~For Tomorrow~

Disclaimer : Naruto is not mine.

Warning : BL/Yaoi, OOC, typo(s), Don't Like Don't Read.

Pair : SasuNaru –Forever-

Rated : T

.

Chapter 5

.

~Enjoy~

.

Tembok putih yang menghiasi rumah sakit di pusat kota itu masih tetap sama seperti biasa, tidak ada yang berubah, warna maupun keadaan temboknya. Keadaan kamar pasiennya pun tetap sama, seperti yang bisa dilihat di kamar rawat Sasuke –dan Naruto- tentu saja. Seprei kali ini berwarna biru muda dengan corak putih berupa garis-garis halus tidak beraturan di sekitarnya. Lampu kamar sudah dinyalakan, mengingat waktu saat itu telah senja, matahari tengah membawa warna orange ke muka bumi, warna yang indah di akhir keberadaannya hari itu.

Sasuke terbangun dari tidur siangnya, Itachi memberinya obat tidur dalam makanannya siang tadi agar Sasuke bisa beristirahat siang. Pemuda berkulit porselen itu memegangi kepalanya, agak sakit, mungkin akibat obat tidur atau akibat tidur siang yang tidak biasa dia lakukan. Dahinya mengernyit, berusaha mencerna semua hal yang tertangkap oleh iris onyxnya. Ranjang di sebelahnya kosong.

"Kemana anak itu?" batin Sasuke.

"Demi hari esok yang lebih cerah, mari berjuang untuk hari ini." Teriakan Naruto kembali bergema di kepalanya, membuat Sasuke kembali memegang kepalanya. Rasa sakit yang perlahan sudah hilang kini mulai kembali merayapi kepalanya. Apa suara Naruto sebegitu kerasnya di kepala Sasuke?

Sasuke sedikit memikirkan teriakan Naruto itu, bukan suaranya tapi isi dari apa yang diteriakkan pemuda blonde itu. Sasuke sedikit sadar kalau dia memang tidak pernah berjuang untuk apapun selama 10 tahun belakangan ini, hari-harinya terlewati begitu saja. Dia tidak pernah menantikan hari esok yang cerah, dan tidak pernah memperjuangkannya. Hanya sekedar hari, begitulah.

"Ck, apa yang kupikirkan?"Sasuke terlihat gusar saat itu, entahlah. Dia masih berperang dengan dirinya sendiri mengenai keberadaan Naruto dan kebisingannya.

Sasuke melempar pandang ke seluruh sudut ruangan kamarnya. Tidak ada tanda kehidupan sedikit pun selain dari dirinya. Kemana si Dobe itu?

Sasuke menggelengkan kepalanya, masih menyangkal sesuatu yang dirasanya tidak benar, namun ada di sana, di dalam hatinya.

"Ck. Tidak ada gunanya memikirka sesuatu yang akan pergi." Pada akhirnya dia tidak bisa menolak, tapi tidak mungkin baginya.

Senja hari itu sama seperti biasa, dihiasi sinar mentari yang akan terbenam di kaki langit. Sinar orange yang diciptakannya, memaksa masuk menembus kisi-kisi jendela kamar Sasuke yang kini beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

.

.

Naruto tengah berhadapan dengan Itachi saat mentari akan menyampaikan pesan selamat tinggal. Ruangan mungil tempat Itachi bertugas itu tertata dengan baik, perfect. Tidak ada cacat sedikit pun dari setiap sudut pandang yang ada. Itachi benar-benar perfeksionis dalam hal apapun, termasuk ruang kerjanya yang dianggap sebagai rumah kedua baginya.

"Ehem," Itachi berdehem kecil saat tidak ada kata yang keluar dari bibir Naruto. Hanya pandangan wow pada sebuah keramik cantik berbentuk rubah yang menghiasi meja kerjanya.

"Eh, maaf," kata Naruto saat kembali ke alam nyata.

"Jadi, apa kau senang bisa pulang besok?" tanya Itachi diikuti dengan senyum menawan yang tulus.

Naruto membalas senyum tersebut dan mulai membuka mulut, "Tentu saja, dokter. Statusku akan menjadi sehat kembali begitu lepas dari rumah sakit."

Itachi tertawa renyah mendengar pengakuan Naruto. "Ya, kau benar. Tapi kau harus tetap menjaga kondisimu agar tidak kembali mendapat status orang sakit dari rumah sakit ini."

Senyum lima jari andalan Naruto menjadi jawaban jelas bagi Itachi.

"Kembalilah ke kamarmu, istirahat untuk kepulanganmu besok pagi. Aku akan meminta Sakura untuk mengepak barangmu," kata Itachi.

"Terima kasih, dok. Tapi bolehkah saya minta waktu? Saya tidak suka pergi pagi, jadi saya mau waktu kepulangan saya diubah jadi besok sore. Bolehkah?" pinta Naruto.

Tidak ada alasan bagi Itachi untuk menolak permintaan pasiennya yang satu ini. Anggukan kepala dan senyum tulus mengiringi kepergian Naruto dari ruang kerja Itachi.

Terdengar senandung kecil dari bocah blonde itu sesaat sebelum pintu menutup.

Itachi masih tersenyum di tempatnya, entah apa yang menurutnya lucu dan menyenangkan saat itu.

.

.

.

Naruto berjalan cepat ke kamarnya. Pintu terbuka dan di sana terdapat pemuda raven yang tengah duduk menyandarkan diri pada kepala ranjang dengan buku tebal di tangannya, entah apa judulnya, Naruto tidak berminat untuk tahu.

"Syalalala.." senandung kecil tertangkap oleh telinga Sasuke saat Naruto melewatinya.

Lirikan mata Sasuke kini mengikuti arah si blonde, keluar dari kata-kata yang tertulis di dalam buku yang sedang dibacanya. Rasa penasaran menghinggapi kepala Sasuke, ada apa dengan si Dobe?

Naruto mengangkat tubuhnya ke atas ranjang saat Sasuke berpura-pura masih sibuk dengan bukunya.

"Sasuke!" panggil Naruto.

"Hn."

"Guess what?"

"..."

"Sasuke!"

"Hn."

"Coba tebak!"

"..."

"Teme!"

"Apa Dobe?"**

"Jawab aku."

"..."

"Aku akan keluar dari rumah sakit besok."

"Hn."

"..."

Apa? Naruto apa?

"Kau senang?" tanya Naruto dengan raut wajah cemberut. Beritanya hanya ditanggapi 'hn' oleh Sasuke.

"Hn." Jawaban Sasuke tidak berubah. 2 huruf tidak jelas ini yang terus keluar dari bibirnya, walau sebenarnya dalam hati sudah OOC tapi harga diri membuatnya hanya mampu mengeluarkan 'hn'.

Hening.

"Pergi sekarang?" tanya Sasuke, matanya tidak mau lepas dari buku yang terpajang di tangannya. Seakan dia sangat tertarik dengan isinya, namun Sasuke sudah tidak membaca sejak Naruto masuk ke kamar tadi.

"Kau mengusirku, Teme?" tanya Naruto garang, tidak terima dengan pertanyaan Sasuke yang seakan menyuruhnya untuk pergi saat itu juga.

"Aku hanya bertanya Dobe," jawab Sasuke santai.

"Sekarang sudah malam, aku akan pergi besok sore," Naruto menjawab dengan ketus sambil membuang wajahnya ke arah jendela yang setengah terbuka.

"Hn."

Naruto menarik selimut dan memilih untuk tidur dibanding harus makan hati menghadapi makhluk yang bertitel 'roommate'nya.

Sasuke menyimpan buku yang belakangan diketahui berjudul 'Psikologi Dasar' di samping bantalnya. Matanya kini berfokus pada seonggok daging yang tengah terlelap di ranjang sebelah. Dia akan pergi besok, Sasuke. Dia memang akan pergi, tidak ada bedanya seperti yang lain. Tapi memang inilah hidupmu, bukan? Datang, dan pergi. Tidak ada yang tertinggal.

Sasuke menghela nafas panjang menghadapi dirinya sendiri. Dia pun memilih untuk ikut tenggelam dalam dunia malam yang menjanjikan mimpi indah bagi insan yang membutuhkannya.

Mimpi hanya menjadi fatamorgana bagi Sasuke, namun fatamorgana yang sedikit pun tak apa untuk keadaan jiwanya saat ini. Besok, rasanya akan panjang dan berat untuk dilalui.

.

.

.

Tas ransel yang cukup besar sudah siap di samping ranjang Naruto saat matanya membuka di pagi yang cerah itu. Sakura telah menyiapkan barang-barang Naruto seperti yang dikatakan Itachi kemarin. Naruto menghela nafas, "Harusnya aku senang bisa bebas dari tempat ini."

Ada rasa yang berbeda, mengganjal di hatinya saat tahu dia akan pulang hari itu. Bagaimana dengan Sasuke? Masih bisa kah Naruto melihatnya?

"Kan bisa kujenguk," kata Naruto pada dirinya sendiri. Naruto melihat Sasuke yang masih tertidur di atas ranjangnya padahal matahari sudah mulai terik dan memaksa masuk dari jendela yang terkuak lebar.

Sasuke menggeliat pelan membuat Naruto tersenyum, Sasuke yang sedang tidur benar-benar menyenangkan untuk dilihat. Entah sejak kapan Naruto menjadi sangat mnyukai bangun pagi hanya untuk menikmati wajah Sasuke yang tengah tidur.

"Hari ini rasanya aku tidak ingin kau bangun, Sasuke. Hanya untuk hari ini," gumam Naruto tanpa sadar. Kembali tersaji senyuman manis di wajah tannya, senyuman tulus.

Sasuke membuka matanya saat sesuatu yang terasa basah menyentuh bibirnya.

"Engh," gumam Sasuke sambil mengatur posisinya menjadi terduduk. Sasuke memegang bibirnya yang memang basah, aneh. Saat tidur, seharusnya bibirnya kering. Masa efek mimpi? Sasuke menerawang jauh mengingat mimpi yang baru saja dilihatnya.


"Sasuke, kau ingin aku pergi?" tanya Naruto dengan wajah sendu.

"Hn. Kenapa?" jawab Sasuke tanpa ekspresi.

"Kau membenciku?" tanya Naruto lagi, ekspresinya makin sendu.

"Tidak."

"Kalau begitu kau menyukaiku?"

"Hn." Jawab Sasuke tanpa sadar.

Naruto tersenyum sesaat, ekspresi Sasuke berubah saat menyadari pertanyaan Naruto.

"Apa maksudmu Dobe?" tanya Sasuke kebingungan. Naruto hanya tersenyum lembut, mendekat dan semakin dekat, mencoba mengeliminasi jarak di antara keduanya. Hingga keduanya merasakan bibir masing-masing.

Sasuke terbelalak dan Naruto menghilang.

Gelap.


Sasuke menggeleng, "Hanya mimpi, mana mungkin."

.

Naruto kembali ke kamar mandi dengan berlari sambil memegangi bibirnya. Dadanya berdetak lebih cepat, sangat cepat hingga rasanya jantungnya bisa melompat keluar dari dadanya. Saat mmastikan dirinya benar-benar ada di dalam kamar mandi yang terkunci dan bebas dari pandangan mata siapapun, Naruto langsung mengutuk dirinya sendiri dengan berbagai sumpah serapah yang diketahuinya, pukulan bertubi-tubi ditujukan ke kepala blondenya yang malang hingga rasanya benar-benar sakit dan mampu menyadarkannya dari kebodohan yang diperbuatnya 5 menit yang lalu.


Flashback 5 menit yang lalu.

Naruto sangat menikmati setiap detik dari kegiatan 'memandangi-Sasuke' yang sudah dilakukannya selama 10 menit. Naruto memiringkan kepalanya, dan tanpa sadar mendekati Sasuke.

Chu..

1

2

3

Kedip. Kedip. Kedip.

Naruto langsung menarik dirinya dengan kasar dari ciuman singkat yang dilakukannya tanpa sadar. Naruto melarikan harga dirinya juga tubuhnya saat itu juga. Pilihan yang bijak.

End of Flashback.


Rasanya Naruto ingin lari keliling lingkaran dan berteriak seperti orang kesetanan selama 7 hari 7 malam saking malunya. Ketidaksengajaan yang berujung kegilaan bagi sang pelaku, Naruto Uzumaki.

"Aku hanya terbawa suasana, semua aman terkendali," kata Naruto sambil tetap memegangi dadanya, berusaha menenangkan kemelut di dalam sana.

Naruto mengatur nafasnya agar tidak terlihat aneh di depan Sasuke. Hari itu benar-benar akan terasa sangat panjang.

.

Sasuke melihat Naruto keluar dari kamar mandi telah rapi dan sudah tidak mengenakan pakaian seragam rumah sakit. Naruto sudah siap untuk pulang. Sasuke menghela nafas panjang, entah apa yang harusnya dia rasakan, haruskah dia merasa lega atau malah harus galau. Entahlah, saat itu hanya Tuhan yang benar-benar tahu perasaan Sasuke karena Sasuke pun tidak yakin apa yang sebenarnya dia rasakan.

"Pagi, Teme. Kau sudah bangun?" tanya Naruto basa-basi. Dadanya masih berdetak tidak karuan karena Sasuke yang menatapnya aneh. Naruto mulai memperhatikan Sasuke dengan seksama dan berhenti pada bibir yang tadi telah dikecupnya.

Wajah Naruto mendadak berubah, rona merah mendadak muncul tanpa izin membuatnya benar-benar ingin menghilang dari depan Sasuke saat itu juga. Naruto berbalik, mencoba lari ke kamar mandi, namun sayang wajah tannya mencium pintu kamar mandi dengan sukses, menorehkan kecupan baru di bibirnya.

Naruto meringis sambil mengelus dahinya.

"Aww.."

"Dobe! Kau tidak punya mata heh?" tanya Sasuke sewot. Ada sekilas senyum yang tergambar di wajahnya, senyum yang sangat irit hingga Naruto tidak menyadarinya.

"Teme, apa hanya itu yang bisa kau katakan? Bantu aku," pinta Naruto, dia berjalan mendekati ranjangnya sambil tetap mengelus dahinya yang memerah.

"Jangan mengandalkan orang lain, kau sendiri yang melakukan hal bodoh itu," komentar Sasuke dengan nada sinis.

"Ini kecelakaan, Teme. Kau tidak punya nurani ya?" balas Naruto tidak mau kalah.

"Tidak untukmu Dobe," jawab Sasuke tak acuh.

Pagi itu menjadi awal keharmonisan yang akan terjalin di antara Sasuke dan Naruto. Pagi terakhir yang mungkin bisa dihabiskan Naruto bersama Sasuke.

.

.

.

Makan siang telah disediakan oleh perawat yang bertugas, kali ini bukan Sakura yang melayani mereka karena Sakura tidak bertugas siang itu.

"Makanlah Teme, kau kan harus minum obat," kata Naruto mencoba menasehati Sasuke yang kelihatannya enggan menyentuh makanan yang ada di depannya.

"Sejak kapan kau jadi cerewet seperti ini?" tanya Sasuke, raut tidak senang terpancar jelas dari wajah porselen nan mulus miliknya.

"Sejak aku tahu kau sering bolos minum obat. Lagipula kan aku pernah berjanji akan mengawasimu minum obat, menggantikan Sakura. Kau ingat?"

"Tidak."

Sasuke membuang muka, berusaha mengacuhkan Naruto.

"Apa kau mau disuapi?" tanya Naruto, tubuhnya beranjak menuju ranjang Sasuke. Naruto mengambil sesendok bubur yang tersedia di mangkuk dan berniat menyuapi Sasuke.

"Buka mulutmu, Suke!" perintah Naruto sambil menyodorkan sendok ke depan mulut Sasuke.

"Aku bukan anak kecil, Dobe," kata Sasuke kemudian merampas sendok yang ada di tangan Naruto dengan kasar dan ceapt-cepat memasukkannya ke dalam mulut.

Naruto tersenyum senang, "Begitu kan lebih baik," komentar Naruto.

Akhirnya Sasuke menghabiskan semangkuk bubur dan semangkuk sup tomat tanpa sisa ditambah sedikit salmon. Naruto dengan sigap membereskan sisa makanan Sasuke dan menghadiahinya bermacam obat untuk dessert-nya.

"Nah sekarang minum obat," kata Naruto tetap dengan senyuman di wajahnya.

"Darimana kau mendapatkannya?" tanya Sasuke. Obat-obat itu harusnya sudah dia sembunyikan di bawah ranjangnya bersama dengan pakaian kotor miliknya. Bagaimana bisa Naruto mendapatkannya?

"Ada anak nakal yang menaruhnya di bawah ranjangku," jawab Naruto enteng.

Benar juga, sekarang ranjang itu miliknya. Batin Sasuke lemas.

Sasuke menatap obat-obat di depannya dengan tatapan enggan. Bukan, Sasuke bukannya tidak suka minum obat atau takut minum obat, dia hanya merasa lelah dengan semua zat kimia yang telah tertimbun dalam tubuhnya selama 10 tahun. Tubuhnya benar-benar sudah sangat berat akibat tumpukan obat yang dikonsumsinya selama ini.

Sasuke menghela nafas, kali ini tidak ada pilihan. Toh, ini akan jadi yang terakhir, besok dia sudah tidak ada lagi untuk mengusik dirinya. Sasuke akan bebas, kembali seperti saat Naruto tidak ada.

Sasuke mengambil semua obat yang harus diminumnya, kemudian ditenggaknya dalam satu tarikan nafas. Naruto terkagum-kagum melihatnya, dia belum pernah melihat orang minum obat serakus itu.

"Wow aku tidak akan bisa minum obat seperti itu," komentar Naruto takjub.

Sasuke melirik Naruto kemudian membusungkan dada, "Kau harus banyak belajar."

"Tidak usah sombong, begitu saja bangga," ejek Naruto, kesal karena sikap Sasuke yang ooc.

"Kapan kau pergi?" tanya Sasuke.

"Sebentar lagi, tidak perlu mengusirku," jawab Naruto dengan bibir yang manyun.

"Baguslah, kamar ini akan terasa sangat berbeda tanpamu," kata Sasuke dengan nada sedih.

"Eh? Benarkah?" tanya Naruto tidak percaya Sasuke merasa sedih karena dirinya akan pergi.

"Tentu saja. Kamar ini akan lebih damai tanpamu," komentar Sasuke sukses membuat Naruto menjitak kepala raven itu. Naruto seharusnya sudah sadar kalau Sasuke tidak akan sedih karena kehilangan dirinya.

"Aku pergi." Kata Naruto dan dengan cepat meraih ransel yang ada di samping tempat tidurnya. Naruto berlalu meninggalkan kamar pasien milik Sasuke. Dadanya bergejolak, namun hanya kesal yang terasa. Naruto tidak bisa marah, entah kenapa. Hanya tidak bisa. Kesal, hanya itu yang dirasakannya.

.

Senja yang cerah mengantarkan Naruto kembali ke kehidupannya yang sehat. Statusnya sebagai pasien kini tinggal kenangan. Sasuke? Dia tidak menjadi kenangan baik untuk Naruto, tapi rasanya Naruto ingin tetap melihatnya.

Sasuke menatap rambut pirang yang berjalan di bawah sana, rambut pirang itu menaiki taksi dan pergi entah kemana. Tinggal kenangan yang tersisa di tempatnya berdiri saat itu. Pemuda raven menatap taksi yang semakin jauh kemudian menghilang di belokan berikutnya. Entah apa yang harusnya dia rasakan. Naruto benar-benar tidak bisa membuatnya berpikir dengan baik.

~To Be Continued~

A/N : waaaahhhhh~ akhirnya chapter 5 update ^^

ini sudah mulai masuk klimaks. Inilah pintu gerbang dari klimaks For Tomorrow.

Aduh senangnya, ternyata saya bisa konsisten hingga chapter 5, walaupun update-nya lamaaaaa~

Thanks beraaaatttt buat yang sudah review selama ini, yang sudah dengan sangat sabar menunggunya.

Chapter ini khusus buat kalian para reviewers setia ^^

and, for silent readers, keep read ya ^^

silahkan tuangkan keripiknya, review di bawah ini terbuka untuk semua ^^