ICT (Ichigo Cinta Toushiro)
By: Armalita Nanda R. & Megumi-is-Dee
Disclaimer: Bleach © Tite Kubo
Lesson 4: Love Happening at Ichigo's Home!?
Di musim semi yang begitu indah, tak sengaja terdengar bunyi tuts-tuts piano yang begitu merd—
"Ulangi!" komentar cowok tinggi berambut nyentrik yang sedang kalap ngurusin anak ketek rambut putih yang sedang diajarnya untuk menekan tuts piano dengan benar. "Bagian itu la mi sol fa fa mi do, bukan la mi sol mi mi do do!"
"Ba-baik," gumam anak rambut putih dengan nelangsa. 'Kirain bakalan ada saat romantis, malahan yang ada saat-saat sadis!'
Pasti mau tahu mereka kenapa kan? Jadi, setelah pengakuan aku-tak-bisa-main-piano-nya Toushiro, akhirnya sang master jeruk pun memutuskan untuk mengajari Toushiro—soalnya gak ada pemain lain—dengan giat dan sungguh-sungguh. Meskipun Toushiro sudah menemukan sang pujaan hati, tapi cintanya tetap bertepuk sebelah tangan dengan indahnya *?*.
-xXx-
Karakura University, 05.00pm
"Ahh~ cukup deh hari ini," ujar cowok-orange-strawberry-nyentrik seraya mengipas-ngipas wajahnya dengan partitur.
'Aduh, seksi banget sih dia waktu keringetan gitu~' batin Toushiro nafsu. "Eh, i-iya deh, bagaimana aku hari ini?"
"Lumayanlah, cepet nangkepnya, tapi kalo buat konser masih nol deh,"
"Eh? Gi-gitu ya…" gumam Toushiro kecewa.
"Udahlah santai aja, pasti bisa kok," ujar Ichigo bak malaikat, seraya mengelus kepala Toushiro. "Kalau kau latihan lima kali lipat lebih keras! Hahahahaha!" ujar Ichigo berubah jadi setan bertaring tiba-tiba. Toushiro yang tadi tersipu-sipu langsung pucat bin kebelet pup.
"Hmm, karena besok minggu, besok, kau ke apartemenku, aku tidak mau tau, jam 7 kau harus datang, jangan lupa bawa partitur, daging kornet kalengan dan kroket nasi yang di jual di depan Apartemen ku, awas terlambat!" ujar Ichigo, yang tanpa-sulap-tanpa-sihir langsung menghilang begitu aja. (yaeyalah! Kan keluar lewat pintu!)
"Eh, Partitur sih iya, tapi kalo kornet kalengan... udahlah, apa sih yang gak buat abang jeruk tercinte!" ujar Toushiro seraya meninju udara kosong.
-xXx-
Esoknya, 06.55…
"Assalamualaikum~ atuuukk! Oo aatuuk!" teriak Toushiro di depan pintu apartemen bernomor 111 itu. "Jaelah, mentang-mentang namanya Ichi, pilih nomornya satu semua,"
"Yaterus? Masalah buat loooh?!" ujar kepala jeruk ileran yang baru saja bangun seraya membuka pintu.
"E-eh, ketua, e-enggak kok, hehe," ujar Toushiro seraya mengacak-acak kepala Ichigo. 'Sumpah, ketua cute banget baru bangun tidur~'
"Heh, apaan nih?" ujar Ichigo merengut. "Duduk dulu sana, aku mau mandi dulu," ujar Ichigo seraya menutup pintu apartemennya. Lalu ia melangkah menuju kamar mandi dan diikuti Toushiro.
"Heh, kamu budeg ya? Kan aku suruh kamu duduk!" semprot Ichigo.
"Lha ini, mau duduk di kamar mandi liatin kamu mandi," gumam Toushiro laknat.
"Hah?! Apaan?"
"E-enggak, kubilang mau ke dapur dulu naruh nih kroket sama daging kornetnya, hehehe,"
"Ooh, dapur ke arah situ." Ujar ichigo seraya menunjuk arah yang berlawanan. Toushiro pun langsung bertransformasi menjadi tomat karena memerah.
"Ehehehe, kirain tadi di kamar kamu, hehehe,"
-XxX-
Akhirnya setelah Ichigo mandi dan sarapan dengan kroket nasi yang dibawa Toushiro, dimulailah pelajaran-penuh-cinta-dari-yayang-Ichigo. Dengan tanpa ampun, Ichigo menyuruh Toushiro menekan tuts-tuts piano masing-masing 100 kali sebagai pemanasan. Lalu akhirnya, setelah dua jam pemanasan, Toushiro disuruh untuk membuat lagu sendiri untuk melatih ingatan Toushiro.
"Ulangi!" komentar cowok tinggi berambut nyentrik yang sedang kalap ngurusin anak ketek rambut putih yang sedang diajarnya untuk menekan tuts piano dengan benar. "Bagian itu la mi sol fa fa mi do, bukan la mi sol mi mi do do!"
"Ba-baik," gumam anak rambut putih dengan nelangsa. 'Kirain bakalan ada saat romantis, malahan yang ada saat-saat sadis!'
Maklumlah, telinga Ichigo itu titisannya batman, jadi tajem gitu. Akhirnya, sampailah saat istirahat makan siang.
"Sudah, istirahat dulu sana, aku akan bikin makan siang," ujar Ichigo saat jam berdentang dua belas kali. Rupanya dia gak tega juga sama Toushiro yang makin pendek stress gara-gara latihan terus.
"O-oke, aku akan siapkan mejanya~" ujar Toushiro, yang dengan ide brilian-nya membawa beberapa lilin agar makan siangnya bersama Ichigo menjadi romantis.
"Ting tong!"
"Toushiro, tolong buka pintunya," ujar Ichigo dari dapur. Mau tidak mau pun Toushiro menunda tata-mejanya.
"Sialan, awas aja kalo gak penting," omel Toushiro. Dan ketika ia membuka pintu, Ia mendapati cahaya yang sangat terang, yang ternyata…
.
.
.
Ikkaku, dan Haru.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA~HHHH! Ngapain kalian disini?!" ujar Toushiro kaget, mendapati dua orang yang sangat dihindarinya ada di depannya.
"Santai aja kali bebh, eike kan bukan setan bo," ujar Haru yang tiba-tiba termasuk dalam ordo bences.
"Lho ndek? Ngapain kamu disini?" ujar Ikkaku seraya berkilau *?*
"A-aku, cu-cuma la-latihan, ka-kalian ngapain?!" ujar Toushiro gusar.
"Kita? Kita sih mau minta makan, ya kan Ichi~?" jawab Haru, setengah teriak.
"Ha?" ujar Toushiro, sweat-drop.
"Iya, kita tinggal di sebelah apartemen Ichigo, terus kalo tiap minggu kita bawa bahan makanan, yang masakin Ichigo, terus makan bareng deh," jawab Ikkaku.
"Iya, aku belum bilang ya?" ujar Ichigo seraya keluar dari dapur. "Ayo masuk dulu,"
Lalu Ikkaku dan Haru masuk dengan wajah tanpa dosa. Meninggalkan Toushiro yang nelangsa karena makan siang yang romantis yang diharapkannya batal.
-XxX-
"Uwwah~," gerutu Ikkaku senang begitu melihat beberapa jenis makanan dalam jumlah banyak. "Ketua memang paling T.O.P deh kalo masak~"
"Tempuraaaa~" teriak Haru kesenangan melihat makanan favoritnya ada disana. "Ada juga!"
Toushiro yang masih setengah hati juga akhirnya ikutan tersenyum. "Kroket kentangnya isi daging ya?"
"Tentu saja, tapi karena aku tidak suka menyimpan daging lama-lama, makanya aku memintamu membeli daging kornet kalengan, nah sekarang ayo makan~"
Lalu mereka semua menakar nasi kedalam masing-masing mangkuk tanpa ampun.
"Menurutmu gimana Partitur-nya?" celetuk Haru
Toushiro tersedak. "Ap-Partitur apa?"
"Tentu saja Partitur instrument yang akan kau mainkan," ujar Haru lagi.
Kali ini Ichigo yang tersedak, "Ng, di-dia belum kuberi tahu te-tentang partiturnya, ehehehe,"
"Eh?" tanya Haru bingung. "Bukannya kemarin kau bilang kalian latihan bersama untuk instrument Piano tunggal saat konser nanti?"
Skakmat. Ichigo dan Toushiro sama-sama hanya terdiam sambil nyengir gaje.
"A-ah, jadi begini," ujar Toushiro pada akhirnya. "A-aku memiliki sedikit masalah dengan tangan kananku jika menekan tuts, jadi aku masih membiasakan diri..."
Haru dan Ikkaku sama-sama tak mengerti, tapi mereka hanya mengangguk-angguk karena Piano memang bukan bagian mereka, jadi mereka tak begitu mengerti. Ichigo menghela napas, dalam hati ia bertekad untuk membuat Toushirou lebih cepat expert.
"Hey, bagaimana jika setelah makan siang ini kita latihan untuk konser?" celetuk Haru. Toushiro langsung menatap panik Ichigo.
"Mana bisa, aku kan bukan termasuk konser, nanti aku nganggur lagi," ujar Ikkaku. Dalam hati Toushiro berterimakasih pada Ikkaku.
"Benar juga," ujar Ichigo seraya berpikir. "Bagaimana kalau kita belajar sejarah Konduktor terkenal saja?"
"Hee? Enggaklah!"
-XxX-
Akhirnya setelah makan siang, mereka hanya menonton video konser-konser yang ada di Wina, Berlin, etc, serta video lomba-lomba yang pernah dimenangkan oleh Ichigo, yang pastinya membuat Toushiro sangat nafsu.
-XxX-
05.00 pm
"Hhh," dengus Ichigo. Entah kenapa ia merasa bête. Entah semenjak makan siang tadi ia tiba-tiba merasa bête, tapi ia sendiri tidak tahu kenapa.
Ikkaku, yang merasa Ichigo berwajah masam, berbisik kepada Haru. "Ketua kenapa ya? Kok bête gitu?"
"Eh, iya nih, biasanya kalo mukanya asem gitu dia bisa uring-uringan loh, mending kita pulang deh," jawab Haru.
"Loh, tapi kita nanti gak dapat makanan gratis,"
"Cina banget sih lu!"
"Kalian ngapain sih bedua?" celetuk Toushiro tiba-tiba.
"Waaa! Nggak, nggak ngapa-ngapain kok!" ujar Ikkaku cepat.
"Ki-kita mau pulang duluan, bye!" ujar Haru seraya menarik Ikkaku keluar, yang merengut.
Lalu tersisalah Ichigo dan Toushiro yang sama-sama cengo gara-gara dua orang yang tiba-tiba ngeloyor pergi.
"Ya-yaudah deh ketua, ane pulang juga, hehe," ujar Toushiro seraya mengemasi barang-barangnya. Lalu ketika ia akan keluar…
"Ayo kuantar, sampai ke perempatan, kita makan diluar, aku.. sedang tidak ingin memasak…"
Toushiro cengok, barusan dianggapnya sebagai kencan! Oh betapa baiknya Tuhan hari ini kepadanya.
"Kenapa? Gak suka?" komentar Ichigo melihhat wajah cengok Toushiro.
"Eh ti-tidak, ba-baik akan segera kubereskan!" ujar Toushiro yang tanpa sadar jadi mesem-mesem gaje.
-X-X-
"Mau makan dimana nih ketua?" ujar Toushiro yang bingung seraya melihat-lihat warung-warung sampai restoran yang ada di sekitar situ. "Gimana kalo itu?" ujar Toushiro menunjuk sebuah kedai makanan Jepang cepat saji.
"Halah, gak sehat tuh, mendingan kesana," ujar Ichigo seraya menunjuk sebuah restoran yang cukup bagus.
"E-eh, budget ane kagak mau kesana bos," ujar Toushiro yang prihatin akan keadaan dompetnya.
"Udahlah, disitu tiap minggu ada diskon 70% kalo bisa ngabisin 3 liter sake dalam waktu satu jam, jadi ayo kita kesana!" ajak Ichigo, seraya menyeret Toushiro yang sweat-drop.
"Irassaimase!" ujar dua cewek yang ada di depan pintu ketika Ichigo dan Toushiro memasuki restoran tersebut. Toushiro melihat sekelilingnya. Banyak sekali yang teller gara-gara tantangan 3 liter satu jam.
"Ke-ketua? Kau yakin?" tanya Toushiro ragu.
"Tenang saja, makanan disini enak kok, dan ditambah minum sake jadi tambah oke!" ujar Ichigo sumringah. Dalam hati Toushiro merapal doa-doa karena takut ketuanya ini kerasukan setan.
"Kami pesan tantangan 3 liter sake satu jam, lalu makannya ramen pedas, tempura, yakiniku, semuanya 2 porsi!" ujar Ichigo bersemangat. Toushiro Sweat-drop.
Lalu tak lama datanglah 3 liter sake beserta makanannya. Toushiro yang belum pernah minum sake pun mencoba satu gelas. Sedangkan Ichigo sudah meminum 3 gelas. Akhirmya, ketika tinggal 1 liter, Ichigo pun mulai mabuk.
"Ketua? Kau tidak apa?" tanya Toushiro, melihat keadaan ketuanya agak mulai memprihatinkan.
"Tenang saja aku baik-baik saja," ujar Ichigo.
Meskipun katanya begitu, tentu saja Toushiro mengkhawatirkan keadaan pujaan hatinya. Tapi meski begitu ia juga tidak mau menghabiskan seliter sake.
"Sini, aku mau lagi," ujar Ichigo seraya meraih botol sake.
"Tapi ketua…" ujar Toushiro seraya menjauhkan botol itu dari Ichigo.
"Heh," ujar Ichigo seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Toushiro. Kontan Toushiro langsung blushing. Akhirnya dengan mudah Ichigo mengambil botol itu dari Toushiro. Lalu dengan sekejap ia mengahabiskan seliter Sake itu.
"Wah! Selamat! Anda adalah orang ke seratus hari ini yang dapat menghabiskan 3 liter sake dalam waktu 1 jam! anda akan mendapatkan dua buah tiket untuk ke onsen terkenal di sini!" ujar seorang pelayan. Toushiro kaget. Lalu akhirnya ia membayar 30% dari makanan yang dia makan dan memapah Ichigo keluar.
"Kenapa, hik, pergi, hik," ujar Ichigo yang cegukan. Toushiro hanya menatap gembira Ichigo. Karena dengan tiket ke onsen yang ada dikantongnya saat ini, ia dapat melancarkan jurus-jurus cintanya kepada Ichigo.
"Yaah meskipun aku tidak bisa makan malam romantic sama ketua malam ini, yang penting aku bisa berduaan ke onsen, khe khe khe…"
-TBC-
