Minna-san, terima kasih atas review2nya!

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 3

Adikku Sudah Besar!

Sakura kembali ke kamar Sasuke. Kali ini dia sudah mengenakan pakaian lengkap. Sakura duduk di hadapan Sasuke dan membersihkan darah di hidung Sasuke. Sasuke hanya terdiam menatap Sakura.

"Shota, apa kau sakit?" tanya Sakura usai membersihkan darah di hidung Sasuke. Sasuke menggeleng. "Aku khawatir padamu Shota. Detak jantungmu cepat sekali. Lebih baik aku panggilkan ibu ya?" Sakura beranjak. Akan tetapi dengan sigap Sasuke menangkap tangan Sakura. Sakura menoleh dan menatap Sasuke. "Kau sakit ya? Kenapa wajahmu merah begitu?" Sakura menempelkan tangannya di jidat Sasuke, memeriksa suhu tubuhnya. "Kau sedikit panas."

"Aku tidak apa-apa. Jangan panggil Tante!" pinta Sasuke.

"Tapi...."

"Hanya sedikit capek. Perjalanan dari Australia cukup jauh," Sasuke mengikuti skenario dadakan Itachi menutupi rasa malunya.

"Benar juga. Kau kan baru datang dari Australia. Baiklah kau tidur saja sekarang."

"Hn."

"Shota, kalau ada apa-apa kau panggil kakak saja. Ok?"

"Hn."

"Anak pintar." Sakura mengacak-acak rambut Sasuke. "Selamat malam, Shota." Kali ini Sakura mengecup pipi kiri Sasuke.

Sasuke berdiri mematung beberapa saat. Bahkan setelah Sakura keluar dari kamarnya. Selama itu juga Sasuke tidak dapat merasakan apa-apa, kecuali rasa hangat yang menempel di pipinya. Bekas ciuman Sakura.

Tanpa sadar tangan Sasuke sudah bergerak ke pipi. Perlahan Sasuke menggerakkan tangannya ke depan. Sasuke mengamati telapak tangannya kemudian tersenyum.

* * *

Sasuke merasa masih sangat mengantuk. Semalam entah jam berapa dia baru bisa tidur. Gara-gara ciuman selamat malam dari Sakura, Sasuke tidak bisa tidur. Setiap teringat kejadian itu entah kenapa tubuh Sasuke menjadi panas (terutama wajahnya). Dan sialnya, setiap detik Sasuke ingat dengan jelas kejadian itu.

"Shota, kau sudah siap?"

"Hn."

"Ayah, ibu, kami berangkat dulu," pamit Sakura sambil mengandeng Sasuke.

Sesuai perjanjian, setiap Sakura berangkat ke sekolah, Itachi yang harus menjaga Sasuke. Karena itulah sekarang Sakura mengantar Sasuke ke rumahnya.

Sakura memencet bel. Tidak ada jawaban. Dua kali. Tetap sama. Tiga kali. Tidak berubah. Empat kali. Sama saja. "Kak Itachi!!!" panggil Sakura. Sakura memencet bel lagi.

"Haha... Sakura-chan," Itachi membuka sedikit pintu rumahnya sambil cengengesan. "Maaf, aku tadi sedang memasak."

"Oh iya, Tante kan sedang tidak ada. Pasti repot ya, Kak?"

"Tidak juga. Sakura-chan, kau harus cepat-cepat ke sekolah kan?" Itachi mengingatkan.

"Kalau begitu aku berangkat dulu ya?" Sakura berpamitan dan menyerahkan Sasuke kepada Itachi. Itachi merangkul Sasuke. "Oh iya Kak, hari ini aku pulang terlambat. Aku ada latihan kendo. Kakak tidak apa-apa kan kalau harus menjaga Shota lebih lama?"

"Ya. Tenang saja."

"Shota, kakak berangkat ya! Kau jangan nakal!"

"Hn."

"Anak pintar." Sakura mengacak-acak rambut Sasuke. "Daaaaaa!"

Sasuke menatap kepergian Sakura. Entah kenapa Sasuke merasa tidak rela harus berpisah dengan Sakura. "Sakura..." gumamnya lirih.

"Sampai di sini saja perpisahannya!" Itachi menarik tangan Sasuke agar masuk ke dalam rumah. "Sekarang saatnya kita bersenang-senang!!!"

"Hn?" Sasuke menatap kakaknya bingung.

"Teman-teman, LANJUT!!!!!!" teriak Itachi.

"Angur merah... yang telah memabukan diri kuanggap... belum seberapaaaaaa..." Tobi asyik berkaraoke sambil bergoyang di ruang keluarga Sasuke. Anggota Akatsuki Team yang lain duduk manis di depan Tobi. Menikmati setiap aksi Tobi sambil bertepuk tangan dan ikut berdendang. Di meja berserakan bermacam-macam snack dan minuman. Sasuke speechless melihat pemandangan ajaib di rumahnya.

"Cengkokannya, Bi!" teriak Kisame.

"OK, bang!" Tobi bergoyang. "Dasyatnya... bila dibandingkan dengan senyumanmu... membuat akuuuuu... jatuh bangun..."

"STOP!!!!" teriak Sasuke.

Semua kegiatan di ruangan itu terhenti. Semua mata memandang ke arah Sasuke. Semua mulut mangap. Semua (kecuali Itachi dan Kisame) tanpa diberi aba-aba langsung berlari ke arah Sasuke dan berebut ingin memeluk, mencubit, atau mengacak-acak rambut Sasuke. "Gyaaaaaaaaa....lucu!!!! Imut!!!" teriak mereka bersamaan.

Itachi yang tidak rela adik kesayangannya itu dijadikan ajang rebutan oleh teman-temannya menghalang-halangi setiap aksi teman-temannya. "Minggir! Ini adikku! Husss!! Jangan sentuh adikku! Apa pegang-pegang?! Dia punyaku!! Awww.... kenapa aku yang dicubit???!!!" Itachi heboh sendiri.

Tanpa disadari oleh maskhluk-makluk aneh di rumah Sasuke, Sasuke sudah bisa meloloskan diri dari kerumunan dadakan di ruang keluarganya itu. Dengan santainya, Sasuke melangkah menuju sofa empuk di depan home teathernya.

Sementara Itachi yang berusaha melindungi adiknya justru menjadi bulan-bulanan teman se-teamnya. "Awww... jangan cubit pantatku, gebleeeekk!!!!" teriaknya. Bahkan Kisame yang sedari tadi mengamati tingkah rekan-rekannya sekarang sudah bergabung dengan team ambrul-adulnya itu. Dia malah yang paling heboh. Peluk sana, peluk sini, cubit sana, cubit sini, tidak peduli siapa yang di cubit dan siapa yang dipeluk. Akhirnya terjadilah pesta cubit-cubitan dan peluk-pelukan dadakan.

"Baka!" gumam Sasuke.

Oooopppss... Sasuke mengumamkan kata terlarang. Seketika Akatsuki Team tediam dan besimpuh. "Saya memang bodoh. Saya memang bodoh...." ucap mereka bersamaan.

"Hn."

"Hn...Hn...Hn....Hn...." mereka menirukan apa yang Sasuke katakan.

"Heh BERISIK!!! Diem nape?!!"teriak Sasuke.

"Heh BERISIK!!! Diem nape?!!" mereka menirukan dengan menuding-nuding satu sama lain.

Sasuke yang geram mengambil botol air mineral di meja dan melemparnya ke arah gerombolan peneliti tidak jelas itu. Botol air satu setengah liter yang masih tersisa satu liter itu mengenai kepala Itachi. Itachi mengaduh dan tersadar. Melihat teman-temannya yang terkena baka-syndrom, Itachi segera menampar pipi orang di sampingnya agar tersadar. Hidan yang berada di samping Itahi ikut sadar setelah mendapat tamparan dari Itachi. Hidan pun menampar Kakuzu yang berada di sebelahnya. Begitulah. Tamparan beruntun pun terjadi. Saat semua tersadar, nampaklah bekas tamparan di pipi setiap Akatsuki Team, kecuali Itachi tentunya. Hanya Itachi yang tidak mempunyai tanda telapak tangan merah di pipinya dan dialah satu-satunya orang yang kepalanya benjol.

"Sasuke, kau ini jahat sekali. Akatsuki Team di sini kan mengadakan pesta untukmu. Kenapa kau malah membuat kami terkena baka-syndrom?" Zetsu protes sambil mengelus pipinya.

"Iya. Kau kan tahu kalau kami ini tidak bisa mendengar orang mengatai kami dengan kata 'itu'," Kakuzu menambahkan.

"Hn." Sasuke masih cuek.

"Sudah-sudah," Itachi menengahi (padahal tujuannya cuma mau membela adiknya). "Ayo kita lanjutkan pestanya!!!"

Akatsuki Team kembali mengambil posisi. Tobi dan Deidara meraih mikrofon, bersiap untuk berkaraoke lagi. Yang lain ambil posisi joget.

"Waktu tamasya ke bina ria...pulang-pulang ku berbadan dua..." Tobi dan Deidara asyik berduet.

Sasuke yang bosan mendengar lagu dangdut beranjak dari sofa empuknya. Niatnya sih mau tidur di kasur tercintanya, tapi tiba-tiba badannya tidak bisa bergerak. Tangan kanannya ditahan oleh Itachi. Tangan kirinya ditahan oleh Sasori. Kaki kanannya ditahan oleh Pein. Kaki kirinya ditahan oleh Konan.

"Lepas!"

"Gak mauuuuuu...."

"Kalian kalau mau pesta, pesta saja sendiri. Aku ngantuk. Mau tidur."

"Mana bisa begitu? Ini kan pestamu!" Itachi bersikeras. Yang lain mengangguk setuju.

"Pesta apa?!" Sasuke kesal.

Tanpa dikomado, semua Akatsuki Team bergabung membentuk formasi membentuk hati. Itachi yang berada di tengah menarik tali yang menggantung di atasnya. Dan jam jam jaaaaaaaammm....

Bola yang terletak tepat di atas Itachi terbuka. Muncullah kertas putih panjang yang mengantung di tengah ruangan. Kertas itu bertuliskan:

"SELAMAT! ANDA SUDAH MENJADI DEWASA"

"Sejak kapan benda itu ada di rumahku?" gumam Sasuke yang sedari tadi tidak menyadari keberadaan benda aneh di tengah ruangan itu.

"Selamat!!!" Itachi bertepuk tangan, diikuti yang lainnya.

Sasuke membaca kembali tulisan yang mengantung di tengah ruangan itu. "Kalian menghina aku kan?" Sasuke mendengus. "Apanya yang dewasa? Tubuhku mengecil begini?" Sasuke merebahkan lagi badannya di sofa.

"Bukan. Bukan itu maksudnya," kata Kisame.

"Trus?" tanya Sasuke cuek.

"Yang tadi malam..."

"Tadi malam apa?" Sasuke masih cuek.

"Handuk.... Mimisan...."

Sasuke tersedak tidak jelas mendengar dua kata itu disebut Kisame. Tubuhnya membeku. Wajahnya merah dan panas. Jantungnya berdetak kencang.

Melihat reaksi Sasuke, sontak Akatsuki Team berteriak "!!!!"

Wajah Sasuke semakin merah. "Kenapa kalian tahu?" Semua telunjuk di ruangan itu mengarah kepada Kisame. "Kisame, kau lihat ya?" Sasuke melotot pada Kisame, sang tersangka utama.

Kisame menggeleng. "Sayang, tidak terlihat jelas."

"Apa maksudmu, Kisame?!" teriak Sasuke marah.

"Hahaha... tidak. Aku hanya bercanda. Aku tidak melihat apa-apa," Kisame berbohong.

Emosi Sasuke memuncak. Mana mungkin dia rela jika ada orang lain yang juga melihat 'pemandangan indah' tadi malam. Tangan Sasuke mengepal. Dia melihat tangannya yang mengepal kemudian melihat wajah Kisame, sasarannya. "Hhh...sayang tubuhku mengecil. Itachi, kau saja yang memukul Kisame!" Sasuke membalikkan badan dan pergi ke kamar.

"Beres!" Itachi menyanggupi. "Kisame, bersiaplah. Hyaaaaaaaaaaaa!!!!" Itachi berniat memukul Kisame, namun Kisame berhasil menghindar dan berlari. Itachi mengejar Kisame. Aksi kejar-kejaran pun tak terelakan.

"Kita lanjut saja!" Tobi sudah mengambil mikrofon.

"Lanjut, Bi! Goyang, Bi!" teriak yang lain mengacuhkan Itachi dan Kisame.

"Lai lai lai lai lai lai... panggil aku si jablai... abang jarang pulang... aku jarang dibelai..."

* * *

Sakura berjalan ke ruang klub kendonya. Sakura sudah memakai hakama dan bogu, pelindung tubuh untuk latihannya. Tangan kanannya membawa shinai, pedang bambunya dan tangan kirinya menenteng men, pelindung kepalanya.

Sakura dapat mendengar kiai (teriakan dalam kendo) dari dalam ruang klubnya itu. Seperti biasa Guy-sensei dan Rock Lee sudah berlatih terlebih dahulu.

"Sore sensei, Rock Lee!" Sakura menyapa keduanya dan membungkuk memberi hormat.

"Sore ketua!" keduanya membalas memberi hormat.

Sakura meletakan pelindung kepalanya dan mulai berlatih. Sakura melatih teknik suburi (tebasan berulang-ulang)-nya.

Tenten, Neji, Ino, Kiba dan Shino datang ke ruang klub. Kelimanya memberi hormat pada Guy-sensei, Rock Lee dan Sakura. Guy-sensei, Rock Lee dan Sakura pun membalas membungkuk.

"Tadi itu siapa ya?" Ino bertanya pada Tenten.

"Iya. Aku juga merasa orang itu tidak asing lagi. Tapi siapa?"

"Mana cakep lagi." Ino yang juga sudah memakai hakama berjalan mendekati Sakura.

"He'e. Cakep." Tenten yang berjalan di sebelah Ino mengiyakan.

Sakura menghentikan latihannya dan menatap kedua temannya yang baru dua masuk klub kendo. "Ayo latihan!"

"Iya iya..."

Sakura membimbing keduanya berlatih teknik dasar sambil menunggu anggota lain klub kendo lainnya. Neji, Shino dan Kiba juga sudah mulai berlatih. Ruangan itu riuh dengan kiai-kiai.

"Permisi!" terdengar suara berat namun penuh wibawa dari depan ruangan klub.

Semua kegiatan terhenti sesaat. Mereka penasaran dengan pemilik suara berat itu.

"Oh, Gaara!" Sakura yang langsung mengenali Gaara berjalan mendekatinya.

"Cowok yang tadi," Tenten bergumam lirih.

"Cakeeeepp..." Ino menatap Gaara yang masih berdiri di depan ruang klub.

"Sakura," Gaara menyapa Sakura. "Aku sudah lama menunggu kalian di depan, tapi kalian tidak muncul. Jadi aku ke sini."

"Menunggu kami semua?" Sakura bingung.

Gaara tersenyum. "Kau dan Sasuke. Siapa lagi?"

"Oh, aku dan Sasuke? Ada masalah apa?" Sakura khawatir terjadi masalah dalam pertandingan persahabatan yang akan diadakan seminggu lagi itu. "Kita ke ruang OSIS saja?" Sakura menawarkan.

"Tidak perlu. Aku hanya ingin menyerahkan ini." Gaara menyerahkan dua buah bingkisan pada Sakura.

"Ini apa?" Sakura menatap Gaara bingung. Gaara juga terlihat bingung. "Sudalah, ayo masuk dulu." Sakura mempersilakan Gaara masuk ke ruang klubnya.

Kegiatan di ruangan itu sudah kembali normal. Tenten dan Ino sudah berlatih kembali, walau kadang masih mencuri pandang ke arah Gaara. Neji, Shino dan Kiba juga berlatih dengan semangat, tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan semangat Guy-sensei dan Rock Lee. Mereka berlatih menangkis dan menyerang balik.

Gaara dan Sakura duduk bersimpuh di pinggir ruangan.

"Sebenarnya ini bingkisan dari kakakku," Gaara memulai pembicaraan.

"Temari-san?"

Gaara mengangguk. "Kakakku merasa tidak enak pada kalian." Sakura kembali menatap Gaara bingung. Gaara tersenyum. "Insiden kerupuk setan."

"Oh, itu? Itu kan bukan masalah besar."

"Tapi sepertinya Sasuke..."

"Dia tidak apa-apa," potong Sakura.

"Begitu?" Sakura mengangguk. "Oh iya, Sasuke mana?"

"Dia sedang ke London."

"Kenapa mendadak?" Gaara kaget.

"Ada urusan keluarga."

"Wah, kau pasti merasa kesepian kan Sakura?" Gaara menggoda Sakura.

"Tidak juga," Sakura tersenyum.

"Mana mungkin begitu. Dia kan pacarmu!"

Seketika wajah Sakura memerah. "Dia bukan pacarku, Gaara."

Gaara yang selama ini mengira kalau Sakura adalah pacar Sasuke merasa kaget. "Jadi selama ini kalian tidak pacaran?" Sakura menggeleng.

Saat Sakura dan Gaara asyik mengobrol, Guy-sensei dan Rock Lee yang kelewat semangat berlatih melakukan kesalahan yang berakibat fatal. Rock Lee menyerang Guy-sensei dengan sekuat tenaga, tapi Guy-sensei berhasil menangkis shinai Rock Lee dengan sigap hingga shinai Rock Lee terlepas dari tangannya dan terlempar jauh ke pinggir ruangan.

"Sakura awas!!!" teriak Rock Lee dan Guy-sensei.

Sakura yang merasa dipanggil menoleh tanpa tahu shinai Rock Lee sedang melesat ke arahnya. Ino, Tenten, Neji, Shino dan Kiba yang sedang latihan pun ikut menoleh. Mereka menahan nafas melihat shinai yang mengarah tepat ke kepala Sakura yang tidak memakai pelindung kepala.

"Sakura!" Gaara yang cepat membaca situasi segera meraih tubuh Sakura, memeluk dan melindungi kepala Sakura dengan tubuhnya. Kletaak! Terdengar suara shinai jatuh ke lantai.

"Sakura kau tidak apa-apa?" Gaara melepas pelukannya dan menatap Sakura penuh rasa khawatir.

"Aku tidak apa-apa," ucap Sakura yang masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi.

"Syukurlah," Gaara menghembuskan nafas lega.

"Gaara... kepalamu!!!" Sakura kaget melihat kepala Gaara yang basah dengan darah. Tadi sebelum jatuh ke lantai, shinai Rock Lee berhasil mengenai kepala Gaara hingga berdarah.

Gaara meraba kepalanya dan melihat telapak tangannya yang basah oleh darah. "Darah ya?"

Sakura segera menarik tangan Gaara. "Kita ke UKS!" katanya pada Gaara. "Sensei, saya izin."

"Ketua, maafkan akuuuuuu!!!" Rock Lee berteriak pada Sakura yang sudah pergi bersama Gaara.

Sakura segera mengambil Kotak P3K di lemari UKS. Dengan cekatan Sakura membersihkan darah di kepala Gaara, mengobati lukanya, dan menutup lukanya dengan kassa steril. Gaara memperhatikan setiap gerakan Sakura. Gaara tersenyum.

"Kenapa kau senyam-senyum begitu sih Gaara?" Sakura merasa sedikit kesal diperhatikan begitu oleh Gaara.

"Ekspresimu sekarang ini sangat berbeda dengan ekspresimu tahun lalu."

Sakura jadi ingat saat acara puncak pertandingan persahabatan kendo di Konoha tahun lalu. Pertandingan spesial antar ketua klub kendo. Gaara melawan Sakura. Dan Gaara berhasil menang tipis tiga poin dari Sakura. Saat itu Sakura yang tidak—belum siap menerima kekalahan menatap Gaara penuh dendam.

"Itu karena kau mengalahkanku," Sakura membereskan kotak P3K yang dibawanya. "Tahun ini aku berniat mengalahkanmu. Kau tahu?"

"Aku tahu itu." Gaara tertawa.

"Kau ini kenapa sih?" Sakura kesal.

"Kau manis kalau seperti itu."

Tbc...

RnR!!!

"Chapter ini saya dedikasikan untuk Papi Meggy Z.

Marilah mengheningkan cipta sejenak untuk mengenangnya."