Ao : kita lihat saja nanti. 39.
The owl : 39.
Furu-pyon : I did. 39.
Suzuki airin : 39.
Nakamura Kumiko : request anda, saya tampung. 39.
Hello~ : request anda juga saya tampung. 39.
Hehe : I did. 39.
Glover511 : Begitulah. 39.
Chiwe-SasuSaku : request anda pun saya tampung. 39.
Didhi-chan : I did. 39.
Beby-chan : Yosh! 39.
Ichigo Cha-chan : saya ini hanyalah author baru. 39.
Minna-san, terima kasih atas review2 anda! 39!
Chapter 2
Serumah
"Mampus!!! Sakura sudah datang!!! Bagaimana ini?" Sasuke kembali kelabakan. "Itachi?!!" yang dicari Sasuke ternyata sudah membukakan pintu. Sasuke menguping pembicaraan mereka.
"Eh, Kak Itachi? Sasuke mana?"
"Ng... Sasuke..."
"Dia sakit ya? Sudah kubilang dibatalkan saja tapi dia memaksa. Kenapa jadi orang sok kuat begitu sih?"
"Sok kuat? Enak saja..."gumam Sasuke.
"Bukan begitu Sakura-chan." Itachi membantah.
"Bagus! Bela aku!"
"Sebenarnya Sasuke itu ng... Sasuke itu jadi... ng jadi ke..."
"Ke London!" teriak Sasuke tiba-tiba.
Sakura dan Itachi saling berpandangan. Sasuke mengutuk dirinya sendiri. Maksud hati menyelamatkan diri dari predikat 'sok kuat', hasilnya malah menampakan diri. Berakhirlah hidupmu Sasuke...
"Gyaaaaa...lucunya!!!" teriak Sakura. Sakura segera memeluk Sasuke yang bertubuh kecil itu. Sasuke shock. Tubuhnya membeku, tidak bereaksi. Hanya wajahnya yang berubah semerah tomat. "Ini siapa Kak?" tanya Sakura pada Itachi tanpa melepas pelukan Sasuke.
Melihat wajah Sasuke, timbul niat 'jahat' di pikiran Itachi. "Oh, itu adik sepupuku. Orang tuanya menitipkan dia di sini."
"Memang orang tuanya kemana?"
"Australia."
"Oh, iya. Sasuke tadi ke London?" kali ini Sakura melepas pelukannya dan menatap Itachi.
"Iya. Bersama ibuku. Mendadak sih."
"Memang Om kenapa? Sakit?"
"Hanya sedikit kecapekan." Itachi berbohong dengan mulusnya.
"Kenapa dia tidak mengabariku sih?" Sakura cemberut.
"Ibuku memaksanya untuk cepat-cepat, Sakura-chan. Kau tau kan sifat ibuku?" Sakura mengangguk. "Sakura-chan, kau suka anak ini?"
"Tentu saja. Dia sangat lucuuuu." Sakura meremas kedua pipi Sasuke.
"Kalau begitu kau mau membantuku menjaganya?"
"Tentu saja!"
"Kau memang adik ipar kesayanganku, Sakura-chaaaan!!!" Itachi memeluk Sakura. Sasuke langsung menedang kaki kakaknya itu dan menatapnya dengan tatapan jangan-sentuh-dia.
"Kau berlebihan, Kak!" kata Sakura setelah terlepas dari pelukan Itachi.
"Sakura, kau tahu kan kalau aku sibuk dengan penelitianku di laboratorium. Aku akan merasa bersalah kalau anak ini terlantar gara-gara pekerjaanku. Jadi biarkan dia tinggal di rumahmu ya?" Itachi memohon dengan puppy eyes... Sasuke membelalakan mata.
"Tapi Kak... aku kan harus sekolah..."
"Saat kau sekolah, aku yang akan menjaganya. Kau bawa saja dia ke sini. Sore baru kau bawa dia ke rumahmu lagi. Bagaimana?"
Sakura berpikir. Sasuke dan Itachi harap-harap cemas. Sasuke berharap agar Sakura bekata tidak, sedangkan Itachi berharap Sakura berkata iya.
"Baiklah." Itachi menghembuskan nafas lega. Sasuke menatap Itachi kesal. "Tapi aku harus minta ijin ayah dan ibuku dulu."
"Terima kasih Sakura!!!" Itachi berniat memeluk Sakura lagi, tapi niat itu dibatalkan saat melihat tatapan tajam adiknya.
"Oh, iya. Siapa namamu?!" Sakura mengelus kepala Sasuke. Seketika wajahnya merah kembali dan pikirannya kosong.
"Na...ma...ku.... S..s..."Sasuke gagap.
"Shota!" teriak Itachi menyelamatkan Sasuke.
"Shota, kenalkan. Aku Sakura. Kau panggil saja aku Kak Sakura." Sasuke mengangguk. "Ayo sekarang ikut kakak ke rumah kakak." Sakura menggandeng tangan Sasuke. Wajah Sasuke memerah lagi.
"Hn."
"Wah, kau mirip Sasuke." Sasuke kaget atas pernyataan Sakura.
"Ya. Dia memang mirip sekali. Benar kan Shota?" Itachi lagi-lagi menyelamatkan Sasuke.
"Hn."
"Aku menyukaimu Shota!" kata Sakura innocent. Wajah Sasuke semakin merah.
"Selamat bersenang-senang, SHOTA!!!" teriak Itachi. Sasuke hanya mendelik dalam gandengan Sakura saat menatap kakakya. Begitu Sasuke dan Sakura menjauh, Itachi langsung tertawa terbahak-bahak.
* * *
Sakura menggandeng tangan Sasuke dan membawanya ke rumah Sakura yang jaraknya tidak jauh dari rumah Sasuke.
"Tadaima!" Sakura membuka pintu.
"Okaeri!" balas dua suara di dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan Jiraiya dan Tsunade, orang tua Sakura.
Bagi Sasuke, bukan pemandangan yang aneh lagi kalau melihat tingkah orang tua Sakura ini. Jiraiya, dosen sastra sekaligus novelis buku mesum yang genit tapi takut istri ini sedang asyik mengepel lantai. Sementara Tsunade, dosen kedokteran yang doyan judi ini sedang menonton pacuan kuda di layar televisi. Di tangannya terdapat kupon pacuan kuda.
"Sakura, kenapa cepat sekali?" tanya Tsunade, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. "Kau tidak jadi kencan dengan Sasuke?"
Wajah Sasuke (dalam wujud Shota) memerah mendengar pertanyaan Tsunade. Ibunya dan ibu Sakura sama saja.
"Ibu, aku kan sudah bilang kalau aku tidak kencan dengannya. Lagi pula sekarang Sasuke sedang ke London," Sakura menjelaskan.
"Apa?!!!" Jiraiya yang sedari tadi asyik mengepel lantai terperanjat, aktivitasnya terhenti seketika. "Apa maksudmu, Sakura-chan?"
"Katanya OmFugaku sedang tidak enak badan, jadi Sasuke dan Tante Mikoto harus menyusulnya."
"Sakura-chan, sudah kubilang kau jangan pacaran dengan anak bodoh itu. Huh, kenapa dia meninggalkanmu begitu saja? Apa dia mencampakanmu, Sakura-chan?" Jiraiya kini sudah ada di hadapan Sakura. Sakura menggeleng. "Kau tidak perlu membela dia, Sakura-chan. Aku sudah tahu dari dulu. Anak sombong itu pasti hanya main-main denganmu. Dia itu sombong sekali seperti ayahnya."
Sasuke kesal mendengar perkataan Jiraiya. Tapi dia cuma diam saja. Dia tidak mau bertindak bodoh dan membongkar segalanya.
"Bukan begitu, Ayah. Lagi pula aku kan tidak pacaran dengan Sasuke."
"Tidak bisa begitu! Pokoknya mulai sekarang... hhhhhmmpppfff..." Jiraiya tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena tangan kuat Tsunade membungkam mulut suaminya.
"Kau ini berisik sekali!" marah Tsunade. "Lanjutkan pekerjaanmu sana!" Tsunade melepas tangannya dan mendorong suaminya mendekati ember dan lap pel di lantai dekat tangga. Jiraiya hanya bisa menurut dan menggumamkan syair puisi tentang nasib malangnya.
Sasuke hanya bisa bengong. Melihat Jiraiya dan Tsunade yang seperti itu, baginya Sakura adalah suatu keajaiban genetika.
"Ayahmu memang seperti itu, Sakura. Kau acuhkan saja dia."
Sakura mengangguk. "Oh ya ibu. Bolehkah dia tinggal di sini bersama kita? Untuk sementara saja." Sakura menunjuk Shota (wujud baru Sasuke) yang sedari tadi tidak ada yang menyadari keberadaannya.
"Siapa ini, Sakura?!" Tsunade berkata cukup keras sehingga Jiraiya menoleh dan ikut menyadari keberadaan Shota.
"UCHIHA!!!" teriak Jiraiya yang mengenali 'wajah Uchiha' Shota. "Siapa ini, Sakura-chan?!" Jiraiya melesat ke hadapan Sakura (lagi).
"Ng... ini... anak ini... sebenarnya...." Sakura bingung menjelaskan pada orang tuanya, terutama ayahnya.
Tiba-tiba Jiraiya terperanjat. "Oh, tidak," gumamnya. "Ini anakmu kan?" tubuh Jiraiya lemas.
"Maksud ayah?" Sakura bingung.
"Ini anakmu dengan Uchiha bodoh itu kan, Sakura-chan?!" Jiraiya meledak.
'Anak Sakura denganku? Hah, ini aku, bodoh! Aku!' batin Sasuke. Sesaat dia menyadari sesuatu dan membelalakan mata. 'Hhhhh? Anakku dengan Sakura?!" wajah Sasuke merah.
"Bukan!!!" teriak Sakura. Wajah Sakura juga merah. "Dia bukan anakku dan Sa..su..ke." Wajah Sakura tambah merah saat menyebut nama Sasuke.
"Kau bohong, Sakura-chan! Jelas-jelas anak ini sangat mirip dengan Uchiha bodoh itu. Lihat rambutnya! Pantat ayam. Lihat matanya! Itu mata Uchiha. Mata sombong Uchiha!"
"Anak ini memang anak Uchiha, Ayah. Tapi..."
Jiraiya memotong perkataan Sakura. "Sakura-chan!!! Kau mengakuinya. Ini anak Uchiha bodoh itu!!! Ini anakmu!!! Oh tidak," Jiraiya menutup mata dengan tangannya. "Ini cucuku..." Jiraiya lemas. "Ini cucuku..."
"Ayah..."
"Cucuku...cucuku..." ratap Jiraiya. "Cucukkkk........ku...." Akibat tendangan dari Tsunade, suara ratapan Jiraiya berangsur menghilang. Jiraiya jatuh terkapar dengan tanda telapak kaki merah di pipinya.
"Ayahmu sudah tenang. Sekarang jelaskan, Sakura."
"Anak ini adalah sepupu Sasuke. Namanya Shota." Sakura menjelaskan.
"Dia bukan cucuku ya?" Jiraiya yang ternyata masih sadar merasa lega.
"Shota dititipkan di rumah Sasuke untuk sementara. Tapi karena Sasuke dan ibunya tidak ada, dan Kak Itachi tidak bisa mengurusnya dua puluh empat jam, jadi... biarkan dia tinggal di sini ya, Ibu?"
"Tidak!" tolak Jiraiya yang langsung mendapat injakan kaki Tsunade di punggungnya.
"Apa boleh buat kan?" Tsunade menyetujuinya. "Lagi pula dia, eh Shota ini juga bakal jadi adik sepupumu."
Wajah Sasuke dan Sakura memerah bersamaan.
* * *
Mulai sekarang Sasuke (alias Shota) resmi tinggal di rumah Sakura untuk sementara. Kamar Sasuke berada di lantai dua, berhadapan dengan kamar Sakura. Sebenarnya masih ada kamar lain di lantai satu. Tapi lantai satu adalah teritori Jiraiya. Jadi Tsunade dan Sakura memutuskan untuk menempatkan Shota di kamar yang berhadapan dengan kamar Sakura itu.
"Shota, mulai sekarang kau akan menempati kamar ini. Kalau kau butuh apa-apa kau panggil saja aku di kamar itu ya?"
"Hn."
"Anak pintar. Kau masuk ke kamarmu saja dulu. Aku mandi dulu ya!"
"Hn."
Sakura masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Sasuke. Sasuke melihat-lihat kamar barunya. 'Nuansa cewek,'pikirnya. Kamar itu penuh warna-warna pastel. Dari cat tembok hingga perabot-perabotnya.
"Kenapa nasibku jadi begini sih?" Sasuke meratapi nasibnya. "Kenapa juga aku harus tinggal serumah dengan Sakura dan orang tuanya yang aneh itu?" Sasuke merebahkan badannya di kasur. "Hhhh... Paman Jiraiya yang bodoh itu dari tadi mengataiku. Kenapa aku yang jadi korban? Bukannya yang jadi saingannya itu ayahku? Itu juga dulu. Saat mereka masih kuliah. Ahhh.. aku capek." Sasuke memeluk guling di sebelahnya dan memejamkan mata.
"Sasuke!" baru sekejap Sasuke memejamkan mata, sudah ada orang yang memanggil dan menguncang-guncang tubuhnya.
"Hn?" Sasuke masih malas membuka mata.
"Sasuke!!! Sasuke, bangun!!!" tubuh Sasuke diguncang lebih cepat.
"Apa sih?! Mengganggu saja?!!" Sasuke marah dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Gyaaaaaaaa!!!" teriak Sasuke kaget melihat wajah seram Kisame.
"Sssstttt...." Kisame membungkam mulut Sasuke. "Jangan keras-keras nanti ketahuan."
"Shota?!!" teriak Sakura khawatir dari dalam kamarnnya.
"Tuh kan?"
"Kau kenapa sih?" Sasuke melepas tangan Kisame dari mulutnya.
"Aku membawa ini." Kisame menyerahkan HP, i-Pod dan PSP Sasuke.
"Hn. Terima kasih."
"Shota?!" teriak Sakura masih dari kamarnya.
"Cepat pergi sana!!!" Sasuke mendorong Kisame ke arah jendela sambil menaruh barang-barang kesayangannya di laci meja.
"Shota?!" Sakura membuka pintu kamar Sasuke. Sasuke masih menatap ke luar jendela. Melihat Kisame yang bersembunyi di balik pohon mangga yang tadi digunakan sebagai tangga darurat dari dan ke kamar Sasuke. "Kau tidak apa-apa?"
Sasuke membalikkan badan dan menatap Sakura. Lama. Sasuke bengong. Mukanya merah. Jantungnya berdebar kencang. Dari hidungnya keluar cairan kental berwarna merah.
"Shota, kau mimisan?!" Sakura panik dan mendekati Sasuke.
Tangan Sasuke tanpa sadar meraba lubang hidungnya. Mencoba menutupi bukti yang sudah jelas terlihat. "Aku tidak apa-apa?"
"Kau sakit, Shota?!"
"Tidak."
"Aku panggilkan ibuku saja ya?" Sakura membalikkan badan.
"Tidak usah. Kakak pakai baju kakak saja dulu," wajah Sasuke bertambah merah saat mengatakannya.
Sakura melihat tubuhnya sendiri. "Hahaha... maaf ya Shota. Aku tadi sedang mandi lalu aku mendengar teriakanmu. Karena terburu-buru, aku hanya menyambar handuk ini saja." Memang, tubuh Sakura saat ini hanya berbalut handuk saja. "Oh iya, tadi kau kenapa?"
"Ng... hanya terpeleset," jawab Sasuke sekenanya. "Dan berdarah." Sasuke menunjuk hidungnya.
"Baiklah. Aku panggilkan ibuku saja."
"Tidak usah. Kakak saja." Wajah Sasuke kembali memerah.
"Baiklah, aku yang akan mengobatimu." Sakura mengambil kapas.
"Tapi kakak pakai baju dulu." Sasuke memalingkan wajahnya yang semerah darah di hidungnya.
"Baik." Sakura keluar dari kamar Sasuke.
"Hhhh... hari pertama saja aku sudah seperti ini. Cobaan apa lagi yang akan menantiku?!!"
Tbc...
RnR!!!
