Eunhyuk pov

.

.

.

Menikah?
Benarkah kau akan menikah?

Lalu, kenapa aku harus menangis?

Harusnya aku turut bahagia, karena kau akan hidup bahagia dengan seseorang yang istimewa untukmu..

kau akan terikat lebih dalam lagi dengan seseorang yang kau cintai dan pantas untukmu, mengiklarkan janji suci dan akan memulai kehidupan yang baru, bersama dengan seseorang yang kau pilih sebagai pasangan hidupmu selamanya.

Tapi kenapa aku malah menitihkan airmata?

Ya... Itu benar...

Karena aku mencintaimu..
Aku mencintaimu, songsaenim!

Aku sangat mencintaimu, sampai ingin mati rasanya! Tapi kenapa aku tidak bisa memilikimu?

Songsaenim, tidak bisakah aku memilikimu di sisa hidupku yang singkat ini?

Tidak bisakah? Diakhir hidupku ini, aku bahagia?

Tap..

Aku tersadar dari keterpurukanku, ketika seorang namja yang sejak tadi menyeretku pergi-menghentikan langkah kakinya. Ku rasakan tangannya semakin erat menggenggam tanganku.

Aku tahu siapa dirimu, tapi aku tidak bisa berkata-kata lagi.. Lidahku terasa kelu, karena berusaha untuk menahan isakanku agar tidak terdengar olehmu..

Aku sudah mencoba untuk mencegah airmataku untuk tidak mengalir terus-menerus, namun hasilnya nihil.. Airmata ini tetap mengalir deras membasahi seluruh pipiku.

Dia hanya diam, dan terus membelakangiku, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku..

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menghempaskan tangannya agar melepaskan tanganku dari genggamannya-dan itu berhasil. Namun tak berseling lama, ia menoleh dan kembali meraih tanganku.

Lagi, ia hanya diam dan menatapku dengan tatapan yang sulitku artikan. Tubuhku mulai gemetar, bahkan untuk bernafas saja terasa sangat sulit.

Ku pejamkan mataku, lalu kembali berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.

"Le... Lepas!" ucapku lirih. Meski sulit, tapi pada akhirnya aku mencoba untuk membuka suaraku. Sekuat apapun aku mencoba melepaskan tanganku, ia tetap tidak mau melepaskannya.

"Aku bilang.. Le.. Lepaskan aku! A, apa kau tuli eoh?! Le-lepaskan tanganku, bodoh! Hiks, kau menyakitiku BODOH!" Aku meronta-mencoba menghempaskan tangannya sekuat tenaga, memukuli lengannya-hingga dada bidangnya. Namun tetap saja, hasilnya nihil-bahkan saat ini, ia menarik pinggangku dan mendekatkan tubuhku kepadanya.

"Berhentilah meronta, atau mencoba melepaskan tanganmu dariku.. Itu juga membuatku.. Sakit.. Lee Hyukjae.." setelah sekian lama terdiam, akhirnya ia mulai angkat bicara. Aku terdiam, seraya menatap manik mata kelabunya dengan airmata yang masih senantiasa mengalir.

Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?

"Aku sudah bilang padamu, agar jangan mendengarkan apapun... Tapi kau malah mendengarnya, dasar bodoh!" ia menatapku dengan mata sayunya-meskipun samar, tapi aku masih bisa melihat airmata yang menggenang dipelupuk matanya.

"Ya.. Aku memang bodoh! Murid yang bodoh! Bodoh karena harus memiliki perasaan seperti ini kepada songsaenimku sendiri! Bahkan aku sangat bodoh, karena tidak bisa melupakan perasaanku padamu! Aku memang bodoh! Aku bodoh karena harus mendengar brita bodoh ini! A, aku bodoh karena mengharapkanmu menjadi milikku di sisa hidupku! Aku bodoh! Iya aku memang bodoh! Kenapa tidak dari dulu saja aku mati?! Kenapa? Aaaarrggghh," aku menangis sejadi-jadinya. Menjambak rambutku sendiri, dengan tangan kananku yang tidak ia genggam. Berteriak, meraung, dan terkadang memukuli dadaku sendiri.

Kenapa tidak dari dulu saja aku mati? Kenapa aku harus bertemu denganmu? Dan kenapa aku harus mencintaimu eoh?

"Diamlah! Aku bilang DIAM!" Ia membentakku, dan menyuruhku untuk diam. Sontak saja aku menghentikan aksiku yang secara tidak langsung melukai diriku sendiri.

"Kenapa kau malah ingin mati? Ke, kenapa? KENAPA HYUKJAE?! KENAPA KAU SEPERTI INI?!" ia berteriak, menumpahkan airmatanya yang sejak tadi ia bendung.

"Kenapa harus seperti ini?! Kenapa kau begitu lemah hm? Kau tahu aku tidak bisa berbuat apapun! Aku adalah seorang namja bodoh! Tapi kenapa kau malah mencintaiku? KENAPA KAU SEBODOH INI?!" Ia membentak ku lagi. Kenapa dia marah?

"AKU.. MANA AKU TAHU!-" pekikku, sebelum bibirku dibungkamkan dengan sesuatu yang lembut. Ya.. Tanpa ku cegah, ia sudah mencium bibirku dengan brutal.

Aku mencoba melepaskan pagutan bibirnya, memukulinya sekuat yang ku bisa. Tapi, tetap saja.. Tenagaku jauh lebih kecil darinya.

Ku rasakan bibirnya mulai melumat kasar bibirku, menjilatnya, mengigit bibir bawahku, dan menghisapnya. Ia pun mulai mendorong tubuhku, hingga punggungku mengenai lantai di koridor sekolah yang sangat dingin. Ya, sejak tadi kami berada di lorong koridor sekolah yang berada di dekat atap sekolah. Dan tepat ini, bisa dibilang tempat yang jarang dilalui murid dan juga guru-guru disini.

Ia menindih tubuhku dan terus melumat bibirku, hingga ia kembali menggigit bibir bawahku-membuatku membuka bibirku akibat ulahnya yang kasar itu.

Tangiskupun semakin menjadi, tatkala merasakan sebuah benda lunak memasuki mulutku dan tangannya yang mulai melepaskan kancing seragamku. Ada apa? Kenapa?

Eunhyuk Pov End

.

.

.

"Euungghh... He, henti..hummp... Hentikan... Aahh... Ku mohon.. Hiks.. So-songsaenim..." desah Hyukjae tertahan. Ia terus memukul pundak Donghae, agar namja yang sudah kehilangan akalnya itu melepaskan pagutan panas dari bibirnya terhadap bibir Hyukjae.

Donghae tak bergeming... Ia terus melakukan aksi kasarnya terhadap namja lemah yang berada dibawahnya, ia bahkan sudah berhasil membuka satu persatu kancing seragam Hyukjae- hingga kini ia mulai meraba dada putih mulus Lee Hyukjae dengan jari jemarinya.

Merasa bosan, akhirnya Donghae melepaskan pagutan dibibir Hyukjae dan perlahan mulai berpindah keleher jenjang Hyukjae untuk menciptakan sebuah tanda... Tanda yang menyatakan... Bahwa ia sangat mencintai namja manis yang berada dibawahnya...

ia menangis disela aktivitasnya-mengecup, menghisap, mengigit-leher jenjang hyukjae.
Donghae benar-benar merasa takut akan kehilangan malaikat cantik ini. Ia sungguh takut, kalau Hyukjae akan meninggalkannya dan pergi ketempat yang bahkan tidak bisa ia bayangkan..

Jebal... Jangan tinggalkan aku... Aku mencintaimu... Hyukie...

.

.

.

.

.

.

Eunhyuk Pov

.

.

.

Aku takut... Aku takut... Kenapa dia jadi seperti ini? Kenapa dia kembali mempermainkanku?

Aku menangis seraya membungkam mulutku dengan punggung tanganku, guna menahan desahan-ketika ia mulai mengecup bahkan mengigit leherku dengan kasar.

"Wae? Hiks... Wa, waeyo? Kenapa.. Kenapa kau memperma... Mempermainkan aku? Jangan seperti ini... Hiks... Aku takut...hmppp... Berhenti mem... Mempermainkan aku! Hiks, hiks... Bu, bukankah kau tidak mencintaiku? Hiks, hiks... Ku mohon... Ja, jangan lukai aku lagi..." ucapku terbata-bata dengan suara parau.

Sesak, rasanya sesak... Kenapa harus luka lagi yang kau tanamkan di hatiku? Apa kau mau aku mati perlahan-lahan eoh? Aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tahu... Tapi, jangan mempermainkan aku seperti ini...

Ku rasakan sebuah tangan mulai menarik tanganku yang berada diatas bibirku-guna menahan desahanku. Aku masih terisak, dan perlahan membuka mataku.. Dan, dapatku lihat wajah tampannya yang berada tepat di hadapanku.. Pandangan mata kami saling bertemu, membuatku tenggelam dalam pesona mata teduhnya..

"Siapa bilang hm?" dia mulai membuka pembicaraan, seraya menatap mataku yang penuh dengan linangan airmata. Aku terdiam, tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.

"Siapa bilang kalau aku tidak mencintaimu Lee Hyukjae? Apa pernah aku mengatakan kalau aku tidak mencintaimu? Apa kau dengar kata-kataku kemarin? Apa aku menolakmu dengan mengatakan kalau aku tidak mencintaimu? Katakan... Apa pernah aku bilang seperti itu padamu? Hm?" suaranya terdengar gemetar, walau begitu aku masih dapat mendengar suaranya yang sangat lembut itu. Ia menatapku dalam, jari-jemarinya kini mengusap pipiku dengan hangat. Menghapus airmataku, dan ia yang mulai terisak dihadapanku.

"A, apa aku pernah? Hyukjae... Tidak pernahkan? Aku.. Tidak pernah mengatakan itu padamu... Aku hanya berkata 'tidak bisa, karena aku tidak ingin melukaimu'... Hm... Haah... Hiks... Aku,.. A- aku mencintaimu... Jinjja... Jeongmal saranghae Lee Hyukjae... Sampai ingin mati rasanya... Hiks, Hyukjae... Maafkan aku... Ku, kumohon maafkanlah aku yang tega menyakitimu... A, aku tidak pernah menduga ini sebelumnya... Jatuh cinta padamu disaat aku sudah memiliki tunangan yang akan aku nikahi... Bu, bukan maksudku untuk menyakitimu... Mianhae, mianhae Hyukjae... Aku mohon... Ja, jangan pergi dariku... Jangan pernah tinggalkan aku.. Hiks, hiks!" ia menangis, menangis sejadi-jadinya... Kepalanya bersandar dibahuku, memeluk tubuhku dengan sangat erat. Seakan tidak ingin membiarkan aku pergi.

Aku terdiam mendengar penuturannya... Apakah aku salah dengar? Apa aku benar-benar akan segera mati? Apa Tuhan sedang menghiburku? Dan memberikan ku kebahagian kecil sebelum aku mati?

Apa aku boleh bahagia Tuhan? Di sisa waktuku.. Apakah dia bisa menjadi milikku?

Segera aku memeluk dirinya yang terisak diatas tubuhku, turut menangis bersama dengan dirinya... Berharap agar ia tidak meninggalkan aku, dan tetap bersamaku hingga akhir dari hidupku...

"Ja, jangan tinggalkan aku so.. Songsaenim... Ja, jangan menikah... Tetaplah bersama ku hiks..." isakku pilu. Ia mendongakkan wajahnya kearahku, menatapku dengan hangat dan kemudian ia kembali mencium bibirku penuh cinta.

"Aaah... Hyuk..."

"LEE DONGHAE! A, APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriakan seseorang sontak membuat mata kami terbelalak, dan dengan segera Songsaenim beranjak dari atas tubuhku.

"Su, sungmin?" Ku lihat raut wajah terkejut dari songsaenim, ketika menatap seseorang yang berada di hadapannya. Songsaenim segera berdiri, lalu mendekati orang itu.

Akupun segera bangkit dari tempatku berbaring, dan terduduk seraya menoleh menatap seseorang yang berteriak tadi.

"APA YANG KAU LAKUKAN? Hiks! Apa kau mengkhianatiku Do, Donghae? Hiks!" seorang namja berwajah aegyeo berdiri di hadapan songsaenim seraya memukul dada songsaenim. Entah kenapa kakiku tidak bisa digerakan.

Siapa dia?

.

.

.

Aku hanya bisa terpaku menatap dua namja dewasa yang berada di hadapanku, tubuhku benar-benar tidak dapat kugerakkan. Bahkan untuk mengancingkan kembali kemejaku, tidak bisa ku lakukan sama sekali.

Siapa dia? Siapa namja yang sedang berada di hadapan songsaenim?

"Apa...hiks, apa yang kau lakukan Hae?! JAWAB AKU!" pekik namja berwajah aegyeo itu seraya memukuli dada songsaenim dengan sangat keras. Airmata membasahi pipi namja itu.

Aku menatap songsaenim yang membelakangiku, ia hanya diam tanpa membalas ucapan pilu dari namja aegyeo itu.

Sakit..

Entah kenapa hatiku mulai merasakan sakit.. Sampai rasa sakit karena racun itu, mengalahkan sakit di hatiku ini...

"Jadi...kau benar-benar tidak mencintaiku lagi Hae? Hiks.. Lalu apa? A, apa maksud dari semua janji-janjimu?! Katanya kau akan mencintaiku selamanya?! Katanya kau akan menikahiku dan akan membuatku bahagia?! Ayo Lee Donghae! Hiks hiks, katakan sesuatu! Ayo KATAKAN!" Kali ini pukulan yang namja itu lontarkan semakin keras mengenai dada dan lengan songsaenim. Ku lihat tangan songsaenim meraih pinggang namja itu.

"Mianhae... Su, sungmin jeongmal mianhae..." akhirnya dia membuka mulutnya. Tanpa ku sadari, airmata kini kembali membasahi pipiku... Rasa sesak mulai menjalar memenuhi hatiku...

Jadi, dia...

Calon 'istri' songsaenim?

"HEI KAU! BOCAH JALANG! WAE? KENAPA KAU MEREBUT KEKASIHKU?! KAU TAHU? DIA AKAN MENJADI SUAMIKU! KENAPA KAU TEGA MEREBUTNYA DARIKU? KENAPAAA?!" aku terdiam, airmata semakin deras membasahi seluruh pipiku. Pandangan namja yang menangis itu, benar-benar penuh luka.

Bukan, bukan maksudku seperti itu.. A, aku tidak bermaksud untuk merebutnya darimu...

"A, aku..." ucapku mencoba untuk membuka suara. Bertahanlah, aku mohon jangan kambuh lagi.

"JANGAN KAU SALAHKAN DIA LEE SUNGMIN!" tiba-tiba songsaenim berteriak, membuatku dan juga namja yang berada di hadapannya terkejut.

Ku gigit bibir bawahku menahan isakan yang terus mendorong mulutku untuk keluar. Kata-katanya membuatku semakin melemah...

Dia membelamu... Dia membela murid bodoh seperti mu, Hyukjae...

Tapi, sungguh... Aku tidak ada maksud untuk melukai namja di hadapannya...

"Dia tidak salah Sungmin.. Tapi aku... Aku yang salah.. Mianhae, jangan bentak dia seperti itu..." suara songsaenim kian melembut, ia menoleh menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan. Aku memejamkan mataku, dan mencoba mengatur nafasku yang semakin sesak.

Bertahan, bertahanlah!

"Kenapa kau... Kau membelanya hae? Hiks, apa ka.. Kau mencintai bocah jalang ini?" suara parau itu semakin melemah, ia menatap nanar songsaenim yang berada di hadapannya. Songsaenim kembali menatap namja aegyeo itu.

"Dia tidak seperti itu... Dia adalah malaikat... Malaikat kecil yang mampu membuatku bertekuk lutut di hadapannya... Jadi, aku mohon jangan katakan dia jalang... Sungmin... Mianhae karena aku telah mencintainya"

Deg

Ku buka mataku dan menatap pundak songsaenim dengan mata terbelalak. Apa tadi yang ia katakan? Aku tak salah dengarkan?

"Be, begitukah? Jadi... Pernikahan kita batal? Hiks... Beginikah hasilnya? Hampir 5 tahun kita menjalin hubungan sebagai kekasih, hanya dalam waktu kurang dari seminggu kau malah mencintai seorang bocah yang kau anggap malaikat ini?" aku kembali tertunduk ketika namja itu menatapku tajam, aku tak brani menatap matanya yang dipenuhi kebencian.

"Be, beginikah akhi...AKH!"

"SUNGMIN!"aku mendengar songsaenim berteriak, sontak aku mendongakan wajahku dan dapat ku lihat namja aegyeo itu tersungkur seraya memegangi dadanya.

Wajahnya tampak memucat, dan keringat dingin membasahi keningnya. Ada apa? Kenapa dengannya? Dia terlihat sangat kesakitan?

"Sungmin! Sungmin-ah?! Gwaenchanayo?! A, apa jantungmu sakit?! Sungmin!" songsaenim berlutut, menahan tubuh namja itu agar tidak terjatuh ke lantai.

"Aakh, sakit sakit sekali..." ucap namja berwajah aegyeo itu, dan dapat kulihat ia mulai kehilangan kesadaran. Tak lama, songsaenim mengangkat tubuh namja itu dan mengambil langkah pergi dari tempat ini.

"So, songsaenim? So.. Songsaemim?" tanpa sadar aku memanggilnya, nafasku semakin sesak setiap kali mengeluarkan suara.

Ia mendengarnya, langkah kakinya terhenti dan kemudian menoleh menatap kearahku.

Kami saling bertatapan... Terdiam dengan pemikiran masing-masing.

Jangan pergi... Entah kenapa tiba-tiba kata-kata itu terngiang begitu saja di otakku...

"Ja, jangan tinggalkan aku... Je,jebal..." ucapku seraya menahan sakit di tubuhku. Posisiku masih sama, tidak bisa bergerak sama sekali.

Ia hanya diam, tatapannya melemah...

"Mi, mianhae... Aku akan kembali.." setelah mengucapkan itu, ia kembali berbalik dan berlari meninggalkan ku sendirian.

Aku terdiam menatap kepergiannya bersama namja yang berada dalam gendongannya.

Airmata kembali menetes... Ia meninggalkanku... Benar-benar meninggalkanku sendiri...

"Uhuk!" tiba-tiba darah segar keluar dari mulutku.

Kenapa? Orang yang ku cintai selalu meninggalkanku?

Tbc

NEXT