Terima kasih sudah me-review KNG 3 chapter 5; Rise, Putri, Nafau Chance, Kira, adeirmasuryaninst, CN Bluetory, ochan malfoy, megu takuma, Reader Biasa, widy, DarkBlueSong, SeiraAiren, bluish3107

Ttg Lily/Lysander dijodohkan: yg lain blm tau, kecuali Dom; ttg ibu Alice: dy dah meninggal (baca: KNG 2 ch 1); ttg sequel KNG 3: ada, tp stlah ini; ttg salah penulisan: yg benar Honeydukes, q kan cek lg sblom posting :D

Selamat membaca KNG 4 chapter 1 dan review (apa saja), ya!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 1

PERHATIAN!

Cacatan Harian ini adalah milik

Nama: Lucy Audrey Weasley

Tempat Tanggal Lahir: London, 2 Februari 2003

Jenis Kelamin: Perempuan.

Status Darah: Darah-Murni

Warna rambut: Merah

Warna mata: Biru gelap

Warna kulit: Terang

Tinggi: 165 cm

Berat: 50 kg

Alamat: Hollowtree Resident no. 24, London.

Tongkat sihir: Cherrywood, 24 cm, bulu ekor phoenix.

Anggota Keluarga: Percy dan Audrey (Orangtua), Molly (kakak)

Catatan: Punya banyak paman, bibi dan sepupu.


Tanggal: Sabtu, 3 Mei 2020

Lokasi: Kamar anak-anak perempuan Gryffindor – Ruang Reakreasi Ravenclaw.

Waktu: 3. 25 – 4 pm.

Dear Diary,

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Dom, dia pulang dari kencannya bersama Dustin di Hogsmeade dengan muka pucat, putih tak berdarah, bahkan lebih pucat dari wajah Malfoy si Muka Mayat (kata Rose)

"Lucy!" dia kaget melihatku sedang duduk di kamar dan sedang menulis, rupanya dia tidak menduga aku akan ada di kamar. "Kau tidak ke Hogsmeade?"

"Aku baru saja kembali bersama Roxy dan Rose," jawabku.

Dia berjalan masuk seperti orang linglung, melepaskan sepatunya dan langsung berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut dari kepala sampai kaki.

Nah, nah, ada apa ini?

Aku segera meletakkan catatanku, berjalan mendekati tempat tidurnya dan menarik selimut yang menutupi wajahnya.

Dia sedang memejamkan mata dan seluruh tubuhnya bergetar. Apakah radang paru-parunya kambuh lagi? Jangan deh! Atau si cowok cerewet Dustin Wood telah melakukan sesuatu padanya.

Kalau Dustin Wood yang melakukan ini padanya, aku akan membunuhnya saat ini juga!

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat dan memikirkan cara-cara untuk membunuh Dustin Wood; menguncinya di kandang singa; mendorongnya dari menara Astronomi; membuatnya pingsan, mengikat kaki dan tangannya, menggantung batu di lehernya lalu melemparkannya ke danau.

Hahaha, mampus!

Selimut tertarik dari tanganku, Dom telah menutup dirinya lagi dengan selimut. Aku menyentakkan selimut dan wajanya terlihat lagi.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, mengukur temperaturnya dan merasakan bahwa keningnya sedingin es. "Dom, ya ampun! Kau dingin sekali, aku harus memanggil Madam Pomfrey!"

"Tidak..." dia menahan lenganku, suaranya bergetar, "Aku baik-baik saja. Aku―aku hanya perlu tidur. Bisakah kau meninggalkanku, Lucy, kumohon!"

Aku menatap wajahnya yang putih pucat.

"Tidak, Dom, aku akan memanggil Madam Pomfrey dan memintanya untuk memberimu Ramuan Merica Mujarab."

"Lucy, kumohon!" dia sudah seperti akan menangis. "Aku tidak ingin semua orang repot, aku―"

"Dom―"

"Lucy, aku akan meminum ramuan itu setelah aku bangun, oke," katanya, menyelaku. "Biarkan aku tidur sekarang dan aku akan baik-baik saja setelah bangun nanti."

Aku memandangnya selama beberapa saat, dia tersenyum suram dan aku mengangguk.

"Baik, aku akan ke Madam Pomfrey untuk memintanya mempersiapkan ramuan untukmu dan kau harus meminumnya setelah bangun. Kau mendengarku?"

"Ya," kata Dom, tersenyum suram lagi, kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.

Aku keluar kamar, meluncur ke ruang rekreasi dengan cepat dan berlari secepat kilat menuruni tangga pualam menuju lantai lima, ke pintu tak bergagang yang menuju ke ruang rekreasi Ravenclaw.

Aku harus bertemu cowok cerewet itu untuk mencari tahu apa yang terjadi!

"Apa perbedaan sumpah dan janji?" tanya si burung elang penjaga pintu, setelah aku menendang pintu.

"Mana aku tahu?" gertakku. "Aku hanya ingin bertemu Dustin Wood."

"Apa perbedaan sumpah dan janji?" ulang burung elang itu tak peduli.

Sial, mengapa tidak ada yang mempertimbangkan untuk memberikan Mantra Pendiam pada burung ini.

"Aku tidak tahu... DUSTIN WOOD!" jeritku di depan pintu.

"Janji bisa dilanggar, tapi sumpah tidak bisa dilanggar," terdengar suara lain dari belakangku.

Aku berbalik dan memandang si pemilik tim Quidditch The Shamrock, Lorcan Scamander―sangat mirip kembarannya, tapi dengan mata hijau yang agak lebih terang dari mata Lysander―sedang tersenyum padaku, sementara si burung elang berkata, "Lumayan," dan membukakan pintu yang menuju ruang rekreasi Ravenclaw.

"Terima kasih," kataku, berpikir dalam hati berapa dia membayar para pemain Quidditch dan berapa pemasukan yang diperolehnya dari tim itu. 10 juta Galleon, 20 juta Galleon? Kalau dia lebih tua tiga tahun lagi aku akan melamar jadi istrinya!

"Aku memang suka membantu para Weasley!" katanya tersenyum.

Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkannya dengan suka membantu para Weasley, tapi aku tidak ingin memikirkannya, aku harus bertemu Dustin Wood. Melangkah masuk ke ruang rekreasi Ravenclaw, aku langsung tercengang. Ruangan ini benar-benar indah; karpet biru berbulu tebal dengan gambar elang Ravenclaw, temboknya juga berwarna biru dan sebuah lampu hias besar dari kaca tergantung di langit-langit ruang rekreasi yang berwarna biru dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip, seperti bintang asli. Jendelanya sangat besar dan tinggi seukuran pintu, berjajar di sepanjang tembok, menampikan pemandangan gunung-gunung yang spektakuler dan langit biru musim semi. Kursi-kursi empuk dan nyaman terletak di dekat jendela, jadi kau bisa membaca sambil menatap keluar jendela. Di sudut lain, sejajar dengan pintu, tampak enam atau tujuh lemari tinggi berisi buku-buku, juga pernak-pernik cantik milik anak-anak Ravenclaw. Di tengah ruangan ada dua sofa panjang yang setengah melingkar dengan sebuah meja kopi di tengahnya. Di dinding yang berhadapan dengan jendela tampak sebuah perapian besar yang bersih dan ada vas-vas berisi bunga-bunga musim semi yang memenuhi rak di atas perapian, rupanya anak-anak Ravenclaw suka mengoleksi bunga. Dan di ujung ruangan yang berhadapan dengan pintu tampaklah patung Rowena Ravenclaw yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit ruangan, patung itu memakai mahkota aneh dan tersenyum suram mengerikan. Di kiri dan kanan patung itu ada dua tangga lebar yang berakhir pada pintu hitam mengkilat di atasnya, mungkin yang menuju kamar anak-anak laki-laki dan kamar anak-anak perempuan Ravenclaw.

Aku sadar bahwa aku sedang melongo karena anak-anak Ravenclaw yang duduk di sofa dan di kursi dekat jendela sekarang sedang memandangku.

"Aku mendengar kau meneriakkan nama Dustin Wood tadi, apakah kau ingin bertemu dengannya?" tanya Lorcan, dia sedang berdiri di dekatku.

"Well, benar... Dustin Wood, di mana dia?" tanyaku, memandang berkeliling anak-anak yang masih memandangku dengan heran.

"Dia mungkin di atas, aku akan memanggilnya," kata Lorcan.

"Ya, thanks, Lorcan," kataku.

Dia tersenyum, kemudian berjalan menuju tangga sebelah kanan.

Benar kata Lily, Lorcan Scamander memang seratus kali lebih baik dari Lysander Scamander. Meskipun aku tidak tahu dengan pasti, namun dari tampangnya Lorcan memang kelihatannya lebih ramah.

Aku menunggu, menghindari pandangan anak-anak lain dan menatap bunga-bunga di atas rak perapian dengan tertarik. Oke, vas yang pertama mungkin adalah bunga daisy? Atau bunga petunia, ya? atau bunga teratai, tapi mana mungkin, bunga teratai kan di danau. Tetapi yang ada di vas kedua, aku yakin sekali adalah bunga krisan―

"Kau mencariku?" tanya sebuah suara.

Aku berpaling dan memfokuskan pandangan pada Dustin Wood. Nah, yang ini adalah bunga bangkai! Pikiranku ngelantur, sori, Diary... kita kembali pada Dustin Wood. Dia adalah cowok berbadan tinggi besar―wajar saja, dia kan tujuh belas tahun, mungkin delapan belas tahun―dengan rambut cokelat terang dan mata abu-abu. Rahangnya kuat dengan mulut yang lebar, pantas saja dia cerewet.

"Ya," jawabku. "Apa yang telah kau lakukan pada Dom, dia pulang dari Hogsmeade dan langsung sakit?"

"Aku tidak melakukan apa-apa," kata Dustin Wood, memandangku seakan sedang mempertimbangkan sesuatu. "Dia tidak mengatakan apa-apa padamu?"

"Apa yang harus dia katakan padaku?" tanyaku.

"Kalau begitu aku tidak tahu," jawabnya.

"Apa yang kau tidak tahu?" tanyaku curiga, sepertinya memang telah terjadi sesuatu.

"Apa kau tidak mengerti arti kata tidak tahu? Artinya aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya."

"Bohong!" kataku keras.

"Ya, ampun," kata Dustin Wood, memutar bola matanya. "Apakah aku harus menghabiskan waktuku hanya untuk meyakinkanmu bahwa aku tidak tahu apa-apa?"

Aku menatapnya tajam, bertatapan dengan mata abu-abunya, ingin melihat apakah dia benar-benar serius.

"Baiklah," kataku, menyerah. "Tapi ingat, kita akan bertemu lagi nanti kalau ternyata kau yang membuat Dom sakit."

Aku berjalan keluar ruang rekreasi Ravenclaw diiringi tatapan mata anak-anak Raveclaw. Setelah tiba di luar, aku segera turun tangga pualan menuju rumah sakit. Sambil berjalan menyusuri koridor, aku mempersiapkan kuping untuk menerima kuliah Madam Pomfrey tentang kesehatan sebentar lagi.

Sincerely,

Lucy Weasley.


Tanggal: Kamis, 16 Mei 2020

Lokasi: Perpustakaan

Waktu: Setelah makan siang

Dear Diary,

Aku bisa mengatakan padamu bahwa Dom aneh, sudah sepanjang dua minggu ini dia bersikap aneh. Dia sering duduk di sudut perpustakaan, menatap keluar jendela dan tidak mendengarkan apa pun yang aku katakan. Meskipun kami sedang berkumpul bersama keluarga saat sarapan, dia seakan tidak ada bersama kami. Dia memang tertawa, namun tawanya bukan tawa yang biasa kudengar. Tawanya terasa hambar dan tanpa keriangan.

"Dom," kataku pelan, saat melihatnya sedang duduk di perpustakaan, menatap kosong buku yang terbuka di depannya.

"Oh... hai, Lucy," katanya tersenyum suram.

Aku duduk di depannya dan menatapnya dengan prihatin.

"Aku baik-baik saja," katanya sebelum aku sempat bertanya.

"Kau tidak baik-baik saja, Dom," kataku. "Kau bisa cerita padaku, kan? Aku adalah sahabatmu, sepupumu dan kita selalu bersama... Aku sangat sedih melihatmu seperti ini."

Airmata Dom tiba-tiba mengalir, dan aku segera mengayunkan tongkat sihir menyulap sapu tangan di udara. Dom mengambilnya dan menyeka matanya.

Aku menunggu, melihatnya menghela nafas dan memberiku pandangan kuat, penuh tekad.

"Aku memang harus bercerita padamu, Lucy, agar perasaanku kembali lega dan aku bisa melupakan segalanya," katanya.

"Ya, katakan padaku, Dom, dan kau akan baik-baik saja nantinya," kataku, memberi semangat.

Dia membersit hidungnya, menghela nafas lagi dan berkata,

"Aku bertemu Terry di Hogsmeade saat kencan bersama Dustin."

"Apa?" aku benar-benar terkejut. "Jadi karena itu kau dan Dustin tidak lagi berkencan?"

"Ya," katanya suram. "Aku berkata pada Dustin bahwa saat ini perasaanku masih kacau dan tidak ingin menjalin hubungan dulu."

"Kau masih mencintai Terry," kataku pelan, meskipun aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan cinta.

"Entahlah," kata Dom. "Aku bingung dengan diriku sendiri... Aku sangat ingin melupakannya, namun pikiranku tidak melepaskanku untuk melupakannya. Aku selalu teringat padanya, aku memimpikannya, dan dia tidak pernah pergi dari pikiranku... Siang dan malam aku selalu teringat padanya..."

Aku memandangnya tidak tahu harus berkata apa, karena aku bukanlah pakar cinta. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa Dom selalu teringat akan Terry, mungkin saja Dom masih mencintai Terry. Orang kan pernah berkata kalau kita selalu teringat pada satu orang tertentu berarti kita menyukai orang itu.

"Menurutmu apa yang harus aku lakukan, Lucy?" dia bertanya, matanya berkaca-kaca lagi. "Bagaimana aku bisa melupakannya? Bantu aku untuk melupakan Terry!"

"Er, yah aku―kurasa kau harus berkencan lagi dengan Dustin, berpelukan, berciuman dan cobalah untuk memikirkan Dustin sepanjang hari!" kataku tak yakin.

"Kurasa kau benar, Lucy," katanya, menghapus airmatanya. "Seharusnya, aku tidak menolak Dustin waktu itu."

"Yah," kataku ragu, tidak terlalu yakin dengan apa yang baru saja kukatakan.

"Aku akan bicara dengan Dustin nanti," kata Dom tersenyum.

Syukurlah kali ini benar-benar tersenyum!

Sambil memandangnya aku berpikir bahwa asalkan kita semangat kita bisa melakukan apa saja, termasuk melupakan cinta.

"Dom, Lucy!" panggil Rose dari pintu perpustakaan.

"Shutt!" terdengar suara beberapa anak yang duduk di dekat pintu, menyuruhnya untuk diam.

"Maaf," kata Rose pelan, melewati meja-meja dan berjalan ke arah kami.

"Ada apa?" tanyaku, saat dia tiba di dekatku.

"Aku ingin menunjukkan ini," katanya sambil mengeluarkan Witch Weekly edisi minggu ini dari tasnya dan meletakkannya di depan Dom.

"Kau menyuruhku membaca Witch Weekly?" tanya Dom tak paham, dia melirikku dan aku menggeleng.

"Baca halaman dua puluh dan kau akan mengerti!" kata Rose, mengangguk pada majalah itu.

Dom segera membuka halaman dua puluh, dan wajahnya berubah pucat setelah melihat halaman itu. Aku mendekatkan kepala dan ikut melihat. Tercengang, dan menyadari bahwa wajar saja Dom merasa shock karena di majalah itu terpampang fotonya bersama Terry, yang tampaknya telah direkayasa, karena di foto itu Dom menggunakan gaun pengantin putih dan Terry menggunakan tuxedo. Judul besar hitam di bawah foto itu tertulis,

PERNIKAHAN RAHASIA TERRIUS KRUM

Terrius Krum yang dikabarkan telah menghilang itu sebenarnya telah melangsungkan pernikahan rahasia dengan Dominique Weasley, cinta pertamanya. Ini terbukti dengan pernyataan beberapa saksi yang pernah melihat keduanya di Hogsmeade dan pernyataan dari seseorang yang tidak mau menyebutkan namanya bahwa dia adalah saksi pernikahan mereka.

"Mereka masih sangat muda, tapi benar-benar bahagia dan tampak sekali saling mencintai," kata M, saksi yang tidak mau disebutkan namanya.

Dia dengan pasti meyakinkan bahwa Terrius Krum dan Dominique telah melangsungkan pernikahan dan nama mereka telah tercantum sebagai Mr dan Mrs Krum di Sommerst House.

"Itu tidak benar!" kata Victoire Weasley, kakak Dominique, saat ditemui di kantornya di tingkat tiga Kementrian Sihir. "Adikku masih di Hogwarts dan dia tidak menikah dengan siapa pun."

Hal yang sama dikemukakan Mrs Hermione Weasley, salah satu dari Golden Trio,

"Coba cek di Sommerst House, tidak ada yang bernama Dominique Krum di sana," katanya agak jengkel. "Kalau kalian memang ingin mencari berita tentang Krum, pergilah ke Bulgaria!"

Terrius Krum yang masih menghilang tidak bisa diminta keterangan, begitu juga Dominique Weasley yang katanya masih di Hogwarts.

Sementara seluruh dunia sihir mencarinya, Terrius Krum malah melakukan pernikahan rahasia. Apakah itu lebih penting dari proyek kemanusiaan Scamander Research Laboratory? Proyek yang―

"Apa-apaan ini?" tanya Dom, berhenti membaca dan menyerahkan majalah itu padaku.

Aku mengambilnya dan melanjutkan membaca tentang proyek pengobataan Scamander Research Laboratory yang akan rugi jutaan Galleon kalau Terry tetap menghilang.

"―kami bahkan tidak berkencan, mengapa mereka mengaitkan aku dengan semua ini?" Dom memandang Rose dan aku dengan tidak percaya.

Aku mengembalikan majalah pada Rose dan memandang Dom. Wajahnya sudah berwarna lagi dan sekarang keningnya berkerut.

"Ini benar-benar tidak bisa dipercaya," katanya.

"Mereka tidak punya bahan tulisan tentang Terry karena itulah mereka mengaitkanmu dengan ini," kata Rose, memasukkan majalah kembali ke dalam tas.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku, memandang Dom dengan prihatin.

"Kurasa ya," kata Dom setelah beberapa saat. "Aku sedang memikirkan reaksi anak-anak lain tentang ini."

"Oh Dom, tak usah pedulikan tentang anak lain," kata Rose. "Kau ingat awal semester lalu, saat mereka mengira kau gila? Mereka juga akan melupakan ini setelah tiga hari."

"Anak-anak di sini memang percaya apa saja yang ditulis Prophet atau Witch Weekly," kataku sebal.

"Dom..." terdengar suara Louis, sedetik kemudian, dia, Fred dan James sudah bergabung dengan Dom, Rose dan aku.

"Anak-anak membicarakanmu di koridor, mereka bilang kau sudah menikah, benarkah?" tanya Louis.

Tak ada yang menjawab, tapi Rose segera mengeluarkan Witch Weekly lagi dan menyerahkannya pada Louis.

"Halaman 20," katanya, sementara Fred, James dan Louis mulai mendekatkan kepala untuk membaca.

"Bagaimana bisa ada artikel seperti ini?" kata Fred tidak percaya, setelah mereka selesai membaca.

Louis meletakkan majalah di meja dan kami semua memandang foto Dom dan Terry yang tampaknya sangat bahagia.

"Ini pasti gara-gara artikel sebelumnya, yang di Daily Prophet, ingat?" kata Rose.

Kami semua mengangguk, Rose melanjutkan,

"Foto-foto Dom dan Terry saat peluncuran perdana itu memang mencurigakan, karena itu mereka mengaitkan Dom dengan menghilangnya Terry. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, mereka kan tidak tahu alasan Terry menghilang, jadi mereka melibatkan Dom karena menghilang karena cinta merupakan alasan romantis yang menurut mereka akan disukai pembaca."

"Tetapi ini kan keterlaluan!" kata Fred. "Bagaimana, Dom?"

"Aku kan sudah pernah dikira gila, jadi tak apalah jika sekarang mereka mengira aku sudah menikah," kata Dom, mengangkat bahu memandang rak buku di depannya, sementara Louis memandangnya dengan prihatin.

"Ke mana sih Terry?" tanya James. "Kalau dia terus menghilang nama Dom akan selamanya dikaitkan dengannya."

"Sebenarnya..." kata Rose pelan.

"Sebenarnya apa?" tanyaku.

Kami semua memandangnya.

"Apakah menurut kalian ini tidak ada kaitannya dengan Scamander Reasearch Laboratory?" tanya Rose, memandang kami dengan menantang. "Maksudku, mereka ingin menyebarkan berita-berita miring tentang Terry agar dia segera kembali dan meluruskan berita itu."

Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Menurutku Rose terlalu melebih-lebihkan, tidak mungkin Mr Scamander berbuat seperti itu, kan?

"Bisa jadi benar," kata James, mengangguk setuju. "Mereka akan rugi jutaan Galleon kalau Terry terus menghilang. Karena itu mereka memikirkan berbagai cara untuk membuat Terry kembali."

"Kalau ini benar, mereka sungguh-sungguh keterlaluan!" kata Louis, "melibatkan Dom dan―"

"Bagaimana menurutmu kalau kita melakukan sesuatu pada Scamander?" tanya James, tersenyum penuh semangat pada Fred.

"Yah, kita bisa diam-diam membakar kantor Scamander Research―"

"Jangan!" kata Dom tegas. "Aku tidak ingin kalian melakukan apa-apa."

"Tapi―"

"Tidak, James," katanya lagi. "Aku baik-baik saja... aku sudah pernah digosipkan gila, ingat? Aku akan bisa mengatasi gosip lain."

Dom memandang Fred, James dan Louis dengan tajam.

Aku memandang foto pernikahan Dom dan Terry dan berpikir bahwa orang memang akan melakukan apapun demi Galleon, bahkan penipuan.

Diary, walaupun aku memang suka Galleon, aku tidak akan melakukan penipuan untuk mendapatkannya. Aku tidak akan membuat orang lain menderita hanya untuk mendapatkan Galleon, aku akan selalu bersyukur dengan Galleon secukupnya yang aku miliki.

Sincerely,

Lucy Weasley


Tanggal: Sabtu, 21 Mei 2020

Lokasi: Hog's Head

Waktu: 11.18 – 1 am

Dear Diary,

Aku duduk tegak memandang kartu As Ruit dan King Klaver di tanganku. Sementara di meja bertebaran Sepuluh Klaver, Delapan Klaver, Dua Skop, dan King Ruit. Bandarnya, penyihir bercadar hijau, sebentar lagi akan membuang kartu terakhir. Laki-laki bertopeng biru di depanku ini sedang memandangku, menunggu. Aku memandang kartu lagi dan berpikir cepat; aku akan menang karena ada King, tapi bagaimana kalau dia punya double King? Kalau itu terjadi dialah yang akan memenangkan taruhan, dan aku akan kalah lagi untuk kesekian kalinya malam ini.

Suara orang-orang yang bermain judi di sekitar kami, suara pemabuk yang mulai menyanyi seperti orang gila dan digabung dengan suara Celestina Warbeck dari stereo kuno, Kaucuri Hatiku dengan Mantra, membuat konsentrasiku buyar. Bagaimana aku bisa memenangkan perjudian ini kalau seperti ini?

Oh hatiku yang malang, ke mana perginya

Dia meninggalkanku karena mantra.

Dan kini setelah kau cabik-cabik hatiku

Kumohon kembalikanlah dia padaku...

Sial, mengapa sih, Stan, sangat menyukai Celestina Warbeck? Aku harus bilang padanya untuk tidak lagi memutar lagu Celestina Warbeck.

"Ayolah, Mister!" kata si topeng biru terdengar tak sabar, memainkan jari-jarinya di meja.

Mister?

Oke, ini memang bukan kejutan. Penyihir-penyihir di Hog's Head ini tidak tahu aku adalah perempuan. Aku memang pandai menyamar, lebih pandai dari pada Dom, tentunya. Topeng hijau, jubah pria berwarna hijau panjang yang menutupi seluruh tubuhku, rambut merah sebahu yang diikat biasa dengan karet gelang dan sepatu olahraga tua. Penampilan itu berhasil menipu semua orang.

Kembali pada permainan kartu yang mempertaruhkan 500 Galleon, seluruh simpananku, hasil kerjaku selama empat bulan ini sebagai pelayan minuman di Hog's Head.

"All in!" kataku, mempertaruhkan seluruh koinku.

Aku memang harus bertaruh, inilah yang namanya perjudian, kita harus bertaruh untuk memperoleh kemenangan. Aku tahu aku memang selalu kalah, tapi selalu ada pekerjaan untukku dari Stanley, dia tidak akan pernah membiarkan aku tak ber-Galleon.

"Call!" kata si topeng biru mempertaruhkan jumlah koin yang sama denganku.

Si bandar membuang kartu terakhir yang ternyata adalah Lima Klaver.

Aku mendesah, berharap dalam hati bahwa kartu si topeng biru bukan double King. Memandang si topeng biru, aku mengangguk dan kami sama-sama membuka kartu kami masing-masing.

"Flush!" katanya senang.

Apa? Flush? Mana mungkin?

Ternyata memang Flush, kartunya adalah As Klaver dan Jack Klaver.

Sial, kalah lagi!

Dengan kesal, aku mendorong koin taruhanku ke arahnya dan meninggalkan bangku menuju bar. Aku memang tidak pernah menang sejak pertama kali memutuskan untuk mencoba berjudi tiga tahun yang lalu. Selalu saja kalah dan selalu saja kehabisan Galleon. Jangan menganggpaku penjudi berat, Diary, ini hanya untuk kesenangan saja. Jangan pikir bahwa aku datang berjudi setiap malam, tidak, mana aku punya Galleon sebanyak itu. Aku datang ke sini untuk kerja, Stanley selalu memberiku pekerjaan; menjadi pelayan bar menggantikan dia, waitress, pembersih penginapan dan kadang jadi bandar judi. Lumayan, seminggu lima belas Galleon!

Aku sangat suka Galleon dan juga sangat royal di meja judi. Aku suka mempertaruhkan seluruh simpananku, tidak seperti Molly yang sangat pelit soal Galleon. Berbicara tentang Molly, dia adalah anak kesayangan dalam keluarga, sama halnya dengan Victoire. Dan, aku adalah anak terbuang dalam keluarga sama halnya dengan Dom. Karena itulah kami berteman, sangat akrab melebihi apa pun juga. Dom adalah satu-satunya orang yang mengerti bagaimana aku, dan aku adalah satu-satunya orang yang mengerti bagaimana dia. Aku tahu bagaimana menderitanya dia karena mencintai Spikey yang adalah Terrius Krum.

Aku tidak mengerti tentang cinta karena aku belum pernah jatuh cinta, tapi melihat Dom yang begitu sengsara karena cinta aku sadar bahwa mencintai seseorang itu ternyata sangat menyakitkan. Aku tidak berharap bahwa satu saat nanti aku akan menderita karena cinta, bukan itu, aku tahu ada cinta yang juga sangat membahagiakan. Lihat saja Julian dan Molly atau Victoire dan Teddy, juga orangtua kami, mereka saling mencintai dan kukira tetap akan mencintai sampai selamanya.

"Kalah lagi?" tanya Stanley, saat aku duduk di depannya, sementara dia melap gelas dengan sebuah kain cokelat.

Aku memperhatikan kain itu dan sadar bahwa warna aslinya bukan cokelat, tapi karena kain itu tidak pernah dicuci sejak ratusan tahun yang lalu. Menjijikan!

"Ya," kataku mengalihkan pandangan dari kain cokelat menjijikan itu.

"Kehabisan Galleon?" dia bertanya, menyimpan gelas di meja dan mengambil gelas lain untuk dilap.

"Ada pekerjaan, kan?" tanyaku.

"Ada," jawabnya. "Kalau kau suka."

"Aku suka, Stan, aku butuh Galleon," jawabku. "Aku akan datang setiap malam untuk membersihkan penginapan."

"Bukan, bukan itu!" Stanley menggelengkan kepalanya.

"Apa?"

"Pekerjaan ini lebih bergengsi dan lebih membutuhkan ketelitian, kecerdasan dan tentu saja lebih banyak Galleon," kata Stanley.

"Benarkah?" tanyaku tidak yakin. Stan tidak pernah memberiku pekerjaan yang bayarannya di atas 15 Galleon.

"Ya," kata Stanley, mengangguk senang. "Kau mau tidak?"

"Mau," kataku cepat. "Apa pekerjaannya?"

"Aku juga tidak tahu, tapi orangnya ada di atas, kalau kau ingin bertemu dengannya, aku akan membawamu ke atas."

"Orangnya?"

"Ya, orang lain yang akan memberimu pekerjaan, bukan aku."

Aku berpikir cepat, kalau orang lain yang memberiku pekerjaan, pasti pekerjaannya adalah pekerjaan berat. Lagi pula Stanley bilang bahwa pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan kecerdasan. Bagaimana kalau―

"Tetapi, aku tidak disuruh untuk membunuh orang, kan?" tanyaku khawatir, aku menyerah kalau pekerjaannya adalah menjadi pembunuh bayaran.

"Mana mungkin," kata Stanley, kemudian tertawa. "Mau ikut ke atas?"

"Baiklah..." kataku.

Stanley tersenyum riang, menyimpan gelasnya dan membawaku menaiki tangga kayu yang berderit di setiap anak tangga. Kami terus naik atas dan tiba di sebuah ruang keluarga berpenerangan remang-remang, yang sama kusamnya seperti bar di bawah; karpetnya berdebu tebal, perapiannya kotor dan sofanya adalah sofa lama yang tampaknya sekeras batu. Di sofa itu sekarang, duduk seorang laki-laki berjubah dan bertopeng hitam yang menutupi seluruh wajahnya dan rambutnya, kecuali mata dan mulutnya.

"Aku menginginkan pemuda yang tegap, bukan pemuda lemah seperti dia," kata laki-laki bertopeng hitam itu, memandangku dengan mencela.

Suaranya terdengar berat dan agak aneh, tapi aku tahu bahwa laki-laki ini menggunakan Mantra Pengubah Suara sama dengan semua orang yang ada datang Hog's Head.

"Hanya dia yang bisa kuperoleh," kata Stanley tak sabar, duduk di depan laki-laki bertopeng hitam, lalu memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.

Aku duduk di dekat Stanley.

"Apakah tidak ada pemuda lain di luar sana?"

"Banyak, tapi cuma dia yang bersedia..." kata Stanley, menatap si topeng hitam. "Dia membutuhkan pekerjaan dan kau bisa memberinya pekerjaan. Apanya yang salah?"

"Dia kelihatannya sangat lemah," si topeng hitam mengamatiku lagi, sedangkan aku duduk tegak di tempat, berusaha tampak seperti pemuda yang tangguh.

"Dia sudah pernah melakukan berbagai pekerjaan, seperti menjadi kurir perdagangan permata ilegal dan pengintaian terhadap orang-orang terkenal."

Kurir permata ilegal dan pengintaian terhadap orang-orang terkenal?

Yang benar saja! Aku memandang Stanley dan dia menyuruhku diam dengan sudut matanya. Si topeng hitam segera mengamatiku dengan kurang yakin.

"Baik," katanya, memandangku "Siapa namamu? Aku menginginkan nama asli bukan nama samaran."

"Aku harus tahu dulu apa pekerjaannya... Aku tidak mau memberikan namaku dan ternyata nanti aku tidak jadi bekerja untukmu," kataku tegas.

Aku tidak mau tertipu bisa saja laki-laki ini adalah utusan Dad untuk mengawasiku, atau laki-laki ini adalah SAI (Spy Auror Intelengence) yang ditugaskan untuk mengamati bar ini sebelum penggebrekan oleh para Auror.

Dia memandangku sesaat, kemudian melemparkan sebuah potret di atas meja. Aku mengambilnya dan melihat gambar seorang pemuda bermata hitam dan berkacamata yang sangat kukenal.

"Terrius Krum?"

"Ya, itu dia," kata si topeng hitam. "Aku ingin kau mencari Terrius Krum."

"Er―"

Jujur saja, aku tidak berbakat mencari orang. Dulu waktu kecil, aku memang selalu tahu di mana Molly bersembunyi, tapi itu kan karena dia membawa-bawa bau lemon. Bagaimana aku bisa mengendus Terry, sedangkan aku tidak tahu dia pakai parfum apa? Lagi pula, sangat tidak mungkin aku mengedusnya, jika jarak Terry ribuan kilometer dari sini.

"Biaya perjalanan dan transportasinya adalah 2000 Galleon dan aku akan menambahkannya 2000 Galleon lagi kalau kau berhasil menemukan Terry," lanjut si topeng hitam setelah melihat keraguanku.

4000 Galleon sekali kerja?

Uangku akan jauh lebih banyak dari simpanan Molly, tapi apa katanya tadi? Biaya perjalanan dan biaya transportasi?

"Biaya perjalanan?" ulangku, meletakkan foto Terry di meja.

"Benar," katanya. "Kau akan membutuhkan biaya perjalanan, karena perjalanan ini membutuhkan biaya dan―"

"Sebenarnya kau menyuruhku mencarinya di mana?" tanyaku menyelanya.

"Aku baru akan menjelaskan," katanya agak jengkel.

Aku diam.

"Jadi, kami baru saja mendapat kabar dari SAI bahwa Terry sedang bersembunyi di dunia Muggle," kata si topeng hitam lagi. "Dunia Muggle itu sangat luas dan akan susah bagi kita untuk mencarinya meskipun ada beberapa penyihir yang bergabung dengan FBI dan CIA―"

"FBI dan CIA?" tanyaku bingung.

Apakah itu nama penyakit?

"Sudah kubilang jangan menyelaku," kata si topeng hitam jengkel.

"Maaf, silakan lanjutkan!"

"―Tapi kita tidak bisa berharap banyak pada mereka. Dan, sementara SIA bekerja, kami juga membutuhkan mata-mata untuk mengawasi," kata si topeng hitam. "Nah, di sinilah kami membutuhkanmu, kau harus menyamar sebagai pemuda Muggle biasa yang sedang berlibur dan memasang mata, mengawasi dan mencari informasi apa pun tentang kejadian aneh yang terjadi di dunia Muggle. Maksudku begini, Krum adalah penyihir, dia bisa menyamar sebagai orang lain, seorang Muggle, dan menjalani hidup Muggle itu atau bisa saja dia tetap menjadi dirinya sendiri dan berkeliaran di dunia Muggle. Yang harus kalian lakukan lakukan adalah mencari informasi. Sampai di sini ada pertanyaan?"

"Ada!" kataku cepat. "Apa tepatnya yang anda maksudkan dengan informasi?"

"Kejadian-kejadian aneh seperti pembicaraan para tetangga bahwa tetangga mereka yang lain agak sedikit berubah, atau teman kantor seseorang yang tiba-tiba menghilang, atau seseorang yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan sangat cepat dan masih banyak hal-hal lain yang hanya bisa dilakukan dengan tongkat sihir..."

"Itukan bisa di mana saja," kataku. "Aku tidak mungkin berkeliling dunia dan bertanya pada semua Muggle apakah tetangganya aneh atau tidak."

"Tidak, kau tidak pergi berkeliling dunia karena kau cuma pergi ke satu tempat."

"Di mana?"

"Bisa bahasa Italia?"

"Tidak... aku cuma tahu si yang artinya ya, dan Grazie yang artinya terima kasih," kataku. "Aku bukan ahli bahasa, Mol―er, maksud temankulah yang bisa berbagai bahasa."

"Tidak apa-apa, karena rekanmu sangat pandai berbahasa Italia."

"Rekan?" tanyaku.

"Ya, jadi masih ada orang lain selain kau... dia adalah pemuda yang sama sepertimu dan sudah bersedia untuk pergi ke Italia."

"Dan misalnya aku setuju pergi ke Italia, bagaimana aku bisa mencari Terry―er, Krum? Italia kan bukan negara kecil... Apakah aku harus bertanya pada Muggle-Muggle Italia apakah tetangganya aneh?"

"Kau tidak perlu berkeliling Italia, karena kami telah menempatkan pemuda-pemuda lain di seluruh provinsinya. Kau dan rekanmu hanya perlu pergi ke Venesia."

"Berapa biaya yang kau keluarkan?" tanyaku tak percaya.

Kalau memang dia menyewa banyak pemuda berarti dia adalah orang kaya.

"Biaya yang aku keluarkan bukan urusanmu, aku hanya perlu pekerjaanmu beres."

"Apakah kau dari Scamander Research Laboratory?" tanyaku curiga, hanya mereka yang mau mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan Terry.

"Aku akan memberitahumu nanti setelah kita tiba di Venesia. Masih ada pertanyaan?"

"Tidak..." jawabku datar.

"Sekarang kita tiba pada penjelasana utama," katanya, mengeluarkan tiga foto lain dari jubah hitam.

Aku mengambil ke tiga foto itu dan memperhatikannya dengan seksama, tidak ada satu pun yang kukenal karena mereka semua bertampang orang asing.

"Itu adalah tiga orang yang harus kalian awasi," katanya lagi. "Kami curiga salah satu dari mereka adalah Krum dan bisa juga bukan. Tugas kalian adalah bertanya pada tetangga-tetangga mereka tentang apa saja. Kalau bisa bertemanlah dengan mereka dan cari informasi, kalau kalian terlibat masalah kalian bisa memanggil SAI yang akan di tempatkan di wilayah Venesia. Tetapi aku tidak ingin kalian terlibat masalah... Kalau kalian yakin dia Krum kalian juga harus segera memanggil SAI..."

"Kau ingin langsung menangkap Terry―er, Krum, seperti penjahat?" aku langsung berdiri dari kursiku. Biar bagaimanapun aku mengenal Terry dan dia tidak bersalah apa-apa, dia cuma ingin menyendiri, masa seseorang tidak bisa dibiarkan berlibur selama setahun kalau dia mau.

"Duduk lagi!" perintahnya.

Aku duduk.

"Kami tidak akan menangkapnya, kami hanya akan meyakinkannya untuk kembali bekerja karena seluruh dunia sihir membutuhkannya. Proyek ramuan pengobatan itu harus dilanjutkan."

"Kapan aku berangkat?" tanyaku.

"Awal liburan musim panas... dan ingat di sana kau adalah Muggle, kau hanya bisa menggunakan tongkat sihir bila keadaannya sangat genting," katanya. "Satu hal lagi, kau bisa menghubungi SAI yang ditugaskan di Venesia dengan Mantra Patronus."

"Baiklah," kataku.

Dia mengeluarkan kantong uang dari sakunya, melemparkannya ke arahku.

"Kau harus menukar Galleon itu di Gringgots dengan mata uang Euro. Ingat, Euro! Itu adalah mata uang yang dipakai oleh Muggle-Muggle Eropa," katanya, setelah aku membuka kantong uang dan melihat koin-koin emas berkilau di dalamnya. "Aku tidak tahu berapa Euro yang sama dengan satu Galleon, tapi aku rasa uang ini akan cukup untukmu berkeliaran di Venesia selama dua bulan lebih."

"Jadi misiku ini hanya sampai musim panas berakhir?"

"Ya, kita harus menemukan Krum sebelum musim panas berakhir, karena proyek ramuan pengobatan ini tidak bisa menunggu," katanya. "Kalau kau dan rekanmu yang berhasil menemukan Terry, aku akan memberikan 2000 Galleon untuk masing-masing orang."

"Baik," kataku, mengantongi kantong uang, sementara si topeng hitam mengambil ketiga foto tadi dan foto Terry yang berada di atas meja dan menyimpannya kembali ke balik jubahnya.

"Jadi, kalau kita sudah sepakat, aku ingin tahu nama aslimu."

"Aku akan memberitahu nama asliku saat kita bertemu di Venesia," kataku, mengulang apa yang telah dia katakan sebelumnya. "Dan aku tidak akan menipumu, aku akan tetap pergi ke Venesia..."

"Bagaimana kalau kau menipuku, kau tidak muncul di Venesia dan membawa kabur uangku?"

"Aku bersedia melakukan Sumpah-Tak-Terlanggar bersamamu, dan aku bersedia mati kalau aku melanggar sumpah."

Si topeng hitam itu menatapku dengan tajam, aku tidak tahu warna matanya di ruangan yang remang-remang, tapi aku tahu dia sedang mencoba untuk menyakinkan dirinya sendiri apakah aku bisa dipercaya atau tidak.

"Baiklah, aku percaya padamu," katanya, mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya dan melemparkannya ke atas meja. "Ini tiketmu..."

"Tiket? Tiket apa?" tanyaku bingung.

"Tiket pesawat... Kau harus naik pesawat di London Heathrow Airport―"

"Naik pesawat?"

"Ya, benda besar milik Muggle yang bisa terbang dan―"

"Aku tahu apa itu pesawat," kataku jengkel "Tetapi kenapa harus pesawat, mengapa aku tidak menggunakan portkey?"

Orang ini menyuruhku naik pesawat sedangkan aku tidak tahu bagaimana caranya naik pesawat.

"Kau adalah Muggle, ingat? Kalian harus bertingkah sebagai Muggle sejak dari London... kau dan rekanmu adalah dua pemuda Inggris yang sedang berlibur ke Venesia... Dan kita akan bertemu lagi di Caffe Florian..."

"Caffè Florian?"

"Itu adalah sebuah caffe house dan aku akan menginap di sana, tapi kau dan rekanmu harus mencari penginapan murah di sekitar Grand Canal."

Aku terdiam, aku tidak tahu semua nama tempat yang baru saja dikatakannya, dan aku bahkan tidak tahu di mana letak London Heathrow Airport, padahal aku tinggal di London.

"Kau akan bertemu rekanmu di bandara," katanya. "Dia berambut cokelat terang dan bermata abu-abu, dia akan memakai baju kaos hitam dan jeans biru."

"Baik," kataku tak tahu harus berkata apa.

"Apa yang akan kau pakai supaya aku bisa memberitahunya bagaimana penampilanmu?"

"Er, aku akan pakai kaos hijau dan jeans hitam," kataku.

"Baiklah, sampai jumpa di Venesia," katanya, meninggalkanku dan Stanley yang sejak tadi diam saja di ruang keluarga yang suram.

"Bagus, kan?" kata Stanley.

"Entahlah, Stan," kataku bingung.

Dan ini memang benar-benar membingungkan, bagaimana kalau dia tahu bahwa aku bukan pemuda seperti yang dipikirkannya, tapi seorang gadis, Lucy Weasley, anak kepala Departement Pengaturan Hukum Sihir. Lalu apa yang akan kukatakan pada Mom dan Dad?

Sincerely,

Lucy Weasley


Tanggal: Senin, 23 Mei 2020

Lokasi: Kelas kosong lantai enam

Waktu: Setelah makan malam.

Dear Diary,

Aku dalam masalah besar sekarang, seharusnya aku tidak gampang tergoda hanya dengan iming-iming 4000 Galleon. Aku sudah menerima 2000 Galleon dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caranya aku menyamar sebagai cowok? Sedangkan orang-orang akan langsung tahu bahwa aku adalah Weasley. Tetapi, aku harus melakukan tugasku dengan baik, dan tentu saja sepupu-sepupuku tersayang akan dengan senang hati membantuku. Lagi pula misi ini adalah untuk menemukan Terry, kalau Terry ditemukan Dom bisa terbebas dari gosip mengerikan bahwa dia sudah menikah.

Sekarang dia sedang memandangku dari seberang meja bundar; matanya memandangku dengan bertanya. Jelas sekali bahwa dia tidak tahu mengapa aku mengumpulkan anak-anak di tempat pertemuan yang biasa.

"Jadi?" dia bertanya.

Aku menggelengkan kepala bersamaan dengan pintu terbuka, Fred, Roxy, James, Louis, Rose dan Al masuk.

"Mana Lily dan Hugo?" tanyaku, pada Al dan Rose.

"Sebentar lagi mereka ke sini," jawab Rose, lalu duduk berdampingan dengan Al.

"Mengapa kita tidak melibatkan Molly dalam pertemuan ini, Lucy?" tanya James.

"Dia hanya akan menganggu," jawabku. "Kurasa kita saja sudah cukup, seperti misi sebelumnya."

"Oke," kata James. "Jadi apa yang akan kita lakukan?"

"Kita harus menunggu Lily dan Hugo dulu," jawabku.

Tidak ada yang berkomentar lagi. Dom terus memandangku, sementara aku mengalihkan pandangan. Fred, James dan Louis mulai berbicara tentang Quidditch; Rose dan Al berbicara tentang Merilyn Markham yang akhirnya putus dengan Al; dan Roxy memandang tembok batu sambil merenung.

"Kurasa kita akan bisa memenangkan liga Quidditch tahun ini, kita tinggal melawam Slytherin," kata James.

"Yah, tapi pertandingan Ravenclaw dan Slytherin akan jadi pertandingan yang seru―"

"Yah, dia menamparku dan―"

"Apa, Al?" tanyaku, memusatkan pandanganku pada Al. "Siapa yang menamparmu?"

Fred, James dan Louis sudah berhenti berbicara tentang Quidditch dan Roxy sudah berhenti ngelamun, sekarang mereka semua sedang memandang Al.

"Yah, aku―Merilyn―er―"

"Merilyn melihatnya berciuman dengan Grace Nutley di Aula Depan," kata Rose, membantu.

"Al, pantas saja anak-anak memanggilmu playboy Hogwarts," kata James.

"Bagaimana denganmu, James, siapa cewekmu?" tanya Rose.

Wajah James berubah muram.

"Aku tidak punya pacar," jawab James.

"Oh ayolah, James, Lucy bilang dia melihatmu berciuman dengan cewek pirang di koridor lantai lima," kata Roxy.

James memandangku dan aku membuang muka.

"Dia bukan apa-apa," jawabnya.

"Apanya yang bukan apa-apa?" tanya Roxy jengkel. "Kalau ada cowok yang berani bilang bahwa aku bukan apa-apa, aku akan membunuhnya."

"Er, aku―"

"Maaf, maaf, kami terlambat."

Pintu sudah terbuka lagi, Lily dan Hugo muncul dan langsung duduk di kursi-kursi kosong di antara aku dan Dom.

"Kami menghindari Lysander," kata Hugo.

"Brengsek itu ingin tahu kami pergi ke mana," kata Lily, dia memandang James. "James, bisakah sekali-kali aku pinjam Jubah Gaib aku ingin bersembunyi agar Lysander tidak melihatku."

"Baiklah semuanya," kataku cepat, menyela James yang hendak mengatakan sesuatu.

Mereka semua memandangku, aku menghela nafas dan berkata,

"Kalian pasti ingin tahu mengapa aku selalu ke Hog's Head hampir setiap malam."

"Kau akan memberitahu kami?" tanya Dom tampak tak percaya.

"Ya, memang sudah saatnya kau memberitahu kami, Lucy, karena sebenarnya Fred dan aku berniat menguntitmu," kata James, nyengir.

Aku mendelik padanya.

"Oke, Lucy, lalu apa yang kau lakukan di Hog's Head?" tanya Louis.

"Aku kerja," jawabku singkat.

"Kerja?" Fred memandangku dengan tidak percaya.

"Kau mendapat 50 Galleon sebulan dari Uncle Percy dan kau masih perlu bekerja?" tanya tanya Roxy tak percaya.

"Baiklah, aku memang tidak bekerja sepanjang waktu," kataku. "Aku suka bekerja dan aku suka mendapatkan Galleon."

"Kau kerja apa?" tanya Rose.

"Banyak," kataku. "Waitress, pelayanan bar, pelayan kamar, bandar dan―"

"Bandar?" tanya Dom. "Nah itu, aku sudah mencurigaimu dari dulu, kau berjudi, kan?"

"Lucy!" yang lain memandangku dengan sangat terkejut.

"Dengar, aku hanya sesekali melakukannya dan―dan aku selalu kalah," kataku.

"Pantas saja kau selalu tidak punya Galleon," kata Dom lagi.

"Lalu apa hubungan pekerjaanmu dengan kita berkumpul di sini?" tanya Al. "Kau tidak terlibat utang ribuan Galleon, kan?"

"Tidak, tidak, bukan itu," kataku cepat, menenangkan sepupu-sepupuku yang berwajah cemas.

"Lalu apa?"

"Begini," kataku memandang mereka semua. "Aku menerima pekerjaan yang lumayan menarik, namun agak sulit."

Tidak ada yang berkomentar, semua menunggu.

"Dan bayaran pekerjaan ini adalah 4000 Galleon."

"4000 Galleon?" tanya Louis tak percaya.

"Apa pekerjaanya?" tanya Rose cemas.

"Aku harus jadi Muggle dan pergi ke Italia, tepatnya Venesia, untuk menemukan seseorang musim panas ini."

"Kau ingin kami membantumu memohon pada Uncle Percy agar melepaskanmu ke Italia?" tanya Dom, tampak tak yakin.

Walaupun aku akan membayarnya seribu Galleon, dia tidak akan mau memohon pada Dad.

"Bukan itu," kataku. "Aku ingin kalian terlibat karena orang yang aku cari ini adalah orang yang kita kenal."

"Siapa?" tanya Dom.

"Terry."

"Terry?" ulang Louis.

"Ya, Terrius Krum," aku memandang Dom, yang mengangkat bahu tak peduli.

"Jadi orang ini, aku tidak mengenalnya karena dia memakai topeng, ingin aku pergi ke Venesia sebagai Muggle dan mencari Terry. Aku memberitahu kalian semua karena aku ingin kalian membantuku."

Mereka saling berpandangan.

"Kau ingin kami membantu apa?"

"Orang itu menyangka bahwa aku adalah laki-laki," kataku.

"Kau ingin salah seorang dari kami menggantikanmu?" tanya James.

"Bukan itu," kataku. "Aku ingin kalian membantuku agar bisa menyamar sebagai laki-laki."

"Ya ampun, Lucy!" kata Lily. "Kupikir kau memang sedang terlibat dalam masalah besar."

"Kau bisa menggunakan mantra penyamar, Dom," kata Roxy, mengusulkan.

"Tetapi itu agak ribet," kata Rose, berpikir cepat. "Menurutku, kau hanya perlu meminum ramuan Polijus. Maksudku, kau membuat ramuan Polijus banyak-banyak dan memanggil rambut seorang cowok―paling bagus cowok Muggle dari desa Ottery St Catchpole, karena tidak ada yang akan mengenalmu―dan kau bisa ke Italia tanpa kuatir lagi, tapi kau harus memastikan bahwa persediaan ramuan Polijusmu cukup untuk sepanjang musim panas."

"Rose, ide bagus," kataku senang, memandangnya dengan penuh terima kasih. Tidak ada ruginya memiliki sepupu cerdas.

"Yah," kata Al. "tetapi akan sulit sekali membuat ramuan Polijus, itu membutuhkan waktu tiga bulan dan kau harus segera berangkat musim panas ini."

"Aku bisa membelinya," kataku cepat, tersenyum.

"Tidak ada yang menjualnya, kan?" kata Rose.

"Ada," kataku tersenyum senang. "Banyak sekali transaksi ramuan ilegal di Hog's Head, aku bisa mendapatkannya dengan mudah."

"Tapi kau perlu uang, tentu harganya akan sangat mahal," kata Roxy.

"Aku lupa bilang pada kalian bahwa aku sudah mendapat 2000 Galleon sebagai uang muka."

"Kalau begitu beres," kata Fred. "Kau hanya perlu berangkat dan―"

"Tidak, sebenarnya aku ingin beberapa dari kalian ikut bersamaku..." kataku, memandang Dom. "Aku tidak mungkin pergi sendiri, dan bagaimana kalau aku hilang di Italia?"

"Kau tidak mungkin hilang, Lucy," kata Roxy. "Aku sebenarnya mau saja ikut bersamamu, tapi kami―Fred, James, Louis dan aku―telah berjanji pada Uncle Charlie untuk mengunjunginya di Rumania."

"Aku ingin sekali ikut, Lucy, tapi Dad mungkin tidak akan mengijinkan aku pergi," kata Rose, kemudian memandang Al.

"Aku akan bicara dengan Uncle Ron," kataku. "Rose, kurasa aku akan memerlukanmu nanti... maksudku aku tidak tahu apa-apa tentang dunia Muggle, sedangkan kau pasti tahu banyak, kau kan sering mengunjungi kakak dan nenek Muggle-mu... dan Al, aku juga memerlukan dukunganmu!"

Rose memandang Al.

"Baiklah," kata Al. "Aku ikut, tapi kau juga harus membujuk Mom dan Dad agar aku bisa pergi ke Italia."

"Oke," kataku tersenyum, lalu memandang Dom. "Dom?"

Dom memandang tembok di belakangku.

"Ayolah, Dom, kau adalah sahabat terbaikku, aku tidak mungkin pergi sendiri ke Italia tanpamu."

"Bagaimana biaya perjalanannya?" tanya Dom.

"Aku akan menanggung semuanya," kataku senang.

"Aku juga ingin ke Italia," kata Lily.

"Aku juga," kata Hugo.

"Kalian berdua tinggal di Inggris," kata James.

"Ayolah, kami juga ingin ke Italia," kata Lily.

"Lily, Hugo, kalian baru saja dua belas tahun, Aunt Hermione dan Aunt Ginny tentu tidak akan melepaskan kalian ke mana-mana tanpa mereka," kataku.

"Yah," kata Lily.

Hugo mengangguk.

Aku memandang Dom, Rose dan Al dengan senyum cemerlang, aku tahu musim panas tahun depan adalah musim panas yang penuh petualangan.

Sincerely,

Lucy Weasley.


REVIEW, PLEASE! See you in KNG 4 chapter 2

Riwa Rambu ;D