~For Tomorrow~

Disclaimer : Naruto is not mine.

Warning : BL/Yaoi, OOC, typo(s), Don't Like Don't Read.

Pair : SasuNaru –Forever-

Rated : T - End

.

Chapter 7

.

~Enjoy~

.

Sinar mentari pagi merangsek masuk melewati kisi-kisi jendela yang masih tertutup. Sinar matahari itu mengenai wajah porselen milik Sasuke yang masih bergelung di bawah selimutnya. Mata Sasuke masih tertutup sempurna sampai sebuah suara hangat menyentuh gendang telinganya.

"BANGUN SASUKE!" teriak Naruto yang pagi itu muncul tanpa diduga oleh sang pemilik kamar.

Onyx Sasuke mengerjap beberapa kali, mencoba memproses apa yang terjadi di kamarnya. Onyx Sasuke menangkap rambut kuning terang milik pemuda yang sangat dikenalnya. Onyxnya berputar melihat pemandangan pemuda di depannya. Naruto datang dengan menggunakan piyama bergambar kyuubi dengan warna orange menyala, lengkap dengan rambut kusut.

"Tak bisakah kau memperhatikan dirimu sebelum kau keluar rumah, Dobe?" pertanyaan ini yang pertama kali meluncur dari bibir Sasuke saat menemukan pemuda blonde berisik di kamarnya pagi itu. Komentar yang sedikit aneh, rasanya.

Naruto hanya memasang senyum 5 jari khasnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ya, tidak apa-apa kan. Lagipula kau sudah sering melihatku dengan piyama saat aku masih jadi pasien," jawab Naruto polos.

"Ck. Dobe, kau sudah bukan pasien lagi," balas Sasuke. "Rumah sakit ini bukan rumahmu, jangan datang seenaknya. Kau mengganggu."

"Ah, aku hanya menepati janjiku. Kan sudah kubilang aku akan datang lagi besok."

"Kau tidak bisa datang di jam besuk?"

"Sakura-chan mengizinkanku datang kapan saja, begitu pula Dokter Itachi."

"Tapi aku TIDAK!" tegas Sasuke.

"Aku tidak perlu izinmu, Teme jelek," ejek Naruto.

"Kau.." Sasuke hanya bisa mendengus kesal, dia sudah tahu akan kalah jika beradu mulut dengan bocah di depannya. Sasuke memutuskan untuk mengacuhkan keberadaan Naruto, langkahnya membawa tubuhnya ke kamar mandi untuk menghindari Naruto. Hanya itu tempat yang aman, untuk saat ini.

Ya, pagi yang indah bukan, Sasuke? Kau benar-benar beruntung.

Tanpa sadar, sebuah senyum irit tersungging di wajahnya, senyum yang Sasuke sendiri pun tidak tahu penyebabnya.

"Aku pulang dulu ya, Teme. Aku akan kembali setelah mandi dan sarapan," Naruto pamit sesaat sebelum Sasuke menghilang di balik pintu kamar mandi. Naruto pulang dengan senyum cerah, lebih cerah dibanding sinar mentari pagi itu.

Sasuke menghela nafas dalam keheningan, Apa yang sebenarnya kuinginkan?

.

Setelah pemeriksaan rutin pagi itu, suasana kamar rawat Sasuke sangat hening hingga kau bisa mendengar pemuda itu bernafas dengan tempo yang stabil. Hanya 5 menit, karena Naruto telah kembali sesuai janjinya.

.

5 pagi berikutnya masih berlangsung sama seperti hari itu, Naruto datang dengan piyamanya, membangunkan Sasuke dengan berteriak di depan telinga pemuda itu, pulang untuk mandi dan sarapan. Kemudian kembali lagi da menemani Sasuke sampai dia harus diusir oleh Sasuke.

Pagi hari Sasuke mulai berwarna, ya berwarna kuning dan orange akibat ulah Naruto. Namun, tahukah kalian bagaimana sebenarnya perasaan Sasuke menghadapi ulah Naruto setiap pagi? Tidak, Author pun tidak tahu karena Sasuke adalah makhluk Tuhan yang paling tertutup. Namun, satu ha; yang bisa kita simpulkan dari 5 hari ke belakang, bahwa Sasuke sama sekali tidak menolak kehadiran Naruto walaupun dia sering berkomentar sinis tentang kedatangan Naruto. Sasuke malah membiasakan dirinya dengan matahari pagi miliknya, Naruto.

.

Salah satu pagi hari di pekan ke-4 Naruto melakukan aktivitas 'membangunkan' pasien, matahari sedang tidak bersinar, digantikan oleh awan kelabu dan tetesan air yang menyapa bumi. Hari itu hujan.

Sasuke masih sibuk bergelung dengan selimutnya sampai seseorang datang dengan keadaan basah dan berteriak nyaring di telinganya. Sasuke sudah tahu Naruto akan datang, namun onyxnya menangkap sesuatu yang berbeda. Naruto basah kuyup. Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah jendela, langit tengah menurunkan kristal-kristalnya pagi itu. Sasuke panik dengan keadaan Naruto, nafasnya memburu dengan tubuh yang gemetar namun masih dihiasi senyum –yang menurut Sasuke- bodoh.

Sasuke melemparkan selimutnya pada Naruto, berusaha tidak terlihat mengkhawatirkan pemuda di depannya. Dia lalu menyeret Naruto ke kemar mandi dan mengguyur pemuda itu dengan air hangat, lengkap dengan pakaian Naruto.

"Kau mandi di sini, akan kusiapkan baju. Setelah hujan reda, kau harus pulang." Perintah Sasuke tegas dalam suara baryton miliknya. Naruto hanya menurut, suara tegas Sasuke kali itu tidak mampu dilawan oleh Naruto.

.

Itachi masuk ke kamar Sasuke untuk melakukan pemeriksaan rutin pada adik kesayangannya. Senyum ramah tak lepas dari wajahnya, walaupun tak pernah dibalas sedikitpun oleh sang adik.

"Keadaanmu semakin membaik, bagaimana perasaanmu?" tanya Itachi di sela-sela kegiatannya menulis laporan kesehatan Sasuke.

"Baik." Jawab Sasuke, matanya memandang lurus ke arah kamar mandi.

"Apa ada seseorang di dalam?" tanya Itachi saat sadar Sasuke memperhatikan kamar mandi yang sedikit berisik sejak tadi.

"Hn." Jawab Sasuke.

"Siapa?" tanya Itachi lagi.

Sasuke tidak menjawab, namun Itachi bisa mengetahui jawabannya saat pintu terbuka dan menampakkan sosok Naruto dalam balutan T-shirt biru dan jeans hitam milik Sasuke.

"Selamat pagi, Naruto," sapa Itachi ramah lengkap dengan senyum.

"Pagi Dokter," balas Naruto tak kalah ramah.

"Jangan datang lagi." Kata Sasuke tiba-tiba. Kalimat itu ditujukan pada Naruto, ya siapa lagi kalau bukan dia, tidak mungkin itu untuk Itachi. Sebenci apapun Sasuke pada Itachi, dia tidak mungkin mengusir Itachi yang merupakan dokternya.

"Eh?" Naruto bengong, dia agak lambat memproses kalimat pengusiran dari Sasuke.

"Kau kan sudah bebas dari tempat ini, pergilah yang jauh. Jangan pernah kembali lagi," Sasuke mempertegas maksudnya, sedikit berapi-api dengan rona merah yang menjalar di tulang pipinya. Itachi yang menyaksikan drama SasuNaru itu tertegun. Sasuke mengeluarkan emosinya, "Wow hebat sekali kau, Naruto," puji Itachi dalamm hati, masih setengah tidak percaya akan pemandangan yang ditangkap onyxnya.

Sasuke belum pernah memperlihatkan emosinya yang sevulgar ini, bahkan pada dirinya ataupun orang tuanya. Tapi Naruto bisa membuat Sasuke jadi seperti itu. Itachi takjub, namun cepat dia kembali menjadi dirinya yang santai.

"Wah wah, lupakan saja apa yang dikatakan 'makhluk' itu, Naruto," kata Itachi, santai. Tak dihiraukannya Sasuke yang makin naik pitam saat dirinya merangkul Naruto untuk keluar kamar.

"Jangan diambil hati ya. Dia memang labil. Nanti juga baik lagi," lanjutnya enteng seakan Sasuke benar-benar makhluk jinak.

Sasuke yang semakin geram sudah tidak bisa berpikir lagi. Ditariknya selimut biru di kakinya untuk menutupi tubuhnya. Benar-benar tipe labil nan galau, bukan?

.

.

.

Itachi menarik tangan Naruto, membawanya menuju ruangannya. Itachi menyentuh kening Naruto sebentar, panas. Bisa dipastikan Naruto demam. Mungkin akibat hujan yang baru saja mengguyurnya.

"Aku tahu kau sudah sembuh, namun bukan berarti kau bisa bebas bermain dengan hujan, Naruto," nasihat Itachi, cara penyampaiannya tidak jauh berbeda dengan Sasuke, sinis.

"Maafkan aku dokter, saat keluar rumah tadi masih terang, tapi saat di perjalanan hujan turun. Karena kupikir rumah sakit sudah dekat, aku berlari saja. Tidak tahunya jadi basah begini. Aku tidak apa-apa, aku sudah madi air hangat tadi," jelas Naruto, dia tidak mau status pasiennya dikembalikan.

"Alasan yang bagus," komentar Itachi. Tangannya sedang menulis di atas secarik kertas, sebuah resep untuk demam.

"Jaga dirimu, minum air putih yang banyak dan istirahat secukupnya. Kau kularang datang dalam keadaan seperti tadi," tegas Itachi sambil menyerahkan secarik kertas yang merupakan resep obat demam.

Naruto tersenyum simpul menerima kertas dari Itachi, "Baiklah Dokter, aku tidak akan nakal lagi."

"Kuharap kata-katamu benar dan bisa kupercaya," ujar Itachi.

"Kau harusnya percaya janji sesama laki-laki, Dokter," kata Naruto meyakinkan.

"Hn. Baiklah, aku percaya," kata Itachi dengan senyum lembut. "Terima kasih ya sudah menjaga Sasuke."

Naruto membalas senyum itu dan bergegas keluar dari ruangan Itachi.

.

.

.

Uchiha Sasuke merengut saat menatap jam dinding dalam kamar rawatnya, jarumnya menunjuk angka 10 dan 12. Pukul 10 tepat. Sasuke baru saja bangun dan merasa ada yang berbeda dari harinya yang biasa. Yang biasa? Ya, selama beberapa pekan ke belakang Naruto selalu rajin datang dan membangunkannya tepat pukul 7, membuat suara berisik yang akan dikomentari sinis oleh dirinya. Apakah itu sudah menjadi kebiasaan baru dalam hidup Sasuke? Ah, kata orang sesuatu yang baru bias menjadi kebiasaan jika dilakukan secara terus menerus selama 21 hari. Apakah Naruto sudah melakukannya selama itu? Sasuke yakin jawabannya 'iya' karena dia tidak akan mau mengakui kalau dirinya sudah menerima Naruto dalam kehidupannya.

Tapi, hari ini Naruto tidak muncul sehingga Sasuke terbangun sangat terlambat untuk pemeriksaan kesehatan. Oh, kemana anikinya? Bukankah Itachi yang harusnya membangunkan Sasuke untuk menjalani pemeriksaan rutin. Terlambat bukanlah kebiasaan Uchiha sulung itu, atau melupakan adiknya sendiri. Tidak mungkin. Jadi kemana mereka? Sasuke kembali merengut kesal. Hari ini tidak dimulainya dengan senyuman.

.

Jam makan siang bukanlah waktu yang dinanti oleh Uchiha bungsu yang tengah mendekam di kamarnya sambil membaca buku filosofi. Jam makan siang malah sangat dihindari olehnya –begitu pula jam makan malam dan sarapan.

"Selamat siang Sasuke-kun. Waktunya makan siang dan minum obat," sapa Sakura yang masuk dengan riang ke kamar Sasuke disertai nampan berisi makanan dan minuman untuk sang pasien.

Sasuke mendesah pelan, mau tidak mau dia harus menyambut Sakura dan melakukan instruksinya sebelum gadis itu melayangkan pukulan telak di kepalanya. Sasuke tidak mau ambil resiko.

Sasuke tersenyum hambar, menutup bukunya dan mendudukkan tubuhnya dalam posisi siap untuk makan. Sakura masih betah dengan senyumnya sambil mengamati Sasuke makan dan menyiapkan obat yang harus diminum Sasuke.

Setelah semua ritual makan siang yang –menurut Sasuke- sangat tidak menyenangkan, Sakura akan bersiap meninggalkan kamar itu. Namun Sasuke memanggilnya, "Sakura!"

Sakura berbalik sebelum tangannya menyentuh gagang pintu. "Ya," jawabnya pelan disertai dengan senyum manis yang tidak lepas dari wajahnya.

"Kemana Itachi?" Tanya Sasuke. Ya, dia hanya ingin tahu kemana perginya kakak yang mengaku menyayanginya itu. Sasuke ingin tahu kemana perginya dokter yang mengurusnya.

"Oh, dokter Itachi hari ini ada keperluan di luar sampai sore nanti. Kau ada perlu dengannya?" sakura balik bertanya.

"Kenapa tidak melakukan pemeriksaan rutin? Apa dia sudah pikun?" Tanya Sasuke lagi.

"Dokter sudah melakukannya tadi saat kau masih tertidur," jawab Sakura lembut.

Sasuke tertegun. Kenapa dia bisa sampai tidak sadar?

"Masih ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Sakura saat Sasuke tidak member respon apapun.

"Ah, tidak."

"Aku permisi ya. Istirahatlah. Kau terlihat lelah Sasuke."

Nasihat Sakura sedikit menyadarkannya. Apa dia lelah sampai tidak menyadari keberadaan Itachi? Apa yang membuatnya lelah? Selama ini dia hanya di kamar, membaca, berbaring, sedikit bermain game. Dia tidak mungkin kelelahan. Aneh, piker Sasuke.

Atau ada beban pikiran yang menguras tenaganya? Seketika itu juga pikiran Sasuke dibawa pada satu makhluk yang selama ini memang menyita perhatiannya. Pemuda yang diam-diam selalu masuk ke dalam mimpinya, dan sedikit demi sedikit membuka pintu hatinya.

Sasuke terlonjak, "Tidak mungkin!" tegasnya.

.

.

.

Bukan hal yang tidak mungkin, Sasuke! Kau tahu itu, tapi kau berusaha mengabaikannya. Kemana perginya IQ mu yang sangat tinggi itu? Ya, IQ memang tidak berguna saat kau dihadapkan pada sebuah kata yang dinamakan –

-perasaan.

.

~TBC~

This chapter is dedicated to Ciel-Kky30, Imelia, ChaaChulie247, Namikaze Lin-chan dan Misyel ^^

Okeeee~ saya kembali dengan chapter pendek lagi. Gomeeeenn~

Beneran gak mood buat nulis, padahal target chapter ini harus 2k, tapi gak kesampean. Hiks.

Sebagai penebus rasa bersalah, saya akan balas review di chapter ini :3

Yang saya balas hanya review terakhir ya yang di chapter 6..

Ini pertama kalinya saya balas review lagi setelah sekian lama hahahah /dichidori Sasuke/

Okee oke oke calm down Suke~

Check this out..

Ciel-Kky30 :: Minal aidin wal faidzin ^^ makasih sudah bilang sya keren /ditabok/ kenapa Sasuke tidak jujur? Karena dia gak tau mau jujurnya gmana hahaha.. happy ending? Silahkan ditunggu ^^

Imelia :: /peluk/ hai reader setia XD makasih sudah setia baca dan review yaaa. Makasih juga dukungannya lewat PM hahaha this chapter for you :*

Guests :: you're welcome ^^

ChaaChulie247:: maaf ye kalo kependekan ^^ endingnya? Tebak sendiri deeehhh~ mwahahaaha /dilempar tomat/

Namikaze Lin-chan:: maaf ya kalau kurang greget, mood sya juga kurang sih hahaha kurang mesra? Sengaja, nanti juga ada waktunya kok mereka mesra2an ^^ penyakit Sasuke? Gimana yaaa, tunggu aja kelanjutannya, nanti bakal ketahuan kok.

Misyel:: naruto mati? Banyak yang gak mau sih ya, semoga gak ada death chara deh. Saya sendiri gak sanggup kalau ngeliat chara fave saya mati hahaha

.

Okeee sekian~

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^