7 Years
By Kitsune-chan
Based On Manga Dear Mine By Shigeru Takao
Rated : T
Pairing : Sudah pasti Babe dan Emak tercinta, Yunjae! Dan sedikit Sijae..
Genre : Romance, Comedy, Family
Disclaimer : FF ini milik Kitsu terinspirasi dari manga Dear Mine.
Warning : YAOI, penuh typos dan ke-Gaje-an serta keanehan lainnya.
Summary : Kim Jaejoong murid SMU yang hidup berdua bersama ibunya. Karena sang ibu menjadi penjamin hutang perusahaan sebesar 1 MILYAR, membuat Jaejoong harus menikah dengan seorang namja berusia 7 TAHUN LEBIH MUDA darinya.
"Apa ibu bercanda!? Aku harus menikah dengan seorang anak yang umurnya 7 tahun LEBIH MUDA dariku!? Terlebih dia juga seorang NAMJA bu!"
"Bersedia atau tidak… Kau harus jadi ISTRIKU, Kim Jaejoong!"
This is his story…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Previous Chapter
'dengan tubuh sekecil itu dia selalu berusaha bersikap dewasa dan melindungiku. Membuatku bahagia dan tersenyum. Menghiburku yang patah hati. Memberikan kehangatan saat aku merasa sendiri. Aku selalu dimanja oleh Yunho. Dan aku dengan bodojnya telah menyakiti perasaan tulusnya itu.'
Grep!
Jaejoong memeluk erat tubuh mungil Yunho. Memberi senyum tulus yang selama ini diinginkan oleh bocah 10 tahun itu.
"Ayo kita coba saling menyayangi, ne?" Ucap Jaejoong sambil tersenyum manis.
Cup
Yunho mengecup ringan bibir plump semerah cherry itu.
"Aku akan selalu menunggumu. Menunggu lebih lama lagi tidak akan menjadi masalah bagiku." Sahutnya dengan sebuah senyum tulus.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
-Chapter Two-
Tak terasa waktu telah berlalu dengan cepat. Dan kini musim panas yang cerah menghampiri kediaman Jung. Yang itu berarti Jaejoong dan ummanya telah 3 bulan ikut meramaikan kediaman sang tuan muda cilik.
=Ruang Tengah Kediaman Jung=
"Ujian susulan?" Tanya Yunho mengalihkan perhatiannya dari soal-soal ujian negara yang tadi dijawabnya untuk mengisi waktu luang.
"Hehehehe.. Begitulah. Selesai ujian akhir semester ini. Aku harus berjuang agar bisa menikmati libur musim panas nanti." Sahut Jaejoong semangat. Dikepalkan kedua tangannya untuk menunjukkan semangatnya, "Kali ini pasti bisa! Soalnya sekarang aku punya guru hebat yang mengajariku!"
'ya, dan guru itu 7 tahun lebih muda darimu.' Sahut Yunho sarkastik dalam hati. Diliriknya Jaejoong dengan pandangan bosan.
Jaejoong P.O.V
Aku harus semangat! Liburan panjang yang menjadi impian para murid ada didepan mata! Aku tidak boleh melewatkannya! Kali ini juga aku harus bisa menikmatinya dengan umma.
"Musim panas yang menyenangkan! Saat-saat dimana gejolak masa muda menjadi lebih terasa! Hohohohoho…."
Aku memutar manik mataku melihat tingkah bodoh umma yang berputar-putar menggunakan bikini dan alat-alat menyelam. Tapi tetap saja tingkah umma selalu membuatku tersenyum.
"Hyungie! Uncuk hyung!" Changmin menyerahkan mainan berbentuk mahkota pada Yunho yang segera menerimanya dengan senyum lebar.
Tak terasa aku dan umma sudah 3 bulan tinggal di kediaman Jung yang mewah ini. Padahal dulu aku dan umma hanya tinggal berdua di apartemen kami yang sempit. Ini karena pertunangan yang diatur oleh kedua orang tua, antara aku dengan bocah jenius dan sangat dewasa.
Aku terus mengamati tingkah lucu Yunho dan Changmin yang bermain bersama. Saat-saat seperti ini, ia baru terlihat seperti bocah umur 10 tahun. Dan tanpa aku sadari, sebuah senyum tulus terukir diwajahku.
Jaejoong P.O.V end
"Oya Yunnie, apa kau, Yoochun-hyung dan Minnie mau ikut kami berdarmawisata?" Tanya Jaejoong yang sudah meletakkan buku pelajarannya dan mendekati dua bocah yang sedang bermain itu.
"Darmawisata?"
-angguk- "Ne, umma memiliki teman yang punya penginapan tradisional di Pulau Jeju. Mau ikut? Kau bisa beristirahat sejenak disana. Jangan terlalu memaksakan diri." Ajak Jaejoong yang kini ikut bermain dengan Changmin. "Kau mau main mobil ini Minnie-ya?"
Yunho tertegun. Apa ini bukan mimpi? Pertanyaan itu terus berulang dikepalanya sampai menimbulkan semburat merah dipipi.
"HUWAA! SEORANG NAMJA CANTIK MENGAJAK SANG NAMJA TAMPAN HONEYMOON SEBELUM MENIKAH! Tolong terima putra bodohku… Mohon ban…"
BUAK!
"Appo~~"
Jaejoong baru saja memukul umma bodohnya dengan tongkat baseball plastik yang ada diantara mainan Changmin. Wajahnya memerah karena malu dengan ucapan ngelantur sang umma pada Yunho.
"Umma pabbo! Umma dan yang lain kan juga ikut! Ini kan tradisi keluarga kita!" Ucap Jaejoong keras pada sang umma. "Tahun lalu kan kita cuma pergi berdua tapi mungkin Yunnie dan yang lain bisa ikut tahun ini."
Blush…
Semburat merah mewarnai wajah Yunho yang coba ia tutupi dengan satu tangan dan tangan lain segera menggandeng Changmin dan membawa bocah 2 tahun itu pergi, "Kupikirkan dulu!"
Heechul dan Jaejoong menatap kepergian Yunho dan Changmin. Sebuah seringai terukir diwajah cantik Heechul, "Hohohoho… Tuan muda yang dingin itu ternyata manis juga! Wajahnya memerah karena malu! So cute!"
"Apa iya? Bukannya dia keberatan?" Gumam kecil Jaejoong tapi masih dapat didengar oleh sang umma.
"Eh? Jinjja? Sudah, jangan dipikirkan. Kita rapikan saja dulu mainan ini."
Gerakan tangan Heechul terhentik sejenak saat merapikan mainan Changmin yang berantakan.
"Joongie, apa kau benar mau jadi pengantin Yunnie-ya?"
-menoleh- -mata tajam-
"Bu…bukan begitu maksud umma." Heechul menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan tawa cengengesan tapi sedetik kemudian wajah itu berubah serius, "Apa kau mau mengakrabkan diri tanpa ada kepastian dari dirimu? Kalau Yunnie, umma yakin ia sangat menginginkanmu menjadi pengantinnya."
Jaejoong terdiam. Jujur, ia juga belum mengerti dengan perasaannya sendiri, "Aku akan mencoba memikirkannya dengan baik."
Ruang tengah yang tadinya seperti kapal pecah kini tampak bersinar mengkilat -yang kalau ini komik atau anime maka aka nada efek 'cling-cling'- dan rapi. Buku-buku dengan isi yang rumit dan tebal bertumpuk –buku yang dibaca Yunho tadi- dan bertumpuk-tumpuk kotak mainan –milik Changmin-.
"Akhirnya selesai juga! Setelah sekian lama tidak berkeringat. Aku jadi merasa segar!"
"Umma, aku bawa buku-buku ini kekamarnya Yunnie ya." Ucap Jaejoong membawa tumpukan buku tebal itu dengan dua tangannya.
"Ya, hati-hati!" Heechul menatap punggu mungil anaknya, "Joongie, jangan terlalu memaksakan diri."
-menoleh- Jaejoong menatap mata ummanya sejenak sebelum akhirnya tersenyum manis dan kembali berjalan dengan tumpukan buku yang ternyata sangat berat.
'anak yang rajin' ucap Heechul dalam hati melihat punggung anaknya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Lorong Kediaman Jung=
Jaejoong P.O.V
'Ya, aku akan memikirkannya dengan baik! Ini demi Yunnie yang sudah berusaha keras.' Ucapku dalam hati membuat janji dengan diriku sendiri.
Zreeessshhh…
Kutolehkan pandanganku keluar jendela besar di dinding lorong.
"Hujan. Awannya bergerak cepat. Apa akan muncul pelangi?" Tanyaku sendiri. Sesaat sebuah pikiran terlintas. Sebuah keyakinan muncul dihatiku.
'Yosh! Sudah kupikirkan!'
Jaejoong P.O.V end
Yunho P.O.V
Entah bagaimana caranya menghilangkan perasaan terbang melayang ini. Sejak Boojae mengajakku darmawisata bersama, rasanya ada berjuta-juta kupu-kupu yang mengisi perutku. Membuatku merasakan perasaan tergelitik.
Saat ini aku sedang berjalan bersama Yoochun untuk mencari Minnie yang tiba-tiba saja menghilang saat bermain dengan mobil-mobilan kesayangannya.
"Ah… Hujan." Ucap Yoochun tiba-tiba saat kami akan menaiki tangga yang menuju ke lantai dua. Mungkin Minnie kesana untuk mencari Boojae yang tadi masih ada di ruang tengah.
"Hm.. benar." Sahutku."Apa akan muncul pelangi ya?"
"Apa anda tahu tentang legenda pelangi?"
"Entahlah. Aku lupa." Sahutku seadaanya. Aku mengalihkan pandanganku dari jendela besar lorong yang terlihat sampai di ujung tangga ini ke tangga yang menuju lantai dua. Dan seketika aku terkejut.
Aku lihat Jaejoong yang tampak kesulitan membawa tumpukan buku tebal milikku akan menuruni tangga. Ia tidak menyadari sosok Minnie yang ada dibelakangnya tengah bermain mobil-mobilan dan kini mengarahkan mobil itu didepan langkah kaki Boojae.
"Eh!?" serunya kaget.
"Ba…BAHAYA!"
"KYAAAA!"
Yunho P.O.V end
"Ng.. ung…" Eluh Jaejoong yang tersadar dari jatuhnya. Kepalanya masih sedikit berkabut karena ia tadi sempat tak sadarkan diri beberapa saat.
Sebuah gerakan yang berusaha menopangnya dengan susah payah sedikit mengganggunya. Dan kini gerakan itu gagal karena ia kembali terjatuh karena penopangnya itu tiba-tiba jatuh. Dan itu membuatnya memperoleh kesadarannya secara utuh.
"Akh! YUNNIE! Gwenchana? Maaf tadi aku ceroboh! Kau tertimpa aku ya?" Tanya Jaejoong beruntun ketika menyadari tubuh kecil Yunho yang tertimpa dirinya. Dan semakin takut karena melihat wajah Yunho yang tertekuk. 'Apa bocah ini kesakitan?' Tanya Jaejoong dalam hati.
Yoochun merapikan buku-buku tebal yang ikut terjatuh bersama Jaejoong dan membawanya di tangan kiri sedangkan tangan kanannya…
Hup!
"Kya! Yoochun hyung!" Pekik Jaejoong yang kaget tiba-tiba saja di panggul oleh Yoochun di bahu kanannya. Tangan kanan Yoochun memfiksasi tubuh Jaejoong agar tidak terjatuh. Segera ia membawa Jaejoong ke kamar namja cantik itu.
Yunho yang melihat adegan itu hanya dapat terpaku ditempat. Perasaan kesal menyelimuti hatinya. Tangan mungil bocah itu terkepal kuat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Kamar Jaejoong=
"Butuh waktu seminggu untuk sembuh total. Tenang saja. Ini hanya keseleo ringan. Mungkin akan sedikit bengkak tapi sudah saya berikan obatnya." Ucap Dokter Shi, dokter pribadi keluarga Jung pada Heechul sambil memberikan obat.
"Kamsamnida" Ucap Heechul sambil membungkukkan badannya. Ia sangat takut saat mengetahui anak tunggalnya jatuh dari tangga.
Yunho menatap cemas pergelangan kaki Jaejoong yang terbebat perban untuk memfiksasi sendi. Jaejoong kini duduk di sofa yang ada dikamarnya. Changmin tidak berhenti sesenggukan. Tampaknya bocah berumur 2 tahun itu sangat kaget saat melihat Jaejoong terjatuh.
Gyut..
Jaejoong menggenggam tangan mungil Yunho yang sedari tadi berdiri disampingnya. "Gwenchana Yunnie. Jangan takut lagi, ne?"
Batss!
Yunho yang terkejut dengan kasar melepas genggaman tangan Jaejoong. Dan sepertinya itu mengagetkan si kecil Changmin yang kini kembali menangis keras…
"Mi..mian…hiks.. Minnie.. hiks.. minta maap.. Minnie nakal. Maap… hiks…" Ucap Changmin disela-sela isak tangisnya.
Jaejoong tersenyum lembut dan mempererat pelukannya pada tubuh kecil Changmin. Diusapnya kepala bocah itu mencoba menenangkan, "Gwenchana Minnie-ah. Kamu pasti takut saat melihat hyung jatuh ya? Mian… Jangan takut lagi ne."
Yunho yang melihat perlakuan Jaejoong pada Changmin merasa iri. Ia juga ingin seperti itu.
=Ruang Kerja Yunho=
"Tuan muda, anda baik-baik saja?" Tanya Yoochun yang mengkhawatirkan sang tuan muda yang sejak tadi berwajah pucat.
Yunho yang duduk dikursi kerjanya menghadapkan diri kearah jendela yang berada dibelakang kursinya sehingga Yoochun hanya dapat melihat sandaran kursi itu. Sang tuan muda benar-benar tenggelam oleh kursi yang besar itu.
"Yoochun. Mulai saat ini ganti minumanku dengan susu. Tak akan kubiarkan Boojae dilindungi orang lain lagi, termasuk dirimu." Ucap sang tuan muda dingin. Namun Yoochun masih dapat menangkap nada getir yang tersembunyi.
"Ne, Tuan Yunho."
Sebuah getaran kecil masih terdapat pada kepalan tangan mungil sang presdir.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Beberapa hari kemudian=
=Ruang Tengah Kediaman Jung=
Yoochun tampak sedang menikmati waktu berduanya bermain dengan bocah balita berumur 2 tahun yaitu Changmin. Bukan rahasia lagi bagi penghuni kediaman Jung kalau sekretaris tampan dari Tuan Muda Yunho ini memiliki 'ketertarikan mendalam' pada aegya. Dan bukti nyatanya terlihat saat ini. Sekretaris berwajah chubby itu sejak tadi terus tersenyum-senyum sendiri setiap melihat tingkah laku Minnie kecil. Bahkan kadang pipi chubby itu tampak memerah. Tampak seperti om-om pedofil bukan? (-.-")
"Yoochun-ssi~ " panggil Heechul dengan nada menggoda. "Look, apa yang aku dapat saat merapikan kamarku."
Yoochun menolehkan kepalanya kearah Nyonya Kim itu dan…
"Tara~~" Sebuah senyum bodoh terukir di wajah dua orang dewasa itu.
"Cepat katakan apa yang dilakukan dua orang bodoh itu!" Ujar Yunho sinis pada salah seorang maid saat melihat calon ibu mertuanya dan sekretaris kepercayaannya terkikik bersama dari tadi. Belum lagi ekspersi bodoh yang sedari tadi tidak hilang diwajah mereka.
"Ah… Mrs. Heechul dan Yoochun-ssi sedang melihat album masa kecil Tuan Jaejoong." Jawab maid itu sambil tersenyum melihat tingkah lucu dua orang yang masih sibuk tertawa setiap melihat foto yang ada di album itu sebelum akhirnya permisi pada sang tuan muda untuk melanjutkan tugasnya.
Yunho menatap gelisah Heechul dan Yoochun yang masih sibuk dengan 'dunia' mereka sebelum akhirnya pergi dari tempat itu. Wajah namja cilik itu tampak seperti kesulitan dengan menggigit keras bibir berbentuk hatinya.
=Kamar Jaejoong=
"Ayo berpose! Sekarang saatnya berfoto!" Seru Heechul dengan wajah gembira. Sebuah kamera sudah siaga di tangannya.
Jaejoong hanya bisa tersenyum maklum melihat tingkah ibunya yang suka seenaknya sendiri. Dan kini sang umma telah sibuk memfoto Yoochun dan Changmin.
"Oya Yunnie, aku tidak pernah melihat album fotomu. Boleh aku lihat?" Tanya Jaejoong. Sejak tadi namja cantik itu hanya bisa duduk di tempat tidurnya karena memang Yunho dan ummanya tidak mengijinkan ia bergeser sedikitpun. Padahal ia hanya keseleo ringan. Over protective ne?
"Aku tidak punya. Foto juga tidak." Sahut Yunho yang kini sudah ikut duduk di kasur Jaejoong. Bersebelahan dengan namja cantik itu. Kepala kecilnya ia sandarkan dibahu kecil Jaejoong.
"Tidak satu pun?"
-geleng-geleng-
"Foto untuk album sekolah juga?"
"Aku tak pernah sekolah."
"Eh? Kenapa?"
"Tentu saja karena aku jenius dan kaya!"
-Sweatdrop-
"Tadi aku lihat album fotomu. Kau benar-benar imut Boo." Tangan mungil Yunho memain-mainkan jari tangan Jaejoong yang kini ada digenggamannya.
"Ah~ itu semua diambil saat aku melakukan hal yang aku suka. Umma akan marah kalau aku berpose dengan serius. Hehehehe…."
Sreet…
Yunho tiba-tiba saja bangkit dari tempat tidur Jaejoong, "begitu…" gumam Yunho yang kini melangkah menuju pintu kamar Jaejoong, "AKU BENCI FOTO!"
BLAM!
Jaejoong, Heechul dan Yoochun menatap kaget pintu yang baru saja dibanting oleh Yunho. Yoochun mendesah sebelum akhirnya menurunkan Changmin dari gendongannya. "Sepertinya tuan Yunho belum dapat melupakan kenangan itu." Ucapnya.
"Kenangan?" Tanya Jaejoong penasaran.
"Sebenarnya ada satu foto Tuan Yunho. Itu satu-satunya foto kenangan tuan dengan ibunya. Foto itu diambil saat Tuan Yunho mengantar nyonya yang akan pergi untuk perjalanan bisnis ke luar negeri ke bandara. Saat itu ada salah satu staf yang membawa kamera. Akhirnya staf itu memotret tuan bersama nyonya dan tuan besar. Setelah itu ada seseorang yang mengatakan bahwa orang yang berdiri ditengah saat berfoto akan kehilangan nyawanya."
"Takhayul" Ucap Jaejoong.
"Benar. Tapi sayangnya takhayul itu terjadi beberapa hari kemudian. Nyonya mengalami kecelakaan di luar negeri dan meninggal."
"Jangan-jangan…"
"Benar. Yang berdiri ditengah saat pemotretan itu adalah ibu Tuan Yunho." Yoochun tersenyum miris. Jaejoong menundukan kepalanya. Tangannya terkepal meremat ujung selimutnya.
Yunho P.O.V
Flashback
Saat itu aku sedang mengantar umma dan aboji ke bandara untuk perjalanan bisnis ke luar negeri. Tiba-tiba saja adalah salah seorang staff yang membawa kamera minta ijin untuk memotret kami.
"Permisi Tuan, kebetulan aku membawa kamera. Bolehkah aku memotret tuan sekeluarga?" Tanya staff itu.
"oh, tentu saja. Kebetulan kami sangat jarang dapat berfoto bersama." Sahut aboji memberi ijin.
Saat itu umma berada di tengah dengan aku dan aboji berada di sisi kiri dan kanannya. Setelah pemotretan tiba-tiba ada seseorang yang berkata bahwa sosok yang berada ditengah saat berfoto akan kehilangan nyawanya.
Aboji dan umma hanya tertawa saat mendengarnya dan berkata itu hanya takhayul. Aku yang awalnya takut pun akhirnya merasa tenang. Benar itu hanya takhayul tidak ada penjelasan yang logis.
Namun, beberapa hari kemudian…
=Ruang Tengah Kediaman Jung =
Saat itu aku sedang membaca bersama dengan Halmoni ketika seorang maid menyerahkan telpon pada Halmoni.
"Permisi Nyonya besar. Ada sambungan telpon dari New York."
"Hm.. Hello?"
"Akh! An accident!?"
"…."
" How is she right now!?"
"…."
"Oh my!"
=Pemakaman Keluarga Jung=
Aku hanya bisa diam menatap peti mati umma yang saat ini mulai tertutupi tanah.
Bukankah mereka bilang itu hanya takhayul? Kenapa umma sekarang benar-benar meninggalkanku?
AKU BENCI FOTO!
Flashback end
"Aku benci foto!"
Kupeluk erat lututku. Berusaha memeluk tubuhku yang sejak tadi tidak berhenti gemetar.
Tok…tok…tok…
Cklek…
"Apa…"
Jepret!
Syut…
Sesaat otakku berhenti bekerja karena pengaruh sinar flash kamera. Tunggu! KAMERA!
"APA YANG KAU LAKUKAN!" Teriakku pada Jaejoong yang kini dengan polosnya menunjukkan hasil foto polaroid padaku.
-wajah sendu-
"Ini. 2 orang yang ditengah akan kehilangan nyawanya. Artinya masing-masing akan hilang separuh. Kita akan berbagi nyawa, ya kan?"
Aku tertegun mendengar penjelasan polos Boojae. Namja ini…
Bats!
Dengan kasar kurebut foto polaroid yang ia tunjukkan padaku. "DASAR BODOH!"
Blam!
Kubanting pintu kamarku dengan kasar. Kulihat hasil foto itu. Difoto ini tergambar sosokku yang sedang membuka pintu dan Boo berada disampingku dengan dua orang maid disisi kiri dan kanan kami. Aku dapat merasakan mataku mulai memanas dan pandangan mataku mulai memburam.
"Dasar namja bodoh… hiks"
Yunho P.O.V end
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Keesokan Harinya=
=Halaman Depan Kediaman Jung=
Jaejoong P.O.V
Mungkin Yunnie masih marah padaku. Buktinya tadi ia tidak ada saat sarapan. Hah~ aku memang tidak peka. Kami terus saja melakukan hal yang dibenci oleh satu sama lain. Berpikiran seperti ini memang menyedihkan. Kalau seperti ini terus, apa yang akan terjadi ya? Bersama orang yang mungkin ditakdirkan berdua.
Kulangkahkan terus kakiku disepanjang taman depan kediaman Jung. Jalan banyak terdapat genangan air karena hujan baru saja berhenti dan kini matahari sudah mulai bersinar walau terkadang masih tertutup mendung. Pikiranku masih dipenuhi oleh bocah 10 tahun yang menjadi tunanganku.
Tapi, aku benar-benar ingin mengenal Yunnie lebih dekat. Mungkin tindakanku kemarin telah menyakitinya. Ku tundukkan kepalaku. Rasanya lemas sekali. Namun ingatanku terkenang saat-saat Yunnie dengan caranya tersendiri memberiku semangat disaat aku sedih. Dan saat itu juga aku jadi kembali bersemangat. "Benar! Kalau memang begitu, aku tinggal minta maaf dengan sungguh-sungguh! Aku rasa Yunnie pasti mengerti maksud baikku!"
Cipak!
Kakiku tak sengaja menginjak genangan air. Saat aku melihat bayangan yang terpantul di genangan itu. Sebuah senyum lebar terukir di wajahku dan dengan segera berlari menemui sosok yang sejak tadi memenuhi pikiranku.
Jaejoong P.O.V end
Jaejoong berlari sekuat tenaga dari taman depan menuju kediaman Jung. Sebuah senyum lebar terukir diwajah cantiknya. Tidak sabar untuk menemui sosok itu.
-flashback-
Yunho menatap jendela besar lorong dengan pandangan penuh harap.
"pelanginya tidak keluar ya?"
-flashback end-
=Ruang Kerja Yunho=
"YUNNIE!" panggil Jaejoong dengan membuka dengan keras pintu ruangan itu.
Diedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu namun sosok bocah itu tidak tampak. Dengan segera dan sedikit terburu ia kembali berlari di lorong megah kediaman itu menuju kamar sang tunangan.
=Kamar Yunho=
Brak!
Kembali Jaejoong membuka kasar pintu dan sekali lagi sosok tunangannya tidak tampak. Dimasukinya kamar itu untuk mengecek apakah bocah yang ia cari ada dikamar mandi. Saat akan menuju kamar mandi dengan tergesa, ia melihat sekilas kearah luar jendela.
'akh! Sudah mulai memudar. Yunnie dimana sih! Kalau begini, pelanginya…' Gumam Jaejoong gelisah dalam hati.
Jduk…
"Akh!" Jaejoong terjatuh karena kakinya tersandung sesuatu.
"Eh!?" diambilnya salah satu majalah dari tumpukan majalah yang tadi tidak sengaja ia sanding. 'KUMPULAN TIPS DARMAWISATA MENYENANGKAN' tulis cover majalah itu. Jaejoong memperhatikan satu persatu judul-judul majalah lainnya. 'OBJEK WISATA MENARIK PULAU JEJU', 'LIBURAN MENYENANGKAN DI PULAU JEJU', 'PESONA PULAU JEJU' dan majalah lainnya.
Jaejoong terdiam. Kini ia perhatikan sekeliling kamar itu dengan seksama masih diposisi jatuhnya. Berbagai macam persiapan berpergian tampak sedang dipilah-pilah. Tas yang mulai terisi pakaian dan... saat ia melihat meja dekat tempat ia terjatuh terdapat sebuah foto yang terbingkai. Foto yang ia kemarin ambil.
"Kau sedang apa?" Tanya suara yang Jaejoong kenal.
Jaejoong segera menoleh sambil menunjukkan bukti- bukti *majalah dan foto* yang ia temukan.
Blush!
Semburat merah menghiasi wajah tampan Yunho.
"JANGAN LIHAT!"
"Aku sengaja tidak menunjukkannya karena harga diriku sebagai laki-laki!" Ujar Yunho yang kini sedang duduk samping bawah Jaejoong *kini duduk diatas kursi roda special buatan Tuan Muda Yunho!*. Karena tadi Jaejoong memaksakan kakinya untuk berlari guna memberitahu Yunho timbulnya pelangi, kini kaki namja cantik itu kembali membengkak.
"Harga diri sebagai laki-laki?" Tanya Jaejoong bingung.
"Kau menghiburku saat aku terluka tapi aku tidak bisa melakukan apapun saat kau terluka" gumam Yunho lirih. Kembali peristiwa saat Jaejoong jatuh dari tangga dan saat ia gagal menopang tubuh namja cantik itu terulang diingatannya seperti sebuah film.
Jaejoong menatap sosok namja kecil itu. Dan sebuah senyum tulus terukir. Ia usap lembut pegangan kursi roda buatan Yunho itu. 'Yunnie… ia tidak menganggap dirinya anak kecil dan berusaha dengan sangat gigih. Karena itu, aku juga tidak akan menggunakan alasan itu lagi. Aku mungkin saat ini masih berpikir tidak dapat menjadi pengantin Yunnie kelak. Tapi… aku ingin mengenal Yunnie lebih dekat lagi. Tidak ada yang tahu kan, bisa saja suatu saat nanti aku ingin menjadi pengantin pangeran kecil ini.'
"Tapi… Yunnie hebat bisa membuat kursi roda ini." Ujar Jaejoong dengan masih tersenyum lebar.
Yunho menatap tajam sosok cantik itu dan…
Cup…
"Ngh! Hm…Hmmmmnggghhh.. ah! Hm… Ng! Puah… hah… ha…" desah Jaejoong dengan wajah memerah.
"Itu karena aku tidak ingin melihatmu dipeluk namja lain untuk kedua kalinya! You are MINE! Kim Jaejoong!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Kediaman Jung=
=Beberapa hari kemudian=
Author P.O.V
Wah… cuaca yang cerah ne cingudeul! Tak terasa kita sudah memasuki libur musim panas. Saat-saat dimana para pelajar menikmati libur golden week. Menikmati hidup dan melupakan suasana sekolah. Seperti yang dilakukan oleh namja cantik kita.
Saat ini namja cantik kesayangan kita sedang tertidur lelap dikamarnya. Nampak beberapa majalah disekitar tempat tidurnya dan sebuah boneka gajah pink berada dalam pelukannya. Sepertinya tertidur saat sedang membaca ne?
Dan… omo? Apa yang sedang dilakukan oleh presdir berumur 10 tahun kita ya? Ayo kita intip!
Author P.O.V end
Jaejoong P.O.V
Bruk…
Srak…
Eh?
Perlahan kesadaran memasuki pikiranku karena suara sesuatu yang terjatuh perlahan dan suara lembaran kertas yang terbuka. Perlahan ku buka mata dan…
Diariku? Eh? Yunnie?
-Diari yang terbuka + Yunnie yang memegang = MALU-
"YUNNIE JAHAT! KAU MEMBACA DIARIKU KAN! AYO MENGAKU!" Teriaku mengejar sosok Yunnie yang kabur di sepanjang lorong. Dan saat aku melewati maid yang tampak membawa keranjang pakaian kotor, segera aku ambil keranjang itu dan meleparkan pakaian kotor kearah Yunho yang berlari didepanku sambil mengejarnya.
"BUAT APA AKU MEMBACA BARANG SEPERTI ITU!" Sangkal Yunho sambil tetap berlari. Tanganku masih terus melemparkan pakaian kotor kearahnya.
"BOHONG! DAN LAGI APA MAKSUDMU 'BARANG SEPERTI ITU'! YA! AKU MEMANG MISKIN!"
"AKU TIDAK BILANG BEGITU! AKH! STOP MELEMPAR PAKAIAN KOTOR!"
"BERHENTI! KAU SUDAH MELANGGAR PRAPASIKU TAHU!" Seruku marah. Kami sudah berhenti berlari dan kini ada diruang tengah. Kuatur nafasku yang terengah-engah karena berlari. Yunho juga sedang mengatur nafasnya. Wajah tampan bocah itu kini nampak memerah.
"Bodoh! Yang benar itu privasi! Dan lagi, itukan salahmu, kenapa kau membiarkan buku itu terbuka saat tertidur!" sanggah Yunho. Bocah ini benar-benar menyebalkan!
"YAH! SEKARANG KAU MENYALAHKANKU!"
"ITU MEMANG BENARKAN!"
"TAPI BUKAN BERARTI KAU BISA MEMBACANYA BEGITU SAJA!"
"TAPI BUKU MEMANG UNTUK DIBACAKAN! DASAR PABBO!"
"YAH! SEKARANG KAU MENGHINAKU!"
Umma dan Yoochun hyung yang sedari tadi ada diruang tengah dan memperhatikan pertengkaran kami segera melerai ketika pertengkaran semakin memanas.
Jaejoong P.O.V end
=Lorong Kediaman Jung=
"Aku benci orang yang melanggar privasiku!" sungut Jaejoong dengan wajah kesal. Bibir cherrynya ia cebilkan.
Heechul yang menemaninya mengumpulkan pakaian kotor yang berserakan karena Jaejoong lempar menatap namja cantik itu seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa umma?"
"Umma tidak bisa membayangkannya. Yunnie-ya tidak akan melakukan hal seperti itu." Ucap Heechul dengan wajah yakin.
Jaejoong terdiam. Dipandangnya tumpukan pakaian kotor yang ada ditangannya. Bibirnya ia gigit tanda ada sebuah keraguan dihatinya. "tapi…"
"Joongie juga tidak melihat langsung Yunnie-ya membacanya kan?"
"Ta..tapi dia juga tidak menyangkal kan umma!" Sahut Jaejoong kekeh.
"Hm… benar juga ya." Sahut Heechul sambil berlalu meninggalkan Jaejoong yang masih terpaku di lorong.
Keraguan tersirat jelas diwajah cantiknya. Bibir cherrynya kembali ia gigit.
Plok!
"KYA!"
Jaejoong segera menoleh kearah sosok yang tadi menepuknya.
Sesosok namja seusia Yoochun berdiri dengan sebuah senyum jahil terukir diwajahnya.
"Nuguya?" Tanya Jaejoong heran
Sosok itu tidak menjawab dan hanya tersenyum lebar. Tangan kanan yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya kini ia perlihatkan kehadapan Jaejoong. Dan ternyata tangan itu memegang…
"Ta-Di Ja-Tuh!" ucap namja itu sengaja terpatah-patah.
… Celana dalam yeoja penuh renda berwarna pink.
Blush!
"Mau aku pakaikan Agashii?" Tanya sosok itu kini dengan senyum jahil terukir lebar.
Buagh!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Ruang Tengah Kediaman Jung=
Jaejoong menatap sebal pada namja itu, Heechul hanya dapat tertawa, Yoochun menggelengkan kepala sedangkan sang tuan muda, Yunho, menatap kesal sebelum akhirnya menghembuskan nafas.
Sedangkan namja yang menjadi pusat hanya dapat tersenyum tolol sambil tetap mengompres pipi kirinya yang kini tampak lebam karena pukulan Jaejoong.
"Jadi Chansung, dimana 'Bebek Montok' itu?" Tanya Yunho, manik matanya tampak mencari sosok lain yang harusnya juga ada kalau namja yang dipanggilnya Chansung itu ada disini.
"Ah, itu…"
Belum selesai Chansung mengatakan kalimatnya. Tiba-tiba saja Yunho bangkit dari kursinya dan setelahnya kursi itu tiba-tiba terbalik karena tendangan sosok yang ternyata sejak tadi bersembunyi dibalik kursi.
"Cih! Gagal!" desis sosok itu. Namja imut dengan suara yang khas. Tampaknya seusia dengan sang tuan muda.
"Ah! Maaf atas ketidaknyamannya." Ucap namja imut itu saat menyadari kehadiran Jaejoong dan ummanya dan segera membungkukkan badan.
"Annyeonghaseyo~ Jung Junsu imnida, tunangan ke-2 dari Tuan Yunho."
-Eh!- reaksi ekspresi wajah Jaejoong dan ummanya.
"Umurku 10 tahun. Dan sepupu dari Tuan Yunho." Sambung Junsu tapi tampaknya tidak terdengar oleh Jaejoong dan ummanya yang kini sudah tertegun karena syok.
"BUKAN! BAGAIMANA MUNGKIN AKU BERTUNANGAN DENGAN BEBEK MONTOK SEPERTINYA!" Sergah Yunho segera dan menoleh kearah Jaejoong yang kini menatapnya kesal.
Junsu berjalan kearah Jaejoong dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong sebelum akhirnya menarik tangan namja cantik itu keruang baca yang dekat dengan ruang tengah. "Aku pinjam Tuan Jaejoong ne? ada yang ingin kubicarakn sebagai sesama calon istri Tuan Yunho."
=Diluar Ruang Baca=
Yoochun hanya dapat terdiam melihat tuan mudanya yang kini sedang menempelkan daun telinganya dengan pintu ruang baca. Sedangkan Chansung hanya tersenyum bodoh sambil membekap Heechul yang kini tampak ingin mengamuk dan menerobos pintu.
=Didalam Ruang Baca=
Jaejoong dan Junsu duduk saling berhadapan dan dipisahkan sebuah meja kecil yang kini terdapat 2 cangkir teh dan teko teh.
Junsu menyesap cangkir tehnya dan meletakkan dengan anggun kembali diatas meja. Dan kini memulai pembicaraan, "Sebelumnya maafkan atas kedatanganku yang mendadak dan membuat Jaejoong-ssi tidak nyaman."
"Ah… aniyo~"
"Apa Jaejoong-ssi kaget karena Tuan Yunho memiliki tunganan lain?" Tanya Junsu. Manik matanya melirik pintu baca dari ujung matanya. Sebuah seringai terukir.
Jaejoong kembali merasa kesal, "TIDAK SAMA SEKALI!"
=Diluar Ruang Baca=
Jleb!
Tiba-tiba saja Yunho merasa ada sebuah panah besar menusuknya. Dengan lemah, Yunho melangkah meninggalkan pintu itu. Niat mengupingnya sudah hilang.
=Didalam Ruang Baca=
Junsu menatap Jaejoong tertarik. Baru saja Jaejoong menceritakan penyebab keributan tadi pagi.
"Membaca diari seseorang memang sangat jahat. Tapi… Apa Jaejoong-ssi yakin bahwa Tuan Yunho akan melakukan hal seperti itu?" Tanyanya dengan sebuah senyum menanyakan keyakinan.
'lagi?' Tanya Jaejoong dalam hati. Dua orang sudah meragukan Yunho akan melakukan tindakan seperti itu.
=Taman Samping =
Sementara itu Yunho bersama Yoochun sedang duduk di gazebo. Chansung bermain bersama Changmin yang kini sedang digendong diatas bahu dan memakan rambut Chansung.
"Anda tidak mendengarkan lagi?" Tanya Chansung.
"…"
"Apa anda benar membaca diari itu?" Tanya Yoochun. Masih setia berdiri didekat sang tuan duduk.
"Apapun itu, diari adalah sebuah buku, dan buku adalah benda yang ditulis untuk dibaca. Seharusnya sang pemilik sadar akan hal itu. Kalau memang tidak ingin diketahui, jangan menulisnya dan meletakkan sembarangan. Itu tindakan yang bodoh, meletakkan sesuatu yang rahasia sembarangan…"
=Ruang Baca=
"… Pasti Tuan Yunho akan mengatakan hal seperti itu."
Gret!
Tangan Jaejoong terkepal erat karena kesal.
=Taman Samping=
"Mencuri baca sesuatu yang dirahasiakan dan mengintip kedalam pikiran orang tanpa ijin. Hobi rendahan seperti itu tidak akan pernah aku lakukan!" Sahut Yunho penuh keyakinan.
=Ruang Baca=
"… Begitu." Ucap Junsu akhirnya. Ia sudah tahu apa yang dipikirkan dan dikatakan sang tunangan.
Kepalan tangan Jaejoong terbuka. Perasaan menyesal karena telah menuduh sembarang menyusup ke hatinya. "Aku telah salah sangka. Tapi ia sendiri kenapa tidak mengelak?"
Hihihihi…
Kikik Junsu jahil. "Itu pasti karena ia telah melakukan sesuatu yang akan membuat Jaejoong-ssi lebih marah lagi pada saat Jaejoong-ssi tertidur."
Entah karena ilusi atau apa, Jaejoong jadi merinding saat melihat bayangan ular yang sedang mendesis di belakang sosok Junsu yang masih terkikik, "Ah~ aku jadi ingin tahu~ kira-kira apa ya? Auh~~ penasaran! Eu~kyang~kyang~".
Kikik tawa Junsu terhenti. Dan tiba-tiba saja suasana menjadi berubah serius, membuat Jaejoong kembali merasa tegang.
"Apa Jaejoong-ssi akan merasa lebih senang kalau Tuan Yunho minta maaf?" Tanya Junsu tiba-tiba.
"Eh?" –memiringkan kepala dengan wajah bingung-
"Tuan Yunho adalah tipe orang yang akan melakukan sesuatu untuk membuat orang bahagia sebagai ganti permintaan maafnya."
"Eh? Maksudnya?"
PLAK!
Jaejoong memegang pipi kirinya yang memanas karena tamparan Junsu. Wajah cantiknya cengok.
"Hohohohoho… itu sebagai ganti apa yang telah Tuan Yoochun lakukan pada anda saat anda terjatuh beberapa hari lalu." Ucap Junsu sambil meninggalkan Jaejoong yang kini mematung. Entah mengapa sepertinya Jaejoong menangkap ada nada cemburu di suara Junsu. 'apa jangan-jangan? Ah… mungkin cuma perasaanku.'
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
=Malam Dihari yang Sama=
=Kamar Yunho=
"Apa si pantat bebek itu sudah pulang?" Tanya Yunho yang kini sedang duduk diatas tempat tidurnya. Sebuah buku tebal ada dipangkuannya, sedang ia baca.
"Sudah Tuan." Sahut Yoochun yang berdiri di dekatnya.
"…"
"Anda mencemaskan Tuan Jaejoong, ne? Aku rasa kalau tuan jelaskan hal yang sebenarnya, Tuan Jaejoong pasti akan mengerti."
"Kau sudah tahu ya?"
"Hehehe… Tentu tuan."
Blush!
Yunho mencoba menyembunyikan semburat merahnya dengan menundukkan kepalanya pada buku yang sebenarnya sejak tadi tidak ia baca. "…"
"Ano… Apa yang tuan katakan? Bisa anda ulangi lebih jelas?" Pinta Yoochun sambil membungkukkan badanya dan mencondongkan telinganya kearah sang tuan muda.
-bisik-bisik-
"Ah~ saya mengerti. Baik! Akan segera saya siapkan!"
=Kamar Jaejoong=
"ARGH! Pipimu masih merah dan bengkak! Dasar bocah itu! Akhirnya datang juga pengganggu!" Ujar Heechul kesal. Kedua tangannya masih menangkup wajah cantik anaknya. Saat ini kedua ibu dan anak itu sedang mempersiapkan barang-barang untuk perjalanan besok.
"Sudahlah umma. Apa barang-barang umma sudah siap semua?" Tanya Jaejoong mencoba mengalihkan perhatian sang umma.
"Sudah! Ah! Itu bukan hal penting!"
Greb!
Heechul menggenggam tangan Jaejoong dengan kedua tangannya. Matanya tampak berkobar penuh semangat dan rasa kesal. "Kau tidak boleh menyerah Joongie! Genggam Yunnie-ya erat-erat! Jangan biarkan bocah bebek itu merebutnya!"
-Sweatdrop-
Bwer…Bwer…bwer…
"Eh? Suara apa itu?" Tanya Heechul yang hanya dapat gelengan kepala dari Jaejoong.
Jaejoong dan Heechul masih tertegun. Setelah beberapa menit akhirnya kesadaran kembali pada diri mereka.
"HUWA!"
Dengan panik Heechul merapat ke jendela helikopter. Matanya membulat lebar. Bagaimana mereka tidak terkejut. Tanpa ada peringatan apa-apa kini mereka sudah terbang dengan helikopter diatas langit kota Seoul.
"BENERAN TERBANG! TERBANG!" Teriak Heechul!
"Tentu Nyonya! Sekarang kita sedang menuju ke Pulau Jeju!" Sahut Yoochun dari kursi kemudi.
Jaejoong masih tetap tertegun sebelum akhirnya tangan mungil Changmin yang memegang tangannya membuatnya tersadar. Ia menoleh kearah Yunho yang duduk disampingnya.
"Lihatlah keluar." Ujar Yunho. Wajahnya masih fokus menatap kedepan.
Jaejoong menatap Yunho sesaat sebelum akhirnya ikut melihat ke jendela. Mata doe itu membulat kagum. Pemandangan lampu kota Seoul sangat indah. Seperti ribuan permata yang bertaburan.
"Indahnya!" seru Jaejoong senang kearah Yunho.
Semburat merah menghiasi wajah bocah itu.
''Tuan Yunho adalah tipe orang yang akan melakukan sesuatu untuk membuat orang bahagia sebagai ganti permintaan maafnya.''
Jaejoong tertegun sejenak saat mengingat kalimat Junsu. Dan saat itulah Jaejoong menyadari tubuh Yunho yang sedikit gemetar dan wajahnya yang tampak pucat. 'Jangan-jangan…'
"Yunnie-ya kau…"
"Benar! Tuan Yunho phobia ketinggian."
Kalimat Jaejoong terpotong oleh sahutan Junsu yang tiba-tiba saja muncul dari kursi belakang. Disusul kemunculan sang sekretaris Chansung yang kini duduk di kursi pendamping disebelah Yoochun yang duduk dikursi kemudi.
"EH!? PHOBIA KETINGGIAN!?" Seru Jaejoong kaget. Sementara Yunho tampak menegang. Ia ingin berteriak kesal pada Junsu yang ada dikursi belakang tapi ia tidak dapat bergerak.
"Benar! Kenapa kau tidak maafkan saja tuan muda angkuh ini Jaejoong-ssi? Lihat pengorbanannya demi membuatmu memaafkannya. Hohohoho…"
"Betul Jaejoong-ssi. Mencuri baca diari orang memang kejahatan. Tapi hal lain yang dilakukan oleh TuanYunho dapat dimengerti sebagai perasaan seorang laki-laki." Sahut Chansung dengan senyum jahilnya.
"HENTIKAN OMONGAN NGAWUR KALIAN! KENAPA KALIAN BERDUA BISA ADA DISINI HAH!?" Teriak Yunho kesal. Wajahnya semakin memerah karena malu dan bercampur kesal.
'Jadi benar ada kesalah pahaman? Lalu apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Yunnie?' Tanya Jaejoong dalam hati.
"Akh! Tunggu dulu! Kenapa Chansung bisa tahu!" Tuntut Yunho pada Yoochun yang kini hanya bisa menunduk menyesal.
"Maafkan saya tuan. Saya tergoda oleh foto eksklusif Tuan Changmin"
"Hohohohoho" Tawa evil dari sekretaris Chansung yang tampan.
'Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh bocah itu sih!?' Teriak Jaejoong dalam hati karena penasaran. Tangan terkepal dipangkuannya dan bibir chery itu mencebil.
-slurp- dan Changmin tetap mengemut lollipopnya tanpa ada rasa bersalah.
"Ah~ Sebenarnya kemarin aku melupakan tujuanku datang berkunjung."
Grep!
Junsu memeluk leher Jaejoong dari belakang. Dengan senyum misterius, namja imut itu membisikkan sesuatu dengan suara yang masih dapat didengar Yunho dan Heechul. "Nenek akan datang. Beliau sangat ingin bertemu dengan Jaejoong-ssi. Nenek… Beliau sangat menakutkan~ Jadi berhati-hatilah Jaejoong-ssi~ Hohohohoho…"
Seketika wajah Yunho, Jaejoong dan Heechul memucat. Heechul dan Jaejoong gelisah karena mereka belum siap bertemu dengan pemimpin tertinggi grup Jung. Sedangkan Yunho… Ia sangat takut pada nenek yang jarang dikunjunginya.
Bagaimana nasib dari tiga orang ini? Akankah mereka bisa menikmati suasana pulau Jeju dengan nyaman dengan adanya badai yang tiba-tiba? Lalu apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Tuan Muda Yunho? Tunggu chap berikutnya!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 7 Years ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
…TBC…..
Hai …. Hai …. Hai….
Kitsu balik dengan new chapter yang lebih panjang …. Bagaimana pendapat cingudeul?
Gaje kah? Tak jelas kah? Tidak menarik kah?
Mian ne~ Kitsu baru bisa post sekarang. Ini karena Kitsu ada beberapa kesibukan. Selain itu Modem Kitsu mendadak 'mogok kerja'.
Atas masukan cingudeul, Kitsu membuatnya lebih detail di setiap segment. Gimana menurut cingu? Apa segmentnya jadi lebih jelas? Atau malah tambah kacau?
Untuk yang menanti tante -Butt- su-ie *Digampar Junchan*, disini tante sudah muncul!
Terakhir..
Kitsu tunggu ya saran, kritik dan masukan yang membangun dari cingudeul! Kalau bisa jangan di like saja? Cz kalau cuma like, kitsu kan jadi ga tau gimana pendapat cingu… so tinggalkan komen juga ya..
Annyeong!
*Deep Bow*
