arah jam dinding besar berwarna biru yang berada tepat di atas papan tulis. Yang selama sekitar... tiga detik lagi, menunjukkan pukul tiga sore. Waktu pulang sekolah.

Tiga...

Dua...

Dan... Satu!

Teeeeeeeeeeeeeeet!

Semua nampak menghembuskan nafas lega, kecuali sang guru tentunya. Mereka pun segera berlari ke arah pintu keluar kelas yang terbuka dengan lebar, seakan pintu kebebasan yang kini terbuka lebar setelah sekian lama menutup(?).

"Yap! Sekian pelajaran hari ini, sampai jumpa besok dan jangan lupa kerjakan tugas ka—" kata-kata guru itu terputus setelah melihat kenyataan bahwa... murid-murid yang sejak tadi diajarinya sudah mengilang entah kemana—yang pastinya pulang kerumah masing-masing—.

"Haah... sudahlah..." guru itu pun pergi keluar. Oiya, lupa... guru itu berambut hitam panjang bergelombang dengan bola mata berwarna merah. Dialah Kurenai!

Sementara itu di tempat Naruto berada... di gerbang sekolah...

"Sasuke... aku harap, aku ada di rumahku sekarang!" kata Naruto sambil menatap Sasuke. Sepertinya Naruto lupa akan bahaya yang setiap saat ada di rumahnya, dia lupa bahwa si 'Dangerous Baby Sitter' sudah menunggunya di rumah Naruto.

Tiba-tiba Sasuke berubah menjadi 'Sasuke' yang berbentuk peri, daan...

CRIIIING!

Sasuke mengabulkannya. Tibalah Naruto di pintu depan rumahnya.

"Aku pulaaaang!" seru Naruto setelah masuk ke dalam rumahnya. Dia lalu melepas sepatunya, Ia hendak berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Tapi...

"Lama sekali kau datang, bocah!" terdengar suara seorang perempuan. Ya! Dialah Sakura, si 'Dangerous Baby Sitter'. Kali ini Sakura memakai kaos pendek warna merah dengan tulisan "WE ARE KILLER", lengkap dengan celana jins biru pendeknya. Ternyata Sakura sudah menunggu Naruto cukup lama, terlihat dari wajahnya yang tampak 'sedikit' kusut, juga dengan beberapa bekas luka di wajahnya, bekas cakaran Sasuke waktu itu—cakaran SasuKucing(?) yang ada di chapter dua.

Naruto melihat kearah asal suara itu, dan yang dilihatnya adalah... Sakura. Duduk di sebuah kursi yang entah darimana dia dapatkan. 'Senyuman'. Kapak besar. Dan... bekas luka di wajah Sakura. Eh? Bekas luka?

'O-oww... gawat... aku bakal disiksa lagi nih!' batin Naruto, dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa Naruto ketakutan. Sakura yang melihat hal itu, makin menampakkan 'senyuman' khas nya.

"Naruto... bersiaplah kau mendapatkan... kasih sayangku..." Sakura pun mendekati Naruto, tak lupa dia membawa kapak kesayangannya. Naruto makin ketakutan, dia berharap dia pergi jauh dari sini.

"AKU HARAP AKU PERGI JAUH DARI SINI!" teriak Naruto yang merasa hidupnya tinggalah sebentar lagi.

CRIIIING!

Beruntung sekali, Sasuke mengabulkan harapan Naruto.

"Eh? Kemana lagi anak itu..." gumam Sakura yang bingung karena tiba-tiba, Naruto menghilang begitu saja. Yang tersisa kini hanyalah asap ungu yang super tipis dan super samar yang bahkan tak bisa dilihat tanpa mikroskop(?).

.


.

Tibalah Naruto di sebuah tempat nan jauh dari rumahnya. Entah tempat apa ini. Sangat asing bagi Naruto. Naruto melihat ke sekelilingnya, raut wajahnya menunjukkan ketakutan dan keterkejutan yang amat luar biasa. Apa yang dilihat Naruto? Tunggu chapter depan...

.


.

To Be Continue

.


.

Fiuuh... akhirnya selesai juga...
Mau tau apa yang terjadi sebelum Shikamaru ke WC murid? Yang si Shika jalan buru-buru itulho... ini dia cuplikan(?)nya...

.


.

"Shikamaru..." panggil Asuma-sensei, guru pelajaran matematika.

Namun, si pemilik nama tidak menjawab panggilan guru itu. Apa yang terjadi? Apa dia pingsan? Mabuk? Sakit? Menangis? Terhipnotis? Terbius? Mati? Atau... apa?

Karena penasaran, Asuma-sensei mendekati tempat Shikamaru yang berada di barisan paling belakang sebelah kiri, terlihat, Shikamaru sedang menundukkan wajahnya ke atas meja, beralaskan tangan yang dilipat dan mata yang terpejam, sangat jelas bahwa Shikamaru sekarang sedang tidur.

"Hey! Shikamaru..." tegur Asuma-sensei, ia tengah berdiri di sebelah Shikamaru. Bukannya menjawab, Shikamaru malah bergumam tidak jelas sendiri. Merasa diabaikan, Asuma-sensei pun kembali ke kursinya, untuk mengambil segelas kopi panas yang belum diminumnya.

Asuma-sensei kembali ke tempat Shikamaru, ternyata, Shikamaru sedang tertidur pulas! Tanpa babibu lagi, Asuma-sensei mengguyur Shikamaru dengan kopi panasnya—wuih! Sadiss!.

"HUWAAAAAAAAAAAA!" Shikamaru berteriak, namun samar-samar, dia terlihat berteriak sambil menguap!

"Shikamaru! Sudah berapa kali aku bilang! Jangan tidur di jam pelajaran! Sebagai hukuman, pergi ke WC murid dan bersihkan WC itu sampai bersih!" perintah Asuma-sensei sambil menyimpan gelas bekas kopinya di atas meja Shikamaru.

Shikamaru hanya berjalan gontai keluar kelas sambil menghela nafas bosan, tentu kalian tau apa yang ia katakan dalam hatinya, 'Ngerepotin aja...'.

Di perjalanan menuju WC murid, Shikamaru ditertawai orang-orang yang melihatnya. Apa yang terjadi? Ternyata mereka senyum-senyum karena baju Shikamaru, lebih tepatnya, di bagian punggung. Apa yang ada di situ? Mereka senyum-senyum karena bercak kopi yang Asuma-sensei 'hadiahkan' pada Shikamaru yang jika dilihat baik-baik akan membentuk tulisan yang berbunyi "I love Yaoi". Waw! Sangat unik... Dan hal itu... membuat para Fujodanshi di sekolah(?) yang melihatnya saling melempar 'senyuman khasnya', karena sepertinya, tidak lama lagi Shikamaru akan mereka rekrut menjadi seorang Fudanshi! Ckckckck...

.


.

Wokeh! Waktunya membalas review yang login maupun nggak... soalnya Rei-chan lupa, mana yang udan dibales, mana yang belum...

Miku Hanato: Yeeey! Ada yang bilang kereeen! Suka FOP kah? Samaaa! Khekekekee... memaang... hehehe... ra-ha-sia... Makasih Reviewnya!

Orange Naru: Oh ya? Senangnyaa... Yup! Kira-kira yang dapet peran(?) itu si...apa aja boleh... dan... yang kebagian jadi pemeran orang yang disukai tokut si...apa aja boleh. Kayaknya bakalan agak OOC, nih. Senpai? Ahaha! Panggil aja Rei-chan... lagian aku masih kecil... Makasih Reviewnya!

Artemisaish: Ada yang bilang keren lagi! Makasih! Oh ya? Oke... karena ficnya udah di re-write, jadi silakan liat sendiri ke Chapter 1. Makasih Reviewnya!

Ruubi Ryuubi: Nggak apa-apa kok, pa(?)... Oh ya? Siap! Ini udah Rei-chan panjangin dikit... Makasih Reviewnya!

sasunaru's lover: Haha! Iya! Penghapusnya bentuk kucing! Semoga chapter ini lebih rapi... Makasih Reviewnya!

NaruEls: Aku juga pengen... Peerku juga numpuk... Makasih Reviewnya!

Ri-Ero-Fujo: Oh ya? KYAAAA! Makasih! Makasih juga Reviewnya!

Aoi LawLight: Nggak apa-apa kok, yang penting Review! Jiaah, lupa... Makasih Reviewnya!

Hinata-Naruto-Lover: Kayaknya aku bikin penasaran orang mulu deh. Makasih Reviewnya~~ XDDD

Wokeh! Balasan review, selesaai! Makasih buat yang udah review... review kalian sangat berarti bagiku... tanpa kalian, mungkin tidak akan ada chapter ini...

R E V I E W lagi ya! XDDD Concritnya, ditunggu... :D

With Cute Smirks, I'm Devilish Angel. December 3rd, 2011