=7 Again=

Summary : Sasuke menjerit saat melihat bayangan tubuhnya di cermin. Tubuhnya mengecil... SasuSaku, AU. Terinspirasi dari Mentantei Conan

Warnings : OOC

Disclaimer : Masashi Kishimoto

* * *



-

Tolong Jelaskan Apa yang Telah Terjadi!!!

-



Sakura duduk di tepian ranjang Sasuke yang berada di rumah Sakura. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat kala memandang Sasuke yang berada dalam wujud Shota terbaring di ranjang dengan selimut tebal yang menutupinya. Badan Sasuke menggigil. Membuat Sakura semakin kalut. Tidak ada yang bisa dilakukan Sakura saat ini selain mengompres badan Sasuke dengan air hangat. 'Air dingin hanya akan membuat tubuh pasien semakin menggigil.' Sakura ingat betul wejangan dari ibunya ini saat Sakura berkunjung ke kantor ibunya.

"Dddiiiingggiiiin..." Sasuke mengigau.

"Tunggu Shota, biar kuambilkan selimutku." Sakura meninggalkan kamar Sasuke dan bergegas ke kamarnya. Cepat-cepat Sakura mengambil bed cover pink miliknya dan membawanya kembali ke kamar Sasuke, kemudian menyelimuti lagi tubuh Sasuke dengan bed cover yang dibawanya.

Ting tong!

Sakura mendengar suara bel pintu rumahnya. Dengan berat hati, Sakura meninggalkan Sasuke yang masih menggigil kedinginan dengan selimut dan bed cover di atas tubuhya.

Sakura melangkah dengan cepat. Karenanya tidak butuh waktu lama hingga dia berada di lantai satu dan membuka pintu depan rumahnya.

"Sakura-chan? Bagaimana keadaan Sa.. maksudku Shota?" nampak Itachi yang panik saat Sakura membuka pintu.

"Demam tinggi. Badannya menggigil." Sakura mempersilakan Itachi masuk dan kembali menutup pintu. "Ini semua salahku, Kak. Harusnya aku tidak membuatnya menunggu. Harusnya aku..."

"Tidak. Ini bukan salahmu." Itachi berusaha menenangkan Sakura yang merasa bersalah. "Dimana ayah dan ibumu?" tanya Itachi saat menyadari tidak ada suara berisik pasangan suami istri heboh itu.

"Mereka sibuk dengan pekerjaannya. Hari ini ada pasien ibu yang harus segera dioperasi. Dan ayah menginap di kampus karena harus menyelesaikan tugas analisisnya."

"Hn. Jadi kau sendiri?"

"Iya."

"Baiklah. Aku akan menemanimu menjaga Shota."

-

-

-

Tik tok tik tok tik tok..

Suara jam dinding yang digantung di dinding kamar Sasuke memecah keheningan malam. Sakura duduk terkantuk-kantuk di tepi ranjang Sasuke sedangkan Itachi duduk di kursi yang berada di depan meja rias yang berada di kamar Sasuke.

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi demam Sasuke masih juga belum turun. Sakura yang hampir memejamkan mata, kembali terbangun saat terdengar rintih kesakitan atau igauan Sasuke.

Itachi hanya bisa mengamati dan terus memantau panas tubuh adik kesayangannya itu. Dalam hati dia mengutuki Deidara dan berjanji akan membuat perhitungan dengan rekannya itu kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sasuke.

Tttttrrrrrrttttt... tttttttrrrrrttttt....

Handphone di saku Itachi bergetar. Dengan malas Itachi mengambil handphone itu dan membuka keypadnya dengan memasukan password. Tak lama muncul gambar amplop tertutup dengan tulisan '1 message received' di layar handphone touch screen itu. Itachi menyentuh gambar amplop itu dengan jarinya.

"Hn." Senyum penuh arti tersungging di bibir Itachi. "Begitu rupanya?" Itachi kembali menaruh handphonenya ke dalam saku. Pandangannya beralih pada Sakura yang sedang duduk terkantuk-kantuk. "Kau tidur saja dulu, Sakura-chan. Biar aku yang menjaga Shota."

"Tidak apa-apa. Aku ingin menjaganya."

-

-

-

Jam dinding sudah menunjukan pukul tiga pagi. Sakura yang tidak kuasa menahan kantuk sudah tertidur dengan posisi duduk di ranjang Sasuke. Badan dan kepala Sakura bersandar di dinding yang menempel dengan ranjang Sasuke.

Sasuke sudah lebih tenang sekarang. Tidak terdengar rintih kesakitan ataupun igauan dari bibir kecil itu. Badannya juga sudah tidak menggigil lagi. Akan tetapi kini peluh membasahi tubuhnya. Mungkin karena kepanasan dengan dua selimut tebal di atas tubuhnya. Atau mungkin karena penyebab lain?

Itachi mendekati tubuh mungil adiknya itu. Diambilnya termometer yang tergeletak di meja dekat ranjang Shota. Perlahan diletakkannya termometer itu pada ketiak adiknya. Selang beberapa menit, Itachi mengambil kembali termometer itu dan melihatnya. "Tiga puluh enam derajat. Hmmm.. sudah normal," ucapnya.

Itachi melirik Sakura. Kembali dia tersenyum. Kali ini senyum licik khasnya. "Aku akan membantumu, Sasuke. Kau nikmati saja," ucapnya sambil memandang wajah Shota. "Dan jangan lupa berterima kasih padaku."

-

-

-

Pukul enam pagi, sinar matahari mulai menerobos masuk ke kamar Sasuke melalui celah-celah ventilasi kamar dan jendela kamar yang tidak tertutup gorden dengan sempurna, mengenai mata Sasuke.

Merasa silau dengan sinar yang menerpa wajahnya, Sasuke berusaha membuka mata. Akan tetapi rasa pening dan berat di kepalanya, membuat matanya sulit untuk terbuka. Ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya dan rasa lemas membuatnya ingin melanjutkan tidurnya.

"Sasuke..." Sasuke mendengar suara seorang gadis memanggil namanya.

"Hn?" jawabnya. Sasuke mengangkat kepalanya dan merubah posisi tidurnya membelakangi sinar matahari.

"Sasuke..." Lagi. Sasuke semakin jelas mendengar suara itu. Kali ini dia merasa suara itu tidak asing lagi baginya.

Perlahan Sasuke membuka mata. Kali ini dia menghiraukan segala rasa sakit yang dirasakannya demi memuaskan rasa penasarannya. Pertama kali yang dilihat Sasuke ketika matanya sedikit terbuka adalah sesosok tubuh yang tertidur di sampingnya. Sasuke membuka matanya lebih lebar lagi. Kali ini Sasuke bisa melihat helai-helai rambut halus tepat di depan wajahnya. Sasuke tahu warna rambut itu. Pink. Dan Sasuke tahu siapa orang berambut pink itu. Kali berikutnya Sasuke membelalakan mata. "Sakura?" ucapnya kaget.

Sasuke tidak tahu dan tidak ingat kenapa Sakura ada di sampingnya. Tidur di sebelahnya dan memanggil namanya. Tunggu! Sepertinya dia ingat sesuatu...

Sasuke tersenyum kali ini. Dia ingat sekarang. Tubuhnya sekarang mengecil. Jadi pasti Sakura menganggap dirinya sebagai Shota. "Kau pasti merasa sangat bersalah karena tidak datang menepati janjimu dan membuatku seperti ini kan, Sakura?" ucap Sasuke seraya mendekati tubuh Sakura yang tertutup bed cover pink-nya. "Kemana saja kau? Kenapa kemarin tidak datang? Apa lagi-lagi kau bersama laki-laki sialan itu?" Sasuke membelai rambut Sakura. "Tidak. Aku tidak akan membiarkannya." Kali ini Sasuke mengecup bibir Sakura.

"Ngg..." Sakura mengeliat. Posisi tubuhnya pun berubah. Kini Sakura tidur menghadap ke arah Sasuke.

Lagi-lagi Sasuke tersenyum. Dipandangnya lekat-lekat wajah manis Sakura yang masih terlelap. Rasa bahagia tiba-tiba saja menyelimutinya. Apakah kelak setelah mereka menikah Sasuke akan merasakan perasaan ini setiap bangun pagi?

Sasuke merengkuh tubuh Sakura. Membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sasuke memejamkan mata. Merasakan aroma khas dari gadis itu. Sasuke semakin mempererat pelukannya pada gadis pink itu. "Sakura, kenapa tubuhmu begitu mungil? Bukankah kau pemain kendo?" bisiknya lembut.

Tunggu! Sasuke membeku. 'Mungil?' Akal sehat Sasuke mulai bekerja. 'Bukankah tubuhku mengecil? Kalau begitu bukankah seharusnya tubuh Sakura sekarang lebih besar dari pada tubuhku? Kalau begitu, kenapa aku bisa memeluknya sekarang?'

Untuk memastikan segala spekulasinya, Sasuke memutuskan untuk melihat kondisi tubuhnya. Langkah pertama yang dilakukannya adalah melepas pelukannya pada gadis di hadapannya itu. Langkah kedua adalah mengambil posisi duduk. Langkah ketiga adalah menatap cermin yang menempel pada meja rias di kamar yang dipinjamnya ini.

Alangkah terkejutnya Sasuke saat melihat pantulan tubuhnya di cermin. Tubuhnya tidak lagi kecil. Dia bukan lagi anak berusia tujuh tahun bernama Shota. Tubuhnya sudah kembali seperti semula. Dia kini telah kembali menjadi seorang Sasuke Uchiha.

Akan tetapi bukan perasaan senang yang menjalari tubuhnya saat ini. Bukan, bukan rasa senang karena tubuhnya kembali seperti semula. Yang dirasakan Sasuke sekarang adalah kepanikan yang semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak? Sasuke melihat pantulan tubuhnya yang tidak mengenakan selembar kain pun di cermin. Cepat-cepat Sasuke menarik selimut tebal di sebelahnya untuk menutupi tubuh kekarnya. Tiba-tiba saja pikiran Sasuke kosong. Sasuke tidak tahu apa yang terjadi. Apa mungkin ini semua hanya mimpi. Kembali diliriknya Sakura yang masih tidur terlelap sampingnya. 'Tidak,' batin Sasuke. 'Ini semua nyata.'

Jadi kenapa dia bisa berada di satu ranjang yang sama dengan Sakura. Dan kondisi tubuh Sasuke sekarang semakin mengacaukan pikirannya. 'Tapi... apa Sakura juga sama sepertiku? Tidak berpakaian sama sekali?' Sasuke penasaran.

Tangan Sasuke sudah berada di atas bed cover pink Sakura, bersiap untuk menariknya dan menjawab semua rasa penasarannya. Akan tetapi Sasuke mendadak menghentikan pergerakan tangannya. 'Rasanya aku belum siap melihatnya,' batin Sasuke sementara wajahnya sudah semerah buah kesukaannya.

Bbbbbrrrrmmmm...

Di tengah ketidak-jelasan kondisi Sasuke saat ini, terdengar suara mobil dari luar rumah. Sasuke tahu, hafal dan yakin bahwa suara mobil itu adalah suara mobil milik Jiraiya, ayah Sakura yang sangat anti pati pada dirinya. "Damn!" umpat Sasuke. Apa yang nanti akan diperbuat Jiraiya jika melihat putrinya dalam keadaan seperti ini, bersama seorang lelaki yang sangat dibencinya? Sasuke tidak bisa membayangkan apa menu sarapan Jiraiya pagi ini. Mungkin saja daging Sasuke Uchiha cincang.

Sasuke hanya punya waktu beberapa menit untuk pergi, menghilang atau setidaknya bersembunyi dari tempat ini. Sasuke segera menurunkan kakinya ke ranjang dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sasuke sudah besiap untuk beranjak dari ranjang. Akan tetapi tangannya ditahan oleh tangan mungil halus yang mengenggamnya.

"Ng... Sasuke... Jangan pergi. Aku masih kangen."

Deg.

Sasuke menoleh, memandang gadis yang menahannya pergi. Jantung Sasuke kini berdetak terlalu kencang sampai-sampai kepalanya berdenyut-denyut dan terasa berputar. Apa yang dilihatnya kini membuat Sasuke semakin frustasi. Mata Sakura kini terbuka, memandangnya penuh dengan kerinduan.

"Sasuke.. aku kangen..."

Deg.

'Tolong jelaskan apa yang telah terjadi!!!' jerit Sasuke dalam hati.

-

-

-

to be continued...

* * *


-

Di chapter ini saya juga tidak sanggup untuk membalas review-review Anda sekalian. Ingatan saya yang buruk membuat saya lupa review mana yang sudah saya balas dan mana yang belum.

Thanks for:

Akabara Hikari, Dr. Otaku, LuthMrlody, Furu-pyon, Megumi Kisai,

Arishima Ryuu-Chan, dhitta, beby-chan, Nakamura Kumiko-chan,Sessio Momo, Black_Ao, Hello!, Argi Kartika 'Konan',Haruchi Nigiyama,

Amethyst is Aprodite, Pick-a-doo, Chiwe-SasuSaku, Males log in.

-

Terima kasih untuk review2nya. Maaf juga ya updatenya amat sangat terlalu lama sekali!! Dan maaf juga (lagi) kalau chapter ini terlalu pendek.