Haaai! Rei-chan datang buat update fic! Rei-chan ngasih chapter agak panjang di awal tahun ini... soalnya mulai semester ini, Rei-chan bakalan super duper sibuk! Nggak bakal sempet nyentuh laptop apalagi update fic. Karena itulah! Rei-chan bikin chapter ini jadi lebih sedikit panjang dari chapter sebelumnya... walau ada alasan lain juga sih.

Oiya. Lupa. DON'T LIKE? DON'T READ! artinya, kalo ngerasa nggak suka sama fic ini, tinggalin aja. Tapi kalo yang penasaran, Happy Reading, ya!

.


.

Naruto Masashi Kishimoto
Fairly Odd Parents punyanya Nickelodeon

Rated: K+

Genre: Fantasy/Family

Warning: Kayaknya OOC, nggak pake plot, mungkin ada typo(s), aneh, abal, ide pasaran, bahasa tidak baku, authornya newbie, alur yang kayaknya berantakan, EYD banyak yang salah, dan yang lainnya.

Summary: "—dijamin bakalan naksir, deh!" "Oh ya? Emang secantik apa sih, si Hinata itu?"

.


.

Chapter sebelumnya...

"Eh? Ka-kamu..." Sakura membelalakan matanya pertanda kaget yang amat luar biasa. Siapa yang dilihat Sakura?

"Hai... Sakura..." sapa orang itu sambil tersenyum kepada Sakura. Siapa yang bicara begitu padanya?

.


.

"Ngapain kamu kesini?" tanya Sakura dengan amat sangat ketus dan dingin kepada pemuda di depannya. Pemuda itu berkulit putih pucat, berwajah biasa yang sedang memamerkan senyum andalannya yang terkesan dibuat-buat gitu.

"Hm? Cuma pingin mampir aja kok..." jawab pemuda itu dengan wajah yang berhias senyum palsu nya.

"Aku tanya... NGAPAIN KAMU KESINI, SAI?" bentak Sakura kepada pemuda itu, yang diketahui bernama Sai tersebut.

"Cuma mau mampir kok, say..." Sai berkata dengan entengnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah yang pintu masuknya dihalangi Sakura.

"WHAAAT! SAY? NO WAY! NGGAK SUDII!" Sakura berteriak sangat keras tepat di telinga Sai sambil menendang Sai keluar rumah. Sepertinya tidak lama lagi Sai akan menjadi pasien dokter THT!

"PERGI DAN JANGAN KEMBALII!" teriak Sakura setelah Sai ditendangnya. Ohh... malangnya Sai.

Sakura mengeluh lagi. Dia berharap agar Naruto segera pulang kerumah untuk menghiburnya(baca: dia siksa). Tapi apalah daya, Sakura tidak tahu dimana Naruto berada.*halah!*

.


.

My Parents is Fairy
Created by: Devilish Angel

-Chapter 5(Cewek Jutek!)-

.


.

"Na-Naruko?" tanya Naruto.

"Iya?" tanya Naruko balik.

"Aku... a-aku..." kata Naruto terbata-bata.

"Eh? Naruto kenapa? Mau minta sesuatu? Bilang ajaa!" ujar Naruko sambil tersenyum. Oh iya, Naruko masih dalam bentuk rubah merah! Bayangin aja ada seekor rubah yang tersenyum. Kiyut, deh!

"A-aku pengen besok datang sekarang." Naruto meminta sambil menunduk.

"Oh... itu... okee!" kata Naruko. Dia mengangkat tongkatnya daan...

SRIIING!

Naruko mengabulkan permintaan Naruto. Dan hari ini, hari Selasa, sudah datang. Terbukti dengan terbitnya matahari di ufuk timur. Berbeda dengan beberapa waktu lalu... matahari sudah tenggelam, karena nggak bisa berenang(?).

Naruto pergi ke kamar mandi dengan berlari. Dia membersihkan badannya dengan terburu-buru! Bahkan pakai baju pun masih acak-acakan! Ckckck... Naruto kenapa sih? Kok buru-buru ya?

"Ckckck... hey! Naruto! Lihat sini!" kata Naruko sambil mengangkat tongkatnya.

"Ngh?" gumam Naruto sambil berbalik.

SRIIING!

"Pakaianmu sudah rapi sekarang. Nah! Sekarang... beritahu aku. Kenapa kau terburu-buru begitu, Naruto?" tanya Naru-kun. Sangat penasaran.

"Eh? I-itu..."

"Yaa? Kenapa, hmm?"

"Soalnya hari ini ada murid baru ke kelasku... aku udah nggak sabar pengen tau siapa. Soalnya anak-anak cowok katanya pada pengen ngedapetin itu murid! Karena itu aku pengen tau siapa..." jelas Naruto.

"Ooh... soal itu... hmm... aku juga penasaran... aku ikut, ya! Naruto..." kata Naruko sambil melompat ke Naruto. Dan ditangkap Naruto dengan baik.

"Eh? Tapi... aku nggak mau kamu ketauan guru gila di sekolah!" kata Naruto khawatir.

"Hmm... itu sih gampaang!" ujar Naruko sambil mengangkat tongkatnya lagi.

SRIIIING!

Dan berubahlah Naruko menjadi sebuah jam tangan oranye lucu yang kini melingkar di pergelangan tangan kiri Naruto. Sungguh jam yang sangat lucu tapi tetap punya efek 'jam tangan biasa'.

.


.

Di kelas Naruto...

"Haa... Naruto kemana sih? Aku mau tanya banyak nih!" kata pemuda bertato segitiga terbalik di setiap pipinya. Siapa lagi kalau bukan Kiba. Sahabat baik Naruto.

"Ck! Emang mau nanya apaan? Ribet amat..." komentar Shikamaru. Si cowok pemalas! Tapi... males-males tetep pinter! Dia duduk di belakang bangku Kiba.

"Nggak... cuma aku dan Naruto yang tau." kata Kiba singkat. Sok jaga rahasia, biar orang lain penasaran.

"Hhh... terserahlah... yang jelas... itu sangat merepotkan..." ujar Shikamaru. Dia melipat tangannya diatas meja, lalu menundukkan kepalanya. Mau ngapain lagi dalam posisi gitu selain: tidur.

"Selamat pagi!" sapa Naruto yang baru datang. Ia pun berjalan menuju kursinya dan duduk disitu.

"Pagi! Narutoo!" sapa Kiba sambil berjalan menuju Naruto.

"Eh! Jam tanganmu cakep tuh! Beli dimana?" tanya Kiba sambil melihat jam tangan oranyenya Naruto.

"Ini? Nggak tau ya... tiba-tiba ada di meja belajarku..." jawab Naruto asal.

"Ooh... oiya! Soal resep tongkat terbangmu kemaren... kok tongkatnya nggak bisa terbang, ya?" tanya Kiba lagi sambil menyilangkan tangannya di dada.

'Aduh! Mati aku... haah! Sudah kuduga... Sasuke baka!' umpat Naruto di dalam hati. "Nggh... mu-mungkin ada bahan yang kurang, kali!" kata Naruto.

"Nggak tuh... katamu kemaren kan, bahan-bahan tongkat terbang adalah telur, margarin, terigu dan coklat. Terus... bahan-bahan itu kan dicampur semua... terus, kamu bentuk kayak tongkat, kalo udah... masukin ke oven, tunggu lima belas menit, jadi! Gitu kan? Tapi kok nggak ngepek(?), ya?" kata Kiba panjang lebar.

"Eh? Masa? Emang hasilnya gimana?" tanya Naruto penasaran.

"Haah... pas aku buka ovennya, ehh malah ada asap nyembur(?)! Wuiih! Iteem banget! Asapnya... nyembur ke muka! Ternyata tongkatnya gosong banget tuh! Ancur pokoknya!" jelas Kiba sambil mengusap-usap mukanya. Memberikan efek kalo mukanya pernah kena asap itu.

"Oya? Hmm... gimana kalo kamu ganti waktunya... kata kamu kan lima belas menit... kelamaan tuh! Harusnya lima menit doang!" komentar Naruto.

Baru juga Kiba akan menjawab 'Iya.' namun tiba-tiba terhenti karena mendengar suara entah darimana datangnya.

"Yap anak-anak! Sudah selesaikah ngobrol paginya?" tanya Kakashi-sensei yang entah-dari-mana-datangnya tiba-tiba sudah ada di depan kelas, ia lalu duduk di tempatnya.

Semua murid langsung kabur ke tempat masing-masing dan suasana kelas menjadi sangatlah hening.

"Baiklah... kita mulai pelajarannya..."

.


.

'Hmm... ada yang aneh sama si Naruto... kok, tumben banget dia ngerjain peer... jangan-jangan...' batin Kakashi di kolong meja setelah pelajaran usai.

'Jangan-jangan dia punya...' Kakashi berfikir keras dan... "Orang! Tua! PERI!" teriak Kakashi sangat OOC disertai dengan penekanan disetiap kata-katanya. Dengan gerakan patah-patah sambil melayang-layang aneh yang dia lakukan... sukses membuat kepalanya benjol lalala(?) akibat dari kepalanya yang membentur meja.

"Aku harus menyelidikinya... harus menyelidikinya! Aku akan buat sebuah alat yang akan membuatku untuk menangkap..." gumam Kakashi terputus. "Orang! Tua! PERI!" sambung Kakashi sambil berteriak. Yah... dapet benjol lagi, dia... oh... selamat berjuang Kaka-chan(?)!

.


.

'DEG! Kok... aku mendadak merinding, ya?' batin Naruto yang lagi makan di kantin sekolah. Pastinya makan ramen! Dia balas dendam(!) karena kemaren acara makan ramennya tertunda gara-gara bel sialan itu.

"Heh? Kamu kenapa, Naruto? Kok mendadak aneh?" tanya Kiba yang kebetulan duduk di sebelah Naruto.

"Errh... ng-nggak, kok..." jawab Naruto sangat tidak meyakinkan. "Eh! Kiba! Murid baru yang digosipin Sabtu lalu... kayak gimana ya, orangnya?" tanya Naruto membuka topik pembicaraan.

"Orangnya... hmm... cantik... dia cewek... pinter... tajir, lagi!" jawab Kiba sambil menerawang ke luar jendela.

"He? Darimana kau tau itu, Kiba?" tanya Naruto penasaran.

"Loh? Kan kemaren dia masuk sekolah! Kamu nggak tau, ya? Dia masuk kelas 7-A. Tempatnya anak-anak cakep..." kata Kiba sambil mendengus sebal. Terkadang dia iri, kenapa dia nggak terlahir cakep. Kan kalo cakep bisa masuk kelas A*dilempar Kiba FC*

"Hmm... namanya siapa?" tanya Naruto lagi. Dia makin penasaran.

"Namanya? Hinata. Dia tu... cantik banget! Tajir lagi... dijamin bakalan naksir, deh!" kata Kiba mancing(?) Naruto biar tambah penasaran.

"Oh ya? Emang secantik apa sih, si Hinata itu?" tanya Naruto lagi.

"Heh? Kalian ngomongin aku, ya?" terdengar suara seorang perempuan dengan nada sedikit tinggi. Sebenarnya, andaikan nada suaranya tidak tinggi, suaranya pasti terdengar sangaat lembut. Bagaikan bidadari yang menyebutkan sugestinya(?).

"Heee?" kata Naruto dan Kiba bersamaan sambil nengok ke sumber suara. Dilihatnya, si manis jembatan Ancol(?)–err maksudnya seorang gadis manis, berambut biru tua panjang sepinggang, memakai seragam sekolah putri, berkulit putih, bola mata berwarna lavender yang bekilau, raut wajah yang dingin dan dari suaranya tadi... dapat langsung disimpulkan bahwa perempuan ini adalah termasuk golongan cewek jutek!

"Kamu siapa?" tanya Naruto nggak pake basa-basi.

"Aku? Hinata Hyuuga. Dari kelas 7-A." kata perempuan itu yang diketahui bernama Hinata.

"He? Kok main nyambung aja, sih? Perasaan disekitar sini nggak banyak kabel, deh," komentar Kiba. Sebiji urat kesal akhirnya muncul pada Hinata setelah Kiba mengatakan hal itu. Sebenarnya Kiba berusaha menghilangkan perasaan kagumnya pada Hinata dengan mengeluarkan komentar pedas.

"Ya... salah sendiri... ngapain nama aku dibawa-bawa segala?" balas Hinata nggak kalah pedasnya.

"Udah! Stop! Jadi kamu Hinata, ya? Aku Naruto Uzumaki dari kelas 7-F. Salam kenal, Hinata!" kata Naruto ramah sambil mengulurkan tangannya pada Hinata, memperkenalkan diri.

Hinata nampak terdiam sejenak. Menimbang-nimbang. Tapi akhirnya... "Iya. Naruto." kata Hinata dingin sambil menyambut uluran tangan Naruto biarpun agak terpaksa. Terbukti dengan tidak ditatapnya sang lawan bicara. Kenapa? Soalnya Hinata lagi nyembunyiin mukanya yang agak merah tuh! Takut ketauan, makanya nggak ngeliat Naruto. Wah! Keliatan jelas kalau cewek ini beneran jutek abis! Jaim banget, lagi!

"Aku manggilnya Hinata, ya!" ujar Naruto sambil tersenyum.

"Terserah.." Hinata berkata sambil melihat jam tangannya. Dia pun pergi, diikuti seorang lelaki yang paling populer diantara murid-murid lainnya. Populer karena ketajirannya. Seorang pemuda berambut panjang.

'Che! Lama-lama ni cewek makin kayak Sasuke aja! Dinginnya... miskin (kata)nya juga sama... jangan-jangan cewek ini duplikatnya Sasuke! Eh ngomong-ngomong... daritadi Sasuke kemana, yah?' kata Naruto di dalam hati. Pikirannya sekarang sangat kacau! Terbukti dengan tidak sadarnya dia kalau bel masuk sudah berdering keras.

.


.

Jam tiga sore. Waktunya murid-murid sekolah pulang ke rumahnya masing-masing. Terlihat kelegaan dari raut wajah mereka. Seakan mereka baru keluar dari penjara setelah bertahun-tahun ditahan disana...*lebay*

"Haah... Naruko..." kata Naruto membuka pembicaraan sambil menatap jam tangan oranyenya. Ia sedang berjalan sendirian menuju rumahnya. Sengaja berjalan pelan-pelan. Sangat-sangat santai. Sengaja supaya tidak cepat sampai rumah. Tahu kalau Sakura sudah stenbai(?) menunggunya di rumah untuk disiksa.

"Ya? Naruto?" kata Naruko. Poooft! Tiba-tiba jam tangan Naruto hilang. Digantikan dengan adanya seorang peri berambut kuning panjang dikucir dua melayang-layang di sebelah kiri Naruto.

"Menurutmu... apa ada anak lain yang punya orangtua peri selain aku, tidak?" tanya Naruto sambil menunduk.

"Hmm... tentu saja ada, Naruto..." jawab Naruko santai.

"Err... menurutmu... Hinata cantik nggak?" tanya Naruto lagi. Dan... dengan wajah sedikit memerah tentunya. Haha!

"Hinata? Gadis yang cantik-cantik tadi itu, ya?" tanya Naruko memastikan. Dijawab dengan anggukan kecil Naruto.

"Dia sih... menurutku... cantik sih, cantik... tajir, lagi... dia... hampir sempurna..." kata Naruko pelan.

"Lho? Kok hampir?" tanya Naruto bingung. Kenapa 'hampir'? Kenapa nggak sempurna aja?

"Coba... itu cewek agak ramahan dikit... senyum dikit... terus... agak... sopan dikit, lah! Sebagai cewek, aku jadi ngerasa gak guna. Gak bisa negor dia..." jawab Naruko.

"Oh... sikapnya, ya... iya, sih... Hinata... dari pertemuan pertama tadi emang udah keliatan jelas kalo dia itu... jutek... nggak adah ramah-ramahnya... nggak keliatakn senyum... terus... ngomongnya pedees banget."

"Aah... Naruto... kamu suka Hinata, ya?"

"Ah! Eh–eeeh?" Ahahai! Muka Naruto akhirnya memerah sempurna gara-gara pertanyaan Naru-kun barusan! Tadi kan cuma agak merah dikit...

"Iya, kan? Dari tingkahmu... udah ketauan jelas."

"I-iya, sih... aku emang agak suka sama Hinata..." kata Naruto malu-malu rubah(?).

"Uh-um... terus?" tanya Naruko dengan nada menginvestigasi.

"Bisa bantu aku?" tanya Naruto balik.

"Bantu ngapain? Bantu apaan?"

"Bantuin... bikin dia suka sama aku, Naru-kun..." kata Naruto meminta.

POOOFFT!

"Emm... begini, Naruto... menurut buku aturan peri... kami tidak bisa membuat orang jatuh cinta..." jelas Naru-kun sambil membuka-buka buku besar nan tebal berwarna emas yang entah darimana datangnya.

"Ooh... begitu, ya..." kata Naruto lesu.

"Hmm... tapi bukan berarti nggak bener-bener bisa lho!" kata-kata Naruko barusan, membuat Naruto sumringah lagi, "Aku emang nggak bisa bikin orang jatuh cinta pada seseorang secara langsung... tapi bukan berarti bener-bener nggak bisa... kan aku bisa nyari akal, gimana caranya bikin orang jatuh cinta secara nggak langsung, kayak mak comblang!" jelas Naruko ceria.

"Boleh juga! Eh, udah nyampe rumah lagi... Naruko... kira-kira Sakura ada di rumah nggak, ya?" tanya Naruto pada Naruko, Naruto deg-degan sekarang, soalnya kalo Sakura ada di rumah sekarang, siap-siap aja jadi 'santapan spesial'nya Sakura.

"Menurutku sih, ada... jadi?" Naruko bertanya dengan nada ngejek.

"Aku minta aku udah ada di kamar tanpa Sakura tau!" pinta Naruto penuh semangat.

"Okey!"

SRIIING!

Sampailah Naruto di kamarnya tanpa diketahui Sakura si pembunuh(?). Sesampainya di kamar, Naruto langsung merebahkan dirinya di kasur lalu tidur tanpa melepas tas bahkan tanpa mengganti pakaian, membuka sepatu bahkan tidak dilakukannya. Kayaknya begitu nyampe kamar, Naruto kena obat bius, deh. Langsung maen tidur aja.

"Hmm... Naruto pasti capek... hari ini dia keliatan lelah sekali..." gumam Naruko sambil menatap wajah Naruto yang sedang tidur sore.

'Mungkin lebih baik kalau aku ganti dulu bajunya, terus ngelepas sepatunya...' pikir Naruko. Ia pun melakukannya.

Digantinya seragam sekolah Naruto dengan baju biasa, dia lepas sepatu Naruto dan yang lainnya. Tapi tidak secara manual alias dilakukan dengan tangan. Dia gunakan sihir untuk melakukannya.

.


.

"Ck! Si bocah kuning itu lama amat sih, pulangnya? Biasanya kan, jam segini dia udah nongol pulang... kemanaa lagi itu anak... bikin sebel, aja!" kata Sakura marah-marah sendiri di ruang keluarga rumah Naruto. Sakura memang sudah ada di rumah Naruto sejak jam dua belas siang tadi. Dan biasanya, jam pulang Naruto adalah jam tiga sore. Tapi, sekarang sudah hampir jam empat sore. Kemanaa ngilangnya itu anak?#buagh!

"Aaaghh! Nyebeliiin! Padahal aku udah nyiapin kapak dan udah beli pisau karatan di pasar loak buat main sama dia! Aaah! Bener-bener nyebeliiiiiin!" Sakura teriak-teriak frustasi. Entah kenapa, sejak insiden kabut aneh di kamar Naruto waktu hari Minggu, dia mendadak jadi bener-bener sial!

.


.

Flashback

Sakura sedang berada di rumahnya. Ia sedang mengasah 'alat pembantu' kesayangannya.

Jam berdentang sembilan kali. Ia memasukan alat-alatnya ke dalam sebuah wadah. 'Sudah waktunya' batinnya saat memasukan alat-alatnya ke sebuah wadah sambil menyeringai lebar.

Dia pun pergi ke sebuah rumah yang bertuliskan 'UZUMAKI' lalu membuka atau lebih tepatnya mendobrak pintu depan rumah itu dengan kasar.

"Aku dataang!" teriaknya dengan penuh semangat dan hasrat ingin 'memanjakan'nya.

"Sama Sakura, ya!" kata wanita berambut merah panjang. Dialah Kushina Uzumaki. Orang yang sudah menyewa(!) Sakura untuk mengasuh anak lelakinya.

"Ya udah, dah! Naruto!" pasangan suami-istri Minato-Kushina pun pergi. Meninggalkan pemuda pirang bernama Naruto hanya berdua bersama Sakura dirumahnya Naruto.

"TIIIDAAAAAKKK!" teriak Naruto histeris.

"Nah, anak muda, bersiaplah menuju penyiksaan!" kata Sakura sambil mendekati Naruto dengan membawa gergaji tajam yang dia asah tadi dirumahnya. Penyiksaan hari ini, dimulai.

"HWAAAAAAAA!" Naruto berteriak lalu lari ke lantai dua.

"HEY! KEMBALI KAU!" Sakura membentak Naruto keras agar Naruto berhenti berlari. Sebenarnya Sakura sangat menikmati momen-momen yang seperti ini. Dimana dia mengejar sasarannya untuk 'diajak bermain'.

"NGGAAK!" bentak Naruto nggak kalah keras. Sakura menyusulnya masih dengan gergaji di tangan.

Akhirnya Sakura sampai di depan kamar Naruto. Dapat ia rasakan kalau Naruto sekarang sedang ketakutan di pojok kamarnya. Sakura pun menyeringai lebar. Dia lalu memotong pintu kamar Naruto dengan gergajinya.

Srek! Srek! Srek! Srek!

Sakura memotong pintu kamar Naruto dengan beringasnya. 'Dapat!' kata Sakura di dalam hati. Ia lalu menendang pintu kamar Naruto, dan masuk ke dalam.

"Kau tidak akan bisa lari, Naruto." Sakura mendekati Naruto. Mendekat, makin dekat, sangat dekat, lebih dekat, dan lebih dekat lagi.

Poooffft!

Tiba-tiba gumpalan asap ungu yang entah darimana datangnya muncul diantara mereka. Akhirnya Sakura pingsan.

Setelah Sakura sadar, tiba-tiba dia melihat seekor kucing hitam ada di pangkuan Naruto.

"Heeh! Kucing siapa tuh?" tanya Sakura ketus sambil merebut kucing hitam itu. Lalu...

Meaaawww! Sring! Cring! Prang! Duk! Bletak!

Kesialan pertama: Dicakar kucing

"KYAAAAA!" jerit Sakura sangat kesakitan. Pastinya! Siapa yang nggak sakit kalo dicakar kucing?

"Saakiiiit..." Sakura meringis kesakitan. Dia pun lalu berlari keluar dari kamar Naruto. Berniat mencari obat-obatan untuk menyelamatkan mukanya. Tapi...

Gedubraak!

Kesialan kedua: Jatuh dari tangga

Sakura terus berlari menuju sebuah ruangan. Ia meraba-raba isi sebuah lemari dan mengambil sesuatu entah apa namanya yang berbentuk seperti tabung. Mungkin obat antiseptik? Ia basuh mukanya dengan cairan itu. (P.S: Anak baik jangan cuci muka pake antiseptik langsung kayak gitu, ya)

Cuuuurrrr...

'Eh? Kok rasanya mukaku jadi gajelas gini, ya?' batin Sakura. Dia buka matanya dan...

Kesialan ketiga: Cuci muka pake minyak goreng

Betapa sialnya Sakura hari ini setelah asap itu datang. Untuk mengetahui kesialan-kesialan lainnya, hubungi author#bugh!

End of Flashback

.


.

Naruko menatap Naruto yang sedang tertidur dengan lelapnya, 'Segitu capeknya dia ya, sampe-sampe tepar begini... padahal tadi kan cuma belajar biasa, kenalan sama Hinata. Itu aja udah bikin tepar apalagi ikut ekskul...' batin Naruko masih menatap Naruto.

"Hmm... andai ajaa kamu beneran anakku..." gumam Naruko pelan.

"Jika kau mau, akan kuberikan, Naru.." terdengar suara seseorang dari belakang Naruko. Betapa terkejutnya Naruko saat berbalik dan melihat sosok itu. Siapa sih, dia? Kok Naruko sampe kaget gitu, sih? Jawabannya ada di chapter depan.

.


.

To Be Continue

.


.

Fiuuh... chapter ini selesai juga. Oke... waktunya membalas review!

Yuuchan no Haru99: Yuu! Hmm? Yuu mau punya orang tua peri? Samaaaa! Hmm... SasuNaru yang peri? Hoho! Nanti mereka menikah, lhoo!Makasih reviewnyaa... Review lagi, ya!

Orange Naru: Ooh... gitu, ya... untungnya Orange*aku panggil gitu, ya!* udah nggak penasaran lagi... ntar kalo penasaran banget... ngehantuin Rei-chan! Hiiiy! Ketemu mayaat! Yup! Bener banget! Ra-ha-sia! Makasih reviewnya, ya!

Miku Hanato: Nggak apa, kok... SKSD aja sama , samaa! aku juga sibuk, Mikuu... Aku juga sibuuuk... aiih... bersabarlah, Miku... Ini udah updatee... Makasih reviewnya, Miku!

Zee rasetsu: Haha! Ohya? Lucu? Sukurlaaah! Ho... iya, dong! Gini-gini, Sasuke punya suara perak(?), lho! Makasih reviewnya, ya!

Hinata-Naruto-Lover mls login: Ookee~ ini, Rei-chan update lagi... Hmm... sekarang udah Januari, kan? Login, dong! Makasih reviewnya!

Akahi no IkureZetta: Hihi! Iya, nih! biar agak-agak seru, gitu! Hoo... iya, dia kan 'Baby Sitter'... yang paling ditakuti... Makasih reviewnya, yaa!

.


.

Balesan review, selesai.

Nah! Berhubung tahun ini Rei-chan sibuk... Rei-chan kayaknya nggak bakalan sempet buka laptop apalagi update fict... maka dari itu... Rei-chan mau nanya sama reader... itung-itung voting buat masa depan(?) fict gajelas ini... tolong reader pilih!
Mana yang lebih baik Rei-chan lakukan pada fict ini?

Menghiatuskan fict ini.
Menghapus fict ini.
Fict dilanjutkan tapi membutuhkan waktu sangat lama untuk update.

Tolong pendapatnya, ya! Bisa dijawab lewat review, PM, atau... apa aja, terserah reader... yang penting beri Rei-chan pendapat...
Oiya, bagusnya... ratednya naek jangan nih?
Review, please? :3

With Cute Smirks, I'm Devilish Angel. December 3rd, 2011