Kyuhyun Pov
.
.
.
Aku memeluknya erat..
Sangat erat, seakan benar-benar merasa kalau dia akan menghilang dari dekapanku...
Hyukjae...
Bocah kecilku yang polos, bocah kecilku yang pabo...
Kenakalanmu dan juga tingkahmu yang hyperaktif, tawamu, senyummu, airmatamu..
Lalu bibir manismu...
membuatku semakin yakin, bahwa aku sangat mencintaimu..
Ya, aku mencintai seorang bocah kecil yang 10tahun lebih muda dariku..
Lee Hyukjae, namja berusia 16tahun.. Namja kecil nan manis yang telah menyita perhatianku selama 5 tahun terakhir..
Ya, benar... Aku mencintai pasienku sendiri... Seorang uisa yang mencintai pasiennya sendiri- Lee Hyukjae.
"Jangan katakan itu lagi ne? Aku mohon, jebal... Jangan lagi... Aku janji, aku berjanji akan menyembuhkanmu... Saranghae, saranghae chagi... " ucapku lirih. Aku mengucapkannya lagi. Aku mengatakan kata-kata cinta itu lagi, tapi aku yakin... Hyukjae hanya mengartikan kata-kata itu sebagai ucapan cinta biasa, karena dia menganggapku hanya sebatas hyung... Tidak lebih..
Tapi, apakah dia menyadarinya? Saat tadi aku mencium bibir manisnya? Apakah kau bisa menyadarinya? Ada perasaan cinta yang aku salurkan melalu kecupan bibirku untuk diri Hyukkie...
Tiba-tiba, aku merasa tangannya mulai mencengkram jas bagian punggungku... Dan juga isakan yang mulai terdengar tepat ditelinga kananku...
"Hiks, otteoke? Otteokeyo hyung? Hiks, hiks... Aku takut... A, aku sangat takut... Da.. Darah yang keluar da-dari mulutku semakin banyak hyung... Tubuhku terasa sangat hiks sakit hyung... Sakit... Sakit... Aku takut..." ia menangis, kali ini terasa sangat menyakitkan. Aku tahu, ini pasti sangat sakit... Aku tahu kau sangat tersiksa... Aku tahu...
Hyukjae... Seandainya saja 'mahluk gila' itu masih hidup, mungkin aku sudah membunuhnya... Aku akan membunuhnya, hingga wajahnya dan tubuhnya tidak berbentuk lagi.!
Gara-gara 'mahluk' biadab itu.. Kau harus mengalami penyakit yang tidak jelas ini..
Sial! Aku bahkan ingin sekali menghancurkan makam nista orang itu!
Ah, Tuhan... Aku berjanji, aku berjanji akan menemukan penawarnya... Aku berjanji akan menyembuhkannya! Apapun caranya! Akan ku lakukan apapun itu, asalkan Hyukie bisa terlepas dari racun mematikan itu...
.
.
Kyu pov end
***
"Chagi, apa kau dengar? Ya! LEE DONGHAE!" bentak seorang namja aegyeo kepada seorang namja tampan, yang sejak tadi hanya melamun dengan tatapan kosong.
"Hah? Ne Sungmin chagi? Kau kenapa berteriak begitu eoh?" tanya namja-Donghae yang tersadar dari lamunannya. Ternyata dia tidak menghiraukan ucapan calon 'istrinya' sejak tadi.
Sungmin berdecak kesal, melihat kelakuan Donghae yang akhir-akhir ini mulai berbeda. Ia pun menghela nafas berat, lalu mulai membuka suaranya lagi..
"Aku sudah mendapatkan pendonor, dan akan dioperasi seminggu sebelum pernikahan kita. Jadi.. Sepertinya pernikahan kita harus di undur dulu, bagaimana? Kau tidak apakan kalau jadwalnya di undur? Lagipula itu saran dari uisanim, agar aku bisa beristirahat pasca operasi jantung... Otteoke?" terang Sungmin panjang lebar. Akan tetapi yang ditanya, hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Sungmin tampak semakin kesal, ia benar-benar tidak mengenal Donghae lagi. Biasanya Donghae tidak pernah mengacuhkannya seperti ini.
Ia mulai merasa curiga dengan perasaan Donghae terhadap dirinya. Tanpa pikir panjang lagi, Sungmin segera menarik kerah kemeja putih milik Donghae. Lalu mendekatkan wajahnya ke arah Donghae.
Sontak Donghae terkejut, lalu iris hazelnya menatap tepat kedalam iris kelam milik Sungmin..
"Donghae... Apa kau... Mencintaiku?" tanya Sungmin hampir seperti berbisik, membuat Donghae membulatkan matanya. Lama mereka saling menatap, akhirnya Donghae menunjukan senyum khas miliknya kepada calon istrinya.
"Tentu, aku mencintaimu Lee Sungmin.." jawab Donghae lembut. Sungmin terdiam, dan ia hanya terus menatap mata Donghae. Mencari kebenaran dari mata itu.
Seutas senyum, terpampang jelas dari bibir Sungmin...
"Kau... Bohong Donghae..." kemudian ia segera melumat bibir Donghae dengan tiba-tiba. Donghae yang kaget, hanya mampu membelalakan matanya. Tak lama, Sungmin menjauhkan wajahnya dari wajah Donghae..
"Kau berbohong... Aku tidak bodoh, maka kau tidak perlu membodohiku dengan berbohong seperti itu.. Uisanim...ah, Donghae-ssi! Hah, sebaiknya aku kembali kerumah sakit.. Ada hal yang harus ku bicarakan mengenai pembatalan operasi itu, dan mempercepat pernikahanku dengan dirimu.. Lee Donghae..." Sungmin tersenyum miris. Dan tanpa pikir panjang lagi, ia segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Tanpa ia sadari, airmata telah menetes membasahi pipi seorang Lee Donghae. Ia meremas surai coklatnya, lalu sikutnya ia sandarkan di pahanya.
*"Hyukjae sedang sakit parah songsaenim... Kami tidak tahu pasti apa penyakitnya.. Tapi aku merasa hidupnya sudah tidak lama lagi... Hiks, kau tahu Songsaenim? Kau harusnya melihatnya yang merintih kesakitan..hiks. Si, Siwon sudah berniat memanggilmu.. Tapi dia melarangnya. Dia kesakitan.."*
"Hyukie~ wae? Waeyo? Aku.."
.
.
.
.
6 months ago
.
.
.
Donghae Pov
"Donghae songsaenim! Ada siswa yang pingsan!" pekik seorang siswa seraya mendobrak pintu ruang UKS dengan keras. Ku letakkan buku keatas meja kerjaku, yang sejak tadi ku baca.
"Bawa dia kemari!" ucapku seraya beranjak dari tempat dudukku. Siswa bertubuh atletis itu mengangguk, lalu segera keluar dari ruang UKS.
"Hyukjae~ ireona! Hyukjae!" siswa bertubuh atletis itupun kembali dengan menggendong seorang siswa. Dan seorang siswa lagi yang berada diblakang namja bertubuh atletis itu, menangis dan memanggil nama temannya yang terkulai lemah didalam gendongan namja atletis itu.
"Baringkan tubuhnya diatas ranjang, aku akan mengambil perlengkapanku dulu." ucapku tenang. Namja itu mengangguk, lalu segera membaringkan tubuh namja yang jauh lebih kecil darinya.
"Hyukie~" ucap lirih siswa manis yang terus menangis itu. Ku raih perlengkapan yang berada diatas mejaku, lalu berjalan menghampiri siswa yang sudah terbaring diatas ranjang.
"Tidak apa-apa, dia hanya kelelahan saja... Bukankah hari ini upacara ajaran pertama bagi siswa siswi angkatan baru? Tenang saja, dia pasti hanya kelelahan mendengar pidato yang lebih seperti ceramah dari kepala sekolah kalian yang cerewet itu.." ku sunggingkan senyumku, seraya menenangkan siswa yang menangis itu dengan menepuk bahunya. Siswa itu menggigit bibir bawahnya, ia menatapku dengan mata yang masih mengeluarkan airmata.
"Dia... Tidak baik-baik saja songsaenim.. Dia bukan kelelahan.. Ta, tapi.."
"Berhenti berkata yang tidak-tidak Kim Kibum! Jangan bicara hal yang tidak penting untuk orang lain!" belum sempat namja manis itu menyelesaikan kata-katanya, namja bertubuh atletis itu memotongnya dengan mengucapkan kata-kata yang terdengar tegas dan keras. Tatapan tajamnya perlahan menjadi melembut, ketika melihat namja manis disampingnya kembali menangis. Ia pun memeluk namja itu, lalu menatapku dengan tatapan cemas.
"Tolong songsaenim, jaga temanku... Aku akan menenangkan dia dulu.." ujar namja bertubuh atletis itu. Aku tersenyum, lalu menepuk pundaknya.
"Baiklah, tenangkan dia dulu.. Aku akan menjaga temanmu..." namja itu membalas senyumanku. Lalu segera beranjak meninggalkan ruang UKS.
Aku menghela nafas, kemudian menghampiri siswa yang terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang.
Wajahnya tampak pucat, dan peluh membasahi dahinya.
Apa dia demam?
Tapi lihat...
Bulu matanya sangat lentik, bahkan garis hidungnya sangat sempurna, dan juga bibir plum itu...
Benar-benar cantik...
Omo! Apa yang ku pikirkan?! Aish, berhenti mengagumi wajah muridmu sendiri! Kau juga sudah memiliki Sungmin, Lee Donghae! Aigo, kenapa aku malah memperhatikan wajahnya? Aaahh! Kau pasti sudah gila!
"Hiks~ jangan appa~ umma, umma kajima~... Jangan.. Hiks.. Ja, jangan appa.. A,aku tidak mau! APPA JANGAANNN!" aku terkejut, ketika tiba-tiba siswa yang terbaring lemah itu bangkit dari tidurnya dan terduduk diatas ranjang, dengan airmata yang mengalir membasahi pipinya. Ekspresi wajahnya sangat ketakutan, entah apa yang ia igaukan. Aku tidak tahu, tapi yang membuatku kaget adalah...
Ia menoleh menatapku dengan mata bulat yang masih meneteskan airmata. Benar-benar sangat cantik...
"Eh? Hiks, apa aku sudah di surga? Kenapa ada malaikat disini?" tanyanya dengan polosnya kearahku. Aku tercengang mendengar pertanyaanya. Ia perlahan mengusap airmata yang membasahi pipinya, tapi semua sia-sia. Airmata yang bagaikan permata itu, kembali mengalir menggenangi pelupuk matanya.
"Apa.. Kau malaikat? Siapa namamu?" tanya lagi kepadaku, seraya mengedipkan matanya beberapa kali. Dan sungguh, airmata itu... Benar-benar membuat perasaanku bergejolak untuk menghapusnya dari wajah cantik namja mungil ini. Perlahan aku mengarahkan telapak tanganku untuk menyentuh pipinya, dan menghapus airmatanya dengan jari jemariku.
Aku tersenyum lembut kearahnya, dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Aku bukan malaikat... Dan kau tidak di surga, tapi diruang UKS... Lalu aku... Lee Donghae... Guru kesehatan di sekolah ini.." jawabku singkat. Ia menerjap-nerjapkan matanya dengan imut, membuat jantungku semakin berdebar.
Kenapa bisa?
"Aku kira aku sudah ada di surga bersama umma... Dan kau malaikatnya... Tapi ternyata bukan... Mianhae..." sahutnya dengan seutas senyuman manis yang terpancar diwajahnya. Aku tercengang, dan darahku mulai berdesir melihat senyumnya yang benar-benar menambah kadar kemanisan diwajah cantiknya. Omo! Lama-lama aku bisa terkena diabetes kalau terus melihatnya seperti ini.
"Aaaah! Kenapa aku bisa berada di ruang UKS? Bukankah tadi aku sedang mengikuti upacara pembukaan semester baru?" Ia meraih tanganku yang sejak tadi bertengger diwajah halusnya. Lalu menjauhkan tanganku dari pipinya.
"Kau pingsan.. Temanmu tadi membawamu kemari.. Dan sekarang ia sedang menenangkan temanmu yang satunya lagi. Ia terus memanggil namamu dan menangis melihatmu pingsan." jelasku panjang lebar. Ia terdiam, dan kini tidak ada lagi senyuman lembut dari wajahnya.
"Jinjja? Dasar bodoh.."
"Dia memang bodoh! Padahal dulu ia tidak secengeng itu! Haha.. Hiks" Mataku terbelalak saat melihatnya tertawa, lalu kembali meneteskan airmata. Aku melihatnya semakin terisak. Ia mencengkram seprai pada ranjang UKS, dan memejamkan matanya.
"Hiks, aku menyuruhnya untuk tidak menangis.. Hiks, hiks.. Ta, tapi kenapa dia malah menangis? Da, dasar hiks.. Bummie pabo! Hiks, hiks, hiks.. Mianhae, mianhae Bummie, seharusnya... Aku..." tanpa pikir panjang lagi, aku segera meraih pundaknya dan kemudian membawanya kedalam pelukanku. Tidak bisa, aku tidak bisa melihatnya menangis sampai seperti ini. Bahkan aku tidak mengerti, kenapa dadaku terasa sakit ketika melihatnya terisak seperti ini.
"Ssstt.. Uljima ne? Jangan buang airmatamu.. Aku tidak suka melihatmu menangis... Sudah ya? Jangan menangis lagi.." ku dekap tubuhnya dengan erat. Dapat kurasakan ia mulai melingkarkan lengannya kepinggangku, dan menangis semakin keras didalam dadaku.
Kenapa dengannya? Kenapa dengan diriku? Ada apa dengan detak jantungku ini? Kenapa tidak mau berhenti berdebar-debar? Apa jangan-jangan... Andwae! Donghae, andwaeyo! Kau punya Sungmin!
Beberapa menit berlalu, dan sepertinya ia sudah mulai merasa tenang. Perlahan ia mulai mendorong tubuhku, ku longgarkan pelukanku pada tubuh kurusnya.
"Ma.. Maaf... Aku tidak bermaksud untuk membasahi kemeja songsaenim.." katanya dengan suara parau. Ia mendongakan wajahnya kearahku, lalu kembali tersenyum simpul.
Aku terdiam.
Kau sangat mengagumkan... Aku tidak bisa habis pikir, ternyata dia masih bisa tersenyum semanis ini... Kau sangat cantik...
"Siapa? Siapa namamu?"tanyaku padanya.
"Hyukjae.. Lee Hyukjae..." jawabnya singkat.
Lee Hyukjae... Nama yang indah, untuk namja sepertimu..
Benar-benar telah menggoyahkan hatiku...
.
.
.
.
Ku peluk erat kemeja dan juga blazer miliknya yang benar-benar telah dipenuhi oleh darahnya yang sudah mengering. Mengecupnya beberapa kali, seakan sedang mengecup pucuk kepala Hyukjae dengan lembut.
Pertemuan pertama saat melihat dirimu dalam keadaan rapuh dan tak berdaya, kembali teringat dalam benakku.
"Hyukie~ mianhae, mianhae, mianhae.. Aku benar-benar baru menyadarinya... Kau lemah... Kau sangat lemah... Dan aku telah melukai perasaanmu... Mianhae, aku... Aku... Aku mohon jangan pergi dariku... A, aku juga mencintaimu... Aku mencintaimu Hyukie... Hyukie... Jebal..." aku menangis, meraung-raung tanpa peduli harga diriku sebagai seorang namja.
Dia kesakitan...
Dan aku malah menggoreskan luka di hatinya...
Aku memang namja yang bodoh... Aku memang bodoh.. Kenapa kau bisa menyukai namja bodoh sepertiku Hyukie? Wae? Apa kau sangat bodoh? Sampai bisa mecintai namja bodoh ini?
"Hyukie"
.
.
.
.
.
.
Hujan semakin deras membasahi permukaan bumi..
Membuat butiran permata-permata indah dipermukaan jendela dan juga dedaunan..
Embun semakin tebal, menghiasi suasana sendu di pagi ini... Ah, aku memang tidak pandai menggambarkan sesuatu..
"Sudah bangun? Apa kau mau pergi ke sekolah? Di luar hujan sangat deras, apa sebaiknya kau tidak usah sekolah saja hm?" aku menoleh menatap sesosok namja tampan yang baru saja memasuki kamarku. Aku tersenyum simpul kearahnya.
"Aku akan tetap kesekolah, aku harus mengembalikan pakaian Kibum.. Dan mengambil seragamku darinya.." sahutku seraya berjalan mendekatinya.
"Hah, kau sudah minum obatnya hm?" tanyanya. Ku anggukan kepalaku semangat, lalu segera ku peluk lengannya dan mulai menyeretnya keluar dari kamarku.
"Sudah, jangan bicara apa-apa lagi.. Sebaiknya kau segera kerumah sakit untuk bekerja! Dan tak perlu mengantarku ke sekolah, aku bisa berangkat dengan menaiki bus! Sudah jangan berkomentar!" ucapku tanpa menjeda kata-kataku, ia pun mendengus pasrah. Lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
"Baiklah, terserah tuan putri saja.. Tapi kalau ada apa-apa hubungi hyung ne?! Hyung sebisa mungkin akan datang untuk dirimu!" sahutnya. Akupun mengangguk, lalu tanpa meminta persetujuannya aku segera mengecup pipinya. Ia mematung menerima kecupan dariku.
"Aku pergi hyung!" ku lambaikan tanganku kearahnya, dan sepertinya ia mulai sadar dari keterkejutannya. Kemudian membalas lambaian tangan dariku. Aku segera berlari keluar rumah, dan membentangkan payung biru milikku-guna untuk melindungiku dari derasnya air hujan.
Mianhae hyung... Karena telah merepotkanmu selama ini, tapi aku janji ini tidak akan bertahan lama...
.
.
.
***
.
.
Setibanya disekolah, aku segera beranjak menuju kelasku.
"Jinjja? Donghae songsaenim akan segera menikah?" sontak langkahku terhenti ketika melewati dua yeoja yang sedang mengobrol serius didekat perpustakaan sekolah.
"Benarkah? Ku dengar 2minggu lagi dia akan menikah dengan seorang namja juga."
kakiku terasa mati rasa, aku tidak salah dengarkan? Dia..
Tiba-tiba seseorang meraih tanganku, dan kemudian menyeretku menjauh dari dua yeoja itu.
Tanpa bisa ku tahan lagi, airmata kini mulai membasahi pipiku.
"Jangan dengarkan apapun..." ku dongakan wajahku menatap namja yang tadi menyeretku pergi.
.
.
.
Tbc
NEXT
