Naruto | Masashi Kishimoto

Next Door | SilverMatch

Genre : MultiGenre

Rate : T M

.

.

Summary :

"Mau belmain denganku?"/"Jangan dikucek, nanti jadi melah."/"Mau kuantar, Cherry?"/"Kau tak apa?"/Oh my god! Ternyata dia teman masa kecilku! Seorang RedHair Prince itu teman masa kecilku! Mimpi apa aku semalam tuhan ia menjadikan aku pacarnya!/Chapter II is UP!/GaaSaku!/MultiGenre/MultiPair/RnR!/Lemon!Fict!

Chapter II request dari : hasnistareels

Dengan pairing : GaaSaku

.

.

Warnings :

Author mesum dengan chapter terbaru ^^ semoga menyukainya. Kecepetan, banyak typo dan lain-lain. Menyebabkan sakit perut dan muntah-muntah. Flame boleh asal membangun ^^ RnR!

.

.

Sakura membuka kacamata berframe tebalnya. Mata hijau virdiannya memandang sekeliling kelas, ia sendirian. Setiap pulang sekolah ia selalu pulang paling belakang. Kenapa selalu? Karena teman-teman -lebih tepat penindas-nya selalu melimpahkan tugas piket padanya. Ia yang seorang penurut menuruti perkataan siapapun hanya mengangguk tatkala seorang gadis berambut kuning memintanya menggantikan piket.

Sakura menghela nafasnya pelan, diambilnya kain pel dan ember lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air, setelah memakai kacamata lagi tentunya. Matanya tak sengaja menangkap basah seseorang yang ia sukai, Sasuke Uchiha sang pangeran sekolah, tengah bercumbu mesra dengan kekasih barunya, Karin. Merasa diperhatikan, keduanya menoleh, mendapati Sakura yang memandangi mereka.

"Apa kau lihat-lihat, nerd?" Bentak Karin pada Sakura. Sasuke hanya menatap datar Sakura.

"A- ti-tidak senpai." Sakura menggeleng lalu bergegas ke kamar mandi.

Karena kurang memperhatikan jalan, Sakura tak sengaja menabrak seseorang. Ia segera meminta maaf lalu melanjutkan perjalanan (?) ke kamar mandi dengan mata berlinang air mata. Si korban tabrak jalan (?) itu hanya mengernyitkan dahinya, heran. Ia melihat tetesan air mata yang jatuh dari Sakura. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Oh jadi itu, pikirnya jijik. Ia mengedikkan bahu lalu keluar dari gedung sekolah.

Sakura mengusap linangan air matanya. Pipinya sembab karena memikirkan Sasuke. Ia menghela nafas yang ke seratus delapan puluh kali hari ini. Ia sudah pulang beberapa menit yang lalu. Ia merebahkan dirinya. Dibukanya kedua ikat rambutnya, lalu kacamatanya juga. Mata hijau virdian Sakura memandang sebuah figura dengan sosok gadis kecil dan seorang anak lelaki berambut merah. Si gadis kecil tersenyum riang, sedangkan bocah lelaki itu tersenyum masam. Sakura sangat merindukan sosok bocah lelaki itu, ia lupa menanyakan nama, dan ia hanya memanggilnya dengan Akai-kun.

::Flashback::

"Um, mau belmain denganku?" Tanya gadis kecil berkepala merah jambu itu pada bocah lelaki yang duduk sendirian di ayunan.

Si bocah hanya menatap datar tanpa mempedulikan ajakan si gadis. Sakura-gadis itu- berkacak pinggang, ia lalu menarik tangan bocah itu untuk bermain pasir.

"Ayolah Akai-kun, dalipada cendilian mending main cama Caku caja." Omel Sakura dengan nada cadelnya.

Bocah lelaki itu hanya menurut saja ketika tangannya ditarik menuju bak pasir di taman. Ia juga tak keberatan dipanggil 'Akai' oleh gadis kecil itu. Sakura lalu mengambil sendok pasir yang disediakan. Ia memberikan satu pada si bocah.

"Um Akai-kun, kita buat ictana yuk? Caku belum pelnah buat ictana pacil." Ujar Sakura sambil membentuk sebuah gundukan besar. Bocah itu hanya mengangguk lalu membantu Sakura membuat gundukan lain. Tak sengaja, beberapa butiran pasir masuk ke mata bocah berambut merah. Ia mengucek matanya, Sakura yang melihat hal itu segera menampik tangan si bocah.

"Matanya jangan dikucek, nanti tambah melah. Cini bial Caku tiupkan." Si bocah hanya memandang Sakura datar, tak mengerti. Sakura mendekatkan wajahnya ke wajah bocah itu lalu meniup-niup mata kiri bocah itu dan mengecupnya pelan. Sensasi aneh menjalar disekitar tubuh bocah berambut merah itu. Ia memegangi mata kirinya yang tak lagi perih.

"Gimana? Cudah baikan lacanya?" Tanya Sakura penuh harap.

"U-uhm." Untuk pertama kali, ia mengeluarkan suaranya.

"Yokattaa ne~" ujar Sakura senang. Si bocah turut tersenyum melihat tingkah laku lawan jenisnya itu. Jam menunjukkan pukul empat sore, sudah waktunya untuk anak-anak itu pulang. Sakura menepuk rok mungilnya. Ia lalu menoleh pada Akai-kun yang kini dihampiri oleh seorang gadis berambut kuning cepol empat.

"Um, Akai-kun…" Sakura berjeda,

"Hm..?" Akai hanya menjawab dengan gumaman tak jelas.

"Kau cudah dijemput ya?" Tanya Sakura dengan nada yang sedih. Akai menatap lawan jenisnya itu, lalu mengangguk.

"Oooh, ya cudah Caku juga mau pulang. Becok main lagi ya Akai-kun." Sakura lalu melambai pada Akainya. Tak disangka, Akai menarik tangan mungil Sakura.

"Mau aku antar? Kebetulan kakakku sedang senggang." Ujar Akai. Senyum senang merekah dibibir mungil Sakura.

"Um Caku mau Akai-kun." Jawab Sakura. Kakak Akai hanya tersenyum melihat adiknya kini menggandeng seorang gadis kecil ke arahnya.

"Onee-chan, nanti mampir sebentar ke rumahnya Cherry ya, ku mohon." Untuk pertama kalinya gadis bercepol empat ini melihat sang adik memohon, ia lalu mengangguk menanggapi pertanyaan sang adik lalu menggandeng lengan keduanya memasuki mobilnya.

Mobil Porche berwarna hitam itu sampai disebuah rumah minimalis sederhana. Sakura dan Akai lalu turun dari mobil. Akai melirik tag nama di pagar itu bertuliskan : 'Haruno'.

"A-Aligatou Akai-kun." Ujar Sakura malu-malu.

"Douita Cherry. Um ini rumah orang tuamu?" Tanya Akai yang kemudian melihat perubahan raut wajah Sakura. Sakura menggeleng,

"Ini lumah Nenekku, kata nenek olang tuaku cedang pelgi ke tempat yang cangattt jauhh." Jawab Sakura. Untuk ukuran bocah kecil, Akai termasuk anak yang jenius, ia mengerti apa maksud Sakura.

"Um Cherry, aku ingin mengatakan sesuatu. Besok aku pindah ke Suna, jadi ini hari terakhirku di Konoha." Ujar Akai menatap gadis mungil itu.

"Ja-jadi A-Akai-kun mau pindah? Pa-padahal balu aja Caku dapet temen balu." Ujarnya sedih.

"Aku tahu, kebetulan kau teman pertamaku di Konoha." Akai berusaha untuk membuat Sakura kembali senang.

"Benalkah? Oh iya bagaimana kalau Caku cama Akai-kun poto dulu? Bial Caku bica inget Akai telus." Ujar Sakura antusias. Akai hanya bergumam hm lalu segera meminta kakaknya untuk memotretnya dengan kamera usang yang entah darimana di bawa Sakura. CKREK! Sebuah foto ukuran 5R keluar dari kamera model lama itu. Sakura mengambilnya lalu memasukkan ke dalam saku rok mungilnya.

::Flashback End::

Tanpa sadar setetes kristal bening terjatuh dari pelupuk mata Sakura. Ia tersenyum mengingat semua kenangan bersama Akai-kunnya-kalau bisa dibilang begitu- ia jadi memikirkan bagaimana keadaan Akai sekarang. Bertambah tampankah ia? Pikirnya malu.

Seorang pemuda berambut semerah darah dengan tatto kanji bertuliskan 'Cinta' di dahinya memandang langit sore di musim semi ini. Kelopak bunga Sakura yang berguguran mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya, sesak. Nanti malam ia akan kembali ke Konoha setelah sebelas tahun meninggalkan kota itu. Seorang wanita berusia sekitar dua puluh sembilan tahun menghampiri pemuda itu.

"Kau akan kembali ke sana bukan? Titip salamku pada Cherry-mu itu ya, aku yakin ia pasti cantik sekali sekarang." Ujarnya sambil menepuk bahu sang adik.

"Hn, aku pastikan itu..." Balas Gaara ...jika ia masih mengingat aku, tambahnya dalam hati yang kini menggendong tas punggungnya.

Pagi yang cerah menyapa sesosok gadis yang kini tengah bersiap ke sekolahnya. Diikatlah rambut panjang sepunggungnya menjadi dua. Kacamata berframe tebal terletak indah di hidung mancungnya. Poni rata menghiasi jidat lebarnya. Yak sudah selesai pikirnya. Sakura lalu mengambil obat penenang yang ia letakkan didekat meja, sepertinya Sakura agak err keliru mengambil obat, karena yang diambil ternyata -obat perangsang yang berefek sepuluh jam lagi. Sakura berjalan keluar dari rumahnya tatkala seseorang menepuk bahunya.

"Ano, shumimasen. Apa kau siswi Konoha High ? Bisa aku ikut denganmu? Aku belum hafal daerah sekitar sini." Ujarnya. Sakura mendongak, mendapati seorang pemuda tampan kini menatapnya intens. Sakura merasakan wajahnya memanas, ia mengangguk lalu berjalan duluan.

"Boleh ku tahu namamu?" Tanya pemdua itu.

"Sa-Sakura, Haruno Sakura." Jawab Sakura yang tak menyadari bahwa pemuda itu membulatkan matanya, kaget. Sakura tak mendapat respon apa-apa dari pemuda dihadapannya itu, ia memutuskan untuk bertanya.

"Um lalu namamu siapa?" Tanya Sakura yang kini tak terbata lagi, dalam benak Sakura ia merasa telah mengenal lama sosok dihadapannya itu.

"Gaara, Sabaku Gaara." Balas pemuda itu. Pikiran Gaara kembali melayang pada saat ia mengantar Cherry-nya dulu, papan nama bertuliskan 'Haruno'lah yang muncul saat ini.

"Oh, kamu baru pindah ke rumah sebelah ya? Pindahan dari mana?" Tanya Sakura.

"Ya, baru kemarin malam. Dari Suna." Mereka berdua bercakap-cakap layaknya sepasang teman yang lama tak jumpa.

Sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka berdua sampai. Suara ribut dan jeritan para gadis menyambut mereka.

"Psstt, dia anak baru ya? Kyaa~ ku harap ia memasuki kelasku!" Bisik seorang siswi pada temannya

"Ikh, kenapa pemuda setampan itu bersama si nerd sih?"

"Cih nambah deh saingan kita."

"Si nerd beruntung sekali."

Tatapan kagum dilayangkan pada Gaara, sedangkan tatapam benci? Kita tahu kepada siapa itu dilayangkan. Gaara yang merasa risih dengan tatapan itu menarik Sakura masuk, walau ia tak tahu kemana ia akan membawa gadis itu. Langkah kaki Gaara ternyata membawa mereka menuju atap sekolah. Nafas Gaara sedikit terengah setelah berjalan cepat kemari, dilihatnya gadis berkepala merah muda itu juga terengah dan memegangi kepalanya. Tak lama gadis itu pun ambruk. Gaara panik, ia melihat sebuah rumah kaca di sana. Ia lalu menggendong Sakura dan bergegas ke rumah kaca itu.

Di dalam rumah kaca yang kebetulan tak terkunci, Gaara merebahkan Sakura diatas sebuah meja panjang. Ia melepaskan sepatu dan dasi Sakura, ia juga menggerai rambut dan melepaskan kacamata Sakura. Ditatapnya gadis itu lama, tetap cantik seperti dulu. Ia menunggu sampai bel pulang sekolah datang, tak tega meninggalkan Sakura sendirian...

Bel pulang sekolah telah berdentang beberapa belas menit yang lalu. Gaara kini menggendong Sakura yang belum sadarkan diri. Ia melirik sekeliling, aman. Lalu melengganglah ia pulang. Gaara telah sampai di depan rumah Sakura yang bersebelahan dengan rumahnya. Ia-Gaara, bingung mau membawa Sakura ke rumahnya atau ke rumah Sakura. Dengan cepat ia memutuskan untuk membawa gadis itu kerumahnya saja.

Direbahkannya gadis itu di atas kasur di kamar tamu Gaara. Pemuda itu kini mengambil sebaskom air dingin dan handuk kecil, gadis itu demam. Dikompresnya berkali-kali dahi gadis itu agar lekas turun panasnya. Berulang kali ia mendengar gadis itu meracau dalam tidurnya, 'Akai-kun jangan tinggalkan Saku..' atau 'Akai-kun...'.

Jika Gaara hitung, gadis itu tertidur selama sembilan jam. Ia mengganti air kompresannya sebanyak dua puluh satu kali. Gadis itu menggeliat kecil, ia bergumam aku dimana~?, suaranya yang parau dan kecil itu malah terdengar seperti desahan. Gaara membeku ditempat.

"Kau ada dirumahku, Sakura." Ujar Gaara yang datang membawa segelas air. Mata Sakura yang masih berkunang-kunang menatap siapa yang datang. Ia mengerjap pelan, melihat seseorang mirip dengan Akai-nya dulu. Tangannya meraih leher pemuda itu lalu menerjang hingga si pemuda terbaring di atas tempat tidur, dengan liar ia mencium bibir pemuda itu. Gaara kaget dengan tindakan Sakura. Kedua tangannya telah dikunci oleh lengan mungil gadis itu. Entahlah yang pasti tenaga Sakura kuat sekali. Sakura lalu mengikat kedua tangan Gaara dengan tali yang entah dimana ia temukan. Gaara semakin memberontak, hei kenapa ia diikat?

Mata Sakura yang sayu menatap mata jade Gaara. Jemari lentiknya kini membuka satu persatu busana yang Gaara kenakan. Bibir mungil nan basah sensual itu mengecup leher Gaara turun menuju dada bidang pemuda itu. Gaara mengerang tertahan merasakan sensasi yang diberikan Sakura. Kissmark bertebaran ditubuh atletis pemuda berambut merah itu. Jemari nakal Sakura sesekali memelintir puting Gaara sementara bibirnya mengecup perut putra bungsu Sabaku. Tangan Sakura kini sampai di celana seragam Gaara. Gaara menggeram ketika dengan lembut Sakura mengelus sesuatu yang menonjol -kejantanan dari luar.

"Heheheh sudah tak sabar ya Akai-kun~?" Kini Sakura membuka paksa resleting celana Gaara dan membuka boxer Gaara.

"Uuwaa~ besar sekali Akai-kun." Tanpa malu-malu Sakura berucap lalu mengocok pelan kejantanan Gaara. Sakura menciumi pucuk kepala kejantanan itu. Membuat Sabaku Gaara mengerang ditengah kenikmatan.

Kocokan Sakura semakin lama semakin cepat, kini ia mengulum kejantanan sepanjang dua puluh satu senti itu tanpa ragu. Gaara merasa diambang batasnya, Sakura merasakan kejantanan itu menegang lalu ... CROTTT, cairan putih kental masuk melalui kerongkongan Sakura. Sakura menelan cairan itu tanpa sedikitpun rasa jijik. Ia lalu melepas satu persatu pakaian yang ia kenakan. Ia-Sakura, cengengesan melihat wajah Gaara yang kini memerah, peluh menetes dari dahi pemuda itu.

"Hehe, masuk ke acaraahh intii~ Akai-kun~" bisiknya sensual di telinga Gaara. Sakura lalu mendekatkan bibirnya ke bibir pemuda itu. Dilumatnya bibir tipis si pemuda, semenit berlalu karena keterbatasan oksigen, Sakura terpaksa menghentikan ciuman mereka. Nafas Gaara terengah, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Seluruh bagian tubuhnya lemas -kecuali sang jantan. Kejantanannya justru menegak sempurna bak tiang bendera.

Tubuh Sakura proporsional. Didukung oleh kulitnya yang seputih susu, payudara dengan ukuran yang pas, lekuk tubuh yang indah tanpa timbunan lemak. Wajah yang cantik dengan hidung mancung dan bibir tipis yang tengah tersenyum sensual. Gaara menelan ludah ketika gadis itu memposisikan payudaranya tepat dihadapan Gaara.

"Ayo~ hisap Akai-kunn~" desahnya. Gaara hanya menurut dengan menghisap payudara ukuran 34B dihadapannya ini. Toh tak ada ruginya batin Devil!Gaara. Gaara mendengus dalam hati. Bibir tipis Sakura terus mengalunkan harmony indah mengiringi percintaannya. Gaara menghisap sambil menggigiti puting susu Sakura. Setelah melakukan kegiatan itu selama lima menit, Sakura lalu menarik diri dan memposisikan tubuhnya tepat di atas kejantanan Gaara. Bersap untuk menu utama.

"Here we go~ Akai-kun~" ujarnya, tangan kirinya memposisikan kejantanan Gaara agar masuk pas di lubang vaginanya. Sakura mengerang, padahal baru ujungnya saja yang masuk. Tanpa ba bi bu lagi, Sakura segera menghempaskan pinggulnya ke bawah, menghasilkan benturan keras antara kejantanan Gaara dan rahim Sakura.

"Kuuhhkk~" desah Gaara merasakan kejantanannya menusuk dan menabrak sesuatu, inikah yang disebut kiss of womb? pikirnya. Sakura menaik turunkan tubuhnya dengan irama sedang. Kedua tangannya bertumpu pada tubuh Gaara. Dadanya kian membusung disertai gerakan pinggulnya yang kini naik turun sambil sesekali berputar, memelintir kejantanan Gaara. Tanpa sadar Gaara ikut memaju mundurkan pinggulnya. Sakura menambah tempo gerakan pinggulnya. Kini gerakannya semakin asal dan brutal. Kejantanan Gaara menusuk berkali-kali di titik-titik g-spot Sakura. Beberapa saat kemudian Gaara merasakan bagian bawah Sakura menjepit erat kejantanannya, dirasakannya juga tubuh gadis itu ambruk disertai cairan cumming Sakura.

"Aw crap, aku diperkosa perempuan... " gumamnya pelan di tambah apa kata ayah nanti jika tahu anak kesayangannya diperkosa begini rutuknya dalam hati. AKhirnya Gaara berhasil membebaskan diri dari ikatan tali Sakura. Bagian bawah tubuhnya yang masih tegang minta dipuaskan. Kejantanan Gaara masih berada di dalam vagina Sakura, sepertinya gadis itu enggan melepasnya.

Gaara lalu membalik tubuh gadis itu, sehingga kini ia yang berada di atas. Diputarnya tubuh itu sehingga menelungkup. Tangan Sakura terlentang, sementara dadanya bergesekan dengan sprei tempat tidur. Gaara mengambil posisi, ia memegangi pinggul Sakura, bersiap menghujamkan kejantanannya yang kini kembali mengeras. Lalu plak...plakk...plak terdengar suara benturan antara pinggulnya dengan bokong Sakura. Sakura yang setengah sadar hanya mengerang nikmat menerima perlakuan pemud itu. Gaara semakin buas menghentakkan kejantanannya, sebentar lagi ia akan sampai. Gerakannya semakin cepat, keras, kuat dan beringas, tak memberi ampun pada lubang sempit yang kini menelan kejantanannya. Delapan tusukan terakhir lalu Gaara ambruk di samping gadis itu. Sakura melenguh panjang, mendapati orgasmenya yang kedua bersama si pemuda.

"Hisashiburi .. Cherry-hime." bisiknya lalu terbuai alam mimpi bersama sang terkasih -Sakura.

.

.

End This Chapter

.

.

.

Author's Note :

Gimana? Gimana? udah hotkah? Gomen saya cuman bisa sampai segitu aja ^^ *nyengir

xxx-Chan21 :: yup itu benar, saya merubah sedikit jalan ceritanya ^^ tapi tenang, saya sudah membuat sendiri cerita saya *nunjuk cerita diatas

natsuferdian :: hoho .. arigatou, hehe kemampuan berkata-kata saya cuman sampai segitu, jadi maklum aja. Semoga puas dengan chapter ini ^^

Guest-san :: gomen Guest-san ^^ belom kesampaian saya buat NaruHina, tapi saya sudah buat poll di profile saya ^^ ikuti ya .. semoga puas dengan chapter ini ^^

hasnistareels :: hehe waduh itu memang disengaja ^^ saya harap kamu puas dengan chapter ini ^^ arigatou udah review

KarasuUchiha :: hoho, untuk pembuka sudah saya buat SasuSaku, mungkin chapter-chapter selanjutnya akan saya buatkan lagi . Arigatou ^^

Minna arigatou udah review, walau dari lima ratus pembaca hanya sekian yang mereview, saya tetap semangat ! Arigatou udah mendukung saya jangan lupa ikutin polling di profile saya untuk menentukan pairing chapter depan! Jaa na!