Disclaimer: Tentu saja Naruto miliknya Kishimoto-sensei tapi cerita ini 100% milik saya, jadi kalau mau protes proteslah pada saya, jangan pada Masashi Kishimoto-sensei. OK?
Genre:Komedi,romantis,yaoi, family dan entah apa lagi deh...
Warning:kacau, amburdul, abal-abal, bikin frustasi, EYD kacau, berantakan, bikin sakit mata. Sangat memalukan.
Kalau nggak mau pake kacamata mending jangan baca ya...
Jadi...
Nggak suka? Jangan baca.
Tapi bagi yang mau, baca ya! ^_^ please.
Tokoh: Naruto, Sasuke, Itachi, Gaara, Kiba, Kushina, minato dan Kyubi (OC) + Temari, Ino, Sakura (Figuran).
Tapi kali ini Temari, Ino, Sakura, Kiba sama Gaara nggak muncul
OK jadi mulai saja.
Naruto POV
Mataku bukannya terpejam penuh, aku masih bisa melihat sediki dari sudut mataku yang terbuka.
Rambutnya yang berwarna raven terjuntai basah, dapat kurasakan tetesan airnya yang jatuh membasahi wajahku. Mata onyxnya menatapku tajam. Nafasnya terengah-engah, hembusannya membelai leherku menimbulkan sensasi geli yang menyenangkan dan bibirnya terbuka memperlihatkan sedikit lidahnya yang berada di dalam.
Kurasakan perasaan panas yang menjalari tubuhku saat dia mendekatkan wajahnya padaku. Ingin rasanya aku bergerak, namun aku tak bisa. Kedua lengan kekarnya mengunciku di posisi berbaring yang dibuatnya. Gawat, aku tak berani menatap wajahnya, jadi kualihkan saja pandanganku pada tubuhnya.
Kesalahan besar.
Seragam yang dipakainya basah kuyub sehingga membuatnya terlihat transparan, aku dapat melihat dengan jelas bahu lebar dan dada bidang yang selama ini hanya ernah kulihat dari balik seragamnya saja.
Dan itu sangat... sexy.
Kurasakan bibirnya yang berwarna pucat itu menyentuh buibirku berusaha mendorong udara dari paru-parunya ke dalam paru-paruku. Sementara itu aku mencoba menahan diriku sendiri untuk tidak membalas ciumannya. Ah, bukan. Maksudku pernapasan buatannya.
Kurasakan tangannya menekan dadaku beberapa kali, terasa hangat. Padahal tangannya sepucat itu ternya di balik kulit pucatnya dia menyembunyikan kehangatan tubuh yang sebegitu besarnya.
Dia menempelkan bibirnya lagi padaku, hanya perasaanku saja atau dia memang sedikit mengulum bibirku saat melakukan CPR ini?
Aku terbatuk beberapa kali untuk memuntahkan air yang beberapa waktu lalu telah sukses membasahi paru-paruku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum membukanya perlahan. Kutatap sosok di hadapanku. "Sa...Sasuke?" kupanggil nama aslinya dengan pelan.
Lalu dia memelukku, pakaiannya yang basah terasa dingin, namun suhu tubuhnya terasa hangat. Sangat nyaman.
Dia berbisik pelan di telingaku membuat beberapa kali lidahnya menyentuh cuping telingaku membuatku ingin mendesah. "Aku sungguh tak ingin kehilangan dirimu, Naruto... kau sangat berharga buatku."
"AAAAAAAAAAA!"
-seven days to falling in love-
Normal POV
"AAAAAAAAAAA!"
Mendengar sebuah teriakan yang amat sangat keras, Kushina keluar dari kamarnya sambil menggaruk kepala yang tak gatal. "Aku tak pernah bermimpi suatu hari Naruto yang akan membangunkanku." Katanya pada sang suami yang tengah duduk di tepi tempat tidur mereka. "Ini kan masih pukul lima."
Minato hanya tersenyum simpul. "Apa boleh buat. Dia pasti bermimpi buruk karena masih syok karena kejadian kemarin." Katanya sambil bangkit berdiri dan memeluk pinggang istrinya berusaha membuat Kushina tenang. "Sebaiknya kita biarkan dia dan Kyubi istirahat dulu untuk hari ini." Sarannya.
Kushina mengangguk pelan. "Yeah, itu ide yang baik."
Minato lalu menuntun istrinya kembali masuk kamar dan menutup pintunya.
Kita beralih ke lantai atas, -jika tidak saya terpaksa menaikkan FF ini ke rating M- di kamarnya Naruto tengah terengah-engah sambil duduk di kasurnya. Dia menarik nafas lega. "Syukurlah, Cuma mimpi." Ia bergumam.
Namun hati kecilnya kembali menyadarkannya akan kenyataan. 'Memang sekarang hanya mimpi, tapi kemarin? Itu nyata! Itu benar-benar terjadi!' Naruto memeluk kedua lututnya yang masih terbalut selimut "Gawat," gumamnya lirih. "Rasanya aku jadi aneh, deh." Tambahnya sambil mencengkram dadanya yang terasa panas dan jantungnya yang terasa sakit karena berpacu terlalu cepat.
Ia mengerang.
DUAKK!
Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka –dibanting sebenarnya- dengan keras oleh seorang gadis dengan mata biru cemerlang dan rambut semerah darah, kakaknya. Dengan langkah-langkah lebar Kyubi masuk sambil menyilangkan kedua tangannya di dada sebagai tanda atas kemarahannya.
"Apa-apaan ini?!" protesnya pada sang adik."Membangunkanku sepagi ini tidak baik untuk kesehatan kulitku tahu!" katanya sambil menunjuk kulit lengannya yang berwarna putih susu mulus.
"Maaf," gumam Naruto singkat.
"Memangnya kau kenapa?" tanya Kyubi lembut sambil duduk di sebelah adiknya di kasur. Lalu dia memutar matanya malas sambil berkata dengan nada mengejek, "Jangan bilang kau kepikiran dengan kejadian kemarin."
Naruto menatap kakaknya dengan mata membulat dan nulut melongo terbuka. 'Jangan-jangan Kyunee-chan ini cenayang.' Pikirnya saat merasakan rona merah menjalar di pipinya. Dia hanya bisa berharap Kyubi tak bisa melihatnya karena ruangan terlalu gelap. Dan kenyataannya memang begitu.
"Ayolah," kata Kyubi saat adiknya tak menjawab. "Memang benar kita dulu pernah tenggelam di laut sekali. Namun bukan berarti kita harus menyimpan traumanya seumur hidup kan? Anggap saja itu sebagai titik tolak balik untuk kita." Ocehnya panjang lebar.
'Ternyata Kyunee-chan memang Cuma manusia biasa.' Batin Naruto. Lalu dia menggeleng, dia memutuskan untuk mengatakan kegelisahannya pada kakak tunggalnya itu. "Bukan soal itu, Kyunee-chan."
Kyubi menggaruk kepalanya bingung. "Kalau bukan soal itu, soal apa dong?" tanyanya tak mengerti. Lalu dia tersentak, "Jangan-jangan soal Sasuke Uchiha ya?" selidiknya.
Naruto menarik selimutnya hingga menutupi sebagian wajahnya yang merona. Lalu dia mengangguk pelan.
Kyubi memekik kaget "Eh? Jadi kau..." dia berdehan sejenak dan berusaha merubah susunan katanya yang seperti preman menjadi lebih baik. "Naruto bagaimana perasaanmu saat itu? Apakah kau merasa jijik?" tanyanya dengan nada lembut.
"Tidak!" sanggah Naruto sambil menggeleng kencang. "Aku tidak merasa jijik kok. Hanya saja... hanya saja aku merasa seperti menjadi ikan yang hidup di lautan yang dalam, sejenis tuna mungkin. Dan aku sepeti ditarik ke permukaan air. Rasanya benar-benar WAH! Seperti baru merasakan rasa hangat dan cahaya mentari untuk pertama kalinyasetelah terkurung di tempat dingin dan gelap seumur hidup!" ceritanya panjang lebar.
(Note: kalau tidak ngerti deskripsi Naruto di atas juga nggak apa-apa. Author aja nggak ngerti kok.)
Gadis berambut merah itu mengangguk mengerti lalu dia membelai rambut blonde jabrik adiknya dengan perasaan sayang. "Dari deskripsimu, rasanya aku tahu perasaan itu." Katanya dengan nada selembut mungkin. "Kau kan sudah remaja, jadi wajar saja jika kau merasakannya."
"Sasuke itu lelaki! Aku juga!" tepisnya kasar sambil menyingkirkan tangan kakaknya dari rambut.
"Lalu?" tanya Kyubi, "Kau takut itu tidaklah wajar ya?"
Naruto menggelembungkan pipinya.
Kyubi tersenyum melihat tingkah adiknya. "Kau tahu? Cinta itu tak mengenal rupa, kasta, harta, usia dan juga gedernya. Pria ataupun wanita bukan masalah." Lalu dia tersenyum dan pergi meninggalkan adiknya yang tengah termenung di kamarnya.
-seven days to falling in love-
"Pagi Kaasan, Tousan. Lho? Kyunee-chan kok belum berangkat sih? Hayoo nungguin aku buat berangkat bareng ya?" tanya Naruto sambil menggoda kakaknya yang duduk di ruang makan sambil memakan rotinya pelan. Aneh sekali, padahal sudah pukul tujuh namun kakaknya yang anti terlambat itu belum juga pergi ke sekolah.
"Pede." Dengus Kyubi pelan. "Kata Kaasan dan Tousan mereka tak akan membiarkan kita untuk berangkat sekolah." Katanya kasar.
"Bukan begitu, kami Cuma khawatir kalian masih trauma karena kejadian kemarin. Kami ingin kalian istirahat satu hari ini saja." Minato mengitrupsi kata-kata kasar putri sulungnya itu.
"Trauma? Lucu sekali." Gerutu kyubi.
Naruto mengangguk. "Benar kata Kyunee-chan, Tousan. Kami baik-baik saja."
"Keputusan kami sudah bulat." Putus Kushina melihat Minato mulai goyah karena rayuan anak-anaknya. "Istirahatlah dulu hari ini." Titah sang Ratu.
"Kami akan istirahat besok."sanggah Kyubi.
Kushina menggeleng keras. "Tidak." Katanya tegas. Bahkan lebih tegas dari Kyubi ataupun Minato. "Ini keputusan terakhirku."
"Oke-oke! Aku mengaku kalah." Kubi menyerah mendebat ibunya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. "Tapi setidaknya izinkan aku pergi sore ini. Ada yang harus aku lakukan."
"Apa itu?" tanya ibunya curiga.
"Aku ingin pergi ke rumah kediaman keluarga Uchiha." Jawab kyubi tegas. "setidaknya aku ingin berterima kasih secara resmi pada mereka karena telah menolong kami kemarin."
Kushina tersenyum."OK."
"Trims Kaasan!" teriak Kyubi sambil memeluk ibunya. "Hei, apa kau ikut juga Naruto?" tanya Kyubi berpaling pada adiknya.
"Iya! Tentu saja!" teriak Naruto bersemangat.
"Eitch!" intrupsi Kushina. "Kalian jangan terlalu senang dulu."
"kenapa?" tanya keduanya serempak.
"Kalian sudah menyiapkan buah tangan untuk mereka belum?" tanyanya pada kedua anaknya sambil tersenyum penuh arti.
"Buah tangan?"
-seven days to falling in love-
"Emmm... Kyunee-chan...apa benar ini rumah keluarga Uchiha?"
Kyubi mengecek alamat rumah yang dikirim Itachi lewat ponsel. "Memang benar kok. Tuh papan namanya juga benarkan?" tunjuknya pada sebuah papan nama bertuliskan 'UCHIHA'. Yang terpampang di depan gerbang.
"Tapi... daripada rumah...ini sih..."Naruto menatap gerbang rumah Uchiha sambil mendongak. "Lebih cocok disebut kota kecil pada zaman edo ya..."
Kyubi tersenyum nanar. "Ini pasti salah satu cagar budaya yang dilindungi pemerintah atau tempat wisata deh." Gumamnya tak jelas sambil memencet sebuah bel yang menjadi satu-satunya bukti kemodernan rumah tersebut.
DONG! DONG! DONG!
Kyubi meringis mendengar suara bel yang lebih mirip suara lonceng klasik itu. "Yeah, modern." Gerutunya singkat.
"Siapa yang tahu apa yang akan ditemui di rumah keluarga Uchiha." Kata Naruto sambil mengangkat kedua tangannya setinggi pundak.
Mereka harus berkaget-kaget ria saat yang membuka pintu masuk adalah seorang penjaga gerbang berpakaian ala samurai, lalu menyadari bahwa kediaman Uchiha adalah suatu desa sendiri dimana dibalik gerbang tadi adalah rumah-rumah bernuansa kuno yang jumlahnya sangat banyak. Belum lagi kekagetan mereka begitu sadar bahwa semua orang di dalam kawasan itu memakai pakaian tradisional dan yang paling mengagetkan mereka adalah kenyataan jika sahabat-sahabat mereka adalah putra sekaligus pewaris keluarga inti Uchiha yang akan mewarisi semua ini.
"Bisa senam jantung aku kalau kelamaan ada di sini." Kyubi berkata pada Itachi yang telah menyuguh mereka di rumah utama. "Rasanya seperti melintasi waktu ke zaman Edo."
Itachi hanya tertawa mendengar celoteh sahabatnya ini. "Syukurlah kalau kau suka." Katanya sambil duduk di hadapan Kyubi di rumahnya yang bergaya ala kediaman para raja. "Maaf ya, orang tuaku sedang ke Amerika untuk mengurusi perusahaan, padahal kalian sudah repot-repot ke sini."
"Tak apa-apa, bertemu dengan kalian saja sudah membuatku cukup senang." Kata Kyubi sambil tersenyum anggun. "Hanya saja aku merasa salah kostum di sini. Harusnya aku memakai furisode lengkap dan membawa karangan bunga, bukannya memakai dress dan membawa kue ya."
Itachi tertawa mendengarnya. "Aku ingin lihat jugasih. Tapi kau juga cocok memakai dress itu. Cantik." Katanya memuji membuat Kyubi merona merah. "Oh,ya. Kenapa kalian mendadak datang ke sini?" tanyanya sopan.
"Seperti yang sudah kukatakan." Kata Kyubi sambil memberikan sebuah bungkusan yang cantik ke hadapan Itachi. "Aku membuatnya tadi siang sebagai tanda terima kasih karena telah menolong kami kemarin. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kami jika saja tak ada kalian saat itu."
Itachi menerimanya. "Jujur,lho. Aku senang."
Kyubi mendesah merasakan ada hawa tak enak dari sampingnya. Dari tadi Naruto dan Sasuke hanya berdiam diri saja membiarkan kakak-kakak mereka mendominasi percakapan. Dia lalu menyenggol pinggang adiknya pelan.
"Eh, itu.. begini... aku juga punya. Tapi mungkin agak gosong dan tidak enak. E... apa kau mau menerimanya Sasuke?" kata Naruto sambil menyerahkan bingkisannya pada Sasuke dengan wajah yang sudah semerah tomat.
Sasuke menerimanya. "Ya. Terima kasih."
Naruto mengadaah menatap Sasuke dengan terkejut, lalu dia tersenyum amat manis.
'Seperti gadis yang baru saja nembak cowok dan diterima.' Batin Kyubi geli melihat wajah adiknya.
"Ini sedikit gagal. Besok akan kubuatkan yang lebih enak lagi." Janji Naruto.
Sasuke tersenyum iblis sejenak lalu berkata. "Ok, kalau begitu besok kutunggu di depan sekolah pukul sembilan."
"Eh, ya..."
'Ajakan kencan!' teriak Kyubi dan Itachi bersamaan dalam hati. Namun tentu saja mereka tak tahu jika pikiran mereka sama.
Tapi sebenarnya ada yang terasa aneh... sebenarnya siapa yang mengajak kencan ya?
...Chapter 4 end...
YEIIIIIIIIIII! Ini chapter gaje baru terbit! Hahaha
Naruto: sifatku... kok cewek banget.
Mai:sorry, mengikuti alur cerita aja.
Sasuke:akhirnya punya dialog. Lumayan panjang lagi.
Naruto: punyaku jauh lebih panjang lho HAHAHA (Naruto dichidori)
Itachi: hei Mai, Adeganku kurang romantis nih.
Mai: tenang, aku lagi coba buat rancangan FF baru tokoh utamanya kamu ma Kyubi. Banyak adegan mesra. Ratingnya T.
Itachi: kenapa nggak M? (Ditusuk pake kunai sama Kyubi)
Mai: dasar mesum! Aku ini masih polos tahu!
Kushina: sebenarnya setelah masuk kamar aku dan Minato ngapain sih kok pake disensor segala, Lemon ya...
Mai: bukan, kalian tidur lagi kok. Cuma aja biar gimanaaaaaaa gituuuuuuuu
Minato: aku kok nggak tegas ya?
Mai: glek (pasang pose siap kabur)
Kyubi: kok imageku berubah lagi (Ngeluarin kunai berdarah-darah yang tadi dipake buat nusuk Itachi)
Mai : ahahaha (Langsung start jongkok, siap lari sprint)
Temari, Ino, Sakura, Kiba sama Gaara : kami masih belum muncul?! (sambil nyiapin jutsu masing-masing)
Mai: DAAAAAAAHHHH(kabur sambil melambai ala miss indonesia)
Naruto: stay cool. Lupain Author sinting itu. Ini dia balasan review yang udah dia titipin.
1.Mrs Kim siFujoshi: yap. Emang biasanya apa warna rambut Kyubi?
2.devilojoshi: Yah, pada dasarnya kalau ada yang review aku baca cerita buatan mereka. Hebat keren-keren banget deh! Kagum!
3. kkhukhukhukhudattebayo: sudah tahu apa yang dibisikkan Sasuke kan, sengaja kusimpen buat chapter ini. Biar pada penasaran. Hehehe.
4. Gunchan CacuNalu Polepel: ups kependekan ya? Sorry. Soalnya author nggak punya laptop sih hahaha
Lalu terimakasih kepada:
a.HyuuShiina-san , Mrs Kim siFujoshi , , ikhaosvz ,kkhukhukhukhudattebayo, 4ever yang sudah menjadikan cerita ini Favorit. Kalian bagai jantung yang membantuku terus berdetak.
b.KyouyaxCloud ,NiMin Shippers , Sora asagi , devilojoshi , kkhukhukhukhudattebayo , 4ever yang telah mem follow FF ini. Kalian adalah paru-paru yang memberikanku nafas untuk tetap hidup
c. banyak teman yang telah review yang tak bisa kusebutkan satu-persatu. Dalam tubuhku kalian adalah otak yang selalu membantuku mencari jati diri dan kehidupan.
d. serta kalian yang membacanya. Kalianlah sel. Kecil namun tanpa kalian aku tak dapat hidup. Terima kasih semuanya
Naruto: terimakasih atas dukungan kalian dan satu lagi 'review please.'
