~For Tomorrow~
Disclaimer : Naruto is not mine.
Warning : BL/Yaoi, OOC, typo(s), Don't Like Don't Read.
Pair : SasuNaru –Forever-
Rated : T
Dedicated to Sasuke's Birthday.
.
.
.
Langit di luar masih kelam,bulan masih menampakkan dirinya dengan indah. Ya, masih subuh memang saat itu, saat Sasuke mengalami serangan tiba-tiba di bagian kepalanya. Rasa sakit yang teramat sangat mulai menusuk setiap inchi ubun-ubunnya dan menjalarkan getaran kesakitan di seluruh tubuhnya. Sasuke berusaha keras menaha rasa sakit dan menyembunyikan rasa sakit yang benar-benar menggerayangi tubuhnya.
Naruto yang tidak bisa tidur, tersentak saat melihat dokter dan suster masuk dengan tergopoh-gopoh ke kamarnya dan membawa pergi Sasuke.
"Sakura-chan, ada apa?", tanya Naruto yang masih tidak tahu jika keadaan teman sekamarnya sedang gawat pada Sakura yang paling terakhir akan pergi dari kamarnya.
"Serangan mendadak. Ini sering terjadi. Tidak apa-apa, kau bisa tidur kembali. Maaf membangunkanmu ya. Oyasumi Naruto," kata Sakura berusaha menenangkan Naruto.
Ini tidak mungkin baik. Shit! Bagaimana aku bisa tidur jika keadaan Sasuke tidak jelas. Ck. Batin Naruto kesal. Ini sudah yang kedua kalinya Naruto melihat keadaan Sasuke tidak baik. Tapi kali ini benar-benar buruk, perasaan Naruto tidak tenang. Benar-benar tidak enak.
45 menit kemudian. Naruto masih tidak bisa tidur, dia hanya berbalik dan menendang-nendang selimutnya yang dirasa mengganggu sejak 45 menit yang lalu. Dia terus berpikir apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kecemasannya. Dan Naruto akhirnya memutuskan untuk menyusup ke IGD untuk memastikan keadaan Sasuke baik-baik saja.
Naruto menuruni tempat tidurnya dan keluar menuju lorong rumah sakit, mengendap-endap menuju IGD yang ada di lantai dasar.
Naruto bersembunyi saat mendapati beberapa perawat di dekat mesin minuman, dia berusaha menguping pembicaraan para perawat, siapa tahu ada info tentang Sasuke.
"Tuan muda Sasuke kembali masuk IGD setelah 1 bulan, menurut Dokter Itachi itu karena dia jarang minum obat," jelas salah seorang perawat berambut orange yang dikuncir kuda.
"Kasihan sekali Tuan muda Sasuke, dia kan masih muda, tampan pula. Sayangnya tubuhnya benar-benar rentan," timpal perawat yang lain.
"Yah mau bagaimana lagi, Tuan muda sendiri yang nakal sering bolos minum obat. Katanya, Dokter Itachi sempat frustasi mendiagnosa kemungkinan hidup Tuan muda yang semakin sempit," kata perawat berambut orange tadi dengan ekspresi murung, begitu terlihat sedih dengan kata-katanya sendiri.
Naruto keluar dari persembunyiannya dan menghampiri para perawat tadi.
"Benarkah keadaan Sasuke begitu? Separah itu kah?" tanya Naruto memaksa.
Para perawat itu hanya bisa mengangguk sambil menatap Naruto dengan aneh. Kenapa anak ini? Batin para perawat itu.
Keadaan Naruto tidak kelihatan baik setelah mendengar kabar buruk tentang Sasuke. Dunia Naruto seperti berubah 180 derajat. Kenapa dirinya begitu mengkhawatirkan Sasuke? Kenapa dirinya begitu gusar? Ini benar-benar mengganggu. Ketidakpastian keadaan Sasuke membuat Naruto sampai di depan pintu ruang IGD. Matany mencoba menembus daun pintu yang hasilnya sudah pasti nihil. Naruto mencoba membayangkan kejadian yang ada di dalam ruang di depannya, namun tak ada dari bayangan di kepalanya yang berhasil membuatnya tenang. Sampai pintu ruang IGD keluar dan menampakkan sesosok perawat yang Naruto kenal.
"Naruto, kenapa kau di sini? Kau harus istirahat. Ayo kuantar kembali ke kamarmu," kata Sakura saat melihat Naruto yang kusut berdiri di depan ruang IGD.
"Bagaimana keadaan Sasuke? Aku ingin melihatnya, Sakura," pinta Naruto dengan suara yang ditekan seolah memelas.
"Pikirkan dulu keadaanmu, anak bodoh!" jawab Sakura ketus lalu menyeret Naruto kembali ke kamarnya.
Naruto tak punya kekuatan lebih untuk melawan Sakura saat ini, entah kenapa kekuatan Sakura tidak pernah berkurang selama apapun dia bekerja.
.
.
.
"Jangan melakukan hal seperti itu lagi jika kau masih berstatus sebagai pasienku. Mengerti!" tegas Sakura.
Dia membantu Naruto yang lelah untuk berbaring di atas ranjang.
"Lihat keadaanmu. Kau baru sembuh sedikit tapi sudah bertingkah seperti itu. Walau tingkat pemulihanmu lebih cepat dari orang kebanyakan tapi tidak berarti kau bisa bebas dari pengawasanku dan bertindak seenaknya," lanjut Sakura yang dibalas dengan tatapan memelas yang sangat dari Naruto.
Sakura menarik nafas panjang dalam menghadapi pasien blondenya ini. "Kau kan bisa bertanya padaku."
"Kalau menunggumu aku tidak akan bisa tidur, bukankah itu juga tidak baik," Naruto berusaha membela dirinya setelah dia menemukan posisi yang nyaman untuk tubuhnya.
"Jangan membantah!" Sakura terlihat kesal karena tingkah Naruto. Bisa dikatakan dia benar-benar naik pitam. Sebenarnya bukan keadaan Naruto yang membuatnya semarah ini, hanya saja Naruto kurang beruntung karena bertemu dengan Sakura di saat temperamen gadis ini sedang tidak baik.
Sakura menarik nafas sekali lagi. "Aku tidak akan bicara apapun kalau kau masih membantah."
"Baiklah." Naruto terpaksa mengalah demi informasi mengenai Sasuke.
"Keadaannya sudah baikan. Aku sudah bilang kau tidak perlu khawatir. Ini sudah biasa terjadi pada Sasuke. Orang-orang yang menanganinya juga bukan amatir, mereka professional. Terlebih lagi ada dokter Itachi yang sangat tidak ingin kehilangan Sasuke," jelas Sakura dengan sedikit penekanan di bagian 'kau tidak perlu khawatir'. Sakura maklum kalau orang awam seperti Naruto pasti akan bereaksi seperti itu, tapi dia tidak tahu sejauh mana hubungan Naruto dengan Sasuke sampai bisa membuat Naruto sangat khawatir.
"Aku baru 2 kali menyaksikan Sasuke seperti itu, wajar saja kan kalau aku khawatir berlebih. Aku tidak pernah mengalami itu sebelumnya. Kau maklum sedikitlah," Naruto memohon atas rasa kasihan Sakura.
"Walaupun begitu, kau harus tetap memprioritaskan keadaanmu," balas Sakura, dia benar-benar tidak habis pikir bisa dapat pasien macam Naruto.
"Aku dengar kalau kemungkinan hidup Sasuke semakin sempit, apa itu benar Sakura?" tanya Naruto mengingat perkataan perawat yang didengarnya tadi.
"Kami terus mengusahakan yang terbaik untuknya. Setidaknya dia bisa bertahan selama 10 tahun dengan penyakit itu dalam tubuhnya," Sakura mulai berkaca-kaca mengingat setiap hari yang dia lewatkan untuk merawat Sasuke selama 1 tahun belakangan ini.
"Dia pemuda yang baik kan? Hanya sikapnya saja yang dingin, tapi dia sangat sabar. Tidak pernah sekali pun aku mendengarnya mengeluh tentang hidupnya yang hanya berputar di rumah sakit ini." Sakura mulai terisak.
Naruto mencerna setiap kata yang diucapkan Sakura, dia semakin gusar saat kata-kata itu berputar di kepalanya.
"Sasuke.. apa yang sebenarnya kau rasakan?" gumam Naruto pelan.
"Maafkan aku Sakura, entah kenapa aku benar-benar mengkhawatirkannya. Dia teman pertamaku, dan aku tidak tahu apapun tentang dia."
"Maafkan aku juga telah berkata kasar padamu, tidak seharusnya aku berkata seperti itu dalam keadaan separah apapun."
"Sasuke akan kembali ke kamar ini kan?" tanya Naruto saat Sakura akan beranjak dari kamarnya.
"Tentu saja, ini miliknya." Sakura tersenyum dan pergi meninggalkan Naruto untuk mengecek kembali keadaan Sasuke.
Naruto akhirnya tertidur karena rasa lelah yang tak sanggup lagi dilawannya. Dia tidak sadar saat Sasuke dikembalikan ke ranjangnya beberapa jam setelahnya.
.
.
.
Naruto masih menggeliat di atas ranjangnya saat Sakura dan Itachi masuk ke ruangan putih miliknya, milik Sasuke tepatnya. Naruto membuka matanya dan mendapati plafon putih di atasnya tidak berubah. Naruto mengalihkan pandangannya ke arah ranjang Sasuke, tubuh porselen itu ada di sana, dia berbaring dengan tenang seperti biasa. Ada sedikit kelegaan yang mencuat dari hati Naruto, guratan senyum kecil terukir di wajahnya.
"Selamat pagi, Naruto," sapa Sakura ramah seperti biasa. Tidak ada yang aneh dari sikap perawat berambut pink itu, tidak berubah walau dengan peristiwa emosional semalam. Ah, peristiwa itu apa hanya mimpi? Naruto berharap kalau memang itu hanya mimpi, namun pikirannya tidak sejalan dengan keinginan hatinya. Dia berusaha mencari tahu kebenarannya dari Sakura, ditatapnya wanita itu lama, namun tak ada petunjuk yang bisa dia dapatkan. Sakura benar-benar tidak berubah.
Senyum wajar ditampilkan wajah Naruto saat Sakura dan Itachi menghampiri ranjangnya. Pemeriksaan rutin seperti biasa.
"Bagaimana kabarmu, Naru?" tanya Sakura sambil memberi catatan kesehatan Naruto pada Itachi.
"Lebih baik, Sakura-chan," jawab Naruto. Rasanya memang lebih baik saat dirinya bisa melihat Sasuke seperti ini.
Deg!
Apa yang baru saja kupikirkan? Batin Naruto tidak percaya dengan hal yang baru saja melintas di pikirannya.
"Kesehatanmu sangat baik, Naruto. Pemulihanmu lebih cepat dari orang kebanyakan," jelas Itachi, berharap pasiennya bisa senang dengan pujiannya.
"Apa itu baik?" tanya Naruto polos.
"Tentu saja. Kau bisa segera keluar dari rumah sakit," jawab Itachi dengan senyuman yang bisa membuat Sakura meleleh.
"Selamat ya, Naruto. kuharap keadaanmu bisa cepat stabil. Ah, jaga kondisimu ya," nasehat Sakura sebelum dia meninggalkan ruangan itu untuk menyusul Itachi yang telah lebih dulu meninggalkan ruangan.
Naruto menerawang, memandangi dinding putih di depannya. Kata-kata Itachi membuatnya terganggu.
"Aku akan keluar dari sini ya?" Naruto bertanya tidak pada siapa pun.
"Itu artinya aku tidak akan melihatnya lagi," bisiknya sambil menoleh ke arah Sasuke yang masih terlelap. Sesuatu yang tidak menyenangkan sedang memberontak di dalam dirinya. Ada apa denganku sebenarnya? Sekali lagi Naruto bertanya tidak pada siapa pun.
.
.
.
Sasuke terbangun dari tidur panjangnya. Rasanya dia telah tidur berhari-hari, membuat kepalanya berat sehingga tidak mampu diangkat. Di dalam hati, dia mengumpat tentang obat penenang yang diberikan Itachi padaya, benar-benar berlebihan. "Ck. Dasar Baka-Aniki," desisnya pelan.
Onyx-nya mengerjap beberapa kali, masih berusaha beradaptasi dengan penerangan di kamar putih miliknya. Ruang operasi tidak pernah menyenangkan, seberapa banyak pun Sasuke memasuki ruangan itu dia tidak akan pernah menyukainya. Walaupun sampai akhir hayatnya dia pasti akan berurusan dengan ruangan brengsek itu.
"Ngh.." desahan pelan terdengar dari arah tepi ranjangnya. Siapa?
Diliriknya pemuda yang sedang terlelap di tepi ranjangnya, pemuda blonde, teman sekamarnya.
Ah, siapa lagi kalau bukan bocah ini. Batin Sasuke. Senyum simpul terkembang di wajahnya. Pernahkah kalian melihat Sasuke tersenyum seperti itu? Senyum tulus yang sanggup merebut hati semua gadis di dunia. Senyum yang disembunyikannya dari dunia. Senyum yang belum pernah hinggap di wajahnya. Ya, ini yang pertama kalinya Sasuke tersenyum seperti itu. Andai saja Naruto melihatnya.
Naruto terbangun da mendapati Sasuke dalam keadaan terduduk di ranjangnya. Ada rona merah yang menyusup di wajahnya ketika melihat Sasuke. Panas macam apa ini? Batinnya.
"Kau sudah bosan tidur di ranjang, hn?" tanya Sasuke dengan pandangan stoic yang tidak berubah.
Naruto yang tadinya sudah bersemu kini memandang Sasuke sengit. Dasar Teme menyebalkan.
"Aku ketiduran."
"Kalau ketiduran juga harus pilih tempat, Dobe."
"Mana bisa, Teme?"
"…"
"…"
"Sudahlah, kembali ke ranjangmu. Punggungmu bisa sakit kalau tidur begitu."
Naruto menurut dan berbalik menuju ranjangnya. Tapi dia tidak menaruh kepalanya di atas bantal, dia memilih duduk di tepi ranjang sembari memandangi Sasuke.
Sasuke melirik.
"Apa keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Naruto penasaran. Kejadian semalam masih dianggapnya sebagai mimpi, atau lebih tepatnya dia sangat berharap kalau semua itu hanya mimpi.
"Sudah lebih baik." Jawab Sasuke singkat.
"Aku hanya masuk ke ruangan itu satu kali, di sana rasanya tidak enak," Naruto bercerita tanpa diminta, sedangkan Sasuke hanya mendengar atau setidaknya berlagak mendengar cerita teman sekamarnya itu.
"Hn."
"Kau juga merasa begitu? Mungkin semua orang berpikir begitu, benar kan?"
"Hn."
"Sasuke?" panggil Naruto.
"Hn."
"Sasuke."
"Hn."
"Sasuke!"
"Kau mau apa, Dobe?" Sasuke berbalik dan melemparkan death-glare andalannya pada Naruto.
Naruto terkekeh pelan, Sasuke benar-benar sangat lucu saat sedang kesal.
"Sasuke, kau pernah jalan-jalan?" tanya Naruto penasaran. Sebenarnya dia hanya ingin agar Sasuke bicara lebih dari sekedar 'hn'-nya. Sasuke tidak menggubris pertanyaan Naruto yang menurutnya jawabannya sudah pasti.
"Tidak ya?" tebak Naruto.
Sudah tau nanya, Dasar Dobe. Batin Sasuke sewot.
"Suke, apa kau pernah berpikir tentang sesuatu yang ingin kau lakukan besok?" tanya Naruto lagi. Sasuke masih bertahan untuk tidak menggubris pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Dei-nii pernah mengatakan padaku kalau aku harus banyak berpikir tentang hari esok, aku harus memikirkan hal apa yang sangat ingin kulakukan. Dan keesokannya aku harus melakukannya. Saat kita masih muda, kita punya banyak hal untuk dilakukan, kita juga punya banyak tenaga untuk melakukannya, jadi kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Kita tidak akan tahu sampai kapan kita punya waktu, tapi saat kau punya kau harus memanfaatkannya untuk menyambut hari esok," Naruto berceloteh panjang lebar, tidak peduli saat itu Sasuke sudah kembali berbaring dan tidak berminat untuk mendengar ceramahnya.
Naruto manyun sesaat saat dilihatnya posisi Sasuke yang menyinggung perasaannya. Dihampirinya Sasuke dan ditariknya tangan porselen itu untuk bangun. Dengan semangat dia memandang jendela bersama Sasuke –tepatnya memaksa Sasuke untuk memandang jendela bersamanya- dan melihat matahari terbenam.
"Demi hari esok yang lebih cerah, mari berjuang untuk hari ini." Teriak Naruto dengan lantang tepat di telinga Sasuke sehingga mau tidak mau Sasuke harus menjauhkan telinganya dari mulut si blonde berisik itu.
"Sudah puas?" tanya Sasuke cukup geram atas perbuatan tidak berijin Naruto tadi.
Yang ditanya hanya nyengir kuda dan mengangguk, segera kembali ke tempat tidur adalah pilihan yang tepat.
Sasuke kembali tidur dengan posisi membelakangi Naruto.
Hari itu selesai dengan senyum cerah Naruto.
.
.
.
To be continued..
Happy Birthday Sasuke :*
Semoga tetap langgeng yah sama Naruto ^^
Selamat tambah tua, dan please senyumnya jangan makin irit ya hahahah
.
Fyuuuhhhh akhirnya Chapter 4 selesai. Yah lumayan lah buat penyegaran otak. Baru masuk pertengahan cerita tapi jangan bosan yah menunggu fic saya yang update-nya lama ini. Hehehe
Terima kasih ^^
Dengan segala kerendahan hati, silahkan review bagi yang menginginkan.
