Terima kasih sudah me-review KNG 4 chapter 3; Nafau Chance, Putri, qeqey, ochan malfoy, atacchan, Vallerina Lovegood, SeiraAiren, zean's malfoy, CN Bluetory, DarkBlueSong, megu takuma, Rise, Guest, Yosephineee, bluish3107 :D

Ttg bhs Korea: Ne adlh bhs Korea yg sgt sopan (formal), jarang dipakai dlm bhs prcakapan biasa, kecuali utk org yg lbih tua, ato u/ bisnis. Nah, mgkin sj si Mggle mw brskp sopan krn bicara dg org asing, jd dy memkai bhs formal pd Dustin:D Ttg fanfic ini: q tdk akan menelantarkan fic ini, q akan brusaha menulisnya smpai KNG Hugo. Jd review, ya, biarku tetap semangat:D Btw, fic Kisah Draco dan Ginny bkn ditrlantarkan, q akan melanjutkannya stelah KNG :D Ttg catatan Dustin: tentu sj dy tdk tau klo catatanx hilang, Lucy kan cm ambil kopianx, yg asli tetap ada di ranselx (bc ch 3):D Ttg typo: q kan cek-cek lg :D

Selamat membaca KNG 4 chapter 4 dan review (apa saja), ya!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 4

Tanggal: Kamis, 14 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri.

Waktu: 7.15 pm

Dear Diary,

Aku sedang berbaring santai di tempat tidur dengan bantal guling di bawah leherku dan menatap Dustin yang tampak sedang kesulitan mengikat dasi di leher kemejanya. Aku tertawa saat dia salah mengikatnya untuk ketiga kalinya.

"Bisakah kau berhenti tertawa dan membantuku mengikat dasi?" Dustin mendelik padaku.

Aku segera beranjak dari tempat tidur dan segera mendekatinya.

"Angkat kepalamu!" perintahku, dan aku segera mengikat dasinya dengan benar.

"Cepat sedikit, nanti aku terlambat!" kata Dustin tak sabar.

"Sabar," kataku, dan mendesah saat selesai mengikat dasinya. Aku mundur dan mengamatinya. "Sudah benar, dan kau tampak sangat tampan..."

"Jangan memandangku seperti itu," kata Dustin, lalu mengalihkan pandangannya ke cermin.

"Kau akan membuat semua cewek terpesona," kataku lagi, memandangnya dengan terpesona.

"Aku memang harus berpenampilan menarik, aku akan pergi tempat yang mahal," katanya tak peduli, menyemprot minyak wangi mahal beraroma segar, entah apa, ke leher dan tangannya.

"Kau mau pergi ke mana?" tanyaku, kembali berbaring di tempat tidurku.

"Aku tidak akan mengatakannya padamu," katanya, kemudian mengambil dompetnya dan tongkat sihirnya di atas meja. "Aku berangkat sekarang... dan kau," dia menunjukku, "tidak boleh ke mana-mana, tunggu di sini!"

"Oke, Boss," kataku, tersenyum meyakinkan. "Hati-hati!"

Dustin mendelik padaku, lalu keluar kamar. Aku menunggu selama sepuluh menit, siapa tahu Dustin kembali karena kelupaan sesuatu, misalnya sapu tangan, permen mint, atau bisa saja dia lupa sikat gigi. Sepuluh menit berlalu dan Dustin tidak kembali. Aku bergerak secepat kilat mengunci kamar dan segera ber-Apparate di kamar Dom dan Rose.

"Wow!" kataku, terpesona menatap Dom dan Rose yang tampak cantik dengan gaun malam yang indah.

Dom mengenakan gaun malam berwarna merah tanpa lengan yang panjangnya sampai ke bawah betisnya. Leher gaun itu berbentuk V dengan bawahan yang lebar dan berenda. Sepatunya juga berwarna merah dengan tumit tinggi, yang mungkin lebih tinggi dari sepatu Zabini. Sementara Rose mengenakan pakaian aneh berwarna hitam yang tampaknya terbuat dari sutra. Atasannya adalah sepotong kain yang terbuka di bagian kiri; dari pundak sampai ke dada, sementara bagian kanannya tanpa lengan. Atasan itu tidak menutupi bagian perut Rose, sehingga perut Rose yang rata dan putih terbuka. Bawahannya adalah rok aneh seperti bekas cakaran binatang buas, tapi cabikan rok ini tampak sangat artistik; setiap cabikan terbelah dari paha dan meruncing di bagian bawahnya sampai ke lututnya.

"Apa yang kau kenakan?" tanyaku, memandang pakaian Rose.

"Bagus, kan?" tanya Rose, lalu berdiri memutar di depan cermin.

"Uncle Ron akan membunuhmu kalau dia melihatmu memakai pakaian yang terbuka di bagian perut dan punggung sekaligus," kataku, duduk di tempat tidur Dom.

"Dad tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahunya," Rose mendelik padaku dari cermin, kemudian menyentuh rambutnya sambil berpikir, kelihatan bingung. "Apa yang harus kulakukan pada rambutku, Dom?" dia memandang Dom yang sedang mengenakan eye shadow di sebelahnya.

"Memangnya mengapa dengan rambutmu? Kurasa sudah bagus," kataku memandang rambut merah ikal Rose, yang jatuh dengan lembut di punggungnya dan hampir mencapai pinggulnya.

"Kita kan harus menyamar, jadi kita harus mengubah warna rambut," kata Rose tak sabar.

"Kalian kan tidak perlu menyamar karena—"

"Lucy, kita semua harus menyamar," kata Dom, memberikan sentuhan terakhir pada matanya, meletakkan kotak make-up dan memperhatikan rambut Rose dengan seksama. "Bagaimana kalau pirang?"

"Tidak, aku tidak suka rambut pirang... hitam saja," kata Rose, sementara Dom melangkah mendekatinya.

"Tapi mengapa kita semua harus menyamar?" tanyaku, memandang Dom yang sedang mengubah rambut Rose menjadi hitam dalam sekejap dengan tongkat sihirnya.

"Karena Dustin sudah melihatmu," kata Rose, mengamati rambut hitamnya di cermin. "Kita tidak ingin dia juga melihat Dominique Weasley, Rose Weasley dan Albus Potter di Italia."

Aku mengalihkan pandanganku pada Dom, yang sekarang sedang memantrai rambutnya sendiri menjadi hitam dan efeknya langsung mencengangkan, membuatnya terlihat sangat ngejreng dengan gaun merah menyalanya.

"Apakah gaunmu tidak terlalu mencolok?" tanyaku.

"Kurasa kau betul," kata Dom, memandang gaun merahnya, kemudian memantrai gaun itu menjadi pink lembut yang tidak mencolok.

"Bagaimana?" dia memandangku.

"Lebih baik," jawabku. "Sepatunya juga."

Dom mengangguk singkat dan memantrai sepatunya menjadi pink, sama dengan gaunnya.

"Lucy, apa yang kau lakukan?" tanya Rose, dia sudah selesai menyisir rambutnya yang tergerai rapi dan indah di belakang punggungnya. "Kau tidak berganti pakaian?"

"Aku begini saja," kataku, memandang kaos biru dan celana jeansku yang robek-robek di bagian lutut.

"Tidak," kata Dom, memandangku tajam. "Kita bukannya pergi ke Hog's Head jadi kau bisa berpakaian begitu... kita akan ke bar sebuah hotel mewah, dan kau tidak akan diijinkan masuk jika berpakaian seperti itu."

"Kami sudah menyiapkan pakaian untukmu, Lucy," kata Rose, memasukkan tangannya ke tas manik-manik kecilnya, menarik keluar sebuah gaun putih lembut dari sutra dan melemparkannya padaku.

"Aku pakai gaun?" tanyaku heran, menangkap gaun yang dilemparkan Rose.

"Kau tidak meminum ramuan Polijus sejam yang lalu, kan?" tanya Dom.

"Tidak, karena aku tahu Dustin akan pergi, jadi—"

"Bagus," sela Dom segera. "Sebentar lagi kau akan menjadi dirimu sendiri, kau harus segera berganti pakaian dan aku akan membereskan rambutmu nanti."

"Er, tapi—"

"Lucy, jangan banyak bicara," kata Rose, menarikku berdiri, mendorongku ke kamar mandi dan membanting pintu di belakangku.

Di kamar mandi, aku memandang gaun itu. Gaun ini sangat halus dan cantik, mirip dengan gaun yang dikenakan Dom, tapi tanpa renda, dengan potongan rata di atas lutut. Setelah kembali menjadi diriku sendiri beberapa menit kemudian, aku segera mengenakan gaun itu dan merasa bahwa gaun ini sangat ketat membalut tubuhku. Aku juga merasa sangat aneh karena sepatuku adalah sepatu olahraga.

"Lucy?" Dom mengetuk pintu.

Aku segera membuka pintu dan memandang Dom.

"Bagus, sangat cantik," kata Dom, menarikku ke depan cermin. "Nah sekarang kita akan mengubah warna rambutnya."

"Hitam saja," kata Rose, mengawasiku dari tempatnya berdiri, di dekat cermin.

Dom segera mengubah rambutku menjadi hitam dan aku merasa agak tercengang saat memandang bayanganku di cermin.

"Ini, Dom," kata Rose, menyerahkan kotak peralatan make-up pada Dom.

"Nah, aku akan meriasmu sekarang, tutup mata!" kata Dom.

Aku memejamkan mata, membiarkan Dom memoles wajahku dengan make up-nya; bedak, eye shadow, blush on, lipstick. Dan, aku membuka mata beberapa saat setelah tangan Dom meninggalkanku. Tercengang dan agak tersentak, itulah perasaanku saat melihat bayanganku di cermin. Sekarang aku bukan lagi Lucy Weasley, tapi seorang cewek cantik dengan bibir merah delima, pipi merona merah (sebenarnya tidak perlu karena aku cepat sekali merona merah), dan mata yang tampak bulat dan indah dengan rambut hitam ikal jatuh manis di pundakku.

"Wow, bagaimana kau melakukannya?" tanyaku, memandang Dom dari cermin.

"Make-up bisa mengubah preman Lucy menjadi si Penggoda Lucy," kata Dom tersenyum padaku.

"Tetapi apakah aku tidak terlalu mencolok, maksudku dengan gaun putih dan—"

"Tidak, Lucy," kata Dom. "Kau akan melihat banyak Muggle perempuan yang lebih mencolok saat tiba di bar nanti."

"Siap berangkat?" tanya Rose, yang sudah berdiri dengan tas manik-manik siap di tangan.

"Aku tidak bisa pergi dengan sepatu ini," kataku, memandang sepatu olahragaku.

"Ya ampun, Lucy, maaf!" kata Rose cepat dan mengeluarkan sebuah sepatu putih bertumit sepuluh senti dari dalam tas manik-maniknya.

"Cepat pakai!" kata Dom dan aku segera memakainya.

Kami berjalan keluar kamar dan bertemu Al di koridor yang untung saja sepi—tamu hotel yang lain tampaknya sudah keluar untuk makan malam. Al bersandar pada pintu kamarnya dan tampak sangat tampan dengan setelan jas hitam Muggle, dasi hijau dan sepatu yang hitam mengkilat.

"Aku sudah bertanya-tanya mengapa kalian belum muncul juga, dan apa yang kau kenakan itu, Rose?" dia bertanya, memandang gaun Rose dengan aneh.

"Ini adalah hasil rancanganku sendiri," jawab Rose, mendelik pada Al. "Dan kalau ada lagi yang mengomentari gaun ini, aku akan membuangnya ke tempat sampah."

"Al, kita harus menyamarkan dirimu juga," kata Dom, "Kau ingin rambut warna apa?"

"Merah..." kata Al cepat. "Sesekali aku ingin punya warna rambut seperti Mom."

Dom mengayunkan tongkat sihirnya dan mengubah warna rambut Al menjadi merah. Kelihatannya agak aneh, namun Al tetap terlihat tampan.

"Nah, kita semua sudah menyamar," kata Rose tersenyum. "Dan aku yakin, walaupun kita bertemu Dustin di sana, dia tidak akan mengenal kita di antara banyak orang."

"Ayo kita berangkat," kata Dom. "Semuanya pegang tanganku, kita akan ber-Disapparate."

"Kau tidak bisa melakukannya, Dom," kataku, menggeleng. "Hotel itu merupakan area penuh Muggle dan kita akan menyebabkan kehebohan besar kalau kita muncul di tengah-tengah mereka."

"Aku sudah melihat hotel itu, Lucy, dan aku tahu tempat aman untuk ber-Apparate," kata Dom. "Semua berpegangan."

Aku segera memegang lengan Dom, memejamkan mata dan merasakan sensasi ber-Apparate; seperti tersedot dengan paksa ke dalam pipa sempit.


Tanggal: Kamis, 14 Juli 2020

Lokasi: Hotel San Clemente Palace.

Waktu: 7.38 pm

Hotel San Clemente Palace adalah hotel yang terletak di sebuah pulau tersendiri, hanya sepuluh menit dari kota Venesia jika menggunakan perahu motor. Seluruh pulau itu adalah wilayah milik hotel itu. Di dekat bangunan utama hotel itu, kita dapat menemukan bar, restoran dan taman buatan, sedangkan di bagian belakang hotel kita bisa menemukan kolam renang dan fasilitas olahraga lainnya, seperti tempat fitness, lapangan tenis, dan segala macam yang menunjang kenyamanan tamu yang menginap.

Kami ber-Apparate di sudut gelap taman di sebelah kiri jalan masuk menuju hotel. Di taman itu ada gazebo kecil tempat para tamu bisa duduk memandang tanaman hijau, bunga-bunga dan lagoon (perairan air asin yang terpisah dari lautan luas) di depan mata. Kami duduk di gazebo selama beberapa saat sambil memandang tamu-tamu hotel yang baru saja turun dari perahu motor dan bus air di dermaga di dekat jalan masuk menuju hotel; ada yang langsung masuk ke hotel, ada yang masih berjalan-jalan di sekitar dermaga, dan ada juga yang berjalan ke taman di sebelah kanan jalan masuk menuju hotel.

"Apa rencana kita?" tanya Al, memandang sepasang Muggle yang lewat di depan gazebo, mungkin menuju sudut gelap taman.

"Kita masuk dan memesan makan malam," kata Dom. "Usahakan jangan terlalu mencolok..."

"Ya,tapi kita juga harus memastikan bahwa target kita ada di dalam bar itu," kata Rose. "Siapa namanya?"

"Giorgio Vivaldi," jawabku.

"Ya, Giorgio Vivaldi," ulang Rose.

"Begini saja," kata Al, memandang kami. "Lucy dan Aku masuk dulu dengan Jubah Gaib untuk memastikan Vivaldi ada di dalam, setelah itu kita akan masuk bersama."

"Mengapa harus Lucy, kau kan bisa pergi sendiri, Al?" tanya Rose.

"Aku kan tidak mengenal Vivaldi, Rose... bagaimana aku bisa tahu siapa yang harus kucari."

"Kurasa itu ide bagus, Al," kata Dom. "Lucy, bagaimana menurutmu?"

"Aku sejutu."

Rose segera mengeluarkan Jubah Gaib dari tas manik-maniknya dan memberikannya pada Al.

"Jangan pakai di sini," bisiknya, memandang Muggle beruban yang sedang lewat di depan kami. "Di sana!" dia mengangguk ke arah sudut gelap taman yang tidak terkena cahaya dari gazebo.

Al dan aku berjalan menuju sudut gelap taman dan memakai Jubah Gaib. Setelah itu, dengan langkah perlahan, kami menyusuri taman dan berjalan di jalan utama yang menuju hotel, berusaha untuk tidak menyenggol para tamu hotel yang lalu lalang di dekat kami.

"Kurasa kita harus ikut taman sebelah kanan, Lucy, barnya ada di sebelah kanan hotel, jadi kita tidak perlu memutar di depan hotel," bisik Al perlahan.

"Ya," bisikku, meskipun tidak yakin, karena aku baru saja hampir menginjak kaki seorang anak Muggle yang lewat sangat dekat denganku.

Mengapa juga kami harus memakai Jubah Gaib sekarang kalau kami harus melewati taman di sebelah kanan jalan utama? Al tidak membiarkanku berpikir lama-lama, karena dia sudah mencengkram lenganku dan membawaku menyebrang jalan utama hotel; menghindari pasangan gay yang berjalan sambil berpelukan dan dua orang asing yang sedang berbicara dengan bahasa aneh, kemudian masuk ke taman di sebelah kanan jalan utama. Taman ini sama dengan taman di sebelah kiri jalan utama, tapi tanpa gazebo. Sebagai ganti gazebo, ada bangku-bangku taman dari besi yang diletakkan di dekat lampu-lampu taman yang berbentuk bola.

Kami sudah akan keluar taman dan hendak menyusuri jalan kecil yang menuju ke bar saat kami mendengar suara isakan.

"Seseorang menangis," bisik Al.

Walaupun Al tidak mengatakannya, aku tahu itu adalah suara tangisan seseorang, atau suara hantu—aku belum bilang padamu, Diary, Dustin pernah mengatakan bahwa ada banyak sekali cerita hantu yang berhubungan dengan hotel-hotel di Venesia ini, dan dia juga pernah menceritakan salah satu dari cerita hantu itu padaku, tapi aku tidak akan menceritakannya di sini karena sangat menyeramkan. Nah, bisa saja suara ini adalah suara salah satu hantu hotel.

"Kita harus mengeceknya," kata Al, sepupuku yang sangat baik hati dan belum pernah mendengar bahwa hantu-hantu Muggle lebih menyeramkan dari hantu-hantu penyihir.

Al membawaku berjalan menuju sumber suara, yang letaknya tak jauh dari tempat kami berdiri. Setelah melewati pohon bonsai yang dibentuk agak mirip piala, aku melihat seorang cewek bergaun biru muda dengan rambut merah gelap yang digulung dengan indah di atas kepalanya, sedang merangkak di rerumputan, sementara sepatu hak tinggi warna birunya tergeletak tak jauh darinya. Kelihatannya dia sedang mencari-cari sesuatu di bawah lampu taman.

Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku tahu bahwa cewek ini sedang menangis karena sesekali terdengar isakan dan beberapa kali tangannya bergerak ke arah wajahnya.

"Dia sedang mencari apa?" tanya Al, memandangku.

"Entahlah," bisikku.

Kemudian cewek itu memutar tubuhnya dan sekarang kami bisa melihat wajahnya. Dia adalah sepupu Zabini; riasan wajahnya yang cantik telah rusak oleh airmata dan gulungan rambutnya yang indah telah berjatuhan di sekitar wajahnya. Walaupun begitu, dia tetap cantik, bahkan terlihat lebih manusiawi dengan airmata, daripada gayanya yang biasa saat di Hogwarts.

"Mana bodygurad-bodyguard-nya?" tanyaku, baru saja menyadari bahwa dia sendirian.

"Bodyguard?" tanya Al, mengalihkan pandangannya dari Zabini yang merangkak di rumput dan memandangku.

"Aku belum bilang pada kalian, sebenarnya Malfoy dan sepupunya Zabini ada di Venesia juga, mereka datang bersama bodyguard untuk mewakili perusahaan ayah mereka."

"Oh," kata Al, memandang Zabini lagi.

Kami memandangnya selama beberapa saat, kemudian Al berkata,

"Tunggu di sini, Lucy, aku akan membantunya mencari apa pun itu dan—"

"Jangan, Al, ingat kita tidak boleh terlihat, apa lagi oleh Zabini," kataku mencegah.

"Meskipun dia menyebalkan, aku tidak tega melihatnya menangis mencari-cari sesuatu seperti itu di sana... Aku harus membantunya," kata Al.

Aku memandang Zabini dan merasa kasihan, Zabini memang terlihat menyedihkan. Apa pun yang sedang dicarinya pastilah sangat penting. Dia tidak mungkin merangkak di sana kalau barang itu tidak penting.

Sebelum aku mengucapkan sesuatu, Al sudah keluar dari Jubah Gaib dan berjalan menuju Zabini.

"Kau mencari apa?" tanya Al, berjongkok di dekat Zabini.

"Aku harus menemukannya... Aku harus menemukannya," kata Zabini tanpa mengangkat wajah, melainkan terus mencari di antara rerumputan. "Aku—aku menjatuhkannya di sekitar sini dan—" dia tersedak, dan cepat-cepat menghapus airmatanya. "A-aku tidak menemukannya l-lagi—"

Al memandang Zabini sesaat, kemudian berlutut di di dekat Zabini dan mulai meraba-raba rumput mencari entah apa yang harus dicari. Dia merangkak sambil meraba-raba rumput menuju ke arahku dan aku segera mendekatinya.

"Dia mencari apa?" bisikku pelan.

"Entahlah, tapi aku harus membantunya, kan?" balas Al, berbisik sangat pelan.

Setelah beberapa menit merangkak dan mencari-cari di rerumputan, akhirnya Al menarik sesuatu dari rumpun bunga rhodensia di bawah lampu taman.

"Aku menemukannya," dia menggenggam sebuah liontin, berantai emas dengan loket berisi foto mengayun-ayun dengan liar, seperti rantai hipnotis, di ujungnya.

"Kau menemukannya," kata Zabini, merangkak di rumput menuju Al dan segera mengambil liontin itu dari tangannya.

Al melepas pegangannya pada liontin itu sementara Zabini memeriksa liontin itu sesaat, meletakkannya di depan dadanya, menunduk dan menangis lagi; memejamkan mata, membiarkan airmatanya lewat begitu saja ke pipi dan dagunya, sementara bahunya terguncang menahan isakan.

Al tampak tercengang dan bingung.

"Benda ini sangat berarti bagi," kata Zabini, di antara isak tangisnya. "Ini kenang-kenangan dari seseorang untukku."

"Yah, sekarang kan kau sudah menemukannya, jadi berhentilah menangis," kata Al.

Zabini mengangguk dan menghapus airmatanya. Dia mengangkat muka dan tercengang memandang Al.

"Potter," katanya terkejut dan langsung berdiri, rupanya dari tadi dia tidak menyadari bahwa Al yang membantunya mencari liontin.

"Yah," kata Al, juga berdiri.

"Apa yang kau lakukan pada rambutmu?" tanya Zabini, kemudian memutuskan bahwa tak ada gunanya bertanya, dia melanjutkan, "—oh aku tak peduli, tapi apa yang kau lakukan di sini?"

"Memangnya hanya kau yang bisa keluar masuk hotel mewah?" tanya Al.

Zabini memandangnya sesaat. Dan mungkin setelah memutuskan bahwa tak ada gunanya berdebat, dia menggelengkan kepala, melangkah hendak pergi meninggalkan taman. Tetapi Al menyambar lengannya dan menahannya tetap di tempat.

"Apa?" tanya Zabini, memandang Al.

Al memandang Zabini kira-kira tujuh detik (aku menghitungnya karena merasa aneh), kemudian setelah bingung sesaat dia berkata, "Ingat cuci muka, wajahmu mengerikan... dan ada rumput di rambutmu."

"Terima kasih sudah memberitahuku, Potter!" katanya, menyentakkan tangannya, memungut sepatunya dan berjalan pergi meninggalkan Al yang tampak lebih bingung dari sebelumnya.

"Ingat cuci muka, wajahmu mengerikan," ulangku, tertawa kecil sambil menyelubungi Al dengan Jubah Gaib.

"Oh, diamlah!" kata Al cemberut.

"Berhenti cemberut, Sepupu, kita punya tugas, kan?"

"Benar..." kata Al, menganggukkan kepala dengan yakin.

Kami berjalan lagi, menyusuri jalan kecil yang menuju ke bar dan masuk, bersamaan dengan empat orang Muggle yang juga masuk ke bar itu. Bar itu sama dengan bar Hog's Head, namun lebih luas, mewah, besar dan tentu saja lebih bersih. Lantainya dilapisi karpet merah berbulu yang indah, sebuah lampu gantung dari kaca yang dirangkai dengan artistik tergantung di langit-langit, di mana-mana terdapat meja bulat berpenutup kain warna krem yang cantik dan kursi-kursinya berukir. Bar terletak di ujung ruangan dengan lemari minuman keras yang mewah dan menjulang tinggi mendekati langit-langit. Di ujung lain ruangan, tampak sebuah panggung mewah berkarpet biru dengan pemain-pemain musik yang berdasi dan seorang penyanyi perempuan bergaun merah terbuka di bagian dada yang menampilkan sebagian payudaranya.

"Wow," kata Al, terpesona memandang si penyanyi.

"Anak berumur empat belas tahun seharusnya dilarang masuk ke sini," kataku, menyeretnya agak merapat ke tembok agar orang-orang tidak menambrak kami.

Dom memang benar tentang pakaian Muggle-Muggle yang datang ke tempat ini. Semuanya berpakaian indah dengan merek yang kelihatan jelas sekali; Muggle pria memakai jas Armani dan Versace, sementara para wanita memakai Gucci, Chanel dan Dior. Semua tampak begitu mewah, kelas atas dan elegan.

"Oke, mana Vivaldi?" tanya Al, dan aku mengalihkan pandanganku dari pakaian-pakaian maha indah para Muggle, memandang berkeliling mencari Vivaldi. Lalu, menemukan Vivaldi dalam setelan jas hijau gelap sedang duduk sendirian di sebuah meja sambil menikmati hidangan seafood yang tampaknya lezat.

"Itu Vivaldi dua meja dari depan, di sebelah kiri," kataku, menyenggol Al.

"Kalau begitu kita keluar sekarang untuk memanggil yang lain," kata Al.

Kami bergegas ke pintu dan keluar bersamaan dengan dua orang Muggle yang hendak keluar. Melewati jalan setepak, kami bertemu Dom dan Rose sedang duduk di bangku taman yang sepi.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyaku, melepaskan Jubah Gaib, ketika melihat bahwa tidak ada yang memperhatikan kami. "Bukankah kalian di gazebo?"

"Dustin dan seorang cewek Muggle baru saja turun dari gandola," kata Dom, setelah aku menyerahkan Jubah Gaib pada Rose dan duduk di samping mereka, sementara Al berdiri di dekat kami.

"Dan rasanya aku pernah melihat cewek itu," kata Rose dengan pikiran menerawang sesaat, kemudian memasukkan Jubah Gaib ke dalam tas manik-maniknya.

"Pantas saja dia berdandan dengan sangat tampan tadi, rupanya dia ingin bertemu cewek," kataku sebal.

"Tak usah pedulikan itu, lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Al.

"Kita tetap akan masuk," kata Dom. "Aku harus melihat si Vivaldi ini."

"Benar, kurasa Dustin tidak mungkin mengenal kita," kata Rose, berdiri, mengatur rok dan rambutnya. "Dia kan belum pernah memperhatikan kita dari dekat, dia mungkin tidak akan mengenal kita kalau kita ber-make up dan dengan warna rambut berbeda."

Lalu, kami berjalan santai memasuki bar, memilih tempat duduk yang jauh dari Vivaldi, tapi kami bisa mengamatinya dari tempat duduk kami.

"Itu Dustin dan cewek Muggle-nya," kata Rose, mengangguk pada pasangan yang duduk semeja di depan Vivaldi, sementara Dom memesan hidangan seafood dan anggur pada pelayan yang berbahasa Inggris dengan bagus.

Dan itu memang Dustin dengan dasi yang telah kuikatkan untukku dalam setelan jas biru gelap yang sempurna. Dia tampak sangat tampan dan cocok sekali dengan si cewek Muggle yang memakai gaun biru yang seksi. Mereka saling tersenyum satu sama lain dan berpegangan tangan di dekat vas bunga. Yah, mereka adalah pasangan yang serasi! Dan Dustin juga tampaknya lebih gembira dari pada saat bersamaku, aku kan hanya merepotkannya saja.

"Dia cewek di bandara waktu itu," kata Rose tiba-tiba,

"Cewek apa?" tanyaku, mengalihkan pandanganku dari Dustin yang sedang tertawa untuk memandang Rose.

"Cewek Muggle yang berbicara denganmu di bandara Heathrow, Lucy," kata Rose.

"Sara," kataku, memalingkan kepala dan memperhatikan cewek yang sekarang sedang menyuapi Dustin dengan sendok salad.

Dia memang Sara, meskipun terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

"Itu namanya?" tanya Rose.

"Yah, namanya Sara, dia memang berencana datang ke Venesia, setelah dari Roma dan Milan," kataku, tanpa mengalihkan pandangan.

Dasar Dustin, kok bisa-bisanya dia sudah berkencan dengan Sara! Dia kan tidak mengenal Sara, dia tidak tahu bagaimana Sara sebenarnya.

"Ada yang cemburu," kata Dom pelan.

Rose dan Al segera memandangku, sementara Dom tersenyum penuh pengertian.

"Apa?" tanyaku mendelik pada Rose dan Al.

"Kau tidak menyadari bahwa Dom mengatakan bahwa kau cemburu?" tanya Rose tak percaya.

"Aku cemburu?" ulangku, untung saja tidak menjerit karena sekarang si pelayan Muggle telah datang mengantar anggur dan hidangan seafood di meja kami.

"Kau cemburu melihat Dustin bersama cewek Muggle itu—Sara," kata Rose, setelah di pelayan pergi.

"Aku tidak cemburu... Buat apa aku cemburu?" tanyaku, menusuk lobster di depanku dengan tak sabar.

"Kau cemburu, Lucy," kata Dom. "Kau marah karena Dustin bersama cewek itu, kau merasa bahwa cewek itu sangat tidak cocok dengannya. Kau juga jengkel karena Dustin cepat sekali tergoda pada cewek itu."

Aku memandang Dom, tercengang.

"Bagaimana kau tahu bahwa itu adalah perasaanku sekarang?"

"Aku tahu... Nah, perasaan-perasaan seperti itu namanya cemburu," kata Dom, memandangku seolah sedang memandang anak kecil berumur tujuh tahun yang sedang bertanya padanya bagaimana cara memantrai sapu agar bisa terbang.

"Tetapi mengapa aku harus cemburu?" tanyaku heran. "Dia kan bebas berkencan dengan siapa saja yang disukainya."

"Memang," kata Dom tak sabar. " Tetapi kau menyukainya karena itu kau cemburu, kau ingin dia hanya bersama denganmu saja."

Aku memandang Dustin sekarang, dia dan si cewek Muggle sedang bertatapan dengan penuh nafsu di atas hidangan makan malam mereka. Oh, bagus sekali, Dustin, bawa saja dia ke kamar kita dan aku akan bersedia mengungsi? Begitu?

"Mungkin saja," kataku, mendelik pada Dustin. "Aku pernah bilang padanya bahwa aku menyukainya."

"Apa?" Dom tersedak anggurnya dan Rose segera menepuk punggungnya. "Kau bilang pada Dustin kalau kau menyukainya? Lalu apa— apa kata Dustin?"

"Dia tanya apakah aku ingin menciumnya?"

"Lalu kau bilang apa?" tanya Dom cepat.

"Aku bilang aku tidak ingin menciumnya dan dia bilang bahwa aku sebenarnya tidak menyukainya."

Dom menatapku dengan pandangan heran bercampur kasihan.

"Lucy, kau ini bodoh sekali, ya?"

"Apa?" aku memandangnya jengkel.

"Lucy, kau memang tidak menyukainya, tapi kau jatuh cinta padanya?" kata Dom dengan pikiran menerawang.

"Apa?" sekarang aku yang tersedak anggur.

"Kau memang jatuh cinta padanya karena itu kau merasa bahwa ciuman sama sekali tidak penting selama dia ada di dekatmu, selama dia bisa tersenyum padamu... Kau tidak peduli pada apa pun yang dikatakannya selama dia masih berbicara padamu, kau merasa bahagia hanya mendengar suaranya... Kau bisa melakukan apa saja untuk membuatnya nyaman dan senang... Dan, kau akan menunggunya setiap malam hanya untuk memastikan bahwa dia masih bisa bicara padamu keesokan harinya. Begitulah yang aku rasakan pada Terry, dan kalau kau jatuh cinta pada seseorang ciuman sama sekali tidak penting selama dia ada di dekatmu," kata Dom, mengakhiri pidatonya dengan pandangan sendu.

"Benarkah?" aku melongo menatap Dom dan masih sedikit kebingungan.

"Kau tidak boleh jatuh cinta padanya, Lucy, karena kau akan ada dalam masalah besar," kata Rose. "Kau adalah Luke, ingat? dan Luke tidak jatuh cinta."

Aku memandang Dustin lagi dan ingat pada semua yang telah dia lakukan padaku. Dia juga menganggapku bodoh

"Tidak, aku tidak jatuh cinta padanya," kataku, menggeleng. "kau tidak mungkin jatuh cinta pada orang yang sering marah-marah padamu, kan?"

Dom mengangkat bahu, Rose menggelengkan kepada dan Al hanya memandang kami bergantian.

"Target kita bergerak," bisik Al pelan.

"Sabar," kata Rose, "tetap bersikap seperti biasa jangan bergerak dulu."

Vivaldi meninggalkan mejanya, sementara Dustin dan Sara sudah berpegangan tangan lagi di dekat mangkuk salad. Sepuluh detik kemudian, Dustin memanggil pelayan yang lewat dan membayar tagihan. Aku mendengus, dia rela membayar makanan mahal untuk Sara, sementara dia tidak pernah membagi keripik kentangnya denganku.

Dustin dan Sara meninggalkan meja. Dom segera memanggil pelayan, meminta tagihan dan Rose segera membayar tagihan. Kami berdiri, keluar bar, celingukan mencari Vivaldi dan Dustin sebentar, kemudian segera menuju taman di depan.

"Lucy, Rose, pakai Jubah Gaib dan cari Vivaldi di sekitar taman di sebelah kiri jalan utama dan di dermaga, biar Al dan aku mencari di dalam hotel," kata Dom, setelah kami tiba di dalam taman yang sepi.

Aku mengangguk, sementara Rose segera mengeluarkan Jubah Gaib dari tas manik-maniknya. Kami memakai Jubah Gaib dan menyusuri jalan bersemen menuju dermaga. Banyak Muggle yang sedang berkeliaran di sekitar dermaga; ada yang menunggu gandola, ada yang hanya sekedar berdiri sambil menghirup udara laut yang dingin; ada yang hanya berjalan-jalan saja; dan bahkan ada yang berciuman. Aku tersentak memandang pasangan yang sedang berciuman ini, mereka adalah Dustin dan Sara. Saling berpagutan seolah tidak ada hari esok, berangkulan seolah dunia adalah milik berdua.

Rose menyeretku agak ke pinggir dekat lampu jalan dan berkata dengan kasar,

"Hapus airmatamu!"

"Apa?" aku meraba pipiku dan menyadari bahwa aku memang sedang menangis.

Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku menangis. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku sekarang, Diary, karena rasanya begitu menyakitkan dan menyengsarakannya. Seperti perasaan yang kau alami saat Dementor berada sangat dekat denganmu, perasaan bahwa kau tidak akan pernah bahagia lagi selamanya.

"Hentikan, Lucy, Weasley harus tegar," kata Rose lagi.

"Ya, Weasley harus tegar," ulangku, mengerjap, menarik nafas perlahan dan memandang Dustin dan Sara yang sudah tidak berciuman lagi.

Dustin sekarang sedang melambai pada Sara, ketika Sara turun ke dalam sebuah gondola yang diparkir di dekat dermaga. Setelah gondola itu pergi, dia segera berjalan ke luar dermaga dan menyusuri jalan beton di sebelah kanan jalan utama. Dia tidak menuju ke hotel, tapi berjalan di menyusuri jalanan sempit yang berbatasan dengan pagar tembok tinggi di sebelah kanan dan canal di sebelah kiri.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rose.

"Kita ikuti dia," kataku, menyeret Rose mengikuti Dustin.

Rose dan aku berjalan dengan diam-diam mengikuti Dustin, menjauhi hotel, dermaga dan para Muggle. Jalanan itu sangat sepi dan aku yakin, ini mungkin adalah jalan menuju bagian belakang pulau karena pagar temboknya semakin tinggi dan jarak lampu jalan satu dengan yang lain semakin jauh. Lima belas menit kemudian Dustin berhenti, tampaknya dia bingung karena di sebelah kanannya ada gang sempit yang menuju ke belakang hotel, sementara di depannya adalah jalanan gelap tanpa lampu jalan. Rose dan aku juga berhenti dan bersandar pada pagar tembok.

"Menurutmu dia akan memilih yang mana?" tanya Rose.

Pilihan Dustin ada empat: masuk ke gang sempit, berjalan terus jalanan gelap, kembali melewati jalan tempat dia datang tadi, atau terjun ke dalam canal.

"Kalau dia memilih terjun ke dalam canal, aku akan mempertimbangkan untuk membawanya ke St Mungo di bangsal Cidera Karena Mantra," bisikku, dan Rose cekikikan.

Tetapi, sebelum Dustin memutuskan jalan mana yang akan diambilnya, seorang Muggle laki-laki berbadan besar muncul dari jalanan gelap di depan, melangkah perlahan menuju cahaya dan berdiri beberapa meter di depan Dustin. Rose dan aku tersentak, dan Dustin juga yang tampaknya tersentak sesaat, tapi berhasil menyembunyikannya dengan baik.

"Aku tahu kau sudah mengikutiku selama sekitar dua minggu ini," kata Vivaldi dengan bahasa Inggris yang berlogat Italia, dia mengawasi Dustin. "Aku heran mengapa Petrucci menyuruh pemuda Inggris sepertimu untuk mengikutiku."

"Signore Vivaldi," kata Dustin. "Aku tidak mengenal Petrucci... Aku ada di sini karena ingin bicara sebentar denganmu."

"Bukan Petrucci yang menyuruhmu? Kalau begitu Gabrielli? Mengapa orang itu bisa sekeras kepala ini? Aku kan sudah bilang padanya, aku akan melunasi utang-utangku nanti," kata Vivaldi.

Dustin maju mendekatinya,

"Bukan, aku bukan suruhan Petrucci, Gabrielli, atau siapa pun, bisakah aku bicara denganmu?" katanya.

Vivaldi sekarang sedang memandang Dustin dengan penuh selidik.

"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu, bisakah kita kembali ke bar?" tanya Dustin.

"Baiklah," kata Vivaldi berjalan mendekati Dustin, tangannya dimasukkan ke dalam saku jasnya.

Tiba-tiba sebuah kilatan benda tajam berkelebat, setelah jarak Vivaldi dan Dustin hanya beberapa jengkal. Aku menaruh tangan di mulutku, menahan diri untuk tidak menjerit. Dustin terdorong mundur sedetik kemudian, tapi tangannya mencengkram pergelangan tangan Vivaldi yang memegang pisau.

"Aku sebenarnya hanya ingin bicara, tapi kau membuatku ingin melakukan ini," kata Dustin dingin, kemudian meninju wajah Giorgio Vivaldi dengan tangannya yang lain, membuat Vivaldi terbanting di tanah seperti karung kentang

"Hebat," bisik Rose perlahan.

"Dia Taekwondo," kataku.

"Apa itu?" tanya Rose.

"Nanti kuceritakan," kataku.

Sementara itu Vivaldi sudah bangun lagi, pisau siap di tangan. Aku memandang Dustin dengan cemas, tapi Dustin tampaknya oke-oke saja, kecuali—

"Dustin, terluka," bisik Rose.

Sisi kiri tubuhnya memang berdarah, mungkin terkena serangan pisau sebelum dia sempat menangkisnya. Tanpa sadar apa yang kulakukan, aku segera keluar dari Jubah Gaib dan memantrai Vivaldi dengan mantra bius saat dia sudah bergerak ke arah Dustin lagi.

"Siapa kau?" tanya Dustin terdengar marah. "Aku sedang bersenang-senang dengannya."

Setelah memandang Vivaldi yang pingsan, aku segera berbalik memandang Dustin.

"Bersenang-senang?" ujarku, memelototinya. "Kau hampir saja dibunuh olehnya."

"Lucy Weasley?" kata Dustin, memandangku heran, tapi tidak terlalu heran. "Kurasa kau selalu muncul di saat yang salah."

Aku mengabaikannya.

"Perutmu berdarah," kataku, menunjuk sisi kiri tubuhnya.

"Oh, ya?" dia menunduk, memandang perut sebelah kirinya. "Rupanya aku terserempet pisau si brengsek itu."

"Biar aku yang menyembuhkan lukamu!" kataku segera mendekatinya.

"Jangan khawatir, aku bisa melakukannya sendiri," katanya, kemudian memandang Vivaldi yang tergeletak pingsan di dekat kakiku. "Cepat hapus ingatannya, dia tidak boleh tahu kita ada di sini."

Aku mengangguk, menghapus ingatan Vivaldi yang masih pingsan, dan dengan mantra melayang meletakkannya di dalam gang gelap. Biar saja dia bangun sendiri kalau mantra bius-nya pudar, aku tidak akan memaafkannya karena dia telah berani melukai Dustin. Jelas sekali, laki-laki ini bukan Terry.

Saat aku berbalik untuk memandang Dustin lagi, dia sudah duduk bersandar di pagar tembok. Jas dan dasinya tergeletak di tanah, kancing kemejanya terbuka dan aku bisa melihat luka sayatan di sisi kiri perutnya.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku, segera menghampirinya, berlutut di depannya dan dengan cemas memandang lukanya.

"Aku baik-baik saja," katanya. "Bisakah kau mengambil Dittany di saku jasku?"

"Dittany? Baiklah," kataku, menyambar jasnya yang terletak di dekatku dan mengeluarkan botol kecil berlabel Dittany.

"Nah, sekarang teteskan pada lukaku," katanya, dan aku mengangguk. "Pelan-pelan saja, cukup satu tetes..."

"Oke," kataku dan dengan tangan gemetar meneteskan Dittany ke lukanya. Luka itu berasap sebentar dan dalam sekejap menghilang diganti kulit baru. "Wow," aku terpesona menatap tempat luka itu tadi berada.

"Kalau sudah selesai, biarkan aku mengancing kemejaku... Udara laut di malam hari dingin," katanya.

Aku meletakkan Dittany kembali ke saku jasnya, mengambil dasi dan segera berdiri, sementara Dustin juga berdiri dan mengancing kemejanya. Memandang berkeliling, aku menyadari bahwa aku seharusnya tidak boleh muncul di hadapannya seperti ini, tapi tadi aku benar-benar khawatir.

"Berikan dasinya padaku!" kata Dustin, dan aku menyerahkan dasinya, kemudian memandangnya berkutat dengan dasinya selama beberapa saat.

Aku tertawa.

"Sini, biar aku yang melakukannya," kataku, mendekatinya, menyingkirkan kedua tangannya dari dasi dan segera mengikat dasinya seperti yang aku lakukan sebelumnya, tapi dalam tubuh Luke tentu saja.

"Kok rasanya seperti dejavu," kata Dustin, memandang wajahku, tapi aku pura-pura serius mengikat dasi. "Kau pernah melakukannya padaku sebelumnya?"

"Mana pernah," jawabku, kemudian menepuk dadanya perlahan, "Nah selesai!"

Aku mundur dan Dustin memandangku dengan penuh perhatian dari atas ke bawah.

"Apakah kau tidak kedinginan dengan baju terbuka seperti itu, Weasley?"

Aku menunduk memandang gaun seksi yang dengan ketat membalut tubuhku, dan tersadar bahwa aku masih memegang jas Dustin,

"Ini jasmu," kataku, melemparkan jas ke arahnya. "Aku harus pergi—"

"Mengapa kau kabur dari kamar mandiku pagi ini?" sela Dustin sambil memakai jasnya lagi.

"Aku kan tidak ingin ketahuan ada di kamar mandi orang lain," jawabku, memandang ke gang gelap. Aku harus masuk ke gang itu agar bisa masuk ke Jubah Gaib tanpa dilihat Dustin.

"Apa yang kau lakukan di Venesia?" tanya Dustin.

"Berlibur," jawabku, masih memandang gang dan memikirkan cara untuk masuk ke sana tanpa diikuti oleh Dustin.

"Benarkah?" kata Dustin, memandang dengan curiga. "Kau kelihatan mencurigakan, apakah kau menguntitku?"

"Ha?" aku terkejut, memfokuskan pandangku padanya. "Buat apa aku menguntitmu?"

"Kalau begitu, buat apa kau ada di sini?" tanya Dustin. "Tiba-tiba muncul, terus menghilang seperti hantu."

"Aku harus pergi," kataku, mengelak, dan hendak masuk ke dalam gang, tapi Dustin telah berdiri di depanku dan menghalagi jalanku ke gang. "Apa yang kau lakukan?" aku memandangnya dengan marah.

"Kau menyukaiku, Miss Weasley?" tanya Dustin.

"Apa?" aku tersentak dan mundur.

"Begitulah yang terjadi pada Molly dan Julian... Molly menyukain Julian, karena itulah dia menyuntitnya siang dan malam... Apakah kau juga seperti itu, menguntitku karena kau menyukaiku?"

"Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak menguntitmu," kataku. "Aku kebetulan saja ada di sini."

"Jadi, kau memang menyukaiku?" Dustin tampak terkejut, tak menduga.

"Aku menyukaimu, tapi aku tidak ingin menciumku," kataku, ingin menjelaskan sejelas-jelasnya.

"Oh," kata Dustin tampak heran.

"Kau mencium cewek Muggle itu, berarti kau menyukainya," kataku.

"Er—begitulah," kata Dustin, kemudian tersenyum padaku. "Kau pasti cemburu, kan? Sebenarnya kalau kau mau, aku bisa saja menciummu sekarang, sih, ini kan tempat sepi."

"Dom bilang aku tidak menyukaimu, tapi aku jatuh cinta padamu."

"Apa? Kau jatuh cinta padaku?" Dustin tampak sangat terkejut dan mundur selangkah.

"Begitulah kata Dom," kataku. "Tetapi aku akan pikir-pikir lagi... Aku kan belum pernah jatuh cinta, jadi aku tidak tahu dengan pasti bagaimana rasanya."

Dustin sekarang memandangku seakan aku orang gila.

"Er, Weasley, kurasa kau tidak jatuh cinta padaku, bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku sementara kau tidak mengenalku?"

Aku memandang Dustin dan berpikir bahwa apa yang dia katakan benar. Aku tidak mengenalnya, aku bahkan tidak tahu siapa nama tengahnya. Jadi, aku tidak jatuh cinta padanya... Ya, aku pasti tidak jatuh cinta padanya.

Aku tersenyum memandang Dustin.

"Oh, kau benar," kataku, mendekatinya dan menepuk lengannya. "Syukurlah, Dustin, aku memang tidak jatuh cinta padamu—mungkin aku cuma terpesona saja, kau kan sangat tampan."

Aku tertawa kecil dan bersyukur bahwa aku tidak jatuh cinta padanya. Otakku yang tidak pintar ini tidak bisa diajak kompromi tentang perasaan, apa lagi tentang perasaan cinta. Dustin sedang memandangku sekarang, tapi dia tidak tertawa.

"Bagaimana kalau kita berciuman?" tanya Dustin, sekarang sedang memandang bibirku dengan pandang aneh. "Kalau kita berciuman kita akan tahu apakah kau memang jatuh cinta padaku atau tidak."

"Brengsek!" kataku, menendang kakinya.

Dustin meringis kesakitan.

"Walaupun aku bodoh, aku tidak akan membiarkanmu menciumku setelah kau berciuman dengan cewek Muggle itu..." kataku, menedang kakinya lagi dan kabur ke dalam gang, tidak menghiraukan Dustin yang meringis kesakitan sambil mengumpat.

Rose segera menyelubungi tubuhku dengan Jubah Gaib dan aku segera membawanya ber-Disapparate. Kami muncul di taman, tempat terakhir kami berpisah dengan Dom dan Al.

"Apa yang telah kau lakukan, Lucy?" tanya Rose marah, setelah dia melepaskan Jubah Gaib. "Kau seharusnya tidak boleh bicara dengannya, sekarang dia tahu bahwa kau ada di Venesia," dia mendelik padaku dan segera memasukkan Jubah Gaib ke dalam tas manik-manik.

"Aku tidak bisa menahan diri," kataku sedih. "Dia terluka."

Rose duduk di bangku taman dan memandangku dengan kesal. Ingin menghindari pandang Rose, aku segera duduk di sampingnya dan memandang bunga krisan yang tumbuh di dalam bedeng beberapa meter dari tempat kami duduk.

Tidak ada yang bicara selama beberapa saat, kemudian terdengar langkah kaki dari pohon bonsai di sebelah kira. Rose baru akan mengambil Jubah Gaib dari tasnya saat seseorang yang sangat tidak ingin kutemui dan pasti sangat tidak ingin Rose temui, muncul dari balik bonsai dan terkejut memandang Rose dan aku. Kami segera berdiri menghadapi si pendatang baru.

"Musang?" kata Scorpius Malfoy, memandang Rose dari atas ke bawah, memandangku sekilas dan kembali memandang Rose. "Pakaian apa yang kau kenakan? Kau seperti orang hutan."

"Mayat, pakaian apapun yang aku kenakan bukan urusanmu. Bagaimana kau bisa mengenalku?"

"Musang, walaupun rambutmu berubah hijau aku tetap akan mengenalmu, tidak ada yang punya rambut semak belukar sepertimu. Apa yang kau lakukan di Venesia?"

"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku kan banyak Galleon, Musang... aku bisa berlibur di mana saja, tapi kau kan miskin aku heran kau bisa ada di Venesia."

Rose menarik nafas berat menahan diri untuk tidak meninju Malfoy.

"Pergilah, Mayat, aku tidak ingin bicara denganmu," kata Rose, kemudian berbalik, duduk kembali di bangku dan tidak menghiraukan Malfoy.

"Sebenarnya aku sedang mencari sepupuku, Musang," kata Malfoy, memandang keliling taman. "Apakah kau melihatnya di sini?"

"Entahlah, Mayat," kata Rose. "Aku baru saja tiba di sini."

"Tadi dia ada di sini," kataku, meskipun tidak menyukai Malfoy, tapi aku tahu bagaimana khawatirnya kita kalau sepupu kita menghilang.

Malfoy dan Rose memandangku.

"Tadi dia sedang mencari sesuatu di sekitar sini, tapi kurasa dia sudah kembali ke kamarnya."

"Benarkah?"

"Coba cari di kamarnya saja," kataku.

"Baiklah," kata Malfoy, mengambil dompet dari saku jasnya, mengeluarkan lembaran seratus Euro, sebanyak kira-kira lima lembar dan menyorongkannya ke arahku. "Terima ini!"

Sebelum aku sempat mengambilnya, Rose sudah merebutnya dari tangan Malfoy dan melemparkannya ke wajahnya.

"Kami membantu seseorang bukan karena Galleon, Malfoy," kata Rose. "Kami membantu karena memang ingin membantu..."

Wajah Malfoy berubah merah padam.

"Aku bukan memberikan uang itu padamu, Weasley."

"Sama saja," kata Rose, "Kau memberikannya pada sepupuku—"

"Beda, Weasley," kata Malfoy. "Kau dan sepupumu beda, kau adalah cewek tak berotak, sementara sepupumu adalah cewek yang bisa berpikiran jernih dan—"

"Sudah, hentikan!" kataku, lama-lama kesal juga melihat Malfoy dan Rose yang selalu bertengkar.

Rose mendelik padaku.

Aku segera memungut lembaran uang itu dan memberikannya pada Malfoy.

"Aku senang membantu, Malfoy, tapi aku tidak bisa menerima uangmu... jadi informasi ku tadi gratis."

"Oke," kata Malfoy. "Kalau begitu aku pergi dulu—"

"Malfoy, kau lupa sesuatu," kata Rose, sudah berdiri di depan Malfoy.

"Apa, Weasley?"

"Kau lupa bilang terima kasih," kata Rose. "Kau harus bilang terima kasih kalau ada orang yang membantumu."

"Buat apa aku bilang terima kasih, sepupumu kan tidak mau menerima uangku?"

"Tapi kan tetap saja, kau—"

"Sudahlah, Rose," kataku, menarik lengannya, sehingga Rose mundur ke arahku. "Pergilah, Malfoy!"

Malfoy mendelik pada Rose dan berjalan meninggalkan kami.

"Apakah dia tidak pernah diajarkan sopan santun?" tanya Rose, mendelik di tempat Malfoy menghilang.

"Begitulah orang kaya," kataku, menenangkan Rose.

Dom dan Al muncul dari balik bonsai beberapa detik kemudian.

"Ada apa?" tanya Al, memandang wajah Rose yang masih memerah.

"Kami baru saja bertemu Scorpius Malfoy," kataku.

"Apa?" Al tampak sangat terkejut. "Misi kita ternyata kacau... kita bertemu dengan banyak orang yang tidak ingin kita temui... Kita bertemu Zabini tadi, kan, Lucy."

"Ya," jawabku. "Dan Dustin melihatku lagi."

"Apa?" Dom memandangku.

Lalu aku bercerita padanya dan Al tentang apa yang terjadi.

"Lucy," kata Dom, setelah aku setelai bercerita. "Kau ini sangat bodoh, ya, mengapa kau tidak membiarkannya menciummu, dari situ kau akan tahu bahwa kau memang jatuh cinta padanya atau tidak."

"Er—" kataku agak bingung sekarang.

"Sudahlah, kita lupakan tentang masalah cinta Lucy," kata Rose tak sabar. "Jadi, apakah sekarang kita yakin bahwa Vivaldi bukan Terry?"

"Tidak, dia bukan Terry," kata Dom setengah berpikir. "Kalau dia Terry pasti dia akan mengenalku tadi di bar, tapi dia tidak mengenalku... Lagi pula Terry tidak mungkin menyerang orang dengan pisau."

"Baiklah," kata Al. "Besok adalah target ke dua kita."

"Ya, Antonio Orsoni, di restoran cepat saji Druno," kataku penuh semangat.

Diary, besok pasti kami akan berhasil menemukan Terry, aku sudah ingin pulang ke Inggris.

Sincerely,

Lucy Weasley.


REVIEW PLEASE! See you in KNG 4 ch 4

Riwa Rambu :D