"Teme, kau sedang apa?"

"Jangan memanggilku Dobe, Teme no baka"

"Nee, Teme, apa kau mau janji sesuatu padaku?"

"Teme... jangan... pergi"

"Kau tidak akan pernah melupakan janjimu 'kan, Teme?"

"Kau... siapa?"

Memories

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : SasuNaru

Warning : AU,Gaje, Abal, Alur tak menentu, OOC, Typo, dll.

~Chapter 2~

"Aku Uzumaki Naruto, salam kenal" ucap seorang bocah pirang pada seorang bocah raven dihadapannya.

Sang bocah raven hanya menatap diam yang kemudian tidak mempedulikan bocah pirang itu. kesal karena tidak ditanggapi, tanpa persetujuan si pemilik tangan, diraihnya tangan bocah raven itu dan menariknya pergi.

"Hei! apa-apaan kau?!" ucap si raven kesal karena ditarik begitu saja.

"Ayo kita main. Apa kau tidak bosan hanya duduk diam bagai patung disana?"

"Apa yang aku lakukan bukanlah urusanmu Dobe!"

Merasa tidak suka dengan panggilan itu, dilepaskannya genggamannya terhadap si raven dan menatap lurus mata onyx itu.

"Heh... tadi kau memanggilku apa? Dobe? Enak saja, namaku itu Naruto, bukan Dobe, dasar Teme!"

"Hn"

"Hah? Apa itu artinya, Tem-"

KRIIINNGGG...

"Sasuke, cepat bangun atau kau akan terlambat. Aku akan meninggalkanmu bila kau tidak bangun juga, hari ini aku ada jadwal pagi," teriak seseorang dari lantai bawah.

Perlahan dibukanya mata onyx yang sudah banyak menghipnotis banyak wanita itu. Diperhatikannya jam weker yang terus saja berdering. Dimatikannya jam weker yang berisik itu dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dibersihkannya dirinya yang kemudian menatap diam cermin dihadapannya, menampakkan pantulan dirinya.

'Mimpi apa itu? seingatku itu sewaktu aku baru pertama kali bertemu dengan si Dobe, heh,' pikirnya dengan sedikit menampilkan senyumnya ketika mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan pemuda pirang itu.

Sasuke hanya bisa tersenyum sendiri mengingat betapa beraninya bocah pirang itu, menarik dan mengajaknya bermain. Sedangkan anak-anak lainnya saat itu sedang menjauhinya karena iri akan dirinya yang menarik banyak perhatian anak perempuan. Ia tidak takut dimusuhi karena bermain denganku. Sejak pertemuan itu, Sasuke dan Naruto menjadi dekat. Yah, meskipun saat ini...

"Sasuke, sampai kapan kau akan diam menatap cermin? Hilangkan kebiasaanmu itu," teriak seseorang itu lagi yang membuat Sasuke kesal karena khayalannya akan masa lalu menjadi buyar.

Segera dikenakan seragam sekolahnya itu, meraih tas hitam miliknya dan menuruni tangga, mendapati seorang pemuda berambut panjang tengah menyiapkan sarapan.

"Ayah dan Ibu kemana, Itachi?" tanya Sasuke karena hanya mendapati kakaknya saat itu.

"Mereka baru saja pergi Inggris kemarin malam karena ada urusan mendadak. Mungkin kau tidak tahu karena kau sudah tertidur saat itu. Dan satu lagi, bicaralah dengan sopan pada Anikimu ini, Otouto,"

"Hn" dimakannya sarapan tanpa mempedulikan kakaknya itu.

Akhirnya Itachi pun ikut duduk dan menyantap sarapannya. Diperhatikan adiknya yang saat ini tengah menyantap sarapannya. Dari raut wajah adik satu-satunya ini, ia dapat tahu bahwa semua belum kembali seperti semula. Ingin menghilangkan kesunyian, Itachi pun mulai angkat bicara.

"Masih belum kah?"

Mengerti pertanyaan Itachi, Sasuke memutuskan untuk diam tak menjawab. Itachi pun mengerti akan tingkah laku Sasuke yang enggan menjawab itu.

"Begitu... jadi dia masih belum ingat ya,"

"Tidak ada urusannya denganmu, Itachi,"

Itachi pun hanya bisa tertawa hambar akan tanggapan adiknya itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya pun mengalami hal yang sama dengan adiknya itu. Entah mengapa pikirannya selalu tertuju padanya. Setelah menyelesaikan sarapannya, Sasuke pun hendak pergi saat suara kakaknya menahan dirinya.

"Bagaimana menurutmu? Akankah lebih baik membiarkannya seperti ini atau membuatnya ingat kembali? Apa yang menurutmu akan memberikan kebahagiaan padanya?"

Sasuke diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sasuke sangat ingin mejawab ia ingin membuat dia ingat dan menjadi seperti dulu. Tapi ia juga tidak mau membuat dia mengingat hal itu. Sasuke tidak tahu harus memilih apa? Kenapa kebahagiaannya bersama dia harus didampingi oleh kesengsaraan bagi dia?

"Aku berangkat"

Akhirnya, ia pun memutuskan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia... tidak tahu harus berbuat apa.

Itachi hanya dapat menghela nafas. Meski dari luar ia tampak biasa saja, tapi Itachi tahu kalau didalam pikiran Sasuke saat ini penuh akan mencari jalan keluar yang terbaik. Dan Itachi hanya bisa menatap punggung adiknya itu.

'Kyuubi, apa yang sebaiknya aku lakukan?'

TBc

Huee... maaf, Chii tahu ini pendek –sangat pendek malah– ... tapi memang beginilah jadinya T^T

Apakah cerita ini jelek? Gaje? Abal? Bagus? Atau sebaiknya jangan dilanjutkan X'(

Please, review... ^^

Terima kasih juga bagi yang sudah bersedia untuk membaca, apalagi mereview^^