~For Tomorrow~
Disclaimer : Naruto is not mine.
Warning : BL/Yaoi, OOC, typo(s), Don't Like Don't Read.
Pair : SasuNaru –Forever-
Rated : T
.
Chapter 6
.
~Enjoy~
.
Sebuah siluet terlihat berdiri di dekat jendela kamar rawat, tertegun tepatnya. Entah apa yang sedang dipikirkan pemuda raven itu. Tatapan onyxnya tidak fokus, menerawang jauh, namun tidak jelas apa yang sedang diterawang oleh angannya. Sebuah bayangan berkelebat sekilas di pikirannya. Sekelebat bayangan mirip 'mantan' roommate-nya kemarin. Rambut blonde, kulit tan dan tubuh tegap milik pemuda bermarga Namikaze tersebut.
Pemuda raven itu tesentak akan angannya sendiri. Apa yang baru saja kau pikirkan, Sasuke? Kau tidak mungkin memikirkan makhluk kuning itu!
Sasuke menghela nafas berat, rasanya sedikit berbeda tanpa kehadiran Naruto Namikaze. Entah sejak kapan hati dan pikirannya sedikit sinkron untuk mengakui fakta yang satu itu.
"Sasuke-kun," suara lembut milik seorang perawat berambut pink terdengar dari balik pintu, sebelumnya terdengar beberapa ketukan dari jemarinya.
Sakura muncul di ambang pintu dengan senyum dan sebaki makan siang. Ah, sekarang memang sudah waktunya Sasuke untuk makan siang dan minum –obat- siang. Helaan nafas Sasuke makin berat saat melirik jam dan senyum Sakura yang menyembunyikan sesuatu.
Dengan tidak bersemangat, dia kembali ke ranjangnya. Duduk manis dan menyuapi dirinya sendiri dengan malas. Setelahnya, dia mengambil obat yang ada di bawah bantalnya. Sakura tersenyum melihat tempat persembunyian obat Sasuke. Setelah ini, Sasuke harus memikirkan tempat persembunyian lain untuk obat-obatannya.
Ya, bisa kita sebut kalau Sakura bertugas untuk memastikan kalau Sasuke menelan obatnya dengan sempurna. Poor Sasuke. Kali ini dia tidak bisa bolos lagi.
Setelah Sakura pergi, suasana kamar putih itu kembali senyap. Tidak ada suara apapun. Sunyi senyap. Sasuke orang yang sangat irit tentang suara, dia jadi sedikit rindu dengan keadaan kemarin, kamar ini dipenuhi dengan suara Naruto yang berisik. Kebisinga yang ditimbulkan Naruto selama menghuni kamar ini membuat warna baru dalam kamar hambar milik Sasuke.
Sebelumnya kau bisa hidup tanpa ada masalah di kamar ini, Sasuke. Apa yang membuatmu merasa berbeda? Naruto? Tidak mungkin!
Teruslah Sasuke. Terus saja ingkari perasaanmu. Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan harga diri yang lebih tinggi dari langit itu. Kesepian akan terus membayangimu. Kau merasa kehilangan sosoknya, namun begitu sulit kau mengakui rasa itu. Terus lah bertengkar dengan hati kecilmu. Pada akhirnya kau tidak akan menang.
.
Kau akan mengatakan kalau kau berbeda sejak kehadirannya.
Kau akan mengatakan kalau kau kehilangan dirinya.
Kau akan mengatakan kalau kau membutuhkannya.
Kau akan mengatakan kalau kau menginginkannya.
Kau akan mengatakan kalau kau merindukannya.
Kau akan mengatakan kalau kau mencintainya.
Kau akan mengatakan semuanya, Uchiha Sasuke.
Kau akan mengatakan semua yang diingkari pikiranmu.
.
.
.
H +3 setelah ketidakhadiran Naruto di kamar itu. Sasuke perlahan mulai banyak berpikir tentang dirinya selama ini. Kenapa dia sangat gusar dengan matanya yang tidak mampu lagi menatap manik sapphire milik pemuda yang selalu dipanggilnya dengan 'Dobe' itu? Kenapa? Kenapa?
Kenapa Sasuke sangat peduli dengan orang lain, dengan makhluk kuning yang dulu -3 hari yang lalu- menghuni ranjang di sampingnya? Apa Naruto juga sudah mulai masuk dan menghuni hati Sasuke?
Hal-hal ini begitu mengganggu Sasuke. Sangat mengganggu waktu membacanya, waktu tidurnya, waktu makannya, waktu mandinya, singkatnya ketidak-adaan Naruto mengganggu hidup Sasuke.
.
.
.
7 hari, 3 jam, 56 menit sudah Naruto tidak hadir di mata Sasuke. Waktu Sasuke yang sangat kosong setiap harinya dipenuhi dengan kegiatan menghayal. Tanpa disadarinya, setiap waktu kosong miliknya selalu diisi dengan memikirkan Naruto. Mau, tidak mau Sasuke hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Dia tidak lagi mencoba memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang kemarin mengerubunginya, tidak lagi mencoba menjawabnya. Dipaksa sekali pun, Sasuke tidak bisa menemukan –atau tidak mau mengakui- jawaban itu.
.
Hari ke-9, Sasuke tanpa Naruto.
Senja tengah menghiasi bumi sejak 1 jam yang lalu, menemani Sasuke yang terus menatap keluar jendela sambil sesekali melirik pada bumi di bawahnya. Pukul 5 waktu setempat, memang merupakan jam pulang kantor dan bisa ditebak kalau hal itu akan membuat jalanan macet, tidak terkecuali jalanan utama yang terdapat di depan rumah sakit. Sasuke hanya menatap kosong pada jalan panjang yang ada di bawahnya. Hingga di matanya terlihat setitik cahaya kuning yang ergerak cepat menuju rumah sakit. Cahaya kuning yang sepertinya dia kenal.
Sasuke tertawa miris atas matanya yang dirasa mulai tidak normal. Itu hanya fatamorgana, pikirnya.
Tubuhnya dibawa ke ranjang untuk diistirahatkan. Agak lelah juga berdiri di sana selama satu jam. Sasuke berusaha mengatur nafasnya, entah kenapa dia agak tersengal. Mungkin karena setitik cahaya tadi begitu menguras suplai oksigen ke otaknya.
Sasuke berjalan ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah porselennya. Terlihat pucat menurutnya.
Sesosok makhluk menyusup ke dalam kamar Sasuke saat sang Empu sedang di kamar mandi. Sosok itu berjinjit agar tidak menimbulkan bunyi saat dia berjalan ke arah ranjang kosong di samping tempat tidur Sasuke. Ranjang yang dulu ditidurinya. Ya, sosok itu adalah Namikaze Naruto.
Sasuke keluar dari kamar mandi, dan tebak apa yang ditemukan matanya? Ya, seonggok makhluk kuning yang sedang memasang senyum 5 jari adalannya. Sasuke menggosok matanya, memastikan matanya masih normal dan tidak menampilkan hologram atau fatamorgana lagi. Sosok itu masih di sana, masih tersenyum.
Pasti mimpi.
Sasuke berjalan lurus ke ranjnagnya tanpa menoleh lagi ke arah makhluk lain yang ada di kamarnya. Sasuke mengira dia sedang bermimpi dan dia harus kembali ke tempat tidur untuk membangunkan dirinya sendiri.
Naruto mengerutkan dahinya, tidak senang dengan respon Sasuke yang tidak mengindahkan keberadaannya, padahal dia sengaja ke sini untuk menjenguk Sasuke. Naruto menghampiri Sasuke yang terbaring dengan mata yang menutup, diraihnya pipi porselen itu dan dicubitnya sekeras mungkin hingga warnanya berubah merah. Sasuke tersentak, namun tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Hanya matanya yang dapat menggambarkan betapa terkejutnya dia mengetahui kalau makhluk di depannya –dan baru saja mencubitnya- itu adalah nyata, sangat nyata.
Bibir Naruto manyun saat Sasuke mendudukkan tubuhnya, tak lupa dia melipat kedua tangannya di depan dada tanda protes dan meminta penjelasan atas sikap Sasuke.
"Ada apa denganmu, Baka-Teme?" tanya Naruto masih dengan ekspresi dan gaya yang sama.
"..."
Aku hanya kaget, Dobe. Kupikir aku bermimpi atau menghayalkanmu lagi.
"Kau tidak senang aku datang?" tanya Naruto menambah daftar pertanyaan yang harus dijawab Sasuke.
"..."
Kau hanya tidak tahu apa yang kupikirkan setiap harinya.
"Kau tidak ingin berkata sesuatu, Teme?" tanya Naruto lagi.
Aku ingin, Dobe. Aku hanya tidak bisa.
"Hn. Untuk apa kau datang?" Sasuke balik bertanya. Pertanyaan yang tidak sejalan dengan pertanyaan hatinya.
Kenapa kau baru datang Dobe?
"Untuk menjengukmu tentu saja. Memangnya ada alasan lain?" Naruto mengambil tempat di atas 'ex' ranjangnya.
"Aku ikut Dei-nii beberapa hari ini ke luar kota, hari ini baru tiba. Sebenarnya aku ingin menjengukmu setiap hari sejak aku keluar dari rumah sakit. Kupikir kau akan kesepian." Jelas Naruto tanpa diminta.
Ada sedikit kelegaan yang menyusup dalam hati Sasuke, Naruto punya alasan kenapa dia tidak hadir dalam hidup Sasuke selama 9 hari ke belakang. Kelegaan tersebut tidak tersampaikan oleh wajah stoicnya. Gumaman pelan menjawab penjelasan Naruto tadi. "Hn."
Naruto banyak bercerita tentang kegiatannya saat mengikuti Dei-nii untuk mengurus cabang baru untuk perusahaan mereka di kota lain. Naruto bercerita dengan banyak bintang di sekelilingnya membuat Sasuke sedikit menyunggingkan senyum walau tanpa Naruto sadari.
Perasaan aneh itu terus menjalari kedua pemuda tersebut. Perasaan yang belum bisa didefinisikan oleh masing-masing dari mereka. Setidaknya mereka merasakan hal yang sama, namun mereka berdua tidak sudi untuk mengatakannya satu sama lain. Perasaan aneh tadi hanya disimpan masing-masing untuk didefinisikan nanti, pada waktunya.
Malam semakin larut. Waktu berjalan cepat. Naruto pamit pulang, katanya takut Deidara akan marah jika dia pulang terlambat. Deidara mengidap brother complex, menurut Naruto.
Sasuke menatap cahaya kuning yang melesat pergi dengan cepat meninggalkan janji untuk kembali lagi besok. Sasuke tersenyum untuk janji itu, senyum yang sangat Naruto sukai. Senyum yang ingin selalu dilihatnya.
.
.
.
T.B.C
A/n : Waaaaa apdet kilat, wkwkwk rencananya mau update nanti pas selesai lebaran. Tapi keburu dapet ide jadi lah 1 chapter yang gaje ini. Hahahah maaf juga karena chapter ini pendek banget dibanding chapter yang lain ^^ dapet idenya gantung, moodnya juga lagi gantung, jadinya chapter ini tanggung dan ngegantung
Maaf yaaa, lagi-lagi tanpa edit, jadi dimaafkan kalau banyak typo dan plotnya gaje.
Next time, saya akan usahain untuk ngedit dulu biar chapternya mantap dan tidak mengecewakan readers sekalian.
Akhir kata, saya dan segenap crew For Tomorrow mengucapkan MINAL AIDIN WALFAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
*sungkeman sm Kishimoto-sensei
*sungkeman sama SasuNaru
*sungkeman sama readers
