Jika saja Tuhan mengijinkanku dilahirkan kembali...
Aku ingin terlahir lebih awal darinya, dan menjadi seorang dewasa seperti dirinya..
Tapi, semua telah diatur oleh Tuhan dengan sedemikian rupa.
Bahwa aku jauh lebih muda darinya...
"Saranghae..." aku segera memejamkan mataku rapat-rapat setelah mengatakan kata-kata keramat yang selama ini ku pendam dalam hatiku-kepada seorang namja yang tak lain adalah seorang songsaenim disekolahku.
Ya, aku menyukai songsaenim ku sendiri.. Dan dia adalah seorang namja berusia 30tahun. Lalu aku? Aku duduk dikelas 1 di senior high school, dan kalian pasti bisa menebak brapa usiaku sekarang ini-dan aku juga seorang namja. Tidak ada masalahkan?
Tidak ada jawaban. Saat ini aku dan dia sedang berada diruang UKS- ruang kerja Songsaenim yang memang bekerja sebagai guru kesehatan disekolahku ini. Benar-benar tidak ada jawaban darinya, entah mengapa dadaku mulai merasa sangat sesak...
Dia menolakku kah? Tebakanku selama ini benarkan? Aku pasti akan ditolak olehnya. Bodoh sekali kau Lee Hyukjae! Kau bodoh jika kau sudah menduga jawaban darinya, kenapa kau masih berani mengatakan perasaanmu padanya?!
Perlahan ku buka mataku yang sejak tadi ku pejam. Tanpa bisa ku tahan lagi, setetes airmata keluar dari mataku dan membasahi pipiku. Dapat ku lihat dengan jelas sosok dirinya yang sedang terduduk di singgah sananya, tanpa menoleh sedikitpun kearahku.
Aigo, appo...
Dadaku sakit, nafasku benar-benar terasa sangat sesak. Bahkan dia tidak mau menatapku.
Segera ku sunggingkan bibirku, dan terciptalah sebuah senyuman manis kearahnya-meski dengan senyum yang jelas-jelas aku paksakan.
"Mi... Mian... Mianhae so- songsaenim... Mian telah me... Hiks.. Mengatakan hal yang tidak seharusnya kau dengar... Mi, mianhae atas kelancanganku karena telah merusak jam istirahatmu... Hiks, aduh ingusku... Mi, mian aku pe-permisi!" ucapku lirih. Sial! seberusaha apapun aku agar tidak terisak, tetap saja isakan tangisku lolos dari bibirku.
Ah, kenapa dia tidak juga merespon? Kenapa aku jadi seperti tidak ada diruangan ini? Ku gigit bibir bawahku agar tidak ada isakan lagi yang akan lolos dari mulutku.
Segera ku balikan tubuhku, dan berjalan menuju pintu keluar ruang UKS.
Ku raih kenop pintu UKS, kemudian membukanya perlahan-lahan. Akan tetapi sebuah tangan yang cukup besar bagiku, segera menutup kembali pintu UKS dari arah belakangku.
"Cklik"
"Kajima." suara bass itu berada tepat ditelingaku, membuat sekujur tubuhku menegang. Wae? Kenapa ia melarangku pergi?
"Murid nakal, aku belum menyuruhmu untuk pergi.. Tapi kenapa kau malah ingin pergi?" hembusan nafas songsaenim benar-benar dapat aku rasakan diceluk leherku. Entah sadar tidak sadar, aku malah mendongakan kepalaku dan dapat kurasakan ia mulai mengecup leherku lembut.
"Ahh.. So-songsaenim..." lenguh ku tertahan. Fikiranku mulai kacau. Apa yang sedang ia lakukan? Kenapa dia malah melakukan ini?
"Kau..hmm... Apa kau tahu perbedaan usia kita?" tanyanya disela-sela aktivitasnya mengecup leher jenjangku. Aku benar-benar kehilangan tenaga dan akal sehatku, dia benar-benar mempermainkan perasaanku. Apa yang ia lakukan? Apa ia sedang main-main denganku? Bukankah sejak tadi dia diam saja? Dan itu jawabannya kalau dia tidak menyukaikukan? Tapi kenapa dia malah membuatku merasakan sensasi yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya?
"14tahun" lanjutnya lagi, bersamaan dengan ia menjauhkan wajahnya dari leherku. Tanpa ku sadari, sebuah tangan menyentuh lenganku dan kemudian membalikan tubuhku kehadapan dirinya. Perlahan ku tatap wajahnya dengan mataku yang masih dipenuhi dengan airmata.
"14tahun jarak usia kita Hyukie..." ucapnya lembut, seraya menusap pipiku dengan tangan hangatnya. Dapat kulihat sorot matanya yang menatapku dengan tatapan teduhnya.
Jantungku bergemuruh riuh ketika melihat sorot lembut matanya kearahku, dan perlakuanya ketika mengusap pipiku.
Apa aku bisa kembali berharap? Kalau pernyataan cintaku akan dibalas olehnya?
"Mianhae... Aku... Tidak bisa Hyukie..."
Deg!
Mwo?
"Kita ini terlalu berbeda.. Kau dan aku adalah seorang guru dan murid... Aku jauh lebih tua darimu...
Aku hanya tidak ingin melukaimu..." ucapnya lagi. Kali ini nada suaranya terdengar sangat lirih. Dapat kurasakan ibu jarinya mengusap bibirku lembut.
Jadi... Apa maksudnya? Jadi, aku di tolak olehnya? Ta, tapi apa yang ia lakukan? Perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya kewajahku. dan tanpa meminta ijinku, ia segera memagut bibirku kedalam bibir lembutnya.
Apa? Kenapa? Kenapa? Apa yang sebenarnya ia lakukan dan yang ia fikirkan sih? Bukankah dia menolakku? Aku dengar sendiri kalau dia telah menolakku? Tapi kenapa ia malah menciumku? Dan kenapa aku tidak melakukan perlawanan? Hyukjae kau sangat bodoh!
Segera ku dorong tubuh tegapnya agar menjauh dariku. Dapat ku rasakan kembali airmata mulai membasahi pipiku.
Setelah ia sudah tidak berada didekatku lagi, aku mengusap bibirku dengan kasar dan menatapnya tajam.
"Kau.. "
Bodoh...
Dasar namja bodoh! Kau sangat bodoh! Bodoh! LEE DONGHAE SONGSAENIM, KAU ADALAH NAMJA TERBODOH DIDUNIA!
"Kau... Apa.. Apa yang telah KAU LAKUKAN KEPADAKU?!" Teriakku kesal.
Kuremas kemeja dibagian dada kiriku erat.
Sakit... Rasanya sakit sekali dibagian sini.
Kenapa kau menciumku? Apakah kau sedang mempermainkan aku? Kau bilang kau tidak bisa, karena kau tak ingin menyakitiku! Tapi kenapa kau malah membuat dadaku terasa sangat sakit?
"Kenapa menciumku? Bukankah songsaenim telah me.. Menolakku?" tanyaku lagi dengan suara gemetar. Airmata terus mengalir membasahi pipiku. Berhentilah menangis Hyukjae! Jangan menunjukan kelemahanmu dihadapan namja sialan ini.
Dia mengalihkan pandangannya kearah lain-menghindari kontak matanya dari mataku. Kenapa tidak menjawab? Kau punya mulutkan? Kenapa hanya diam saja?
"So.. Songsaenim-... Kenapa? Ka-kau telah menolakku kan? Lantas... Ke, kenapa kau malah menciumku? Ka.. Kau tahu, ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan sebuah kalimat penolakan dari mulutmu... Appo... A, appo songsaenim.. Hiks.. Disini sangat sakit..." ucapku lirih, seraya memukul-mukuli dada kiriku yang terasa sangat sakit atas perlakuan lembutnya terhadapku tadi. Ku pejamkan mataku dan membiarkan tangisanku pecah-memecahkan keheningan yang terjadi di ruang UKS ini.
"Mianhae.." dan hanya kata-kata itulah yang keluar dari dalam mulutnya. Hanya sebuah kata-kata kosong yang dapat menghancurkan seluruh bagian dari dalam hatiku. Benar-benar menyakitkan.
Setelah apa yang telah ia perbuat padaku, sekarang hanya kata-kata itu kah yang ia lontarkan dari dalam mulutnya?
Ah, aku sudah tidak tahan lagi berada di tempat ini terus.
Dengan kasar kuhapus airmataku menggunakan lengan baju blazer sekolahku, lalu mendongakkan wajahku agar menatap wajah namja dihadapanku ini. Ku untuk berusaha menunjukan senyumku untuk dirinya, namun tidak bisa.. Berkali-kali aku coba untuk tersenyum kepadanya, tapi nyatanya tidak bisa. Justru airmataku yang kembali mengalir membasahi pipiku..
"Se.. Sepertinya aku sudah tidak ada a.. Alasan lain untuk berada di sini... Sebaiknya aku harus kembali kekelas! Pe, permisi!" segera ku bungkukan tubuhku, lalu berbalik dan kemudian membuka pintu ruang UKS. Kali ini dapat ku rasakan ia tidak menghalangi kepergianku lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, segera aku berlari dari tempat itu. Meninggalkan namja tua itu diruang kerjanya.
Kau.. Brengsek songsaenim...
Kau benar-benar membuatku semakin hancur berkeping-keping...
Sentuhan lembut bibirmu, kecupan lembut dari bibirmu..
Sudah membuat hatiku hancur berantakan...
Kau telah mempermainkan aku... Menolakku dan kemudian malah menciumku sebegitu lembutnya dibibirku...
Berlari dan terus berlari, hingga langkahku terhenti akibat kakiku yang mulai terasa lelah...
Berantakan, yah.. Itulah kondisi tubuhku saat ini.. Sangat berantakan. Tapi aku sudah tidak peduli lagi dengan keadaanku sekarang ini.
"Sial... Kenapa tidak bisa hilang juga sentuhan bibirnya dibibirku?! Sadarlah Hyukjae! Dia itu sudah mempermainkanmu!tapi kenapa? Hiks, kenapa aku tidak bisa membencinya?!" gumamku pilu.
Songsaenim... Sa, saranghae...
"Surat undangan pernikahanmu sudah jadi hyung.." ucap seorang namja manis, ketika ia memasuki ruang UKS. Namun yang namja manis itu dapati adalah seorang namja tampan yang ia sebut dengan 'hyung' itu sedang terbaring diatas ranjang-dengan tatapan kosong menatap langit-langit ruang UKS. Benar-benar sangat kosong.
Merasa jengah karena tidak ditanggapi. Ryeowook-namja manis itu, segera mendekati sosok hyungnya yang sedang merebahkan dirinya diranjang UKS. Benar-benar seperti sesosok raga tanpa jiwa, hyungnya sama sekali tidak mengedipkan matanya yang sedang asik memandangi langit-langit ruang UKS. Sepertinya ada hal yang mengganggu fikiran hyungnya.
"Hyung kau kenapa?" tanya Ryeowook cemas. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir namja tampan itu.
Ryeowook hanya bisa menghela nafas berat, dan ia tahu apa yang sedang hyungnya fikirkan saat ini..
"Pernikahanmu masih 2 minggu lagi, fikirkan baik-baik sebelum semuanya akan menjadi sebuah penyesalan bagimu hyung!" ucap Ryeowook sebelum ia berbalik dan meninggalkan ruang UKS.
Hening..
Hanya ada keheningan diruangan ini..
Hanya ada seorang namja bodoh disini, masih terbaring menatap langit-langit ruang UKS.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang aku bertemu denganmu?..."
Helaan nafas berat keluar begitu saja, sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
"Kalau saja aku lebih awal mengenalmu...
Mungkin saat ini aku sedang mencumbuimu, dan membalas pernyataan cintamu kepadaku tadi..."
Perlahan ia memejamkan matanya, dan menutupi kedua matanya dengan lengan kekarnya.
"Tapi nyatanya dialah yang aku temui sejak awal, dan sekarang aku sudah memilikinya, seorang namja baik hati yang akan menjadi istriku kelak.. Aku mencintainya...
Namun, kau dengan sangat hebatnya datang ke dalam hidupku dan mampu memudarkan perasaan cintaku terhadap calon istriku itu..
Hyukie."
tbc or end?
anyeongggg haseyoo saya adalah author baru disini, biasanya saya adalah readers disini~ tapi kali ini saya mencoba untuk mempublish ff saya... saya buat ini awalnya di facebook saya dan ini ff yaoi pertama sayaaa jadi mohon bantuannyaaa yaa
jangan lupa di ripiuw(?) yaa gomawooo
