A/N : Osh! Ini chap terakhir dari Demon Tag! Mohon dinikmati..


Chapter 3 : The Final Act

Waktu yang tersisa : 1 jam

Jumlah murid : 13/452


"Minna-san!" Suara Kashiwagi menggema ke seluruh penjuru sekolah. "Permainan ini telah mencapai klimaksnya! Tinggal satu jam sebelum jam 7 dan murid yang bertahan adalah… 13 murid! Apakah mereka semua bisa tetap bertahan sampai akhir atau mungkin akan dihabisi oleh para Demon!" Nada bicara Kashiwagi yang harusnya menggoda hanya membuat efek sebaliknya bagi yang mendengarkan.

"Ugh.. Seperti biasa Kashiwagi.." Chie menatap tajam kearah Kashiwagi. "Tidak bisakah dia berbicara dengan nada normal.." Gadis dengan rambut coklat susu itu menahan rasa mual yang disebabkan ucapan Kashiwagi.

"Ya.. " Yukiko memegang 2 buah cangkir berisi the hangat dan memberikan salah satunya pada Chie, "Ini.. Apakah kamu mau onigiri? Biar kuambilkan." Ia menunjuk tenda Student Council yang sedang dipenuhi murid-murid yang berebut makanan.

"Ah.. Tidak usah deh.." Chie sweatdrop memperhatikan kerumunan murid tersebut, "Nee~ Apakah mereka bisa menang?"

"Tentu saja mereka akan menang!" Rise berteriak dan hampir menyiram Chie dengan tehnya. "Apalagi kalau Senpai ada disana! Mereka pasti menang!"

"Hai' Hai'.." Chie kembali sweatdrop dengan jawaban adik kelasnya yang penuh semangat. Tiba-tiba, suara yang sangat dikenali nya terdengar disebelahnya. "Yosuke! Dan… Teddie?!"

"Yo…" Yosuke menjawab tanpa semangat, Teddie yang berada dibelakangnya pun ekspresinya sama dengan Yosuke. Padahal Pemuda dengan rambut blond dan mata biru langitnya itu selalu bersemangat walaupun disaat-saat seperti ini.. Tapi kenapa?

"Kenapa kalian terpuruk seperti itu?" Chie, Yukiko dan Rise memperhatikan mereka berdua. "Walaupun didiskualifikasi, kalian tidak harus terpuruk kan?"

"Ya.. Jika Demon yang mendidiskualifikasikan kami itu manusia.." Yosuke mengepalkan tangannya. "Tapi yang kami hadapi adalah robot! Tidak mungkin kita menang dari yang seperti itu!"

"Robot?" Rise tersedak oleh tehnya. "Tapi semua Demon yang kami temui itu manusia kok!"

"Yang lain memang manusia, kuma! Tapi ada satu yang merupakan robot.. Dan kemampuannya melebihi batas kemampuan manusia, kuma!"

"Sudah.. Sudah.. Apakah kalian sudah memberitahukan Souji, Naoto dan Kanji?" Yukiko mencoba menenangkan emosi Yosuke dan Teddie.

"Tadi saat kami ingin memberitahu lewat e-mail, tapi Kashiwagi langsung mengambil handphone ku dan melarangku memberitahu mereka! Katanya agar lebih seru.." Yosuke menggertakkan gigi.

Chie duduk bersila di tanah, "kalau begini, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanya berharap mereka bisa menang tanpa terluka sedikit pun.."


Waktu yang tersisa : 15 menit

Sisa murid : 2/452


Souji menginjakkan kaki di Gedung Olahraga. Gedung itu sangatlah gelap, tapi Ia dapat menangkap sosok tubuh kecil Gadis itu.. Gadis yang Ia khawatirkan sejak Ia menemukannya di atap sekolah. Ya, Naoto!

Pemuda berambut abu-abu itu mempercepat langkahnya dan langsung menangkap Gadis yang terlihat akan pingsan itu. "Naoto!" Souji memegangnya erat dan memperhatikan ekspresi Detektif muda itu.

Wajahnya pucat pasih.. Mata berwarna safir keabu-abuan itu terlihat kosong.. Bibir nya yang terlihat indah itu ternodai oleh tetesan darah yang mengalir ke dagunya..

'Sial!' Gumam Souji dalam hati. Naoto sekarang sudah mencapai batasnya! Ia sekarang hanya bisa berharap agar waktu cepat berlalu agar Ia bisa membawa Naoto cepat ke rumah sakit!

"Hey! Masih ada orang disini!" Pemuda dengan seragam Gekkoukan dan topi menunjuk ke arah Souji dan Naoto. Reflek, Souji mengangkat Naoto dan membawanya ke atap Gedung Olahraga.

Souji terus menghindari serangan dari para Demon yang terus bertambah sejak tadi. Untunglah Ia sudah sering melatih kelincahannya saat bertarung melawan shadow. Tapi itu tidak berlangsung lama..

Ia terpojok! Dia akan terjatuh jika mundur selangkah pun! Murid-murid yang sudah didiskualifikasi mengkerumuni tempat dibawah mereka.. 'Tidak ada pilihan lain..' Ia akhirnya loncat sambil tetap membawa Naoto.


Waktu yang tersisa : 1 menit

Jumlah murid : 2/452


Kesadaran Naoto samar-samar mulai datang kembali. Tapi yang Ia lihat adalah seorang robot yang ikut meloncat bersama mereka!

Otak cerdasnya dengan cepat meregistrasi keadaan yang ada. Dia pun menyadari bahwa mereka sedang berada di udara, sepertinya Souji-senpai melompat untuk menghindari serangan 'Demon' ini. 'Semua akan sia-sia saja kalau kami berakhir seperti ini!'

Dengan sisa tenaganya, Naoto mencari tenda lalu mendorong Souji ke arah tenda tersebut. Sedangkan Naoto menerima pukulan dari robot tersebut..

Robot itu tetap tidak menyerah.. Ia kemudian ikut terjun ke arah Souji terjatuh. "Kamu akan ikut bersamaku.." Naoto tersenyum lemah kepada sang robot sambil menarik tangannya dan menjatuhkan dirinya dan robot tersebut ke arah kolam renang.


Waktu yang tersisa : 0 menit

Jumlah murid : 1/452


"Pemenangnya adalah…. Souji Seta!" Suara Kashiwagi menggelegar dan ikut disoraki oleh tepuk tangan para murid yang lain.

'Tidak ada waktu untuk ini!' Souji langsung beranjak turun dari tenda dan berlari ke arah kolam renang. 'Naoto!' Kashiwagi terlihat kesal dengan tingkah laku Souji yang tidak menghargai dirinya.

Saat Ia sampai di kolam renang, sosok Naoto yang sedang diangkat ke darat dalam keadaan pingsan dan dikerumuni oleh para 'Demon'. "Naoto!" Souji langsung meraih Gadis yang basah kuyup itu.

Perlahan-lahan, mata Naoto terbuka walaupun hanya setengahnya. "Syukurlah… Senpai menang.." Naoto tersenyum lemah lalu kembali menutup matanya.

"Cepat panggil ambulans!" Mitsuru menyuruh salah satu anak buahnya lalu memberi tanda pada Souji untuk ikut bersamanya.


Beberapa hari kemudian, Naoto akhirnya sadarkan diri.. 'Dimana.. ini?' Tanyanya dalam hati lalu terbatuk cukup keras.

Tempat itu memiliki warna putih sebagai warna dasarnya dan Ia sedang berada di tempat tidur.. 'Tentu saja.. Rumah sakit..'

Sang Detective Prince itu baru menyadari bahwa disampingnya terlelap Senpai, sekaligus Leadernya, sedang terlelap dan memegangi erat tangannya. Naoto kemudian mengelus tangan Senpainya tersebut dan tanpa sengaja Senpainya terbangun.

"Naoto!" Senpai berambut abu-abu itu tanpa sadar mempererat pegangannya di tangan Naoto.

"Senpai.. Sakit.." Naoto menunjuk tangannnya yang bisa remuk kapan saja kalau tidak segera dilepaskan lalu tersenyum lemah.

"Ah! Maaf.." Souji melepaskan tangannya dari tangan Naoto lalu mengelus pipi nya yang pucat. Mendekatkan wajah sang Detective Prince dengan miliknya.

"Sen.. Pai..?" Naoto secara refleks menutup kedua matanya. Tetapi suara yang pintu yang dibuka mengganggu mereka. Naoto pun menjauhkan wajah nya dengan wajah Souji.

"Yo!" Yosuke dan yang lainnya masuk ke kamar. Ia langsung menaruh semua kantung plastik Ia bawa diatas meja. "Ngg? Apakah kami mengganggu kalian?"

"Ti- Tidak kok!" Naoto terlalu cepat menjawab dan menimbulkan rasa keingin tahuan teman-temannya meningkat. Semburat berwarna merah terlihat bersemu di pipinya.

"Baiklah.. Nona detektif! Kami tidak akan termakan atas kebohonganmu barusan!" Senyum mengembang diseluruh teman-temannya dan langsung mengintrogasi Naoto dan Souji.


Souji mengambil barang yang Ia pesan dari Daidara dan berjalan pelan menuju rumah sakit. Ia telah menunggu sejak lama untuk memberikan hadiah ini untuknya.

Ia pun sampai di rumah sakit.. Langkah sedikit Ia percepat karena rasa ketidak sabarannya untuk melihat wajah Gadis itu saat Ia memberikan hadiahnya. Saat pintu kamarnya sudah dihadapannya, Ia membuka pintu itu perlahan.


Di sana terbaring Gadis berambut biru sedang tertidur pulas dan cahaya matahari yang menyinari wajahnya. Gadis itu membuka matanya saat mendengar Senpainya masuk.

"Senpai?" Ia menatap mata abu-abu pemuda itu dengan safir abu-abu miliknya. Bibirnya mengembangkan senyuman yang sangat manis yang dapat meluluhkan hati sekeras apapun.

"Naoto..." Souji mengeluarkan barang yang Ia dapatkan dari Daidara. "Aku ingin memberitahukan mu sesuatu.."

"Ya?" Jawab sang detektif tanpa banyak bicara.

Souji mengangkat tangan Naoto lalu menyelipkan sebuah cincin berwarna perak di Jari manisnya. "Will you go out with me?" Souji kembali mengangkat tangan Naoto lalu menciumnya.

"Of Course," Jawabnya mencium dahi Souji dengan lembut.

"He- Eh.." Souji tersenyum dengan sedikit blush di pipinya, "aku tidak menyangka kamu akan memberikan jawaban yang langsung seperti itu."

"Hmm?" Naoto sedikit memiringkan kepalanya, "Senpai pikir, jawaban apa lagi yang bisa kuberikan atas pertanyaan itu? Lagi pula.." Naoto memalingkan mukanya sesaat, semburat merah muda mulai mewarnai wajahnya, "untuk ku, tidak ada kata tidak untuk mu.."

Souji terlihat sedikit menahan tawa, "Bisakah kamu mengulangi kata-kata yang baru saja kamu katakan tadi?"

"Lu- Lupakan saja!" Naoto sedikit meneriaki Souji. Semburat yang tadi hanya menghiasi kedua pipinya, sekarang telah memenuhi seluruh wajahnya, mungkin karena percampuran marah dan malu.

Pemuda itu akhirnya melepaskan tawa yang ditahannya. "Haha! Naoto, kamu harus belajar lebih banyak untuk menutupi rasa malu mu.."

"U- Urusai!" Walaupun kalimat itu yang diucapkan Naoto, sebuah senyuman yang sangat manis menghiasi wajahnya.


A/N : Saya akhirnya berpikir untuk sedikit mengganti endingnya.. Karena cerita nya agak aneh dibagian sini. Saya juga tidak mempunyai banyak waktu untuk me-remake ulang chap ini XD Tolong kritik dan sarannya ya! (Tolong jangan flame *bow*)