~For Tomorrow~
Disclaimer : Naruto punya saya, dalam mimpi T.T
Tapi saya akan berusaha membuatnya jadi kenyataan *taboked*
Warning : BL/Yaoi, OOC, typo(s), gaje, agak lebay, tidak tanggung jawab pada segala jenis reaksi yang akan readers alami setelah membacanya, Don't Like Don't Read.
Pair : SasuNaru –Forever-
Rated : T
~"~"~"~
Sasuke terbangun dengan tampang berantakan tidak terkira, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Dipeganginya kepalanya yang terasa agak sakit, dia mengangkat tubuhnya dan menjejakkan kakinya di lantai putih kamar rawatnya, berjalan ke arah kamar mandi yang pintunya tertutup. Kamar mandi telah diisi oleh Naruto yang sedang asyik mandi pagi.
Senandung Naruto terdengar oleh Sasuke, suara cemprengnya menusuk telinga Sasuke walaupun pemuda raven itu telah menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Tok.. tok.. tok.. tok.. tok..
Sasuke mengetuk pintu kamar mandi dengan kasar, mengisyaratkan agar Naruto mempercepat aktivitasnya di dalam sana dan menyuruhnya menghentikan senandung kamar mandinya yang lebih mirip suara kaleng yang dipukul-pukul dengan kayu. Memekakkan telinga, batin Sasuke.
Mendengar nada 'protes' dari teman sekamarnya itu, Naruto segera menyudahi mandi paginya dan bergegas mengenakan celana seragam pasien tanpa baju atasan, top-less again. Naruto lalu membuka pintu dan menemukan seonggok daging pucat dengan rambut mirip pantat ayam sedang berdiri dengan 'kokoh'nya, wajah Naruto sontak berubah takut dikiranya seonggok daging itu adalah siluman pantat ayam yang sedang menunggunya untuk diajak bergabung menjadi siluman pantat ayam juga. Tapi sebelum dia berteriak -kyaaaaaaa.. ada siluman pantat ayam!-dengan histeris dan alaynya, beruntung dia sadar kalau –siluman yang dimaksudnya- itu adalah Sasuke yang sedang galau (?). maksudnya, Sasuke yang baru saja bangun tidur dengan rambut acak-acakan dan gaya lesu tak bertenaga.
"Sasu..ke.. kau kah itu?", tanya Naruto ragu-ragu sambil memperhatikan makhluk tak terdefinisi di depannya.
Sasuke yang sedang tidak dalam keadaan-ingin-beramah-ramah-pada-Naruto langsung saja mendorong tubuh Naruto menjauh dari pintu kamar mandi lalu masuk dengan cepat tanpa sepatah kata pun.
Naruto? dia hanya cengo saja dibegitukan oleh seonggok pantat ayam. *dapat deathglare dari Sasuke*
.
.
Setelah Sasuke selesai membereskan dirinya dan tidak lagi terlihat seperti seonggok pantat ayam, dia kembali ke ranjangnya, kembali dalam posisi bertapa menghadap ke ranjang Naruto.
Naruto yang merasa kalau Sasuke ingin mengatakan sesuatu segera merespon Sasuke dengan duduk dalam posisi yang tidak jauh beda dari Sasuke, menghadap ke ranjang yang ditempati Sasuke tentu saja.
"Terima kasih untuk yang semalam", Sasuke menatap Naruto dengan wajah stoic.
"Kau berterima kasih dengan wajah seperti itu?", tanya Naruto tidak percaya pada apa yang dilihatnya dari pemuda bertampang datar di depannya.
"Hn.. beginilah wajahku kalau berterima kasih", jawab Sasuke datar.
"Hah, dasar TEME. KAU benar-benar ANGKUH ya", kata Naruto dengan penekanan pada kata-kata tertentu.
"Terserah, Dobe", jawab Sasuke tidak peduli.
"Ng kau sudah sering seperti itu ya?", tanya Naruto lagi, penasaran.
"Hn".
Sasuke menatap pemuda blonde yang ada di depannya, Naruto juga tengah menatap Sasuke dengan tatapan khawatir mengingat kejadian malam itu.
"Kupikir kau sudah sering mengalami itu karena wajahmu sangat tenang saat menyuruhku memanggil dokter Itachi", jelas Naruto tanpa ditanya, dia menunduk. "Mungkin juga karena wajahmu memang sudah flat dari sononya".
Sasuke memutar bola matanya melihat tingkah pemuda yang berada 2 meter di depannya.
"Itu sudah sering terjadi kalau aku bolos minum obat", jawab Sasuke seadanya.
"Jadi kau sering bolos minum obat yah, Teme?", tanya Naruto memastikan pernyataan Sasuke. Dia bangkit dari tempatnya dan segera berpindah ke ranjang Sasuke, kini mereka berhadapan di atas ranjang yang sama.
Deg.
Deg.
Sasuke merasa ada sesuatu yang mengalir ke sekujur tubuhnya, tiba-tiba dia merasa ruangan full AC itu sangat pengap, keringatnya mengalir di bawah bajunya.
Apa lagi ini? Jangan, Sasuke! Kau normal. Sasuke membatin dan tanpa sadar menelan ludahnya. Jarak Sasuke dan Naruto hanya beberapa centimeter, Sasuke mundur teratur berusaha mengambil nafas, ini membuat Naruto makin mendekatinya. Tatapan Naruto penuh selidik, membuat Sasuke makin salah tingkah dan akhirnya terpojok, dia tidak bisa mundur lagi karena tinggal dinding di belakangnya.
Tawa Naruto meledak seketika. "Aku juga sama, gak begitu suka minum obat. Kita samaan yah rupanya", ucap Naruto tanpa bisa membaca ekspresi wajah Sasuke yang sudah diambang batas kewajaran.
Sasuke menghela nafas. Kurasa dia tidak menyadarinya, batin Sasuke lega.
"Tapi aku paling cerewet kalau nyuruh orang minum obat, jadi sebagai ganti perawat Sakura aku yang akan mengontrol kau minum obat. Oke", kata Naruto riang gembira tanpa mempedulikan reaksi Sasuke.
"Kau tidak ada hak untuk itu, Dobe", tolak Sasuke mentah-mentah.
"Siapa bilang? Aku kan teman sekamarmu, jadi aku berhak membantumu", jawab Naruto sengit. Dia lalu mengabaikan semua pernyataan penolakan Sasuke dan tetap pada pendiriannya.
"Aku sudah berjanji padamu, maka aku akan melakukannya", tegas Naruto. sasuke hanya pasrah mendengar kalimat Naruto itu.
Keras kepala, Sasuke menghempaska tubuhnya ke ranjang, posisi ingin tidur-tidak-mau-diganggu. Naruto pun sadar diri dan segera kembali ke ranjangnya.
"Jangan tidur teruslah Teme", kata Naruto.
"Berisik kau Dobe", jawab Sasuke sengit dari balik selimut yang disambut kekehen Naruto.
Sasuke menyembunyikan ekspresi senangnya, entah kenapa dia sangat senang diperhatikan seperti itu oleh Naruto, jangan tanya pada author karena author pun sama tidak tahunya. Coba kita tanya pada ilalang ilalang *plak*.
.
.
Ruangan putih yang masih dalam lingkup rumah sakit Konoha itu diisi oleh 3 makhluk, 2 pria dewasa dengan jas putih selutut dan 1 wanita berpakaian serba putih. Mereka sedang berdiskusi tentang sesuatu dengan cukup serius rupanya.
"Kurasa juga kita harus segera mengadakan pengecekan kembali pada Sasuke", ucap Itachi pada dokter senior di depannya.
Kisame mengangguk mendengar pernyataan juniornya itu. "Tapi sebelum itu kita harus memantau keadaannya kira-kira 1 minggu", dia melirik Sakura yang sedang mengatur berkas. "Kau bisa tangani ini Sakura?".
Sakura mengangguk tanpa banyak bicara, matanya melirik Itachi yang sedang sibuk mengamati berkas pemeriksaan milik adiknya.
"Akan kita lakukan setelah mendapat laporan dari Sakura, minggu depan", ujar Kisame tenang, menunggu respon dari Itachi.
"Baiklah. Untuk seminggu ini biarkan aku yang menjadi penanggung jawab kamarnya", kini Itachi yang menunggu respon dari Kisame.
"Terserah kau saja. Aku tidak mau repot. Kau tahu kan", jawabnya dengan santai, kemudian melepaskan jas putih yang melekat di tubuhnya.
"Sudah mau pulang ya?", Tanya Sakura pada Kisame.
"Aku mengerti untuk tidak mengganggu kalian", jawab Kisame yang langsung disambut tatapan kau-mau-mati-ya dari Sakura. Kisame pun segera menghilang dari ruangan itu, mungkin akibat tatapan dari Sakura itu. Itachi hanya tersenyum tipis memperhatikan mereka.
"Ini malam minggu ya?", Tanya Itachi pelan.
"Memangnya kenapa?", sakura balik bertanya.
"Kurasa kita tidak bisa keluar untuk kencan", jawab Itachi iseng yang langsung membuat Sakura blushing.
"Kita kan tidak sedang libur, dokter", balas Sakura dengan wajah tertunduk menghadap berkas-berkas laporan pasien.
Senyum kembali menghiasi wajah Itachi, senyuman yang hangat. "Tapi kurasa-", Itachi mendekati Sakura dengan pelan dan meraih tubuh gadis itu. "-kita bisa kencan di sini", dipeluknya tubuh Sakura dan diciuminya rambut pink gadis itu, membuat sang empunya jadi salah tingkah dan blushing tak terkira.
"Tapi kan, ini rumah sakit, dokter", kata Sakura pelan.
"Sebentar saja", bisik Itachi. Sakura bisa merasakan hembusan nafas Itachi yang hangat menyentuh permukaan kulitnya di bagian tengkuk membuatnya ingin tenggelam saja dalam pelukan pria itu. Namun, dia tetap menjaga kesadarannya karena Sakura adalah perawat yang baik dan sadar kalau rumah sakit bukanlah tempat untuk berkencan.
Itachi terus memeluk tubuh mungil gadisnya, merasakan kelembutan rambut pinknya dan sesekali menciuminya. Untuk beberapa saat mereka seperti tidak akan terlepas, namun karena ada panggilan mendadak dari kamar pasien di lantai 3 mereka harus menyudahi kencan mereka dan bergegas menjalankan panggilan tugas mulia.
.
.
Dia tersenyum, senang sekali melihatnya tersenyum seperti itu. Dia terlihat manis.
Naruto menatap Sasuke yang tersenyum tipis hanya dalam waktu 3 detik, singkat memang. Kau tahu kan bagaimana Uchiha itu. Tapi apa yang dipikirkan Naruto? dia memikirkan senyuman Sasuke dan mengaguminya?
Naruto menggeleng saat sadar dia memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan. Tanpa sadar dia menelan ludahnya, berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Sasuke", panggil Naruto.
"Hn".
"Sudah berapa lama kau di sini?", tanya Naruto.
"Cukup lama", jawab Sasuke seadanya, dia sedang asyik memainkan kertas origami yang tadi dibawakan Itachi.
"Seberapa lama?", tanya Naruto lagi.
"Jika kukatakan 10 tahun apa kau akan percaya?", Sasuke balik bertanya, kertas di tangannya telah berubah bentuk menjadi angsa berwarna biru.
"Sulit dipercaya", jawab Naruto sambil mengusap-usap dagunya.
Sasuke melemparkan angsa biru yang baru saja dibuatnya, itu angsa kesekian yang dia lemparkan pada Naruto.
"Kau sendiri kapan akan pulang? Sudah 5 hari kau di sini", kata Sasuke melanjutkan kegiatan melipatnya dengan kertas berwarna kuning kali ini.
"Tidak tahu, kalau Sakura-chan bilang bisa pulang aku akan pulang", jawab Naruto lagi, kali ini dengan ekspresi sedikit kesal. "Kau ingin aku cepat pergi ya?".
"Hn".
"Teme menyebalkan. Kalau begitu aku tidak akan pulang", Naruto cemberut memperhatikan Sasuke yang masih asyik dengan kertas origaminya dan mengacuhkan dirinya. Diambilnya angsa berwarna orange yang pertama kali dilemparkan Sasuke padanya, dia mengangkat angsa itu ke udara dan membuatnya bergerak memutari ruang kosong di depan wajah Naruto.
"Angsa itu makhluk yang cantik dan bisa terbang dengan anggun, bukan?", Naruto bergumam sendiri dan membentuk seulas senyum di bibirnya.
Hening.
"Kenapa tidak ada yang menjengukmu, Dobe?", tanya Sasuke tiba-tiba mengabaikan pertanyaan Naruto. Sasuke sedikit heran karena tidak ada seorang pun yang menjenguk Naruto sejak dia menempati kamar ini, apalagi Naruto kan baru saja selesai operasi, masa iya dia tidak punya keluarga. Lalu siapa yang membiayai dirinya.
"Itu karena tidak ada yang tahu tentang ini kecuali kau dan dokter di sini", jawab Naruto memutar badannya menghadap Sasuke. Mata birunya menatap jemari-jemari Sasuke yang terus melipat, diperhatikannya raut wajah Sasuke yang tenang. Ada rasa damai yang menyusup ke hati Naruto, membuatnya tenang setiap kali menatap wajah teduh Sasuke.
"Kemana orang tuamu?", tanya Sasuke lagi.
"Mereka sedang ada dinas ke luar negeri, karena tidak mau mereka khawatir jadi tidak memberi tahu", Naruto memasang cengirannya yang diacuhkan begitu saja oleh Sasuke.
"Kau sendiri apa tidak ada yang menjengukmu?", Naruto balik bertanya.
"Ada".
"Mana? Aku tidak pernah melihat siapapun yang menjengukmu kecuali dokter Itachi tentunya".
"Mereka menjengukku 10 tahun yang lalu".
"Kau tidak bercanda ya tentang 10 tahun itu?".
"Dobe".
"Teme", teriak Naruto kesal.
Sekali lagi Sasuke melemparkan angsa berwarna kuning ke arah Naruto, tapi kali ini di atas angsa itu ada tulisan. BERISIK, DOBE!
Oke! Kau pasti tahu yang terjadi selanjutnya. Naruto murka lalu secepat kilat menghampiri ranjang Sasuke dan menjitak keras kepala sang Uchiha dan dibalas jitakan lainnya oleh Sasuke. Jitakan pun bersahut-sahutan dengan anggunnya (?). mesra bukan *plak*
.
.
TBC
hyaaaaa ini dia chapter 2 yang ternyata telah lama selesai dan mendekam di laptop saya =='
errr~ maafkan kelalaian saya yang konyol ini..
terima kasih telah menunggu dengan amat sabar *ditabok bakiak saking lamanya*
silahkan tumpahkan keripiknya di kolom review :)
