7 Years

By Kitsune-chan

Based On Manga Dear Mine By Shigeru Takao

Rated : T

Pairing : Sudah pasti Babe dan emak tercinta, Yunjae! Dan sedikit Sijae..

Genre : Romance, Comedy, Family

Disclaimer : FF ini milik Kitsu terinspirasi dari manga Dear Mine.

Warning : YAOI, penuh typos dan ke-Gaje-an serta keanehan lainnya.

Summary : Kim Jaejoong murid SMU yang hidup berdua bersama ibunya. Karena sang ibu menjadi penjamin hutang perusahaan sebesar 1 MILYAR, membuat Jaejoong harus menikah dengan seorang namja berusia 7 TAHUN LEBIH MUDA darinya.

"Apa ibu bercanda! Aku harus menikah dengan seorang anak yang umurnya 7 tahun LEBIH MUDA dariku! Terlebih dia juga seorang NAMJA bu!"

"Bersedia atau tidak… Kau harus jadi ISTRIKU, Kim Jaejoong!"

This is his story…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Previous Chapter

Dengan perlahan Jaejoong melangkahkan kakinya kedalam ruang kerja yang sangat luas. 'Tidak ada siapa pun. Mungkin sosok itu ada dibalik kursi putar besar di balik meja kerja itu.' Tebak Jaejoong dalam hati.

"Tuan, Jaejoong-ssi datang ingin memberi salam." Ucap Yoochun mendekati kursi besar tempat sosok tuannya berada.

Perlahan kursi itu berputar guna menghadap Jaejoong.

"Jaejoong-ssi, perkenalkan beliau adalah tuan kami Tuan Jung Yunho. Tunangan anda!"

"Annyeo… EH! TUNANGANKU!" Seru Jaejoong menatap terkejut pada Yoochun dengan mata bulatnya yang membesar. Segera dialihkan pandangannya ke sosok 'sang tunangan' hendak protes hingga akhirnya mata bulat itu semakin membesar. "EH! KAU! BOCAH BEKAL MAKAN SIANG!"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-Chapter One-

Jaejoong menatap terkejut bocah yang ada dihadapannya. Akal sehatnya masih tidak menerima bocah berumur 10 tahun yang kini menatapnya tajam merupakan seorang presdir dan yang terpentinga adalah TUNANGANNYA.

'apa aku sedang dijebak oleh sebuah program televisi? Tapi dimana kameranya? Atau ini sebuah lelucon? Tidak mungkin bocah umur 10 tahun ini tunanganku kan!' Racau Jaejoong dalam hati. Ekspresi wajahnya terus berubah-ubah. Terkadang tangannya memegang dagu seolah berpikir dan kini namja cantik itu menggaruk kepalanya seperti orang stress sebelum akhirnya ia mematung dengan wajah cengok.

"Tolong bersikaplah yang anggun, tunanganku tersayang! Mulai saat ini kau adalah tunangan dari seorang Jung Yunho! Jadi jaga sikapmu!" Tegur Yunho dengan angkuh. Namja 10 tahun ini duduk dikursi presdirnya dengan ekspresi wajah bak seorang raja.

"Tu…Tunggu dulu! Ini serius, bukan bercanda? Bagaimana bisa aku menjadi tunanganmu? Kita sama-sama namja dan yang paling penting jarak umur kita 10 tahun!" Protes Jaejoong. Ya! Hal ini benar-benar membuatnya stress.

Yoochun memberi isyarat mata pada tuan mudanya meminta ijin umtuk menjelaskan masalah pertunangan ini yang dibalas anggukan oleh sang tuan muda. Yoochun membungkukan badannya memberi hormat kepada sang tuan muda sebelum mempersilahkan Jaejoong duduk di sofa yang terdapat diruang kerja itu.

"Silahkan Jaejoong-ssi meminum teh ini. Ini akan membuat anda sedikit merasa tenang. Saya akan menjelaskan masalah pertunangan ini."

Jaejoong menyesap teh yang telah dituangkan Yoochun. Dan benar, setelah meminum sedikit teh itu, Jaejoong merasa sedikit tenang dan pikirannya yang tadi sangat kacau jadi sedikit lebih jernih.

Yoochun yang melihat perubahan ekspresi Jaejoong yang menjadi sedikit tenang, tersenyum simpul dan memulai memberikan penjelasan. "Pertama-tama saya akan menjelaskan alasan kenapa ibu anda pindah ketempat kami."

"Perusahaan tempat ibu anda bekerja mengalami kebangkrutan karena kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh sang direktur yang merupakan teman ibu anda. Hal ini menyebabkan perusahaan tersebut memiliki hutang yang tidak sedikit. Dan sang direktur yang bertanggungjawab atas kasus ini tiba-tiba saja menghilang. Hal ini menyebabkan ibu anda yang menjadi penjamin atas hutang-hutang tersebut yang harus mengembalikan semua dana tersebut."

Sriiing….

Yoochun menghentikan penjelasannya saat melihat wajah putih Jaejoong berubah pucat dan dihiasi keringat dingin.

"Jadi… itu alasan pertunangan konyol ini?" Tanya Jaejoong dengan suara yang lemah dan bergetar. Segala pikiran buruk melintasi pikirannya.

Yoochun kembali menuangkan teh yang segera disesap oleh Jaejoong guna menjernihkan kembali pikirannya agar dapat menerima penjelasan Yoochun.

"Bukan. Anda salah. Pertunangan ini terjadi jauh sebelum anda lahir. Almarhum Tuan Kim dulu merupakan sahabat baik sekaligus rekan bisnis dari almarhun Tuan Besar Jung. Pada suatu pertemuan keluarga, Tuan Besar dan Tuan Kim memutuskan menjodohkan anak pertama mereka. Dan untuk menjaga perjanjian ini, masing-masing kepala keluarga memutuskan menandatangani surat perjanjian dan akan mengenakan denda bagi yang melanggar."

"Ketika almarhum Tuan Besar yang wafat beberapa hari lalu mendengar musibah yang menimpa ibu anda. Beliau memutuskan untuk membayar lunas semua hutang ibu anda. Ini karena beliau mengingat surat perjanjian lama antara keluarga Jung dan keluarga Kim." Ucap Yoochun mengakhiri penjelasannya.

"Jadi… ini semua terjadi karena perbuatan konyol para orang tua?" Ujar Jaejoong mencoba menarik kesimpulan.

"Walaupun pertunangan ini diatur oleh orang tua kita, aku sudah sangat menunggu-nunggu untuk dapat bertemu denganmu. Dan sikap penolakanmu itu sangat menyakitiku Boojae." Sahut Yunho yang menopang kepalanya dengan tangan. Mata musangnya terpejam.

Jaejoong menatap sosok namja kecil itu. Entah kenapa hatinya terasa perih mendengar ucapan 'sang tunangan'. 'umma benar ada disini kan?' 'Ne, tentu saja Jaejoong-ssi'.

Ctik!

Urat kesabaran Jaejoong terputus saat mengingat umma bodohnya.

"Yoochun-ssi kalau boleh tahu dimana umma tercintaku ya?" Tanya Jaejoong dengan senyum iblisnya.

Entah kenapa keringat dingin muncul diwajah chubby sang sekretaris. Ditambah dengan perasaan tidak enak yang muncul tiba-tiba, " ano~ itu…"

"UMMA!"

BLAM!

Pintu jati perpustakaan itu dibuka kasar oleh sang namja cantik. Perpustakaan yang tertata rapi dengan gaya klasik itu tampak sepi. Padahal seharusnya ibu dari sang namja cantik ada disana menunggu putra tersayangnya.

"Aneh. Padahal kami memintanya untuk menunggu anda disini." Ujar Yoochun sambil mencari kesekeliling perpustakaan.

Tap…tap…tap…

Tanpa memperdulikan ucapan Yoochun, dengan langkah gusar Jaejoong menuju kesebuah baju besi yang terpajang di perpustakaan itu.

Bruaak!

Klontang…

"UMMA!"

"Mi…mianhe ne Joongie~~~ Habis umma takut Joongie akan marah kalau tahu hal ini~" ujar Heechul yang terbalut jubah besi yang tadi ditendang Jaejoong sambil bersimpuh memohon ampun.

"Percuma saja! Aku sekarang sudah marah! Benarkah soal pertunangan dan denda itu!"

-angguk-

"Soal hutang perusahaan juga!"

-angguk-

"BERAPA!"

-bisik-bisik- "sa..satu mi..miliyar~~"

"…."

"…."

-Pingsan-

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Hiks…hiks… Kenapa umma bisa sebodoh ini… Hiks… Umma benar-benar jahat padaku…"

"Maafkan umma Joongie~ Umma tidak tahu harus bagaimana~"

"Hiks~~"

Yunho menatap adegan dramatis antara ibu dan anak itu dengan pandangan bosan. Diputar manic matanya dengan bosan. 'sungguh mengharukan.' Gumamnya sarkastik.

Yoochun yang melihat raut wajah sang tuan muda tersenyum maklum dan mendekati tempat tidur Jaejoong, mendekati ibu dan anak yang kini sedang berpelukan itu.

"Nyonya, mari kita tinggalkan tuan Jaejoong. Biarkan tuan Jaejoong beristrahat agar ia lebih tenang."

-angguk-

"Tuan Jaejoong silahkan anda beristirahat. Mungkin anda tadi pingsan karena tekanan masalah dan perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Saya harap besok pagi kondisi anda membaik." Ucap Yoochun kemudian membungkuk memberi hormat.

"hiks…" –angguk-

Yunho menatap sosok Jaejoong yang kini menekuk dan memeluk kedua lututnya. Kepalanya ia tundukkan diantara kedua lutut. Defense pose. Posisi yang biasa diambil bila dalam kondisi tertekan. Mata musang itu kini dipenuhi raut sedih dan kecewa.

Tap…tap..tap…

"Ayo, biarkan ia beristirahat."

"Baik tuan. Mari nyonya, saya antar anda ke kamar." Sahut Yoochun.

Jaejoong P.O.V

'Capek~ kenapa aku harus menanggung sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu?'

'benar! Aku tidak perlu menjalani sesuatu yang bukan menjadi keputusanku! Ini kan sesuatu yang diputuskan sepihak oleh para orang tua!' Jaejoong menegakkan kepalanya dengan tangan terkepal penuh keyakinan.

'Satu Milyar!'

"Akh! Dasar umma pabbo!"

'kenapa umma bisa sebodoh itu! Geez!'

"Tidak! Aku tidak boleh begini terus! Kalau marah dan sedih terus, aku tidak akan bisa merasa senang dan bahagia! Aku harus melakukan apa yang membuatku semangat!"

'Siwon-ssi~'

Blush…

Jaejoong P.O.V end

=dapur kediaman Jung=

Shh… shh…

"Apa yang sedang kau kerjakan?" Tanya Yunho yang bersandar pada kusen pintu dapur.

Jaejoong yang sedang mempersiapkan kotak bekal terperanjat kaget. Dengan gugup ia berpura-pura tetap fokus menata kotak bekal, " Ah~ aku sedang membuat bekal untuk besok."

"Suruh koki saja."

"Jangan! A… Maksudku… aku suka membuat bekal sendiri." Sergah Jaejoong cepat. Tubuhnya ia hadapkan ke arah Yunho sambil berusaha menutupi kotak bekal yang ia siapkan.

Yunho melirik curiga kearah kotak bekal yang berusaha ditutupi Jaejoong. 'lebih banyak dari porsi bekal makan siang waktu itu. Jangan-jangan… hm…'

"1 MILYAR!"

Deg!

Tubuh Jaejoong tiba-tiba terperanjat. Menyebabkan beberapa makanan yang ia tata hancur.

"A..APA SIH!"

"Aku tahu kamu menyiapkan kotak bekal untuk orang yang kau sukai kan?"

Mata musang itu menatapnya tajam. 'kenapa dia bisa tahu sih' gumam Jaejoong dalam hati. Keringat dingin membasahi wajah putih itu.

Tap…tap…tap…

Namja kecil itu mendekati namja cantik yang kini tampak gelisah. Entah kenapa mata musang itu seolah-olah membuatnya menjadi kecil. Padahal yang lebih tua itu kan si namja cantik. Kenapa jadi dia yang seperti anak kecil yang diintimidasi.

"Seperti yang sudah aku katakana, aku sudah lama menunggumu…." Kini jarak antara Yunho dan Jaejoong kurang dari 1 meter.

Sret!

Yunho menarik kuat lengan Jaejoong sehingga namja cantik itu terbungkuk sehingga wajah mereka jadi sangat dekat.

Cup..

"mmmmhmmm… Ah! Mmhhmmm… Ng! mhhh…. Puah… Ya! Apa yang kau! Akh!"

Dengan paksa kembali Yunho mencium bibir plum berwarna cherry itu. Tidak dihiraukannya rontaan dari namja cantik yang lebih tua 7 tahun darinya. "Hmmmm…Ah! Mmmhhnnng…. Ng!..Puah! hah…ha…ha…hah.."

Setelah puas dengan bibir menggoda itu. Namja bermata musang itu beralih menyerang leher jenjang berwarna putih guna member tanda kepemilikan. Jaejoong yang sudah lemas karena ciuman tadi sudah tidak dapat memberikan perlawanan dan hanya bisa pasrah.

Bruk!

Kaki Jaejoong yang lemas sudah tidak dapat menopang berat tubuhnya mengakibatkan Jaejoong jatuh terduduk dengan wajah memerah semerah tomat. Nafas terburu. Mata doe itu membesar. Benar-benar menggoda. Mata musang itu menatap puas pada sosok 'buruannya'. Dengan angkuh di dongakkan wajah kecilnya.

"karena itu. Bersedia atau tidak… Kau harus jadi ISTRIKU, Kim Jaejoong!"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"AKH! Aku bangun kesiangan! Ini karena bocah menyebalkan itu! Gara-gara kemarin malam aku…"

Blush…

"AKH! Jangan ingat-ingat lagi! Aku harus cepat-cepat menyiapkan sarapan untuk umma!" seru Jaejoong sambil kembali berlari di lorong panjang untuk menuju ruang makan. Sebuah senyum kecil terukir diwajah cantiknya.

=Ruang Makan Kediaman Jung=

Jaejoong mematung di depan pintu megah ruang makan yang sedikit terbuka. Matanya menatap sendu sosok sang umma yang tampak sedang sarapan dengan bahagia. Samar-samar didengarnya suara ceria sang umma yang sedang bercakap-cakap dengan Yoochun.

"Sepertinya umma sudah sarapan." Gumamnya lirih dengan sebuah senyum sendu. Dilangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu. Tanpa ia sadari, sepasang mata musang yang sejak tadi memperhatikannya dari ruang makan. Sang pemilik musang itu kembali menyesap morning teanya.

=Shinki International High School=

=1.1 class=

Jaejoong P.O.V

-flashback-

"mian umma! I'm late! Untuk sarapan umma beli saja ya!"

"Eehh! ANDWE! Umma tidak mau sarapan kalau bukan masakan Joongie! Lebih baik umma mati kelaparan saja!"

"Akh umma! Kenapa manja sekali sih! Ya! Jangan tidur lagi! Baik-baik aku buatkan!"

-flashback end-

'Sepertinya umma bahagia. Dasar umma bodoh! Tidak sensitive dan selalu kekanak-kanakkan! Ceroboh!' Gerutu Jaejoong dalam hati. Kedua tangannya semakin terkepal dengan kuat. Wajah cantiknya tampak sangat kesal. Namun kini wajah cantik itu berubah sendu. Tangannya tadi terkepal kini bertumpu diatas mejanya. 'walaupun hidup dengan sulit… aku lebih bahagia hidup berdua saja dengan umma.' Gumam Jaejoong dalam hati. Dibenamkan wajahnya ditumpuan tangannya.

Teng..Teng..Teng..

"Baiklah. Pelajaran untuk hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa kerjakan tugas kalian!"

"Baik Lee-Sonsaengnim!"

Jaejoong segera merapikan buku-bukunya. Sebuah tepukan dibahu menghentikan kegiatannya.

"Jaejoong-ssi sekarang giliran kita yang piket kan?" Tanya Siwon yang kini sudah mengenggam sapu.

Blush…

Semburat merah kini menghiasi wajah putih Jaejoong. "Ne!"

"Ah~ aku dengar 3 hari lagi Lee-sonsaengnim akan menikah. Kira-kira seperti apa ya calon istrinya? Dia kan sangat galak!" Ujar Siwon mencoba mencari topik pembicaraan. Dengan tubuhnya yang jangkung. Sangat mudah baginya menghapus bagian atas papan.

"Hm~ aku juga sangat penasaran. Tapi walaupun galak, Lee-sonsaengnim sebenarnya sangat baik." sahut Jaejoong. Tangannya dengan lincah menata buku tugas yang akan dikumpul ke ruang guru.

"Ne. Makanya kita semua mengharapkan pernikahannya harus membahagiakan, kan?" Sahut balik Siwon yang kini menghadapkan tubuhnya ke arah Jaejoong.

Jaejoong menegakkan tubuhnya yang tadi agak bungkuk dan balik menatap Siwon. 'benar! Kebahagiaan itu adalah bila kita bisa hidup dengan orang yang kita cintai! Baiklah! Sudah kuputuskan akan menolak dengan tegas pertunangan itu!'.

Greek…

Jaejoong dan Siwon menoleh ke arah pintu yang kini terbuka dan menampilkan sosok namja berwajah imut.

"Siwon-ssi!" panggil namja itu sambil menggerak-gerakkan tangannya ke arah Siwon.

"Tunggu sebentar ne Jaejoong-ssi."

-angguk-

"Mian ne Jaejoong-ssi sudah membiarkanmu melakukan tugas piket sendiri." Ucap Siwon sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Ne. Gwenchana… Tadi itu Kim Kibum kan? Ketua teater." Ucap Jaejoong. Sengaja ia perlambat langkah kakinya –yang diikuti oleh Siwon- agar dapat lebih lama bersama-sama Siwon. Saat ini mereka sedang menuju ruang guru untuk mengumpulkan buku tugas kelas.

"Ne. Tadi membicarakan acara untuk musim semi ini."

"Wajahnya cantik, pintar dan merupakan ketua teater. Aku dengar juga pandai bernyanyi. Pasti ia sangat popular."

"Ne, tapi ia sama sekali tidak bisa memasak! Hahahahaha…" tawa renyah Siwon.

'Ah! Saatnya mengajak makan siang bersama!' Ucap Jaejoong semangat dalam hati.

"Walaupun begitu, tetap saja ia sangat popular."

'akh! Kesempatannya hilang…'

"Pasti banyak yang iri dan cemburu pada kekasih Kibum-ssi ya…" Sahut Jaejoong dengan sedikit lemas. Kesempatan emasnya untuk mengajak Siwon makan siang bersama telah hilang.

"Ne! Banyak sekali yang iri dan cemburu padaku karena berhasil mengencani pangeran es itu!" Sahut Siwon bangga. Senyum lebar terukir diwajah tampan itu memperlihatkan lesung pipinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

=Taman belakang Shinki International High School=

"Hiks…hiks… Aku memang terlalu polos… Terlalu percaya diri… hiks…" Jaejoong menatap kotak bekal makan siang yang telah ia buat dengan susah payah. Tidak dihiraukannya air mata yang mengalir bebas membasahi pipi putihnya.

'Jadi Siwon-ssi sudah memiliki orang special untuk membicarakan pernikahan bahagia. Kebahagian dapat hidup bersama dengan orang dicintai melebihi segalanya.'

Air mata semakin membasahi pipi putihnya. Hari ini hari yang sangat menyedihkan bagi Jaejoong. Hingga tidak menyadari sosok sang tunangan yang kini berdiri didekatnya dan mengambil salah satu kotak bekal yang tadinya ia siapkan untuk Siwon.

"Inilah yang terjadi kalau kau ingin berselingkuh dibelakangku. Dasar tunangan bodoh!"

Jaejoong dengan segera menegakkan tubuhnya. Menatap tidak percaya sosok yunho yang kini dengan santai membuka bekal yang ada ditangannya.

"Yunho!" Seru Jaejoong kaget.

"Sumpit!"

"Ah, ini…" -menyerahkan sumpit dengan polos-

"Akh! Bukan saatnya menyerahkan sumpit! Tapi kenapa…"

"Aku sedang ingin makan diluar!" Sahut Yunho cepat sebelum Jaejoong sempat bertanya.

Jaejoong melirik tidak percaya pada Yunho. Bagaimana pun walau ia sendiri tidak mengerti, Jaejoong selalu merasa terintimidasi oleh bocah berumur 10 tahun yang kini dengan santai menyantap bekal makan siang buatannya.

"Aku akan memakan semuanya. Temasuk bekal yang kau siapkan untuk umma Kim yang tadi pagi." Ujar Yunho tiba-tiba membuat Jaejoong tertegun. 'Bagaimana ia bisa tahu?' Tanya Jaejoong dalam hati.

"Dasar orang-orang bodoh. Melewatkan makanan selezat ini. Mereka harus menyesal."

Kembali air mata membasahi pipi putih Jaejoong. Kini ia mengerti, bocah tunangannya ini sedang berusaha menghiburnya. Benar-benar anak yang aneh. Kadang baik tapi kadang bersikap menyebalkan.

"Berhenti menangis. Wajahmu itu membuat orang ingin mengerjaimu tahu!" Ucap Yunho yang Jaejoong yakin pasti dimaksud untuk menghiburnya.

Yunho meletakkan kotak bekal yang kini sudah kosong dan bangkit untuk mendekati Jaejoong. Kedua tangan mungilnya menangkup wajah cantik Jaejoong yang masih basah oleh sisa-sisa air mata. Posisi Jaejoong yang kini tengah duduk membuat Yunho yang berdiri menjadi lebih tinggi sehingga ia harus mendongak. Mata doe itu dapat melihat mata musang itu tersorot jahil ditambah bibir hati itu menyeringai. 'bahaya!' Teriak akal sehat Jaejoong. Tapi terlambat…

"Karena kau berniat selingkuh, kau harus dihukum!"

Cup…

"Hmmmmng! Cpak… hmmmng… ah! Hmmnghhhh….. hah…ha… yuunn… mmhh!" desah Jaejoong disela-sela ciuman Yunho. Kepalanya terasa pening karena ciuman panas Yunho menguras pasokan oksigennya.

"Hmmmngg… Puah! Ng! mhhhhmmmngggg… hah…hah…ha…" Puas dengan bibir pulm menggoda itu. Yunho hendak beralih keleherputih jenjang yang kemarin malam ia beri tanda. Tapi ditempat yang ia tandai tertutup sebuah plester bergambar gajah. Membuat sebuah senyum geli terukir.

"Percuma kau menutupi tanda kepemilikan ini dengan plester karena aku akan membuat semakin banyak tanda yang tidak akan bisa kau tutupi!" ujar Yunho sebelum menyerang leher putih Jaejoong. Jaejoong yang sudah lemas hanya bisa pasrah. Wajah cantiknya memerah. Tanpa ia sadari, ia menikmati ciuman Yunho tadi.

"Mmmmhhmm… puah…" Yunho mengusap bibirnya. Mata musangnya tampak bersinar puas saat melihat leher putih Jaejoong yang kini terdapat banyak tanda merah sebagai tanda kepemilikannya. Dilihatnya wajah Jaejoong yang semakin memerah. Nafasnya terburu. Mata doe yang nampak sayu. Sungguh menggoda.

Dikecupnya ringan bibir plump yang kini membengkak. Kemudian berbisik ditelinga tunangan cantiknya, "Ini hukumanmu. Jadi jangan coba-coba untuk berselingkuh lagi. Otte?".

Jaejoong yang kini pikirannya berkabut hanya dapat mengangguk. Membuat Yunho tersenyum puas. Dibelainya pipi putih Jaejoong dan member kecupan ringan. "Good boy! Kalau begitu, aku pergi. Sampai jumpa dirumah tunangan cantikku!"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

=Ruang Rapat Jung's Corp.=

Brak!

Pintu ruang rapat itu terbuka keras. Menampakkan sosok namja 10 tahun yang menatap dingin penghuni ruangan itu dengan mata musangnya.

"Tuan Yunho!" seru kaget para namja tua yang kaget akan kehadiran sang bocah.

"Ku dengar ada rapat penting membahas masalah keuangan perusahaan. Jadi aku datang kemari walaupun tidak diundang." Ujar Yunho sambil melangkah ke kursi presdirnya.

"Jadi… ada masalah besar apa sebenarnya sampai kalian LUPA untuk memberitahuku? Hmm?" Tanya Yunho dengan senyum dingin.

Para namja tua itu hanya dapat menundukkan wajah untuk menyembunyikan raut kesal mereka.

[ Dasar! Biarpun ini atas perintah ketua tetap saja… Mengangkat anak berumur 10 tahun sebagai pemimpin grup Jung. Ini lelucon yang sangat tidak lucu!]

[ Menyedihkan! Aku yakin perusahaan ini akan hancur ditangan bocah yang tidak mengerti apapun dan hanya mengandalkan kekuatan ketua!]

[ Menyebalkan! Tiap hari anak itu semakin mirip perempuan itu. Istri almarhum ketua yang angkuh. Perempuan miskin penggoda yang sombong!]

Yunho P.O.V

'aku tak peduli apa yang kalian katakan. Kalian para orang tua penggila harta tidak akan tahu apa yang dibutuhkan untuk menjalankan perusahaan ini dan membuatnya semakin besar. Kalian para orang tua tidak akan bisa mengalahkanku, bocah berumur 10 tahun! Aku sangat membenci kalian!'

Aku menatap para direktur dan para pemegang saham yang ada di ruang rapat ini dengan senyum palsu. Tidak akan kubiarkan mereka mengalahkanku. Karena aku Jung Yunho!

Yunho P.O.V end

=Kediaman Jung=

Pukul 23.45

"Huahm… Ya,ampun untuk ke dapur saja jaraknya jauh sekali. Istana ini benar-benar luas." Ujar Jaejoong yang baru saja dari dapur untuk membuat segelas susu coklat panas.

"Ah… Ruangan itu kan ruang kerja Yunho." Jaejoong terpaku saat mengintip dari celah pintu ruang kerja Yunho yang sedikit terbuka. Lampu ruangan itu masih menyala padahal sudah hampir tengah malam.

Jaejoong tersentak. Mata doe-nya membulat. Dari celah pintu, ia dapat mengintip sosok mungil Yunho yang tampak serius bekerja. Mata musangnya yang tajam tertutup bingkai kacamata memantulkan cahaya layar computer. Bertumpuk laporan menjadi penghias meja kerjanya.

Tubuh Jaejoong terbaring terlentang diatas kasurnya yang nyaman. Mata doe-nya belum tertutup dan kini memandang langit-langit kamarnya yang tinggi.

"Apa benar bocah itu berumur 10 tahun? Gara-gara bangun tengah malam aku jadi melihat pemandangan seperti itu. Bocah itu… terlalu keras pada dirinya sendiri." Kalimat terakhir Jaejoong ucapkan dengan lirih. Namja cantik itu membalikan posisi badannya agar dapat memeluk boneka gajah besar berwarna abu kesayangannya. Wajah cantiknya tampak gundah entah karena apa.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

=Taman Samping Kediaman Jung=

Jaejoong tampak duduk santai menikmati suasana sore yang tenang. Gemericik suara kolam di samping gazebo tempatnya bersantai menambah hanyut suasana. Diatas meja tempatnya duduk terdapat teh dan beberapa kue yang sama sekali belum disentuhnya. Entah kenapa sosok Yunho yang kemarin malam ia lihat terus teringat diotaknya.

Srak..

"Ng!"

'aegya?'

Dari balik semak-semak muncul sesosok aegya yang mengintip Jaejoong. Sebuah senyum terukir diwajah cantiknya. Diambilnya beberapa kue untuk memancing anak itu mendekat.

"Hai… Kau mau kue? Kamu datang dari mana?"

Srak…

Kembali anak itu bersembunyi. Namun tak lama ia kembali mngintip Jaejoong.

"Ayo sini. Aku akan memberikan kue ini untuk mu."

Merasa aman, anak itu menampakkan seluruh badannya dan berlari ke arah Jaejoong sambil meneriakan panggilan yang Jaejoong tidak duga, "Umma!"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

=Ruang Kerja Yunho=

Bruk!

"Fuah~ ini sudah semua aku koreksi dan tanda tangani!"

"Terima kasih atas kerja keras anda." Ucap Yoochun sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Cepat serahkan balasan untuk laporan dari bagian pengembangan. Dan untuk bagian humas, suruh mereka perbaiki laporannya baru akan aku tanda tangani."

"Baik tuan Yunho."

Yoochun menatap seksama sosok tuan mudanya sebelum mendekat dan meletakkan telapak tangan kanannya ke kening sang presdir. "Anda sedikit hangat dan wajah anda tampak sangat pucat. Anda harus beristirahat tuan."

"Aku baik-baik saja." Sahut Yunho dan menyingkirkan tangan Yoochun dari keningnya.

Brak!

"Yunho! Aku menemukan anak yang tersesat!" Seru Jaejoong yang muncul dengan tiba-tiba. Tangan kanannya tampak menggandeng sesuatu yang tidak dapat terlihat dari posisi Yunho duduk karena terhalang meja kerjanya.

Hup!

"Aku menemukan anak ini di taman samping! Dia memanggilku umma!" Seru Jaejoong heboh. Ia mengangkat sosok aegya namja dengan mengapit kedua ketiak aegya itu.

"Minne-ah!" Panggil Yunho dengan wajah gembira saat melihat sosok aegya tersebut.

=Ruang Tengah Kediaman Jung=

Jaejoong tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari pemandangan Yunho yang kini tengah bermain dengan sosok aegya bernama Jung Changmin. Yoochun yang melihat itu mendekati tempat Jaejoong duduk dan tersenyum.

"Tuan Changmin adalah adik Tuan Yunho, umur mereka beda 8 tahun. Beberapa bulan ini, selama Tuan Yunho berada di luar negeri, Tuan Changmin tinggal di rumah peristirahatan nyonya besar… nenek Tuan Yunho."

Jaejoong menoleh ke arah Yoochun sesaat sebelum akhirnya kembali mengamati Yunho dan Changmin. "Saat ini ia benar-benar terlihat seperti bocah berumur 10 tahun. Sangat polos."

"Apa yang kalian bicarakan? Oya Joongie, walau terlambat perkenalkan, dia Jung Changmin, putra kedua keluarga Jung. Tahun ini umurnya 2 tahun. Aku kaget kenapa si little evil ini bisa sampai disini." Ujar Yunho sambil mencubit pipi gembul Changmin.

"Aigoo… imutnya!" Seru Heechul yang sedari tadi gemas melihat kelucuan Changmin dan segera meraup tubuh gembil Changmin kepelukannya.

Jaejoong yang tadinya ikut bercanda dengan Changmin tiba-tiba tertegun saat ingat panggilan Changmin saat ia temukan.

'Umma!'

"Yunho, apa aku mirip dengan ibu kalian?"

-Yunho dan Yoochun tertegun, tubuh sedikit gemetar-

"Buahahahahahaha!"

=Kamar Nyonya Jung=

Jaejoong menatap takjub lukisan nyonya Jung dengan ukuran besar itu. Sosok yeoja cantik dan anggun dengan aura yang sangat kuat. Sosok yang pastinya sangat berpengaruh dalam kehidupan Yunho.

Seketika rasa malu menampar Jaejoong yang kini merasa terlalu percaya diri karena Changmin sempat memanggilnya umma, "Habis tadi Minnie mamanggilku umma!"

"Minnie memang selalu memanggil wanita yang ia sukai dengan sebutan umma. Maid dan babysitter juga ia sebut umma." Sahut Yunho dengan senyum jahil.

"Nyonya Jung adalah sosok yeoja yang sangat keras dalam mendidik Tuan Yunho yang merupak penerus keluarga Jung. Ini demi memastikan Tuan Yunho tidak akan gagal menjadi seorang pemimpin yang disegani. Karena itu, beliau menjadi yang terbaik dalam segala hal, tidak perduli walau usia Tuan Yunho masih sangat kecil." Ujar Yoochun member penjelasan.

Yunho menatap wajah tersenyum Yoochun dan bergumam, "Karena itu kau berusaha untuk menjadi sosok umma bagiku kan, Yoochun." Yoochun semakin tersenyum lebar kearah sang tuan sebelum menganggukan kepalanya.

Jaejoong menatap takjub sosok Yunho, "Apa kau tidak merasa tertekan dengan cara umma mu?"

"Kenapa harus begitu? Pemimpin di keluarga Jung adalah RAJA!" Sahut Yunho mantap.

"Aku mengagumi sosoknya. Dia tidak pernah menunjukkan sisi lembut seorang ibu. Karena itu aku tidak tahu apa ia bisa disebut ibu yang baik atau tidak. Dia sendiri mengajariku bagaimana caranya bertahan hidup di keluarga Jung!"

"tapi, ia telah meninggalkan teman selucu ini, aku berterima kasih padanya." Ucap Yunho sambil mengecup dahi Changmin yang kini sedang duduk dipangkuan Jaejoong.

'Kenapa ia berbicara seolah-olah semua orang adalah musuhnya? Bila aku tidak mirip dengan ibunya, lalu apa yang sebenarnya membuat ia mau menerima pertunangan ini dan menikah denganku?' gumam Jaejoong dalam hati.

Bruk!

Tiba-tiba saja tubuh Yunho terbaring dilantai. Pingsan.

"Tuan Yunho!"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Anemia karena kelelahan dan kurang istirahat. Selain itu adanya tekanan fisik dan mental yang berlebih. Sangat menyedihkan melihat gejala seperti ini terjadi pada anak berusia 10 tahun." Ujar Yoochun sambil mengganti kain kompres pada dahi Yunho yang kini tertidur lemah diatas ranjangnya.

Jaejoong duduk disamping ranjang Yunho. Mengamati wajah bocah yang kini tampak tidak nyaman itu. Digenggamnya tangan mungil Yunho. Berusaha member semangat agar bocah angkuh itu lekas sembuh.

"Terkadang, aku sering lupa bahwa ia hanya berumur 10 tahun. Ini karena sosoknya tampak seperti orang dewasa. Mampu melakukan segala hal dengan baik."

"Kenapa bocah 10 tahun sepertinya harus berusaha sekeras ini? "

Gerakan tangan Yoochun memeras handuk bekas kompres terhenti sesaat. Raut wajahnya mengeras, "Ini demi almarhum Nyonya Jung."

"Keluarga Jung merupakan keluarga terhormat yang memiliki darah bangsawan. Memiliki hubungan darah dengan keturunan keluarga kerajaan. Banyak kerabat yang merasa segan dan menghormati keluarga ini, bukan saja karena 'darah Jung' tapi karena pengaruhnya di dunia social dan perekonomian. Kehadiran Nyonya Jung sebagai menantu keluarga utama yang berasal dari rakyat biasa dianggap telah memberi noda hitam bagi keluarga Jung yang memiliki harga diri tinggi."

"Segala hinaan, tatapan merendahkan serta perlakuan kejam telah diterima oleh Nyonya. Andai Jaejoong-ssi yang berada dalam posisi tuan muda. Apa yang akan anda lakukan?"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

=Kamar Yunho=

-2 hari kemudian-

"Cepat minum obatmu Tuan Muda Yunho!"

"Eigh!"

"Buka mulutmu!"

"Hump!"

"Dasar bocah tengik!"

Dengan paksa, Jaejoong membuka tangan mungil Yunho yang dengan gigih menutup mulut mungilnya. Namun apadaya, perbedaan usia 7 tahun membuat tenaga Jaejoong lebih kuat dari Yunho jadi dengan mudah ia membuka kedua tangan mungil itu dan dengan paksa memasukan obat kedalam mulut kecil namja bermata musang.

"PAHIT!"

Yunho membandingkan dua benda berbeda yang ada dikedua tangannya.

-kanan : obat, kiri : permen- -kanan : pahit, kiri : manis-

Dimakannya permen itu.

Brak!

"Yunnie-ya! Kau sudah bangun?" Seru Heechul dengan riang.

Yunho, Jaejoong dan Yoochun menoleh kearah Heechul. Yoochun membungkukan sedikit badannya guna member hormat.

"Yunnie-ya, aku pinjam putra cantikku sebentar ya." Ucap Heechul sebelum akhirnya menyeret Jaejoong keluar tanpa menunggu ijin Yunho.

Yunho menoleh kearah Yoochun mencari jawaban atas tindakan Heechul yang tiba-tiba. Yoochun hanya dapat menggendikan bahunya.

Sret..

"Akh, tuan mau kemana? Anda masih lemah."

"Aku mau menguping."

'anda jujur sekali tuan'

=Taman Belakang Kediaman Jung=

Yunho P.O.V

"Ekh! Membatalkan pertunangan!" Seru Jaejoong kaget.

'ekh! Apa-apaan itu!' seruku dalam hati. Saat ini aku sedang bersembunyi dibalik semak-semak dekat Jaejoong dan ummanya berbicara.

"Awalnya umma ingin diam saja dan menunggu sampai Joongie dapat menerima pertunangan ini. Tapi melihat Joongie yang jadi jarang tersenyum dan tertawa membuat umma sadar, umma tidak boleh egois. Sejak awal pertunangan ini adalah perjanjian antar orang tua tanpa persetujuan kalian. Ini salah kami." Sahut umma Kim.

"Tenang saja Joongie! Soal hutang kita pada Yunnie-ya dan denda itu, umma pasti dapat melunasinya. Umma sudah mendapat tawaran kerja!"

Jaejoong menundukan kepalanya. Aku yakin pasti ia sedang dalam dilemma. Namja pabbo!

"Umma~"

Grep!

"Umma tidak ingin Joongie menyesal menjadi anak umma!" seru umma Kim yang kini memeluk Boojae dengan erat.

'kenapa aku jadi seperti orang jahat yang menyiksa ibu dan anaknya ya?'

"U…umma! Apa yang umma katakan! Umma selalu saja memutuskan seenaknya. Pertunangan yang mendadak ini sempat membuatku kesal tapi sekarang umma tenang saja. Yunho masih kecil, pasti suatu saat nanti ia akan menemukan orang lain yang ia cintai dan memutuskan pertunangan ini!"

Namja bodoh itu… "JANGAN BERCANDA!"

Yunho P.O.V end

"JANGAN BERCANDA!" Teriak Yunho yang muncul tiba-tiba.

"Kenapa kau selalu saja menilaiku dengan sembarangan! Tahu apa kau tentang perasaanku!"

"SELALU SAJA MEMAKAI NAMA ORANG LAIN SEBAGAI ALASAN, KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENGATAKAN PERASAANMU SENDIRI DAN MENGIKUTI BEGITU SAJA KEINGINAN SEMUA ORANG TAPI SELALU KESAL!"

"KATAKAN APA MAU MU! KALAU TIDAK BEGITU BAGAIMANA AKU BISA MEMBAHAGIAKANMU! JANGAN JADI PENGECUT!"

Jaejoong terpaku. Heechul yang juga terkaget karena teriakan Yunho yang tiba-tiba hanya dapat melihat sosok Yunho yang berlari kembali kekediaman Jung.

Yunho P.O.V

"Apa yang sudah aku katakan. Aku tidak bermaksud membuatnya berekspresi seperti itu." Ucapku menyesali apa yang sudah aku katakana tadi. Dasar Jung Yunho pabo!

"Tuan Yunho? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya yoochun yang kini sedang bermain pesawat remote control bersama Minnie. Ah! Pesawat itu kan?

-flashback-

"apa warna kesukaanmu Boojae?" Tanyaku saat sedang merangkai pesawat remote control hadiahku untuk Changmin.

"Eh? Pink…"

"Ok Minnie! Pesawatnya sudah selesai dirangkai. Sekarang kita warnai dengan warna hitam ya!" ucapku sengaja. Menjahili Boojae memang menyenangkan! Aku dapat melihat bibir plumpnya yang kini membentuk pout.

-flashback end-

Yunho P.O.V end

Jaejoong masih tertegun. Teriakan Yunho tadi masih terngiang ditelinganya. Heechul yang melihat kondisi anaknya seperti itu jadi merasa bersalah.

"Joongie…"

"Kata-kata Yunho tadi masuk akal." Gumam Jaejoong lemah.

Guk!

"Eh? Akh!"

"Joongie?"

Seorang namja tua dengan seragam pelayan mendekati anjing yang kini tengah mengibas-ngibaskan ekornya dan mengitari Jaejoong.

"Ini anjing liar kan? Tak kusangka Yunnie-ya memungut anjing seperti ini." Ujar Heechul sambil membelai kepala anjing itu.

"Benar. Tuan Yunho yang membawa anjing ini. Saat itu kondisi anjing ini dan anknya seperti habis disiksa. Jadi Tuan Yunho memutuskan untuk merawat mereka."

"Anjing ini dulu sempat hampir menerkamku dan yang menyelamatkanku adalah Yunho!" Seru Jaejoong dengan wajah benar-benar syok. Ia tidak menduga kalau Yunho akan melakukan hal seperti ini.

Ngiiing…

Sebuah pesawat remote control pink melintasi taman itu. Dengan kencang Jaejoong berlari menuju kediaman Jung guna mencari bocah yang selalu membuatnya bingung.

'dengan tubuh sekecil itu dia selalu berusaha bersikap dewasa dan melindungiku. Membuatku bahagia dan tersenyum. Menghiburku yang patah hati. Memberikan kehangatan saat aku merasa sendiri. Aku selalu dimanja oleh Yunho. Dan aku dengan bodojnya telah menyakiti perasaan tulusnya itu.'

Grep!

Jaejoong memeluk erat tubuh mungil Yunho. Memberi senyum tulus yang selama ini diinginkan oleh bocah 10 tahun itu.

"Ayo kita coba saling menyayangi, ne?" Ucap Jaejoong sambil tersenyum manis.

Cup

Yunho mengecup ringan bibir plump semerah cherry itu.

"Aku akan selalu menunggumu. Menunggu lebih lama lagi tidak akan menjadi masalah bagiku." Sahutnya dengan sebuah senyum tulus.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

…TBC…..

Hai …. Hai …. Hai….

Kitsu balik dengan new chapter yang lebih panjang …. Bagaimana pendapat cingudeul?

Gaje kah? Tak jelas kah? Tidak menarik kah?

Atas masukan cingudeul, Kitsu membuatnya lebih detail di setiap segment. Gimana menurut cingu? Apa segmentnya jadi lebih jelas? Atau malah tambah kacau?

Untuk pengenalan chara di chap ini sudah lebih jelaskan?

Terakhir..

Kitsu tunggu ya saran, kritik dan masukan yang membangun dari cingudeul! Kalau bisa jangan di like saja? Cz kalau cuma like, kitsu kan jadi ga tau gimana pendapat cingu… so tinggalkan komen juga ya..

Annyeong!

*Deep Bow*