Hope you enjoy this one!
x
Chapter2 : How About Kurogane?
Disclaimer: CLAMP
xxx
"Berapa kali… ku harus katakan cinta
Berapa lama… ku harus menunggumu"
Kurasakan hangat sang matahari pagi yang mulai masuk melalui celah jendela kamarku, perlahan cahaya itu memasuki celah mataku dan membangunkanku dari mimpi.
Aku bergegas ke dapur dan tak kutemui seorang pun disana. Padahal biasanya Ia ada disini. Tapi, dimana dia sekarang?
Entah kenapa perasaan cemas mulai muncul. Ku alih kan pandanganku ke arah meja makan. Bagus. Tak ada apapun disana. Hal itu sungguh membuatku semakin cemas (cemas akan dirinya dan juga perutku yang malang ini - -' )
"Fai, kau ini bagai mana sih, Kau tak tahu ini waktunya sarapan?" Aku mencoba mencari sosok itu. Setidaknya kecemasanku akan berkurang ketika melihat senyumnya.
Bagus, Ia bahkan tak kunjung muncul. "Fai, Kau dimana hah? Jangan mencoba lari dariku pemalas!"
Aku terdiam. Sunyi. Kemana ia sebenarnya? Apa mungkin ia masih ada di kamarnya. Aku pun bergegas kekamarnya. "Mengapa tak ada ap-" Aku terdiam. Aku seakan tercekat melihatnya masih terbaring di ranjang. Namun, ia tidak tertidur. wajahnya pucat, ia Nampak sangat lelah.
Dengan cepat aku menghampirinya dan memeriksa suhu tubuhnya. Sial, Ia demam. "Demammu tinggi, biarku ambilkan obat." Jujur saja, aku tak tega meninggalkannya, tapi siapa yang akan mengambilkan obat selain aku? Sakura dan bocah itu tak ada disini dari kemarin.
Tak ada pilihan lain. Akupun hendak mengambilkannya obat. Tapi,baru saja selangkah dari tempatnya. Tanganku tertahan. Tangan itu terasa hangat (tentu saja, iakan sedang sakit), "A-aku tak butuh obat. Diamlah disini!" Ucapannya membuatku terhenti. Aku langsung kembali duduk di kursi di samping kasur itu.
Entah kenapa, ucapanya yang tadi itu berhasil membuatku merasa panas. Entahlah, tapi aku merasa bahwa yang ia katakana adalah, "Jangan pergi dari sisiku!"
"kau tidur saja! aku akan menjagamu." Tanpa membantah sedikit pun, Ia mulai tertidur.
Aku hanya berpikir, mungkin hal ini akan membosankan. Diam disini, dan hanya memandanginya tertidur. tapi… hal itu tak sepenuhnya benar bukan? Katakan padaku siapa yang tak mau melihatnya tertidur semanis ini? Aku yakin mata orang itu bermasalah.
"Diujung gelisah ini aku
Tak sedetikpun tak ingat kamu…"
Benar dugaanku, tiga hari aku menemaninya namun tak sedikit pun rasa bosan menyelubungiku.
Setelah beberapa hari, Sakura dan Bocah itu pun kembali. Tepi, mereka tak hanya berdua, maksudku selain mereka dan benda putih itu, ada Tomoyo-Hime datang berkunjung. Tak kusangka ia akan berkunjung… ku kira ia begitu membenciku hingga kini.
"Bukankah membosankan jika kalian terus berada disini, Kenapa tak mencoba berkeliling atau berpiknik? Lagi pula inikan musim semi" Tomoyo-Hime mencoba membujuk sakura. Sakura tetap diam, "Ayolah untuk kali ini saja!"
"Bagaimana Syaoran?" Ayolah, Kumohon padamu sekali ini saja. Jangan setujui itu.
"Kupikir, Fai-san butuh bersenang-senang setelah hari yang melelahkan kemarin bukan?"
Aku terdiam mendengarnya. Benar juga, aku harus menerima ini. Bagaimana pun ia sampai jatuh sakit karna mereka tak ada.
Tak seperti biasanya. Aku sangat tak menikmati tidurku. Dan tanpa pikir panjang aku tahu penyebabnya. Tomoyo-Hime. Aku tak pernah bisa tidur nyenyak jika memikirkannya. Bagaimana putri yang manis itu bisa berubah menjadi penyihir mengarikan di mimpiku.
Tunggu? Apa yang baru saja kupikirkan? Aku baru saja mengatakan bahwa dirinya 'manis'. Apa yang salah denganku? Putri itu selalu terlihat menyeramkan bagiku! Dan ia sama sekali tidak manis.
Sudahlah, kurasa pikiranku mulai kacau. Aku rasa aku harus pergi untuk mengambil minum. Tanpa pikir panjang, akupun bergegas ke dapur.
"Kuro-chan! Kau ingin membantu?" Suara itu mengejutkanku. Mengapa ia ada disini?
"Diam kau bakpau putih!"
"Jika tak mau membantu untuk apa kau kemari?" mokona tak mau kalah
"A-aku hanya…" lihat, aku benar-benar kacau. Aku bahkan baru menyadari bahwa ada Fai, Sakura, dan Tomoyo-Hime disini.
Tak lama ku dengar tawa kecil Sakura yang membuyarkan lamunanku, "Jika kau ingin meminjam Tomoyo, bawa saja ia. Lagi pula ada Fai dan Mokona yang membantuku. Ya kan, Fai-san?" Tunggu Apa katanya?
"Ano?" Fai Nampak terkejut mendengar pernyataan Sakura. Ayolah Fai, Jangan Katakan 'ya'
Ia pun membuka suara, "Ya. Mungkin kalian butuh menghabiskan waktu diluar." Jawabnya sambil tersenyum. Baiklah, mengapa kau tak membunuhku sekalian hah?
Matahari mulai memancarkan sinarnya. Kami pun siap untuk berangkat. Kurasa aku harus menikmatinya. Bagaimanapun, piknik ini ada untuk Fai, selama ia senang akan hal itu, aku harus menikmatinya.
Namun, satu hal yang membuatku tak menikmatinya. Putri sialan itu. Karnanya, aku terus menghabiskan waktu piknikku ini bersamanya.
"Bukankah mereka pasangan yang cocok?" aku menoleh ke arah sumber suara. Sakura menanyakan hal itu pada Fai "Tomoyo-chan dan Kurogane-san. Mereka pasangan yang manis."
Apa? Pasangan katanya! Kau tahu sakura, ini pertama kalinya aku merasa bahwa aku sangat membencimu.
"Ya…" Kau benar-benar membunuhku.
"..Namun dirimu masih begitu
Acuhkanku tak mau tahu"
Setelah Putri itu pergi, tak ada lagi yang kulakukan. Semua berjalan seperti biasanya. Namun, tak begitu juga. Pikiran itu masih menghantuiku. Jawaban 'ya' dari Fai disetiap pertanyaan yang sakura lontarkan padanya. Kenapa?
Aku harus segera membuang pikiranku ini jauh-jauh. Rasanya, aku bukan siapa-siapa untuknya. Aku tak lebih dari sekedar teman seperjalanannya yang menurutnya menyebalkan. Tak lebih dari itu. Tak lebih. Kucoba memejamkan mataku. Mengusir semua bayangnya.
"Kuro-wan! Ingin bergabung minum teh dengan kami?" baiklah, sampai kapan ia akan pergi dari pikiranku?
"KURORIIIN! Kau dengar aku?" ku hembuskan nafasku. Suara itu bukan berasal dari otakku.
"aku sedang tak berselera" jujur, bukan jawaban itu yang ingin kukatakan, tapi, aku memang sedang tak mau melihat 'wajah'nya karna setiap aku melihatnya. Aku tak merasakan apapun selain rasa sakit.
"Luka, luka, luka yang kurasakan
Bertubi, tubi, tubi engkau berikan
Cinta ku bertepuk sebelah tangan
Tapi aku balas senyum keindahan"
"Jika itu memang keputusanmu, aku tak bisa melarangnya." Aku terkejut mendengar jawaban itu. kau menyetujuinya?
"Kau bersungguh-sungguh kan? Ya ampun! Tomoyo-Chan pasti akan sangat senang kalau kau kembali!" Kuhembuskan nafasku keras. Kurasa aku semakin membencinya.
"Aku mendukungmu. Kejarlah putrimu itu!" Aku tak butuh izin darimu makhluk aneh!
Aku menatapnya, kau tak akan mengizinkannya, bukan? "Kurasa kau tak butuh izin dariku" tunggu, bukan kau makhluk aneh yang kumaksud tadi. "tapi satu hal, aku tak akan meminjamkan mokona untukmu!" Ucapnya memeluk mokona dengan erat. Dan itu pertama kalinya aku berharap aku bisa bertukar posisi dengan bakpau putih itu.
"Kurasa aku memang tak butuh bakpau putih itu."
Aku pergi… dan mungkin takkan kembali? Dan ia tak sama sekali mencegahku?
"Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A
Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A"
"Pernahkah engkau, sejenak mengingat aku,
Pernahkah ingat, walau seperti angin berlalu"
Sabulan berlalu setelah aku pergi. Disini, sekarang aku benar-benar merindukannya. Senyumnya, tawanya, mata birunya, bahkan panggilan-panggilan aneh yang ia berikan padaku.
Mengapa baru kini aku menyadari hal itu? Sesaat setelah aku pergi meninggalkannya. Bahwa, dimanapun aku berada, kapanpun itu… kau selalu dalam benakku.
"Disetiap malam kini aku
tak sedetikpun tak ingat kamu
namun dirimu masih begitu
acuhkanku, tak mau tahu"
Malam ini. Dibawah sinar rembulan. Sinar yang selalu mengingatkanku pada dirinya. Itulah jawaban atas mengapa aku senang tidur diluar. Karna, disini sinar rembulan terasa lebih jelas.
Aku terus berharap, keadaanmu disana baik-baik saja tanpa aku.
"Luka, luka, luka yang kurasakan
Bertubi, tubi, tubi engkau berikan
Cinta ku bertepuk sebelah tangan
Tapi aku balas senyum keindahan"
Hari yang cerah… aku hanya berpikir, apa yang Ia lakukan dihari yang cerah ini di sana? Dan aku hanya bisa tersenyum saat membayangkan apa yang sedang ia lakukan.
Ku lihat merpati pos melewatiku. Entah kenapa hal itu membuatku tak nyaman. Apakah mereka sudah menerima surat dari Tomoyo-Hime?
Ku harap tidak. Jangan pernah. Aku bahkan berharap Fai tak mengetahuinya. Tentang pertunanganku dengan Tomoyo-Hime. Lebih baik ia tak mengetahuinya dan hatinya tak tersakiti karna itu.
Tunggu? Bukannya sekalipun Fai mengetahuinya itu tak akan menjadi masalah untuknya. Ayolah kurogane! Kau harus menerima kenyataan. Fai tak mencintaimu. Mengapa kau terus berpaling dari kenyataan dan beranggapan ia mencintaimu.
"Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A
Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A"
"Luka, luka, luka yang kurasakan
Bertubi, tubi, tubi engkau berikan
Cinta ku bertepuk sebelah tangan
Tapi aku balas senyum keindahan"
"Selamat ya, kalian memang pasangan yang serasi"
"Terima kasih"
Sementara Tomoyo menikmati semua ucapan selamat itu. Aku masih mencari sosok yang belum juga kulihat dari tadi. Apa ia tak datang?
Ini semua membuatku bingung. Disisi lain, aku sangat tak ingin kehadirannya. Namun, disisi lain, aku amat sangat menginginkan kehadirannya. Aku sama sekali tak ingin orang yang aku cintai melihatku bertunangan bersama orang yang tidak kucintai. Namun, aku merindukannya, amat sangat. Aku sangat ingin melihatnya… sekali ini saja. Biarpun untuk yang terakhir kalinya.
"Tomoyo-chan! Aku turut senang atas kebahagiaanmu." Suara yang familiar itu membuatku menoleh kearahnya. Sakura. Itu berarti harus ada Syaoran dan Fai.
"Selamat ya, Kurogane-san."
"Di mana bocah itu?" tanyaku.
"Syaoran? Dia membantu Fai mencari mokona. Ia menghilang begitu saja" Baiklah, itu berarti dia ada disini.
Pesta selesai, dan aku belum juga berbincang dengannya, Apa dia menghindariku?
"Perjalanan kalian jauh. Lebih baik, menginap saja disini semalam."
"Kau memang yang terbaik Tomoyo-Chan!"
"Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A
Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A"
Mulai malam ini, aku tak merasa bebas lagi. Kau tahu bukan? Aku baru saja resmi menjadi tunangan putri kerajaan nihon. Dan itu tak membuat sedikitpun rasa senang dalam hatiku.
Aku terus memikirkan apa yang sebenarnya aku lakuakan. Mengapa aku ingin mencari jawaban dengan cara seperti ini? Orang bodoh macam apa aku, yang ingin mengetahui seseorang menyukaiku dengan cara bertunangan dengan sahabatnya.
Ya, kini aku bisa menerima semua cacian dan makian yang akan kau berikan padaku. Aku memang bodoh, mungkin sekarang dia memang tak mencintaiku. Tapi. Bukankah hal itu mungkin terjadi di masa depan? Dan aku membuat kesalahan dengan bertunanggan dengan orang yang tidak kucintai.
Itulah yang paling membuatku menyesal,bagaimanapun juga, cincinnya sudah terpasang dijariku dan begitu pula sebaliknya. Tapi… sepertinya hatiku tak akan pernah ada di tangannya.
"Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A
Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A"
Kucoba menutup mataku. Melupakan semuanya. Cintaku pada Fai tak mungkin terbalas. Namun tak seharusnya aku menyerah dan bertunangan dengan orang lain.
"Kuro-puu, kau tertidur disini?" baiklah, suara itu kembali menghantuiku tapi ini bukan bayangan, bisikkannya bahkan terasa hangat di telingaku.
"Ugh. Kau?" Aku benar-benar terkejut mendapati seseorang yang berada disebelahku.
"Kau pikir siapa?"
"Tak ada orang yang menggangguku saat tidur selain kau"
"Aku tak bermaksud mengganggu…"
"Tapi aku terganggu!"
"Awalnya aku ingin mencari udara segar, tapi.. maaf jika aku mengganggu mu" Ia , apa aku baru saja mengusirnya?
Kutarik tangannya dengan tangan kiriku. Ia terjatuh tepat di hadapanku dan jarak antara kita saat ini terbilang dekat. Aku mulai memanas, namun perubahan tak kulihat di wajahnya ia masih terlihat tenang seperti biasa. Mengapa kau bisa…?
Entah apa yang aku pikirkan. Kutarik wajahnya, hingga jari-jariku dapat merasakan lembut wajahnya. Dan lewat hitungan detik aku dapat merasakan lembut bibirnya. Tak ada perlawanan,tak ada balasan.
Perlahan aku melepasnya dan kemudian membisikan satu kata yang mungkit belum pernah kuucapkan padanya, "Aishiteru"
Wkwkwk… makin kacau aja fic-song saya ini…
Reviewnya jangan lupa :)
Wait for Next Chapter! It Will Come Soon :D
