Terima kasih sudah me-review KNG 4 chapter 6; widy, DarkBlueSong, qeqey, Rise, Putri, megu takuma, YaotomeShinju, atacchan, SeiraAiren, zean's malfoy, Vallerina lovegood, ochan malfoy, Cecilia Chang, Nafau Chance, bluish3107:D

Ttg typo: q kan cek-cek lg.

Selamat membaca chapter 7 dan review (apa saja), ya!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: KNG 1, 2, 3

KISAH NEXT GENERATION 4: SEBENARNYA AKU CEWEK

Chapter 7

Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri

Waktu: 9. 23 pm

Menarik nafas, aku merasakan udara bersih memenuhi paru-paruku. Udara itu terasa lezat bagi paru-paruku yang merana dan kering. Sepertinya aku sedang terbaring hangat dan nyaman pada sesuatu yang empuk dan menyenangkan. Telingaku tidak mendengar apa pun, tapi telinga ini menangkap adanya keheningan dan sayap-sayup suara desahan nafas seseorang. Aku berpikir—ya, ternyata otakku bisa memikirkan sesuatu—kalau aku bisa bernafas, merasakan, dan mendengar, berarti aku juga bisa melihat. Aku mencoba membuka mataku semilimeter, dan hanya melihat sesuatu yang berwarna putih tak berbentuk, namun menyilaukan. Aku mencoba menggerakkan tanganku dan tangan itu terasa berat untuk digerakkan karena sesuatu yang penuh kehangatan telah diletakkan di atas tanganku sehingga seluruh tubuhku dipenuhi kehangatan. Walaupun aku sudah mati, tapi aku masih merasakan kehangatan yang menyenangkan ini, dan ini sangat membahagiakan. Beberapa detik kemudian, terdengar suara yang sudah sangat kukenal berbicara dengan lembut padaku.

"Luke," kata suara itu, terasa sangat merdu bagi telingaku yang mungkin sudah dipenuhi air. "Hei, Luke, sadarlah!"

Ini suara Dustin. Suara yang selalu membuatku ingin tersenyum, marah dan menangis pada saat bersamaan. Mengapa Dustin bisa ada di dasar canal bersamaku? Apakah dia juga sudah mati dan bergabung denganku di sini? Tidak... tidak, aku tidak ingin dia mati. Dustin tidak boleh mati, dia harus hidup, bersemangat dan bahagia. Aku mencoba menggerakkan tanganku lagi, dan kemudian menyadari bahwa aku bukan berada di dasar canal, karena aku tidak basah, aku tidak merasa dingin dan aku tidak mendengar suara aliran air yang mengalir. Aku hanya mendengar suara desahan nafas Dustin dan merasakan genggaman hangat di atas tanganku. Apakah aku sudah dibawa ke dunia orang mati oleh tangan-tangan itu? Tetapi mengapa Dustin masih juga mengikutiku ke sini, padahal aku ingin melupakannya. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau dia selalu ada di sampingku seperti ini, dan bahkan mengejarku sampai ke dunia orang mati.

"Luke?"

Mengapa Dustin masih saja ingin berbicara denganku? Mengapa juga dia menyusulku sampai ke dunia orang mati. Dasar Dustin, benar-benar bodoh! Dia selalu bilang aku bodoh, padahal dia yang bodoh, mati hanya untuk menyusulku ke dunia orang mati. Tapi... tapi, apakah itu berarti bahwa dia juga menyukaiku? Dia rela mati dan menyusulku sampai ke dunia orang mati, ini berarti—kurasa orang bodoh pun akan tahu artinya—bahwa dia menyukaiku, dia pasti jatuh cinta setengah mati padaku. Dengan semangat yang baru aku membuka mataku lagi, mengerjap karena silau, dan sekali lagi membuka mataku untuk memfokuskan pandanganku pada sesuatu yang putih dan menyilaukan di atasku. Mengerjap lagi, dan aku menyadari bahwa yang putih itu dan menyilaukan itu adalah lampu neon yang tertancap di langit-langit ruangan.

Aku memaksa otakku untuk berpikir, apakah di dunia orang mati kami akan tinggal di ruangan berlampu? Belum pernah ada yang mengajarkanku tentang kematian, ke mana dan apa yang terjadi padaku setelah aku mati. Hogwarts tidak pernah mengajarkanku tentang itu, tapi orang-orang di Depertemen Misteri, Kementrian Sihir, telah mempelajarinya, tapi tidak menyebarkannya. Mungkin mereka takut, semua orang akan berusaha untuk memperpanjang umurnya dengan meminum eliksir kehidupan dari batu bertuah, atau membantai unicorn untuk meminum darah mereka. Namun, menurutku dunia orang mati tidak menyakitkan dan menyeramkan seperti yang dibayangkan oleh beberapa orang yang takut akan kematian. Buktinya aku baik-baik saja, aku tidak terluka, terbaring dengan hangat dan nyaman di sini.

"Luke, oh, syukurlah kau sudah sadar," kata Dustin lagi.

Aku berpaling dan memandangnya. Dustin sedang duduk di tepi tempat tidurku, tampak lebih kusut dari sebelumnnya; kemejanya tampak kusut, dua kancing atas terlepas; rambutku berantakan, mencuat seperti duri runcing di kepalanya; wajahnya tampak pucat dan sangat lelah, namun selebihnya dia tetap tampan seperti biasanya, dan hatiku langsung terenyuh, ingin menangis dan marah pada saat bersamaan: menangis karena sangat mencintainya dan marah karena tidak bisa melupakannya dengan mudah. Aku berpikir apakah di dunia orang mati para orang mati bisa merasakan perasaan seperti itu. Jawabannya tentu tidak, tapi mengapa aku merasakannya? Aku mengalihkan pandangan darinya dan memandang berkeliling. Tersentak, aku sadar bahwa aku sedang berada di kamar hotel; meja rias itu, lemari itu, ranselku yang berisi ramuan Polijus, yang seharusnya sudah kuminum lagi setelah dua jam, tapi aku belum meminumnya. Dan aku bisa berubah menjadi Lucy setiap saat dari sekarang, tapi aku tidak menghiraukannya, aku kan sudah mati. Tetapi mengapa aku tetap menjadi Luke, bukannya Lucy? Apakah karena aku mati sebagai Luke? Lagi pula, mengapa dunia orang mati bentuknya seperti ini, seperti kamar hotel? Tidak mungkin, pasti ada kekeliruan. Aku segera duduk, memandang Dustin lagi dan melihat bahwa tangan Dustin-lah yang sedang memegang tanganku dan menyebarkan kehangatan di seluruh tubuhku.

"Dustin, apakah kau sudah mati?" tanyaku, melepaskan tanganku darinya dan meraba keningku, terasa hangat. Bukannya harusnya dingin, ya? Aku kan sudah mati.

"Siapa yang mati?" dia bertanya heran, kemudian menambahkan, "Bagaimana perasaanmu, Luke?"

"Aku baik-baik saja," jawabku.

Aku memang merasa sangat baik setelah apa yang terjadi. Aku tidak sesak nafas, basah, dingin atau apa pun. Aku hanya merasa kering, nyaman dan sedikit ngatuk. Tetapi aku tidak boleh tertidur dulu, aku harus tahu apa yang terjadi.

"Bukankah kita sekarang ada di dunia orang mati?" tanyaku ingin kepastian.

Dustin tampak sangat sebal dan mengetok keras keningku dengan buku-buku jarinya.

"Dunia orang mati di mana?" dia bertanya. "Lihat sekelilingmu! Kita berada di kamar hotel."

"Er, kupikir kau sudah mati," kataku heran, memandang sekelilingku lagi, lalu memandangnya. "Jadi, aku belum mati?"

"Tentu saja belum," katanya. "Kalau kau sudah mati, kau tidak mungkin ada di sini, kau mungkin sudah ada di neraka, tempat para setan tinggal, karena kau telah mencoba untuk bunuh diri."

"Siapa yang mencoba untuk bunuh diri?"

"Kau, Luke, kau yang mau bunuh diri," katanya, mengetok keras keningku lagi. "Apakah diotakmu ini tidak ada sel-sel kepintaran, biar sedikit, untuk menunjang kehidupanmu?"

Aku mengusap keningku yang sakit, memandang tembok di depanku berpikir sesaat, lalu kembali memandang Dustin.

"Tetapi, aku tidak bunuh diri," kataku tegas. "Aku terjatuh dari gondola dan terus ke dasar canal karena aku tidak bisa berenang."

"Mengapa kau tidak menggunakan tongkat sihirmu, bodoh?" tanya Dustin, mengetok keningku, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Aku meringis kesakitan.

"Berhenti mengetok keningku!" seruku, kemudian bergeser menghindar darinya dan meninggalkan tempat tidur pada sisi lain.

Aku berdiri, sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja, sementara itu Dustin juga sudah berdiri dan sedang memelototiku dari sisi lain tempat lain.

"Kepalamu memang harus diketok agar otakmu yang bodoh itu bisa berpikir jernih," katanya. "Untung saja aku sedang mengikutimu dengan gondola lain di belakangmu, aku melihatmu terjatuh dan segera melompat ke canal untuk menyelamatkanmu."

"Jadi, tangan-tangan itu adalah tanganmu? Bukan tangan hantu penunggu canal?"

"Tentu saja tanganku, kau pikir siapa lagi yang rela terjun ke canal di malam yang dingin hanya untuk menyelamatkan orang bodoh..." katanya. "Dan berhenti bicara tentang hantu, karena hantu itu tidak nyata dan mereka tidak akan bisa menyentuhmu!"

"Tetapi kau yang mengatakan padaku bahwa hantu Muggle sangat menyeramkan."

"Itu karena kulihat kau sangat ketakutan, jadi aku ingin mempermainkanmu."

Aku mendelik padanya dan merasa ingin sekali balas mengetok kepalanya, tapi dia tampak tidak peduli dan masih memandangku dengan penuh perhatian, mungkin takut aku akan pingsan sebentar lagi, atau takut aku akan melakukan aksi bunuh diri lagi. Tiba-tiba aku teringat akan tongkat sihirku dan segera meraba-raba saku jeans untuk mencari tongkat sihirku. Tongkat itu tidak ada di sana, tongkat itu tidak ada di balik pinggang atau pun di balik kaos kakiku. Dengan sentak ketakutan dan penyesalan, aku menyadari bahwa tongkat sihirku telah tertinggal di dasar canal. Dustin tidak menyelamatkan tongkat sihirku. Sial! Seorang penyihir tidak akan mampu hidup tanpa tongkat sihir. Bagaimana kau bisa menjalani sisa liburan musim panasku tanpa tongkat sihir? Bagaimana aku bisa menghubungi Dom? Bagaimana aku bisa ber-Apparate untuk menemui mereka? Bagaimana aku bisa melakukan sesuatu tanpa tongkat sihir? Bagaimana aku bisa hidup?

Dustin yang sepertinya bisa membaca pikiranku, berkata,

"Tongkat sihirmu di sana," dia menunjuk meja kecil di sebelah tempat tidurku, dekat dengan tempatnya berdiri.

"Oh," seruku lega, segera berjalan melewati Dustin, mengambil tongkat sihirku dan memeriksanya.

"Jadi, mengapa kau mau bunuh diri?" dia bertanya.

"Aku tidak bunuh diri, aku terjatuh dari gondola," bantahku.

"Mengapa kau tidak menggunakan tongkat sihirmu?"

"Aku lupa," jawabku, dan dia langsung murka.

"Lupa?" semburnya. "Belum pernah aku menemukan penyihir yang lupa bahwa dia punya tongkat sihir. Apa saja yang ada di otakmu, hah? Mengapa otakmu tidak bisa memikirkan hal penting?" dia mendekatiku, mengetok keningku lagi dan berkata dengan tajam. "Aku heran bagaimana kau bisa tahu caranya berjalan dengan kedua kakimu... Setelah kembali ke Inggris kau harus memeriksakan diri di St Mungo."

"Aku memang akan memeriksakan diri di St Mungo karena aku bodoh," balasku. "Aku bodoh karena sudah menghabiskan dua minggu bersamamu... Tinggal bersamamu membuatku gila, tahu, membuat aku perlahan-lahan semakin bodoh."

"Bukan aku yang membuatmu bodoh, itu karena dirimu sendiri, kau sendiri yang tidak punya otak!"

"Oke, cukup!" kataku bosan, ingin melewatinya, tapi dia menghalangi jalanku.

"Tidak aku tidak akan berhenti bicara," katanya. "Kau bahkan tidak berterima kasih padamu setelah aku menyelamatkanmu dari kematian."

"Terima kasih sudah menolongku, kalau begitu," kataku keras. "Meskipun sebenarnya aku tidak mengharapkan pertolonganmu."

"Itu artinya kau bodoh."

"Baik, aku bodoh, aku tidak punya otak, aku sinting, aku gila, bisakah kau berhenti mengatakannya?" kataku agak sedih. Hatiku sakit, aku memang adalah gadis bodoh yang tidak pantas untuk berada di dekatnya.

Dia mendengus.

Aku mengalihkan pandanganku darinya dan memandang ranselku yang tergeletak di lantai di dekat lemari. Efek ramuan Polijus sebentar lagi akan memudar dariku, aku hanya punya dua pilihan: meminum ramuan Polijus itu, atau meninggalkan Dustin secepat aku bisa. Dan aku memilih pilihan terakhir karena aku memang sudah berniat meninggalkannya sejak awal. Setelah terdiam sesaat, aku segera melangkah melewati Dustin menuju ranselku. Tinggal bersama Dom, Rose dan Al di San Clemente Palace adalah pilihan terbaik. Aku seribu kali lebih nyaman bersama mereka daripada bersama Dustin. Menghindari pandangan Dustin, aku cepat-cepat membuka lemari dan memasukkan barang-barang Luke yang cuma sedikit ke dalam ransel, juga sebuah mobil mini dalam bulatan kaca, milik Dustin. Dia tidak akan tahu aku mengambilnya. Benda ini akan menjadi kenang-kenangan untukku selamanya.

"Mau ke mana?" tanya Dustin setelah aku selesai mengepak.

"Pindah," jawabku, menarik resleting ransel sehingga menutup. "Aku kan sudah bilang bahwa aku akan pindah."

"Kau tidak bisa pergi begitu saja dan meninggalkanku," kata Dustin, melangkah cepat dan berdiri di depan pintu.

Aku menggantung ransel di punggung dan berbalik untuk memandangnya.

"Dustin, kurasa kau tidak ingin tinggal bersama orang bodoh, kan? Karena itu aku akan pergi."

"Aku minta maaf," katanya.

"Apa?" tanyaku heran.

Dustin, seperti yang kukenal dengan sangat baik, tidak pernah merasa bersalah. Dia seratus persen benar dan aku seratus persen salah. Dia adalah orang yang harus menerima maaf dan aku adalah orang yang minta maaf, tapi sekarang dia minta maaf padaku.

"Mengapa kau minta maaf?" tanyaku, setelah melihatnya hanya terdiam dan memandangku dengan sedih.

"Apakah kau sedang mempermainkanku?" dia bertanya setengah mendelik padaku.

"Aku bukannya sedang mempermainkanmu, aku benar-benar tidak tahu," jawabku, balas mendelik. "Bukan aku yang sering memainkan permainan itu, tapi kau... Jadi, mengapa kau minta maaf?"

Dia terdiam sesaat, kemudian berkata,

"Aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan padamu; menendangku, mengetok kepalamu, memarahimu. Aku juga minta maaf untuk semua yang pernah kukatakan padamu; memanggilmu bodoh, tak berotak dan semuanya."

"Bagaimana dengan memanggilku penggoda, menggantung harga di leherku dan menunjukkan celana dalamku pada orang lain? Kau belum minta maaf tentang itu..." aku mendelik.

"Kapan aku pernah memanggilku begitu?" balasnya.

"Er—" aku menghindari pandangannya dan memandang berkeliling dengan gugup. Aku memang suka mencampur-adukkan segala sesuatu baik yang berhubungan dengan Luke atau pun Lucy. Tetapi Dustin, yang tampaknya tidak menghiraukan kegugupanku, bertanya.

"Jadi, kau memaafkanku? Kau tidak akan pindah hotel lagi, kan?"

Aku kembali memandangnya setengah tidak percaya. Raut wajahnya menunjukkan kelegaan, mungkin lega karena aku akhirnya memaafkannya dan tetap tinggal. Tetapi aku tidak bisa tinggal, aku harus pergi. Aku tidak ingin memandang wajahnya, mendengar suaranya, melihatnya tersenyum, mencintainya dan membuatku diriku sendiri merana. Tiba-tiba aku merasa marah, marah kepada Dustin yang tahu apa yang harus dilakukan untuk membuatku tetap tinggal dan marah pada diriku sendiri yang tetap peduli padanya meskipun separuh diriku sangat membencinya. Aku berpaling darinya dan berjalan mondar-mandir di depannya.

"Hentikan, kau membuatku pusing!" katanya.

Aku segera berhenti dan memandangnya.

"Mengapa kau harus minta maaf?" tanyaku. "Mengapa kau minta maaf sekarang setelah aku ingin melupakanmu? Mengapa kau selalu membuatku bingung? Mengapa kau seperti itu?" aku mendelik padanya. "Kau senang mempermainkan aku, kan? Kau tahu aku menyukaimu dan kau tahu aku tidak akan pergi kalau kau membuatku merasa—merasa disukai, dicintai—"

"Aku memang menyukaimu," katanya keras.

"Apa?" aku tersentak, memandangnya dengan tidak yakin.

"Aku menyukaimu," ulangnya, kemudian tampak jijik pada dirinya sendiri. "Dan mungkin aku sudah jatuh cinta padamu, tapi aku tidak ingin menciummu, aku tidak merasakan apa-apa yang berhubungan dengan nafsu kepadamu. Aku hanya jatuh cinta padamu, aku hanya menyayangimu, sangat menyayangimu... aku tidak ingin kau pergi karena kalau kau pergi aku mungkin akan kesepian dan akan sangat merindukanmu, karena itu kau—"

"Kau jatuh cinta padaku? Pada Luke?" jeritku, tak percaya.

No way!

Aku mengerjap, ingin rasanya aku berteriak keras, lalu menangis meraung-raung agar seluruh dunia tahu bahwa aku patah hati karena kebodohanku sendiri. Dustin jatuh cinta pada Luke, pada orang yang tidak nyata, Luke. Bagaimana dia bisa menyukai Luke, apakah dia gay? Aku memandang Dustin, ingin mencari kebenaran di wajahnya, dan mendapati bahwa dia sangat serius, dia memang gay, dia mencintai Luke. Tidak ingin memandang wajahnya, aku segera berbalik dan ingin segera pergi dari tempat ini, secepatnya, dan menghilang untuk selamanya.

"Aku bukan gay," katanya lagi, sangat tegas.

Aku memandangnya lagi, heran.

"Kau bukan gay? Tapi—tapi kau baru saja mengatakan bahwa kau mencintai Luke."

"Aku memang mencintaimu, tapi aku bukan gay... Mungkin hubungan kita tidak akan sama seperti pasangan gay yang lain. Aku hanya perlu kau berada di sampingku, mendengarkanku, berbicara denganku, tersenyum padaku dan cukup aku melihatmu saja, aku sudah senang."

Aku tertawa dan juga ingin menangis. Rasanya kejadian ini benar-benar lucu dan menyedihkan. Dustin ingin aku berada di samping, bersamanya selalu, tapi dia tidak ingin berkencan denganku, dia tidak ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia gay. Lalu, aku yang sebenarnya adalah cewek, sangat mencintainya, dan demi kebahagiannya akan menderita batin, sengsara karena harus menyamar sebagai cowok demi orang yang dicintai. Tidak, membayangkan saja sudah membuatku sakit hati. Aku tidak mau menyamar sebagai cowok selamanya demi Dustin yang gay, aku akan kembali menjadi diriku karena sebenarnya aku adalah cewek. Aku Lucy Weasley.

"Aku sangat cemas," kata Dustin lagi, sama sekali tidak menghiraukan pergulatan yang terjadi dalam diriku. "Kau jatuh ke dalam canal dan tidak muncul-muncul lagi... Aku sangat ketakutan, aku berenang dan menyelam mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu... Aku menyelam lagi dan memohon dalam hati agar aku segera menemukanmu. Dan akhirnya, aku menemukanmu, terbaring di dasar canal, tidak bergerak dan dingin... Aku membawamu ber-Apparate di kamar ini, tapi kau tetap terbaring di sana, seperti mati. Aku pikir kau sudah mati dan meninggalkanku, dan rasanya aku ingin mati bersamamu, dan aku sangat lega saat kau terbangun... Lalu, akhirnya aku sadar bahwa aku mencintaimu, aku sangat mencintaiku dan tidak ingin kau pergi meninggalkanku."

Aku tidak ingin berlama-lama di sini lagi, aku tidak ingin mendengar bagaimana dia sangat mencintai Luke, aku tidak ingin mendengarnya. Aku harus pergi.

"Aku harus pergi," kataku, mengambil tongkat siihirku dari saku jeans dan ingin ber-Disapparate, tapi Dustin menyambar tongkat sihirku dan menyimpannya di saku jeansnya sendiri.

"Kembalikan, Dustin," gertakku.

"Jangan menghindar," balasnya. "Kau juga menyukaiku, kan? Aku tahu kau menyukaiku, kita sama-sama saling mencintai. Dan aku tidak akan tertipu dengan alasan bahwa kau tidak mencintaiku."

"Aku memang menyukaimu, aku jatuh cinta padamu, sangat mencintaimu," kataku, setengah berteriak.

"Lalu apa masalahnya?" dia bertanya. "Kita bisa berkencan mulai sekarang, tanpa ciuman dan tanpa apa pun karena aku tidak mungkin menciummu, membayangkannya saja sudah membuatku jijik, tapi aku ingin kau ada di sampingku dan tinggal bersamaku... Kita akan bahagia dengan merahasiakan ini."

"Masalahnya, Dustin, adalah karena aku ingin menciummu... aku tidak ingin hubungan kita rahasia, aku ingin orang-orang tahu bahwa aku sangat mencintaimu."

"Apa?" Dia mundur dengan jijik.

"Ya."

"Tidak... kau—kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau bukan gay!"

"Aku memang bukan gay," kataku, memandang wajah Dustin yang tampak bingung dan memutuskan bahwa sudah saatnya bagiku untuk mengatakan pada Dustin bahwa aku sebenarnya cewek, bahwa Luke sebenarnya Lucy.

"Lalu, mengapa kau ingin menciumku?"

Aku melirik arlogiku dan menyadari bahwa sebentar lagi ramuan Polijus akan meninggalkanku. Dan Dustin akan tahu bahwa aku adalah Lucy Weasley.

"Lihat aku, Dustin, dan kau akan mengerti!"

Beberapa detik kemudian aku perlahan-lahan berubah menjadi Lucy dan berdiri di sana dengan kaos dan jeans kebesaran. Sementara aku berubah jadi Lucy, Dustin hanya melongo memandangku.

"Lucy Weasley?"

"Sekarang kau mengerti, kan, Dustin?" kataku. "Luke Spencer tidak nyata, dia tidak ada... Aku adalah Lucy Weasley, akulah yang selama ini ada di sini. Akulah yang sangat mencintaimu..."

"Kau menipu kami semua?" dia tampak heran, marah dan juga tampak lega.

Wajar saja, dia tentu sangat heran karena tiba-tiba Luke telah berubah jadi cewek; dia marah karena aku telah menipunya, karena tiba-tiba orang yang dicintainya ternyata bukan orang yang dikiranya dan entah apa yang membuat lega, aku tidak tahu, mungkin dia lega karena dia tidak perlu berurusan dengan orang bodoh lagi.

"Aku tidak bermaksud menipumu dan menipu semua orang, mereka sudah terlanjur mengira aku adalah cowok, jadi aku melanjutkannya..."

"Jadi selama ini kau mempermainkan perasaanku, kau pasti menganggapku bodoh dan tertawa dalam hati melihatku menyatakan cinta padamu..."

"Aku tidak tertawa, malah sebaliknya, aku sedih, aku ingin menjerit aku ingin menangis," dan benar saja airmata jatuh di pipiku, aku menyekanya dan melanjutkan, "Kau mengatakan bahwa aku cewek penggoda, kau ingin aku menggantung harga di leherku dan menjual diriku... Aku memang bodoh dan tidak sesuai untukmu, tapi aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu. Dan kau, kau malah menyukai Luke, tapi aku ingin mengakhirinya sekarang. Aku tidak mau menjadi Luke, hanya untuk membuatmu bahagia."

"Tunggu!" katanya. "Kau tampaknya salah mengerti... kau salah mengerti."

"Apa yang aku salah mengerti?" gertakku. "Semua sudah jelas bagiku, kau menyukai Luke, tapi kau tidak menyukaiku, kau sendiri yang mengatakannya waktu itu."

"Itu karena aku marah melihatmu bersama Antonio Orsoni, kau menepuk lengannya seperti yang kau lakukan padaku, kau juga tersenyum padanya seperti kau tersenyum padaku. Dan itu membuatku sangat marah, aku—"

"Kembalikan tongkat sihirku! Aku harus pergi," selaku, mengulurkan tangan.

Dustin mundur.

"Tidak... aku tidak akan membiarkanmu pergi sekarang dalam kesalahpahaman yang tentunya akan menyakitkan kita berdua... kita harus bicara... Banyak hal yang harus kita bicarakan, dan banyak hal yang harus kita luruskan."

"Aku harus pergi!" jeritku tak peduli karena merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semua sudah jelas bagiku. "Apakah kau tidak mengerti bahwa aku ingin melupakanmu, bahwa aku ingin kita berakhir di sini, bahwa aku tidak ingin bertemu denganmu lagi?"

"Tidak, aku tidak mengerti dan aku tidak ingin mengerti tentang omong kosong apa pun yang kau katakan tadi. Yang aku tahu adalah bahwa kau sebenarnya cewek, kau adalah Lucy, dan itu membuatku merasa lega karena selama ini kau membuatku merasa agak heran dengan diriku sendiri... kau membuatku—"

"Tolonglah, Dustin, kumohon kembalikan tongkat sihirku!" selaku lagi, tak ingin berlama-lama di sini.

Dustin memandangku sesaat dan mengeluarkan tongkat sihirku.

"Baiklah, kau boleh pergi sekarang karena aku ingin memikirkan beberapa hal, dan kulihat kau juga ingin memikirkan beberapa hal. Namun, aku merasa bahwa semuanya sudah jelas, perasaanku sudah jelas dan kulihat perasaanmu juga begitu. Tapi, karena kau bodoh, kau tidak menangkap bagaimana perasaanku padamu, bagaimana cemburunya aku melihatmu bersama Orsoni, bagaimana cemasnya aku melihatmu jatuh dalam canal itu, baik kau sebagai Luke, maupun sebagai Lucy, kau selalu membuatku marah, cemburu dan cemas. Yah, seharusnya aku tahu, cewek-cewek Weasley memang agak bodoh dalam hal perasaan dan percintaan, Julian sudah memperingatkanku," dia tersenyum. "Malam ini kau boleh pergi karena tidak mungkin aku tinggal sekamar dengan cewek cantik tanpa ingin menyentuhnya, dan kau pasti akan ketakutan kalau aku menciummu sekarang... Aku tidak ingin kau pergi dan kabur dariku seperti waktu itu, kau membuatku berkeliling Venesia mencarimu. Tetapi aku akan mencarimu besok dan aku akan menemukanmu... aku pasti akan menemukanmu, jadi jangan coba-coba kabur!" katanya, meletakkan tongkat sihirku di tanganku. "Bersiap-siaplah, Cara, dua orang yang saling mencintai punya banyak hal yang harus mereka lakukan selain mengatakan 'aku cinta padamu'."

Aku memandangnya agak bingung, sepenuhnya tidak mengerti pidato panjang yang baru saja dikatakannya. Aku hanya menangkap beberapa kata bahwa dia ingin aku tetap tinggal di tempat dan tidak kabur.

"Aku tidak akan kabur ke mana-mana," kataku.

"Bagus, jadi aku tidak perlu susah-susah mencarimu," katanya. "Kau menginap di mana?"

"Er, San Clemente Palace," kataku, sebenarnya tidak ingin mengatakannya, tapi karena takut kena marah, ya, mending aku bicara jujur saja. Lagi pula, dia mengatakan bahwa dia akan segera menemukanku.

"Oke, San Clemente Palace..." dia tersenyum dan menundukkan kepala untuk mengecup sudut bibirku. "Nah, pergilah! Sampai jumpa besok!"

Aku mundur dan segera ber-Disapparate.


Tanggal: Jumat, 15 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri

Waktu: 9. 43 pm

Aku ber-disapparate di sudut gelap dekat gazebo dengan pakaian kebesaran dan sedikit kebingungan karena jantungku berdebar sangat kencang dan rasanya hampir melompat keluar dari dadaku. Bisa-bisa aku kena serangan jantung, mengapa aku jadi berdebar-debar? Belum pernah aku berdebar-debar sebelumnya. Berusaha menenangkan diri, aku mengirim Patronus pada Dom dan menunggunya menjemputku.

Beberapa detik kemudian, Dom muncul di sampingku.

"Lucy, apa yang terjadi?" dia bertanya, memandangku dari atas ke bawah dan berlama-lama di wajahku. "Wajahmu memerah..."

"Er," aku menyentuh wajahku dan terasa panas.

"Kau baik-baik saja?" tanya Dom.

"Ya, sangat baik," kataku. "Bisakah kita ke kamar sekarang?"

"Oke," kata Dom, memegang tanganku dan membawaku ber-Apparate ke kamarnya dan Rose.

Kamar hotel ini adalah kamar yang benar-benar luas dan mewah dengan karpet cokelat berbulu. Ada dua tempat tidur besar yang bersandar di tembok dan sebuah meja rias besar, juga lemari besar yang dipernis. Di atas meja rias tampak bunga musim dingin yang indah dan harum terbawa angin malam dari jendela lebar yang terbuka. Jendela bergorden cokelat mewah itu menampilkan pemandang canal yang gelap dan pemandang pulau-pulau bercahaya kelap-kelip di kejauhan.

"Berapa kalian membayar kamar ini untuk semalam?" tanyaku jengkel, untuk sesaat melupakan jantungku yang berdebar-debar.

"Seratus Euro," kata Dom cuek dan segera duduk di tempat tidur.

"Kau bisa membuatku bangkrut," aku mendelik.

"Mungkin..."

Aku terus mendelik, tapi Dom segera mengeluarkan blouse dan rok juga celana dalam dan bra dari tas manik-manik Rose yang terletak di atas meja, kemudian memberikannya padaku.

"Mana Rose?" tanyaku, memandang tempat tidur kosong Rose.

"Di sebelah, di kamar Al," jawab Dom. "Kamar mandi di sana," dia mengangguk pada pintu di sebelah kiri ruangan.

Aku segera menuju kamar mandi menanggalkan pakaian Luke, mengenakan pakaianku sendiri, dan meletakkan pakaian Luke di keranjang pakaian kotor. Dom sedang berbaring santai di tempat tidurnya sambil membaca sebuah novel bersampul menyeramkan saat aku keluar kamar mandi. Aku segera berbaring di samping Dom dan memandangnya.

"Mengapa kau memandangku?" tanya Dom, meletakkan novelnya.

"Kau tidak bertanya mengapa aku sudah ada di sini padahal belum sampai sehari?" tanyaku.

"Aku tahu kau akan menceritakannya, jadi aku tidak bertanya," kata Dom. "Jadi, mengapa kau ada di sini."

"Dustin dan aku bertengkar, dan aku memutuskan untuk meninggalkan," kataku.

"Kali ini karena apa?" tanya Dom, kelihatannya bosan.

"Karena aku mengatakan bahwa Antonio bukan Terry," jawabku.

"Lalu?"

"Lalu aku memutuskan untuk memisahkan diri darinya dan menyelidiki Carlo Francesconi, tapi aku malah terjatuh di canal dan tenggelam."

"Lucy, kau tenggelam!" Dom tampak sangat terkejut. "Kau baik-baik saja, kan?"

"Ya, dia menyelamatkanku."

"Ingatkanku untuk berterima kasih padanya nanti," kata Dom.

"Kemudian kami bertengkar lagi," kataku tak sabar, Dom kelihatannya lebih peduli pada Dustin daripada padaku.

"Lucy, kau mengucapkan terima kasih padanya, kan?"

"Entahlah, aku tidak ingat, saat itu aku sedang marah."

"Lucy!"

"Dom, dia mengatakan cintanya padaku, pada Luke, bagaimana aku tidak marah?"

"Apa? Dia gay?"

"Entahlah, tampaknya begitu, tapi dia mengatakan padaku bahwa dia bukan gay..."

"Lalu kau bilang apa padanya?"

"Aku mengatakan padanya bahwa aku Lucy Weasley, dan dia sangat terkejut dan marah karena aku telah menipunya."

"Jadi dia sudah tahu bahwa kau Lucy?"

"Ya, kemudian dia mengatakan pidato panjang yang membuatku bingung dan berjanji untuk bertemu denganku besok."

"Mengapa dia mau datang bertemu denganmu besok?"

"Entahlah, katanya dia ingin meluruskan berbagai hal, mungkin dia ingin aku memberitahu alamat cowok Muggle yang rambutnya kupakai di ramuan Polijus," kataku. "Mungkin dia ingin bertemu dengan cowok itu, mengertikan? Dia kan gay!"

"Oh ya?" tanya Dom kurang yakin. "Lalu mengapa wajahmu memerah?"

"Aku tidak memerah."

"Lucy, kau memerah dan kalau Weasley merona merah pasti ada apa-apanya."

"Dia, er—"

Dom memandangku.

"Kalian berciuman?"

"Tidak!" bantahku cepat.

"Lalu?"

"Dia mengecupku di sudut bibirku," jawabku berdebar, menyentuh sudut bibirku.

"Lalu?"

"Lalu begitu saja, dan aku ber-Dispparate..."

"Dia menciummu dan kau mengatakan bahwa dia gay?" tanya Dom bingung. "Jadi sebenarnya dia gay atau bukan?"

"Mungkin dia biseksual, tahu, kan? Orang yang menyukai laki-laki, juga menyukai perempuan," usulku.

"Jadi maksudmu, dia menyukai Luke dan juga menyukai Lucy?"

"Ya, tampaknya begitu," jawabku tidak yakin.

"Itu artinya dia menyukaimu, Lucy," kata Dom. "Jadi maksudku dia menyukai pribadimu, dirimu, sesuatu dalam dirimulah yang disukainya, baik kau sebagai Luke, atau pun sebagai Lucy."

"Benarkah? Bagaimana dia bisa menyukai pribadiku? Dia kan membenci cewek bodoh, dan aku adalah cewek bodoh."

"Biasanya memang seperti itu, kan? Di mulut bilang benci padahal dalam hati sangat mencintai."

"Hah, ada orang yang seperti itu?"

"Banyak yang seperti itu, Lucy... Kau tentu tidak mengerti karena kau tidak pernah menyembunyikan perasaanmu. Kau akan bilang suka atau cinta kalau memang kau merasa seperti itu, tapi kurasa Dustin adalah tipe yang berbeda darimu, dia akan bilang benci padahal sebenarnya dia sangat menyukaimu."

"Jadi, saat dia bilang tidak menyukaiku waktu itu sebenarnya dia ingin bilang sebaliknya, bahwa dia menyukaiku? Tetapi mengapa dia seperti itu? Aku kan akan sangat senang kalau menyukaiku, jadi aku tidak perlu menangis."

"Mungkin karena dia masih ingin mempertimbangkan perasaannya padamu. Dia kan Ravenclaw, biasanya Ravenclaw banyak berpikir, dia mungkin masih memikirkan beberapa hal yang ada hubungannya denganmu."

"Dia memang pernah bilang akan memikirkan beberapa hal."

"Nah itu kan... dia memang tidak sama sepertimu. Jadi kau harus bersabar?"

"Tetapi waktu itu dia memang sangat membenciku, dia mengatakan bahwa aku cewek penggoda, kan?"

"Mungkin perasaannya sama seperti perasaanmu padanya. Kau membencinya kadang-kadang kalau dia sedang bersikap kasar, tapi kau mencintainya dan terpesona padanya kalau dia sudah bersikap baik. Dia juga seperti itu, membenci kebodohanmu, tapi juga mencintai kebodohanmu," kata Dom, lalu cekikikan.

"Dom," aku mendelik, dia langsung berhenti cekikikan.

"Bagaimana dengan Carlo Francesconi? Apakah dia Terry?" tanya Dom serius.

"Carlo Francesconi adalah seorang idealis sejati, cita-citanya adalah mengikuti sekolah misi dan menjadi seorang misionaris. Apakah dia Terry? Jawabannya adalah aku tidak tahu. Aku tidak tahu bagaimana Terry, apakah dia bisa berakting menjadi seorang idealis dengan baik atau tidak? Sekarang aku meragukan segalanya, aku juga ragu terhadap Antonio dan Giorgio Vivaldi. Bisa saja mereka adalah Terry yang sedang menghayati perannya sebagai seorang penjudi Italia, asisten koki di restoran yang hampir bangkrut atau seorang pemuda idealis," kataku, lalu memandang Dom. "Kaulah satu-satunya harapanku, Dom, kaulah yang mengenal Terry luar-dalam, kaulah yang akan langsung mengenalinya seperti apa pun penampilannya," aku memberikan pandangan anak anjing yang memohon, dia selalu lemah kalau ada yang memberikan pandangan seperti itu padanya. "Maukah kau membantuku, Dom, membantuku mengenali Terry?"

"Baiklah," kata Dom, dan aku tersenyum.

"Aku belum pernah bertemu Antonio Orsoni dan Carlo Francesconi, tapi aku yakin Giorgio Vivaldi bukanlah Terry."

"Bagaimana kalau besok kita makan siang di Antico Greco, kau bisa bertemu Antonio di sana," usulku bersemangat. "Kau akan senang bertemu Antonio, Dom, dia orang baik... Kau juga akan menyukai restoran itu. Restoran itu adalah restoran paling romantis yang pernah ada."

"Bukankah besok kau akan bertemu Dustin?" tanya Dom.

"Ah, siapa peduli pada Dustin, besok saatnya pelacakan dan kita akan bertemu Antonio, setelah itu kita akan bertemu Carlo."

"Baiklah," kata Dom. "Tapi aku akan mendapat lima puluh persen dari honormu, ya?"

"Yaah," kataku sebal.

"Tidak ada uang tidak ada pelacakan," kata Dom tegas.

"Oke!"

Menyebalkan, bukan, punya sepupu yang muka uang? Tetapi tak apalah, aku sangat menyayangi Dom.

Sincerely,

Lucy Weasley.


Tanggal: Sabtu, 16 Juli 2020

Lokasi: Restoran San Clemente Palace

Waktu: 8.30 am

Dear Diary,

Pagi ini terasa benar-benar indah, menikmati sarapan pagi sambil menikmati pantulan matahari di canal dan menyadari betapa indahnya dunia ini. Kami sedang duduk di bagian luar restoran, di meja yang menghadap ke Timur dan memandang Muggle-Muggle yang juga sedang sarapan sambil mengambil gambar segala sesuatu yang indah di depan mereka.

Di depanku, Dom, Rose dan Al tampak sangat santai dan menikmati suasana mewah dan mahal ini. Dalam hati aku mendengus, aku benar-benar akan mati dengan penuh hutang.

"Jam berapa Dustin akan datang menemuimu, Lucy?" tanya Dom.

Rose dan juga Al yang sudah tahu tentang kisah Dustin dan aku tidak terlalu peduli, mereka bahkan tampak bosan.

"Entahlah, aku kan sudah bilang semalam, kita lebih baik tidak usah mempedulikan dia... kita harus secepatnya menemukan Terry dan cepat-cepat kembali ke Inggris sebelum aku bunuh diri karena berhutang besar."

"Kau terlalu mendramatisirkan keadaan, Lucy... Kurasa memang wajar kalau Aunt Audrey memanggilmu Ratu Drama," kata Rose, sementara Al cekikikan.

Aku mendelik pada mereka semua.

"Sudahlah, Lucy, aku kan sudah berjanji untuk menemanimu menemui Antonio siang ini," kata Dom.

"Yah, tapi bagaimana kalau ternyata aku tidak berhasil menemukan Terry, dan—"

"Kita akan berhasil menemukannya," kata Dom, menenangkan.

"Weasley, aku tidak menyangka kau menginap di sini," kata suara Malfoy.

Kami semua berpaling dan melihat Scorpius Malfoy, sepupu Zabini, Uncle Jo, dua orang lain— satu dari St Mungo dan satu dari Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sihir Seluruh Dunia; aku sudah lupa nama-nama mereka, tapi aku mengenal wajah mereka—dan enam bodyguard berpakaian hitam baru saja tiba dan memilih meja di dekat kami. Malfoy dan Zabini duduk dengan sok, sedangkan Uncle Jo dan dua orang temannya tersenyum pada kami, sementara para bodyguard siap siaga di belakang kursi Malfoy dan Zabini.

"Jangan pedulikan mereka!" kata Dom, menyuruh kami semua untuk kembali pada sarapan kami masing-masing.

"Ya, benar..." kata Rose. "Jangan pedulikan Malfoy! Jangan pedulikan Malfoy," dia mengucapkan kata-kata itu seperti mantra. Sementara Al melirik Zabini tiap lima detik sekali membuatku bertanya-tanya apakah mungkin ada yang aneh di rambut cewek itu.

Aku melirik meja sebelah dan melihat bahwa para pelayan baru saja mengantarkan sarapan pagi lezat bagi para tamu VIP.

"Musang, aku heran kau bisa berada di sini? Bagaimana kau bisa membayar tagihan hotelnya, apakah kau menjual dirimu?" tanya Malfoy keras.

Uncle Jo dan dua tamu VIP lain terbelalak memandang Malfoy, tampaknya shock melihat remaja yang selama ini mereka anggap sopan ternyata bermulut kotor.

Sementara Rose, masih menggumamkan mantra, "Jangan pedulikan, Malfoy! Jangan pedulikan, Malfoy!"

"Brengsek," desis Al, segera berdiri, tapi para bodyguard langsung siap siaga memasukkan tangan dalam jas, siap mengeluarkan tongkat sihir kalau perlu.

"Mr Malfoy, kalau yang kau maksudkan adalah Weasley yang itu, kurasa mereka akan mampu membayar perjalanan ke Venesia atau ke mana pun. Bill Weasley merupakan orang yang berpengaruh di Gringgots, Percy Weasley adalah kepala Departemen Pengaturan Hukum Sihir, George Weasley adalah pemilik Weasleys' Wizarding Wheezes, itu merupakan toko lelucon yang paling terkenal dan sudah membuat cabang di mana dan Ronald Weasley adalah Asisten Utama di Markas Auror, orang kedua setelah Harry Potter. Yah, kurasa wajar-wajar saja kalau mereka menginap di sini," kata Uncle Jo, memberikan penjelasan panjang lebar pada Malfoy, yang tampaknya tidak mendengarkan satu kata pun, tapi sibuk memperhatikan Rose.

"Musang, pakaian apa yang kau pakai itu?" tanya Malfoy lagi, memandang pakaian Rose.

Hari ini memang baju Rose agak aneh, mirip kemben berwarna jingga yang terbuka seluruhnya di bagian bagian bahu dan perut dengan rok yang ujungnya miring aneh dari paha sampai ke lutut.

"Baru kali ini melihat baju-baju Muggle yang bagus sehingga kau terpesona dan berpakaian aneh seperti itu, Musang," kata Malfoy lagi.

"Kurasa pakaian, Miss Weasley sangat artistik," kata salah satu tamu VIP, teman Uncle Jo, membela Rose.

"Jangan pedulikan, Malfoy, jangan pedulikan, Malfoy," gumam Rose, seperti menyanyi.

"Ayo, kita pergi," kata Dom, segera berdiri, Rose, Al dan aku ikut berdiri.

"Mau pergi, Musang, mengapa hari ini kau begitu pendiam?" tanya Malfoy, tidak menghiraukan para tamu VIP.

Rose yang rupanya tidak tahan lagi untuk membalas Malfoy, segera berbalik untuk memandang Malfoy.

"Tentu saja aku mau pergi, Mayat, mataku yang sangat sensitif ini tidak bisa berlama-lama memandang kotoran yang ada di depan mataku," kata Rose tajam dan Al cekikikan.

"Kau—" Malfoy sudah berdiri dan tapi para bodyguard segera berjalan menuju kami.

Dom segera menyeret Rose dan aku segera menyeret Al, berjalan menjauhi restoran menuju gazebo di taman.

"Scorpius Malfoy... aku benar-benar membencinya," kata Rose, setelah kami sudah duduk di gazebo memandang dermaga yang sepi.

"Mengapa kau memakai pakaian seperti itu?" tanya Dom, memandang pakaian Rose. "Bukankah ini adalah rok yang kita beli di Rialto Bridge? Mengapa kau memotongnya jadi aneh begini?"

"Aku suka modelnya seperti ini," kata Rose, memandang roknya. "Lagi pula, aku hanya bisa memakainya di sini, aku tidak mungkin memakainya di Inggris."

"Ya, kau benar..." kataku memandang rok Rose, yang menurutnya sangat cantik, tapi menurutku agak aneh.

"Al, apakah kau mulai menyukai Ariella Zabini?" tanya Rose, memandang Al dengan tajam.

"Apa?"

"Kau memandangnya setiap lima detik sekali," kata Rose.

"Oh, kalian memperhatikanku?" Al tampak sangat malu. "Aku—aku merasa bahwa aku pernah mengenal liontin yang dipakainya itu," katanya, pikirannya tampak menerawang jauh.

"Liontin?" tanya Rose. "Aku tidak melihatnya memakai liontin."

"Apakah maksudmu liontin yang dicari-carinya waktu itu?" tanyaku.

"Ya, liontin itu."

"Maksudmu, kau pernah melihat liontin yang mirip sebelumnya?" tanya Dom.

"Yah, mungkin hanya mirip," kata Al, menggelengkan kepala.

Dom, Rose dan aku berpandangan.

"Kalau kau mau, kita akan mencari tahu dari mana Zabini mendapatkan liontin itu," kata Rose, memandang Dom dan aku, dan kami mengangguk.

"Tidak usah," kata Al segera. "Aku tidak terlalu ingin tahu, sebentar lagi aku akan melupakannya."

"Baiklah," kata Rose, memandang Dom dan aku lagi, tapi kami menggelengkan kepala.

Aku sadar, Dom juga Rose, tahu bahwa Al sedang menyembunyikan sesuatu dan itu ada hubungannya dengan Ariella Zabini dan liontin.


Tanggal: Sabtu, 16 Juli 2020

Lokasi: Restoran Antico Greco

Waktu: 12.15 pm

Seperti keadaan kemarin, restoran Antico Greco tetap sepi. Dom dan aku ber-Apparate di samping restoran dan menghirup udara perairan yang berbau garam, tapi menyegarkan.

"Tempat ini benar-benar sepi," kata Dom, memandang berkeliling pada burung-burung hitam yang beterbangan di atas canal.

"Ya, tapi aku suka tempat ini... tempat ini romantis."

"Kau menganggapnya romantis karena waktu itu kau sedang bersama Dustin, coba kalau kau sendirian, pasti kau akan menganggapnya sepi dan membosankan," kata Dom.

"Kau benar, Dom," kataku, setengah berpikir. "Waktu itu aku memang bersama Dustin."

"Ayo," kata Dom, dan kami melangkah perlahan melalui jalan kecil beraspal yang menuju pintu depan restoran.

"Er, tapi apakah tidak apa-apa Rose dan Al ditinggalkan di hotel?" tanyaku khawatir.

"Jangan khawatir, Lucy, mereka baik-baik saja... mereka kan empat belas tahun," kata Dom.

"Bagaimana kalau Rose bertemu Malfoy dan menyebabkan kehebohan, lalu dia diberi surat peringatan dari Depertemen Penggunaan Sihir yang Tidak pada Tempatnya membuat Uncle Ron mengeluarkan aku dari daftar warisan Weasley..."

"Tidak," kata Dom tegas. "Rose akan baik-baik saja, dia bisa menahan diri, kurasa Malfoy juga tidak akan menyebabkan Rose terlibat dalam masalah."

Aku memandang Dom dan heran akan keyakinannya.

"Kurasa Malfoy sebenarnya menyukai Rose hanya belum menyadarinya," katanya, melanjutkan.

"Apa?" aku tertawa. Ini adalah komentar yang sangat tidak mungkin yang pernah kudengar.

Dom tidak menghiraukanku dan melanjutkan.

"Kurasa Rose juga sebenarnya menyukainya, hanya saja, dia juga tidak menyadarinya."

"Mengapa kau bisa berpikiran seperti itu?" tanyaku.

"Entahlah, kuhanya mengandalkan firasat dan firasatku selalu benar..." kata Dom, percaya diri.

Aku menggelengkan kepala dan cepat-cepat masuk ke dalam restoran meninggalkan Dom yang mendelik karena aku tidak ingin mendengarkan tentang firasatnya. Kalau tadi aku mengharapkan restoran yang sepi, aku kecewa berat, karena restoran itu tidak sepi, sudah ada dua orang yang sedang duduk makan di meja dekat jendela. Mereka adalah Dustin dan Mr Steven Osterley dari SAI. Dustin mengangkat muka tampak terkejut dan sekaligus girang melihat kami, sementara itu Mr Osterley tampak terpana, mungkin baru kali ini dia melihat dua cewek cantik dan seksi masuk restoran. Yups, aku tahu aku terlalu memuja diri sendiri.

"Hai, Dom," kata Dustin, berdiri dari kursinya dan segera menghampiri Dom dan aku.

"Hai, Dustin," kata Dom sopan, sementara aku sangat tertarik pada Maria yang sedang duduk membaca majalah di meja kasir.

"Ayo, bergabung bersama kami," kata Dustin, menyeret Dom ke mejanya dan tidak menghiraukan aku.

Aku segera meyusul mereka.

"Mr Osterley," kata Dustin. "Ini Dominique Weasley... Dom, ini Auror Steven Osterley dari SIA"

"Hai, Miss Weasley," kata Mr Osterley dan menjabat tangan Dom.

"Hai, Mr Osterley," kata Dom sopan, wajahnya berubah aneh sesaat, tapi dia tersenyum sehingga aku merasa bahwa mungkin aku cuma mengkhayalkannya.

Mr Osterley memandangku, tapi Dustin berpura-pura bahwa aku tidak ada, jadi aku memperkenalkan diriku sendiri.

"Hai, aku Lucy... Lucy Weasley," kataku, menyalami Mr Osterley dan berharap dalam hati bahwa Dustin tidak mengatakan pada Mr Osterley bahwa aku adalah Luke.

"Hai, Lucy," kata Mr Osterley, bersamaan dengan seseorang di belakangku memanggil, "Lucy," aku berbalik dan melihat Antonio berdiri di belakangku dan tersenyum padaku.

"Hai, Antonio," kataku senang, tapi tiba-tiba sebuah tangan telah melingkar di pinggangku, dan aku ditarik ke arah tubuh hangat seseorang dan suara Dustin yang dingin berbicara padaku.

"Kau mau makan apa, Cara? Aku akan memesannya untukmu."

Aku mendelik, tapi Dustin tidak peduli, sementara Dom dan Mr Osterley tampak heran. Aku segera berpaling dan tersenyum pada Antonio yang dibalas Antonio dengan hangat.

"Spaghetti dan jus jeruk?" tanya Antonio mengedip padaku.

Aku tertawa, sementara Dustin mendengus.

"Kau pintar menebak, Antonio," kataku, tak menghiraukan Dustin, kemudian mengangguk pada Dom. "Kenalkan ini sepupuku, Dominique!"

"Hai, Antonio," kata Dom, mengulurkan tangannya.

"Hai, Dominique," kata Antonio dengan logat Italia yang menurutku sangat seksi, menjabat tangan Dom, melepaskan, kemudian memandangku. "Apakah dia Dom yang sama, yang kau suruh aku temui semalam, Lucy, kalau aku tahu dia secantik ini, aku pasti akan datang semalam."

"Kalau begitu kapan-kapan," kata Dom, tersenyum tampak sedikit genit.

Aku memandangnya dengan heran, Dom tidak pernah tersenyum genit.

"Kukira kita semua harus duduk," kata Mr Osterley.

"Ya, kalian memang harus duduk," kata Antonio, menarik kursi untuk Dom dan juga untukku, sementara Dustin berdiri di sana dan tampak murka. Yah, Dustin sangat membenci Antonio.

"Terima kasih," kataku, tersenyum pada Antonio.

"Kau mau pesan apa, Dominique?" tanya Antonio.

"Sama seperti Lucy," jawab Dom masih tersenyum manis, aku bertanya-tanya apakah dia suka Antonio, atau Antonio adalah Terry.

Antonio tersenyum dan kembali ke dapur, sementara aku meperhatikannya; caranya melangkah dan mencoba membandingkannya dengan cara Terry melangkah, tapi menurutku tidak mirip. Apakah Terry memang hebat dalam penyamaran sehingga dia bisa menirukan cara melangkah orang yang disarukannya itu?

"Apakah kau tidak bosan memandangnya?" tanya Dustin jengkel. Dia duduk di depanku dan sekarang sedang memandangku dengan tajam.

"Aku tidak memandangnya aku hanya—"

"Hanya apa?" gertak Dustin. "Hanya mencoba menarik perhatiannya, seperti kemarin."

Aku memberinya pandangan dingin yang bisa kuberikan, dan berjanji akan membunuhnya kalau dia berani menyebutku wanita penggoda, atau menyebutku bodoh.

"Kuperingatkan kau, aku tidak akan mentolelirmu lagi, aku akan membunuhmu kalau kau berbicara padaku seperti kemarin."

"Aku tidak akan berhenti bicara sampai kau berhenti menggoda cowok tampan yang ada di depanmu."

"Aku tidak menggodanya, aku hanya bicara dengannya," kataku keras.

"Oh ya?" dia menaikkan alis tidak percaya.

"Kau—mengapa kau selalu seperti ini dan membuatku bingung? Mengapa semalam kau menci—ADUH!"

Dustin telah menendang kakiku di bawah meja dan rasanya sangat sakit. Siapa pun pasti akan kesakitan kalau kakinya ditendang oleh seorang cowok, apa lagi cowok itu taekwondo. Airmata kesakitan mengalir dari sudut mataku dan aku mengusap kakiku di bawah meja.

"Lucy, kau baik-baik saja?" tanya Dom, tampak khawatir.

"Dia baik-baik saja," jawab Dustin, mengeluarkan sapu tangan dan menyeka airmataku.

Tetapi airmataku tetap mengalir.

"Berhenti menangis!" desis Dustin.

"Aku membencimu," kataku, mengibaskan tangannya dan menyeka airmataku sendiri dengan punggung tanganku.

"Aku sudah bilang jangan melap wajahmu pada punggung tangan," kata Dustin. "Pakai ini!" dia mengulurkan saputangannya padaku.

Aku mengambilnya dengan sentakan dan menghapus airmataku, sementara tulang kakiku terasa seperti telah meninggalkan engselnya.

"Miss Weasley, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mr Osterley, kentara sekali ingin memulai percakapan. Dia memandang Dom.

"Kami sedang berlibur," jawab Dom, agak tak peduli.

"Benarkah?" tanya Mr Osterley, tidak yakin; memandangku, kemudian memandang Dom lagi. "Apakah kedatangan kalian di sini bukan dengan maksud-maksud tertentu?"

"Apa maksud anda?" tanya Dom.

"Kau mengerti maksudku, Miss Weasley."

"Mr Osterley," kataku ceria. "Kami memang sedang berlibur... Venesia adalah kota yang paling indah di seluruh dunia."

"Benar..." Antonio sudah muncul lagi mengantarkan dua piring spaghetti dan dua gelas jus jeruk. "Ada beberapa tempat menarik di sudut kota ini yang belum kalian lihat," katanya, meletakkan pesanan kami di depan kami. "Mau pergi bersamaku kapan-kapan?" dia tersenyum, kemudian mengedip padaku.

Aku jadi sedikit heran melihat Antonio yang super-genit, aku melirik Dustin yang murka dan aku menyadari bahwa dia rupanya ingin membuat Dustin jengkel. Pantas saja Dustin membencinya.

"Antonio, kau benar-benar baik, aku senang—"

"Kau tidak akan ke mana-mana," kata Dustin mendelik padaku, lalu pada Antonio. "Dan Signore, berhentilah mengedip padanya. Karena dia sedikit bodoh, dia akan mengira anda tertarik padanya."

"Aku memang tertarik padanya," kata Antonio, mengedip lagi padaku, membuat wajahku terasa panas.

"Sayang sekali, Signore, dia milikku jadi aku tidak mengijinkan orang lain, apa lagi cowok mengedip padanya."

"Oh..." Antonio memandangku, tapi aku hanya tersenyum sedih.

Setelah Antonio pergi, aku segera memarahi Dustin.

"Apakah kau tidak bisa bersikap sopan?"

"Tidak, sampai kau berhenti menggodanya."

"Aku tidak menggodanya, aku hanya bicara dengannya."

"Wajahmu memerah," katanya.

"Memang, tapi ini tidak ada hubungannya dengan kau bersikap sopan atau tidak..."

"Sudah, hentikan kalian berdua!" kata Mr Osterley. "Apakah kalian akan membiarkan makanan ini menjadi dingin?"

Aku mendelik lagi pada Dustin dan menunduk untuk memakan spaghetti-ku. Dustin memang sangat keterlaluan, apakah dia masih mengira aku sedang menggoda Antonio? Aku kan sudah bilang padanya bahwa aku menyukainya, tapi tetap saja curiga aku sedang menggoda cowok lain.

"Kalian menginap di mana, Miss Weasley?" tanya Mr Osterley setelah beberapa saat.

"San Clemente Palace," jawab Dom, masih menunduk menyantap spaghetti-nya.

"Hei, aku juga menginap di sana, tapi aku tidak pernah melihatmu," kata Mr Osterley lagi.

"Kami baru pindah semalam," kata Dom.

Aku memandang Mr Osterley dan melihatnya sedang memandang Dom dengan penuh perhatian. Apakah Mr Osterley menyukai Dom? Kelihatan sekali dia menyukainya, dia berlama-lama memandang bibir Dom yang sedang menyantap spaghetti.Tidak mungkin dia hanya bersikap ramah atau hanya basa-basi. Berarti dia memang menyukai Dom, Dom kan sangat cantik, bahkan Dustin juga menyukai Dom. Hanya akulah yang tidak pernah dilirik oleh cowok-cowok tampan, Antonio kelihatannya hanya sekedar basa-basi untuk membuat Dustin jengkel. Aku menghela nafas dan mengangkat muka memandang Dustin yang sedang mendelik padaku.

"Bersihkan mulutmu," desis Dustin perlahan, sementara Mr Osterley mulai bercerita pada Dom tentang asal mula hotel San Clemente Palace.

Aku balas mendelik, lalu mengambil sapu tangannya yang tadi kupakai untuk mengeringkan airmataku. Setelah membersihkan mulutku, aku segera menyedot jus jerukku sampai habis. Dan berbalik memandang pintu yang menuju ke dapur. Aku ingin pergi ke dapur dan berbicara pada Antonio tentang Dom, aku harus tahu apakah dia Terry atau bukan.

"Jangan coba-coba bergerak dari tempatmu," desis Dustin lagi, pelan sehingga cuma aku yang bisa mendengarkannya, sementara Mr Osterley masih asyik berbicara tentang San Clemente Palace pada Dom yang tampaknya tidak terlalu tertarik untuk mendengarkan.

"Aku mau pesan jus jeruk," bisikku.

"Biar aku yang melakukannya untukmu," kata Dustin, langsung memanggil Maria yang sedang asyik membaca majalah di meja kasir.

"Jus jeruk satu lagi," kata Dustin, pada Maria yang dengan sebal segera pergi menyampaikan pesananku ke dapur.

Aku memelototi Dustin.

"Apa sih yang terjadi denganmu? Aku ingin ke dapur dan berbicara dengan Antonio."

"Aku melarangmu berbicara dengannya."

Apa-apaan sih cowok ini?

Tanpa menghiraukan Dustin, aku segera berdiri.

"Dom, aku akan ke kamar mandi, mau ikut?"

Dom yang sedang mengkhayal sambil pura-pura mendengarkan Mr Osterley, yang sedang menceritakan perkembangan kota Venesia, langsung terkejut, dan memandangku.

"Er, Lucy, aku di sini saja," kata Dom, tersenyum pada Mr Osterley dan menyuruhnya melanjutkan cerita tentang perkembangan kota Venesia.

Aku melangkah meninggalkan meja, dan Dustin segera mengikutiku.

"Mengapa kau mengikutiku?" desisku, setelah kami melewati Maria yang memandang kami dengan tertarik.

"Aku harus melihat apa yang kau lakukan," katanya. "Aku tahu kau ingin bertemu Antonio."

"Benar, tapi—"

"Kau berniat menggodanya."

"Dustin, ya ampun!" aku mencengkram lengannya dan menyeretnya menuju koridor sempit yang menuju ke kamar mandi. "Aku tidak menggodanya, bisakah kau percaya?"

"Tidak..."

"Dustin, bagaimana agar aku bisa membuatmu percaya? Katakan padaku!" kataku sebal.

"Aku tidak suka melihatmu tersenyum padanya!"

"Aku hanya bersikap ramah."

"Aku tidak suka kau datang ke restoran ini, kau hanya boleh datang ke sini bersamaku..."

"Aku sedang melakukan sesuatu yang penting."

"Satu hal lagi, kau tidak boleh memandang Osterley!"

"Ha?"

"Tadi kau memandang Osterley dengan penuh perhatian, kau menyukainya?"

"Dustin, tolong—tolong jangan bersikap aneh," pintaku. "Aku tidak menyukai Antonio, Mr Osterley atau siapa pun, aku hanya menyukaimu, puas?"

"Tidak, selama kau masih ingin berbicara dengan Antonio Orsoni."

"Aku berbicara padanya demi kita," kataku menjelas. "Agar kita segera tahu apakah dia Terry atau bukan..."

"Apa yang kau rencana, kan?" tanya Dustin curiga. "Biasanya rencanamu selalu membuat kita semua dalam masalah."

"Kali ini tidak..." kataku. "Dom sudah berjanji membantuku menemukan Terry."

"Bagaimana dia melakukannya?"

"Dengan kekuatan cinta," kataku, tersenyum. "Kekuatan cinta Dom akan berhasil menemukan Terry."

Dustin memandangku dengan heran sesaat, kemudian tertawa terbahak-bahak, aku mendelik.

"Kau ini," katanya, setelah puas tertawa. "Kau selalu percaya pada hal-hal romantis seperti itu, ya?"

"Kau tidak?"

"Tidak, aku percaya pada kenyataan, pada bukti-bukti dan saksi-saksi," katanya.

"Terserah..." kataku sebal, kemudian berbalik hendak berjalan ke dapur, tapi Dustin menahan lenganku dan memandang kakiku.

"Kakimu tidak apa-apa?"

"Sudah lebih baik sekarang, tapi tadi benar-benar sakit... mengapa kau menendang kakiku?"

"Itu karena aku tidak ingin kau mengatakan pada semua orang bahwa aku menciummu."

"Mengapa? Kau kan memang menciumku."

"Belum saatnya untuk membuat pengumuman... kita masih harus bicara."

"Kau mau bicara apa?"

"Banyak, Cara," dia sekarang memandangku. "Apakah kau memikirkan tentangku semalam? Tentang hubungan kita?"

Wajahku langsung terasa panas.

"Er, aku memang memikirkanmu—itu karena kau menciumku!"

"Kau hanya memikirkan tentang ciuman, bukan tentang kelanjutan hubungan kita?"

"Hubungan kita?" tanyaku heran. "Kita tidak ada hubungan apa-apa, kan?"

"Kau ini," kata Dustin tak sabar. "Karena kau bodoh, harus ada di antara kita yang memikirkan tentang itu!" dia mengeluarkan tongkat sihirnya, menyambar lenganku dan ingin membawaku ber-Disapparate.

"Tidak, kau tidak bisa membawaku pergi!"

"Mengapa?"

"Karena aku bersama Dom, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

"Mana yang lebih penting, Dom atau aku!"

Aku memandangnya tak percaya.

"Aku tidak bisa memutuskan," kataku. "Kalian berdua sangat penting bagiku."

Dustin menunjukkan ekspresi aneh, kemudian menunduk mengecup keningku.

"Oke, kita akan bertemu lagi nanti malam, di taman di depan hotel San Clemente Palace," katanya.

Aku mengangguk, dan sambil menggandeng tanganku dia membawaku kembali ke meja kami.

Sementara memandang Mr Osterley yang sekarang sedang bercerita tentang hotel-hotel terkenal dan menyenangkan di Venesia, aku memikirkan bagaimana akhir kisah cintaku. Dustin mengatakan bahwa dia dan aku sedang berhubungan, aku tidak mengerti apa hubungan yang dimaksudkannya, tapi aku tahu ini mungkin ada hubungannya dengan saat dia mengecup sudut bibirku dan saat dia mengecup keningku. Aku memandang Dustin, dia menangkap pandanganku dan tersenyum manis. Aku balas tersenyum, karena tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Diary, aku memang tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku kan belum pernah 'berhubungan'—seperti yang dikatakan Dustin tadi—dengan seseorang. Aku juga tidak bergaul dengan orang lain, kecuali dengan para sepupuku dan Teddy, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang 'hubungan' ini. Kurasa keluarga kami memang agak terbelakang dalam hal hubungan sosial.


Tanggal: Sabtu, 16 Juli 2020

Lokasi: Hotel San Clemente Palace

Waktu: 1. 18 PM

"Aku sudah menemukan Terry," kata Dom, saat kami ber-Apparate di kamar hotel. Rose dan Al yang sedang duduk di kamar sambil membaca langsung memandang Dom dengan tertarik.

"Antonio Orsoni?" tanyaku ingin tahu, membaringkan diriku di tempat tidur dengan kelelahan.

"Bukan," jawab Dom. "Mr Steven Osterley dari SAI."

"Tidak..." kataku, segera duduk dan memandang Dom yang masih berdiri setelah memberikan pengumuman tak terduga itu.

Rose dan Al mengangkat alis.

"Percayalah padaku, Lucy," katanya. "Aku tahu itu dia, Osterley adalah Terry. Caranya mengerakkan tangannya, caranya menceritakan sesuatu dengan bersemangat, dan perasaanku yang berdebar-debar saat dia memandangku."

"Dom..."

"Lucy, ini adalah hal yang paling benar yang kukatakan, aku mempertaruhkan hidupku untuk ini. Dia adalah Terry," kata Dom, memandang Rose dan Al yang sedang melongo memandangnya.

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanyaku sedikit bingung. "Aku tidak menduga bahwa Mr Osterley adalah Terry."

"Terry memang sangat pintar, dia tahu apa yang harus dilakukan agar tidak mudah dikenali, tapi dia tidak bisa menipuku," kata Dom. "Kau harus bicara dengan Dustin tentang ini."

"Bagaimana kalau dia tidak percaya padaku?" tanyaku kuatir.

"Dia akan percaya padamu, Lucy, dia mencintaimu dan kau bisa memaksanya untuk mempercayaimu," kata Dom tersenyum. "Kekuatan cinta biasanya sangat kuat. Ini saatnya bagimu untuk mengujinya, kalau kau bisa membuatnya percaya padamu berarti dia sangat mencintaimu."

"Tapi?"

"Pergilah Lucy, cari Dustin dan selesaikan masalah ini, sudah saatnya kita kembali ke Inggris, kan?" kata Dom. "Aku sudah ingin kembali ke Inggris."

"Ya, aku sangat ingin kembali ke Inggris."


Tanggal: Sabtu, 16 Juli 2020

Lokasi: Hotel Lokanda Salieri

Waktu: 1. 34 pm

Dear Diary,

Ber-Apparate di kamar hotel ini membuatku merasa sedikit aneh, aku pernah ada di sini menjadi Luke, pernah mengalami berbagai hal yang mengguncang perasaanku; marah, benci dan cinta. Dan objek yang mengguncang perasaanku itu sedang tidur pulas di atas tempat tidur. Aku heran, bagaimana Dustin bisa pulas tertidur sementara aku tak bisa tidur karena memikirkannya. Dengan pelan dan hati-hati agar tidak membangunkannya, aku berjalan mendekatinya, duduk di sisi tempat tidurnya dan mengulurkan tangan untuk menyentuh rambutnya, tapi dia mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat, membuka mata dan terkejut melihatku.

"Lucy, apa yang kau lakukan?" dia bertanya seraya duduk di tempat tidur.

"Aku hanya ingin menyentuh rambutmu, tapi kau mencengkram tanganku... aku kesakitan," kataku, meringis.

"Maaf," katanya segera melepaskan cengkramannya di tanganku.

Bekas merah muncul di tanganku dan aku mendelik.

"Apakah kau memang selalu seperti itu?"

"Aku pikir kau pencuri, banyak pencuri dan pencopet di sini," katanya membela diri. "Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kita kan sudah berjanji untuk bertemu nanti malam."

"Aku ingin bicara denganmu sekarang karena ini penting..." kataku, memandang berkeliling mencoba untuk mencari kata yang tepat untuk mengatakannya.

"Naiklah kemari duduk di sini!" katanya, menyuruhku untuk duduk di sampingnya di atas tempat tidur.

"Tidak, aku di sini saja," kataku, segera pindah ke tempat tidur Luke.

"Aku tidak akan membiarkanmu bicara sebelum kau duduk di dekatku."

"Aku tidak mau duduk di dekatmu karena kau membuatku berdebar-debar, aku tidak bisa... kau tidak baik untuk jantungku."

"Merlin, mengapa aku harus jatuh cinta pada cewek super-aneh ini?" geram Dustin, kemudian, mengulurkan tangan, menangkap lenganku dan menarikku sehingga aku terjatuh ke arahnya.

"Aduh!" aku terjatuh dengan wajahku tepat di dadanya.

"Ayo, duduk yang baik, dan mulailah berbicara!" katanya, menarik lenganku lagi, membantuku duduk di sampingnya, lalu menarik kepalaku agar bersandar di bahunya, sementara dia sendiri bersandar pada kepala tempat tidur.

"Aku berdebar-debar," kataku.

"Bagus, dan sekarang diamlah dan dengarkan debaran jantungku juga..." katanya. "Kau terlalu banyak mengkhayalkan hal-hal aneh sehingga kau tidak melihat bahwa aku juga sangat... sangat menyukaimu. Aku juga jatuh cinta padamu, tapi kau kadang-kadang membuatku bertanya-tanya apakah kau benar-benar serius menyukaiku, atau hanya ingin mempermainku dengan kata-katamu yang penuh romantisme."

"Kata-kataku tidak penuh romantisme, aku memang benar-benar jatuh cinta padamu," protesku.

"Bagus, kalau begitu kita akan berkencan, tapi aku akan menyebutkan aturan-aturan dalam berkencan?"

"Aturan dalam berkencan? Aku belum pernah dengar yang seperti ini."

"Aku baru saja membuatnya dan aku ingin kau mematuhinya."

"Tidak mau, pasti kau sengaja membuat aturan aneh."

"Pertama," katanya tak menghiraukan protesku. "Kau tidak boleh bicara dengan cowok lain selain aku dan cowok-cowok lain yang sudah kukenal."

"Tapi—"

"Kedua, kau tidak boleh memakai rok-rok pendek di atas lutut, kau hanya boleh memakai jeans dan rok panjang."

"Ha?"

"Ketiga, jangan mengatakan 'aku suka kamu' atau 'aku cinta kamu' padaku dengan santai di depan umum, lalu pergi begitu saja. Kalau kau mengatakan 'aku suka kamu' atau 'aku cinta kamu', kau harus menciumku dulu baru pergi."

"Aku tidak—"

"Keempat, karena kau pacarku kau tidak boleh melarangku menciummu, mengerti!"

Aku tidak menjawab, tapi duduk tegak dan memandangnya.

"Kau benar-benar menyukaiku?" aku ingin ketegasan.

"Tentu saja aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu..."

"Bukankah kau menyukai Luke?"

"Aku menyukai Luke karena dia adalah kau... Kau mengerti maksudku?"

"Tidak..."

"Aku kadang mencampur-adukkan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarku yang melibatkan dirimu dan Luke. Kau dan Luke benar-benar sama; cara bicara, cara berjalan, kebodohan dan keanehan dan kalian berdua sama-sama mengumbar kata suka di depan umum membuatku jadi sebal. Lalu, aku tiba-tiba saja sudah menyukai Luke, kemudian saat melihatmu aku merasa bahwa aku juga sudah menyukaimu, sudah mengenalmu. Hal itu membuatku sangat kebingungan, lalu kau tiba-tiba berkata bahwa kau adalah Luke, bahwa Luke adalah kau yang sedang menyamar dan akhirnya aku merasa lega... sekarang aku bisa mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu."

"Tetapi aku bukan tipemu, aku bodoh, aku tidak bisa membaca peta, aku tidak mampu mengikuti perjalanan Muggle baik lewat laut maupun udara."

"Biasanya kalau kita sudah mencintai seseorang kita tidak akan peduli lagi apakah dia bodoh, apakah dia aneh, apakah dia pemarah atau—"

"Kau yang sering memarahiku," sergapku cepat.

"Aku kan sudah minta maaf," katanya. "Sekarang karena kau sudah jadi pacarku aku akan bicara lembut padamu, tapi ingat kau harus mematuhi peraturan-peraturan kencan yang telah kubuat."

Aku memandangnya, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya. Semua terasa aneh dan begitu cepat bagiku, aku belum mengerti apa yang harus kulakukan, tapi dengan status baru aku sebagai pacarnya, aku bisa menyentuhnya.

"Jangan memandangku seperti itu!" katanya.

"Apa?" tanyaku heran.

"Kau membuatku ingin menciummu," katanya.

"Tapi aku belum pernah berciuman," kataku.

"Yah, ini akan menjadi ciuman pertamamu," katanya, menunduk untuk menciumku, tapi aku segera memalingkan wajah. "Mengapa?" dia tampak cemas.

"Kau harus berjanji satu hal."

"Apa?"

"Jangan pernah meninggalkanku meskipun aku membuatmu sebal karena kebodohanku," kataku.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu... kita akan selalu bersama. Kalau kau mau, aku akan melamarmu setelah kita kembali ke Inggris."

"Tidak! Aku masih sekolah," kataku.

"Baiklah, nanti kapan-kapan aku akan melamarmu."

"Lalu kau tidak boleh memanggilku Cara, kau membuatku malu."

"Ada apa dengan panggilan Cara? Kurasa itu sangat cocok untukmu."

"Aku tidak ingin kau memanggilku bodoh di depan umum."

"Lucy, Cara itu artinya sayang, karena aku menyayangimu aku memanggilmu begitu," katanya.

"Oh..."

"Apakah sekarang aku sudah boleh menciummu?"

"Baiklah," kataku segera memejamkan mata, dan dia menciumku dengan lembut membuat jantungku berdebar kencang dan membuatku merasa melayang.

Setelah beberapa saat, mungkin setelah ribuan hari yang indah, aku membuka mataku dan memandangnya.

"Kau tidak boleh mencium orang lain selain aku," kataku.

Dustin tersenyum dan segera memelukku.

"Tentu saja, aku tidak akan mencium orang lain, tapi kau harus mematuhi peraturan kencan yang kubuat," katanya setelah melepaskanku.

"Oh, peraturan menyebalkan itu? Tapi aku tidak punya rok panjang dan jeans, Dustin."

"Aku akan membelikannya untukmu dan kau harus segera melepaskan rok yang kau pakai ini."

Aku memandang rok pendekku yang cantik dan merasa agak sebal terhadap Dustin, tapi biarlah, lama-lama dia juga akan merasa bahwa rok pendek lebih cocok untukku dari pada rok panjang.

"Sebenarnya Dustin, aku datang ke sini karena ingin berbicara padamu tentang Terry," kataku, teringat kata-kata Dom tentang Mr Osterley.

"Ya, jadi menurutnya yang mana Terry, Antonio Orsoni?"

"Bukan, menurutnya Terry adalah Mr Steven Osterley dari SAI."

Dia tersentak, memandangku dengan tidak percaya.

"Tidak mungkin," katanya.

"Dustin, ini mungkin saja, karena Terry sangat pintar, dia bisa memutar-balikkan sesuatu semaunya."

"Tapi—"

"Percayalah padaku, Dustin, karena aku memerlukan bantuanmu untuk membuatnya mengaku bahwa dia adalah Terrius Krum."

"Bagaimana caranya?"

"Entahlah, kita akan memikirkannya bersama."

"Baiklah..."

"Terima kasih, Dustin," kataku tersenyum, melingkarkan tanganku lehernya dan menciumnya lagi.

Diary, aku sangat bahagia, akhirnya aku mendapatkan pacar juga. Kuharap dia akan menjadi kekasih pertama dan terakhirku. Aku memang selalu kalah dalam perjudian, namun di saat aku tidak berjudi, aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku tidak perlu menunggu bandar membuang kartu King lagi, karena kartu King-ku sudah ada di depanku. Aku sudah menang dalam perjudian cinta. Aku tidak akan kalah lagi karena Dustin ada bersamaku, meskipun kadang menyebalkan, tapi aku tahu aku akan selalu memaafkannya.

Demikianlah kisahku, mungkin terlalu aneh untukmu yang tidak pernah jatuh cinta, namun kau pasti akan mengerti bahwa cinta datang di saat-saat yang aneh, kau tidak akan menduganya dan kau juga tidak akan pernah mengiranya. Saat kau membuka mata dan dia berdiri di depanmu, tiba-tiba kau sadar bahwa kau telah jatuh cinta padanya.

Sincerely,

Lucy Weasley.


REVIEW PLEASE! See you in sequel KNG 3, Penyamaran

Bagi para pembaca yang hanya membaca KNG 4, dimohon untuk membaca KNG 1,2,3 karena seluruh kisah ini saling berhubungan. Karena jika anda hanya membaca KNG 4, anda tidak akan mengerti dan tidak akan menghayati kisah ini jika kita memulai KNG berikutnya...

Riwa Rambu :D