Pemuda culun yang asli, alias Itachi sedang sibuk berkutat dengan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Ia nggak tahu kenapa bisa berposisi seperti ini. Posisinya nggak enak banget. Didiamkan di atas lantai dingin, ketika tubuhnya terikat, dan mulutnya disumpal oleh kain. SIAL! Ia mau saja diperlakukan seperti ini. Kenapa dia tidak bisa melawan, ketika berurusan dengan orang berambut merah itu? Itachi bergulat terus dengan tali yang mengikatnya.

BRUK!

Kyuubi terjatuh tepat di atas tubuh Itachi, sehingga membuat Uchiha sulung menggeram—kesakitan. Mata Kyuubi masih terpejam—erat, ngelindur.

Rupanya, Kyuubi benar-benar monster. Saking tidak mau kehilangan mainannya, Kyuubi mengikat mainannya, dan membiarkannya tersiksa di dalam lantai kamar kontrakannya. Semalam, Kyuubi tidak sempat memberi pelajaran pada Itachi karena mengantuk. Alhasil, dia akan memberi pelajaran pada Itachi di pagi harinya saja. Ya, tapi sebelum pagi menjelang, Itachi sudah terkena sial terlebih dahulu.

"Ngggg…," Kyuubi bergumam, Itachi sweatdrop.

Dia melindur..

Batin Itachi, ketika mata Kyuubi masih terpejam.

Tangan Kyuubi yang tadinya diam saja, mulai bergerak. Ia mengelus, elus pinggir tubuh Itachi. Sehingga, membuat Itachi sedikit risih. Setelah itu, tangan Kyuubi pun mulai bergerak ke arah perut Itachi. Ia menyelusupkan tangannya ke dalam kemeja yang dikenakan Itachi, dan mengelus kulit tersebut memakai jari-jarinya. Jari dingin Kyuubi yang dingin, dan mengelus secara mendominasi dan agresif. Sedangkan Itachi hanya bisa menggeram, membangunkan Kyuubi yang tidak kunjung bangun saja.

"Mhmmm… mhmmmm!" Itachi berusaha membuat Kyuubi tersadar dari tidur lelapnya, dan berhenti mengelus-elus tubuhnya.

Lidah Kyuubi terjulur kecil. Ia menjilati leher Itachi, hingga membuat Uchiha sulung merasa geli. Dengan lembut dan terkesan lembab Kyuubi menjilati kulit leher Itachi yang berkeringat dingin, dan membuat kulit tersebut menjadi basah terkena saliva. Waduh, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kyuubi menjadi agresif seperti ini? Itachi berusaha untuk menyingkirkan Kyuubi dari atas tubuhnya, tetapi usahanya sia-sia. Ia harus pasrah terhadap tindakan Kyuubi.

"Mhmmm… mhm—

"Daging panggang…," gumam Kyuubi yang sedang asyik memimpikan daging panggang raksasa yang hanya punya miliknya. Itachi terdiam—mendengarkan suara Kyuubi yang sedang mengigau, ketika Kyuubi membuka mulutnya lebar-lebar, dan… "GRAUUUKKKK!" tanpa banyak basa-basi, Kyuubi menggigit leher Itachi—tidak manusiawi.

E—E—EHHHHHHHH?!

"MHMMMMMMMMMMMMMMMMMMM!" teriak Itachi di dalam mulut yang tersendat oleh kain. Ia kesakitan, hingga matanya berair. Ia merasa ini benar-benar mengerikan. Namun, Itachi tidak bisa melakukan apa-apa.

Dan?

Itachi pun harus bertahan atas semua penderitaan ini.


Pernikahan vs Saudara Idiot!

Disc: Masashi Kishimoto

Rat: M

Pairing: SasuNaru

Warn: FemKyuu, miss typo, author lagi galau, cerita nggak jelas, dan OOC.

Pesan: Cerita ini kepunyaan I don't care about Taz, dan tidak dipublikasikan atas ijin yang punya hahaha.

Summ: ini bukanlah drama full house! Ini bukanlah drama percintaan rumah-rumahan. Ini adalah pernikahan sesungguhnya! Kebohongan, kakak edan, orang tua parah, kesempurnaan, dan kita seorang STRAIGHT!

Satu kata: Di saat galau teruslah berkarya, Taz!


Chapter 3: Apa? BULAN MADU?!


New Caledonia—French.

Menurut gembar-gembor orang-orang ini tempat adalah tempat yang bagus banget. Suasananya sangat cocok buat orang-orang elite berlibur, dan bersantai. Ya, pantas orang-orang menyebutnya salah satu tempat yang merupakan surga dunia. Selain, laut yang indah, pemandangan yang menakjubkan, bungalow yang berada di atas air, tempat inipun sangat romantis untuk pasangan baru menikah. Oke, sangat—sangat—sangat romantis, hingga membuat siapapun pasangan yang datang ke tempat ini bahagia. Siapapun, kecuali satu pasangan.

Naruto dan Sasuke yang sedang menyamar menjadi kakak mereka cuman bisa tertohok—bengong. Akhirnya, demi para putri duyung yang mungkin ada di dunia ini mereka telah tiba di tempat bulan madu. Tempat yang dirancang oleh orang tua mereka. Astaga! Ini adalah hal paling menyebalkan bagi Sasuke, dan menjijikan bagi Naruto. Bagaimana tidak menyebalkan dan menjijikan? Orang tua mereka rupanya secara diam-diam telah menyusun acara bulan madu mereka. Acara yang seharusnya tidak ada ketika mereka sedang menyamar. Acara yang… AKH! Sungguh sulit diungkapkan oleh kata-kata.

Dari balik kaca mata tebalnya, Sasuke memandang Naruto. Ia melihat jika Naruto yang sedang memakai wig berwarna merah memanggul tas jinjing di pundak seperti laki-laki saja. "Chk..," decak Sasuke, kesal karena mempunyai istri yang ternyata tidak ada feminim-feminimnya sama sekali.

Naruto mendengar decakan kesal Sasuke. Ia memandang Uchiha bungsu sinis. "Apa?" tanyanya—sengak. Tidak takut jika harus berkelahi dengan Sasuke. Naruto udah pasang badan, siap ngehajar suami gadungannya sendiri.

Sasuke membetulkan kaca matanya. "Berisik, Dobe!" jawabnya sebelum membetulkan letak tasnya, melangkahkan kaki, menjauh dari Naruto.

Do—dobe?!

Mendengar ejekan Sasuke, Naruto tidak terima. Dia dibilang Dobe? Kenapa Sasuke sering sekali mengatainya Dobe, ketika Uchiha bungsu tidak jauh lebih pintar darinya? Orang pintar seperti dia dibilang dobe? Memangnya siapa Sasuke?! Naruto langsung mengambil tas kopernya. Ia menyeret tas kopernya sambil berlari-lari kecil untuk mengejar Sasuke. Ia akan memperkarakan hal ini ke meja hukum sebagai penghinaan jika perlu.

Awas kau, Itachi!

Batin Naruto yang masih mengira jika Sasuke adalah Itachi.

"HEH, TEME!" teriak Naruto sangat keras. "Siapa yang kau panggil dobe, sialan?!" tanyanya—mulai mencari masalah.

Sasuke tidak mau berhenti. Ia muak. Ia ingin semua ini cepat berakhir. Oleh karena itu, Sasuke pun mempercepat langkah kakinya. Dia tidak akan pernah sekalipun mempedulikan 'istri' gadungannya. Dia terus melangkahkan kakinya, ketika otaknya mengingat awal cerita bulan madunya bersama sang istri jadi-jadian dimulai.

Beberapa jam lalu…

"Apa, bulan madu?!" seru Naruto dan Sasuke—bersamaan.

Setelah menghabiskan malam mereka di dalam hotel, dan Sasuke terpaksa harus merasakan encok karena semalaman tidur di atas lantai, akhirnya pagi pun datang, dan Naruto—Sasuke harus bertemu dengan orang tua mereka di restoran yang terletak di lantai teratas hotel.

Restoran di dalam hotel tersebut sangat mewah, dan makanannya juga enak-enak. Tetapi topik pembicaraan yang dibawakan oleh kedua orang tua merekalah yang mendukung. Sasuke dan Naruto yang notabene sedang di dalam masa penyamaran masa harus bulan madu? Apa sih yang ada di dalam otak kedua orang tua mereka? Bagaimana jika penyamaran mereka terbongkar? Apalagi Naruto yang menyamar sebagai wanita. Bisa jadi masalah luar biasa ini!

"Ya, itu untuk mempererat hubungan kalian berdua yang baru saja bertemu dan berkenalan..," kata Mikoto. Wajahnya senyam-senyum nggak jelas—mengerikan. Mikoto pun memandang Fugaku dan Minato yang ikut serta dalam makan pagi Sasuke—Naruto. "Iya, kan?" tanyanya, dengan senyuman semanis mungkin. Minato sweatdrop.

"Iya..," jawab Minato, sedangkan Fugaku hanya sibuk menyeruput kopinya.

Naruto memandang ayahnya sinis. Mulutnya membuka-tutup, kaget dengan tingkah ayahnya. Minato ini bagaimana, sih? Masa mereka berdua harus bulan madu? Oh, shit! Bagaimana jika Sasuke grepe-grepe Naruto? Bisa ketahuan jika dia ini adalah cowok. La—lagian, masa cowok sama cowok bulan madu? Hello~ Naruto itu straight, oke? Dia ini tidak mungkin harus melakukan ini dan itu bersama laki-laki. Hiii.. bisa gila, jika dia menjadi gay!

Naruto merinding ngeri.

"Ayah, bisa kita berdua bicara sebentar?" tanya Naruto dengan senyuman semanis mungkin. Minato mengangguk—pelan. "Ayo, ikut aku!" kata Naruto sembari beranjak dari atas kursi. Ia mengambil tangan ayahnya untuk segera ikut dengan dirinya. "Permisi!" kata Naruto sebelum membawa Minato keluar restoran untuk berbicara secara empat mata.

.

.

Beberapa saat kemudian…

Setelah Naruto pergi dengan Minato…

Sasuke memandang kedua orang tuanya. "Ayah, ibu, kalian ini bagaimana, sih?" tanya Sasuke dengan nada sangat ketakutan. "Apa maksud dari bulan madu itu?" tanya Sasuke—sambil berbisik-bisik. Takut jika ada yang mendengar pembicaraanya karena jika dalam keadaan seperti ini tembok saja bisa menjadi kuping.

Mikoto memandang Fugaku sebelum kembali memandang Sasuke. "Ini semua ide ayahmu..," katanya, dengan nada sedih. Tidak tega pada nasib anak bungsunya.

Sasuke mengerutkan kening. "Ide? Ide apa?" tanyanya—mulai tidak enak perasaan. "Jawab, aku! Ide apa yang kalian susun tanpa sepengetahuanku?" tanyanya, ketika Fugaku hanya terlihat tenang. Berbeda dengan ibunya.

Fugaku menghela napas—berat. Ia memasang wajah stoic, walaupun hatinya merasa ragu untuk membicarakan ini pada Sasuke. "Sasuke, kau harus mendapatkan anak dari Kyuubi..," kata Fugaku, enak banget.

Bu—buat anak?!

"APA?!" teriak Sasuke—histeris. Benar-benar sudah tidak bisa berlagak cool layaknya seorang Uchiha. Persetan dengan Uchiha jika di dalam keadaan seperti ini. Masa depan Sasuke semakin suram saja. Dia hanya anak kuliahan yang disuruh nikah, dan itu sangat mengerikan.

Mikoto menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Ssstttt sayang, kecilkan suaramu..," kata Mikoto, mengingatkan Sasuke, jika sang istri masih ada di sekitar restoran ini.

Sasuke memandang ayah dan ibunya secara bergantian. "Ta—tapi apa maksudnya ini? Untuk apa membuat anak? Aku sudah mempunyai Sakura, ayah! Tidakkah ayah mengerti juga jika pernikahan ini sudah berat bagiku, dan sekarang aku harus mempunyai anak dari si—si Namikaze itu?!" kata Sasuke—histeris setengah mati jika sudah menyangkut urusan buat anak. "Itu adalah satu-satunya hal yang tidak akan aku lakukan, ayah!" kata Sasuke, menolak usul ayahnya mentah-mentah.

Mata Fugaku berkilat tajam—ambisius. Ia menatap Sasuke dengan tajam—menantang. "Ini adalah satu-satunya jalan. Jika Kyuubi menyukaimu, dan kalian mempunyai anak, maka disaat penyamaranmu terbongkar, Minato tidak bisa menolak keberadaanmu. Dia tidak akan mungkin macam-macam pada kita, jika kau berhasil 'memegang' kendali atas anaknya, Sasuke…," kata Fugaku—licik banget.

A—astaga!

Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya. Jadi, pikiran Fugaku sepicik ini? Laki-laki paruh baya ini berniat untuk membuat anak cewek dari keluarga Namikaze jatuh cinta pada dirinya, dan mempunyai anak dari anak cewek itu agar bisa menyelamatkan dirinya sendiri? Ya, Fugaku meminta Sasuke menghamili anak perempuan satu-satunya Minato agar Sasuke gampang membujuk Naruto, dan membuat kesepakatan damai lebih lancar, ketika masalah ini semakin rumit dan besar.

Licik sekali!

Mengatas namakan cinta, anak, dan pernikahan hanya untuk tujuan nama baik?

Batin Sasuke—ngeri.

"Aku tetap tidak mau..," jawab Sasuke—tegas. Tetap mempertahankan egonya.

"Kau harus mau atau ancamanku tentang kekasih dan teman-temanmu masih berlanjut..," kata Fugaku, tidak takut pada tatapan maut Sasuke.

Mendengar nama teman-temannya, dan Sakura kembali disebut-sebut, Sasuke hanya bisa membuka-tutup mulutnya. Ia tidak bisa melakukan apapun. Dia kalah. Dia telah didominasi oleh ayahnya sendiri. Tetapi, Sasuke tidak akan menyerah. Dia harus mencari jalan keluar dari semua masalah yang dialaminya ini. Dia harus mencari kakaknya, dan meluruskan semua ini, atau… apa lagi yang harus dia lakukan?

Aku benar-benar terjebak..

Batin Sasuke—miris.

Tazmaniadevil

"Kau tahu aku laki-laki, tetapi kenapa kau masih menyetujui acara bulan madu itu?" teriak Naruto—histeris. "Kau tahu, jika aku ketahuan, maka kau sendiri yang akan terlibat masalah..," Naruto memijat-mijat pelipisnya. Langkah kakinya terus bolak-balik, berpikir keras.

Minato benar-benar buntu dan kehabisan ide untuk kali ini. Dia tidak mungkin menolak keinginan Mikoto dan Fugaku untuk mengadakan acara bulan madu bagi anak-anak mereka, bukan? Jika Minato menolak, maka akan menimbulkan kecurigaan dari dua pasang Uchiha tersebut. Haduh, ini benar-benar bermasalah. Minato pun kasihan pada Naruto, tetapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua sudah terlanjur berbuat kotor, jadi nanggung kalau setengah-setengah mainnya.

"Tidak ada cara lain lagi, Naruto…," kata Minato dengan suara sangat lemah. "Jika aku tidak menyetujuinya, maka itu akan menimbulkan kecurigaan..," Minato memandang Naruto dengan tatapan kasihan. "Ayah pun tidak ingin kau seperti ini…," bisik Minato—melas.

Naruto berjalan mondar-mandir lagi. Ini semua ulah Kyuubi. Jika orang itu tidak melarikan diri seenaknya, maka semua ini tidak akan terjadi. Sialan! Kenapa dia selalu melampiaskan kesialan pada Naruto? Pemuda yang sedang menyamar jadi cewek itu pun akan berteriak histeris, ketika kamar mandi umum yang sedang digunakannya berbicara bersama Minato terbuka.

Minato dan Naruto memandang ke arah pintu kamar mandi.

Seorang pria berjas dengan rambut hitam memandang Naruto dengan wajah terkejut. Ia langsung melihat ke arah pintu, memastikan jika lambang WC yang digunakannya benar untuk pria. Setelah itu, dia memandang ke arah Naruto kembali. "Maaf, bukannya ini to—

"Masalah jika aku diam disini sebentar?" tanya Naruto sangat sinis pada orang yang baru saja masuk WC. Ia sedang kesal, dan tidak perlu orang lain menambah kesalnya.

Melihat Naruto yang begitu emosi, orang tersebut memutuskan untuk pergi daripada terkena masalah dengan cewek gila. Iapun menurutp pintu dengan cepat tanpa banyak basi—tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah orang asing tersebut pergi…

Minato memandang Naruto. "Jadi, kita harus bagaimana?" tanyanya, pada anaknya. "Apa kau mempunyai jalan keluar lain?" lanjutnya, dengan nada sedih—menyesal.

Naruto memandang ayahnya dengan cemas. Ia tidak mungkin mengaku pada Keluarga Uchiha, dan membiarkan ayahnya di penjara. Iapun tidak mempunyai ide bagus untuk membuat kecurigaan Keluarga Uchiha berkurang jika dia tidak berniat untuk pergi bulan madu. Jadi, harus bagaimana? Naruto hanya bisa mengikuti alur permainan ini dulu sampai dia mempunyai sebuah ide. Ya, dia harus mempunyai sebuah ide sebelum semua penyamarannya terbongkar, dan ayahnya di penjara karena kasus penipuan.

End Flashback

Naruto berjalan di belakang Sasuke. Mereka berjalan di atas kayu menuju ke bungalow (tempat menginap) ketika air laut tepat di bawah mereka. Ya, mereka tidak bertengkar karena sedang terhanyut dengan pikiran masing-masing. Terlebih Sasuke. Ia sangat frustasi dengan amanat yang diberikan oleh ayahnya pada dirinya. Sasuke terus melamun sampai pada saatnya dia melihat para manusia yang sedang sibuk melakukan acara pemotretan—tepat beberapa meter di depan Sasuke.

Sasuke memandang orang-orang yang sedang melakukan sesi pemotretan tersebut. Ia memandang orang-orang tersebut ketika matanya menangkap sosok bidikan para juru kamera tersebut. A—astaga! Mata Sasuke yang dibalut kaca mata terbelalak. Ia tidak mungkin salah lihat. Sasuke tidak mungkin salah mengenal sosok berambut merah muda, dengan pakaian bikini—sexy. Ya, Tuhan… kenapa Sakura ada di sini? Bagaimana bisa dia bisa satu pulau bersama Sakura? Sasuke tidak tahu nasib sialnya kenapa semakin hari semakin bertambah. Mana dia harus melewati Sakura jika mau ke bungalow-nya.

"Cepat jalannya, Teme!" seru Naruto—tidak sabaran. Ia kesal karena Sasuke hanya terdiam, membatu, memandangi gadis cantik yang sedang difoto oleh juru foto professional. Hohoho. Bentakan Naruto benar-benar seperti istri yang cemburu karena suaminya melirik orang lain saja.

Tidak membalas perkataan Naruto karena terlalu sibuk dengan rasa takutnya pada nasib sialnya, Sasuke pun mulai berjalan kembali. Ia akan melewati Sakura. Ia berdoa agar tidak diketahui oleh kekasihnya karena sedang berjalan berduaan bersama wanita dengan cara menyamar seperti ini. Ya, dengan cara wajah disembunyikan sedemikian rupa agar tidak terlihat oleh Sakura, Sasuke berjalan melewati Sakura. Dipalingkan, ditutupi, atau diapain, kek! Supaya Sakura nggak lihat. Sreeett! Sasuke melewati Sakura, dan disaat itupun Sasuke merasa jika Sakura yang sedang sibuk difoto sedikit memperhatikan dirinya karena mungkin… gerak-geriknya yang mencurigakan? Ya, Sakura memperhatikan dirinya, namun, tidak melakukan apapun. Hanya memperhatikan dirinya.

Tuhan, jangan sampai dia sadar!

Batin Sasuke—miris.

Naruto yang berjalan mengikuti Sasuke, melihat model yang sedang difoto oleh pada fotografer profesional. Wow, cantik sekali model ini. Selain itu, dengan balutan bikini two piece wanita tersebut benar-benar sexy. Naruto tersenyum tipis. Ia merasa tempat ini tidak buruk-buruk amat. Selain indah, rupanya banyak sekali gadis cantik. Terlebih model tersebut. Jarang sekali Naruto melihat wanita cantik alami seperti ini. Ya, walaupun posisi Naruto sebagai seorang istri, tetapi dia laki-laki straight, bukan?

Berbeda dengan Sasuke yang memilih untuk sembunyi-sembunyi, acara berburu pun akan segera Naruto mulai!

Model itu akan menjadi milikku~

Batin Naruto sambil bersiul—mulai menemui sesuatu yang menarik di tempat bulan madu ini. Tidak tahu, jika dia akan bersaing dengan suaminya sendiri.

.

Dasar gila!

Tazmaniadevil

Uchiha sulung berusaha menahan rasa sakit pada pipinya. Rupanya nasibnya benar-benar sial. Setelah, dia digigit, Kyuubi pun bangun dan menyadari posisinya yang tidak enak alias sedang meniban seorang laki-laki asing yang kurang ajar sekali berani 'dekat-dekat' dengan dirinya. Entah setan gila apa yang merasuki Kyuubi, gadis tersebut langsung menghantamkan pukulannya pada pipi Uchiha sulung walaupun bukan Itachi-lah yang salah, sehingga Itachi harus menerima rasa perih di wajahnya karena pukulan tersebut, ketika dia berteriak "MHMMMMMMMMMMMMMMMM!". Ya, ini benar-benar mimpi buruk. Itachi harus berurusan dengan wanita jadi-jadian.

PLAK!

Begitu bunyi tamparan Kyuubi, ketika mendapati dirinya dekat-dekat dengan Uchiha sulung. Sedangkan Uchiha sulung hanya bisa menjerit dalam kegiatan KDRT ini.

Kehidupan nista Itachi belum berakhir sampai disitu. Dia tiba-tiba menjadi pesuruh Kyuubi. Setelah tali yang mengikat tubuhnya dibuka, pemuda Uchiha tersebut harus membereskan kamar Kyuubi seberes-beresnya, dan membelikan makanan untuk sang Uchiha. Ya, Itachi terpaksa membelikan makanan untuk Kyuubi, walaupun dia tidak mengerti kenapa dia malah balik lagi ke tempat Kyuubi, padahal, itu adalah kesempatan dirinya untuk lari? Ha—ah, Itachi tidak mempunyai tempat yang dituju, jadi dia mau-mau saja disuruh Kyuubi sampai mempunyai tujuan. Tetapi, kenapa mesti ke tempat Kyuubi coba?

Krieeetttt…

Itachi membuka pintu sembari membawa sekresek makanan.

"Permisi..," kata Itachi—sopan banget. Bersikap sangat formal, walaupun yang ngontrak di dalam sini sangat cuek—nggak pedulian.

Dengan perlahan Itachi masuk ke dalam kontrakan Kyuubi yang cukup mewah (terdapat fasilitas tempat tidur, kamar mandi, ruang tamu dan dapur, tetapi Kyuubi sangat malas memasak). Ia berjalan menuju ke dalam kontrakan—mencari sang gadis. Dimana orang itu? Kok, tidak ada? Itachi mengedipkan kedua matanya. Ia melihat ke sepenjuru ruangan, ketika dari arah pintu kamar mandi terdengar suara. Alhasil, mata Itachi pun teralihkan pada suara tersebut sebelum matanya membulat—tertegun.

Ya, Itachi tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok Kyuubi yang baru saja selesai mandi, dan hanya memakai kemeja putih kebesaran—sedikit tipis, ketika celana sangat pendek tertutupi kemeja tersebut. Kyuubi terlihat sangat cuek disaat dia berusaha mengeringkan rambut merahnya yang pendek memakai handuk.

Deg!

Ca—cantik sekali…

Batin Itachi tanpa baru pertama kali melihat gadis secantik ini. Uchiha sulung sungguh terpesona, ketika tanpa sadar dia menelan air liurnya sendiri—menahan debaran jantungnya. Ia masuk ke dalam pesona wanita di depannya, dan wanita cantik di depannya pun memandangnya dengan tajam, ketika dia berhenti mengeringkan rambutnya.

"Apa lihat-lihat, mau aku colok matamu?!" tanya Kyuubi dengan nada kejam, ketika senyuman setan tersirat di wajahnya—siap memberi pelajaran kembali pada Itachi.

Itachi menelan ludahnya—mengerikan.

Aku memang tidak pernah suka seorang wanita..

Karena mereka sangat mengerikaaaaannnn!

Bersambung…


Suka, tidak suka? Silahkan review!

Hahaha... akhirnya dilanjutin juga ma Taz. Tapi fic ini memang moody dibuatnya, so agak lama prosesnya. Lagian nggak nyangka juga bakal di apdet ma si Saba ==a Tapi ya udahlah. Udah terlanjur. Terpaksa dilanjut walau jelek sekalipun. Hehehe.