Terima kasih sudah me-review KNG 4 chapter 5; CN Bluetory, Putri, Widy, Yosephineee, Nafau Chance, SpiritSky, SeiraAiren, zean's malfoy, qeqey, ochan malfoy, Cecilia Chang, megu takuma, vallerina lovegood, yiyituwi, bluish3107, tinaWeasley, DarkBlueSong, Rise, atacchan, YaotomeShinju, Devia Purwanti, aniranzracz, Sarah Ryuu VictoirELF, guest:D

Selamat membaca chapter 6 dan review (apa saja), ya!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 6

Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Restoran Antico Greco

Waktu: 12.15 pm

Restoran Antico Greco adalah sebuah restoran kecil, tapi sangat klasik. Bangunan restoran ini dibangun sangat tinggi, mirip dengan bangunan gereja di Inggris. Interior dalamnya juga mirip geraja, dengan langit-langit tinggi, karpetnya berwarna merah sudah pudar, dan meja kasir yang mirip mimbar. Meja dan kursinya terbuat dari kayu yang dipernis mengkilat dan berukir. Jendela-jendelanya lebar menampilkan pemandang ujung lain Grand Canal, yang berbeda dengan di Rialto Bridge. Di sini suasananya tampak sepi, tidak ada gondola, perahu motor, bus air atau apapun yang lewat di canal, hanya ada beberapa burung hitam yang beterbangan dan mengeluarkan kaok yang berisik.

Dustin dan aku duduk di salah satu meja di dekat jendela. Dia memesan makanan aneh yang mirip beef steak, tapi menurutnya nama makanan itu bukan beef steak karena makanan itu harus dicelupkan dalam saus aneh berwarna hitam yang dicampur dengan anggur putih. Sementara itu, aku memesan spaghetti, makanan yang sudah kukenal dan tidak perlu dicelupkan dalam anggur putih, anggur merah atau apapun.

Aku memandang berkeliling dan menyadari bahwa kami adalah satu-satunya tamu di restoran ini. Tidak ada Muggle-Muggle lain, tidak ada Dom, Rose dan Al, tidak ada apa-apa. Meja kasir kosong, pelayan Muggle yang telah mengantarkan makanan sudah menghilang ke dalam dan tidak muncul-muncul lagi. Suasana benar-benar sepi dan hening, seolah hanya kami berdualah manusia di dunia ini. Tiba-tiba aku teringat cerita hantu yang pernah diceritakan Dustin padaku, tentang salah satu restoran di Venesia. Restoran yang sama sekali bukan restoran, kalau kita masuk ke dalam dan memakan makanannya, kita akan hilang untuk selamanya.

"Apakah ini tempatnya?" tanyaku menggigil, memandang berkeliling dengan ngeri.

"Apa?" tanya Dustin tak peduli, asyik mengunyah.

"Restoran yang bukan restoran itu... restoran hantu," bisikku pelan.

"Apa?" dia memandangku keheranan, kemudian tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema di langit-langit tinggi.

Aku memandangnya sebal.

"Kau sendiri yang bilang ada restoran yang bukan restoran dan kalau kita masuk ke dalamnya kita bisa menghilang selamanya," kataku jengkel.

"Kapan aku pernah bilang padamu?" dia bertanya, memandangku dengan curiga. "Kita kan baru bertemu dua kali, dan di dua pertemuan itu aku tidak pernah bercerita tentang restoran aneh berhantu padamu."

"Oh ya? Benarkah?" tanyaku, pura-pura berpikir, berharap dalan hati bahwa dia tidak ingat pernah mengatakannya pada Luke. "Berarti bukan kau yang pernah mengatakannya padaku..."

Dustin mengangkat alis, melanjutkan memotong beef steak-nya, mencelupkannya di saus hitam itu, dan menyantapnya dengan lahap seolah tidak ada interupsi, sedangkan aku masih memandang berkeliling dengan cemas.

"Jadi, menurutmu mengapa tidak ada orang lain di restoran ini, apakah mereka yang sudah makan di sini akan menghilang?"

"Idiot," katanya, dan sambil masih memegang garpunya dia mendorong keningku dengan ujung jari, membuat kepalaku terdorong ke belakang. "Lihat sekelilingmu, Cara, restoran ini sepi karena sekelilingnya juga sepi. Letak restoran ini bukan di pusat keramain, jadi tidak ada wisatawan yang singgah di sini. Dan, restoran ini tidak berhantu, kalau itu yang kau khawatirkan."

Aku mendesah lega dan tersenyum.

"Terima kasih, Dustin," kataku senang, kemudian menunduk untuk menyantap spaghetti.

Ketakutanku ternyata berlebihan, restoran sepi karena sekelilingnya juga sepi, kalau sekeliling ramai pasti restoran juga ramai. Itu kan hukum dagang, aku saja yang bodoh, menghubungkan suasana sepi dengan hantu-hantu Muggle yang menyeramkan.

Beberapa saat tak ada yang bicara, aku mengangkat muka dari makan siangku dan menyadari bahwa Dustin telah selesai makan dan sekarang sedang memandangku.

"Apa?"

"Mulutmu belepotan saus," katanya. "Bisakah kau makan dengan berhati-hati agar tidak mengotori mulutmu?"

"Semua orang kalau makan spaghetti pasti mulutnya belepotan," kataku sebal. "Ayo makan, aku ingin lihat apakah mulutmu tetap bersih tanpa saus atau tidak," aku mengulurkan garpu berlilitkan spaggeti ke arahnya.

Dia mundur, dan memandangku dengan jijik.

"Hentikan!"

Aku segera menurunkan tangan dan menyuapkan spaggeti itu ke mulutku, membuat Dustin semakin jijik.

"Bersihkan mulutmu!"

"Nanti, habis makan," kataku sebal, kemudian menyedot jus jeruk yang ada di sebelah piringku.

"Kau ini, sini!" Dustin segera mengeluarkan sapu tangannya entah dari mana dan mengulurkan tangannya yang bersapu tangan untuk membersihkan mulutku. "Jangan bergerak aku akan membersihkan mulutmu!"

Aku menunggu sampai dia selesai membersihkan mulutku, lalu berkata,

"Sama saja... sebentar juga kotor lagi," aku menyuapkan spaghetti lagi dan Dustin mendengus,

"Kalau begitu cepat habiskan!"

Aku menunduk, menyuap, cepat-cepap mengunyah, menelan, menyuap lagi dan tersedak.

"Bagus!" kata Dustin tak peduli.

Sial, ada apa sih dengan cowok ini? Tadi sangat peduli, sekarang sama sekali tidak peduli.

Masih tersedak, aku menepuk dadaku sendiri, cepat-cepat menyedot jus jerukku sampai habis, lalu mengumpat pelan.

"Aku ingin tambah jus jeruk," kataku.

"Pergi ke dapur dan pesan sendiri," katanya sebal.

Aku mendelik, lalu berdiri hendak ke dapur.

"Tunggu," katanya, ikut berdiri, mendekatiku dan membersihkan mulutku dengan sapu tangan. "Aku tidak ingin kau muncul di depan Muggle-Muggle itu dengan mulut belepotan saus... Nah, pergilah, Cara!"

"Terima kasih, Dustin, kau orang baik," kataku tersenyum cemerlang, kemudian melanjutkan sambil menempuk lengannya, "Aku memang suka padamu."

Habis berkata begitu aku segera berjalan menuju ke dapur, ke bagian dalam restoran. Di dapur itu hanya ada dua orang. Keduanya mengenakan pakaian koki warna putih beserta topi, dan mereka sedang mengupas kentang di sebuah meja lebar di dekat pintu dapur. Aku segera mendekati mereka.

"Hai," sapaku.

Mereka mengangkat muka dan aku menyadari bahwa satu orang dari mereka adalah Antonio Orsoni. Orsoni adalah seorang pemuda yang tampan, layaknya orang Italia pada umumnya; rambut dan mata hitam. Dia memiliki mata yang ramah dan ceria, mengingatkanku pada Dustin saat masih di Hogwarts. Sementara temannya adalah seorang pria kurus dan sudah beruban di hampir seluruh rambutnya. Memandang Orsoni, aku tersenyum, ini kesempatanku untuk berkenalan dengannya dan mencari tahu apakah dia Terry atau bukan.

"Posso aiutarla, Signorina?" tanya teman Orsoni, dan aku segera mengalihkan padanganku padanya.

"Er—"

"Ada apa, Miss?" tanya Orsoni, dalam bahasa Inggris yang berlogat Italia.

Oh syukurlah, dia bisa bahasa Inggris.

"Maafkan aku, aku ingin memesan jus lagi, tapi karena tidak ada orang di meja kasir, aku langsung masuk ke sini dan—"

"Tidak ada orang?" ulang temannya, juga dalam bahasa Inggris berlogat Italia. "Seharusnya Maria ada di meja kasir, ke mana dia?"

"Mungkin dia di kamar mandi," kata Orsoni, meletakkan pisaunya, kemudian melepaskan sarung tangannya.

"Aku akan mengeceknya," kata temannya, segera melakukan hal yang sama dan berjalan keluar.

"Kau ingin pesan jus, Miss," kata Orsoni.

"Panggil saja aku Lucy," kataku, mengulurkan tangan.

"Antonio," katanya, sambil menjabat tanganku.

"Duduklah," katanya tersenyum, menunjuk kursi kosong di dekatnya. "Aku akan mengambilkanmu jus jeruk."

"Terima kasih," kataku, lalu duduk, sementara Antonio masuk ke lebih jauh ke dalam dapur.

Aku tidak bisa melihat karena pandanganku terhalang tirai, seperti jaring gelap yang di letakkan sebagai pemisah ruang. Beberapa saat kemudian, Antonio kembali membawa jus jeruk untukku, juga segelas minuman berwarna cokelat bening untuknya.

"Terima kasih," kataku, saat dia duduk di depanku.

"Sendirian?" dia bertanya, setelah menyesap minumannya.

"Bersama teman, dia ada di depan," jawabku, lalu cepat-cepat memulai percakapan, "Restoran ini sepi, ya?"

"Begitulah," jawab Antonio, memandang berkeliling dengan agak sedih. "Sebentar lagi restoran ini akan ditutup untuk selamanya... Padahal bangunan ini sudah berdiri sejak jaman Renaissance—"

Aku tidak tahu apa itu Renaissance, dan aku tidak ingin bertanya.

"Dulu ini adalah bangunan gereja, ayah Pietro—temanku tadi—membelinya dan menjadikannya restoran. Restoran ini sempat terkenal pada lima puluh tahun yang lalu, namun seiring berjalannya waktu segalanya berubah; semakin lama restoran ini semakin sepi pelanggan dan akhirnya pelanggannya pergi untuk selamanya membuat Pietro memutuskan untuk menutup restoran ini."

"Padahal ini adalah restoran keluarga," kataku, merasa kasihan pada Pietro.

"Ya, memang, tapi restoran ini tidak bisa bersaing dengan restoran-restoran yang ada di sekitar Rialto Bridge."

"Tapi menurutku restoran ini unik dan romantis," kataku.

"Ya, kurasa memang begitu," katanya.

"Mungkin banyak pasangan-pasangan kekasih yang tidak tahu tentang keberadaan restoran ini. Kalau mereka tahu, mereka pasti akan datang ke sini. Apakah kalian tidak mengiklankan tempat ini?"

"Dulu iklannya ada, tapi sudah lama kami tidak mengiklankan tempat ini lagi."

"Kurasa kalian harus lebih mengiklan tempat ini, dan merenovasi agar lebih romantis... Cobalah untuk lebih mengutamakan kenyaman untuk pasangan yang sedang berkencan," kataku, menuruti instingku yang tidak terlalu meyakinkan karena aku bukan ahli dalam bisnis restoran.

"Kau memang benar, Lucy," katanya, mengangguk. "Kami memang sudah memikirkan hal itu, tapi untuk melakukan hal itu—merenovasi, seperti yang kau katakan tadi—memerlukan biaya. Dan kami tidak punya uang... Lihat saja restoran ini, di sini hanya ada Pietro, Maria dan aku, pelayan yang lain sudah mengundurkan diri karena Pietro sudah tidak mampu membayar mereka..." dia memandang berkeliling dan menambahkan dengan sedih. "Ini adalah restoran miskin, tanpa pengunjung dan sebentar lagi akan bangkrut."

Aku memandangnnya dan ikut merasakan kesedihannya. Di mana-mana uang atau Galleon memang sangat dibutuhkan, baik penyihir ataupun Muggle memang sangat membutuhkan uang/Galleon. Jangan kira karena kami penyihir kami bisa menyihir Galleon begitu saja dari udara kosong, kami tidak bisa, karena Galleon, seperti juga makanan dan pakaian adalah tiga hal dari Lima Perkecualian Hukum Gamp tentang Transfigurasi Eksperimental. Hah, kok, aku jadi seperti Molly! Memandang Antonio lagi, aku bertanya,

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau restoran ini tutup?"

"Entahlah, mungkin aku akan melamar kerja di restoran lain, atau di hotel, di mana saja yang membutuhkan tenagaku," katanya.

"Bersabarlah, Antonio," kataku menepuk lengannya. "Kau pasti akan berhasil suatu saat nanti!"

"Terima kasih, Lucy..."

Setelah terdiam beberapa saat, aku memutuskan sekarang saatnya untuk bertidak sebagai penjudi sejati, membuang koin taruhan dan menunggu bandar membuang kartu terakhir. Apakah kartu terakhir adalah kartu King, lalu kemenangan ada dipihakku; atau bandar akan membuang Lima Klaver, dan aku akan segera meninggalkan meja. Dalam hal ini, aku mempertaruhkan cinta Dom pada Terry dan sebaliknya, cinta Terry pada Dom, setelah itu aku akan menunggu apakah laki-laki adalah Terry atau bukan.

"Omong-omong, Dominique ada di Venesia," kataku, membuang taruhan. "Dia datang untuk mencarimu, kalau kau mau menemuinya kau bisa datang di kamar nomor 14 hotel Lokanda Salieri."

"Apa?" Antonio tampak benar-benat tercengang. "Apa yang kau bicarakan?"

"Antonio, aku senang berbincang-bincang denganmu," kataku tersenyum ceria, dan menepuk lengannya lagi.

"Er, ya aku—" dia ingin bicara sesuatu, tapi tidak jadi karena sesuatu yang dilihatnya di belakangku membuatnya berhenti bicara.

Aku berbalik dan melihat Dustin sedang berdiri di sana. Dia kelihatan sangat marah, bukan, menurutku dia sangat murka; mata tajam siap mendahului pembunuhan dan suaranya sedingin es yang bisa membekukan tulang.

"Cara, aku menunggumu dan kau tidak juga kembali."

Dasar Dustin, masih saja dia memanggilku Cara/Idiot di depan orang!

"Dia memang suka memanggilku idiot," aku menjelaskan pada Antonio yang sama sekali tidak terpengaruh pada kegarangan Dustin, dan hanya memandangnya dengan ingin tahu.

"Idiot?" ulang Antonio bingung memandangku.

"Baiklah, Antonio, sampai jumpa!" kataku tersenyum, lalu kembali pada Dustin.

Dustin lalu mengaitkan jemari kami dengan erat, membawaku melewati pelayan wanita berambut hitam di meja kasir—Maria, atau siapa namanya—hendak menuju pintu keluar.

"Er, apakah kau sudah membayar tagihan kita, Dustin?" tanyaku, tersenyum pada Maria, yang tidak membalas tersenyum, tapi memandangku dengan tertarik.

"Aku tidak tahu kau mengkhawatirkan hal-hal seperti itu," jawabnya dingin.

Aku ingin bertanya ada apa dengannya, tapi tidak jadi, karena aku tidak mau dia memarahiku di depan Maria yang tampak sangat tertarik menonton drama.

Kami melewati pintu dengan cepat dan dia langsung menyemburku setelah tiba di luar.

"Apa yang kau lakukan dengannya di dapur? Mencoba untuk menggodanya, menarik perhatiannya? Berpakain seperti ini, duduk di sana sambil melipat kaki, kau ingin mempertontonkan pahamu padanya, agar dia menganggapmu menarik? Merasa depresi karena tidak punya kisah cinta, jadi kau duduk di sana untuk menjual tubuhmu? Apakah kau tahu apa yang dipikiran laki-laki, Weasley?"

Dia tidak menungguku untuk menjawab, tapi melanjutkan semburannya yang mematikan.

"Dia itu hanya menginginkan tubuhmu, laki-laki mana pun pasti akan senang kalau ada gadis cantik mempertontonkan tubuhnya. Kau tidak tahu bagaimana dia memandangmu, hah? Dia memandangmu seperti ingin memakanmu dan kau—kau terus saja menggodanya. Mengapa kau tidak menggantung papan harga di lehermu?"

Dia berhenti untuk menarik nafas, dan aku berdiri di sana bercucuran airmata dan merasa sengsara dan sangat menderita. Tidak ada lagi Dustin-ku yang baik hati, yang kusukai, tidak ada lagi Dustin-ku yang membeliku sepatu dan membersihkan mulutku dari saus spagetti. Yang ada di sini sekarang adalah setan jahat yang lebih mengerikan dari hantu-hantu Muggle.

"Hapus airmatamu!" bentaknya.

Bukannya berhenti airmataku terus mengalir dan mengalir, dadaku sangat sakit dan benar-benar sakit. Ya, hatiku sangat sakit, dan sakitnya begitu dalam sehingga aku merasa sedikit pusing. Seluruh diriku, jiwa juga tubuhku, seperti melayang masuk dalam neraka bertemu raja neraka itu sendiri dan mengalami penderitaan yang mematikan, menghanguskanku dan membuatku menjadi abu dalam sekejap.

Dalam pandanganku yang kabur oleh airmata, aku bisa melihat Dustin yang masih berwajah garang. Menatap mata abu-abunya yang berkabut, aku berpikir bahwa dia dengan mudah sekali bisa membuatku terjun dalam neraka, dia dengan mudah sekali bisa menghanguskan dan menghancurkanku hanya dengan kata-kata yang dia ucapkan. Mengapa bisa seperti itu? Apakah karena aku terpesona padanya? Apakah karena aku menyukainya? Atau mungkin karena aku, seperti kata Dom, sudah jatuh cinta padanya? Sakit dihatiku membuatku mengerti bahwa aku tidak mungkin sangat menderita kalau aku tidak jatuh cinta padanya. Aku pasti sudah jatuh cinta padanya.

"Dustin," kataku serak.

"Apa?"

"Aku ingin tanya satu hal?"

"Apa?" gertaknya. "Kau ingin tahu mengapa Antonio Orsoni memandang kakimu? Itu karena rok yang kau kenakan ini. Kau bahkan tidak mengenakan stoking atau pun celana pendek. Apakah kau ingin menunjukkan celana dalammu padanya?"

Nah, itu kan? Dia menghancurkanku lagi!

Menurutnya aku hanyalah perempuan murahan yang senang menggoda pria. Dia pasti berpikir seperti itu karena aku mengumbar perasaanku padanya. Dia pasti berpikir aku cewek yang suka mengumbar perasaan di setiap laki-laki yang kutemui.

"Bukan, aku bukan ingin bertanya tentang Antonio atau siapa pun. Aku ingin bertanya tentang dirimu," aku menarik nafas. "Sudah sekitar dua minggu ini aku ingin bertanya tentang hal ini, aku ingin tahu mengapa kau selalu marah padaku, mengapa semua yang kulakukan selalu salah di matamu, mengapa kau bukan Dustin seperti yang pernah dikatakan Molly, yaitu bahwa kau baik hati, cepat berteman dengan siapa, berpikiran terbuka dan—"

"Kau ingin tahu?" bentaknya. "Itu semua karena kau, kau yang selalu memicu kemarahanku. Memelukku di tempat umum masih wajar, tapi menunjukkan celana dalammu pada seorang yang tidak kau kenal itu sama sekali bukan hal yang wajar—"

Sudah cukup... aku akan menghentikan semua ini!

Aku menghapus airmataku dengan kasar dan memandangnya dengan tegar.

"Dustin, bisakah kau membawaku ber-Apparate kembali ke Rialto Bridge?" pintaku.

"Kenapa?"

"Karena aku ingin pulang, aku mau pulang... Kumohon, antarkan aku pulang, tolong!"

"Bagus... aku juga mau pulang!"

Dia menyambar lenganku dan kami ber-Apparate.


Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Rialto Bridge

Waktu: 1.37 pm

Rialto Bridge masih sama seperti sebelumnya. Muggle-Muggle masih berkeliaran di jalan-jalan, naik tangga dengan penuh semangat dan turun tangga dengan tas-tas penuh belanjaan yang tentu memuaskan mereka. Tidak ada yang memperhatikan bahwa dua orang penyihir muda baru saja ber-Apparate di gang kecil di antara dua gedung tua. Satu adalah seorang pemuda tampan yang berwajah garang karena kemarahan yang belum tersalurkan dengan sempurna dan satunya adalah seorang gadis menyedihkan, bermuka pucat, dengan sisa airmata di wajahnya. Gadis itu adalah aku.

Aku akhirnya tahu, selama ini akulah yang memicu kemarahannya. Aku yang membuatnya berubah dari Dustin yang penuh semangat dan ceria, menjadi Dustin yang pemarah dan menyebalkan. Semua gara-gara aku, dalam wujud Luke mau pun dalam wujud Lucy—aku—pribadikulah yang membuatnya marah. Kalau diingat-ingat lagi, semua ini bermula dari saat di bus air itu, aku mabuk laut dan membuatnya kecewa karena aku bukanlah yang dikiranya, yaitu kurir permata ilegal dan berpengalaman dalam menguntit orang-orang terkenal. Yah, kurasa ini adalah masalah kebodohan. Kebodohankulah yang membuatnya marah, otakku yang tidak cerdas inilah yang membuatnya marah, kerepotan yang kubuatlah yang membuatnya marah, dan segala sesuatu tentangku membuatnya marah. Bahkan dia marah melihatku berbicara dengan Antonio, menganggapku sedang menunjukkan celana dalamku pada orang tak dikenal.

Kalau disimpulkan, aku adalah orang yang sangat tidak disukainya. Padahal perasaanku adalah sebaliknya, aku sangat menyukainya, bahkan mungkin sudah jatuh cinta padanya. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus pergi dan melupakan semuanya, apakah aku harus membiarkan perasaanku hilang bersama berlalunya waktu? Tetapi aku adalah pribadi yang sedikit keras, aku adalah si preman Lucy, aku harus tahu dulu kebenarannya baru aku menyimpulkannya dengan benar. Apakah dia memang membenciku, atau hanya sekedar marah, tapi masih ingin berteman denganku. Aku tidak ingin sakit hati tanpa mengetahui kebenarannya. Lagi pula, aku adalah penjudi siap mempertaruhkan segalanya untuk kebenaran kecil ini. Aku siap mempertaruhkan hubungan kami yang rasanya sangat manis ini untuk kebenaran kecil, apakah dia menyukaiku atau tidak. Apakah kali ini bandar akan membuang kartu King dan kemenangan dipihakku; ataukah Lima Klaver yang bisa membuatku kalah dan mundur dengan teratur.

Aku mengangkat muka memandangnya.

"Dustin, aku ingin bicara denganmu!"

"Sekarang kau sedang bicara, kan?" katanya kasar, masih memandangku dengan marah.

"Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku?" kataku. "Kau tahu aku menyukaimu, terpesona padamu, dan aku—aku sudah jatuh cinta padamu. Karena itu, kau dengan mudah sekali bisa menyakitiku dan menghancurkan perasaanku... Kata-kata yang kau ucapkan tadi tentang aku yang sedang menggoda Antonio, membuatku merasa hancur dan—"

"Antonio? Kau memanggilnya Antonio? Berapa dia membayarmu hah?"

Kau dengar itu, Diary, dia bahkan tidak menghiraukan aku. Dia bahkan menyakitiku lagi.

"Jadi, apakah kau menyukaiku atau tidak?" tanyaku setelah menarik napas berat. "Jawab aku sekali ini saja, jawablah dengan jujur. Aku tidak keberatan dengan apapun yang akan kau katakan. Aku adalah Lucy Weasley yang selalu kalah dalam setiap perjudian, tapi aku tidak akan terpuruk dan menderita, aku akan baik-baik saja. Jadi, Dustin, Apakah kau menyukaiku?"

"Aku tidak menyukaimu," jawab Dustin tepat di wajahku langsung dan tanpa berpikir. "Bagaimana aku bisa menyukai cewek yang menjual dirinya?"

Bagus, jantungku sekarang sudah berdarah sangat banyak dan tidak bisa dibalut dan mungkin tidak bisa disembuhkan lagi.

Aku kalah lagi, kan, aku sudah bilang bahwa aku tidak pintar dalam perjudian. Bandarnya memang sedang membuang kartu Lima Klaver, bukan kartu King. Taruhan sudah dimenangkan, Dustin dan aku tidak akan bisa kembali seperti sebelum kejadian ini. Kami sudah berakhir.

"Terima kasih, Dustin..." kataku, berdiri tegak dan menatapnya tanpa airmata dan tanpa penyesalan. Aku sengaja menjaga agar tampilan wajahmu kosong dan tak berekspresi. "Aku ingin kau berjanji untuk tidak menyapaku kalau satu saat nanti kita bertemu lagi."

Dustin tidak berkata apa-apa, wajahnya telah berubah dari garang menjadi sepucat kapas.

"Lucy, Cara, dengarkan aku, beri waktu padaku untuk berpikir, oke?"

"Berjanjilah, Dustin, berjanjilah untuk tidak menyapaku kalau kita bertemu lagi!"

"Dengar, apakah kau suka memaksakan kehendakmu seperti ini? Apakah kau tidak pernah membiarkan orang lain untuk berpikir?"

"Kau mau berpikir apa lagi? Memikirkan kata-kata lain untuk menghina dan menghancurkanku? Kau ingin membuatku lebih sakit hati dari yang telah kau lakukan sekarang?"

Dustin mencengkram lenganku.

"Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku selesai berpikir, ada beberapa hal yang masih membingungkanku, membuatku mencampurkan semua kejadian yang yang telah terjadi. Ada beberapa hal membuatku merasa bahwa aku sudah mengenalmu dan—ADUH!"

Aku telah menggigit lengannya dengan kuat, dia melepaskan lenganku dan aku berlari kencang menjauhi gang, sementara Dustin menjerit kesakitan di belakangku. Masih tak menghiraukannya, aku menyusup di antara Muggle-Muggle yang berseliweran di sekitar Rialto Bridge dan berusaha lari sejauh mungkin darinya. Aku ingin menghilang dan tidak ingin bertemu dengannya lagi untuk selamanya. Aku juga tidak akan membiarkan airmataku mengalir lagi, semua sudah selesai, sudah cukup. Aku tidak ingin memikirkan cinta lagi dan memikirkan Dustin lagi. Kisah cintaku telah berakhir, koin taruhanku sudah habis saatnya untuk kembali dan memfokuskan diri pada tujuanku sebenarnya. Tujuan sebenarnya aku datang ke tempat ini, yaitu untuk mencari Terry. Lucy sudah mati, tidak ada lagi Lucy di Venecia. Lucy di sini adalah hanya mimpi, saatnya untuk menjadi Luke dan kembali membawa kemenangan.

Aku terus berlari, berhenti untuk menarik nafas, berbalik dan melihat Dustin sedang mencari-cariku di antara Muggle-Muggle.

Sial! Apakah cowok ini tidak pernah menyerah?

Menjauhi Muggle-Muggle, aku segera melompati dua anak tangga untuk turun di bawah jembatan Rialto Bridge. Tempat itu sepi, lembab dan agak gelap karena cahaya matahari terhalang jembatan. Di dinding bawah jembatan tampak berbagai grafiti aneh-aneh yang bertuliskan bahasa-bahasa Italia bercampur Inggris, dan juga gambar-gambar menyeramkan yang membuat suasana terasa lebih mencekam dan menakutkan. Di belakangku contohnya, ada gambar aneh, mirip setan perempuan bermata merah tanpa rahang dan bermulut lebar sampai ke telinga dengan gigi-gigi runcing.

"Lucy!" Dom, Rose dan Al muncul dari balik Jubah Gaib.

Aku tersentak dan hampir saja pingsang ketakutan.

"Dari mana saja? Kami mencari-carimu?" tanya Dom, tampak khawatir. "Kau baik-baik saja, wajahmu pucat?"

"Dustin dan aku makan siang di Antico Greco, dan aku baik-baik saja," jawabku cepat.

"Antico Greco? Tapi mengapa kau tidak memberitahu kami?"

"Aku tidak sempat memberitahu kalian, Dustin membuatku tetap berada di sampingnya," jawabku. "Bisakah kita segera kembali ke hotel? Aku perlu bicara dengan kalian semua, ini penting!"

Mereka berpandangan.

"Baiklah," kata Dom, sementara Rose mengeluarkan tongkat sihirku dari tas manik-maniknya, lalu menyerahkannya padaku.

"Ayo, kita pergi," kataku bersyukur, menyambar lengan Rose dan ber-Disapparate ke kamar nomor 14 hotel Lokanda Salieri.


Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri

Waktu: 2.03 pm

Rose dan aku muncul di kamar hotel dan diikuti oleh Dom dan Al sedetik kemudian. Setelah menendang lepas sepatu tali berwarna hitam yang dibeli Dustin, aku segera melompat ke tempat tidur Dom dan duduk bersila di sana, sementara Dom duduk di tepi tempat tidur, dan Rose juga Al duduk di tempat tidur Rose.

"Apa yang terjadi?" tanya Dom.

"Aku jatuh cinta pada Dustin Wood... dan ini pasti, bukan terpesona, bukan suka, tapi aku jatuh cinta padanya."

Yah, akhirnya kenyataan di balik semua keanehan yang terjadi tersingkap sudah, aku memang jatuh cinta padanya sehingga perasaanku menjadi rapuh kalau dia ada di dekatku. Dia dengan mudah sekali menghancurkanku hanya dengan kata-kata, dan itu karena aku memang jatuh cinta padanya, sungguh-sungguh mencintainy. Aku menangis di depannya, aku tersenyum di depannya, mengkhawatirkanya, berbahagia untuknya, tidak marah meskipun dia memperlakukanku dengan buruk, semua itu karena aku jatuh cinta padanya.

"Aku sudah tahu sejak awal," kata Dom, tersenyum senang, sedangkan Rose dan Al saling berpandangan.

"Tapi, dia sangat tidak menyukaiku," kataku, merasakan tikaman rasa sakit di hatiku, tapi aku menghiraukannya. Aku tidak akan menangis lagi.

"Benarkah?" tanya Al, tidak yakin. "Kalian kelihatannya seperti sepasang suami istri yang sedang menjalani bulan madu. Dia tidak pernah melepaskan tangannya darimu."

"Apa yang dilihat oleh mata, tidak seperti keadaan yang sebenarnya," kataku, sok berfilasofi. "Dustin memegang tanganku karena tidak ingin aku kabur... aku kan sudah janji untuk ke Antico Greco bersama kalian."

"Oh..." kata Al, memandang Rose.

"Lalu kau sudah bilang padanya bahwa kau jatuh cinta padanya?" tanya Rose.

"Sudah..."

"Lalu apa katanya?"

"Dia bilang, dia tidak suka cewek yang menjual dirinya..." jawabku.

"APA?" mereka tampak sangat terkejut.

Aku segera menceritakan pertengkaranku dengan Dustin dan bagaimana dia telah membuatku sakit hati dan aku akhirnya menyadari perasaanku yang sebenarnya. Lucu juga, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya setelah dia membunuhku dengan kata-katanya yang kejam.

"Sialan, ijinkan aku untuk mengerjai brengsek itu, Lucy," kata Al. "Benar-benar, kurang ajar, berani-beraninya dia mengataimu seperti itu."

"Tidak, jangan," kataku. "Tidak usah, aku merasa lebih baik sekarang setelah menyatakan perasaanku dan mendapatkan jawaban yang tegas. Aku sudah merasa lega..."

Ya, benar, aku baik-baik saja.

Kejadian di Venesia, kisah cinta yang sangat singkat ini biarlah menjadi mimpi yang separuh indah dan separuh menyedihkan, aku akan kembali ke Inggris dengan perasaan bebas dan aku bisa memulai kisah baru. Aku tidak akan terpuruk seperti Dom, karena aku adalah si preman Lucy yang selalu bersemangat. Aku pasti akan menemukan seseorang yang juga mencintaiku dan mau menciumku dengan cinta, bukan asal cium seperti Dustin dan Sara.

"Kau baik-baik saja, Lucy?" tanya Rose, agak takut, mungkin karena melihat sinar semangat dalam diriku.

"Aku sangat baik," kataku. "Aku akan segera melupakan Dustin dan kata-katanya yang menyakitkan... Aku akan kembali ke Inggris dengan semangat yang baru."

"Lucy, kalau kau ingin menangis, menangis saja, tidak apa-apa," kata Dom halus.

"Tidak, aku tidak akan menangis, aku akan bertahan, aku akan—" airmata membasahi pipiku.

Ada apa ini? Bukankah aku sudah bertekad untuk kuat?

Dom segera menyulap sapu tangan dari udara dan memberikannya padaku.

"D-dia b-bilang aku sedang m-menggoda Antonio, padahal a-aku tidak seperti itu... D-dan d-dia bilang d-dia tidak m-menyukaiku, dia m-mebenciku," kataku terisak, menyeka airmataku yang mengalir di pipiku.

"Cinta membuat siapa saja rapuh," kata Dom, sendu. "Cinta membuat kita mudah terluka... Cinta bisa menghancurkan kita dalam sekejap, membuat kita tinggal dalam penderitaan dan dendam."

Rose dan Al berpandangan, dan aku segera berhenti menangis, mengangkat wajahku dari saputangan untuk memandang Dom.

Dom tidak memandangku, tapi memandang seprei hotel yang berwarna merah strauberi. Dia seolah tampak jauh dari jangkauan Rose, Al dan aku; dia seolah sedang berada di dunianya sendiri.

"Dom, kau baik-baik saja?" tanyaku, untuk sesaat melupakan Dustin dan hatiku yang rapuh, dan memandang Dom.

Dom tersentak memandang kami dengan heran.

"Oh, ya, aku baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu, Lucy, merasa lebih baik?"

"Er, ya, aku baik-baik saja, dan aku tidak dendam pada Dustin," kataku, cepat-cepat, memandang Dom. "Dia berhak memutuskan siapa yang disukainya, jadi aku sama sekali tidak dendam."

"Bagus, Lucy," kata Dom. "Kau adalah gadis yang baik..."

"Omong-omong, tadi aku mengatakan pada Antonio Orsoni bahwa kau ada di hotel ini," kataku.

"Apa?" Dom memandangku seolah aku baru saja memukulnya dengan pemukul Bludger.

"Aku mengatakan pada Antonio bahwa kau ada di sini," ulangku.

Dom memandangku dengan tajam dan sangar.

"Dom, apakah kau marah?" tanyaku agak takut. Dom memang sedikit menakutkan kalau sedang marah, dia adalah jenis orang yang suka sekali menyimpan dendam.

"Mengapa kau melakukan itu, Lucy?" tanya Dom dingin, menatapku sesaat, kemudian berdiri, berjalan ke jendela dan memandang keluar.

"Oh, Dom, maafkan aku," kataku, cepat-cepat berdiri, berjalan ke arah jendela, dan berdiri di samping Dom. "Aku hanya sedang bertaruh; kalau dia Terry pasti dia akan datang mencarimu, kalau dia bukan Terry dia tidak akan menghiraukan apapun yang kukatakan."

Dom berpaling, memandangku.

"Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, kan, Lucy?" katanya. "Kau memutuskan sesuatu tanpa mendiskusikannya denganku... Kau tidak tahu bahwa aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengannya."

"Aku minta maaf," kataku segera. "Aku pikir, aku sedang melakukan sesuatu yang paling baik, membantumu untuk bertemu dengan Terry, membantuku untuk menyelesaikan masalah kalian."

"Aku tidak mengharapkan bantuanmu, Lucy," katanya tajam. "Seharusnya kau mengurus kisah cintamu sendiri daripada kau mengurus masalah orang lain dan merusak semuanya."

Aku tercengang, kata-kata Dom terasa sangat menyakitkan, lebih menyakitkan dari kata-kata Dustin. Aku mengerti sekarang, kalau kita sangat menyayangi orang itu dan orang itu mengucapkan sesuatu yang sangat menyakitkan, kita pasti akan merasa sakit hati. Berbalik, aku hendak berjalan meninggalkan kamar, tapi Dom sudah memelukku.

"Lucy, maafkan aku," katanya.

Aku menangis, entah mengapa, tapi aku sangat terharu. Dom juga sepertinya sangat terharu dan kami berdua menangis di sana seperti sepasang anak kecil yang baru saja kehilangan mainan.

"Hmm," terdengar suara Al setelah beberapa detik, dan suara Rose yang cekikikan.

Aku melepaskan Dom, menghapus airmataku dan mendelik pada Rose, sedangkan Dom tampak malu dan berusaha untuk tidak salah tingkah.

"Nah, sekarang kita akan membahas masalah yang lebih penting," kata Al, tanpa menghiraukan, Dom maupun Rose dan aku. "Apa yang akan kita lakukan kalau ternyata Antonio Orsoni adalah benar-benar Terry dan datang mencarimu, Dom?"

Rose berhenti cekikikan dan memandang Dom, sedangkan aku menunduk memandang seprei dan merasa sangat bersalah.

"Kita akan segera pindah hotel," kata Dom, kemudian mendelik padaku. "Dan kau, Lucy, tetap di sini. Sebagai hukuman karena kau telah membuatku merasa sangat tidak nyaman kau akan tetap di sini sebagai Luke. Dan kalau memang Antonio Orsoni datang ke hotel ini, kau akan tahu bahwa dia adalah Terry, lalu kau dan Dustin bisa segera menyergapnya."

"Dom, kau tidak bisa—"

"Pindah hotel?" Rose memandang Dom.

"Kita akan pindah di San Clemente Palace," kata Dom.

"Tidak!" protes Rose.

"Tidak!" seru Al

"Kau akan membuatku miskin dalam sekejap, Dom," kataku.

"Terserah... Rose, Al, bereskan barang-barang kalian, kita akan pindah malam ini juga," kata Dom tak peduli.

"Aku lebih suka tinggal di sini," bantah Rose. "Aku tidak mau bertemu Malfoy, dia menginap di sana."

"Aku juga, aku lebih suka di sini," kata Al.

"Terserah," kata Dom. "Aku akan pindah, dan kalian berdua—" dia mendelik pada Rose dan Al, "akan mengurus diri kalian sendiri."

"Dom, kau tidak bisa begitu, kami tidak bisa melakukan apa pun tanpa tongkat sihir," protes Al.

"Kalau begitu, kalian berdua ikut pindah, dan kau Lucy, hubungi kami dengan Patronus, kalau ada keadaan darurat," katanya.

Aku melongo memandang Dom, yang sekarang sedang duduk di tempat tidur sambil melipat kedua tangannya dan memandang kami dengan menantang. Sementara Rose dan Al saling pandang dan mengangkat bahu.

"Bagaimana denganku?" tanyaku. "Aku tidak punya ramuan Polijus, aku kehilangan ranselku dan—"

"Aku kan sudah bilang jangan meninggalkan ranselmu sembarangan," kata Rose, mendelik padaku, kemudian mengeluarkan sebuah botol besar berisi ramuan Polijus dari tas manik-maniknya dan menyimpannya di depannya.

"Beri juga ransel cadangan pada Lucy, Rose, dia tidak mungkin membawa botol itu dengan tangan," kata Dom.

Rose mengeluarkan ransel lain yang mirip ranselku yang lama dan memasukkan botol berisi ramuan Polijus.

"Aku juga perlu uang," kataku.

"Tidak, kami tidak akan memberimu uang," kata Dom kejam. Nah, benar, kan? Aku sudah bilang bahwa dia sangat pendendam. "Kau bisa pinjam uang pada Dustin kalau ingin membeli makanan."

"Aku tidak mau pinjam apa-apa dari Dustin," seruku sebal.

"Kalau tidak mau, kau bisa ber-Apparate di kamar hotel kami dan kami akan membelikanmu makanan," kata Dom tegas.

"Bagaimana kalau Dustin curiga?"

"Kau bisa menjelaskannya, putar otakmu, dan kau akan menemukan alasan yang logis," kata Dom.

Aku hanya bisa mendelik. Rose dan Al, mendengus dan Dom menyeringai senang.

Diary, kau pasti bertanya-tanya mengapa Dom begitu menyeramkan. Dia memang sangat menyeramkan kalau sedang jengkel. Dan aku dengan kebodohanku telah membuat diriku terjebak di hotel ini sendirian bersama Dustin yang membenciku, sementara sepupu-sepupuku akan bersantai di hotel mewah dengan uangku. Di mana adilnya ini?

Sincerely

Lucy Weasley.


Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri.

Waktu: 7.15 pm

Dear Diary,

Aku sedang cemas, Dustin belum juga kembali, padahal sekarang sudah waktunya makan malam, dan aku sudah menghabiskan tiga potongan pizza, sisa Dom, Rose dan Al yang mereka tinggalkan untukku sebelum ber-Disapparate ke hotel San Clemente Palace.

Menyedihkan, bukan? Aku sekarang sendirian di kamar, duduk di kursi, menatap keluar jendela dan merasa sangat kesepian. Jujur saja, aku tidak pernah kesepian, selalu saja ada sepupu-sepupu, paman-paman, bibi-bibi, grandma, grandpa, kakak, Mom dan Dad yang selalu menemaniku, tapi sekarang aku sangat kesepian dan mengharapkan Dustin segera kembali.

Bunyi orang ber-Apparate terdengar keras di dalam kamar yang hening dan Dustin muncul. Aku segera berdiri dan tersenyum senang melihatnya, akhirnya tidak kesepian lagi. Tetapi wajah Dustin yang tampak menyeramkan langsung membuatku berhenti tersenyum. Dia mengumpat dengan umpatan yang begitu mengerikan sehingga aku ingin sekali menutup telingaku. Aku memandangnya dengan teliti dan melihatnya sangat berantakan; kaosnya kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya kelihatan sangat lelah.

"Apa yang terjadi, Dustin?" tanyaku sopan.

"Aku menghabiskan waktuku sepanjang sore tadi sampai malam ini untuk mencari orang," bentaknya, memandangku dengan bengis, seolah akulah yang telah membuat harinya menjadi sangat buruk.

"Aku ada di sini, kau sendiri yang tidak mencari ke sini," balasku, mendelik.

"Jangan terlalu percaya diri, Spencer, siapa yang mencarimu?" katanya, kemudian menghempaskan diri di tempat tidur, tampaknya sangat lelah.

"Kau mencari siapa?" tanyaku heran, memandang punggungnya.

Dia berbalik, memandang langit-langit ruangan.

"Aku mencari seorang cewek menyebalkan," katanya. "Aku mencarinya di semua hotel di Venesia dan tidak ada seorang pun yang memiliki nama seperti itu."

"Kau mencara Sara?" tanyaku.

Dia langsung duduk dan memandangku dengan jengkel.

"Siapa yang mencari Sara?"

"Lalu kau mencari siapa?"

"Lucy Weasley, Luke, aku mencari Lucy..."

"Buat apa kau mencarinya?" tanyaku, duduk di tempat tidurku sendiri dan memandangnya.

"Ingin bicara tentu saja."

"Kau ingin bicara apa dengannya?"

"Buat apa aku bilang padamu?"

"Oh," kataku.

Dia terdiam, memandangku, dan aku segera membaringkan diri di tempat tidur. Tidak ada gunanya memandang Dustin dan merasa sakit hati.

"Aku ingin bertanya padamu, Luke?" katanya, terdengar tak sabar. "Mengapa cewek tidak mengerti apa yang cowok rasakan?"

"Er, entahlah," jawabku, aku juga tidak mengerti.

"Aku marah padanya karena dia sedang bersama Antonio Orsoni, dia malah bertanya mengapa aku selalu marah padanya?"

Apa sih maksudnya? Apakah Dustin sedang mempermainkan otakku yang tidak cerdas ini dengan kata-kata?

"Dia lalu mengatakan dia menyukai, mencintaiku membuat tambah marah?"

"Mengapa kau marah? Seharusnya kau senang, kan, ada orang yang menyatakan cinta padamu!"

"Luke, aku sudah sering mendengarnya mengatakan hal itu, sampai aku bertanya-tanya apakah dia serius atau tidak. Dia bahkan tidak mengijinkanku menciumnya, bagaimana aku bisa percaya? Lagi pula dia sedang bersama Antonio Orsoni, bisa saja dia sedang mengumbar cinta mati pada orang Italia itu. Siapa yang tidak marah, coba?"

"Er—"

"Dia tidak menjelaskan apa yang dilakukannya bersama Orsoni, tapi pergi begitu saja setelah mengatakan bahwa dia tidak ingin bertemu denganku lagi selamanya... Dia bahkan tidak mengijinkanku untuk berpikir?"

"Memang apa yang kau pikir?"

"Aku memikirkan apa yang sebenarnya kurasakan padanya, Luke..."

"Lalu apa yang kau rasakan padanya?"

"Entahlah Luke, aku masih memikirkannya..." dia memandang keluar jendela dan melanjutkan, "Dia itu bodoh, merepotkan, aneh, matanya terlalu besar, bibirnya berbentuk aneh, bahkan suaranya juga melengking tak jelas, dia juga—"

"Cukup!" bentakku jengkel, rupanya dia ingin menjelek-jelekkanku.

"Mengapa?"

"Aku tidak ingin kau menjelek-jelekkan orang lain," kataku.

"Suka-suka aku, kan?"

"Oh, sudahlah, Dustin, aku tidak ingin kita membicarakan Lucy Weasley dan aku ingin kau—"

"Menurutmu dia menginap di mana, Luke? Soalnya aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi dia tidak ada."

"Mungkin saja, dia pakai nama yang berbeda," kataku.

Dustin memandangku, dan wajahnya tampak bercahaya.

"Kurasa otakmu kadang-kadang cerdas juga, Luke," katanya. "Dia pasti memakai nama yang berbeda," dia memandang jendela sambil berpikir. "Aku bertemu dengannya di sini dan di San Clemente Palace... Dia tidak mungkin di sini, karena aku sudah menanyakannya pada Signore Malamocco dan katanya tidak ada yang mempunyai ciri-ciri seperti Lucy Weasley baik dalam rambut merah, mau pun dalam rambut hitam, berarti tinggal hotel San Clemente Palace... aku akan mencarinya ke sana besok..."

"Mengapa kau jadi mengurusi Lucy Weasley, kita datang ke sini bukan untuk mengurusi Weasley, tapi mencari Terrius Krum, Wood!"

Dia memandangku dan tersentak.

"Kau benar sekali, Luke, kurasa aku agak terpengaruh gara-gara Lucy Weasley... Nah, sekarang saatnya kita untuk mencari..." dia tersentak lagi. "Luke, kita harus bersiap-siap sekarang, Mr Osterley mengirim Patronus padaku. Dia ingin bertemu kita jam tujuh di Druno."

"Mr Osterley?"

"Luke, Auror Steven Osterley dari SAI," katanya tak sabar, berdiri dan segera berlari menuju kamar mandi.

Aku memandang pintu kamar mandi yang tertutup dan merasa sedikit cemas. Apa yang diinginkan Osterley? Apakah dia ingin mengecek perkembangan penyelidikan kami? Atau dia tahu kami tidak berhasil dalam penyelidikan ini, jadi ingin menuntut uangnya kembali. Tetapi aku berhasil, aku sudah menyingkirkan Giorgio Vivaldi dan Antonio Orsoni. Yang terakhir itu aku yakin bukan Terry, karena dia tidak muncul di hotel ini setelah aku mengatakan padanya tentang Dom. Berarti target terakhir, Carlo Francesconi, adalah Terry, tapi aku harus bertemu dengannya dulu. Aku harus bicara dengannya dulu baru bisa memastikan apakah dia Terry atau bukan.


Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Restoran Cepat Saji Druno.

Waktu: 7.45 pm

Steven Osterley adalah seorang pria tampan berambut hitam yang kira-kira berumur 27 tahun. Dia kelihatannya cerdas dan tahu apa yang harus dilakukannya, tapi para Auror memang harus begitu, kan? Sebagai Auror kita harus cerdas dan cepat tanggap pada segala situasi.

"Terlambat 30 menit," kata Mr Osterley saat Dustin dan aku tergesa-gesa duduk di sampingnya di sebuah meja di ujung jalan yang menghadap Grand Canal.

"Maaf," kata Dustin.

"Aku sudah bermaksud ke hotel untuk mengecek kalian," kata Mr Osterley lagi.

"Maaf, ada beberapa hal yang harus kami lakukan," kataku, membela Dustin, dia kan tadi masih berlama-lama mandi sehingga kami terlambat.

Seorang pelayan datang dan kami memesan kopi.

"Bagaimana perkembangan kalian?" tanya Mr Osterley. "Uncle Jo, sudah menanyakan hal ini beberapa kali padaku, tapi aku tidak bisa menjawabnya dengan memuaskan."

"Lumayan," jawab Dustin. "Aku sangat yakin target pertama kita bukan Terrius Krum."

"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Mr Osterley.

"Dia hampir saja membunuhku kemarin malam, Terrius Krum tidak mungkin membunuh orang," kata Dustin yakin, sedangkan aku mengangguk setuju.

Mr Osterley tampak tidak yakin.

"Target kedua kita juga bukan Terrius Krum," kataku penuh percaya diri.

"Apa?" baik Mr Osterley, mau pun Dustin memandangku.

Mereka menahan diri untuk tidak berkata apa-apa sampai pelayan yang mengantar kopi kami pergi.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Mr osterley, setelah si pelayan pergi.

"Jangan asal bicara, Luke," kata Dustin jengkel.

Aku mengabaikan Dustin, menghirup kopiku untuk mengulur waktu, dan berbicara langsung pada Mr Osterley.

"Aku berkata pada target kedua bahwa Dominique Weasley sedang berada di Venesia mencarinya dan dia sedang menunggunya di kamar nomor 14 hotel Lokanda Salieri."

Mr Osterley tersedak kopinya dan Dustin mengumpat.

"Apa-apaan kau?" gertak Dustin. "Kau bisa melibatkan kita semua dalam masalah."

"Masalah apa?" balasku. "Kupikir ini adalah cara paling mudah untuk mengetahui apakah target kita adalah Terrius Krum atau bukan. Terrius Krum sangat mencintai Dominique Weasley, pasti dia akan segera datang mencarinya kalau dia tahu bahwa Weasley ada di Venesia?"

"Benarkah Dominique Weasley ada di Venesia?" tanya Mr Osterley padaku.

"Tanya dia," aku menggangguk pada Dustin. "Dia yang sering bertemu Lucy Weasley."

Dustin mendelik padaku.

"Lucy Weasley?" ulang Mr Osterley, memandang Dustin.

"Er, begini," kata Dustin. "Lucy Weasley, selalu ada di mana-mana di dekatku, tapi dia selalu menghilang begitu saja, tapi kurasa dia tidak ada hubungannya dengan Dominique Weasley."

"Mencurigakan," Mr Osterley tampak berpikir. "Mengapa dia selalu ada di mana-mana di dekatmu? Apakah dia juga sedang menyelidiki Terrius Krum?"

Dustin dan aku berpandangan.

"Aku tidak pernah memikirkan itu," kata Dustin. "Tetapi, bisa saja itu benar... dia ada saat aku sedang membuntuti Giorgio Vivaldi dan aku juga memergokinya sedang berbicara dengan Antonio Orsoni, tapi—" Dustin memandangku. "Kapan kau bertemu Orsoni?"

"Bukan kau saja yang melakukan penyelidikan, Dustin!" kataku, tak ingin lagi dianggap bodoh dan merepotkan, aku harus bertindak tegas. "Aku juga melakukan beberapa hal, apakah kau pikir aku akan tinggal di hotel tanpa melakukan sesuatu?"

"Dan kau tidak mengatakannya padaku?" Dustin sekarang memandangku dengan marah.

"Kau juga tidak mengatakan apa yang kau lakukan," kataku. "Kau pergi meninggalkanku di hotel, kau pikir aku akan menjadi anak baik yang setia menunggumu pulang? Aku juga bisa melakukan sesuatu, Dustin."

"Kau—"

"Sudah," kata Mr Osterley. "Jadi bagaimana apakah si Orsoni ini adalah Terrius Krum?"

"Bukan," kataku. "Dia bukan Terrius Krum, karena dia tidak muncul untuk mengecek Dominique Weasley di hotel."

"Er—" Mr Osterley, tampak ragu.

"Anda tidak percaya padaku?" aku memandang Mr Osterley.

"Aku bukannya tidak percaya, tapi pernyataanmu bahwa Orsoni tidak muncul di hotel dan karena itu kau mengira dia bukan Orsoni, sangat meragukan. Maksudku, bisa saja dia benar-benar Terrius Krum, tapi akan muncul besok, atau lusa, atau kapan pun. Mungkin saja, dia masih sedang memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Dominique Weasley."

"Er, benar juga," kataku. "Tetapi aku tetap yakin dia bukan Terrius Krum. Kalau dia Krum pasti dia akan segera datang untuk menemui Weasley, karena Krum sangat mencintainya."

Mr Osterley tersedak kopi lagi.

"Mr Osterley, anda tidak boleh mendengarkan Luke karena dia sedang terobsesi dengan cinta," kata Dustin, mendelik padaku.

"Aku tidak terobsesi cinta, aku bicara tentang kenyataan; Krum sangat mencinta Weasley, begitu juga sebaliknya, Weasley sangat mencintai Krum."

"Bagaimana kau bisa tahu tentang semua ini?" tanya Mr Osterley. "Tentang keduanya yang saling mencintai?"

"Dia membacanya di Prophet," kata Dustin, setelah menyuruhku diam dengan pandangan. "Dia percaya bahwa keduanya sudah menikah."

Mr Osterley memandangku.

"Benarkah?"

"Er, begitulah, kurasa keduanya sangat serasi."

"Jadi sekarang kau merasa bahwa target terakhir kita adalah Terrius Krum?" tanya Mr Osterley.

"Benar, Carlo Francesconi, target ketiga adalahTerrius Krum," kataku dengan keyakinan penuh.

"Keyakinan saja tidak cukup harus ada bukti," kata Mr Osterley. "Kalian harus bisa membuktikan bahwa target ketiga kita adalah Krum."

"Aku tetap akan menyelidiki Antonio Orsoni," kata Dustin, keras kepala. "Laki-laki itu lebih mencurigakan dari pada Giorgio Vivaldi."

"Kau hanya tidak suka padanya, kan?" gertakku. "Kau tidak suka dia karena dia telah membuatmu jengkel."

"Penyelidikanku pada Antonio Orsoni tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi," balas Dustin.

"Pasti ada hubungannya dengan masalah pribadi, kalau tidak, kau pasti akan percaya bahwa Antonio Orsoni bukanlah Terrius Krum."

"Sudah..." kata Mr Osterley menengahi, kemudian memandangku. "Dustin benar, kita harus tetap menyelidiki Antonio Orsoni, karena hal yang kau kemukakan tadi sama sekali bukan bukti kuat bahwa Antonio Orsoni bukanlah Krum."

Aku mendelik pada Dustin dan dia membalasnya dengan tertarik.

"Biar Dustin yang menyelidiki Antonio Orsoni, aku akan menyelidiki Carlo Francesconi," kataku.

"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri menyelidiki Carlo Francesconi, kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi nanti."

"Francesconi bisa bahasa Inggris dan aku akan baik-baik saja," kataku, membantah.

"Tidak, aku yakin kau pasti akan merusak segalanya, seperti saat pertama kali."

"Aku tidak akan merusak segala," bentakku. "Kau hanya tidak mau aku lebih dulu menemukan Krum darimu, kan? Kau hanya ingin mendapat kredit dari apapun yang kulakukan."

"Apa yang kau bicarakan?"

"Aku tidak akan ikut denganmu lagi, karena ikut dengamu membuat hari-hariku kacau, seperti pagi ini. Tujuan kita untuk mengawasi Orsoni tidak jadi, karena kau lebih suka menghabiskan waktumu untuk berkencan."

"Jangan mulai mengatakan hal yang omong kosong, Luke, atau aku akan—"

"Atau kau akan apa?" tuntutku. "Menendangku seperti yang kau lakukan pagi ini, menyeretku di kamar mandi, memarahiku? Kau tidak akan bisa melakukannya lagi, Dustin, mulai sekarang kita akan melakukan penyelidikan sendiri-sendiri."

"Apa maksudmu?"

"Aku akan pindah hotel dan aku akan menyelidiki sendiri... aku sudah tidak bisa lagi tinggal bersamamu," kataku, kemudian aku berpaling pada Mr Osterley. "Bolehkah aku melakukan penyelidikan sendiri?"

Mr Osterley memandang Dustin yang tampak sangat marah, kemudian memandangku.

"Aku tidak ingin menyelidikan ini berakhir dengan kegagalan," kata Mr Osterley. "Scamander Research Laboratory sudah mengeluarkan banyak uang untuk penyelidikan ini, jadi aku menginginkan yang terbaik."

"Aku akan berusaha semampuku untuk melakukan yang terbaik, tapi bukan bersama Dustin," kataku.

"Tidak, kau tetap bersamaku karena kalau tidak kau akan merusak penyelidikan."

"Aku tidak akan merusak penyelidikan mana pun, aku akan berusaha dan aku akan membuktikan padamu bahwa aku bisa."

"Oh ya?" Dustin tampak sangat menyebalkan. "Untuk berapa lama, seratus tahun? Atau setelah kau merusak segalanya dan membiarkanku membereskannya."

"Aku tidak akan merusak segalanya," kataku keras.

Dustin memutar bola matanya, tidak percaya.

"Dengar, Dustin, apa pun yang kau katakan aku tidak peduli, aku akan tetap melakukan penyelidikanku sendiri."

"Sudah," kata Mr Osterley lagi, memandangku. "Aku tidak setuju kau melakukan penyelidikan sendiri—"

Dustin tampak puas, aku ingin memberontak.

"Tapi," lanjut Mr Osterley padaku. "Aku akan memberimu kesempatan selama tiga hari. Lakukan penyelidikan dan kita akan melihat hasilnya nanti."

Dustin murka, aku tersenyum senang.

"Terima kasih sudah memberi kesempatan padaku, Mr Osterley, aku akan melakukan tugasku sebaik mungkin."

"Mr Osterley, anda tidak bisa melakukan itu," kata Dustin, kemudian melanjutkan sambil menunjukku. "Dia ini bodoh, kikuk, merepotkan dan cepat sekali terlibat dalam masalah. Dia bukanlah kurir permata ilegal seperti yang kita bayangkan selama ini, dia sama sekali tidak berpengalaman dan aku khawatir dia akan membuat kita semua terlibat dalam masalah... Dia akan merusak semua penyelidikan kita."

Aku memandang Dustin dengan tajam dan penuh kebencian, ingin sekali aku membunuhnya, sementara Mr Osterley memandangku.

"Benarkah kau bukanlah kurir permata ilegal seperti yang dikatakan Uncle Jo?" tanya Mr Osterley.

"Baiklah, aku akan bicara dengan jujur," kataku. "Aku memang bukan kurir permata ilegal, tapi aku ahli dalam penyusupan, aku sudah sering menyusup dari Hogwarts ke Hogmeade di malam hari... aku juga mengenal beberapa penjahat karena aku sering bertemu mereka di Hog's Head, aku sering mendengar cerita mereka tentang bagaimana caranya melakukan kejahatan dan—"

"Anda percaya apa yang dikatakannya, Mr Osterley?" tanya Dustin, tak percaya. "Dia bahkan sama sekali bukan murid Hogwarts."

"Aku murid Hogwarts," kataku.

"Kalau begitu mengapa kau mengatakan bahwa kau di Durmstrang saat aku bertanya padamu di Heathrow? Namun, yang terpenting adalah aku tidak pernah melihatmu di Hogwarts."

"Aku juga tidak pernah melihatmu di Hogwarts," kataku berbohong, dan semua darah terpompa di wajahku, membuat wajahku panas dan jelas sekali memerah.

Mr Osterley memandangku, dan Dustin tampak puas. Mereka tahu bahwa aku sedang berbohong.

"Aku akan memberikanmu waktu dua hari untuk membuktikan bahwa Carlo Francesconi adalah Terrius Krum. Kalau tidak berhasil, kau harus kembali pada Dustin dan kau harus mengikuti apa pun yang dikatakannya," kata Mr Osterley.

"Tadi anda mengatakan akan memberiku waktu tiga hari..."

"Aku berubah pikiran, dua hari dan kurasa itu cukup, Luke," kata Mr Osterley. "Aku pergi dulu, aku akan menghubungi kalian lagi setelah dua hari."

Dia bangkit, begitu juga Dustin dan aku.

Dia berjalan cepat meninggalkan restoran Druno dan menghilang di sudut gelap gedung-gedung yang tampak menyeramkan di malam hari. Aku memandang Dustin sekilas kemudian berjalan meninggalkannya.

Diary, kau pasti bertanya-tanya mengapa aku mengambil keputusan yang secepat kilat ini. Kau pasti juga bertanya mengapa aku ingin meninggalkan Dustin. Itu karena aku merasa sudah waktunya untukku menjauh darinya. Lucy Weasley sudah menghilang, sekarang saatnya Luke Spencer untuk menyingkir dari Dustin dan aku bisa melupakannya perlahan-lahan. Aku harus kembali ke Inggris sebagai Lucy yang dulu, yang selalu bersemangat, bukan Lucy yang patah hati.

Sebenarnya, aku tidak terlalu yakin tentang Carlo Francesconi, tapi aku harus mengatakan hal itu dengan yakin agar Mr Osterley bisa mengijinkanku menyingkir dari Dustin. Lagi pula, aku punya Dom, Rose dan Al, mereka tidak akan meninggalkanku apapun yang akan terjadi. Tetapi aku senang karena sebentar lagi aku bisa tinggal bersama mereka lagi. Dan Dom, aku percaya Dom bisa mengenali Terry meskipun dia menyamar dalam bentuk dan rupa apa pun. Debaran cinta seorang kekasih saat sedang memandang orang tertentu bisa membuktikan bahwa laki-laki itu adalah orang yang dicari. Kalau Dom berdebar-debar saat memandang Carlo Francesconi, berarti dia adalah Terry. Diary, apakah aku tidak terlalu mengada-ada? Yah, mau bagaimana lagi, otakku kan tidak cerdas, aku hanya bisa memikirkan hal yang sederhana seperti itu.

"Luke Spencer," Dustin rupanya telah mengikutiku, sepanjang jalan di tepi Grand Canal, menuju dermaga kecil.

Aku tidak menghiraukannya, tapi Dustin sudah menjajarkan langkahnya dan sambil berjalan dia memandangku dengan tajam.

"Aku tidak akan mengijinkanmu pindah," katanya.

"Iya, karena kau orangtuaku," bentakku.

"Kau mau pindah ke mana?"

"Buat apa aku memberitahumu?"

"Karena aku ingin mengawasimu selama dua hari ini," kata Dustin. "Aku tidak mau kau merusak semuanya."

"Begitulah yang kau pikirkan tentangku, Dustin? Seorang perusak..." kataku, sedih. "Aku mengerti, kurasa aku memang harus segera pindah hotel, malam ini juga."

"Kau mau pindah ke hotel mana?" tuntut Dustin tak sabar.

"Aku belum tahu, aku akan menghubungimu nanti," kataku, kemudian berjalan lebih cepat, tapi Dustin berhasil menyusulku.

"Menurutku kau sama sekali tidak bertanggungjawab," katanya pedas. "Setelah kau menghancurkan penyelidikan kau akan melarikan diri dan menghilang."

"Aku yakin, aku akan berhasil," kataku. "Dan kalaupun tidak, aku tidak akan melarikan diri. Aku akan bertanggungjawab."

"Oh ya?" dia tampak tidak percaya. "Aku ingin melihat sampai di mana kau mampu hidup tanpa bantuanku."

"Yah, kita akan melihatnya, dan aku akan berhasil."

"Aku tidak ingin menerimamu lagi setelah kau menghancurkan penyelidikan ini, jangan merangkak padaku setelah dua hari ini," katanya dengan nada peringatan.

"Buat apa aku merangkak padamu... aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Kalau begitu sampai jumpa setelah dua hari," kata kasar, kemudian menambahkan, "Aku tidak ingin melihat barang-barangmu lagi di kamar hotelku setelah aku kembali, pulang dan bereskan sekarang juga."

"Dustin," panggilku segera, dan berlari ke arahnya setelah dia berhenti.

"Apa lagi?" dia mendelik.

"Aku ingin pinjam uang Euro," kataku. "Semua uangku dibawa Ro—er, aku lupa membawa uang... nanti aku akan mengembalikannya segera."

Dustin memandangku tak percaya.

"Nah, itu kan belum dua hari kau sudah tidak bisa mengurus dirimu sendiri," katanya jengkel. "Aku tidak akan meminjamkanmu uang."

"Tapi Dustin, aku harus naik gondola, aku harus berbicara dengan Carlo Francesconi."

"Kau pikir aku peduli..." katanya, lalu berjalan meninggalkanku.

Sial, bagaimana ini? Aku tidak bisa naik gondola tanpa uang Euro. Memandang ke bawah, ke dermaga kecil di tepi air, aku memutuskan bahwa aku bisa meng-Confundus Carlo Francesconi setelah tiba di tujuan. Aku kan penyihir, buat apa aku bawa-bawa tongkat sihir kalau aku tidak memakainya untuk menyihir. Setelah memutuskan seperti itu, aku segera turun tangga menuju dermaga kecil di pinggir canal, tempat dua gondola sedang diparkir, dan salah satu dari gondolier itu adalah Carlo Francesconi, seorang pemuda tampan berambut hitam, dengan bibir juga hidung yang sempurna dan tulang pipi yang tinggi. Aku terpana memandangnya, mengapa target kami semuanya pemuda tampan, kecuali Giorgio Vivaldi tentu saja. Pria tua itu sama sekali tidak tampan, bahkan sangat jelek dan menyebalkan.

"Mau naik gondola, Sir?" tanya Francesconi dengan bahasa Inggris sempurna.

Nah, mencurigakan bukan, orang Italia kalau bicara Inggris pasti ada logat Italia-nya, tapi ini benar-benar bahasa Inggris yang sempurna.

"Ya," kataku.

Dia lalu mengulurkan tangan untuk membantuku naik ke dalam gondola, sebuah perahu mungil yang runcing dengan sang pengayuh berdiri di belakang, sedangkan para penumpang duduk nyaman di depan. Tempat duduknya mirip kursi panjang empuk untuk dua orang yang berwarna merah dengan karpet yang juga berwarna merah. Aku duduk nyaman di kursi itu dan Gondola mulai bergerak. Tiba-tiba, aku merasa mual pusing dan mual.

Sial! Aku lupa memantrai diriku dengan Unseasickjinx.

Aku menopangkan tanganku di tepi gondola, meletakkan kepalaku dan memejamkan mata, menghindari memandang aliran air yang bergerak di bawahku.

"Anda baik-baik saja, Sir," tanya Francesconi.

"Ya, aku baik-baik saja," kataku, bersandar, berusaha duduk nyaman dan melupakan bahwa ada sesuatu yang sedang berputar di kepalaku.

"Aku ingat pernah memberi tumpangan pada anda sebelumnya, anda kan orang yang hampir jatuh dari gondola itu, kan?"

"Panggil aku, Luke," kataku, berbalik dan tersenyum. "Jadi kau gondolier yang waktu itu?"

Francesconi tertawa.

"Panggil aku Carlo," katanya. "Ya, aku gondolier yang waktu itu."

"Waktu itu mungkin adalah hari sialku," komentarku, memandang kembali ke depan.

"Tapi penjagamu berhasil menyelamatkanmu," kata Carlo.

"Penjaga?"

"Laki-laki yang waktu itu bersamamu."

"Oh Dustin, dia bukan penjagaku," bantahku. "Dia hanya orang menyebalkan yang menganggap diri hebat."

"Tapi aku sempat berpikir dia adalah pacarmu."

"Dia bukan pacarku," kataku cepat, dan seolah teringat sesuatu aku menambahkan, "Aku bukan gay."

"Memangnya kenapa kalau gay?" tanya Carlo. "Kami orang Italia, tidak terlalu peduli apakah dia gay atau bukan, tidak seperti kalian orang Inggris. Kalian masih kuno dalam hal hubungan sesama jenis."

"Darimana kau tahu aku orang Inggris?"

"Kentara sekali dari logatmu, Luke."

"Oh..." kataku, kemudian membantah, "Orang Inggris tidak kuno dalam hubungan sesama jenis, banyak kok orang Inggris yang berhubungan dengan sesama jenis."

"Memang, di mana-mana hubungan sesama jenis memang bukan lagi hal yang tabu, tapi tetap saja agama melarang hubungan seperti itu. Agama lebih mementingkan hubungan laki-laki dan perempuan, sebagai sebuah hubungan yang sakral dan suci, sebuah hubungan berdasarkan cinta kasih antara dua orang yang berlainan jenis. Kurasa hubungan seperti itu akan lebih diberkati dari pada hubungan sesama jenis, tetapi para atheis tentu saja merasa bahwa itu tidak penting."

"Agama?" katanyaku heran, berbalik memandangnya dan melihat bahwa wajahnya sangat bercahaya. Dari sana aku menyimpulkan bahwa dia adalah seorang idealis sejati dan kelihatannya sangat fanatik.

"Apakah kau atheis?" dia tampak merasa malu. "Oh, maafkan aku! Aku sama sekali tidak mengira bahwa kau atheis."

"Er, ya," kataku, meskipun tidak mengerti apa itu atheis.

"Itu tergantung masing-masing pribadi, kan?" kata Carlo lagi. "Kurasa atheis juga suka diperlakukan sebagai orang yang beragama."

"Ya," kataku, tetap tidak mengerti.

"Sama juga dengan cinta sesama jenis," lanjut Carlo. "Mereka pasti juga ingin diperlakukan sama. Contohnya di Amerika, pernikahan sesama jenis sudah diijinkan oleh pemerintahnya."

"Er—" aku tidak tahu harus berkomentar apa.

"Kalau kau memang mencintai—siapa namanya tadi—Dustin, kalian bisa pergi ke Las Vegas dan menikah di sana."

"Oh, terima kasih untuk nasihatnya," kataku tidak yakin, dan aku cepat-cepat mengubah topik, "Apakah kau pernah jatuh cinta?"

"Tidak," jawab Carlo tegas. "Aku ingin membaktikan diri pada agama yang kuanut. Menjadi misionaris adalah impianku sejak kecil, aku berniat untuk sekolah misi suatu hari nanti. Kalian para atheis tentu tidak mengerti bagaimana perasaan seseorang terhadap agamanya sendiri."

"Oh," kataku, tidak mengerti.

Aku memandang perairan gelap di depan dan menyadari bahwa aku salah, aku kalah lagi. Carlo Francesconi jelas-jelas bukan Terry, meskipun Terry sedikit idealis, tapi dia tidak fanatik. Semuanya salah, semua yang aku lakukan salah. Aku telah mempertaruhkan seluruh kepercayaanku pada target ke tiga, tapi kebenarannya sama dengan nol. Carlo Francesconi bukan Terrius Krum, lalu yang mana Terry?

Kepalaku yang sebelumnya sudah pusing, semakin pusing. Pizza yang tadi kumakan, beserta kopi yang tadi kuminum rasanya sudah ingin keluar dari mulutku. Seluruh tubuhku lemah dan semangat hidupku hilang. Aku menunduk di pinggir gondola dan muntah-muntah.

"Luke, kau tidak apa-apa?"

Aku melepaskan peganganku pada pinggir gondola, berbalik ingin mengatakan pada Carlo bahwa aku baik-baik saja, tapi kepalaku tiba-tiba pusing dengan hebatnya, aku terhuyung dan tercebur ke canal yang gelap dan dingin.

Diary, ini adalah benar-benar akhir hidupku. Aku tidak bisa berenang, aku tercebur seperti batu yang dibuang oleh seseorang ke dalam canal. Jatuh ke dalam air gelap, tanpa udara yang harus kuhirup, tanpa semangat untuk hidup lagi. Semua yang kupertaruhkan telah kalah, koin taruhanku sudah benar-benar habis. Kartu As Ruit dan King Klaver di tanganku sama sekali tidak berguna melawan Lima Klaver yang terakhir. Dustin berhasil menang flush, dia selalu menang dan selalu benar. Sebagai Lucy, mau pun sebagai Luke aku telah kalah. Nah, kurasa tinggal di dasar canal, lebih bagus untukku, karena di sini aku bisa melupakan segalanya, melupakan apa yang telah kualami, melupakan semuanya. Aku ingin tidur di sini, dalam kegelapan dan menghilang untuk selamanya. Aku juga bisa bergabung dengan hantu-hantu Muggle yang sudah lebih dulu tinggal di sini, bergabung dengan mereka dalam kematian dan menjadi hantu yang menghantui Grand Canal ini sambil mencari jiwa-jiwa lain yang ingin bergabung denganku dalam kematian.

Lihatlah, salah satu dari hantu penunggu canal sudah datang menjemputku, hitam menyeramkan, mirip grafiti di bawah jembatan, Rialto Bridge. Aku memejamkan mata, dan menungguku tangan-tangan itu membawaku pergi ke dunia orang mati.

Sincerely,

Lucy Weasley


REVIEW PLEASE! See you ini chapter 7

Maaf atas keterlambatan update, akhir-akhir ini aku sibuk, tapi aku akan berusaha agar tetap bisa update secepatnya.

Riwa Rambu :D