Tittle : Opera
Pairing : KyuSung (Slight WonSung)
Rate : T
Genre : Angst , Romance , Hurt/comfort
OPERA
-FlashBack-
"Apa kau ingat kejadian yang barusan menimpamu ?"
"Anni... Aku tidak ingat detailnya... Aku hanya ingat saat beberapa orang pereman mengejarku karena menginginkan barang bawaanku... Lalu aku terkepung oleh mereka lalu semuanya menjadi gelap... Aku tak ingat apa-apa lagi... Tiba-tiba saat bangun, aku sudah berada disini bersamamu..."
"Begitu ya..."
"Ya... Kira-kira seperti itu.."
"Tadi, aku menemukanmu didalam gang sempit dan barang-barangmu tampaknya sudah dicuri oleh orang-orang sialan itu... Dan kau sudah lemah bersimbah darah dengan luka parah dibagian punggung sampai kepala...Seperti bekas pukulan yang sangat keras dengan botol beling..."
"MWO ?"
"Makanya kau langsung tak sadarkan diri,kan ?"
"N...Ne..."
"Waeyo ?"
"Anni... Itu... Hanya sedikit menyeramkan..."
"Hahaha... Begitulah keadaannya, makanya aku membantumu..."
"Ne, Gamsa... Ng... Ngomong-ngomong... Namamu siapa ?"
"Jong Woon... Kim Jong Woon... Panggil saja Yesung"
"Ne...Yesung..."
"Jangan lupa pakai 'hyung'.."
"Eh ? kau lebih tua dariku ?"
"Tentu ! Makanya aku suruh kau manggil aku 'hyung'..."
"Aku kira kita seumuran !"
"Apa aku se-muda itu ?"
"Iya !"
"HAHAHAHAHAH !"
Namja manis ini tertawa dengan keras. Sangat keras. Bahkan setelah ia selesai tertawa, kupingku masih berdengung. Suara yang dahsyat. Seisi rumah ini bisa mendengarnya. Mungkin.
"Hahah.. Kau bocah yang lucu..."
"Eh ? Wae ?"
"Anni... Hahaha... Cepatlah sembuh... Kau bisa menetap disini sampai benar-benar pulih..."
"Ne, hyung..."
"Aku harus pergi... Beristirahatlah dulu, lalu makan siang... Para pelayan akan kesini dan menyediakan makan siang untukmu, selama aku pergi, anggaplah rumah ini adalah rumahmu sendiri..."
"Ne..."
Kemudian, ia berbalik dan bangun dari tempat yang tadi didudukinya. Kupandangi tubuh namja baik itu sampai keambang pintu, dan menghilang dibaliknya.
_
Hari demi hari kita lalui bersama, kami juga makin akrab.
Saking akrabnya, sampai-sampai aku tak menyadari kalau... Aku menyimpan perasaan kepadanya.
Apa dia menyadarinya ?
Mungkin kalau untuk menyadarinya, itu terlalu cepat... Terlalu cepat untuk diketahui olehnya, dan aku pun belum siap menerima reaksinya.
Semoga saja dia memiliki rasa yang sama kepadaku...
Semoga saja.
Sebuah tepukan dipundakku menyadarkanku dari lamunan yang bodoh itu.
Saat aku menoleh. Yah, aku temui dia... Namja yang telah menyelamatkan hidupku.
"Hyung ?"
"Bagaimana keadaanmu ?"
"Kau... Benar-benar Yesung hyung ?"
"Tentu saja... Memangnya kau pikir aku ini siapa ?"
"A..Anni... Aku Cuma... Kaget melihatmu berpenampilan seperti ini.."
Wajahnya yang ditutupi topeng pesta dan mengenakan kemeja hitam rapih menghiasi tubuhnya saat ini.
"Kau mau kemana ,hyung ?"
"Menghadiri pesta dansa yang diadakan temanku, malam ini..."
"Begitu,ya..."
"Waeyo ?"
"Anni... Apakah kau akan pulang larut malam ?"
"Mungkin..."
"Begitu..."
"Eh ? Kau kenapa, Kyu ?"
"Anni... Mungkin aku akan kesepian untuk malam ini..."
"Kalau kau kesepian, ajaklah para pelayan mengobrol... Mereka juga teman baikku di mansion ini.."
"Ne... Akan kucoba..."
"Yasudah, ak pergi dulu, ne ?"
"Ne, hyung..."
Sekilas , sebelum ia pergi.. Aku melihat sekilas senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.
"Hati-hati ya, hyung..."
Kataku sambil melambaikan tangan kepadanya. Dari sana, aku melihat ia mengucapkan sebuah kata yang aku tak tau pasti apa maksudnya.
Mungkin ia mendengar ucapanku dan menjawabnya...
Selama disini... Aku menjalani kehidupan yang berbeda dari kehidupanku yang biasa kujalani dirumah bersama keluargaku yang sebenarnya.
Sungguh berbeda. Aku merasakan hal yang aneh mulai memasiku hatiku saat ini. Setelah tinggal bersamanya.
Orangtuaku membiarkan aku tumbuh bersama uang-uang yang mereka berikan untuk memenuhi fasilitas hidupku tanpa kasih sayang sedikitpun. Hampa.. Walau semua keinginanku terpenuhi, tapi hidupku sama sekali tak berkesan dan hambar. Diriku sama saja dengan anak yatim piatu yang tidak merasakan kasih sayang orangtuanya lagi. Tetapi aku bukan ditinggal mati seperti mereka. Aku dibuang. Dibuang dari jangkauan mereka. Sangat jauh.
Walau jarak kami dekat. Tetapi hati kami tak terhubung satu sama lain. Aku mengenal mereka. Tapi mereka seakan-akan tak mengenal diriku. Selama ini aku kesepian. Hanya kesepian dan kesunyian yang menghiasi hidupku yang kelabu. Tetapi setelah aku bertemu dengan dia, semuanya berubah dan menjadi lebih berwarna. Dan aku juga jadi mengetahui bagaimana caranya tersenyum, mengikhlaskan sesuatu , menghargai orang lain , dan juga... Aku diajarkan untuk mencintai seseorang.
Dan cinta itu... Cinta pertamaku... Adalah orang yang mengajarkan banyak hal kepadaku...
Kim Jong Woon...
Orang yang mengubah kehidupanku menjadi lebih bermakna dan penuh warna. Entahlah, dia itu manusia atau malaikat... Bagiku dia seperti malaikat yang menyelamatkan manusia yang sudah tak pantas hidup lagi dan memberikan segenggam harapan untuk memperbaiki kehidupan yang sebelumnya menjadi lebih baik. Segenggam harapan itupun tumbuh menjadi kebahagiaan yang kurasakan sekarang. Lalu kebahagiaan itupun tumbuh menjadi apa yang disebut 'cinta'.
Cinta yang telah tumbuh dengan indah didalam hatiku akan kutumbuhkan menjadi apa yang disebut 'cinta sejati'.
Yang kupersembahkan hanya untuknya. Malaikat yang telah memberiku segenggam harapan.
Aku akan jujur kepadanya. Dan menyatakan cintaku kepada malaikat itu.
_
"Aku pulang, kyu... Bagaimana keadaanmu ?"
"Eh ? Hyung ? Sudah lumayan dibandingkan waktu itu sih.."
"Syukurlah, tapi setelah kau sembuh, entah kapan lagi kita akan bertemu..."
Ia tersenyum kecut menanggapi perkataannya sendiri barusan.
"Anni hyung... Aku tetap bersamamu..."
"Eh ? Nanti orangtua mu akan makin khawatir kalau kau tetap disini..."
"Orangtua ? Aku tak tau apa yang namanya orangtua..."
"Apa yang kau katakan kyu ?"
"Aku tak tau dan aku tak pernah merasakan apa yang namanya kasih sayang dari orang tua... Aku bukanlah anak yang tumbuh dan dibesarkan oleh orangtua ku... Aku hanya anak yang diasuh oleh uang-uang dan fasilitas yang mereka berikan kepadaku..."
"Kyu..."
Ekspresinya berubah. Menjadi lembut dan bersimpati.
Tanpa kusadari, aku sudah berada dalam dekapannya. Dekapan seorang malaikat.
"Maafkan aku, Kyu... Aku tak bermaksud untuk membuatmu mengingatnya lagi..."
"Ne, hyung... Gwaenchana..."
Sesekali ia membelai puncak kepalaku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Ini ? inikah namanya belaian kasih sayang ? Kenapa ? Kenapa aku bisa sebahagia ini ?
Sebahagia ini kah rasanya diberi belaian kasih sayang... Oleh orang yang kita cintai ?
"Hyung..."
"Hm ?"
"Saranghaeyo..."
TBC
