Judul : 7 Again
Summary : Sasuke menjerit saat melihat bayangan tubuhnya di cermin. Tubuhnya mengecil... SasuSaku, AU. Terinspirasi dari Mentantei Conan
Warnings : OOC
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Yuyun : Uwwwooooww.. kalau itu... saya tidak sanggup! XD. Makasih ya reviewnya.
Sakura haruno 1995 : Siap, Sakura-chan!
Hello : Iya. Iya. Mirip sama Shika. Hello juga ngerasa gitu kan? Kalo jalan bareng Sasu ajakin Ji juga dong *mupeng*
Chapter 5
Hujan
Hujan. Sasuke berada di kamar barunya (di rumah Sakura). Sasuke duduk di jendela kamarnya sambil menatap rintik-rintik hujan yang jatuh ke tanah. Pandangan mata Sasuke terlihat hampa. Dia memang tidak sedang melihat derasnya air yang menguyur pepohonan di luar sana. Sasuke juga tidak sedang merasakan desir angin yang berhembus kencang hingga menyibakan rambut hitamnya. Sasuke bukan pula melamun, dia sedang merenung. Merenungkan kejadian kemarin saat dia mendengar kabar bahwa Sakura hilang. Walaupun kabar itu hanya skenario yang dibuat kakaknya, tapi Sasuke merasa ketakutan itu menjalar di sekujur tubuhnya. Ya. Sasuke takut kehilangan Sakura. Andai saja Sakura benar-benar hilang. Andai saja Sakura tidak lagi berada di sampingnya. Entah apa yang akan terjadi pada Sasuke. Sasuke bahkan tidak bisa membayangkan menjalani hidup tanpa Sakura. Sakura... ternyata gadis itu memiliki arti lebih bagi dirinya. Sasuke tidak akan pernah membiarkan orang lain merebut Sakura darinya. Tidak akan pernah. Tangan Sasuke mengepal, "tidak juga untukmu, Gaara..." gumam Sasuke penuh penekanan.
* * *
Hujan. Sakura berdiri di dekat jendela, memandang sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Rumah yang sudah tidak asing lagi baginya. Ya. Rumah Sasuke. Pikirannya melayang pada teman masa kecilnya itu. Sasuke. Sasuke memang baru satu minggu berada di London, tapi Sakura merasa sudah tujuh puluh tahun tidak bertemu dengannya. Sakura rindu. Sangat rindu. Walaupun sering marah-marah, walaupun kadang menyebalkan, walaupun suka semaunya, tapi Sakura ingin selalu berada di dekat Sasuke. Belajar bersama, nonton bersama, bertengkar, memukulnya, marahan, baikan lagi... Sakura rindu saat-saat itu.
Satu minggu. Dalam satu minggu, hidup Sakura juga mulai berubah. Kini ada Shota yang mengisi hari-harinya. Menjadi penghibur di saat rasa rindu terhadap Sasuke kembali mencuat. Entah mengapa Sakura merasa Shota begitu mirip dengan Sasuke. Cara dia berbicara, tertawa, ngambek... benar-benar mirip Sasuke. Apakah gen Uchiha begitu dominan, sehingga semua Uchiha memiliki sifat yang sama?
Satu mingggu. Selain Shota, Gaara juga mulai mengisi hari-harinya. Setelah peristiwa di ruang klub itu, entah kenapa perhatian Gaara padanya berubah. Gaara jadi lebih sering menelopon atau mengirim SMS padanya. Bahkan Sakura dipercaya untuk memilihkan kado ulang tahun untuk Temari-san, kakak Gaara.
Sakura beranjak dari tempatnya berdiri. Perlahan kaki Sakura melangkah menuju ranjangnya. Sakura menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk itu. Berguling ke kanan, mengambil boneka ayam kesayangannya, kemudian duduk menyandar sambil memeluk erat boneka ayam itu. 'Sasuke... apa di London juga hujan? Apa di sana kau juga memandang hujan seperti aku? Apa di sana kau juga memikirkanku? Apa di sana kau juga merindukanku? Sasuke... cepat pulang! Aku benar-benar rindu padamu....'
* * *
Hujan. Tsunade dan Jiraiya juga berada di kamarnya. Namun mereka tidak sedang melihat hujan atau merenung. Mereka berdua berada di ranjang. Mata mereka menatap lurus layar LCD di depan mereka. Adegan demi adegan yang mereka saksikan membuat mereka terpukau. Raut wajah mereka berubah. Tsunade menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan keluarnya cairan hangat itu. Jiraiya mengingit jari-jari tangannya. Sama seperti Tsunade, dia berusaha menahan aliran itu. Tapi apa mau dikata, mereka sudah tidak bisa membendungnya.
"Chunso..." gumam Tsunade lirih.
"Chunso... jangan mati..." teriak Jiraiya histeris.
Cairan hangat itu tidak bisa terbendung lagi. Air mata Tsunade dan Jiraiya mengalir deras di pipi keduanya. Mereka menangisi kematian Chunso, tokoh utama dalam drama 'Endless Love' yang sedang mereka tonton.
* * *
Sarapan pagi di rumah Sakura mendadak menjadi sepi. Tidak ada pertengkaran suami-istri yang heboh antara Jiraiya dan Tsunade, tidak ada tawa ceria Sakura yang menyegarkan suasana. Tidak pula desah bosan Sasuke.
Begitu berkumpul di meja makan, mereka terdiam. Rupanya hujan membawa 'duka' bagi mereka. Sakura dan Sasuke hanya terdiam saling berhapan. Tsunade dan Jiraiya juga terdiam dengan mata mereka yang sembab.
'Sakura, kenapa dia diam begitu ya? Apa ada hal yang membuatnya sedih?' batin Sasuke saat memandang wajah Sakura yang tidak seperti biasa.
'Hah, Sasuke... gara-gara memikirkanmu semalam... perasaan rinduku semakin tak terbendung...' batin Sakura.
'Akhirnya Eunso juga ikut mati...' Tsunade masih teringkat drama yang dia tonton bersama suaminya kemarin.
'Akhir yang menyedihkan. Mungkin nanti malam aku akan menonton drama yang lain. Shining Inheritance atau You're Beautiful ya?' pikir Jiraiya yang ternyata pengemar drama-drama Korea ini.
* * *
Selama dalam perjalanan ke rumah Sasuke, Sakura bungkam. Moodnya masih belum kembali seperti semula. Hal ini sangat menganggu pikiran Sasuke. Sasuke merasa asing dengan ekspresi Sakura yang sekarang. 'Apa ini gara-gara aku ngambek kemarin?' pikir Sasuke. 'Kalau memang begitu, mungkin aku harus menghiburnya.'
"Kak!" Sasuke memanggil Sakura.
"Ya. Kenapa Shota?" Sakura memaksakan senyumannya di depan sosok Shota.
"Ng... bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" ucap Sasuke agak ragu.
"Jalan-jalan? Hmmm... ide bagus. Kau mau jalan-jalan kemana?"
"Hmmm..." Sasuke terdiam, berpikir. 'Aku ingin nonton, tapi dengan wujud ini... hah... apa boleh buat...' batin Sasuke. "Kita ke taman saja."
"Taman? Hmmm... baiklah. Nanti sepulang sekolah, kakak akan menjemputmu di rumah Kak Itachi. Setelah itu kita jalan-jalan ke taman bersama. Bagaimana?"
Sasuke menggeleng. "Kita bertemu di taman saja. Bukankah kakak melewati taman itu kalau harus menjemputku dulu?"
"Tapi..."
"Aku ini kan anak laki-laki."
"Baiklah kalau begitu. Kita bertemu di taman sepulang sekolah nanti ya?"
"Hn."
* * *
Sasuke duduk di sofa. Tangan kanannya memegang remote televisi yang setiap detik dipencetnya. "Hah... tidak ada acara tivi yang bagus," gerutunya.
"Sasuke...." suara khas Itachi menggema di ruang keluarga itu.
"Apa?"
"Hari ini kau kutinggal ya? Aku mau ke laboratorium." Itachi duduk di sebelah Sasuke. Meletakan handphonenya di meja.
"Hn."
"Kau tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?"
"Dengan senang hati..."
"Huh, Sasuke kenapa kau jadi seperti ini sih? Padahal kau dulu sangat manis. Aku kangen saat-saat itu..." mata Itachi menerawang. Sasuke memutar bola mata. "Hah.. aku benar-benar ingin punya adik ipar seperti Sakura-chan," gumam Itachi sambil mengeloyor pergi meninggalkan Sasuke sendiri.
"HP-mu ketinggalan!!" teriak Sasuke. Tapi rupanya Itaci tidak mendengarkan teriakan adiknya itu. "Masa bodoh ah. Bukan HP-ku ini..."
* * *
Jam pelajaran sudah berakhir. Sakura, Ino, Tenten dan Hinata keluar kelas bersama. Sakura berjalan bersama Hinata di belakang, sementara Ino dan Tenten berjalan di depan.
"Sakura.. pangeranmu datang menjemput," ucap Ino iri.
"Siapa?" Sakura bingung.
"Tentu saja Gaara. Bukankah Sasuke masih di London?"
"Gaara? Dia di sini?"
Tenten dan Ino berhenti. Otomatis Hinata dan Sakura yang berada di belakangnya ikut berhenti. "Lihat! Bukankah itu mobil yang kemarin menjemputmu?" Ino menunjuk mobil jazz merah Gaara.
"Itu memang mobil Gaara, tapi aku tidak ada janji dengannya hari ini. Mungkin dia menemui orang lain," Sakura berasumsi.
"Kau pikir begitu? Lalu siapa orang yang bersandar di depan pintu gerbang itu?" kepala Tenten dimajukan, menunjuk orang itu.
Sakura mengamati orang itu. Iya. Orang itu memang Gaara. tiba-tiba saja Gaara menoleh. Mata mereka bertemu. Seulas senyum mengembang di bibir Gaara. Gaara pun melambaikan tangannya pada Sakura.
"Kan?"
"Iya sih. Tapi belum tentu datang menemuiku kan?" Sakura masih keukeuh pada asumsinya.
"Mmmm... teman-teman, aku pulang dulu ya? Aku sudah dijemput," Hinata menyela pembicaraan teman-temannya.
"Ya! Hati-hati Hinata," ucap Ino dan Tenten.
Hinata pun meninggalkan ketiga temannya, berlari ke pintu gerbang dan masuk ke dalam sebuah mobil Vios. Ino dan Tenten hanya bisa melihat Hinata dengan wajah iri, sementara Sakura melihat kepergian Hinata dengan wajah bingung.
"Kok Hinata tidak pulang bareng Neji? Tumben..."
"Aduh, Sakura... Hinata itu kan sudah punya pacar. Tentu saja dia pulang bersama pacarnya," kata Ino gemas.
"Oh... Hinata sudah punya pacar ya?"
"Iya. Pacarnya itu anak kuliahan. Keren kan?" Tenten menjelaskan. Sakura hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Baiklah, Sakura. Sekarang giliranmu... Daaaa...." Ino menarik tangan Tenten dan meninggalkan Sakura berdiri di tempat. Saat itu juga Gaara datang menghampiri Sakura.
"Gaara! Ada urusan apa ke sini? Menemui Guy-sensei?"
Gaara tersenyum. "Tentu saja menemuimu. Memang ada alasan lain?"
"Apa kita ada janji hari ini?" Sakura mengingat-ingat lagi. Setahunya hari ini dia hanya janjian dengan Shota.
"Tidak. Tapi aku ingin mentraktirmu hari ini. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau telah menemaniku memilih kado untuk kakak."
"Tidak perlu begitu," Sakura tersenyum. "Aku ikhlas kok. Lagi pula hari ini sudah ada janji lain."
Raut muka Gaara langsung berubah murung. Sakura tidak enak juga melihatnya. Tapi Sakura sudah terlanjur berjanji dengan Shota tadi pagi.
"Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau selesai menepati janji yang sudah kau buat itu, lalu kita pergi bersama. Bagaimana?" tawar Gaara.
Sakura berpikir sejenak. 'Aku tidak enak melihat Gaara. Dia kan sudah jauh-jauh dari Suna. Niatnya juga baik. Dia bahkan mau menungguku agar bisa pergi bersama denganku. Apa aku cancel saja janjiku dengan Shota. Lain kali kan masih bisa. Kalau dengan Gaara... karena rumahnya jauh... mungkin...' Sakura menimbang-nimbang.
"Bagaimana Sakura?"
"Tidak perlu begitu. Biar aku batalkan janjiku saja." Sakura mengambil handphone di tasnya kemudian mengirim SMS kepada Itachi agar memberi tahu Shota bahwa Sakura tidak bisa pergi ke taman hari ini. Sakura juga menyampaikan maaf pada Shota. Dan berjanji akan membelikan Shota oleh-oleh.
"Aku jadi merasa tidak enak. Bagaimana kalau orang yang janjian denganmu itu marah, Sakura? Apa kita ke sana dulu. Biar aku yang menjelaskan dan meminta maaf."
"Tidak apa-apa. Mungkin dia juga belum sampai di tempat yang kami janjikan. Aku sudah mengirim SMS."
"Kalau begitu kita langsung saja. Aku sudah lapar. Kau mau makan apa?
* * *
Sasuke bercermin di dalam kamarnya. Penampilan? OK. Rambut? Perfect. Sasuke mencium tubuhnya sendiri. Wangi. Sasuke merasa seratus persen siap menumui Sakura di taman.
Sasuke melangkahkan kakinya keluar kamar. Tidak lupa Sasuke menutup pintu kamarnya. Akan tetapi baru sedetik Sasuke menutup pintu, Sasuke kembali mebukanya. Kali ini Sasuke tidak masuk ke dalam kamar. Hanya memandang pada satu objek. Fotonya dengan Sakura. "Tunggu aku di sana, Sakura!" gumamnya sambil bersenandung lirih.
Sasuke sudah berada di luar rumah ketika mendengar ringtone handpone kakaknya. "Ada SMS ya?" gumam Sasuke. "Sudahlah, bukan HP-ku ini..."
* * *
Akatsuki membentuk lingkaran di tengah-tengah laboratorium. Raut wajah mereka tegang. Tetes-tetes keringat terlihat di dahi dan leher mereka. Mereka saling lirik, memperhatikan ekspresi wajah satu sama lain. Masih sama. Tegang. Was-was.
"Kisame, giliranmu kan?" Itachi mengingatkan.
"Ya. Aku sedang perpikir."
"Ayo, cepat!" perintah Konan.
"Baiklah, aku keluarkan ini!" Kisame melempar kartu Jack sekop ke tengah lingkaran itu. Kartu Jack sekop yang dilempar Kisame bercampur dengan kartu-kartu lain, berserangan di tengah lingkaran itu.
"Hahahaha... pintar kau , Kisame! Makan ini!" Tobi melempar kartu Queen sekop ke dalam tumpukan kartu-kartu itu.
"Kalian jangan senang dulu!" Kali ini Itachi melempar kartu As sekop. "Kartuku sudah habis. Aku menang lagi!" Itachi tersenyum puas.
"Hahaha.. senang rasanya bisa bermain seperti ini lagi. sudah lama juga ya kita tidak main kartu di laboratorium ini?" Hidan merenggangkan badannya.
"Betul betul betul!" Zetsu mengiyakan.
"Aku haus. Deidara, tolong ambilkan minuman di kulkas!" perintah Itachi pada Deidara.
"Yes, Sir!" Deidara segera berjalan menuju dapur. Dengan langkah cepat, Deidara sudah sampai di depan kulkas. Dengan kekuatan penuh, Deidara membuka pintu kulkas. 'Hmmm... dingin. Seger.' Mata Deidara menelusuri isi kulkas. 'Itachi mau minum apa ya? Soft drink atau air putih?' pikir Deidara. 'Mending dibawa aja semuanya,' Deidara memutuskan.
Deidara mengambil satu botol besar soft drink dan satu botol besar air putih. Satu botol di tangan kanan dan satu botol di tangan kiri. Kemudian dengan satu gerakan, Deidara menutup pintu kulkas dengan kakinya. 'Eh?' Dalam kurun waktu sepersekian detik, Deidara dapat melihat sesuatu yang tidak asing baginya di dalam kulkas tadi. Karena penasaran Deidara membuka lagi kulkas itu. Lagi. matanya menelusuri isi kulkas. "Itu kan..." gumam Deidara lirih. Matanya menatap lurus cairan perak kental di dalam sebuah botol kecil. "Gyaaaaaaaaaaaaaaaaa......"
* * *
Di taman Sasuke tidak bosan-bosannya melihat jam tangannya. Setiap satu menit, Sasuke melakukan hal yang sama. Melihat jam tangan, memandang ke sekeliling, menenggok kiri kanan, memastikan kedatangan Sakura.
"Sudah setengah jam lebih. Apa Sakura ada urusan klub di sekolah ya?" gumam Sasuke. "Baiklah. Aku akan menunggumu hingga selesai, Sakura." Sasuke tersenyum.
* * *
Sakura berjalan di sebelah Gaara. mereka baru saja keluar dari salah satu restoran fast food ternama di Konoha. Restoran itu berada di dalam sebuah mall yang biasa dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda di Konoha.
"Terima kasih, Gaara. Kau sudah mentraktirku."
"Itu tidak seberapa kok."
"Tidak. Itu sangat berarti bagi..." tiba-tiba Sakura berhenti. Matanya menatap ke dalam salah satu toko mainan di mall itu.
"Ada apa Sakura?" Gaara juga ikut berhenti karena Sakura berhenti di sebelahnya.
"Tunggu sebentar, Gaara. Aku mau membelikan adikku mainan baru."
* * *
Di laboratorium....
"Maafkan aku, teman-teman!" Deidara menunduk pasrah menerima tatapan-tatapan marah teman-temannya. "Maaf, aku benar-benar lupa memasukan cairan itu ke dalam formula yang kita buat," lagi-lagi Deidara menjelasan dengan sangat menyesal.
"Berarti... kapsul itu... belum sempurna?" Konan berasumsi.
"Un." Deidara mengiyakan. "Maaf..."
"Kalau begitu... adikku... jangan-jangan... efek sampingnya..." Itachi memegangi kepalanya. "Deidara... kalau sampai terjadi sesuatu pada adikku, aku tidak akan mengampunimu..." Itachi bermaksud menyerang Deidara tapi Zetsu dan Hidan menahannya.
"Maaf, Itachi..."
* * *
Di taman...
"Sudah satu jam lebih. Apa aku susul dia ke sekolah saja ya?" Sasuke berpikir. "Jangan. Kalau saat aku berada di sekolah Sakura berada di sini dan mengira aku tidak ada... Hmmm... lebih baik aku menunggunya saja."
* * *
Sakura menenteng tas yang berisi robot-robotan baru untuk Shota. Sakura tersenyum membayangkan wajah Shota yang senang karena hadiah darinya. "Pasti anak itu akan senang sekali," gumamnya.
"Kenapa tidak kau biarkan aku membelikannya untuk adikmu?" Gaara bertanya sambil membuka pintu mobil.
"Aku tidak akan mengizinkan kau membayarnya karena ini hadiah dariku." Sakura mengangkat tas itu tinggi-tinggi seakan memamerkannya pada Gaara. Gaara tersenyum melihat tingkah Sakura. "Ayo cepat masuk, sebelum..." Terlambat. Hujan telah turun. Dalam sekejap tas itu sudah basah oleh derasnya air hujan. "Sakura, ayo cepat!"
* * *
Sasuke berteduh di bawah pohon rindang di tengah taman. Badannya bersandar pada batang kokoh pohon itu. Akan tetapi daun lebat pohon itu pun tidak sanggup menahan derasnya air hujan. Tetes-tetes air hujan yang merembes melalui celah-celah dedaunan membasahi tubuh Sasuke. Alam memang sedang tidak bersahabat dengan Sasuke. Bahkan angin pun bertiup kencang. Dingi. Sangat dingin. Akan tetapi Sasuke tetap berdiri di sana. Menunggu kedatangan Sakura. "Sakura... cepat datang..." ucap Sasuke lirih dengan tubuh menggigil.
* * *
Mobil Gaara sudah terparkir di depan rumah Sakura. Sakura dan Gaara masih duduk di dalam. Hujan lebat ini membuat keduanya terjebak di dalam mobil.
"Gaara, sudah hampir malam. Lebih baik aku masuk saja."
"Kalau begitu, biar aku antar kau."
"Tidak perlu, sampai sini saja."
"Tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkanmu kehujanan."
"Tapi Gaara..." belum sempat Sakura menyelesaikan ucapannya, Gaara sudah keluar dari mobilnya. Dengan cepat Gaara membuka pintu mobil di sisi sebelah Sakura dari luar. Gaara juga melepas jaketnya.
"Ayo!"
Mau tak mau Sakura keluar juga dari mobil Gaara. Gaara memakai jaketnya untuk menutupi kepala dan tubuh Sakura. Mengantar Sakura hingga ke pintu.
"Lihat, bajumu basah." Sakura mengamati tubuh Gaara.
"Dari pada bajumu yang basah," Gaara tersenyum.
"Mau mampir dulu? Mungkin baju ayahku agak kedodoran kalau kau pakai, tapi..."
"Tidak perlu. Aku langsung pulang saja. Terima kasih untuk hari ini, Sakura."
"Ya. Sama-sama."
Baik Sakura maupun Gaara tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamati mereka berdua sejak turun dari mobil. "Aku tidak akan membiarkan anak gadisku kau rebut, anak muda," geram Jiraiya di dalam rumah saat mengamati Sakura dan Gaara. "Aku harus cepat bertindak."
* * *
Sasuke tidak kuat lagi berdiri. Perlahan tubuhnya merosot ke tanah. Sampai akhirnya Sasuke terduduk di tanah. Badannya masih bersandar pada batang pohon itu. Tetes-tetes air semakin kerap berjatuhan dan membasahi tubuhnya. Tubuh Sasuke semakin menggigil. Sasuke melipat kakinya. Memeluk kakinya yang hampir mati rasa itu. "Sakura..."
* * *
Di laboratorium...
"Itachi, lebih baik aku telpon Sasuke dulu. Tanyakan bagaimana keadaannya," Konan menyarankan.
"Hn." Itachi meraba kantong celananya, mencari handphone. "Ah... handphoneku ketinggalan."
"Pakai ini saja," Tobi menyodorkan handphonenya.
Itachi segera menelepon nomor Sasuke. Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. "Maaf. Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif..." Itachi segera memencet tombol off di handphone Tobi. Lagi. kali ini Itachi mengubungi nomor Sakura. Satu detik.. dua detik... tiga detik... "Hallo?"
"Sakura-chan? Sas... ah... Shota? Apa Shota baik-baik saja?" Itachi panik.
"Shota? Ini Kak Itachi ya?"
"Iya. Shota bersamamu kan?"
"Bukannya Shota masih di rumah Kakak. Ini nomor baru Kakak ya?"
"Bukan. Ini nomor HP temanku. HP-ku ketinggalan."
"Oh.. begitu..." ucap Sakura. "Apa Kak? Ketinggalan?" tiba-tiba Sakura terperanjat. "Jangan-jangan..." gumamnya. "Apa Kakak tadi membaca SMS-ku?"
"SMS? SMS apa?"
"Gawat!!!"
"Sakura-chan!"
"Tut tut tut..."
* * *
Sakura berlarian di tengah derasnya hujan. Mencari-cari sosok Shota yang dia yakini masih berada di taman itu. "Shota!" teriak Sakura memanggil-manggil sosok lain Sasuke itu.
"Sakura..." Sasuke yang samar-samar mendengar suara Sakura di tengah derasnya hujan mulai bangkit. Sasuke mencoba berdiri. Tidak bisa. Kakinya sudah mati rasa. "Sakura..."
"Shota!" Sakura memandang berkeliling si tempatnya berdiri. "Shota!" Sakura panik. "Shota! Jawab Shota! Kau dimana?! Shota?!"
Suara Sakura semakin terdengar jelas di telinga Sasuke. Sasuke mencoba berdiri lagi. Sasuke memaksakan kakinya bergerak. Perlahan Sasuke melangkahkan kakinya. "Sakura..."
"Shota!" akhirnya Sakura berhasil menemukan Sasuke yang berjalan tertatih-tatih di tengah hujan. "Shota! Shota, kau tidak apa-apa?" Sakura yang panik langsung memeluk Sasuke.
"Sakura... akhirnya... kau datang juga... Aku.. sudah lama..." Sasuke tidak bisa melajutkan kata-katanya. Sasuke pingsan di pelukan Sakura.
to be continued...
* * *
Kenapa jadi begini? Oh tidak. Ini semua gara-gara dua drama yang saya sebutkan di atas beserta sountracknya. Dua minggu mendengarkan sountracknya membuat saya ikutan jadi mellow... Akhirnya berpengaruh juga pada fict saya.
