Terima kasih sudah me-review KNG 4 chapter 2, SpiritSky, Vallerina Lovegood, Putri, bluish3107, Rise, atacchan, qeqey, ochan malfoy, SeiraAiren, DarkBlueSong, Devia Purwanti, megu takuma, zean's malfoy, widy, CN Bluetory, ella katty :D

Selamat membaca chapter 3 dan review (apa saja), ya!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 3

Tanggal: Sabtu, 24 Juni 2020

Lokasi: Piazza San Marco

Waktu: 1.00 pm

Dear Diary,

Aku terus menutup mulutku sepanjang perjalanan melewati canal, aku tidak ingin berbicara dengan Dustin, dan tampaknya Dustin juga tidak ingin berbicara denganku. Namun, saat tiba di Piazza San Marco aku terpaksa buka mulut untuk mengekspresikan perasaanku. Tempat ini benar-benar sangat cantik, dan aku biasanya susah untuk marah-marah kalau melihat sesuatu yang cantik dan indah.

"Benar-benar cantik!" kataku, memandang sekeliling Piazza San Marco.

Piazza San Marco adalah sebuah wilayah luas yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan bersejarah; gereja-geraja St Mark yang sudah sangat tua, Clock Tower, shopping center, dan yang paling terkenal adalah St Mark Basilika, sebuah bangunan ramping yang menjulang tinggi, seperti menara. Dari puncak Basilika ini kau mungkin akan bisa melihat seluruh kota Venesia yang cantik. Lalu, di tengah bangunan-bangunan bersejarah itu, ada sebuah lapangan luas dengan bangku-bangku panjang berderet sepanjang lapangan. Pengunjung bisa duduk-duduk di bangku itu sambil memandang puluhan burung merpati yang sangat jinak dan kau bisa menyentuh mereka kalau kau mau.

"Yeah, tapi kita datang di sini bukan untuk melihat-lihat, kita datang ke sini untuk kerja," kata Dustin menyebalkan, mengamati peta di tangannya.

Aku mendengus, membatalkan rencanaku untuk menyentuh burung-burung merpati itu, dan langsung duduk di sampingnya di bangku.

"Jadi, di mana Caffè Florian?" tanyaku sebal.

"Bisakah kau berhenti bicara dan membiarkan aku bekerja?" kata Dustin, masih sibuk mengamati peta.

Aku mendengus lagi, setelah itu terdiam memandang orang-orang yang lalu lalang di sekitar Piazza San Marco ini; ada yang membawa tas belanja, ada yang cuma lewat saja sambil membawa kamera, ada sepasang kekasih yang sedang duduk di bangku, dan ada juga pasangan gay yang sedang berpelukan. Merlin! Apakah mereka tidak bisa mencari tempat tersembunyi? Tetapi wajar saja, Italia kan negara bebas, semua orang bebas melakukan apa pun yang mereka inginkan.

Beberapa saat kemudian, Dustin berdiri dan aku segera mengikutinya. Dia melangkah ke arah dua Muggle yang sedang mengambil foto St Mark Basilika beberapa meter dari tempat kami duduk.

"Mi scusi!" kata Dustin.

Salah satu Muggle dari dua Muggle itu langsung berbalik dan memandang Dustin. Dia adalah Muggle asing berambut hitam, berkulit putih dan bermata sipit—mungkin orang Jepang—sementara temannya masih sibuk memotret.

"Morûgessûmnida," kata Muggle itu, menggelengkan kepala. "Chônûn Itariarûl mothamnida."

"Yongsôhae chupshipshio," kata Dustin, dan aku langsung tercengang, memandangnya dengan terpesona.

Si Muggle menggeleng lagi.

"Puthak chom tûrigessûmnida?" tanya Dustin.

"Mullonimnida!"

"Caffè Florienûn ôdi issumnika?"

"Chôriro kashipshio!" jawab si Muggle asing, menunjuk gang lebar di antara gereja-gereja kuno di sebelah kiri lapangan.

"Taedanhi komapsûmnida," kata Dustin, tersenyum.

"Chônmaneyo!"

Dustin mengangguk, Muggle itu balas mengangguk, lalu kembali pada kameranya, sementara Dustin memandangku yang masih tercengang.

"Ayo," katanya, lalu melangkah menuju gang di antara gereja kuno.

Aku masih termenung selama beberapa saat sebelum sadar bahwa Dustin telah meninggalkanku sejauh lima meter.

"Tunggu!" kataku, dan berlari untuk menjajarkan langkahku dengannya.

Dustin telah kembali memandang peta untuk mencocokkan arah, sedangkan aku memandangnya lagi dengan terpesona.

"Jangan memandangku seperti itu, menjijikkan tahu!" kata Dustin, memandangku sesaat dan menatap peta lagi.

"Kau tidak bilang padaku kalau kau sangat pintar berbahasa Jepang," kataku terpesona.

"Itu bukan bahasa Jepang," kata Dustin, tak peduli. "Itu bahasa Korea... Kalaupun aku bisa seluruh bahasa di dunia, buat apa aku bilang padamu? Dan berhenti menatapku seperti itu!"

"Tentu saja kau harus bilang padaku, kita kan sahabat—Kau sendiri yang mengatakan saat kita masih di Heathtrow airport—jadi kau wajib menceritakan semua hal tentang dirimu. Dan, kalau aku menatapmu dengan terpesona, seharusnya kau senang!" kataku ceria.

Nah, sekarang malah jadi aku yang cerewet!

Tetapi jarang aku menemukan orang yang seperti Molly, bisa berbagai bahasa di dunia. Atau apakah seluruh anak Ravenclaw memang bisa semua bahasa di dunia, ya?

"Waktu masih di Heathrow Airport aku memang ingin bersahabat denganmu," kata Dustin, "karena kupikir kau adalah orang yang bisa diandalkan—kurir permata ilegal, ahli mengintai orang terkenal. Namun, aku tidak yakin lagi, setelah melihat apa yang terjadi denganmu di pesawat dan di bus air tadi, dan cara memandangmu membuatku merinding, tahu!"

Dia berhenti berjalan, aku juga berhenti, dan dia memandangku dengan seksama

"Sekarang aku bertanya-tanya apakah kau memang kurir permata ilegal, atau cuma orang tak berguna yang kerjanya hanya merepotkan orang lain dan menjadi beban!" lanjutnya, lalu berjalan lagi, memasuki gang antar gereja kuno.

Aku terpaku di tempat, kata-katanya terngiang kembali di telingaku.

Orang tak berguna yang kerjanya hanya merepotkan orang lain dan menjadi beban!

Merepotkan orang lain!

Menjadi beban!

Beban!

Beban!

Aku memutar tubuh dan kembali ke arah Piazza San Marco, dan tidak menghiraukan Dustin yang bahkan tidak menyadari bahwa aku tidak mengikutinya lagi. Aku melangkah di antara Muggle-Muggle yang berseliweran di tempat itu dan kembali pada bangku tempat di mana kami duduk sebelumnya.

Oke, aku mengerti aku memang tidak bisa apa-apa, aku orang bodoh, aku bukan Molly, aku hanya akan menjadi beban, tapi kan dia tidak perlu mengatakannya di depanku dan dengan cara begitu.

Airmataku mengalir lagi. Ada apa, sih, denganku? Ini bahkan belum sehari aku di Venesia, tapi aku sudah menangis dua kali. Aku juga merindukan Inggris, aku ingin menjadi Lucy Weasley lagi, dan tidak mau lagi menjadi Luke Spencer. Tetapi, di mana Dom, Rose dan Al, bukannya mereka harus menemaniku di saat-saat seperti ini? Aku harus mencari mereka untuk menjalan misi ini bersama mereka, tidak mungkin aku bisa selamanya bersama Dustin sambil memendam keinginan untuk menenggelamkannya di Grand Canal.

Aku memandang berkeliling; beberapa Muggle mulai memperhatikanku dengan ingin tahu dan aku segera menghapus airmataku. Namun, seorang pria Muggle berbadan besar dan berjaket cokelat gelap berjalan mendekatiku.

"Cosa Succede, Cara?" tanya si Muggle, dan segera duduk di sampingku. "Posso aiutarla?"

Coa Succede? Posso aiutarala?

Sepertinya Molly pernah mengajarkan kalimat itu sebelumnya, tapi aku lupa. Sial! Mengapa otakku cepat sekali lupa?

"Vuoi venire con me?" tanya Muggle itu menggeser duduknya sehingga sangat dekat denganku.

"Er—"

Dia merangkulku, meletakkan tanganya di pundakku.

Apa-apan ini? Apakah dia mengira aku gay!

Tubuhku tidak bisa bergerak karena cengkraman di pundakku sangat kuat, dan bau tubuhnya yang mirip bau kain lap yang selalu dipakai Stanley, membuatku pusing dan mual.

Dom, Rose, Al, di mana kalian? Tolong aku!

"Mi scuci!" tanya suara Dustin, dan dia sudah berdiri di dekatku.

Si Muggle terkejut, membuat cengkramannya di lenganku mengendur, aku mengambil kesempatan ini untuk berdiri dan bergerak cepat ke arah Dustin. Si Muggle juga berdiri dan memandang Dustin dengan marah.

"Cosa stai facendo?" dia bertanya.

"È con me," kata Dustin, merangkul pundakku dan memandang si Muggle dengan percaya diri, sementara aku hanya melongo dan menunggu.

Si Muggle memandangku, kemudian Dustin, mendengus lalu berjalan pergi meninggalkan kami, membuat burung-burung merpati yang ada di dekat kami beterbangan.

"Nah, sekarang kau senang, kan?" tanya Dustin, memandangku tajam, wajahnya sedikit memerah.

"Apa?" tanyaku, tak mengerti.

"Itu kan yang kau inginkan? Agar semua orang mengira kita adalah pasangan gay?"

"Hah?" aku terkejut.

"Jangan pura-pura terkejut!" kata Dustin jengkel. "Kau kan sengaja menangis di tempat ini agar menarik perhatian Muggle, kan?"

"Aku bukannya sengaja menangis, aku memang menangis dan itu gara-gara kau," kataku menunjukkanya dengan dramatis.

"Apa yang kulakukan?" tanya Dustin. "Apakah itu gara-gara aku menyebutmu orang tak berguna dan hanya menjadi beban? Seharusnya kau tidak boleh tersinggung, karena itu memang benar!"

"Brengsek!" kataku, bergerak ingin meninjunya, tapi dia menangkis seranganku dengan cepat, menangkap pergelangan tanganku, dan mengunci lenganku di punggungku.

Aku menjerit.

"Lepaskan aku!" kataku, kemudian meringis kesakitan saat dia menarik lenganku agak ke belakang, membuatku merasa bahwa sebentar lagi tanganku akan patah.

"Aku belum memberitahumu, ya, selain ikut Klub Duel di Hogwarts, aku juga anggota Taekwondo Muggle. Jadi jangan coba-coba meninjuku, atau aku akan membuatmu babak belur!"

Setelah berkata seperti itu, dia melepaskanku, dan aku menggoyang-goyangkan tanganku untuk memastikan bahwa tanganku tidak patah.

"Taekwondo Muggle?" tanyaku ingin tahu, kalau bisa, aku juga ingin belajar bagaimana caranya mengunci seseorang, terutama Dustin.

"Itu semacam latihan ilmu bela diri Muggle yang berasal dari Korea," katanya. "Meskipun agak lebih lambat dari tongkat sihir, tapi latihan itu bisa membuat tubuh kita tetap fit."

Aku memperhatikan tubuhnya dan menyadari bahwa tubuhnya memang bagus; berotot di tempat-tempat yang pas dan tampak sempurna.

"Menjijikkan!" kata Dustin setelah beberapa saat.

"Apa?" tanyaku bingung.

"Jangan memandangku seperti itu!" katanya, merinding, kemudian memandangku dengan penuh perhatian. "Apakah kau—apakah kau menyukaiku?"

"Apakah aku menyukaimu?" ulangku agak heran.

Aku memandangnya lagi, memperhatikannya dengan seksama; matanya yang abu-abu seperti langit mendung, hidungnya yang tampak lurus dan indah, mulutnya yang agak lebar, rahangnya yang kokoh; dan aku memutuskan bahwa walapun agak menyebalkan, menganggapku merepotkan, juga suka berkata kasar, tapi dia sangat baik—bukankah dia tidak meninggalkanku, kembali lagi untuk mencariku dan menyelamatkanku dari si Muggle? Aku tersenyum dan memutuskan bahwa aku mungkin memang menyukainya.

"Kurasa aku mungkin menyukaimu," kataku tersenyum. "Kau pintar, bisa bahasa Italia, juga bahasa Korea, membantu saat telingaku berdengung di pesawat, menolongku dari Muggle aneh, dan kau juga punya tubuh yang bagus dan kau sangat tampan!"

Dia mundur dengan jijik, dan langsung terduduk di bangku.

"Jangan coba-coba, aku bukan gay," katanya, tampak tak percaya.

"Aku juga bukan gay," kataku keras, kemudian duduk di sampingnya.

"Tapi kau suka padaku?"

"Ya, aku suka padamu."

"Jadi?" tanya Dustin.

"Jadi?" ulangku.

"Kau ini bodoh sekali, ya!"

"Hei, jangan menyebutku bodoh!" kataku.

"Apakah kau ingin menciumku?" tanya Dustin, memandangku seakan mencoba ingin menganalisis sesuatu.

"Menciummu?" ulangku, kemudian mendengus jijik. "Buat apa aku mau menciummu?"

"Berarti kau tidak menyukaiku," kata Dustin, tampak sangat lega. "Biasanya kalau kita menyukai seseorang kita ingin menciumnya."

"Aku menyukaimu, tetapi aku tidak ingin menciummu."

Dustin memandangku dengan seksama lagi, tampaknya belum bisa menarik kesimpulan dari hasil analisisnya.

"Apakah punya cewek, atau orang yang kau sukai, misalanya cewek cantik di Durmstrang?"

"Tidak," jawabku yakin. "Kau adalah satu-satunya orang yang kusukai selain keluargaku."

"Oh, jadi kau menyukai aku seperti anggota keluarga?" tanya Dustin.

"Mungkin, tapi kau bukan anggota keluarga."

"Tetapi, aku bukan anggota keluarga."

Kami berdua bertatapan sesaat.

"Oke," kata Dustin, "tetapi aku ingin kau ingat bahwa aku bukan gay, aku adalah cowok normal."

"Aku tahu..." kataku.

"Nah, sebelum kita pergi ke Caffè Florien, kita harus bicara."

"Kita sedang bicara sekarang," kataku.

"Bukan tentang kau menyukaiku, tapi masalah pekerjaan, dan itu lebih penting," kata Dustin.

"Bailah, kita memang harus bicara," kataku. "Aku juga ingin bicara beberapa hal denganmu."

"Nah, begini," katanya mulai. "Dalam pesawat kau telah berkata bahwa kau tidak ingin aku jadi pemimpin, karena kau menginginkan kita sebagai rekan kerja."

"Benar," kataku cepat.

"Aku setuju," kata Dustin. "Kita akan bertindak sebagai rekan kerja, meskipun aku merasa bahwa kau lebih cocok jadi anak buahku."

Anak buah?

Aku memang harus mempertimbangkan apakah aku memang menyukainya atau tidak. Di saat-saat seperti ini aku merasa bahwa aku sangat membencinya.

"Karena sekarang kau adalah rekanku kita harus membuat berbagai peraturan karena aku tidak ingin selama musim panas ini ada benalu yang mengikutiku ke mana-mana."

Benalu? Brengsek busuk!

Aku menahan diri untuk tidak meninjunya lagi karena aku tahu dia mungkin akan mematahkan tanganku lagi. Apakah aku benar-benar menyukainya? Rasanya sekarang tidak lagi!

"Pertama," lanjutnya, tanpa menghiraukan perang batin yang terjadi dalam diriku, "dalam penyelidikan kita nanti, pastikan kau jauh-jauh dariku dan usahakan jangan bicara denganku kalau tidak benar-benar perlu, mengerti?"

"Mengerti."

"Kedua, karena aku lebih pintar darimu, tugasku adalah menyelidik, dan tugasmu adalah menulis. Buat catatan tentang segala penyelidikan kita; waktu, tanggal dan kejadian apa saja yang terjadi, mengerti?"

"Mengerti," kataku tak sabar.

"Kau ingin bicara sesuatu?"

"Ya, aku harus mengatakan dua hal penting padamu," kataku cepat, memandangnya dengan tajam. "Pertama, aku ingin agar kau menjaga mulutmu kalau bicara denganku; jangan mengatakan aku bodoh, jangan mengatakan aku merepot, jangan mengatakan aku beban atau benalu."

"Tidak ada yang salah dalam hal itu," kata Dustin menyebalkan. "Karena semua yang aku katakan benar, kau memang bodoh, kau memang selalu merepotkanku. Lihat saja tadi, kalau aku tidak segera datang untuk menolongmu kau pasti sudah dibawa pergi Muggle itu!"

Aku menarik nafas, ingin menahan diri, tapi tidak bisa.

"Aku menarik kembali ucapanku tentang aku menyukaimu, aku membencimu," kataku, mendelik padanya.

"Touch!" katanya bosan. "Selanjutnya, yang kedua apa?"

"Kedua," kataku. "Aku ingin agar kau bersikap sopan padaku dan memperlakukanku selayaknya manusia."

"Kapan aku memperlakukanku sebagai binatang?"

"Kau memarahiku," kataku keras. "Kau memarahiku saat di bus air tadi, kau bahkan tidak memberiku mantra untuk mencegah mabuk laut."

"Memangnya kalau kita memarahi seseorang berarti kita memperlakukannya seperti binatang?" tanya Dustin, menaikkan alisnya.

"Aku tidak tahu," kataku. "Intinya adalah aku ingin agar kau berhenti marah-marah padaku."

"Kau memang pantas dimarahi," kata Dustin tak peduli. "Dan mengenai mantra untuk mencegah mabuk laut tadi, kau kan bisa melakukannya sendiri."

"Aku tidak bisa melakukannya karena tongkat sihirku—"

Dustin mengangkat alisnya lagi.

"Er, tongkat sihirku ada di ransel dan aku terlalu lemah untuk mengeluarkannya," kataku, wajahku panas karena berbohong.

"Nah, berarti itu bukan salahku," kata Dustin tak sabar.

"Tapi, kau bahkan tidak membantuku—"

"Sudahlah, kita harus segera pergi ke Caffè Florian," kata Dustin, menyelaku dengan cepat seolah kata-kataku hanyalah kata-kata kosong, lalu berdiri.

"Tunggu dulu!" kataku segera. "Kau belum mengiyakan apa pun yang aku katakan."

"Yang mana?"

"Yang baru saja kukatakan tadi," kataku.

Dia memandangku, aku memelototinya.

"Baiklah, aku akan menjaga mulutku saat aku bicara denganmu dan aku akan berusaha untuk tidak memarahimu lagi, puas?"

"Oke," kataku tersenyum senang.

Dia memandangku.

"Apakah kau memang seperti itu?"

"Apa?" tanyaku heran.

"Gampang sekali untuk dibuat senang."

"Gampang sekali untuk dibuat senang?"

"Ya—tapi sudahlah, orang bodoh biasanya memang tidak mengerti apa yang orang pintar katakan."

"HEI!" seruku jengkel.

"Ayo," katanya, tak menghiraukanku, kemudian berjalan meninggalkanku.

Aku segera menyusulnya.


Tanggal: Sabtu, 24 Juni 2020

Lokasi: Caffè Florien

Waktu: 1.45 pm

Dear Diary,

Caffe Florien adalah bangunan besar yang sangat tinggi, luas dan indah. Selayaknya tempat-tempat penginapan terkenal di Venesia ini. Di dalamnya terdapat aula luas bersofa mewah dengan lampu gantung besar di atas langit-langit tinggi. Di ujung aula tampak lift-lift besar dan mewah yang membawa tamu ke tingkat atas. Di meja resepsionis tampak enam Muggle perempuan yang melayani para tamu dengan tak henti-hentinya.

Sementara menunggu Dustin yang berbicara dengan resepsionist, aku memandang Muggle-Muggle di sekitarku dan melihat Dom, Rose, dan Al sedang duduk di sofa di ujung aula. Mereka sedang membaca dan tampaknya tidak memperhatikan sekelilingnya. Aku ingin pergi mendekati mereka, ketika suara Dustin yang menyebalkan memanggilku.

"Mau ke mana, Cowok Lentik?"

Cowok Lentik?

Aku menunggunya mendekatiku dan segera menghadapinya.

"Mengapa kau memanggilku Cowok Lentik?"

"Kau memang seperti itu, kan?"

"Aku tidak—"

"Ayolah, nanti saja kita berdebat, kita harus segera bertemu Uncle Jo," kata Dustin, dan langsung menyeretku menuju lift yang baru saja tiba.

Aku tidak bisa bicara dengannya di dalam lift, karena selain kami di dalamnya ada beberapa Muggle yang bertampang aneh-aneh, mungkin orang asing. Kami keluar saat lift membuka di lantai sebelas, kemudian menyusuri koridor mewah berkarpet biru gelap menuju sebuah suit di ujung ruangan. Dan di dalam suit mewah itu telah menunggu kira-kira sepuluh orang dewasa dan dua remaja. Orang-orang dewasa ini, semuanya mengenakan jas Muggle lengkap dengan dasi. Mereka tampak begitu rapi, sehingga Muggle pun mungkin tidak akan tahu kalau mereka penyihir. Empat dari sepuluh orang dewasa itu sedang duduk di sofa, sedangkan enam dari mereka berdiri di belakang kursi dua remaja yang sangat kukenal, Scorpius Malfoy dan sepupu Zabini. Jelas sekali bahwa enam orang di belakang kursi itu adalah bodyguard Malfoy dan Zabini.

Scopius Malfoy tampak sok dengan jas Muggle berwarna hitam, lengkap dengan dasi dan sepatu resmi, sementara Ariella Zabini mengenakan gaun sutra maha indah berwarna putih dengan sepatu hak tinggi berwarna putih. Keduanya duduk di sana seperti pangeran dan putri kerajaan Inggris yang akan mengikuti pertemuan penting.

"Dustin," kata seorang penyihir pria agak kurus dengan rambut sedikit beruban, berdiri dari sofa.

"Uncle Jo," kata Dustin segera, menjabat tangannya. "Ini adalah Luke Spencer."

Orang yang dipanggil Uncle Jo oleh Dustin tersenyum dan segera menjabat tanganku juga.

"Duduk... duduk!"

"Terima kasih, Mr—" aku ingin tahu namanya.

"Panggil saja Uncle Jo, aku lebih suka anak-anak muda memanggilku begitu," kata Uncle Jo penuh semangat.

Dustin dan aku segera duduk di sofa.

"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Uncle Jo masih dengan bersemangat, tapi dia tidak mengharapkan jawaban kami karena dia segera melanjutkan. "Sebelum aku memperkenalkan yang lain, aku akan memperkenalkan diriku dulu, Mr—er, Luke, ya..." dia memandangku, aku mengangguk. "Jadi aku adalah utusan dari Scamander Research Laboratory untuk mencari Terrius Krum."

Aku mengangguk.

"Sedangkan ini," dia menunjuk pria berambut hitam beruban di sebelahnya, "adalah Mr Paul Mawdesley, dia adalah direktur penelitian ramuan pengobatan dari St Mungo. Di sebelahnya adalah Mr Phelan Noel, yang merupakan asisten penelitian dari Liga Ilmu Pengetahun dan teknologi. Di sebelahnya lagi adalah Mr Steven Osterley, dia dari Spy Auror Intelegence, yang bertugas di Venesia. Kalian harus menghubunginya kalau kalian berhasil mengumpulkan informasi tentang apa yang telah kukatakan pada kalian."

Dustin dan aku mengangguk.

"Selanjutnya," dia memandang Malfoy dan sepupu Zabini. "Itu adalah Mr Scorpius Malfoy, wakil dari The Malfoys Corporation, sedangnya yang seorang lagi adalah Miss Ariella Zabini, wakil dari Zabini Groups United. Kedua perusahaan ini adalah penyandang dana dalam proyek penelitian ramuan pengobatan ini."

Aku mengangguk mengerti, pantas saja Malfoy dan sepupu Zabini ada di tempat ini. Mereka rupanya tidak ingin ketinggalan untuk memastikan Terry tidak melarikan diri lagi. Sementara aku memandangnya, Malfoy menatapku dengan sok, tapi sepupu Zabini tampak tidak nyaman. Mungkin karena sepatu hak tinggi sebelas centi yang dipakainya. Kalau memang dia tidak menyukai sepatu itu, mengapa juga dia memakainya. Aku mengangkat muka, memandang bodyguard berbadan besar dan berdasi yang sedang berdiri di belakang kursi mereka, lalu bertanya-tanya dalam hati berapa mereka membayar bodyguard-bogyguard ini, apakah 10 Galleon sehari? Ah itu terlalu murah, mungkin seratus Galleon sebulan.

"Apakah kau mendengarku, Spencer?" tanya Mr, entah siapa namanya, dari SAI.

"Er, ya, tentu saja," kataku, padahal aku tidak tahu apa yang telah dia katakan.

"Jangan ngelamun!" bisik Dustin, mendesis.

Aku sembunyi-sembunyi mendelik padanya, sementara Mr entah siapa namanya dari SAI melanjutkan,

"Ini nama dan alamat tiga Muggle yang harus kalian selidiki," dia menyerahkan sebuah catatan kecil pada Dustin, yang lansung membacanya. "Pastikan semuanya berjalan secara rahasia... jangan sampai ada yang mencurigai kalian, karena, kalau misalnya salah satu dari mereka adalah Krum, tentu dia akan kabur setelah menyadari bahwa seseorang sedang mengawasinya."

Setelah membacanya, Dustin segera memberikannya padaku, aku membacanya,

Giorgio Vivaldi: San Marco 1321.

Antonio Orsoni: Dosrsoduro 4523.

Carlo Francesconi: Rio de Grande 1563.

"Cari keterangan tentang mereka dan setelah itu awasi mereka, kalau kalian menemukan sesuatu yang aneh segera kirim Patronus."

"Baik," kata Dustin, sementara aku mengangguk.

"Aku telah memesan kamar untuk kalian di Locanda Salieri dekat Piazzale Roma," kata Mr entah siapa namanya dari SIA. "Kalian bisa langsung ke sana sekarang."

Keempat orang itu, bersama Malfoy dan Zabini segera menjabat tangan kami dengan resmi, kemudian tanpa melirik ke belakang lagi, Dustin dan aku segera keluar.

"Menurutmu di mana restoran yang enak?" tanya Dustin, setelah kami tiba di luar Caffè Florien.

"Aku tidak tahu, tapi saat kau menyebut makanan, perutku langsung lapar," kataku, bersemangat.

"Oke, Cowok Lentik, saatnya mencari makanan!"

"Jangan panggil aku begitu!"

Tetapi Dustin tidak menghiraukanku dan berjalan kembali ke Piazza San Marco untuk mencari restoran yang enak.

Sincerely,

Lucy Weasley


Tanggal: Senin, 14 Juli 2020

Lokasi: Hotel Locanda Salieri

Waktu: 7 am

Dear Diary,

Sudah dua minggu lebih aku di Venesia dan sudah dua minggu juga aku tidur bersama Dustin dalam satu kamar, tapi di tempat tidur yang berbeda tentunya. Tinggal sekamar bersamanya membuatku agak susah bergerak; aku tidak bisa menjadi diriku sendiri kalau dia ada di kamar dan kami juga harus memakai kamar mandi yang sama. Yang paling menyebalkan adalah Dustin sangat berantakan. Tiap pagi pasti selalu aku yang membereskan sikat gigi, odol, krim cukur dan alat cukurnya yang disimpan sembarangan di atas wastafel. Aku juga membersihkan tetesan shampoo-nya mengotori bak mandi, menyimpan sabun mandi pada tempatnya, mengatur tempat tidurnya, membereskan pakaian kotornya dan mengantar pakaian itu ke tempat cucian, juga membangunkannya kalau dia terlambat bangun untuk pergi mengintai target-terget kami dan mengingatkannya untuk makan kalau dia terlalu sibuk menulis. Tampaknya tidak ada tugasku yang lain, selain menjadi tukang bersih-bersih kamar hotel dan penjaganya.

Dalam dua minggu ini, aku hanya tiga kali pergi bersamanya mengawasi ketiga target kami dan mencari informasi. Pertama, saat mengawasi Giorgio Vivaldi, hampir saja kami ketahuan karena aku dengan tidak sengaja terantuk tangga batu dan jatuh di hadapan orang yang harus kami awasi itu. Lututku terluka dan Muggle-Muggle memandangku dengan aneh, tapi Dustin membuang muka dan pura-pura tidak mengenalku. Sesampai di hotel dia memarahiku (padahal dia sudah mengatakan untuk tidak akan memarahiku lagi) dan melarangku ikut penyelidikan.

"Kau memang pantas dimarahi," kata Dustin waktu itu. "Dan kau jangan ikut lagi karena dia pasti sudah mengenal wajamu."

Beberapa hari setelah insiden yang pertama, aku memaksa Dustin untuk membawaku ikut sesi penguntitan lagi, dan aku dengan sangat sukses berhasil menumpahkan vino rosso (anggur merah) ke wajah Antonio Orsoni, target kedua kami. Dustin memarahiku dan tidak berbicara denganku selama dua hari.

Seminggu berikutnya, aku membujuk Dustin lagi, dan dia membawaku untuk mengawasi target ketiga, Carlo Francesconi, seorang gondolier (pengayuh gondola). Dan aku hampir saja terjatuh dari gondola saking bersemangatnya, untung saja Dustin menyambar pinggangku di saat terakhir. Setelah itu aku duduk diam-diam di dalam gondola membiarkan Dustin yang mengorek keterangan dari Carlo Francesconi. Setelah itu, Dustin tidak membawaku lagi, meskipun aku merengek, menangis, marah-marah, pura-pura sakit dan sebagainya. Dia tetap tidak menghiraukanku, dan jahatnya lagi, dia tidak memberikan informasi apa pun tentang target-target kami padaku.

Dom, Rose dan Al, menghabiskan dua minggu mereka dengan berkeliling Venesia. Berkeliaran ke mana-mana layaknya wisatawan Muggle yang baik; berbelanja, makan-makan, jalan-jalan sambil memandang kota Venesia yang cantik. Mereka bahkan tidak mengajakku, dan pulang dengan cerita-cerita aneh yang tampaknya mengasyikkan.

"Lihat, Lucy!" kata Dom, pada saat aku berkunjung ke kamarnya dan Rose, selantai di atas kamarku dan Dustin.

Dia menunjukkan tato laba-laba kecil di sebelah kiri lehernya.

"Kalian membuat tato?" tanyaku terkejut.

"Tunjukkan punya kalian Al, Rose," kata Dom.

Al segera menunjukkan tato naga di lengannya dan Rose segera menunjukkan tato kalajengking kecil di celah antara ibu jari dan jari telunjuknya.

"Kalajengking—scorpion?" tanyaku, memandang Rose dengan tidak yakin.

"Benar, scorpion—kalajengking," kata Rose tampak bercahaya. "Bagus bukan?"

"Tapi, tapi itu scorpion, Rose," ulangku.

"Memangnya kenapa kalau scorpion—kalajengking, kurasa binatang itu lucu."

"Rose, maksud Lucy adalah kau membuat tato yang sama dengan nama Scorpius—Scorpius Malfoy... Kurasa nama Scorpius berasal dari scorpion—kalajengking," kata Al membantu. "Nama mereka kan aneh-aneh, sama dengan nama ayahnya, Draco, yang berarti dragon—naga, juga Lucius yang berasal dari kata Lucifer—setan."

"Apa? Scorpion... Scorpius Malfoy," Rose tampak sangat terkejut, gugup dan wajahnya memerah. "No way, bukan itu maksudku, aku tidak sengaja melakukannya, aku tidak tahu—maksudku, aku—"

"Tidak apa-apa, Rose, aku tidak menuduhmu menyukai Scorpius Malfoy—"

"Aku tidak menyukai Scorpius Malfoy," Rose menyelaku dengan cepat, kelihatannya marah pada dirinya sendiri. "Aku—aku tidak sengaja, karena kupikir kalajengking—scorpion itu unik dan—"

"Sudahlah Rose, semua orang bebas mengekspresikan dirinya," kataku, menenangkan. "Tetapi, apakah kalian tidak takut ketahuan McGonagall? Terutama kau, Rose—Tato Dom tertutup rambut, sementara tato Al tertutup lengan jubahnya—tatomu akan langsung ketahuan dalam sekejap."

"Aku sudah memikirkannya," kata Rose tersenyum, mengambil plester kecil dari tas manik-maniknya dan menempelkannya di atas tato scorpion-nya. "Ta-daa, tidak ketahuan, kan?"

Dom, Al dan aku hanya bisa menggelengkan kepala.

Begitulah yang terjadi, Diary, mereka berkeliling Venesia, mencoba semua makanan Italia, berbelanja, membuat tato, menghabiskan uang Euro-ku dan aku sendirian di hotel menunggu Dustin pulang. Dan Dustin, setelah aku menunggunya sampai malam tidak pernah membawakanku makanan, minuman atau suvenir apa pun. Jadi, setiap malam aku harus menelpon layanan kamar untuk memesan pizza. Dia juga tidak mau membagikan informasi padaku, meskipun dia telah menyuruhku bertugas sebagai pencatat, dia tidak pernah menyuruhku mencatat. Dia menyembuyikan semua informasi dariku. Karena itulah, pagi ini saat dia masih tidur, aku membongkar barang-barangnya untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. Aku sudah bosan ditinggal dan sekarang saatnya aku untuk bergerak.

Ransel Dustin penuh dengan barang-barang aneh; ada mobil mini yang benar-benar bisa jalan, mobil mini yang ada dalam bulatan kaca, dan mobil mini berbentuk aneh (aku mengambil mobil mini yang ada dlam bulatan kaca itu untukku); lalu ada keripik kentang dalam plastik-plastik yang masih ditutup—dia bahkan tidak membagi snack-nya denganku; lalu dompet yang berisi uang Euro—uangnya lebih banyak dariku; pakaian-pakaian yang belum dilipat—aku menghabiskan sepuluh menit untuk melipat pakaiannya dan mengaturnya dengan rapi dalam ransel; dan sebuah buku catatan kecil.

Inilah yang kucari, aku mengayunkan tongkat sihirku, membuat kopian benda itu dan segera membawa kopiannya keluar kamar menuju kamar Dom dan Rose di lantai atas. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk ke kamar mereka setelah memantrai pintu dengan Alohomora. Dom dan Rose masih tertidur dengan nyaman di tempat tidur masing-masing. Aku segera memberikan matra Muffliato di pintu dan berteriak keras,

"DOM, ROSE BANGUN!"

Rose bergerak, sementara Dom terus tertidur.

"Masih subuh, Lucy," kata Rose, dan berbalik ke arah lain.

Aku segera mengguncangnya dan Rose bangun dengan terpaksa, duduk di tempat tidur dan memfokuskan pandangannya padaku.

"Seharusnya kau membiarkan kami tidur," katanya.

Aku tidak menghiraukan Rose, dan segera mengguncang Dom, yang langsung terbangun, duduk di tempat tidur dan memandangku dengan khawatir.

"Kau baik-baik saja, Lucy?" tany Dom. "Apakah terjadi sesuatu? Apakah Dustin membuatmu babak belur?"

"Tidak," jawabku segera. "Aku ingin bilang pada kalian bahwa aku sudah bosan tinggal di hotel."

"Kau ingin menyewa rumah, Lucy, tapi uang Euro kita tidak akan cukup untuk menyewa rumah," kata Rose, menguap, bersandar pada kepala tempat tidurnya dan memandangku, sementara Dom melakukan hal yang sama.

"Bukan itu," kataku, kemudian duduk di sisi tempat tidur Dom dan memandang mereka berdua. "Aku sudah mendapatkan petunjuk dan sekarang saatnya kita untuk melakukan penyelidikan," aku melambaikan catatan kecil Dustin di depan hidungku.

Beberapa saat tidak ada yang bicara mereka memandangku, tampak terperangah, kemudian Rose berkata,

"Kalau begitu kau harus membangunkan, Al, dia akan marah-marah kalau tidak diberi informasi."

Dom mengambil tongkat sihir dari bawah bantalnya, mengucapkan mantra Patronus dan mengirimkan Patronus berbentuk laba-laba pada Al. Aku memandang Rose dan melihatnya sedang memandang Dom dengan pandangan bertanya, sementara Dom pura-pura memandang tembok di belakangku. Rose pasti sedang bertanya-tanya dalam hati mengapa Patronus Dom, juga tato di lehernya berbentuk laba-laba. Dalam hati aku sadar bahwa meskipun dia bilang dia tidak mencintai Terry lagi, namun pada kenyataannya dia masih sangat mencintainya.

Tidak ada yang berbicara selama kami menunggu Al karena Dom terus mengabaikan Rose yang mendelik padanya. Dan aku menyibukkan diri dengan membuka catatan Dustin dan mencari-cari hal penting.

TARGET PERTAMA

Nama: Giorgio Vivaldi

Umur: 35 tahun

Alamat: San Marco 1321

Pekerjaan: Pelukis Jalanan di Piazza San Marco

Hobby: Melukis

Informasi dari tetangga: pelukis potret yang sama sekali tidak berbakat, suka bangun terlambat, pemabuk, menghabiskan uang untuk berjudi, punya banyak utang, suka menipu orang, suka berkunjung di bar hotel San Clemente Palace.

Catatan: tidak ada keterangan tentang hal-hal aneh.

TARGET KEDUA

Nama: Antonio Orsoni

Umur: 26 tahun

Alamat: Dorsoduro, 4523

Pekerjaa: asisten tukang masak di restoran Antico Greco, Rio de Grande

Hobby: mendengarkan musik dan menyanyi

Informasi dari tetangga: pekerja keras, punya suara yang lumayan merdu, suka berbicara, cepat akrab dengan orang lain, sangat pandai memasak (suka membagikan makanan hasil masakannya sendiri pada para tetangga), tiap pagi minum kopi di restoran cepat saji Druno.

Catatan: tidak ada keterangan aneh

TARGET KETIGA

Nama: Carlo Francesconi

Umur: 23 tahun

Alamat: Rio de Grande, 1563

Pekerjaan: gondolier (pengayuh gondola)

Hobby: tidak diketahui

Informasi dari tetangga: pendiam, tidak suka bicara dengan tetangga, rajin bekerja, ramah (Signore Geovanni Arzetti mengatakan bahwa target ketiga sering menyapanya di pagi hari sebelum berangkat kerja), baik hati (Signora Irene Dandolo mengatakan bahwa target ketiga pernah membantunya memperbaiki pipa yang bocor), sering mengunjungi bar di sekitar Piazza Roma.

Catatan: Tidak ada keterangan aneh

Pintu terbuka dan Al masuk.

"Kalian membangunkanku pagi-pagi sekali dan aku tidak akan memaafkan kalian kalau ternyata hal yang kalian bicarakan tidak begitu penting," omel Al, dia masih mengenakan piyama birunya dan langsung duduk di sisi tempat tidur Rose sambil menguap.

"Ayo, berikan catatan itu, Lucy, biar Al dan aku membacanya bersama," kata Rose.

Aku segera melemparkan catatan Dustin pada mereka dan keduanya saling mendekatkan kepala untuk membaca. Setelah beberapa menit, mereka melemparkan catatan itu pada Dom.

"Bagaimana menurut kalian?" tanyaku pada Rose dan Al, sementara Dom membaca.

"Entahlah," jawab Al sambil berpikir. "Kurasa target pertama itu cukup mencurigakan, tapi Terry tidak mungkin menjadi penjudi dan pemabuk setelah menyamar jadi orang lain, kan? Biasanya, walaupun sedang menyamar, kita tidak akan mengubah kebiasaan kita, kan?"

"Target kedua juga tidak mungkin Terry," kata Rose. "Tapi, mungkin saja Terry, kita kan tidak tahu kalau dia bisa memasak atau tidak... Kurasa dia bisa jadi sangat ramah kalau memang dia mau bersikap ramah."

"Bagaimana menurutmu, Dom?" tanyaku, memandang Dom yang telah selesai membaca dan melemparkan catatannya kembali padaku.

"Entahlah, aku—aku ingin sekali melihat ketiga orang ini," kata Dom dengan pandangan menerawang. "Aku—kalau aku melihat mereka, mungkin—mungkin aku bisa tahu apakah dia Terry atau bukan. Dan Terry juga, dia mungkin akan bersikap lain kalau melihatku."

"Kita memang harus berjumpa dengan ketiga orang itu," kata Al.

"Jadi apa rencana kita?" tanya Rose.

"Kurasa malam ini kita harus pergi ke—" aku melirik catatan, "—sebuah bar di hotel San Clemente Palace... bagaimana menurut kalian?"

"Aku setuju," kata Rose, menganggukkan kepala. "Sementara Dom mendekati target kita, kami—Lucy, Al dan aku—akan mengawasi perubahan sikap dan ekspresi si target."

"Ide bagus," kata Al, lalu memandang Dom. "Tetapi kau harus sangat berhati-hati, Dom."

"Aku mengerti," kata Dom. "Dan aku punya tongkat sihir, aku bisa menjaga diriku sendiri."

Kami terdiam selama beberapa saat dan saling pandang.

"Jadi, kalau tidak ada lagi yang kita bicarakan aku mau kembali ke kamar," kata Al, lalu berdiri. "Sampai jumpa nanti malam, Lucy!" dia melambai, kemudian keluar kamar.

"Aku juga harus turun sekarang," kataku. "Aku harus tidur lagi, mempersiapkan tenaga untuk nanti malam."

Dom mengangguk, sementara Rose sudah kembali ke balik selimutnya.

"Tutup lagi pintunya!" kata Dom.

Mengangguk, aku segera keluar kamar, menutup pintu dan turun ke satu lantai di bawah, ke kamarku dan Dustin. Kamar itu kosong saat aku tiba. Dustin telah pergi entah ke mana. Mengherankan, dia biasanya berangkat setelah makan siang, mungkin hari ini dia memang sibuk. Tetapi syukurlah, aku bisa menjadi Lucy lebih cepat dari biasanya. Aku memang selalu menjadi diriku sendiri saat hanya aku di kamar, aku bisa jadi cewek lagi dan bersantai di kamar sambil membaca Misteri Pembunuhan Dua Penyihir karya Julia Christie.

Aku segera masuk ke kamar mandi saat merasakan ramuan Polijus perlahan-lahan meninggalkanku. Mandi berendam selama beberapa menit, memakai sabun dan shampoo wangi sambil memikirkan apa kegiatan yang harus kulakukan setelah ini merupakan kegiatan yang paling menyenangkan selama Dustin pergi.

Setelah hampir setengah jam di kamar mandi, aku segera menyambar handuk dan keluar. Bunyi bantingan pintu kamar mandi terdengar bersamaan dengan suara Dustin yang dengan heran bertanya,

"Siapa kau?"

Aku mengangkat muka dan bertatapan dengan mata abu-abu Dustin, dia sedang berdiri di dekat jendela. Dan, karena terlalu memikirkan tentang apa yang akan kulakukan setelah ini, aku tidak melihatnya berdiri di sana.

"Lucy Weasley," katanya, setelah menyadari siapa aku, kemudian memperhatikanku dari atas sampai ke bawah; berlama-lama di bagian bawah leherku yang terbuka, juga bagian atas lututku yang tidak tertutup handuk.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku tajam, memperbaiki letak handuk di tubuhku.

Sial! Bukankah dia seharusnya sudah pergi ke entah apa yang akan dia lakukan?

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan di kamarku?" tanya Dustin, memandang wajahku sekarang.

Benar sekali, apa yang sedang Lucy Weasley lakukan di kamar Dustin dan Luke? Bukankah seharusnya dia ada di Inggris?

Aku memaksa otakku yang tidak pintar untuk berpikir cepat.

"Ini kamarmu?" ulangku, berpura-pura memandang sekeliling kamar. "Oh Merlin, rupanya aku salah masuk kamar, maafkan aku!"

Habis berkata begitu aku segera masuk lagi ke kamar mandi, mengunci pintunya, dan mengabaikan Dustin yang berteriak, "Tunggu!"

Dengan panik aku mencari-cari tongkat sihirku di antara pakaian Luke yang tergeletak di lantai kamar mandi.

"Weasley!" terdengar suara Dustin disertai gedoran di pintu.

"Oke, aku keluar sebentar lagi... aku sedang berganti pakaian," kataku, menemukan tongkat sihirku di saku belakang celana jeans Luke dan mencengkramnya dengan erat, "Oh syukurlah!" desahku.

Aku mengayunkan tongkat sihir untuk membersihkan bekas-bekas mandi; sisa air di bak mandi, tetesan shampoo di pinggiran bak, sabun bekas pakai dan segala hal yang menandakan bahwa seseorang pernah mandi di kamar mandi ini beberapa menit yang lalu. Kemudian dengan pakaian Luke di tanganku, aku segera ber-Disapparate ke kamar Dom dan Rose.

"Ada apa?" tanya Dom kaget melihatku muncul di hadapannya, sementara Rose muncul dari balik selimutnya untuk memandangku dengan bertanya.

Ya, siapa saja pasti kaget dan bertanya-tanya melihat seseorang muncul di hadapannya dengan handuk, rambut basah, tubuh bau sabun mandi dan pakaian cowok dalam gendongan.

"Dustin melihatku," kataku memberitahu mereka, dan segera menuju kamar mandi untuk memakai pakaian Luke.

"APA?" keduanya langsung tersentak.

Setelah berpakaian aku keluar lagi.

"Aku harus segera kembali," kataku, kemudian memandang mereka dengan pandangan penuh peringatan. "Dom, Rose, kalian harus berhati-hati... Dustin pasti mulai merasa curiga... Rose, aku minta ramuan Polijusnya!"

Rose tanpa banyak bicara, meraih tas manik-manik kecil di atas meja di samping tempat tidurnya dan segera mengeluarkan sebotol besar ramuan Polijus berwarna kuning cerah. Aku mengambil botol itu dari Rose dan segera meminumnya. Dalam sekejap, tubuhku memanjang ke atas, rambutku menyusup masuk ke dalam kepalaku, dan aku berubah menjadi Luke.

"Keringkan rambutmu dan hilangkan bau sabun dari tubuhmu sebelum pergi!" kata Dom.

Aku segera mengeringkan rambutku, menghilangkan bau shampoo dari rambutku dan bau sabun dari tubuhku dengan tongkat sihir.

"Aku pergi," kataku, kemudian berjalan keluar dan berlari dengan kecepatan tinggi menuju kamarku dan Dustin.

Di depan pintu, aku berhenti, mengatur nafas dan membuka pintu kamar. Kamar kosong saat aku masuk, tapi pintu kamar mandi terbuka dan Dustin sedang berjongkok di depan bak mandi, memandang bak itu dengan teliti.

"Hai, ada apa?" tanyaku, mendekatinya.

Dia mengangkat muka dan memandangku.

"Luke, apa yang terjadi? Kau dari mana?" tanya Dustin.

"Aku sedang berjalan-jalan di luar," jawabku. "Mengapa kau memeriksa bak itu?"

"Tadi ada orang di sini," katanya, sekarang memandang pancuran dengan penuh perhatian.

"Ada orang? Tidak mungkin!" kataku. "Kau pasti sedang bermimpi."

"Tidak... aku tidak bermimpi, aku yakin sekali itu bukan mimpi... tadi ada Lucy Weasley di sini."

"Lucy Weasley?" tanyaku, mengangkat alis. "Siapa dia?"

"Kau tidak mengenalnya?" tanya Dustin, meninggalkan pancuran dan memandangku, aku menjaga agar wajahku tetap netral. "Dia cewek aneh, anak Percy Weasley, pegawai Kementrian Sihir."

Cewek aneh?

"Aku masih tidak yakin kalau anak pegawai Kementrian Sihir bisa ada di sini," kataku.

Dustin mengalihkan perhatiannya pada toilet di pojok kamar mandi. Apakah dia mengira bahwa Lucy Weasley bersembunyi di leher angsa seperti Myrtle Merana?

"Handuk," kata Dustin, mengangkat muka dari kegiatannya berjongkok di sekitar toilet dan memandang gantungan handuk di dekat pintu.

"Handuk?" ulangku.

"Handukmu, Luke," kata Dustin, penuh kemenangan, berjalan mendekati gantungan handuk dan memeriksa handuknya yang digantung di sana. "Lucy Weasley memakai handukmu... Nah, aku benarkan? Lucy Weasley pernah ada di sini."

"Handukku ada," kataku cepat. "Aku menyimpannya di ransel."

Tidak ada ruginya punya handuk cadangan.

"Benarkah?" tanya Dustin, tidak mau menyerah.

"Ya," jawabku.

Dustin memandangku, mungkin sedang mempertimbangkan apakah aku berbohong atau tidak.

"Bisakah kita lupakan tentang Lucy Weasley?" tanyaku penuh harap, dan mengubah topik. "Kupikir kau sudah berangkat mengawasi Giorgio Vivaldi."

"Belum, nanti malam," katanya, lalu keluar kamar mandi dan aku mengikutinya.

Nanti malam? Sial, kami juga akan mengunti Giorgio Vivaldi nanti malam.

"Mengapa tidak sekarang saja?" tanyaku penuh harap, saat mengikuti Dustin berdiri di dekat jendela.

"Jangan tanya karena aku tidak akan mengatakannya padamu," katanya, kemudian menatap keluar jendela.

Aku mendelik padanya selama beberapa saat, tapi dia tidak menghiraukanku. Menyerah, aku segera berjalan ke tempat tidurnya dan membereskannya.

"Aku ingin bicara denganmu," katanya, berbalik dan memandangku.

Nah, apa lagi ini?

"Apa?" tanyaku, mendelik padanya sesaat, kemudian kembali pada kegiatanku menepuk bantalnya dan meletakkannya di bagian atas tempat tidur.

"Aku sudah membuat peraturan baru," katanya, saat aku mendekatinya di dekat jendela. "Kau tidak boleh pergi ke mana pun tanpa memberitahuku."

"Peraturan nomor berapa itu?" tanyaku menyindir.

"Terserah kau mau menyebutnya peraturan nomor berapa," katanya.

"Peraturan yang tidak akan kupatuhi... Ini kan negera bebas, kau tidak bisa seenaknya memutuskan bahwa aku harus melapor padamu kalau aku ingin bepergian."

"Aku cemas, oke," katanya, memandangku dengan cemas.

"Kau cemas apa? Aku kan cuma berpergian di sekitar sini dan tidak merusak penyelidikanmu."

"Aku bukan cemas karena itu, aku cemas akan apa yang terjadi denganmu," kata Dustin tampak stress. "Aku bangun dan kau sudah tidak ada di tempat tidur... aku mencarimu di bawah dan di sekitar hotel dan kau tidak ada..."

"Oh," kataku, menatapnya sesaat. "Maafkan aku..."

"Mengapa kau minta maaf?"

"Karena aku membuatmu cemas..."

"Bagus kalau kau menyadarinya, sekarang berjanjilah jangan pergi ke mana-mana tanpa memberitahuku."

"Baik..."

"Nah sekarang, telepon layanan kamar, aku lapar!" kata Dustin dengan gaya juragan menyuruh jongosnya.

Mendengus, aku segera menuju telepon, benda yang membuat kubingung pada awalnya, tapi terbiasa pada akhirnya.

"Cowok Lentik—"

"Apa?" gertakku.

"Jangan lupa, bilang pada mereka untuk menaruh krim pada kopiku!" katanya.

"Iya..." kataku sebal, kemudian mulai menekan nomor layanan kamar.

Diary, itulah yang kulakukan selama dua minggu ini, tak ada kegiatan yang berguna, tapi malam ini adalah giliran sepupu-sepupuku dan aku untuk beraksi.

Sincerely,

Lucy Weasley.


Keterangan:

Grand Canal: selokan besar dan luas di Venesia.

Gondola: perahu orang Venesia.

Keterangan bahasa Italia:

Mi scusi: permisi/maaf

Coa Succede?: ada apa denganmu?

Posso aiutarla: bisakah saya membantumu

Vuoi venire con me: mau pergi denganku?

È con me: dia bersamaku

Keterangan bahasa Korea:

Morûgessûmnida: saya tidak mengerti.

Yongsôhae chupshipshio: maafkan saya.

Puthak chom tûrigessûmnida: bolehkah saya bertanya sesuatu.

Mullonimnida: tentu saja.

Caffè Florienûn ôdi issumnika: Di manakah Caffè Florien?

Taedanhi komapsûmnida: terima kasih banyak.

Chônmaneyo: sama-sama.


REVIEW PLEASE! See you in KNG 4 ch 4

Riwa Rambu :D