Terima kasih sudah me-review KNG 4 chapter 4; widy, Putri, zean's malfoy, atacchan, Vallerina Lovegood, megu takuma, DarkBlueSong, Claire, CN Bluetory, LilyScamander, bluish3107, Sarah Ryuu VictoireELF, SpiritSky, Nafau Chance, Devia Purwanti, Rise, Cecilia Chang, YaotomeShinju, ochan malfoy, SeiraAiren, Kira, tinaWeasley, a will a :D

Ttg bhs Korea: Yg kumaksudkan dg 'Ne' dibalasan review sebelumnya adalah 'ini', kusingkat jd 'ne'. Kita kok jd ngebahas bhs Korea, y:D. Btw, joengmal mianheyo... na neun revieweul kidarigossipo, kamsahamnida! (moga2 bhs Koreax tdk salah, soalx nyontek di google):D Ttg typo: q kan cek-cek lg :D

Selamat membaca KNG 4 chapter 5 dan review (apa saja), ya!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 5

Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri.

Waktu: 8.15 am

Dear Diary,

Kau pasti akan kaget sekali, jika saat kau membuka matamu di pagi hari ternyata sudah ada orang yang memandangmu. Nah, begitulah yang terjadi denganku, aku membuka mataku pagi itu dan langsung bertatapan dengan mata abu-abu Dustin, yang sedang memandangku dengan tajam dari tempat duduknya di depanku. Aku cepat-cepat duduk, kemudian menyentuh wajah dan rambutku, ingin tahu apakah aku sudah berubah jadi Lucy dalam waktu kurang dari dua belas jam, padahal aku ingat betul, semalam aku minum ramuan Polijus dosis besar.

"Mengapa kau memandangku begitu?" tanyaku, duduk bersandar pada bantal setelah memastikan bahwa aku memang masih Luke.

"Apa yang kau lakukan semalam?" dia bertanya. "Aku pulang dan kau tidak ada di kamar."

"Oh..."

Semalam setelah ber-Disapparate dari hotel San Clemente Palace, aku berlama-lama di kamar Dom dan Rose berdiskusi tentang cowok-cowok dan tentang cinta. Jadi, saat aku kembali Dustin sudah tidur dan dia tidak tahu aku sudah kembali.

"Oh apa?"

"Sebenarnya aku pergi ke suatu tempat," jawabku, memandang berkeliling kamar untuk mencari inspirasi.

"Suatu tempat di mana?"

"Buat apa aku bilang padamu?" kataku, melompat dari tempat tidur setelah tidak mendapatkan inspirasi, dan mendelik padanya. "Kau juga tidak bilang ke mana kau pergi semalam, jadi buat apa aku bilang padamu ke mana aku pergi."

"Aku cuma khawatir," katanya, lalu berdiri. "Kau kan sangat bodoh, juga tidak bisa bahasa Italia. Bagaimana kalau kau hilang?"

"Asal tahu saja, ya, aku telah berlatih bahasa Italia selama dua minggu ini dan bahasa Italia-ku sudah semakin bagus," kataku.

"Semakin bagus?" dia mengangkat alis. "Dibandingkan dengan apa? Balita yang baru belajar bicara?"

"Kau," aku menunjuknya. "Bisa tidak berhenti menghinaku? Aku sedang berusaha, tahu!"

"Jangan menunjuk-nunjuk orang, tidak sopan!" katanya, memukul telunjukku yang masih menunjukknya dengan jari telunjukknya, membuatku terpaksa menurunkan tangan. "Jadi, kau ada di mana semalam?"

"Oh, itu," aku memandang ke mana-mana lagi dengan liar, mencari inspirasi. "Aku sedang menonton tevelition bersama Signore Malamocco di bawah."

"Televisi," katanya.

"Ya itu, benda Muggle yang ada gambar, juga suaranya dan—kau tahu bagaimana Signore Malamocco, dia, kalau sudah mulai bercerita pasti berjam-jam, jadi aku menemaninya. Dia bercerita tentang awal mulanya hotel ini dibangun dan bagaimana dia mengembangkannya dan—"

"Kau tidak berbohong?" dia bertanya, memandangku dengan curiga.

"Aku tidak berbohong, kau bisa bertanya padanya dan, tentu saja dia akan membenarkanku."

"Baiklah, aku percaya padamu... Sekarang saatnya untuk meminta maaf, ayo minta maaf!"

"Ha?"

"Ayo!" tuntutnya, mendelik.

"Oke, aku minta maaf!" kataku tak sabar

"Mengapa kau minta maaf?"

"Kau yang menyuruhku minta maaf!"

"Luke Spencer!" dia mendelik lagi.

"Karena tidak ada di kamar saat kau pulang, puas?" kataku sebal, balas mendelik.

"Aku senang kau menyadari..." katanya tersenyum puas.

Diary, inilah yang paling menyebalkan dari Dustin, dia selalu memaksaku memainkan permainan ini dengannya; menyuruhku minta maaf dan menyebutkan kesalahanku, padahal sebenarnya aku tidak bersalah.

"Nah, sekarang kembalikan mobilku!" tuntutnya lagi, setelah puas tersenyum.

"Mobilmu?" tanyaku heran.

"Mobilku, Spencer," katanya. "Mobil mini dalam bulatan kaca, kau yang mengambil benda itu, kan?"

"Eit, bukan aku," kataku, dan langsung mundur, memandang laci meja, berpikir untuk menjangkau laci itu sebelum Dustin.

Aku telah menyimpan mobil mini dalam bulatan kaca itu di laci meja, berharap Dustin melupakannya dan aku bisa membawa benda itu pulang ke Inggris sebagai kenang-kenangan bahwa aku pernah bersamanya di Italia.

"Ayolah, Spencer, kau yang mengambilnya... sekarang kembalikan!"

"Bukan aku," kataku setengah menjerit dan masih memandang laci.

Dia mengikuti arah pandangku.

"Oh, kau menyimpan benda itu di laci," katanya, berjalan menuju meja.

Aku berlari cepat ke laci meja lebih dulu darinya dan mengambil bulatan kaca berisi mobil mini itu dari laci. Dustin terperangah, tapi aku sudah berlari menjauh darinya dan mengangkat benda itu sambil tersenyum.

"Kau ingin bermain-main denganku, Spencer?" dia mendelik

"Sebenarnya tidak, Wood," kataku tersenyum. "Kurasa benda ini adalah miliku sekarang, aku yang menemukannya."

"Kau yang menemukannya?" dia mendelik. "Aku membelinya dengan harga 10 Euro... Cepat kembalikan!"

Aku tertawa.

"Kalau begitu, coba tangkap aku!"

Aku berlari sekeliling kamar dengan Dustin di belakangku, berkelit dan menghindar; naik ke tempat tidur, berkeliling di sekitar kursi, sementara Dustin dengan susah payah mengejarku.

"Kembalikan, Luke..."

"No way!"

Diary, sebenarnya ini menarik sekali. Aku sudah sering memainkan permainan kejar-kejaran dengan sepupu-sepupuku sepanjang umurku, dan aku sangat lincah dalam permainan ini, tapi akhirnya Dustin berhasil juga menangkapku. Biar bagaimanapun dia laki-laki asli, sedangkan aku laki-laki jadi-jadian. Jadi, dia berhasil menarik ujung kaosku, aku menjerit dan kami terguling di lantai di antara dua tempat tidur sambil tertawa-tawa.

"Kau ini aneh sekali," katanya terengah-engah, terduduk di lantai dengan mobil mini dalam bulatan kaca di tangannya. "Berapa sih umurmu?"

"20 tahun, aku sudah pernah mengatakannya padamu di Heathrow, ingat?" kataku, ikut duduk dan masih tersedak.

Kami terdiam selama beberapa saat, mengatur nafas.

"Tahu tidak, aku lebih senang bersamamu daripada bersama Sara," katanya.

"Sara?" aku pura-pura bertanya.

"Cewek Muggle, aku bertemu dengannya di bandara Marco polo, dia memberikan nomor teleponnya padaku, dan—waktu itu kau sedang ke kamar mandi," dia menambahkan, saat aku menaikkan alis. "Dia baru dari Milan dan sedang berkunjung ke Venesia."

"Oh," kataku. "Kau berkencan dengannya?"

"Begitulah," katanya, bersandar pada sisi tempat tidurnya dan memandangku.

"Kau menyukainya?" tanyaku, melakukan hal yang sama di tempat tidurku sendiri.

"Yah, dia cantik, pandai berciuman, punya tubuh yang seksi, tapi—"

"Tapi kau tidak mencintainya," kataku, berlagak ahli.

"Entahlah, aku tidak tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta."

"Cinta itu," kataku sok pintar, mengulang apa yang dikatakan Dom, "adalah saat kau menyukai seseorang, dan kau merasa bahwa menciumnya sama sekali tidak penting karena kau lebih suka dia ada di dekatmu; melihatnya tersenyum, berbicara dengannya, tidak marah saat dia memarahimu, dan mengkhawatirkannya saat dia terlambat pulang."

Dustin sekarang memandangku dengan heran, kemudian tertawa terbahak-bahak. Aku mengambil bantal dari tempat tidurku dan melemparkan bantal itu padanya, tapi dia menangkapnya dan melemparkannya kembali ke tempat tidurku.

"Berhenti tertawa!" gertakku.

"Maaf," katanya, masih nyengir. "Soalnya, aku belum pernah melihat ekspresi cerdas seperti itu di wajahmu."

Aku memandangnya sesaat, kemudian memutuskan untuk mendiskusikan perasaanku padanya,

"Ada yang mengatakan padaku bahwa aku jatuh cinta padamu karena aku merasakan perasaan-perasaan itu terhadapmu."

"Apa?" dia sekarang benar-benar berhenti tertawa dan memandangku dengan heran sekaligus jijik.

"Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak jatuh cinta padamu karena aku belum mengenalmu... aku kan tidak tahu nama tengahmu, dan aku berpikir bahwa aku mungkin cuma terpesona saja."

"Rasanya aku pernah terlibat dalam percakapan seperti ini sebelumnya," katanya, berpikir. "Kau tidak ada hubungannya dengan Lucy Weasley, kan?"

"Mengapa aku harus ada hubungan dengannya?" tanyaku, berdebar, takut ketahuan.

"Soalnya dia juga mengatakannya hal yang sama semalam," katanya. "Dia—"

"Lupakan tentang Lucy Weasley, kita sedang berbicara tentang perasaanku padamu. Jadi, bagaimana benarkah aku jatuh cinta padamu atau tidak?"

"Meskipun aku tidak tahu bagaimana perasaan cinta itu, tapi mungkin saja kau memang jatuh cinta padaku... kau kan selalu memandangku dengan terpesona, tidak bisa berlama-lama marah padaku, mengkhawatirkanku dan sebagainya," dia berhenti bicara, kemudian memandangku dengan tajam. "Kuperingatkan kau, aku bukan gay dan aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu!"

"Aku juga bukan gay," kataku tak sabar, lalu melanjutkan, "Tetapi aku belum yakin kalau aku jatuh cinta padamu... kurasa aku cuma terpesona saja," aku mengangguk yakin. Dom salah dalam hal ini, aku cuma terpesona saja. Aku memandangnya lagi, "bagaimana menurutmu?"

"Er, baguslah kalau kau sudah memutuskan bahwa kau hanya terpesona, sekarang aku bisa lega dan kita bisa berteman lagi seperti biasa," katanya tersenyum.

"Lalu bagaimana denganmu pernah jatuh cinta?" tanyaku ingin tahu, aku ingin mendengar kisah cinta orang lain untuk membandingkan dengan perasaanku karena rasanya kisah cinta Dom sangat rumit dan tidak bisa dimasukkan dalam otakku yang tidak cerdas ini. Aku ingin mendengar kisah cinta yang sederhana saja.

"Tidak pernah," katanya menggeleng. "Aku kan sudah bilang tadi bahwa aku tidak tahu arti cinta, jadi aku tidak pernah jatuh cinta."

"Kalau begitu kau pernah merasakan perasaan-perasaan yang kukatakan sebelumnya; menyukai meskipun tidak ingin mencium, menkhawatirkanya—?"

"Tidak," katanya cepat.

"Oh, ayolah Dustin, tampangmu kan tampang cowok yang punya lebih dari satu kekasih," kataku, sengaja menggunakan kata kekasih teringat bagaimana dia dan Sara berciuman di dermaga Clemente Palace.

Dia mendelik padaku, kemudian memandang tembok di belakangku.

"Dulu aku menyukai Dominique Weasley... aku pernah berkencan dengannya."

Oh benar sekali, mengapa aku bisa lupa, dia kan menyukai Dom. Sepupuku yang pirang dan cantik, yang bahkan tidak menyadari bahwa dia bisa mendapatkan cowok mana pun kalau dia sedikit berusaha. Aku memandangnya dengan tajam, tiba-tiba saja menjadi sangat jengkel.

"Dia tidak menyukaimu," kataku sebal. "Dia mencintai Terry, dan selamanya akan mencintai Terry... Kau tidak akan punya kesempatan!"

Dustin langsung duduk tegak dan memandangku dengan tajam.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Apa?"

Sial! Mengapa aku tidak bisa tutup mulut?

"Kau mendengarku, Spencer, bagaimana kau bisa tahu?"

Aku memandang berkeliling ruangan mencari inspirasi lagi.

"Aku membacanya di Prophet," kataku. "Mereka sudah menikah dan saling mencintai, kau tidak akan punya kesempatan."

"Mereka belum menikah," katanya.

"Tetapi tetap saja, kau tidak boleh menyukainya," kataku, sedikit terengah-engah, dan merasa bingung dengan diriku sendiri; sesaat tadi aku merasa jengkel pada Dom, sepupu dan sahabat terbaikku.

"Kau kenapa, sih?" tanya Dustin, memandangku dengan heran. "Kau sendiri yang ingin mendengar tentang kisah cintaku... Dan mungkin kau tidak mendengarku dengan baik, aku tadi bilang bahwa dulu aku menyukainya—dulu, Spencer, dulu!"

"Oh, dulu, ya," aku tertawa.

Dustin masih memandangku dengan lebih heran.

Aku berhenti tertawa dan menggelengkan kepala, kebingungan. Apa sih yang terjadi denganku? Tadi aku sangat jengkel, tapi tiba-tiba sekarang senang. Mungkin aku benar-benar sudah gila!

"Tetapi sekarang kau sudah tidak menyukainya lagi, kan?" tanyaku ingin kepastian.

"Tidak," jawabnya, dan aku langsung merasa lega.

Sepertinya aku harus memeriksakan diri ke St Mungo setelah kembali ke Inggris.

"Jadi, kau menyukai siapa sekarang?" tanyaku ingin tahu.

"Tidak ada," katanya, dan tiba-tiba menjadi jengkel. "Berhenti bicara tentang perasaan cinta, Spencer. Kita datang ke sini bukan untuk jatuh cinta, tapi untuk kerja demi 2000 Galleon..." dia berdiri. "Bangunlah dan bersiaplah untuk kerja!"

Aku juga berdiri.

"Kerja?" tanyaku. "Kau akan membawaku bekerja?"

"Apa lagi, Spencer, kau kan juga harus kerja," katanya. "Aku tidak ingin kau mendapat 2000 Galleon tanpa melakukan apa-apa."

"Er—" sebenarnya pagi ini aku ada janji dengan Dom, Rose dan Al pergi ke restoran cepat saji Druno untuk mengawasi Antonio Orseni.

"Jangan berlagak bodoh, Spencer," katanya, lalu melirik arloginya. "Kita harus ke Druno sebelum target kita pergi ke tempat kerjanya."

"Drono? Restoran cepat saji Druno?" ulangku kaget.

"Lalu kau pikir di mana?" dia tampak tak sabar. "Aku harus bicara dengan Antonio Orsoni."

"Er, kurasa aku tidak usah ikut saja—er, maksudku begini, aku kan pernah menumpahkan anggur ke wajahnya dan dia pasti ingat padaku dan—"

"Walaupun begitu, kau tetap ikut, aku kan sudah bilang aku tidak ingin kau bersantai dan membiarkan aku yang membereskan pekerjaan ini."

"Er, aku—"

Dia memandangku lagi, kali ini tampak curiga.

"Apakah kau ingin melakukan sesuatu yang lain?" dia bertanya.

"Tidak, aku—"

"Aku mulai curiga kau memang sedang melakukan sesuatu, Spencer, tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu. Kau hanya punya dua pilihan ikut denganku dengan senang hati atau aku akan menyeretmu dari sini sampai Druno."

"Dengar, Wood, kau tidak bisa memaksaku, kita sudah sepakat bahwa kau bukan pemimpin, kita adalah rekan kerja dan aku berhak memutuskan apa pun yang akan kulakukan. Masa dua minggu saat kau menjadi bos atasku sudah berakhir, dan sekarang aku akan melakukan sesuatu semauku. Aku memilih tidak ikut bersamamu."

Dia tersenyum menyebalkan.

"Kau dengar aku?"

"Dengan jelas sekali," katanya. "Nah, sekarang saatnya untuk mandi!"

"Aku tidak mau ikut denganmu!" aku menjerit tertahan.

"Kau ikut denganku, dan kau akan terus ikut denganku mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran sendiri lagi... Tampangmu yang gampang ditebak itu mangatakan bahwa kau sedang merencanakan sesuatu."

Dia ingin meraih lenganku, tapi aku menghindar dan menyambar tongkat sihirku di tempat tidur. Sekarang saatnya untuk bertindak tegas, aku adalah si Preman Lucy, dan preman Lucy tidak takut pada Dustin Wood.

"Bergerak selangkah lagi, aku akan memantraimu!"

Dia menyeringai.

"Ayo, serang aku, Luke, aku ingin lihat kemampuan yang kau miliki," katanya santai, maju mendekatiku.

"Kau memaksaku... Pertificus Tota"

Dengan gerakan yang sangat cepat, mungkin hasil latihan taekwondo, dia menendang tangan kananku yang memegang tongkat sihir dan tongkat terlempar ke lantai. Aku menjerit, dia tak peduli, menyambar lenganku dan menyeretku.

"Lepaskan aku, brengsek!"

"Kau yang memaksaku!"

Dia membuka pintu kamar mandi dan mendorongku masuk.

"Kau tidak bisa memaksaku, aku tidak mau mandi!"

"Kau mau aku memandikanmu atau kau mandi sendiri?" desisnya halus, masuk ke kamar mandi, dan melangkah perlahan mendekatiku.

Aku memandangnya dan merasakan seluruh dendam tercurah di setiap nadiku.

"Aku mandi sendiri," aku membentak dan memberikan tatapan paling dingin yang aku bisa.

Tetapi dia terus mendekatiku, menarik pergelangan tangan kananku ke arahnya. Aku menjerit kecil.

"Pergelangan tanganmu keseleo," katanya.

"Kau yang menendangnya," kataku dingin.

Dia mengayunkan tongkat sihirnya untuk menyembuhkan tanganku.

"Aku membencimu," desisku lagi.

"Oh ya?" dia tampak bosan. "Kau selalu mengatakannya sehingga telingaku sudah biasa mendengarnya."

Kemudian dia keluar membanting pintu di belakangnya.

Bangsat, mengapa aku bisa terlibat dengan orang yang tak berperasaan? Mengapa sikapnya beda dengan saat masih di pesawat? Apakah karena aku pernah menipunya dengan berpura-pura menjadi kurir permata ilegal? Atau memang dia adalah orang yang bermuka dua, yang baik di depan, tapi penjahat di belakang? Mengapa aku bisa mengira aku jatuh cinta padanya padahal sebenarnya tidak, aku membencinya seperti aku membenci kol campur bayam yang pernah dimasak Mom untuk makan siang.

Sincerely,

Lucy Weasley.


Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Restoran cepat saji Druno.

Waktu: 9.05 am

Restoran cepat saji Druno adalah restoran yang terletak di tepi Grand Canal. Pemilik restoran sengaja meletakkan meja-meja dan kursi-kursi plastik di luar restoran agar pengunjung dapat melihat pemandangan lagoon (perairan air asin yang terpisah dari laut) yang indah. Di kursi-kursi itu sekarang duduk Muggle yang jelas sekali berasal dari berbagai negara dunia, sedang menikmati sarapan pagi berupa kopi, teh, cokelat panas, jus, bersama potongan kue-kue lezat.

Dustin dan aku sekarang sedang duduk dengan kopi dan cokelat hangat di depan kami, bersama kue yang sangat enak berisi lelehan cokelat. Saking sukanya makan kue itu, aku telah menghabiskan bagianku dan bagian Dustin. Aku sudah lupa bahwa saat ini aku sedang membencinya. Tetapi, aku memang tidak bisa berlama membenci Dustin, apa lagi saat ini dia sedang duduk di depanku; sangat tampan dengan baju kaos biru bergambar gondola dan gondolier-nya dan kacamata hitam. Dia memandang berkeliling, mungkin mencari Antonio Orsoni, sambil menyesap kopinya.

Sementara dia memandang berkeliling, aku memandangnya dengan terpesona, dan sesekali memandang bekeliling mencari Dom, Rose, dan Al. Aku tahu mereka sudah mengikutiku setelah keluar dari hotel. Mereka sekarang sedang duduk sangat jauh dari tempatku dan Dustin, mereka tampak seperti wisatawan Muggle biasa: rambut hitam, gaun musim panas, kacamata hitam dan topi lebar (Dom); rambut hitam, blouse aneh yang tercabik-cabik dengan artistik di bagian perut, celana sangat pendek, kacamata hitam, dan topi lebar (Rose); rambut merah, kaos tanpa lengan, jeans, kacamata hitam dan topi pet (Al). Mereka juga sedang menikmati sarapan berupa cokelat dan kue yang berisi lelehan cokelat itu. Aku harus meminta Rose untuk mencari tahu bagaimana cara membuat kue itu.

Aku mengalihkan pandanganku dari mereka, kembali memandang Dustin, dan menyadari bahwa Dustin sudah melepaskan kacamata hitamnya dan sedang memandangku.

"Ada lelehan cokelat di sudut bibirmu," dia memberitahuku, mengangguk ke arah mulutku.

"Apa?"

"Itu," dia menunjuk bibirku.

"Oh," aku mengusap mulutku dengan punggung tangan "Di sini?"

"Menjijikkan!"

"Hei, kau—" aku baru akan memprotes karena dia menyebutku 'menjijikkan', tapi dia sudah mengambil tisu di atas meja dan membersihkan mulutku dengannya.

"Nah, sekarang sudah bersih," dia memandangku sesaat, kemudian memandang tisu. Seakan baru menyadari apa yang telah dilakukannya, dia melemparkan tisu ke wajahku. "Bersihkan sendiri, kau kan punya tangan!" bentaknya. "Ingat, jangan membersihkan mulut pakai tanganmu, pakai tisu, untuk itulah pemilik restoran meletakkan tisu di sini."

Meskipun baru terkena lemparan tisu di muka, tapi aku senang. Dustin memang sangat baik, dia mau membersihkan lelehan cokelat di wajahku.

"Kau memang sangat baik, Dustin," kataku, menepuk lengannya. "Aku memang membencimu, tapi aku juga menyukaimu."

"Aku bukan gay," gertaknya.

"Aku juga bukan gay," kataku, tersenyum.

"Dustin!" terdengar suara cewek, mendengar suara ini suasana hatiku yang tadi ceria langsung berubah jengkel.

"Sara," kata Dustin, berdiri, meletakkan tangan di pinggang Sara dan langsung mengecup pipi Sara.

"Hai, Luke," kata Sara tersenyum padaku, setelah cipika-cipiki dengan Dustin.

"Hai," kataku datar.

"Duduk, Sara," kata Dustin.

Keduanya kemudian duduk berdampingan saling menempel seperti lintah.

"Masih ingat aku, kan? Kita pernah bertemu di Heathrow," kata Sara padaku.

"Tentu saja aku ingat padamu, Sara, mana mungkin aku melupakan gadis cantik," kataku dengan keceriaan yang berlebihan, sementara Dustin mendelik padaku, mungkin cemburu karena aku menggoda pacarnya.

Sara tertawa.

"Kau masih ingat Linda?" dia bertanya padaku.

"Oh tentu saja, temanmu yang manis itu, kan?" kataku. "Di mana dia?"

"Di belakangmu," jawab Sara.

Aku berbalik dan melihat cewek pirang, yang pernah kulihat di Heathrow, melambai dari empat meja di belakangku. Aku tersenyum, balas melambai dan Linda segera mengangkat cangkir kopinya, melangkah untuk bergabung dengan kami.

"Hai, Luke," kata Linda, langsung duduk menempel di sampingku.

Merlin, mengapa aku jadi sial seperti ini?

Aku memandang Dustin, memintanya untuk menolongku, tapi dia membuang muka dan sibuk berbicara dengan Sara tentang toko yang paling bagus di Rialto Bridge, sedangkan Linda tersenyum padaku dan aku balas tersenyum dengan terpaksa.

"Kau tidak minum kopi, Luke?" tanya Linda, memandang cangkir cokelatku yang tinggal separuh.

"Tidak, aku minum cokelat," jawabku.

"Pantas saja gigimu penuh cokelat," kata Linda.

"Benarkah?" kataku, mengambil sendok untuk melihat bayanganku di balik sendok.

Sara dan Linda langsung tertawa, sementara Dustin mendengus,

"Mereka cuma bercanda," dia mendelik padaku.

"Linda," kataku sebal.

"Habis kau lucu, sih," kata Linda, mencubit pipi kiriku.

Oh, menjijikkan!

"Kau juga lucu, Linda," kataku, ingin menepuk lengannya dan tanpa sengaja kena bagian depan dadanya.

"Ih, ada yang nakal," kata Linda, terkikik, tampaknya santai-santai saja.

Dustin mendelik, Sara tertawa dan aku merasakan seluruh darah terpompa ke wajahku.

"Luke, bersikaplah sopan pada seorang gadis, tidak ada cewek yang akan mau jadi pacarmu kalau kau seperti itu," kata Dustin dingin.

"Aku tidak sengaja," kataku, mendelik padanya, kemudian memandang Linda, "Maafkan aku, Linda!"

"Oh, tidak apa-apa, Luke," kata Linda tersenyum.

"Bagaimana kalau kita berbelanja sekarang?" kata Sara.

"Ya," kata Linda, lalu memandangku, "Luke, kau mau ikut, kan?"

"Er—" aku bingung, memandang Dustin, tapi sekali lagi dia membuang muka.

"Ayo," kata Dustin, berdiri dan berjalan bersama Sara meninggalkan meja.

Aku melongo menatapnya.

Ha, apa-apaan ini? Bukankah kami datang ke sini untuk mengawasi Antonio Orsoni, mengapa sekarang kami harus menemani dua cewek Muggle berbelanja? Dustin memang benar-benar keterlaluan, dia memaksaku ikut, pasti untuk ini; agar aku bisa bersama Linda dan dia bersenang-senang bersama Sara.

"Ayo, Luke," kata Linda menarik lenganku dan aku berdiri.

Sementara kami melangkah menyusul Dustin dan Sara, dengan Linda bergayut manja di lenganku, aku memberi isyarat 'tolong aku' pada Dom, Rose dan Al yang sedang memandangku dengan kebingungan. Linda tidak memberiku kesempatan padaku untuk memberi isyarat lain pada sepupu-sepupuku, dia terus menarikku, membawa kami semakin dekat dengan Dustin dan Sara yang sudah berjalan lebih dulu menaiki tangga Rialto Bridge.

Rialto Bridge adalah sebuah jembatan yang panjang di atas Grand Canal. Jembatan itu lebar berbentuk melengkung dengan anak-anak tangga yang panjang sampai ke ujung sebelah. Di sepanjang jembatan itu, ada bermacam-macan toko yang tak pernah sepi pengunjung.

"Kita masuk ke toko ini, yuk," ajak Sara, saat kami tiba di depan sebuah toko bertuliskan Cincuanta's shop.

Toko itu adalah sebuah toko pakaian; di mana-mana tergantung pakaian laki-laki dan perempuan beraneka warna dan bentuk yang membuat iri para penyihir, soalnya penyihir memakai jubah. Tetapi jubah kan untuk old generation atau untuk kerja, tidak ada salah kami, penyihir muda, memakai pakaian Muggle yang cantik-cantik. Tanpa sadar, aku segera menuju gaun-gaun musim panas yang digantung di sebelah kiri jalan masuk, mengikuti Sara dan Linda yang sudah lebih dulu berjalan ke tepat itu

"Apa yang kau lakukan?" tanya Dustin, menyambar lenganku, kemudian menyeretku menjauhi gaun-gaun itu menuju sebelah kanan jalan masuk, tempat kaos-kaos pria segala warna digantung.

"Lepaskan aku," bentakku pelan, menyentakkan lenganku.

Dustin mengumpat pelan, agar pemuda Muggle yang sedang mencari kaos di dekat kami, tidak mendengar.

Aku memandangnya dengan marah, dan berkata, "Aku ingin bicara denganmu," lalu berjalan lebih dulu di sudut toko dekat lemari kaca berisi jas-jas pria dalam plastik.

"Apa?" bentaknya, setelah memastikan bahwa kami sendirian.

"Kau sengaja mengajakku keluar untuk ini, kan?" tanyaku. "Agar kau bisa bersenang-senang bersama Sara dan aku menemani Linda."

Dustin tertawa suram.

"Darimana pikiran itu?"

"Dari kenyataan yang baru saja kau lakukan," gertakku.

"Apa maksudmu?"

"Lihat, di mana kita sekarang? Bukankah kita harus mengawasi Antonio Orsoni, tapi kau malah menemani cewek-cewek Muggle belanja."

"Itu kan gara-gara kau," bentak Dustin, menunjuk hidungku.

"Gara-gara aku?"

"Kau yang kelihatannya ingin sekali bersenang-senang dengan Linda jadi aku membantumu," katanya.

"Aku yang ingin bersenang-senang dengan Linda?" ulangku. "Otakmu waras, tidak?" aku mendorong dadanya, tapi dia tidak bergeming.

"Oh ayolah, Spencer, kau menyuntuh dadanya, kau menyukainya kan?"

Aku memandangnya tak percaya.

"Caramu mendekati cewek sangat aneh, Spencer, aku sempat berpikir bahwa kau mungkin adalah—"

"Aku tidak sengaja melakukannya," aku menjeritkan kata-kata itu, membuat seorang pelayan perempuan di ujung lemari kaca tersentak. Aku menoleh dan terpaksa tersenyum untuk meminta maaf.

"Oh ya, kulihat kau sangat menikmatinya."

"Brengsek," umpatku, mendorong dadanya lagi dengan kekuatan penuh, tapi dia tetap tidak bergeming, seperti sedang mendorong sebuah batu besar saja.

"Berhenti mendorong-dorongku, atau aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan," katanya tajam, dengan ancaman yang mematikan.

Aku memberinya pandangan terakhir penuh dendam, dan masuk lebih jauh ke dalam toko. Matamu terasa panas dan airmata memenuhi mataku. Ada apa sih denganku, sesaat aku menyukainya, kemudian aku membencinya? Ingin rasanya aku meninggalkan semua ini, kembali ke Inggris dan melupakan tentang Venesia dan tentang Dustin. Dan cara satu-satunya untuk mengakhiri semua ini adalah memastikan bahwa satu dari dua target terakhir kami adalah Terry. Aku harus segera keluar dari sini dan mencari sepupu-sepupuku. Aku memutar tubuh untuk keluar toko, tapi Muggle-Muggle yang berseliweran di dalam toko mulai memandangku dengan aneh. Mulanya, aku tidak peduli, tapi beberapa dari mereka mulai menunjuk-nunjuk.

"Apa?" gertakku pada salah satu pemuda Muggle.

"Rambutmu mulai memerah, Dude," kata si Muggle dalam bahasa Inggris yang berlogat Amerika.

"Apa?" aku segera memandang lenganku dan benar saja, bintik-bintik hitam mulai muncul di sana. Setiap detik dari sekarang, aku sedang perlahan-lahan berubah menjadi diriku sendiri.

Aku mengulurkan tanganku ke punggung, bermaksud meraih ranselku untuk mengambil ramuan Polijus dalam botol orange juice dan ternyata ransel itu tidak ada di sana. Dengan panik aku berusaha memandang punggungku dan ransel itu memang tidak ada di sana.

Sial!

Ternyata aku melupakan ransel itu di restoran cepat saji Druno. Aku memandang orang-orang di sekitarku dan melihat mereka mulai memandangku dengan aneh. Aku segera berlari masuk ke salah satu bilik ganti yang berjajar di bagian belakang toko. Bilik ganti itu adalah ruangan berbentuk persegi yang seluruh dindingnya dipenuhi cermin, bahkan daun pintunya dilapisi cermin. Aku berdiri di depan cermin dan memandang bayanganku ketika efek ramuan Polijus memudar. Rambutku kembali menjadi merah, dan aku berdiri di sana dengan baju kaus dan jeans kebesaran.

Tiba-tiba pintu terbuka, aku ingin menjerit, tapi berhenti saat melihat bahwa tak seorang pun yang masuk ke ruang ganti itu. Tiba-tiba Dom dan Rose muncul begitu saja dalam ruangan ketika Jubah Gaib dilepaskan.

"Kalian membuatku terkejut," kataku lega.

"Berikan pakaiannya, Rose," suruh Dom, tanpa basi-basi.

Rose mengeluarkan blouse biru tanpa lengan, rok pendek, celana dalam dan bra, kemudian menyerahkannya padaku.

"Mengapa kau tidak memberiku ramuan Polijus saja, Rose?" tanyaku, memandang barang-barang yang baru saja diserahkan Rose.

"Tidak, kau akan menjadi Lucy dan kita akan ke restoran Antico Greco untuk mengecek Antonio Orsoni," kata Dom, dan tanpa berlama-lama langsung menyihir rambutku menjadi hitam.

"Cepat buka baju!" perintah Rose.

"Kalian belum keluar," kataku.

"Tidak perlu malu-malu," kata Rose tak sabar. "Kita harus mengambil pakaian Luke dan tongkat sihirmu, Lucy,"

"Kalau pakaian Luke aku mengerti, tapi mengapa kalian harus mengambil tongkat sihirku juga?" tanyaku.

"Karena tidak ada tempat untuk menyimpan tongkat sihir dipakaian yang akan kau kenakan sebentar," kata Dom. "Kau mau keluar toko sambil memegang tongkat sihir? Membuat Muggle bertanya-tanya dan menciptakan kehebohan?"

"Mengapa kalian tidak memberikanku jeans dan kaos,"

"Aku tidak mengepak jeans-mu, Lucy, aku cuma mengepak rok untukmu," kata Rose.

"Mengapa bukan aku saja yang masuk ke dalam Jubah Gaib dan kalian bisa berjalan keluar dengan santai?"

"Kami tidak bisa..." kata Rose, tampak malu.

"Kami termasuk dalam daftar orang-orang yang tidak diijinkan masuk ke toko ini," Dom menjelaskan, memandang cermin.

"Apa? Mengapa?" tanyaku heran.

"Seminggu yang lalu, Rose, Al dan aku tanpa sengaja melakukan sesuatu pada lemari kaca berisi ja-jas Muggle itu," kata Dom.

"Apa?"

"Nanti akan kami ceritakan," kata Rose. "Sekarang ayo cepat ganti baju!"

Aku menendang lepas sepatu, melepaskan kaos kaki, memakai rok pendek yang mengembang itu, melepaskan jeans, celana pendek dan celana dalam Luke, lalu menyerahkannya pada Rose, yang langsung menyimpannya dalam tas manik-manik. Kemudian, aku menyambar celana dalamku sendiri dari gantungan dan memakainya.

"Atasannya, Lucy, cepat! Kami tidak bisa berlama-lama, Al sedang menunggu di luar toko!" kata Dom, sementara Rose mengambil sepatu juga kaos kaki Luke dan memasukkannya ke dalam tas manik-manik.

Aku segera melepaskan baju kaos Luke, menyerahkannya pada Rose kemudian memakai bra.

"Kami akan menunggumu di luar, jangan lama-lama," kata Dom, menyelubungi dirinya dan Rose dengan Jubah Gaib dan langsung menghilang.

Aku berdiri termenung, menatap pintu yang terbuka, lalu tertutup lagi. Dom dan Rose, telah pergi meninggalkanku dalam kebingungan, aku bertanya-tanya dalam hati apa yang telah dilakukan Dom, Rose dan Al pada lemari kaca itu sehingga mereka tidak diijinkan untuk memasuki toko ini. Aku mengambil atasanku dari gantungan dan sudah hendak akan memakainya saat pintu terbuka lagi dan Dustin muncul di pintu.

Aku menjerit tertahan dan menutup dada dengan atasan yang belum sempat kukenakan, sebuah blouse mungil tanpa lengan berwarna biru.

"Weasley," kata Dustin, memandangku dari atas ke bawah. "Rambut hitam seperti semalam, tapi aku tetap bisa mengenalmu."

"Oh Dustin," kataku, lega. "Keluar dulu, aku mau pakai baju."

"Kau seharusnya yang keluar, Weasley, ini adalah bilik ganti untuk pria... Dan kau, yang jelas-jelas sangat bodoh tidak mengunci pintu saat sedang berganti pakaian," katanya, kemudian memasang kaitan di pintu.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, memandang pintu yang sekarang telah dikunci. "Kau belum keluar..."

"Buat apa aku keluar?" katanya. "Ini bilik ganti pria... bilik ganti wanita ada di sebelah kiri..."

"Kau kan bisa memakai bilik lain, Dustin, biar aku di sini."

"Tidak, aku suka di sini," kata Dustin, dengan santai menggantung kaos, kemeja dan sweater yang hendak dicobanya di gantungan yang tertancap di cermin di bagian kiri ruangan, tempat aku telah menggantung pakaianku sebelumnya.

"Kau ini, aku kan tidak mungkin keluar dengan hanya memakai bra," kataku sebal.

"Terserah," kata Dustin, dan dengan santai dia membuka kaos birunya, melemparkanya padaku dan dengan sangat terpaksa aku menangkapnya, menggunakan tanganku yang lain, sementara tanganku yang satu menahan blouse di depan dadaku agar tidak terlepas.

Aku yang sudah sering melihatnya telanjang dada saat aku menjadi Luke tidak merasa terbiasa. Dia tetap selalu membuatku terpesona dengan ataupun tanpa kaos.

"Kulihat kau sangat terpesona padaku, Weasley," katanya.

"Memang, jadi kau harus cepat-cepat pakai baju dan membiarkan—"

Dustin tampaknya tidak mendengar karena dia sekarang sedang memakai sebuah kaos bergaris-garis aneh yang tidak jelas bentuknya. Dia memandangku dari cermin dan bertanya,

"Bagaimana menurutmu?"

"Aneh," kataku sebal.

"Bagaimana kalau kemeja hitam, yang sewarna dengan bra-mu," katanya, melirik ke cermin di belakangku pada punggungku yang terpampang jelas.

"Brengsek," kataku.

Dustin tertawa ceria dan mencoba kemeja hitam itu.

Sial, bagaimana ini! aku tidak bisa mengenakan blouse-ku selama Dustin masih ada dalam bilik ini. Aku memandang berkeliling dan mengutuk pemilik toko yang telah memasang cermin di semua dinding, termasuk di daun pintu.

"Bagaimana?" tanya Dustin, memandangku dari cermin.

"Apa?"

"Kemeja ini, Weasley?"

Aku menggeleng,

"Jelek sekali."

Dustin menghabiskan sepuluh menit mencoba semua baju, meminta pendapatku, dan aku menggeleng setiap kali dia bertanya.

"Weasley, jadi tidak ada satu pun dari pakaian-pakaian itu yang cocok untukku?" tanya sebal, setelah melepaskan sweater terakhir dan sekarang menghadapiku, memandang dengan jengkel.

"Apakah pendapatku penting?"

"Kalau tidak penting buat apa aku menahanmu di sini... kalau aku mau, aku sudah mengusirmu dari tadi dengan atau pun tanpa blouse-mu."

Aku mendelik padanya dan mengalihkan perhatianku pada pakaian digantungan.

"Semua pakaian itu sangat bagus di tubuhmu," kataku kesal. "Kau sudah tahu itu dan kau sengaja bertanya untuk mempermainkan aku, bukan?"

"Mempermainkanmu bagaimana?" dia bertanya.

"Kau hanya ingin berlama-lama bertelanjang dada di depanku karena kau tahu aku terpesona padamu, kan? Kau menikmatnya, kan?"

"Nah, nah, rupanya ada yang berotak kurang waras di tempat ini," katanya. "Weasley, kalau otakmu sudah tidak waras jangan melibatkan aku. Aku sebenarnya hanya ingin kau memilih salah satu baju untukku, tapi karena kau sudah gila, ya,—"

"Yang hitam, kemeja hitam," kataku, menyelanya, tidak ingin dia mempertanyakan tentang kewarasanku.

Dustin tersenyum licik.

"Kau memilih warna yang sama dengan bra-mu, ya, pilihan bagus, Weasley!"

"Brengsek!"

Dia tertawa, dan mengulurkan tangan untuk meminta kaos birunya. Dengan sebal aku melemparkan kaos itu dan tepat kena wajahnya.

"Weasley..." katanya, mendelik dan aku membuang muka.

Dia memakai kaosnya, merapikan rambutnya dengan sok dan memandangku.

"Baiklah, sampai jumpa di luar," katanya, lalu keluar membawa pergi semua pakaian yang baru saja dicobanya.

Aku segera memakai blouse-ku dan hendak keluar saat menyadari bahwa Rose tidak meninggalkan sepatu untukku. Dia lupa memberiku sepatu.

Sial, masa aku harus keluar tanpa alas kaki!

Aku merenung memandang diriku dalam cermin. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menunggu Dom, Rose, atau Al menyadari bahwa aku tidak muncul setelah tiga puluh menit.

"Weasley?" Dustin sudah masuk lagi setelah beberapa saat, membawa sebuah kantong belanja berwarna cokelat yang bertuliskan nama toko ini beserta alamatnya. "Ada apa? Mengapa kau cuma memandangi cermin, apakah kau sudah lupa bagaimana tampangmu sendiri? Atau kau sedang mengagumi betapa cantiknya dirimu dalam blouse biru itu... Jangan narsis seperti itu, Weasley! Secantik apa pun dirimu masih banyak yang lebih cantik darimu, di atas langit masih ada langit."

"Keluar!" jeritku, cowok ini sungguh-sungguh menyebalkan. "Keluar!" aku menghambur menghantam dadanya, tapi dia tidak bergeming.

Oke, mungkin aku harus menendang kakinya seperti semalam.

Aku menedang kakinya, tapi dia tidak bergeming juga.

"Kau tidak bisa menendangku tanpa sepatu runcing yang semalam, Cara," katanya, memegang tanganku.

"Lepaskan aku!"

"Mana sepatumu?" dia bertanya sambil memandang kakiku yang tanpa alas kaki.

"Aku tidak punya sepatu," jawabku, menyentakkan lenganku darinya, dan berjalan menjauh.

"Apa?" dia tampak terkejut, lalu memandang berkeliling, dan tentu saja, dia tidak akan menemukan apa pun yang berbentuk sama dengan sendal atau pun sepatu dalam bilik ini.

"Bagaimana kau bisa ada di sini?" dia bertanya, memandangku dari atas ke bawah. "Mana tongkat sihirmu?"

"Tidak ada..."

"Apa aku pernah bilang bahwa kau mencurigakan, Weasley? Dan kau memang sangat mencurigakan," katanya, mengawasiku lagi, mungkin mencoba mencari tahu mengapa aku bisa tiba-tiba muncul di bilik, tanpa tongkat sihir dan alas kaki. "Apakah kalau aku bertanya kau akan bilang bagaimana kau bisa ada di sini tanpa sepatu dan tongkat sihir?"

"Tidak."

Dia mengeluarkan tongkat sihirnya.

"Apa yang kau lakukan?" kataku, sedikit ketakutan. "Kau tidak bisa memaksaku mengaku walaupun kau memantraiku."

"Hei bodoh, buat apa aku memantraimu, kau mau tanpa alas kaki, atau tanpa baju, aku tidak peduli... aku mengeluarkan tongkat sihir karena ingin menyimpan tas ini," dia menunjukkan tas cokelat di tangannya.

"Oh..." kataku, lalu tertawa, sementara dia memantrai tas cokelat itu, mengirimnya duluan ke hotel.

"Ayo!" katanya, setelah menyimpan tongkat sihirnya. Dia mengangguk ke arah pintu menyuruhku keluar duluan.

"Er, aku di sini saja," kataku.

"Mengapa?"

"Ya, karena aku mau di sini," jawabku, aku ingin menunggu Dom, Rose, atau Al menjemputku.

Dia menarik lenganku, menyatukan jemariku dengan jemarinya dan hendak menyeretku keluar.

"Aku tidak mau," tolakku, menancapkan kaki pada lantai.

"Aku tidak bisa meninggalkan gadis bodoh sepertimu di sini," katanya dan setengah mengangkatku keluar.

Sesampai di luar bilik ganti, aku berusaha bersikap wajar, dan menghindar pandangan para Muggle yang heran melihatku keluar dari bilik ganti pria dengan seorang pemuda tampan yang cemberut, dan tanpa alas kaki. Apakah mereka berpikir Dustin dan aku baru saja beradegan panas di bilik ganti itu?

No way!

Dua orang pemuda Muggle yang tampan mulai memandangku, aku hendak tersenyum, tapi Dustin sudah menyeretku menjauhi mereka menuju seorang pelayan toko berbaju hijau. Dia berbicara dengan pelayan itu dalam bahasa Italia dan pelayan itu sesekali mengangguk dan memandangku.

"Kau bicara apa dengannya?" tanyaku, setelah pelayan itu masuk melalui sebuah pintu lain di sebelah kiri ruangan.

"Aku bilang padanya, kau adalah gadis bodoh yang membuang sepatumu di Grand Canal dan sekarang kau memerlukan sepatu baru."

"Apakah dia bertanya mengapa aku membuang sepatuku?"

"Ya."

"Dan apa jawabanmu?"

"Aku menjawab ini adalah masalah cinta, aku menolak cintamu, kau marah dan ingin bunuh diri. Karena takut mati kau akhirnya membuang sepatumu."

Aku menahan diri untuk tidak mengumpatnya dengan umpatan kotor yang pernah kudengar dari Teddy.

"Apakah dia percaya?" tanyaku setelah menarik nafas panjang.

"Aku meyakinkannya bahwa kau benar-benar gila," katanya, tak peduli.

"Kau..."

"Miss, coba sepatu ini,"

Si pelayan telah kembali membawakan sebuah sepatu tali berwarna hitam dan bertumit rata. Dia menyerahkan padaku sambil tersenyum. Aku mendelik pada Dustin. Kalau memang pelayan ini bisa bahasa Inggris, mengapa Dustin menggunakan bahasa Italia? Dia pasti ingin menjelek-jelekkan aku di depan pelayan ini. Agar dia tampak hebat dan disukai si pelayan cantik.

"Pakai sepatu itu, Weasley!" perintah Dustin tak sabar, setelah beberapa saat berlalu dan aku hanya mendelik.

"Aku tidak punya uang," kataku.

"Weasley, aku membelikannya untukmu."

"Apa?" tanyaku heran akan kebaikannya. Biasanya kan dia tidak pernah mengeluarkan setengah Euro-pun untukku. "Kau membelikanku sepatu?"

"Iya, Weasley, kau kan tidak ada punya uang... anggap saja seseorang sedang berbaik hati padamu dan—"

Aku segera mengalungkan tangan ke lehernya dan memeluknya dengan erat, kemudian segera melepaskannya setelah beberapa saat.

"Terima kasih, Dustin, kau memang sangat baik hati... aku sudah tahu," kataku tersenyum. "Meskipun cara bicaramu agak menyebalkan, tapi kau sangat baik... aku senang."

Berpaling darinya, aku segera mengambil sepatu dari si pelayan dan memakainya. Sepatu itu sangat pas dan sempurna di kakiku. Aku tersenyum senang memandang kakiku, dan membiarkan Dustin membayar tagihan.

"Bagaimana menurutmu?" tanyaku pada Dustin setelah pelayan itu pergi.

Dustin memandangku dari atas ke bawah dan tiba-tiba mendengus sebal.

"Jangan tanya aku, seharusnya kau bersyukur karena aku telah membelikanmu sepatu," katanya jengkel.

Aku memandangnya keheranan.

"Ada apa sih denganmu?" tanyaku. "Aku cuma bertanya, apa salahnya kau menjawabku dengan baik dan—"

"Aku tidak suka kau memelukku di depan umum..."

"Itu tanda terima kasih karena kau telah membelikanku sepatu. Di keluargaku, kami selalu berpelukan untuk menunjukkan bahwa kami sangat berterima kasih dan—"

"Tapi, aku bukan keluargamu."

"Ya, kau memang bukan keluargaku, tapi—"

"Jangan peluk-peluk aku di depan umum," kataku tajam.

"Itu karena pelayan Muggle tadi, kan?" kataku sebal. "Kau tidak ingin dia menganggapku sebagai kekasihmu, agar kau bisa menggodanya, kan?"

"Apa?"

"Jangan mengelak... kau ingin tebar pesona di Muggle itu dan—"

"Tutup mulut, Cara, semua Muggle mulai memperhatikan kita," desis Dustin pelan.

Aku memandang berkeliling, dan benar saja, sekali lagi kami menjadi pusat perhatian. Muggle-Muggle mulai memandang kami dengan ingin tahu dan dua orang yang sangat tidak ingin kutemui tiba-tiba muncul dari antara Muggle-Muggle itu dan memanggil,

"Dustin!"

Sara dan Linda segera mendekati kami.

"Aku mencari-carimu, Dustin," kata Sara, kemudian memandangku.

"Cara, kenalkan ini Sara dan Linda, teman-temanku," kata Dustin, tersenyum hangat padaku.

"Hai," kataku pada Sara dan Linda, tersenyum.

"Cara?" Sara memandang Dustin.

"Namaku Lucy," kataku segera. Aku curiga Cara sama artinya dengan bodoh/idiot, Dustin kan sering menganggapku bodoh.

Dustin tersenyum pada Sara.

"Oh," Sara memandangku dengan ingin tahu, kemudian mengangkat bahu. "Aku mengerti," katanya tersenyum pada Dustin, juga padaku, lalu memandang Linda, "Yuk, Lin, kita pergi!"

"Sebentar," cegat Dustin. "Apakah kalian melihat Luke?"

"Kupikir dia bersamamu," jawab Linda tak peduli, lalu dia dan Sara berjalan meninggalkan kami.

Aku memandang mereka menghilang di antara Muggle dan merasa heran.

"Mengapa dia pergi begitu saja?" tanyaku. "Kau kan berkencan dengannya—" Dustin mengangkat alis dan aku segera melanjutkan, "Aku melihatmu berciuman dengannya di dermaga semalam."

"Hubungan kami tidak serius," katanya.

"Yah, walaupun tidak serius, tapi kau kan berkencan dengannya, kau menciumnya dan—dia pergi begitu saja. Seharusnya tadi aku yang pergi bukan dia..."

"Mengapa kita membahas masalah ini? Ini bukan masalah besar."

"Bagiku ini masalah besar," kataku keras. "Ini masalah perasaan... Kalau aku Sara, aku sudah mengutukmu sampai mati..."

"Tapi kau bukan Sara."

"Ya, dan itu membuatku ingin pergi mengikutinya dan berbicara dengannya."

"Apa masalahmu sebenarnya? Seharusnya kau senang karena Sara dan aku sudah putus!"

"Aku tidak senang..." jeritku tertahan, dan segera tersenyum pada sepasang Muggle yang lewat di dekat kami.

Dustin menyambar lenganku, membawaku keluar toko, menuruni tangga Rialto Bridge dengan cepat, berhenti sesaat di bawah tangga, memandang berkeliling dan menyeretku menuju gang kecil di antara dua gedung tua yang jelek.

"Nah, sekarang jelaskan apa yang membuatmu tidak senang Sara dan aku putus," tuntut Dustin, setelah memastikan bahwa kami hanya berdua saja.

"Karena aku tidak ingin dia sedih..."

"kau tidak ingin dia sedih?"

"Ya, dia pasti sangat menyukaimu karena itu dia mencium... mungkin saja dia mencintaimu dan—"

Dustin memandangku seolah aku adalah anak kecil yang baru saja belajar berjalan.

"Weasley, Weasley, kau ini benar-benar sudah gila, ya—Kalau aku bilang kau tidak waras memang benar," katanya. "Apakah kau tahu kita berada di mana sekarang, Cara?"

"Brengsek," desisku, mendelik.

"Jawab saja, Cara, di mana kita sekarang?" katanya dingin. "Jawab aku, kalau tidak aku akan memaksamu menjawab dengan cara-cara yang tidak pernah kau bayangkan."

Kami bertatapan dan dia menang.

"Di Venesia."

"Muggle-Muggle yang berasal dari luar negeri itu sedang buat apa di sini, Cara?"

"Berlibur."

"Apakah mereka saling mengenal satu sama lain?"

"Tidak..."

"Nah, itu kau tahu..." katanya penuh kemenangan. "Sara dan aku tidak mengenal satu sama lain, kami tidak saling menyukai atau pun mencintai... Kami hanya berkencan untuk mengisi liburan, setelah itu kami akan saling melupakan dan tidak akan bertemu lagi."

"Kau menciumnya?"

"Lalu kenapa?" tanya Dustin tak sabar. "Aku memang menciumnya dan aku juga pernah mencium gadis-gadis lain sebelum dia... Dia juga pasti begitu, dia pasti punya teman kencan di Roma, Milan atau di mana pun tempat dia berlibur."

"Tapi, kalian berciuman," ulangku masih belum mengerti.

"Weasley, aku bisa menciummu sekarang dan melupakan bahwa aku pernah menciummu."

"Kalau seperti itu aku tidak akan membiarkanmu menciumku," kataku keras.

"Touch!" katanya, kemudian melanjutkan, "Sekarang kau mengerti, kan? Berkencan atau berciuman dengan seseorang itu bukan berarti kita harus mencintai orang itu setengah mati... Kalau kau menunggu cinta sejati kau tidak akan berkencan atau berciuman sampai kau berumur—bilang saja, 25 atau 30 tahun."

Aku memandang tembok di belakang Dustin dan berpikir bahwa kisah cinta seperti ini sangat aneh. Berkencan dan berciuman dengan seseorang hanya untuk mengisi liburan, belum ada yang seperti ini di keluargaku. Kisah ini lebih rumit dari kisah cinta Dom. Aduh, bisa-bisa aku sakit kepala memikirkan kisah cinta yang yang aneh. Aku yakin sekali aku bukan tipe Sara yang berkencan dengan seseorang hanya untuk mengisi liburan, aku juga bukan tipe Dom yang tidak mau mengakui cinta. Lalu aku apa dong?

Aku sudah bilang pada Dustin bahwa aku menyukainya, bahwa aku mungkin jatuh cinta padanya? Lalu, hanya itu nol, kosong, tidak ada kelanjutan apa-apa. Aku juga tidak mengerti apa yang seharusnya aku lakukan, Dustin juga tidak berkomentar malahan dengan giat dia meyakinkanku bahwa aku hanya terpesona saja.

Tetapi, menurutku cinta memang perlu, kalau sudah jatuh cinta baru boleh ada ciuman. Bukan asal cium saja, asalkan dia berjenis kelamin cowok (Sara) atau berjenis kelamin cewek (Dustin). Bukan asal berkencan saja mumpung lagi liburan. Bagiku cinta adalah yang utama, aku harus yakin dulu apakah aku benar-benar jatuh cinta pada seseorang, baru setelah itu berciuman dan aku harus yakin juga cowok itu, bukan tipe Dustin yang langsung meninggalkan ceweknya saat ingin meninggalkannya. Cowokku dan aku harus saling mencintai selamanya. Kok pikiranku seperti nenek-nenek? Sudahlah!

"Apakah menurutmu Sara dan Linda pernah jatuh cinta?" tanyaku, ingin mendengar komentarnya.

"Mana aku tahu!" katanya kesal. "Mengapa kau mengurusi kisah cinta orang lain, sementara kau sendiri tidak punya kisah cinta... Buat dulu kisah cintamu sendiri, setelah itu baru kau mengurus kisah orang lain."

"Karena aku tidak punya kisah cinta jadi aku belajar dari pengalaman orang lain," balasku. "Aku ingin menjadikan kisah cinta semua orang referensi untuk bisa memutuskan bagaimana kisah cintaku sendiri... untuk memutuskan apakah aku memang mencintai cowok menyebalkan sepertimu atau tidak."

"Bukankah semalam kita sudah sepakat bahwa kau hanya terpesona saja?"

"Memang, tapi kau sangat baik dan sangat tampan membuatku selalu terharu dan menyukaimu lagi."

"Oh, hentikan, ini belum saatnya makan siang, tapi dua orang telah mengatakan bahwa mereka sangat menyukaiku."

"Dua orang?" tanyaku pura-pura.

"Kau dan Luke," dia memandangku sekarang. "Dan kurasa kalian berdua sangat mirip, sama-sama bodoh dan sama-sama merepotkan."

"Hei, jangan memanggilku bodoh, mister," gertakku.

Cukup sudah aku tidak mau dipanggil bodoh lagi!

"Kau mau aku memanggilmu apa, Cara?"

"Cara? Jangan memanggilku begitu juga!"

"Kau tidak suka?"

"Tentu saja aku tidak suka, memangnya ada yang suka kalau seseorang memanggilnya bodoh?"

"Bodoh?" Dustin tampak bingung.

"Meskipun aku tidak bisa bahasa Italia, aku mengerti bahwa Cara artinya bodoh atau idiot. Jadi, aku berharap kau berhenti memanggilku begitu."

"Nah, itu baru namanya bodoh," katanya, tampak sangat menyebalkan.

"Kau—" aku menunjuk hidungnya.

"Tidak sopan menunjuk-nunjuk orang," katanya, mengibaskan tanganku. "Kau ini sama persis seperti Luke, tingkah lalu dan gaya bicara kalian juga sama. Apakah kau ada hubungannya dengan Luke?"

"Tidak, aku tidak mengenalnya," jawabku.

"Aku akan memperkenalkan kalian, kurasa kalian cocok, tapi kita harus mencarinya dulu," katanya agak cemas, memandang ke arah Rialto Bridge.

Dia mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jariku dan membawaku keluar gang.

"Er, Dustin, bisakah kau melepaskan aku?" kataku, setelah kami hampir tiba di kaki tangga Rialto Bridge.

"Tidak..."

"Aku masih punya urusan lain selain berkeliling toko mencari orang..." kataku sebal.

"Apa yang kau lakukan? Bukankah lebih baik begini dari pada kau terus menguntitku."

"Aku tidak menguntitmu," aku menyentakkan tanganku, tapi tidak berhasil melepaskan diri. "Aku kebetulan saja ada di sini dan aku—"

"Sial, ke mana sih dia?" umpat Dustin tampak kesal dan sekaligus cemas dan sama sekali tidak menghiraukan aku.

"Kau tidak mendengarku?" tanyaku. "Aku tidak menguntitmu dan aku ingin pergi denganmu!"

"Ayo."

Kami menaiki tangga, aku melihat Dom, Rose dan Al, sedang duduk di anak tangga nomor dua dari bawah berpura-pura memandang kerumunan Muggle yang lalu lalang, padahal mereka memandangku. Aku menggelengkan kepala karena aku tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman Dustin.

Selama satu sekitar dua jam, kami masuk-keluar toko di sepanjang Rialto Bridge, bertanya pada pelayan satu dan pelayan yang lain tentang Luke, tapi tidak menemukannya. Wajar saja, Luke kan ada di sampingnya hanya dia tidak menyadarinya. Selama masuk keluar toko mencari Luke, Dustin bercerita tentang Luke yang sangat mirip denganku dari segi kebodohan dan keanehan. Luke sangat merepotkan, tapi sangat baik hati, membantunya untuk tetap waras selama dia ada di Venesia. Selama ada orang bodoh di dekatnya, dia merasa diri waras dan berotak. Luke selalu ada di dekatnya dan dia senang bersama Luke lebih daripada siapa pun.

"Lebih daripada bersamaku?" tanyaku, lama-lama kesal terhadap Luke ini, karena Dustin bercerita tentang Luke dengan sangat berapi-api.

"Benar," jawabnya ceria, membuatku ingin menghantamkan kepalanya di pagar jembatan.

Dia juga bercerita tentang Luke yang sering memandangnya dengan terpesona, tapi dia tidak keberatan.

"Itu karena kau gay," kataku kesal.

Dustin tampak benar-benar marah.

"Aku bukan gay, Cara, dan aku bisa membuktikan padamu bahwa aku laki-laki normal," desisnya di telingaku, membuat seluruh darah terpompa ke wajahku.

Setelah itu aku tidak berkomentar apa-apa lagi, dan mencoba kabur, tapi dia jari-jarinya mengunci jari-jariku dengan kuat, jadi aku tidak bisa ke mana-mana. Meskipun berpura-pura ke kamar mandi, dia tetap menjagaku di depan pintu kamar mandi, seperti anjing penjaga yang menyebalkan. Namun setelah dua jam berlalu, Dustin tampak sangat cemas membuatku sangat bersalah. Dia sangat mencemaskan Luke, dan aku malah berpura-pura tidak tahu.

"Mungkin dia sudah pulang ke hotel," kataku, berusaha membuat Dustin melupakan Luke, saat kami sedang turun tangga.

"Kau benar," katanya, tampak lega dengan ide itu. "Ayo, kita harus ber-Apparate dan mengeceknya di hotel."

"Tidak, aku tidak mau ikut denganmu," kataku, mencoba membebaskan jari-jariku, tapi tidak berhasil. "Itu kan urusanmu... mengapa kau harus membawaku?"

Dia memandangku dengan agak heran.

"Entahlah, aku merasa bahwa aku harus membawamu, Cara," katanya. "Mungkin karena kau sama bodohnya dengan Luke, jadi kalau aku membiarkanmu kau juga akan tersesat."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, aku baik-baik saja," kataku.

"Tidak, Cara, kau tidak baik-baik saja."

"Mengapa aku tidak baik-baik saja?"

"Karena kau tidak punya tongkat sihir, tidak punya uang, tidak punya apa-apa."

"Oke, aku tahu itu, tapi aku tidak akan menemanimu ke hotel untuk mengecek orang yang jelas-jelas tidak ada di sana."

"Orang yang jelas-jelas tidak ada di sana?" dia bertanya memandangku dengan heran.

"Er, maksudku, dia itu cowok. Kau pasti tahu apa yang cowok-cowok lakukan, Dustin... Luke pasti sekarang sedang bersenang-senang dengan cewek atau berjalan-jalan. Dia kan bukan anak kecil lagi, dia pemuda dewasa, lagipula dia bisa menyihir dan punya tongkat sihir. Buat apa kau mencemaskannya?"

"Tetapi dia tidak bisa bahasa Italia, dia juga sangat bodoh."

"Sebodoh-bodohnya dia, dia pasti bisa menggunakan tongkat sihir untuk ber-Apparate," kataku, semakin kesal pada Dustin yang terlalu cemas secara berlebihan.

Dia memandangku sesaat dan mengangguk.

"Yeah," katanya. "Kau benar sekali, Cara, kalau begitu aku akan mentraktirmu makan siang."

"Tidak, aku tidak lapar," pada saat yang sama perutku berbunyi dengan keras.

"Kau kelaparan, Cara," katanya, tersenyum menyebalkan.

"Tidak, kalau kau membiarkanku di sini aku bisa—"

"Ayo, restoran Antico Greco, menunggu kita," katanya, menarikku menuruni tangga dengan cepat, menuju gang di antara dua gedung tua dan membawaku ber-Apparate di Antico Greco, tempat Antonio Orsoni, target kedua kami bekerja.


Cara: Sayang


REVIEW PLEASE! See you in KNG 4 chapter 6

Riwa Rambu :D